Tampilkan postingan dengan label News. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label News. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 10 Februari 2018

Jenazah Ketua Muslimat Ditemukan Tewas Pegang Tasbih

Jombang, KOKAM Tegal. Bencana Longsor di Dusun Kopen Desa Ngrimbi Kecamatan Bareng yang menewaskan 14 korban jiwa menyisakan duka mendalam bagi keluarga dan juga warga Muslimat NU Setempat. Pasalnya, salah satu korban, yakni Mukhayaroh (55) merupakan Ketua Muslimat NU Ranting Ngrimbi.

Mukhayarah ditemukan telah tidak bernyawa bersama suaminya, Sunarimo (61) setelah pencarian yang dilakukan Tim gabungan dari TNI, Polri dan BASARNAS dibantu ratusan relawan, Kamis (30/1). Jasad suami istri ini ditemukan bersamaan dengan anaknya, Nurul (27) dan menantunya, Panji (32)  juga Nindi cucunya yang masih berusia 3 tahun. Ketua Muslimat NU Ranting Desa Ngrimbi ini ditemukan masih memegang seuntai tasbih.

Jenazah Ketua Muslimat Ditemukan Tewas Pegang Tasbih (Sumber Gambar : Nu Online)
Jenazah Ketua Muslimat Ditemukan Tewas Pegang Tasbih (Sumber Gambar : Nu Online)

Jenazah Ketua Muslimat Ditemukan Tewas Pegang Tasbih

Proses evakuasi korban longsor lereng Anjasmoro ini terbilang sulit. Pasalnya, jalan setapak yang digunakan untuk jalur evakuasi licin akibat siraman hujan semalam."Jasad Mukhayaroh ditemukan pada kedalaman penggalian delapan meter. Saat ditemukan, ditangannya masih memegang tasbih. Namun pakaiannya sudah hancur, jadi tidak bisa diketahui dia memakai mukena atau tidak," kata Wakapolres Jombang Kompol Sumardji ditemui dilokasi kejadian saat evakuasi.

KOKAM Tegal

Keluarga Mukhayaroh dikenal masyarakat sebagai tokoh NU di kampungnya, Sunarimo sendiri merupakan takmir dan Imam Masjid Al Huda Dusun Kopen Desa Ngrimbi Kecamatan Bareng. Sedangkan Nurul yang alumni IPPNU ini juga dikenal aktif di Fatayat NU setempat.

Ketua Muslimat NU Kabupaten Jombang, Hj Aisyiah Baidlowi membenarkan bahwa Mukhayaroh adalah kader muslimat yang masih aktif. Bahkan saat ini istri dari Sunarimo itu menjabat sebagai Ketua Muslimat NU Ranting Desa Ngrimbi.

KOKAM Tegal

Oleh sebab itu pula, setiap pagi jamaah muslimat setempat selalu menggelar doa bersama di masjid setempat. "Ibu Mukhayaroh merupakan Ketua Muslimat Desa Ngrimbi. Dia sangat aktif di jamaah pengajian. Semoga amal ibadah beliau diterima Allah, dan semua dosanya diampuni." tutur Aisyiah Baidlowi Ketua PC Muslamat NU Jombang mengatakan.

Bencana tanah longsor di Dusun Kopen berawal dari hujan disertai angin yang terus mengguyur mulai Senin (27/1) pukul 18.00 WIB kemarin. Guyuran air hujan itu baru reda sekitar pukul 01.30 WIB. Belum reda hujan yang mengguyur, tiba-tiba terdengar suara bergemuruh. Akibatnya, 5 rumah tertimbun longsor  dan 14 orang dinyatakan hilang dalam peristiwa itu. Dari jumlah tersebut 9 orang berhasil ditemukan dalam kondisi meninggal, sedangkan 5 lainnya hingga kini masih proses pencarian. (MuslimAbdurrahman/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal News, Budaya, PonPes KOKAM Tegal

Selasa, 16 Januari 2018

Mata Air Jepara Jaring Donatur Beasiswa Kartini Scholarship

Jepara, KOKAM Tegal

Genap satu tahun komunitas Mata Air Kabupaten Jepara memberikan beasiswa kepada para pelajar di Kabupaten Jepara yang memiliki prestasi unggul namun memiliki kendala ekonomi. 

Hingga saat ini sudah ada sembilan belas siswa yang memperoleh beasiswa tersebut. Dwi Wahyu, ketua penyalur beasiswa Kartini Scholarship mengatakan bahwa pihaknya membuka peluang para dermawan untuk menjadi donatur. 

Mata Air Jepara Jaring Donatur Beasiswa Kartini Scholarship (Sumber Gambar : Nu Online)
Mata Air Jepara Jaring Donatur Beasiswa Kartini Scholarship (Sumber Gambar : Nu Online)

Mata Air Jepara Jaring Donatur Beasiswa Kartini Scholarship

“Mata Air Jepara melalui program Kartini Scholarship-nya selalu membuka diri kepada seluruh dermawan yang ingin menyumbangkan bantuan,” kata alumnus Universitas Negeri Semarang ini saat ditemui, Ahad (21/2/2016).

Dia berharap dengan semakin banyaknya dermawan yang mempunyai kepedulian dibidang pendidikan, akan semakin banyak pelajar berprestasi yang diberikan beasiswa. 

KOKAM Tegal

“Sembilan belas adalah jumlah yang sedikit dari keseluruhan pelajar di Jepara, semoga dengan banyaknya donatur akan menambah jumlah peserta yang kami berikan beasiswa,” jelasnya.

Lebih lanjut, Wahyu menerangkan bahwa untuk penyaluran donasi dapat menghubungi nomor 0821-3439-5941, atau mentransfer ke nomor rekening BNI 0226763546 a.n Endri Listiani. 

“Bagi para dermawan yang ingin menjadi donatur bisa menghubungi kami untuk bertanya lebih lanjut mengenai program beasiswa ini,” pungkasnya. (Rif’ul Mazid Maulana/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal

KOKAM Tegal News, Kyai, Hadits KOKAM Tegal

Ikan Milik Allah

Sudah menjadi aktivitas sehari-hari Kiai Nuri untuk mendidik dan mengajar para santri di pondok pesantrennya. Pagi itu ia menyampaikan tentang kekuasaan Allah yang tidak terbatas.

Seorang santri bernama Muhidin memahami penjelasan kiainya bahwa apa yang ada di langit dan di bumi ini semua milik Allah SWT.

Ikan Milik Allah (Sumber Gambar : Nu Online)
Ikan Milik Allah (Sumber Gambar : Nu Online)

Ikan Milik Allah

Tibalah saat Muhidin dan beberapa santri membutuhkan lauk pauk untuk makan tetapi sudah tidak ada persediaan uang untuk membelinya.

Sampai pada akhirnya si santri mengambil ikan di kolam milik kiai. Saat memperoleh ikan yang besar, tiba-tiba Kiai Nuri datang.

“Hai, kenapa kamu mengambil ikan milik kiaimu?” tegur Kiai Nuri kepada Muhidin dan beberapa kawan santrinya.

KOKAM Tegal

Alih-alih lari tunggang langgang, Muhidin justru mendekati Kiai Nuri dan berkata, “Bukankah kiai sendiri yang mengajarkan ayat, lillahi ma fis samawati wa ma fil ardh, semua ini milik Allah. Jadi bukan milik kiai,” seloroh Muhidin. 

Kiai Nuri terdiam. Dalam hati ia berucap, “Senjata makan kiai nih.” 

“Iya Nak, itu milik Allah, tapi jangan ikan yang besar!” ujar Kiai Nuri.

Saking gemesnya, Kiai Nuri sekaligus melempar sandal bakiaknya ke arah Muhidin. “Aduh, kenapa kiai melempar bakiak ke saya?” tanggap Muhidin.

KOKAM Tegal

Dengan membaca ayat, wa ma romaita wa lakinallaha roma, Kiai Nuri menjawab tenang, “Bukan saya yang melempar, tapi Allah Nak.” (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Pondok Pesantren, News KOKAM Tegal

Minggu, 14 Januari 2018

Dialog Senyap Lintas Iman

Oleh ? Muhammad Milkhan



Zamir Hassan adalah seorang aktivis sosial sekaligus pendiri Muslims Against Hunger, sebuah jaringan komunitas relawan yang telah berkembang diseluruh dunia, guna membantu orang-orang yang membutuhkan bantuan makanan tanpa memadang latar belakang ras, suku dan agama. Di tahun 2011 Zamir Hassan juga memprakarsai lahirnya ‘Hungervan’, sebuah proyek penanggulangan kemiskinan dengan mendirikan dapur umum setiap hari dari satu tempat ke tempat lainnya. Dengan mobil Van, Zamir Hassan bersama relawan-relawan yang lain mendatangi para tunawisma dan siapapun yang tidak mampu membeli makanan sehat dan layak konsumsi di kota New York dan kota-kota sekitarnya. Para relawan yang tergabung dalam komunitas ini berasal dari berbagai latar belakang agama dan lapisan masayarakat yang berbeda. Mereka bersama-sama berkumpul dan bekerja secara suka rela guna memecahkan ikatan kemiskinan yang masih membelenggu sebagian warga Amerika.?

Dialog Senyap Lintas Iman (Sumber Gambar : Nu Online)
Dialog Senyap Lintas Iman (Sumber Gambar : Nu Online)

Dialog Senyap Lintas Iman

Dalam sebuah pertemuan kecil bersama Zamir Hassan di komplek Islamic Cultural Center di kota New York awal bulan mei 2016, saya mendapatkan pelajaran yang sangat berharga dari pengalamannya selama ini melayani masyarakat miskin di kota metropolis dunia, sekelas New York. Bahwa dialog yang paling efektif adalah dialog tanpa kata-kata. Hal ini benar-benar membuat saya takjub, ia melakukan dialog lintas iman sekaligus dialog multikutur melalui makanan. Tanpa memandang suku, ras dan agama, siapapun boleh bergabung untuk menjadi relawan, demikian juga siapapun berhak menerima donasi makanan. Dialog yang cukup manjur dan efektif untuk memupuk toleransi antarumat manusia tanpa memandang asal-usul agar hidup rukun dan saling mengasihi.

