Brebes, KOKAM Tegal. Membaca sejarah perjuangan bangsa Indonesia menjadi penyemangat bagi siswa SMP Bustanul Ulum (BU NU) Jatirokeh Songgom, Kabupaten Brebes Sulistiono Ardianto. Menurut Siswa kelas 9 C ini memandang, di dalam pelajaran sejarah ada nilai-nilai yang bisa dipetiknya sebagai langkah terbaik menapaki kehidupan sebagai seorang santri.?
"Sejarah menambah semangat karena di dalamnya ada pergolakan dan nilai-nilai juang merebut dan mempertahankan ibu pertiwi," kata pemenang ke-3 Olympiade Al-Quran dan Sains (OASIS) bidang IPS tingkat Jawa Tengah, awal 2016 lalu, saat ditemui KOKAM Tegal di ruang Kepala Sekolah, Selasa (8/11)
| Santri Juara III OASIS Ini Suka Pelajaran Sejarah. Kenapa? (Sumber Gambar : Nu Online) |
Santri Juara III OASIS Ini Suka Pelajaran Sejarah. Kenapa?
Ketika membaca sejarah, santri Al Falah Asalafi Desa Jatirokeh ini merasa terbawa ke suasana dahulu kala yang penuh heroik.?Tio, demikian panggilan akrabnya, tidak bisa membayangkan bagaimana para pejuang bangsa melepaskan diri dari cengkeraman penjajah. Ketika sudah merdeka pun, para pejuang bangsa harus mengorbankan kembali harta dan nyawa demi mempertahankan NKRI.?
Anak kelahiran Brebes 1 Juli 2001 mengaku belum bisa mengejawantahkan nilai nilai kejuangan sebagaimana yang diperbuat para pejuang untuk bangsa dan Negara. Namun dirinya berharap yang dikerjakan saat ini antara lain dengan kerja keras belajar yang nyaris 24 jam di pondok pesantren menjadi nilai ibadah. “Kepada orang tua saja, saya belum bisa berbuat yang terbaik, apalagi untuk bangsa dan negara,” kata anak dari pasangan Duman dan Seneah.
KOKAM Tegal
Tio, yang berasal dari desa Kradenan Kecamatan Kersana ini berangkat mondok sejak tiga tahun yang lalu tepatnya ketika menginjak usia SMP. Di dalam pondok, merasa betah karena mendapatkan teman yang banyak dalam bilik bisa saling asah asih dan asuh. “Keakraban dan kekeluargaan di dalam pondok terpatri hingga ke hati, kita satu keluarga,” ungkapnya.?Di pondok, kata Tio yang demen banget sama nasi goreng ini karena ? banyak temen juga banyak belajar, bukan banyak main. Di pondok, kalau libur, paling main sepak bola. ? Pelajaran di sekolah dan pondok, juga saling melengkapi. “Awalnya, saya takut masuk pondok tapi setelah diperjuangkan, ternyata makin asyik dan bisa mandiri,” kata Tio.
Kepala SMP Bustanul Ulum HM Abud Abdad Jangki Daosat SH mengaku bangga dengan prestasi yang telah ditorehkan. Menurut Gus Abud, demikian sapaan akrabnya Tio telah menunjukan nilai nilai kepahlawanan. Sebagai siswa, dia telah mengharumkan nama sekolah sekaligus pondok pesantren lewat OASIS.?
Anak-anak pesantren, menurut saya telah menjadi pejuang bagi dirinya dan keluarganya juga agama. Karena Mereka telah meninggalkan keluarga demi mencari ridlo Allah, memenuhi kewajibannya menuntut ilmu. “Anak-anak santri, dalam pandangan saya adalah pejuang dan pahlawan yang tengah meneruskan ilmu dari para alim dan ulama,” pungkas Gus Abud yang juga anak Mutasyar PC NU Brebes KH Mas Mansyur Tarsudi. (wasdiun/Abdullah Alawi)
KOKAM Tegal
Dari Nu Online: nu.or.idKOKAM Tegal Tokoh, RMI NU, Nahdlatul KOKAM Tegal

EmoticonEmoticon