Dialog senyap lewat makanan ala Zamir Hassan bersama teman-teman relawannya tentu penting untuk mendapat perhatian yang lebih, di tengah gejolak sentimen antaragama dan beberapa kejadian intoleran yang semakin marak di sekeliling kita. Pentingnya dialog lintas iman sebagai jalur komunikasi antarsesama makhluk tuhan untuk merengkuh kedamaian duniawi dan ukhrawi dapat dilakukan dengan berbagai macam cara, termasuk dengan model ala zamir Hasan. Sebab praktik dialog agama yang sebenarnya bukanlah dengan memberikan penjelasan (teologis) bagi masalah semacam kerusuhan sosial (yang bernuansa agama), melainkan meleburkan dirinya didalam relaitas dan tatanan sosial yang tidak adil dengan sikap kritis. (Ahmad Gaus A.F, Kompas; 1998)

Agama yang kerap dijadikan dalih kepentingan segelintir golongan seringkali mendapatkan tuduhan sebagai penghambat kemajuan manusia dan mempertinggi fanatisme semata tanpa memiliki efek yang positif bagi manusia. Sifat fanatisme terhadap agama hanya melahirkan tindakan yang tidak toleran, pengacuhan, pengabaian, takhayul dan kesia-sian. Bahwa agama sebenarnya memiliki ciri khas sosiologis sebagai pemersatu aspirasi manusia yang paling sublime; sebagai sejumlah besar moralitas, sumber tatanan masyarakat dan perdamaian batin individu; sebagai sesuatu yang memuliakan dan yang membuat manusia lebih beradab. (Thomas E O’dea, 1987; 2)

KOKAM Tegal

Penting juga bagi kita untuk mengingat pesan toleransi Nabi Muhammad di awal lahirnya Islam. Pesan itu tersirat dari peristiwa hijrahnya pemeluk Islam awal dari kota Makkah menuju Abisinia guna menghindari ancaman intimidasi dari kafir Quraisy. Waktu itu Nabi Muhammad menyarankan supaya para sahabat untuk pergi berpencar agar terhindar dari serangan kafir Quraisy. Ketika para sahabat bertanya kepada Muhammad kemana mereka sebaiknya pergi, Muhammad menyarankan supaya mereka pergi ke Abisinia yang rakyatnya menganut agama Kristen. “Tempat itu diperintah oleh raja dan tak ada orang yang dianiaya di situ. Itu bumi jujur; sampai nanti Allah membukakan jalan buat kita semua.” (Hussein Haikal, 1989, cet.10)

Hijrahnya sebagian sahabat ke Abisinia atas saran dari Nabi Muhammad, adalah pesan toleransi yang harus selalu kita ingat, bahwa agama tidak pernah menjadi penghalang bagi siapapun untuk saling tolong-menolong dalam kesusahan. kafir Quraisy yang khawatir akan kehilangan pengaruh sebab hadirnya Islam, kemudian melakukan tindakan di luar peri kemanusian dengan menganiaya sebagian sahabat Nabi. Batin dan akal sehat para pemuka kafir Quraisy telah buta, demi mempertahankan kedudukan mereka dari ancaman Muhammad. Muhammad sadar betul, iman yang kuat terhadap sebuah agama tidak akan pernah menyarankan pemeluknya untuk berbuat aniaya. Raja Najasyi adalah penganut agama Kristen yang taat, oleh sebab itu Muhammad yakin para sahabat akan benar-benar mendapatkan perlindungan yang baik dalam pelukan seorang penganut agama yang taat. Toleransi awal yang ditunjukkan oleh raja Najasyi merupakan kontribusi besar bagi umat Islam di awal kehadirannya. Muhammad dan raja Najasyi benar-benar telah memberi teladan bagi umat manusia, pentingnya dialog lintas iman demi menciptakan kedamaian dunia.

KOKAM Tegal

Kini, di tahun 2017, ribuan tahun setelah pesan toleransi yang dicontohkan oleh Nabi itu terjadi. Kembali kita melihat betapa pentingnya untuk mengingat kembali, bahwa perbedaan agama tidak bisa dijadikan dalih bagi siapapun untuk saling membenci. Zamir Hassan beserta para relawan adalah orang yang taat dalam beragama, bukti tindakan nyata dari perilaku seorang pemeluk agama yang saleh telah mereka tunjukkan kehadapan masyarakat luas. Banyak orang bergabung bersama Zamir Hassan untuk menjadi relawan Muslims Against Hunger untuk membantu siapapun yang kelaparan tanpa memandang latar belakang suku, ras bahkan agama. Mereka bertemu, saling bertegur sapa dalam dialog lintas iman yang senyap namun mujarab. Mungkin.

Penulis adalah pegiat di Bilik Literasi Colomadu dan Penggiat Gusdurian Klaten, aktif sebagai Pengurus Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Klaten

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal News, Ulama KOKAM Tegal

Jumat, 12 Januari 2018

Tahun Politik, NU Jangan Mudah Di-"itik-itik"

Tegal, KOKAM Tegal. Posisi NU sebagai lembaga selalu menarik dijadikan ‘kuda troya’ kesuksesan seseorang dalam meraih jabatan politik. NU selalu dijadikan tunggangan oleh pribadi-pribadi yang berasal dari partai politik apapun.

Untuk itu, NU jangan mudah di‘itik-itik’ (kelitik) agar kelihatan senang yang pada akhirnya hanyalah untuk kebesaran partai politik dengan menjual-jual NU.

Tahun Politik, NU Jangan Mudah Di-itik-itik (Sumber Gambar : Nu Online)
Tahun Politik, NU Jangan Mudah Di-itik-itik (Sumber Gambar : Nu Online)

Tahun Politik, NU Jangan Mudah Di-"itik-itik"

Hal tersebut disampaikan Wakil Walikota Habib Ali Zaenal Abidin yang juga Mutasyar PCNU Kota Tegal saat memberikan sambutan acara pengajian halal bihalal dan jelang seabad NU, di halaman SMA NU Kota Tegal, Kamis malam (5/9).

KOKAM Tegal

Habib Ali menyayangkan tokoh-tokoh muda NU yang menggelar pengajian NU tetapi tidak murni pengajian karena diboncengi kekuatan politik tertentu. “Jangan sampai pengajian NU keluar dari koridornya dengan diboncengi politik, ” kata Habib Ali dengan nada keras.

Ketua PCNU Kota Tegal Dr Abdal Hakim Tohari menandaskan, bahwa NU itu menganut paham politik kebangsaan. NU ada di mana-mana dan tidak ke mana-mana.

Tapi yang jelas, siapapun ng Nahdliyin (warga NU) yang berkiprah di politik harus kita dukung bila memenuhi dua persyaratan khusus, yakni pertama harus berakhlakul karimah dan kedua yang mampu memberi manfaat bagi kelestarian dan pengembangan ahlussunah wal jamaah.

KOKAM Tegal

Menyosong se abad NU, lanjutnya, tradisi dan amaliyah NU harus terus disosialisasikan kepada generasi muda. Sebab banyak yang kurang paham seperti halal bihalal, manakib, barzanji, mitoni dan lain-lain. “Kita harus pertahankan dengan mensosialisasikan dan pengamalan yang terus menerus kepada generasi muda,” tuturnya.

PCNU Kota Tegal, kata Abdal, merasa sangat gelisah terhadap generasi muda sekarang yang banyak meninggalkan amaliyah NU. Seperti halal bihalal, meski jaman sudah modern tetapi tidak bisa digantikan dengan fasilitah handphone. HP tidak cukup mewakili karena yang meminta dan yang dimintai maaf tidak sesuai dengan keadaan hati yang sesungguhnya. “Sangat kering, untuk melihat keikhlasannya,” kata Abdal yang juga direktur RSUD Kardinah Brebes. (Wasdiun/Amin)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal News, Tokoh KOKAM Tegal

Kamis, 11 Januari 2018

Mayoran: Ajaran Rasulullah Satu Nampan Banyak Tangan

Mayoran adalah istilah yang digunakan oleh para santri untuk menunjukkan satu kegiatan makan bersama-sama dalam satu wadah besar. Wadah itu bisa berupa pelepah daun pisang (seperti gambar di atas) bisa juga dengan nampan atau baki. Nampan atau baki merupakan salah satu wadah yang biasa digunakan untuk menyajikan makanan atau minuman, biasanya terbuat dari kayu, plastik, logam, atau bahan lainnya. Adapun bentuknya bisa bulat, atau persegi. Jika persegi kadang ada yang bertelinga di sisi kanan dan kiri sebagai pegangan tangan. Sebagian masyarakat menyebut nampan sebagai talam, dulang atau tapsi. Karena itulah mayoran di sebagian pesantren disebut dengan istilah nampanan atau tapsinan. Yakni makan bersama-sama dengan satu nampan atau tapsi sebagai piring besarnya.

Pada dasarnya mayoran merupakan ekspresi rasa syukur kepada Allah atas nikmatnya yang tidak pernah putus. Mayoran oleh para santri adalah momen spesial yang sengaja diadakan untuk merayakan sebuah keberhasilan. Seperti ketika khatam dari satu pengajian kitab tertentu, atau hatam Al-Quran, atau lulus ujian kitab, atau sekedar bersyukur atas nikmat sehat dan berkumpul bersama sahabat dan teman-teman. Tentang menu masakan sangatlah fariatif, tergantung kesepakatan bersama. Tidak harus mewah, tetapi tidak boleh meninggalkan sambel yang pedas dan harus disajikan dalam keadaan panas.

Mayoran: Ajaran Rasulullah Satu Nampan Banyak Tangan (Sumber Gambar : Nu Online)
Mayoran: Ajaran Rasulullah Satu Nampan Banyak Tangan (Sumber Gambar : Nu Online)

Mayoran: Ajaran Rasulullah Satu Nampan Banyak Tangan

Konsep makan bersama dalam satu piring besar ini tidak hanya ada di pesantren saja, tetapi juga hidup dilingkungan masyarakat Arab. Bahkan di beberapa restoran Arab menyediakan model hidangan nampanan seperti ini. Tentunya dengan menu yang juga khas arab dengan nasi kebuli kambing atau nasi mandhi, nasi kabsah dan lain sebagainya.

KOKAM Tegal

Tradisi makan bersama dengan banyak tangan dalam satu piring besar ini sesungguhnya merupakan ajaran Rasulullah. Dalam sebuah hadits yang datang dari sahabat Wahsyi bin Harb dan diriwayatkan oleh Abu Dawud disebutkan:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

KOKAM Tegal

Bahwasannya para sahabat bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, "(Mengapa) kita makan tetapi tidak kenyang?" Rasulullah balik bertanya, "Apakah kalian makan sendiri-sendiri?" Mereka menjawab, "Ya (kami makan sendiri-sendiri)". Rasulullah pun menjawab, "Makanlah kalian bersama-sama dan bacalah basmalah, maka Allah akan memberikan berkah kepada kalian semua." (HR. Abu Dawud)

Demikianlah anjuran Rasulullah dipegang teguh oleh para sahabat dan keluarganya. Hingga kini para habaib dan kiai di pesantren yang tidak mau makan sehingga datang satu teman untuk makan bersama. Karena makan sendirian? bagi mereka adalah sebuah aib yang harus dihindarkan sebagaimana Rasulullah tidak pernah melakukannya.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Sahabat Anas radliyallahu anh berkata bahwasannya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak pernah makan sendirian. Rasulullah juga pernah bersabda bahwa sebaik-baik makanan adalah yang dimakan banyak tangan.

Artinya keberkahan sebuah makanan juga berhubungan dengan seberapa banyak orang yang ikut menikmatinya, semakin banyak tangan semakin berkah. Inilah kemudian yang oleh para santri dijadikan sebagai pedoman selalu makan dengan konsep mayoran.

Satu nampan banyak tangan merupakan pelajaran yang berharga. Pelajaran membangun karakter kebersamaan dan egaliterian dalam pesantren. Satu nasib satu sepenanggungan satu rasa satu masakan. Tidak ada beda pembagian antara mereka yang memberi banyak atau sedikit, antara pemiliki beras atau pemilik nampan, antara yang masak nasi dan yang menunggu tungku. Semua makan bersama-sama dalam waktu dan ruang yang sama. Hal ini juga menjadi latihan praktis untuk menghindarkan para santri dari sifat kikir dan bakhil.

Inilah yang di kemudian hari menjadi salah satu bahan pengawet kerukunan antar mereka. Perbedaan prinsip, pendapat dan pendapatan tidak akan mempu menggoyahkan rasa kekeluargaan antara mereka. Karena makan satu nampan dengan banyak tangan terlalu kokoh untuk sekedar menghadapi perbedaan prinsip dan pilihan.

Untuk mengenang kembali masa-masa di pesantren, dan untuk memperoleh banyak berkah tradisi makan bersama dalam satu nampan masih dipertahankan. Di beberapa daerah mayoran selalu dilaksanakan ketika memperingati hari-hari besar Islam, terutama setelah acara membaca maulid atau setelah shalat id. (Ulil Hadrawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Kiai, News KOKAM Tegal

Rabu, 10 Januari 2018

Isteri Gus Dur Semangati Santri Gapai Cita-cita

Jepara, KOKAM Tegal. Ibu Negara RI keempat, Isteri Almarhum KH Abdurrahman Wahid, Sinta Nuriyah yang berkesempatan hadir di pesantren Az-Zahra desa Sekuro kecamatan Mlonggo kabupaten Jepara, Kamis (20/6) kemarin menyemangati para santri agar tidak patah semangat dalam menggapai cita-cita. Kehadiran istri almarhum Gus Dur dalam silaturrahim tersebut disambut hangat keluarga besar Az-Zahra, santri, siswa, guru dan tokoh masyarakat setempat. 

Isteri Gus Dur Semangati Santri Gapai Cita-cita (Sumber Gambar : Nu Online)
Isteri Gus Dur Semangati Santri Gapai Cita-cita (Sumber Gambar : Nu Online)

Isteri Gus Dur Semangati Santri Gapai Cita-cita

Menurut perempuan kelahiran Jombang, Jawa Timur itu dengan tetap semangat menggapai cita-cita niscaya apa yang diharapkan akan terkabul. Usai menggapai cita-cita setinggi langit, tegasnya santri harus memberikan kontribusi positif ditengah-tengah masyarakat. 

“Kelak jika kalian sudah berjuang ditengah-tengah masyarakat jadilah agen perubahan yang baik,” ajaknya.

KOKAM Tegal

Ibu dengan 4 anak itu terus memantik semangat santri. Ia pun menyontohkan dirinya yang kini mengalami kelumpuhan usai tertimpa kecelakaan 20 tahunan silam. Meski dalam beraktivitas Sinta selalu ditemani kursi roda namun ia tetap mengajak agar tetap mempunyai semangat tinggi, tetap menjalankan aktivitas dan tujuannya tidak lain tetap bermanfaat bagi orang lain. 

KOKAM Tegal

Sebagai perempuan yang harus melanjutkan perjuangan suaminya, Gus Dur, dirinya menyinggung peran dan kodrat seorang wanita yang memiliki tugas dan tanggung jawab yang sama dalam mengisi dan mengembangkan bangsa. Apalagi di Jepara lanjut ibu dari Alissa Qatrunnada mempunyai pahlawan emansipasi wanita, RA Kartini. Karenanya, semangat RA Kartini tegasnya harus dilanjutkan. 

Disamping itu, perempuan 65 tahun itu juga memberi apresiasi kepada Pesantren Az-Zahra. Ia menyatakan Azzahra yang mengelola Pesantren, SMP dan SMK merupakan lembaga yang mewah, santri-santrinya antusias dalam belajar dan sangat ada harapan menjadi besar karena memiliki potensi untuk maju dan berkembang.

Sementera itu, H Mukhlisin selaku Dewan Pembina dan Pendiri Lembaga Pendidikan Az-Zahra mengungkapkan santri Pesantren Az-Zahra terdiri dari 400an yang berasal dari Jepara maupun luar daerah. Dalam mengelola pendidikan pihaknya dibantu tenaga pendidik yang kompeten di bidangnya juga didukung dengan guru dari lulusan pesantren.  

Redaktur     : Syaifullah Amin

Kontributor : Syaiful Mustaqim

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Pertandingan, News KOKAM Tegal

Sabtu, 06 Januari 2018

Pergunu: Pelatihan untuk Guru Harus Cepat

Jakarta, KOKAM Tegal. Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) berpandangan, tekad bulat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk menerapkan kurikulum baru tahun ini harus diimbangi pengenalan kurikulum 2013 secara maksimal kepada para guru.

Sektretaris Jendral Pimpinan Pusat Pergunu Gatot Suyono mengatakan, pihaknya secara prinsip tidak keberatan dengan penerapan kurikulum baru yang menekankan aspek budi pekerti dan mata pelajaran yang tematik-integratif.

Pergunu: Pelatihan untuk Guru Harus Cepat (Sumber Gambar : Nu Online)
Pergunu: Pelatihan untuk Guru Harus Cepat (Sumber Gambar : Nu Online)

Pergunu: Pelatihan untuk Guru Harus Cepat

“Tetapi, pelatihan untuk guru-guru memang harus diselenggarakan secara cepat,” ujarnya lewat sambungan telepon, Rabu (29/5).

KOKAM Tegal

Gatot menambahkan, pemerintah perlu melibatkan sejumlah pihak, seperti perguruan tinggi terpercaya di Indonesia, agar proses pengenalan kurikulum 2013 tidak memakan waktu yang lama. Pelatihan yang sifatnya terpusat dinilai akan mempersulit proses sosialisasi ini dan mengurangi kelayakan kurikulum baru untuk diterapkan secara serentak.

Pergunu optimis, kurikulum dengan anggaran mencapai Rp 829 miliar ini akan mudah diadaptasi guru, mengingat mayoritas guru sekarang minimal sudah berpendidikan strata satu.

KOKAM Tegal

“Kita memang butuh hal-hal yang baru, termasuk dengan memasukkan unsur etika atau akhlak dalam mata pelajaran. Saya kira, Pak Nuh (Mohammad Nuh) ingin mengakomodasi ini,” ujar Gatot.

Penulis: Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal News, Quote, Khutbah KOKAM Tegal

Rabu, 20 Desember 2017

Melawan Narasi ISIS

Oleh Azis Anwar Fachrudin?



Bagaimana melawan ISIS secara kultural agar upaya mencegah berkembangnya bibit-bibit kekerasan dan terorisme atas nama agama bukan hanya agenda pemerintah tapi juga publik secara umum? Jawabannya tak lain adalah dengan mengidentifikasi ideologi dan melawan narasi yang dibangun ISIS. Dalam hal ini, ada dua jenis narasi ISIS yang patut diidentifikasi: narasi ideologis dan narasi politis.

Ideologi penting karena ia punya kontribusi sepertiga, kalau bukan malah setengah, dari faktor yang? berkontribusi terhadap kemunculan ISIS. Dalam studi agama dan kekerasan (religious violence), biasanya dikaji tiga faktor yang ketika terakumulasi akan membuat (pemeluk) agama mengalami “radikalisasi” dan rentan memilih jalan kekerasan: (1) ideologi; (2) sosial-ekonomi-psikologi; dan (3) faktor yang dikembangkan dalam teori gerakan sosial, yaitu “struktur kesempatan politik” (political opportunity structure).

Melawan Narasi ISIS (Sumber Gambar : Nu Online)
Melawan Narasi ISIS (Sumber Gambar : Nu Online)

Melawan Narasi ISIS

Hanya saja, dalam kasus ISIS faktor kedua tampaknya kurang begitu berpengaruh—meski tak berarti tak ada sama sekali. Banyak pasukan asing ISIS justru berasal dari Eropa, yang jauh lebih banyak jumlahnya jika dibanding Indonesia. Tak sedikit pula dari mereka yang bergabung dengan ISIS justru berasal dari kalangan menengah bahkan kaum muda terdidik. Artinya, mereka yang bergabung ini bukan dari kelas sosial marginal atau ekonomi bawah.

Karena itu, di samping ideologi, faktor lain yang kuat berpengaruh adalah struktur kesempatan politik. Analisis tentang ini bertesis bahwa pilihan untuk mendukung dan/atau melakukan kekerasan sangat bergantung pada gelanggang aksi (“repertoire”) yang dikondisikan oleh konteks politik setempat. ISIS bisa tumbuh subur karena diamplifikasi konteks politik tempat lahirnya: rezim Suriah yang represif (setidaknya bagi kaum pemberontak/oposisi), rezim Irak yang dipandang loyalis Saddam dan beberapa kelompok Sunni sebagai sektarian, dan kondisi politik setempat yang kacau-balau (chaotic) sebagai imbas dari fenomena yang disebut “Musim Semi Arab” (ar-Rabi’ al-‘Arabiy). Tamsilnya kira-kira seperti pegas: semakin suatu rezim politik menekan kuat ke bawah, daya balik ke atas untuk memberontak semakin kuat dan pilihan untuk melakukan kekerasan semakin terjustifikasi.

KOKAM Tegal

Hal yang terakhir ini turut menjadi penjelesan mengapa pasokan jihadis ISIS dari Indonesia, sebagai negara (relatif) demokratis dengan penduduk Muslim terbesar sedunia, sebenarnya sangat sedikit bila dibanding negara-negara mayoritas Muslim lainnya. Penjelasan inilah yang belum lama diangkat dan diulas dalam “Why are so few Indonesians joining the Islamic State” (www.theatlantic.com).

Mengamini penjelasan ini, semakin suatu rezim represif dan kondisi politik kacau-balau, potensi untuk munculnya ISIS dan gerakan serupa semakin besar. Karen itu, Indonesia selayaknya menjaga alam demokrasi agar aspirasi bisa tersalurkan melalui jalan yang beradab dengan, tentu saja, tetap menjaga kekuatan pengawal keamanan dan keterjaminan kebebasan sipil.



Wahhabisme dan Qutbisme

KOKAM Tegal

Terkait perlawanan terhadap narasi ideologis, hal pertama yang jelas teridentifikasi dari ISIS adalah akar teologisnya. Secara teologis, sulit untuk menampik bahwa ISIS merupakan percabangan (ramification) dari Wahhabisme. Ini sangat jelas, terutama bila melihat beberapa selebaran (baik pamflet atau booklet) yang dipublikasikan ISIS sendiri.

Salah satu pamflet ISIS yang menjadi semacam manifesto teologisnya, yakni? Hadzihi ‘Aqidatuna wa Hadza Manhajuna (Ini Akidah Kami dan Ini Jalan Kami), menunjukkan indikasi kuat ke arah itu: kebencian terhadap kuburan, patung (yang dianggap berhala), praktik-praktik tradisional (yang dianggap syirik), pemerintahan yang mengadopsi sistem politik sekuler (yang disebut thaghut) dan, tak kalah penting, Syiah (yang diangap kafir). Ini semua karakter tipikal—meski tak seluruhnya—Wahhabisme. Agaknya tak berlebihan kalau dikatakan bahwa ‘DNA’ Wahhabisme memang anti-Syiah, sehingga di mana Wahhabisme tumbuh subur, narasi anti-Syiah akan menguat.

Namun ISIS bukan semata Wahhabisme. Dalam ranah teologi-politik, ISIS adalah racikan antara Wahhabisme dan Qutbisme. Yang terakhir ini terkenal dengan ide tentang “jahiliyah modern” dan dipancangkan dasarnya oleh Sayyid Qutb, figur yang acap disebut meradikalkan satu faksi dalam Jama’ah al-Ikhwan al-Muslimin dan membidani gerakan ‘salafi-jihadi’ seperti al-Qaeda. Qutbisme membagi dunia menjadi dua saja: negara Islam (darul-Islam) dan negara kafir (darul-kufr). Dengan pondasi Qutbisme ini ISIS bercita-cita mendirikan khilafah global, melintasi sekat-sekat negara modern, dan mendeklarasikan perang kepada siapapun selainnya.

Hal yang terakhir ini juga terindikasi kuat dari salah satu booklet ISIS yang berjudul Muqarrar fit-Tauhid (Buku Daras Tauhid). Satu konsep kunci dalam booklet ini adalah ideologi “nawaqidh al-Islam” (hal-hal yang membatalkan keislaman), yang berisi 10 poin, yang jika seorang Muslim menyentuh satu saja dari 10 poin itu maka dia otomatis kafir, auto-murtad, dan karena itu layak diperangi. Satu catatan penting dalam hal ini: Muhammad ibn Abdil Wahhab, pengasas Wahhabisme itu, punya risalah kecil dengan judul yang sama, “Nawaqidh al-Islam”, yang 10 poin isinya diadopsi dengan sedikit modifikasi oleh ISIS—di samping juga risalah kecil berjudul “Masa’il Jahiliyyah”, yang dipublikasikan ISIS dengan subjudul yang mengarahkan makna “jahiliah” di situ kepada “jahiliah kontemporer” (jahiliyyah al-‘ashr), yakni apalagi kalau bukan ide-ide sekuler seperti demokrasi, HAM, dll. Di antara yang bisa masuk dalam 10 poin itu ialah: para penghina Islam dan Nabi Muhammad (ingat kasus Charlie Hebdo di Perancis), para pemimpin yang mengadopsi ideologi sekuler (dan karena itu masuk dalam kategori darul-kufr), dan Syiah-Rafidhah (dengan dakwaan klasik: mencaci para Sahabat Nabi).

Ideologi “pembatal keislaman” inilah yang pada gilirannya membuat ISIS membuat distingsi antara “musuh jauh” (al-‘aduww al-ba’id) dan “musuh dekat” (al-‘aduww al-qarib)—di sinilah signifikansi Qutbisme. Musuh jauh adalah yang sejak awal sudah ‘kafir’ (bagi ISIS semua non-Muslim adalah kafir). Musuh dekat adalah Muslim yang menyentuh salah satu poin “pembatal keislaman” itu. Distingsi ini turut menjelaskan mengapa mayoritas korban ISIS justru adalah Muslim, yakni karena dianggap sebagai musuh dekat.

Kategorisasi “musuh dekat”-“musuh jauh” dapat ditemukan muasalnya, antara lain, dari buku kecil berjudul “Al-Jihad: al-Faridhah al-Ghaibah” (Jihad: Kewajiban yang Hilang) ditulis Muhammad Abdus-Salam Faraj, otak serangan asasinasi Presiden Mesir Anwar Sadat pada 1981. Narasi yang dibangun di buku kecil itu berupa analogi, seraya mengutip fatwa Ibn Taimiyyah, dengan rezim Tartar (Mongol) yang telah menginvasi dan meluluhlantakkan Baghdad dan dianggap menjajah umat Islam pada abad pertengahan lalu. Fatwa Ibn Taimiyah saat itu kurang lebih ialah siapapun yang mengaku Muslim tapi berdamai atau mengungkapkan dukungan (muwalah) terhadap rezim Tartar, maka dia hakikatnya zindiq dan layak diperangi. Dengan analogi ini, Presiden Sadat dianggap kafir karena telah melakukan perjanjian damai Camp David dengan Israel,? yang disamakan belaka dengan mereka yang ber-muwalah pada rezim Tartar di zaman Ibn Taimiyah. Karena inilah lalu Presiden Sadat dibunuh oleh Khalid Islambouli dari kelompok al-Jihad al-Islamiy. Abdus-Salam Faraj, ideolog al-Jihad al-Islamiy, terinsipirasi kuat oleh Sayyid Qutb, dan karena inilah apa yang disebut “salafi-jihadisme” kerap ternisbahkan padanya dan disebut pula Qutbisme.

Demikianlah ringkasan substansi ideologi ISIS—lebih jauh, Anda bisa menelusurinya dengan melacak tokoh-tokoh di atas serta tulisan-tulisannya. Setiap narasi keislaman yang mengacu ke ideologi itu adalah indikator yang potensial menjadi lahan persemaian ISIS.

Sektarianisme

Secara politis, narasi yang dikembangkan ISIS adalah mengeksploitasi kasus Timur Tengah, terutama di Suriah, yang dibingkai sebagai perang Sunni-Syiah. Narasinya: rezim Assad adalah representasi kejahatan Syiah dan ISIS adalah pejuang pembela Sunni. Kekacauan politik di Suriah dinarasikan ISIS dengan bungkus sektarian untuk mendapat simpati massa Muslim dari gerakan-gerakan lain yang memiliki kecenderung politik yang sama dengan ISIS: menjatuhkan rezim Assad. Framing seperti inilah yang diimpor ke mana-mana, tak terkecuali ke Indonesia.

Ideologi “takfiri” dan jihadisme ala ISIS bisa tumbuh subur ketika lahan sektarianisme “permusuhan abadi Sunni-Syiah” sudah disemai terlebih dahulu. Metode semacam ini cukup terkonfirmasi bila kita membaca antara lain buku Idarah al-Tawahhusy (Manajemen Brutalisme), karya orang yang menyebut dirinya Abu Bakar Naji, yang menjadi panduan strategis ISIS untuk masuk ke lahan baru. Tahapannya secara ringkas: kobarkan kekacuan politik (terutama di kawasan yang rezimnya lemah), buat umat Islam merasa terkepung, lalu datang sebagai ‘penyelamat’. Dalam konteks hari ini, salah satu isu yang paling gampang untuk mengobarkan chaos di kawasan mayoritas Muslim tapi rezimnya lemah adalah isu sektarianisme. Di Indonesia, hal ini sudah terjadi, meski eskalasinya belum—dan semoga tidak sampai—separah di Timur Tengah; yakni dengan adanya satu-dua pemerintah lokal yang jatuh ke dalam kubangan politik sektarian.



Begitulah dua narasi utama ISIS, secara ideologis (Wahhabisme dan Qutbisme) dan politis (sektarianisme). Melawan ISIS secara kultural, baik oleh ormas keislaman moderat maupun masyarakat Indonesia secara umum, bisa dimulai dengan mengidentifikasi kemudian melawan narasi itu. Langkah pertama antara lain dengan memperkuat narasi tandingan sebagai antidote-nya, yakni narasi anti sektarianisme, yang bisa dilakukan antara lain dengan memperkuat upaya pendekatan (taqrib) Sunni-Syiah. Kalau terwujud, ini bisa menjadi narasi tandingan dengan pesan kultural yang kuat. Tapi kalau tidak, dan malah memilih memanas-manasi sengketa sektarian yang sudah berusia berabad-abad ini, bibit “ISIS-isme” masih mendapat lahan subur untuk ditanami.?



Mahasiswa S2 Center for Religious and Cross-cultural Studies (CRCS), Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal News, Sholawat KOKAM Tegal

Selasa, 19 Desember 2017

Sembilan Poin Risalah Solo Perkuat Sinergitas PTKI dan Pesantren

Sukoharjo, KOKAM Tegal. Selama tiga hari, Selasa-Kamis (17-19/10), Rabithah Maahid Islamiyah NU (RMINU) atau asosiasi pesantren NU Jawa Tengah menggelar kegiatan Silaturahim Daerah (Silatda) “Gerakan Ayo Mondok”. Acara yang bertajuk "Pesantren Pusat Pendidikan Karakter Nilai Luhur Bangsa dan Islam Moderat" ini bertempat di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta.

Pada hari terakhir kegiatan, setelah melalui proses diskusi grup serta seminar yang diikuti para perwakilan dari RMI-NU Se-Jateng dan DIY, serta dari utusan pondok pesantren dan perwakilan dari IAIN Surakarta, menghasilkan sejumlah komitmen yang dituangkan dalam “Risalah Solo”.

Sembilan Poin Risalah Solo Perkuat Sinergitas PTKI dan Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Sembilan Poin Risalah Solo Perkuat Sinergitas PTKI dan Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Sembilan Poin Risalah Solo Perkuat Sinergitas PTKI dan Pesantren

Risalah yang berisikan Sembilan poin penting itu, menyiratkan gagasan untuk mensinergikan gerakan pesantren dengan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI).

“Sembilan poin yang intinya adalah sinergitas perguruan tinggi Islam dan pesantren dalam membangun, mengembangkan kualitas pendidikan masa depan untuk kemajuan bangsa dan peradaban,” papar Rektor IAIN Surakarta Dr. H. Mudofir.

KOKAM Tegal

Adapun isi 9 poin “Risalah Solo” yaitu:

1. PTKI dan Pesanren sebagai pusat peradaban dan ilmu pengetahuan menjunjung tinggi nilai luhur kemanusiaan dan kebangsaan

2. PTKI dan Pesantren bersama-sama membumikan nilai-nilai Islam yang santun, moderat, toleran, dan berbasis kearifan lokal

3. PTKI dan Pesantren bersama-sama mengembangkan tradisi keilmuan yang berbasiis khazanah klasik dan modern

4. PTKI dan Pesantren bersama-sama bersinergi dalam menjaga keutuhan NKRI 5. PTKI dan Pesantren bersama-sama berperan dalam upaya pembangunan berkelanjutan dengan menjaga keseimbangan alam

KOKAM Tegal

6. PTKI dan Pesantren bersama-sama mewujudkan nilai-nilai keadilan dalam segala aspek kehidupan

7. PTKI dan Pesantren bersama-sama mengembangkan tradisi musyawarah mufakat untuk kemaslahatan umat dan bangsa

8. PTKI dan Pesantren bersama-sama mengembangkan budaya dakwah hasanah berbasis kearifan lokal dengan memanfaatkan teknologi informasi

9. PTKI dan Pesantren bersama-sama mengembangkan potensi diri dalam rangka menjaga eksistensi sekaligus memperkuat daya tawar dalam kompetisi globalDalam penandatanganan “Risalah Solo”, selain Rektor IAIN Surakarta turut serta Ketua PP RMI-NU Ketua PP RMI NU KH Abdul Gaffar Rozin, Ketua PW RMI Jateng KH Mandzhur Labib, dan Prof. Kamaruddin Amin mewakili Menteri Agama RI. (Ajie Najmuddin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal News KOKAM Tegal

Minggu, 17 Desember 2017

Rais ‘Aam: LBM PBNU Jadi Dapur Penetapan Hukum

Jakarta, KOKAM Tegal - Rais ‘Aam Syuriyah PBNU KH Ma’ruf Amin ingin Lembaga Bahtsul Masail (LBM) menjadi dapur panduan dan penetapan hukum di lingkungan Nahdlatul Ulama. Sejak awal, ia menghendaki adanya kegiatan Bahtsul Masail agar PBNU memiliki stok hukum.

“Saya ingin menyampaikan penghargaan kepada pengurus LBM untuk adanya kegiatan ini. Saya memang menghendaki bahtsul masail menjadi dapur untuk panduan-panduan dan penetapan hukum baik yang menyangkut kerangka maudluiyyah, waqi’iyyah, maupun qanuniyyah’,” ujar Rais ‘Aam di hadapan peserta bahtsul masail bertema “Konsep Islam Nusantara” di lantai 5 gedung PBNU, Kamis (4/2) malam.

Rais ‘Aam: LBM PBNU Jadi Dapur Penetapan Hukum (Sumber Gambar : Nu Online)
Rais ‘Aam: LBM PBNU Jadi Dapur Penetapan Hukum (Sumber Gambar : Nu Online)

Rais ‘Aam: LBM PBNU Jadi Dapur Penetapan Hukum

Dahulu, lanjut Kiai Ma’ruf, di NU hanya waqi’i saja. Tapi dirasakan mulai dari Munas Lampung pada 1992 para kiai memformalkan pentingnya ada maudlhui. Sehingga ada masalah tematik yang harus dibahas. “Dan ini tidak hanya ketika ada munas atau muktamar saja, sehingga kita punya berbagai konsep yang kita jadikan keputusan di lingkungan NU,” tandasnya.

Menurut Kiai Ma’ruf, para kiai juga merasakan adanya persoalan perundang-undangan yang sangat kompleks. Ada yang sifatnya usulan RUU, ada review sekaligus mengamati proses RUU yang sedang disiapkan. “Oleh karena itu, NU harus terlibat agar semua UU itu minimal tidak bertentangan dengan hukum Islam,” tegas kiai yang juga Ketua Umum MUI ini.

KOKAM Tegal

KOKAM Tegal

Keterlibatan tersebut antara lain melalui sejumlah usulan dan rekomendasi dari komisi bahtsul masail atas RUU, dan review atas UU yang ada. Oleh karenanya, NU kemudian menetapkan pada Munas 2005 di Surabaya tentang bahtsul masail maudluiyyah.

“Jadi kita perlu tahu historical background lahirnya komisi maudluiyyah ini. Bahkan, di bahtsul masail kita tambah satu lagi yaitu iqtishadiyyah. Karena masalah ekonomi terus berkembang dan tidak bisa kita biarkan tanpa panduan yang hukum-hukumnya terus ditanyakan masyarakat,” papar Kiai Ma’ruf.

Dan yang paling dinamis itu justru masalah ekonomi ini. Terutama di pasar modal, ada ijarah berbasis proyek. “Kalau dulu berbasis bentuk bangunan, karena bangunan sudah habis maka kemudian yang dijaminkan itu proyek yang mau dibangun. Kita harus selalu merespons berbagai perkembangan yang terjadi ini,” tandasnya.

Apalagi sekarang ini Presiden Jokowi telah membentuk Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS) yang diketuainya sendiri.? “Jadi ini ada perkembangan yanbg luar hiasa yang nanti kita selalu siap merespons produk-produk yang akan lahir di Indonesia. itu yang harus disiapkan LBM,” tegas Rais ‘Aam.

Senada dengan Kiai Ma’ruf, Rais Syuriah PBNU KH Masdar Farid Mas’udi yang berbicara pada sesi sebelumnya menegaskan perlunya PBNU mencermati perundangan-undangan. Ia beralasan, UU merupakan norma yang mengikat masyarakat. “Ini sasaran Islamisasi syariat kita. Jangan biarkan norma-norma yang mengikat itu yang jelas sangat powerful karena didukung negara, sementara kita tidak pernah menjamahnya,” ujar Kiai Masdar. (Musthofa Asrori/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal News, Kajian Sunnah KOKAM Tegal

Jumat, 15 Desember 2017

Negeri Ini Harus Dijaga Bersama

Blitar, KOKAM Tegal - Bupati Blitar H Riyanto menegaskan agar masyarakat harus banyak bersyukur kepada Allah SWT dengan anugerah yang diberikan untuk bangsa Indonesia. menurutnya, Indonesia dianugerahi negeri yang damai dan makmur.

Demikian disampaikan Riyanto dalam acara sarasehan kerukunan umat beragama dan pemantapan wawasan kebangsaan yang diselenggarakan keluarga besar Kantor Kementrian Agama Kabupaten Blitar di MTs N Kunir, Wondadi, Blitar.

Negeri Ini Harus Dijaga Bersama (Sumber Gambar : Nu Online)
Negeri Ini Harus Dijaga Bersama (Sumber Gambar : Nu Online)

Negeri Ini Harus Dijaga Bersama

“Kita harus bangga dengan Indonesia yang multietnis, multiagama, dan budaya. Namun bisa bersatu padu dan kompak dalam bingkai NKRI,” kata Riyanto.

Kepala Kakanwil Kementrian Agama Provinsi Jawa Timur H Mahfud Shodar juga turut memberikan pengarahan dalam pertemuan tersebut.

KOKAM Tegal

Menurut Mahfud, Indonesia saat ini sedang ditimpa berbagai ujian sehingga kondisinya sangat memprihatinkan. Namun demikian, berkat kerja sama semua komponen masyarakat Indonesia bisa bertahan hingga saat ini.

KOKAM Tegal

“Kita ada Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika, sehingga sebesar apapun goncangan bisa diatasi bersama-sama sehingga pihak-pihak yang ingin Indonesia hancur harus gigit jari,” katanya.

Menurutnya, kesuburan negeri tercinta inilah menjadi alasan mengapa Indonesia menjadi incaran negara-negara lain untuk menguasainya.

“Untuk itu kita harus terus bersatu padu bersama-sama untuk mempertahankan negara kesatuan tercinta ini. Selama kita tetap bersatu dan tetap menjujung nilai-nilai Pancasila. Insya Allah negeri ini sampai kapanpun akan tetap berdiri kokoh,” katanya.

Ia menambahkan, kondisi Indonesia akhir-akhir ini memang penuh dengan goncangan dan ujian. Namun berkat kekompakan semua pihak, termasuk pemerintah, ulama, dan masyarakat goncangan-goncangan itu bisa teratasi dengan baik.

Acara tersebut dihadiri sekitar 1000 undangan. Tampak hadir Ketua PCNU Blitar KH Masdain Rifai Ahyat, Ketua MUI Blitar KH Ahmad Djamrozi, dan seluruh kepala dan pegawai Kemenag se-Kabupaten Blitar. (Imam Kusnin Ahmad/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Bahtsul Masail, Ubudiyah, News KOKAM Tegal

JQH Al-Wustho Hidupkan Shalawat dan Al-Qur’an di Kampus

Sukoharjo, KOKAM Tegal. Kehadiran Jamiyyatul Qurra wal-Huffadz (JQH) Al-Wustho di Kampus Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta, bak oase bagi para mahasiswa. Selain memberikan angin segar bagi mereka yang memiliki potensi dalam ilmu Al-Qur’an, juga menjadi wadah pengembangan potensi keislaman lainnya, seperti shalawat, seni kaligrafi dan lain sebagainya.

JQH Al-Wustho Hidupkan Shalawat dan Al-Qur’an di Kampus (Sumber Gambar : Nu Online)
JQH Al-Wustho Hidupkan Shalawat dan Al-Qur’an di Kampus (Sumber Gambar : Nu Online)

JQH Al-Wustho Hidupkan Shalawat dan Al-Qur’an di Kampus

Kehadiran mereka bahkan disambut baik para tokoh di luar kampus, salah satunya dari sesepuh NU Boyolali KH. Ali Muhson. “Kami mengapresiasi JQH dari IAIN yang telah berjuang menghidupkan shalawat dan Al-Qur’an, semoga menjadi lembaga yang mampu mencetak orang-orang yang baik,” tutur pengasuh Ponpes Al-Hikam Boyolali itu, belum lama ini.

Hal tersebut menjadi pujian sekaligus tantangan bagi para pengurus JQH Al-Wustho yang baru saja menyelenggarakan Musytan (Musyawarah Tahunan Anggota) II. Ketua baru terpilih, Zamron Huluqi, mengatakan pencapaian selama ini tidak terlepas pada kinerja, komitmen, dan loyalitas semua pengurus dan anggota.

KOKAM Tegal

Zamron menambahkan, JQH yang kini telah memiliki lima divisi; divisi shalawat, tilawah, tafsir, kaligrafi dan tahfidz terus mengadakan penyempurnaan agar menjadikan wadah kegiatan mahasiswa ini menjadi lebih baik.

“Kita juga akan fokus pada penataan internal dan pelengkapan instrumen LPPSDM sebagai lembaga baru di JQH Al-Wustha,” terang Zamron, Jumat (5/9). (Ajie Najmuddin/Mahbib)

 

KOKAM Tegal

Foto: Salah satu kegiatan JQH Al-Wustho

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Fragmen, News, Sunnah KOKAM Tegal

Selasa, 12 Desember 2017

Sensitifitas Perlindungan Anak di Perda dan Kurikulum Masih Lemah

Jakarta, KOKAM Tegal. Merebaknya kasus kekerasan seksual terhadap anak dipicu banyak faktor baik eksternal maupun internal. Kenyataan ini diperparah dengan rendahnya sensitivitas para pejabat daerah dan tim perumus kurikulum di dirjen terkait perihal jaminan keamanan bagi anak.

Sensitifitas Perlindungan Anak di Perda dan Kurikulum Masih Lemah (Sumber Gambar : Nu Online)
Sensitifitas Perlindungan Anak di Perda dan Kurikulum Masih Lemah (Sumber Gambar : Nu Online)

Sensitifitas Perlindungan Anak di Perda dan Kurikulum Masih Lemah

Demikian dikatakan Wakil Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia Maria Advianti kepada KOKAM Tegal, Rabu (14/5) sore.

Kita harus mengakui bahwa sumber daya manusia para pejabat daerah dan perumus kurikulum masih lemah. Kapasitas mereka di samping anggaran dalam menciptakan lingkungan yang aman bagi anak juga terbilang rendah.

KOKAM Tegal

Geografis mestinya tidak bisa dijadikan alasan di tengah kebijakan desentralisasi daerah. Mereka harusnya memegang peran signifikan dalam melindungi anak-anak. Maria menyebut pejabat daerah dan dinas terkait pengatur kurikulum memiliki otoritas untuk menelurkan Perda atau rumusan kurikulum ramah anak.

“Sekali lagi, nasib anak-anak menjadi taruhan atas kendurnya sensitivitas mereka,” tegas Maria.

KOKAM Tegal

Menurut Maria, penanggulangan kasus kekerasan anak belakangan ini tidak bisa diselesaikan secara temporal. “Kita harus menangani kasus ini secara berkesinambungan juga melibatkan banyak pihak,” kata Maria yang juga dipercaya mengurus salah satu unit usaha Fatayat NU, Koperasi Yasmin.

Mata pelajaran Kespro atau seks education dalam kurikulum menjadi alternatif atas persoalan ini. Kapasitas guru di bidang itu juga perlu ditingkatkan, pungkas Maria. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Daerah, News, Olahraga KOKAM Tegal

Jumat, 08 Desember 2017

Tiap Tahun IPNU-IPPNU Tegal Bimbing Siswa Masuk Perguruan Tinggi

Slawi, KOKAM Tegal. Pimpinan Cabang IPNU-IPPNU Kabupaten Tegal, bertekad akan terus memberi bimbingan belajar pasca Ujian Nasional (BPUN) setiap menjelang Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN). Hal ini penting dilakukan sebagai rasa peduli kepada adik-adik kelas yang hendak mengenyam pendidikan lebih tinggi.

“Kami akan membimbing terus adik-adik yang hendak mengikuti (SBMPTN) tiap tahunnya,” ujar Ketua PC IPNU Kabupaten Tegal Aditio Prasetio saat buka puasa dan sahur bersama Forum Alumni Bimbingan Belajar Pasca Ujian Nasional.

Tiap Tahun IPNU-IPPNU Tegal Bimbing Siswa Masuk Perguruan Tinggi (Sumber Gambar : Nu Online)
Tiap Tahun IPNU-IPPNU Tegal Bimbing Siswa Masuk Perguruan Tinggi (Sumber Gambar : Nu Online)

Tiap Tahun IPNU-IPPNU Tegal Bimbing Siswa Masuk Perguruan Tinggi

Meskipun pandai, kata Adit, dalam SBMPTN perlu strategi yang jitu agar mendapatkan perguruan tinggi yang berkualitas. Meski demikian, dalam SBMPTN perlu dilandasi sikap dan sifat jujur saat mengerjakan soal ujian. Dengan kesiapan belajar, maka saat mengerjakan akan mantap berbuat curang.

KOKAM Tegal

Untuk itu, perlu dilakukan ikhtiar bersama dengan cara belajar bersama yang dilandasi dengan kejujuran. “Buat apa masuk perguruan tinggi negeri dengan jalan tidak jujur, tentu nanti ilmu yang didapatkannya kurang bermanfaat,” tandasnya.

KOKAM Tegal

Sebanyak 60 alumni BPUN 2015 hingga hari ini masih eksis, meski di pantau dari media sosial. Termasuk penyelenggaraan buka puasa dan sahur bersama ini undangan hanya dishare melalui media sosial. “Kami harap, para alumni ketika sudah berada di perguruan tinggi harus bisa mengembangkan amaliyah-amaliyah NU serta pengetahuan tentang Aswaja di kampus masing masing,” harap Adit.

Koordinator kegiatan Pido, menambahkan ajang silaturahmi ini sekaligus melepas kerinduan saat belajar bersama di gedung PCNU Kab Tegal. “Mudah-mudahan pada 9 Juli 2015, semua peserta lulus SBMPTN 2015,” ujarnya penuh harap. (wasdiun/abdullah alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal News, Cerita, Humor Islam KOKAM Tegal

Jumat, 24 November 2017

Ahlul Halli wal Aqdi Dibahas di Komisi Organisasi

Surabaya, KOKAM Tegal. Mekanisme Ahlul Halli Wal Aqdi (Ahwa) atau pemilihan rais syuriyah dan ketua tanfidziyah oleh semacam dewan yang dibentuk, akan menjadi salah satu materi penting sidang komisi organisasi dalam Konferensi Wilayah (Konferwil) NU Jawa Timur, Mei 2013 mendatang.

Hal itu disampaikan Wakil Ketua PWNU Jatim H Abdul Wahid Asa saat dikonfirmasi KOKAM Tegal di ruangan kerjanya, lantai dua PWNU Jatim, Jalan Masjid Al-Akbar Surabaya, Selasa (23/4).

Ahlul Halli wal Aqdi Dibahas di Komisi Organisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Ahlul Halli wal Aqdi Dibahas di Komisi Organisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Ahlul Halli wal Aqdi Dibahas di Komisi Organisasi

“Kita yakin, para utusan dari PCNU masih memiliki kejernihan cara berfikir dalam melihat persoalan di internal organisasi,” katanya. Pimpinan Umum Majalah Aula ini sangat optimis, dari sekian banyak peserta yang mengikuti konferensi, juga akan ikut serta sejumlah organisatoris ulung yang memiliki kesamaan visi dalam upaya memperbaiki internal NU. 

KOKAM Tegal

Mekanisme Ahwa akan didiskusikan dengan para kontingen dari PCNU se Jawa Timur. 

KOKAM Tegal

“Kita berharap draf Ahwa yang sudah disiapkan akan bisa diterima para peserta sehingga pembahasan saat Konferwil dapat berjalan lebih serius dan mendalam,” katanya. 

Konferwil PWNU Jatim sendiri akan berlangsung di Pondok Pesantren Bhumi Sholawat, Tulangan Sidoarjo. Pelaksanaan acara tertinggi level Jatim ini dilaksanakan 24-26/5 2013 atau 14-16 Rajab 1434 H.

Redaktur   : A. Khoirul Anam

Kontributor: Syaifullah

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal News, AlaNu KOKAM Tegal

Rabu, 22 November 2017

Ikhtiar Mencari Sistem Lembaga Keuangan yang Sesuai Iklim NU

Oleh Muslimin Abdilla



Pada periode kepengurusan 2012-2017, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jombang menyusun program kerja lima tahunan. Salah satu kegiatan dalam program tersebut adalah mendirikan lembaga keuangan (moneter), yang secara teknis dilaksanakan oleh Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU), salah satu departemen dalam kepengurusan PCNU Jombang yang bergerak dalam kegiatan ekonomi.

Ikhtiar Mencari Sistem Lembaga Keuangan yang Sesuai Iklim NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Ikhtiar Mencari Sistem Lembaga Keuangan yang Sesuai Iklim NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Ikhtiar Mencari Sistem Lembaga Keuangan yang Sesuai Iklim NU

Program fasilitasi pendirian lembaga keuangan di lingkungan PCNU Jombang merupakan program yang sangat riskan, kalau tidak bisa dikatakan sebagai program yang cukup ambisius. Kenapa? Karena dalam sejarah fasilitasi pendirian lembaga keuangan oleh perangkat PCNU Jombang pernah mengalami kegagalan, dan defisit kepercayaan kepada lembaga keuangan yang didirikan dan dimiliki oleh warga NU secara organisasi cukup nyata. Hal ini dibuktikan dengan: jangankan warga NU, pengurus NU sendiri saja mayoritas tidak percaya kepada lembaga keuangan yang didirikan dan difasilitasi oleh NU.

KOKAM Tegal

Ketidakpercayaan itu bisa dilihat dari masih ragu-ragunya pengurus NU untuk menyimpan dananya di lembaga keuangan yang diinisiasi oleh NU. Takut dana yang disimpan atau diinvestasikan akan sirna, dan tidak jelas ke mana larinya, dan lembaga keuangannya bubar tanpa pertanggungjawaban. Ketidakpercayaan ini pantas menghinggap di kalangan pengurus sendiri, karena mereka mungkin pernah mengalami atau menyaksikan sendiri bagaimana lembaga keuangan NU dikelola di masa lalu.

Dari defisit kepercayaan yang akut seperti inilah, program fasilitasi pendirian lembaga keuangan, yang selanjutnya berbentuk Baitul Mal wat Tamwil Nahdlatul Ulama (BMTNU) Jombang, mulai dijalankan. Pengurus Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU) Cabang Jombang direkrut dari orang-orang yang selama ini bergelut dalam bidang keuangan lembaga sosial dan bankir lembaga keuangan. Ditopang oleh dua perpaduan keahlian ini, BMTNU Jombang mulai menyusun visi, misi, tujuan dan program melalui perencanaan strategis, serta dilengkapi dengan aturan teknis standard operational procedures (SOP).

Berbekal perangkat-perangkat tersebut, BMTNU yang secara hukum berbentuk Koperasi Jasa Keuangan Syariah (KJKS) mulai merekrut anggota dan dideklrasikan, selanjutnya melakukan rekruitmen staf: mulai dari direktur, bagian administrasi sampai bagian marketing dan collecting. Pada awal pendirian, direktur langsung dirangkap oleh sekretaris Pengurus LPNU Jombang, dengan pertimbangan dia memiliki pengalaman sebagai seorang bankir BPRS.

KOKAM Tegal

Yang perlu ditegaskan di sini adalah, dalam pendirian lembaga keuangan yang berbentuk koperasi ini, LPNU sebagai pelaksana program PCNU hanyalah memfasilitasi pendirian. Karena koperasi merupakan lembaga/organisasi tersendiri yang berbeda dengan NU dan tidak di bawah kendali NU, tetapi berada dalam kekuasaan anggota, meskipun dalam klausul di aturannya bisa ditambahkan tentang hubungan (relasi) koperasi ini dengan NU.

Dalam menjalankan BMTNU, pengurus dan manajemen tidak mengambil referensi atau adopsi sistem dari manapun. Memang sedari awal diniati bahwa pendirian BMTNU ini adalah sebagai upaya pembelajaran bersama. Semua perencanaan, pelaksanaan, monitoring-evaluasi dan pengambilan keputusan dianggap sebagai proses pembelajaran. Karena proses pembelajaran, maka semua orang yang terlibat harus berniat belajar dan bisa menarik pelajaran dalam mengelola lembaga keuangan yang sesuai dengan iklim di Nahdlatul Ulama.

Hal ini juga didasari oleh pengetahuan yang ada bahwa, sampai saat ini Nahdlatul Ulama secara organisasi belum memiliki sistem lembaga keuangan yang sudah dijalankan secara nasional. Beberapa Pengurus Cabang atau Pengurus Wilayah sedang berikhtiar untuk menemukan sistem lembaga keuangan yang pas bagi Nahdlatul Ulama. Yang terpenting, dalam memfasilitasi pendirian BMTNU ini benar-benar diputuskan secara organisasi dan karena itu difasilitasi NU dalam pendiriannya, tidak diputuskan dan didirikan oleh orang per-orang pengurus NU, dan selanjutnya secara mayoritas sahamnya dikuasai oleh orang per-orang tersebut.

Dalam perjalanannya, pengelolaan BMTNU Jombang yang menghimpun warga Nahdlatul Ulama dalam upaya membangun kondisi ekonomi yang lebih baik mampu mengambil pelajaran-pelajaran yang dikumpulkan dalam analisis: Selama ini BMTNU Jombang sudah mampu memenuhi kebutuhan dasar anggota dalam menyediakan pemodalan. Sehingga akses kepada sumber permodalan bisa tercapai. Upaya ini mampu meningkatkan kebersamaan warga Nahdlatul Ulama dalam meningkatkan kapasitas dalam bidang ekonomi, yang selanjutnya mengarah pada upaya membangun perbaikan dan keadilan dalam bidang ekonomi.

Namun yang paling penting dalam menjalankan BMTNU ini adalah sebagai salah satu ikhtiar dari berbagai ikhtiar dalam mencari sistem lembaga keuangan yang sesuai dengan iklim Nahdlatul Ulama. Karena iklim yang ada di lingkungan Nahdlatul Ulama bisa berbeda dengan iklim yang ada di organisasi lain.

* Sekretaris PCNU Jombang

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal News, Daerah, Halaqoh KOKAM Tegal

Selasa, 21 November 2017

Alumni Pesantren Nurul Yaqin Diminta Sebarkan Islam Rahmatan Lilalamin

Padangpariaman, KOKAM Tegal. Alumni Pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan Pakandangan Kecamatan IV Lingkungan Kabupaten Padangpariaman, Sumatera Barat diminta untuk menyebarkan Islam yang penuh dengan kasih sayang dan rahmatan lilalamin. Jangan sampai alumni pesantren ini berganti paham keagamaan.  

Alumni Pesantren Nurul Yaqin Diminta Sebarkan Islam Rahmatan Lilalamin (Sumber Gambar : Nu Online)
Alumni Pesantren Nurul Yaqin Diminta Sebarkan Islam Rahmatan Lilalamin (Sumber Gambar : Nu Online)

Alumni Pesantren Nurul Yaqin Diminta Sebarkan Islam Rahmatan Lilalamin

Pengasuh Pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan Abuya Syekh H. Ali Imran Hasan menegaskan hal itu pada Silaturrahim Akbar dan Halaqah Nasional Ulama dan Keluarga Besar Nurul Yaqin, Selasa (21/7/2015) di halaman Rusunawa pesantren setempat. Abuya mengingatkan alumni ini terkait munculnya kekuatiran adanya alumni pesantren mulai dimasuki paham-paham radikal yang belakangan ini menjadi perhatian di Indonesia.

Menurut Abuya Imran, alumni Pesantren diminta terus membaca kitab. Jangan lupa mengajar. Mereka yang tidak mau mengajar, maka akan lupa akan kaji (ilmu). Alumni  yang mengajarkan ilmu haruslah dengan kasih sayang. 

KOKAM Tegal

"Berkasih sayanglah seperti Adam dan Hawa. Adam kasih sayang kepada Hawa, Hawa pun kasih sayang pada Adam. Begitu hendaknya umat ini berkasih sayang. Ini harus dipegang dalam mensyiarkan Islam yang rahmatan lilalamin," kata Abuya.  

Bupati Padangpariaman diwakili Sekretaris Daerah Jonfpriadi mengatakan, kehadiran Nurul Yaqin sudah berperan penting dalam kemajuan pembangunan Padangpariaman, terutama terkait dengan bidang keagamaan. Banyak prestasi yang diraih Padangpariaman. Pemda Padangpariaman tidak bisa berbuat banyak, tanpa dukungan masyarakat, terutama ulama yang sudah dihasilkan pesantren Nurul Yaqin.

KOKAM Tegal

Silaturrahmi diselenggarakan alumni Pesantren Nurul Yaqin bekerjasama Forum Masyarakat Peduli Sumbar  tampak dihadiri Ketua Yayasan Pembangunan Islam El Imraniyah (PYII) Ringan-Ringan Drs. Idarussalam Tuanku Sutan,  Ketua BAZNA Kabupaten Padangpariaman Suatribur,  Ketua Alumni  Pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan, Drs. Akmaluddin Tuanku Labai Mudo, M.A,  Ketua Pelaksana Silaturrahim Akbar dan Halaqah Nasional Ulama   Keluarga Besar  Nurul Yaqin Rahmat Tuanku Sulaiman, MM dan ratusan alumni Pesantren Nurul Yaqin dari berbagai daerah di Sumatera dan Jawa. 

Pesantren Nurul Yaqin juga memberikan ihtiram Nurul Yaqin (piagam penghargaan Nurul Yaqin) kepada enam orang. Masing-masing  tiga orang generasi pertama Nurul Yaqin, Syamsir Alam Tuanku Bagindo imam Nagari Kasang, Kecamatan Batang Anai, Zubir Tuanku Sutan dari Nagari Anduring, dan Drs.H.Syahril Tanjung Tuanku Mudo, MA dari nagari Malalo sebagai akademisi (mantan Puket I STAIN Batusangkar).

Penghargaan lain diberikan kepada pengembangan pesantren Nurul Yaqin yakni Syekh Muda Ahmad Damanhuri Tuanku Sutan Bandaro yang mengembangkan Pesantren Nurul Yaqin di Ambua Kapur Kecamatan VII Koto Padangpariaman. Penterjemahan kebijakan Abuya Syekh H.Ali Imran Hasan diberikan kepada Ahmad Dalwi Tuanku Labai Sinaro (almarhum). Sedangkan donatur tetap Nurul Yaqin diberikan kepada Uswatun Hasanah dari Nagari Anduring. (Armaidi Tanjung/Mukafi Niam)

Keterangan foto: Duduk di depan,  Ketua Yayasan Pembangunan Islam El Imraniyah (PYII) Ringan-Ringan Drs. Idarussalam Tuanku Sutan, Sekda Padangpariaman Jonpriadi dan Ketua PBNU Prof. Dr. Maidir Harun, MA. 

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Amalan, News KOKAM Tegal

Senin, 20 November 2017

Kempek Mendadak Jadi Pasar

Cirebon, KOKAM Tegal. Perhelatan akbar Munas Alim Ulama dan Konbes NU 2012 berpengaruh banyak terhadap kondisi Kota Cirebon. Salah satu dampak yang menonjol adalah keramaian massa di sekeliling lokasi acara, Kompleks Pondok Pesantren Kempek, Palimanan, Cirebon. Kampung halaman Ketua Umum PBNU ini mendadak seperti pasar.

 

Dari pantauan KOKAM Tegal, ratusan lapak dibuka di hampir sepanjang jalanan menuju pesantren. Selain di area bazar yang disediakan panitia, para pedagang tampak pula berjajar mendekati panggung kesenian. Jumlah terus bertambah hingga hari ini sejak Kamis (13/9).

Kempek Mendadak Jadi Pasar (Sumber Gambar : Nu Online)
Kempek Mendadak Jadi Pasar (Sumber Gambar : Nu Online)

Kempek Mendadak Jadi Pasar

 

Para pedagang yang datang dari dalam dan luar Cirebon ini menjajakan aneka barang dagangan, seperti alat elektronik, buku, mainan, buah-buahan, pakaian, makanan, dan pernak-pernik lain bernuansa NU dan Cirebon. Penawaran jasa, seperti perjalanan Umrah dan Haji juga tampak di pinggir jalan.

 

KOKAM Tegal

Sebuah pasar rakyat juga digelar tak jauh dari lokasi pembukaan Munas, 15-16 September, di Alun-alun Palimanan, Cirebon. Pasar yang diisi dengan bazar, musik, permainan, dan tausyiyah ini di antaranya menawarkan sembako murah.

 

KOKAM Tegal

Salah satu penjual Husni, Jumat (14/9), mengaku agak telat membuka lapak dibanding rekan-rekan lain. Ia datang dari sebuah perguruan tinggi di Babakan, Cirebon. “Saya datang baru hari ini. Yang lain udah kemarin-kemarin,” katanya.

 

Di samping dari sejumlah lembaga pendidikan dan pesantren, pedagang juga berasal dari Pasar Binaan Lembaga Ekonomi Thoriqoh (Lekthor) dan masyarakat umum.

 

Redaktur: Mukafi Niam

Penulis   : Mahbib Khoiron

 

 

 

 

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal News, Daerah KOKAM Tegal

Sabtu, 11 November 2017

LAZISNU Kemukakan Prasyarat NU Jadi Organisasi Mandiri

Jombang, KOKAM Tegal. Direktur Eksekutif Lembaga Amil Zakat dan Shadaqah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) Amir Ma’ruf mengatakan, NU memiliki ketersediaan potensi kader dalam jumlah berlimpah. Saatnya menghimpun potensi yang tersedia untuk kemaslahatan.

Menurut dia, sejak awal pendirian, NU hadir memberi kepada jamiyah dan jamaah yang ada. "Namun dalam perjalanannya, kini semangat itu mulai memudar utamanya saat Orde Baru berkuasa," terangnya pada saat mengisi Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (PKPNU) Jombang Jawa Timur angkatan pertama, Ahad (8/3) malam.

LAZISNU Kemukakan Prasyarat NU Jadi Organisasi Mandiri (Sumber Gambar : Nu Online)
LAZISNU Kemukakan Prasyarat NU Jadi Organisasi Mandiri (Sumber Gambar : Nu Online)

LAZISNU Kemukakan Prasyarat NU Jadi Organisasi Mandiri

Dalam pandangannya, untuk bisa menjadi organisasi sosial keagamaan yang mandiri, tidak ada pilihan lain bagi para pengurus NU di semua tingkatan untuk bisa mengajak dengan memberi contoh. "Kalau hanya memberikan dalil atau himbauan, maka hal itu kurang efektif," ungkapnya.

KOKAM Tegal

Untuk bisa menjadi organisasi yang dipercaya, khususnya dalam hal menghimpun dana umat, ada sejumlah prasyarat yang mesti dipenuhi. "Yang utama adalah momodernisasi pengelolaan zakat dan sedekah," katanya. Dan untuk bisa menjadi pengelola dana yang bisa dipercaya umat, hal mendesak yang mesti dipenuhi adalah membenahi kantor, lanjutnya.

Sejumlah prasyarat sebagai kantor modern ? harus dimiliki. Misalnya dengan memberikan kemudahan dan standar dalam pelayanan. "Seperti standar pelaporan, teknologi hingga standar operasional prosedur atau SOP," tegasnya.

KOKAM Tegal

Hal lain yang harus dipenuhi adalah sumber daya manusia dan struktur kerja. Kelengkapan itu juga diimbangi dengan program yang terukur serta marketing.

Pada acara yang diikuti 48 peserta ini, Amir Maruf bercerita saat awal dipercaya untuk mengelola Lembaga Amil Zakat dan Shadaqah NU. "Dari yang semula pembiayaan operasional disubsidi, akhirnya bisa mandiri saat masuk bulan keempat," kenangnya.

Baginya, pencapaian tersebut sebenarnya bisa dilakukan oleh siapa saja. Karena dalam pandangannya, ada sejumlah kelebihan yang dimiliki oleh NU dan tidak dimiliki oleh organisasi lain.

"NU bisa menyapa jamaahnya secara langsung," terangnya. Ia lalu membandingkan kondisi ormas lain yang baru bisa berkomunikasi dengan warganya hanya lewat siaran televisi, media sosial hingga lembaga pendidikan.

Karenanya kelebihan ini hendaknya dapat dioptimalkan di semua tingkatan NU untuk terus meyakinkan keberadaan dirinya dengan kiprah terbaik. "Prinsipnya kita bisa melakukan apa saja untuk umat," katanya. ? Namun yang terpenting adalah bagaimana intensitas bertemu jamaah atau warga tersebut diiringi dengan pengelolaan organisasi yang juga layak dipercaya, pungkasnya.

Kegiatan pengkaderan ini berlangsung sejak Jumat (5/3) hingga Ahad (8/3). ? Dan Ahad dini hari, kegiatan yang berlangsung di Pondok Pesantren Babussalam Kalibening Mojoagung Jombang ? ini ditutup. Para peserta disamping utusan dari kota setempat, juga ada dari Batu, Kediri, Lamongan serta Bojonegoro. (Syaifullah/Abdullah)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal News KOKAM Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs KOKAM Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik KOKAM Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan KOKAM Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock