Tampilkan postingan dengan label Pesantren. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pesantren. Tampilkan semua postingan

Senin, 26 Februari 2018

Khofifah: Orang Tua Bagian Utama dan Pertama dalam Perlindungan Anak

Jakarta, KOKAM Tegal. Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa mengungkapkan orang tua menjadi bagian utama dan pertama yang harus memberikan perlindungan kepada anak-anak.

Khofifah: Orang Tua Bagian Utama dan Pertama dalam Perlindungan Anak (Sumber Gambar : Nu Online)
Khofifah: Orang Tua Bagian Utama dan Pertama dalam Perlindungan Anak (Sumber Gambar : Nu Online)

Khofifah: Orang Tua Bagian Utama dan Pertama dalam Perlindungan Anak

“Berdasarkan Undang-undang Perlindungan Anak, jika menemukan anak-anak terlantar maka kewajiban masyarakat Indonesia untuk memberikan perlindungan,” kata Khofifah menjawab pertanyaan wartawan di sela-sela Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) di Gedung Konvensi Taman Makam Pahlawan, Kalibata, Jakarta Selatan, Ahad (16/7) siang.

?

Peringatan HAN tahun ini digelar bersamaan dengan Halal Bihalal PP Muslimat NU. Khofifah mengatakan bagi Muslimat NU peringatan HAN sudah berlangsung bertahun-tahun.

KOKAM Tegal

“Muslimat NU punya 15.600 TPQ. Hari Anak Nasional bagi Muslimat sudah tahunan. Biasanya Muslimat NU ? membuat ? Festival Anak Soleh Nasional, tapi itu agenda 3 tahun sekali. Jadi tahun ini tidak ada,” ujarnya.

Walau digelar bersamaan dengan Halal Bihalal, Khofifah mengatakan nuasansa yang ingin dibangun tetap sama.

“Bahwa kita berharap anak-anak di Indonesia bisa bahagia. Lindungi anak-anak Indonesia. Jangan biarkan anak-anak terekpoitasi dan terlantar,” pesan Khofifah.

KOKAM Tegal

Peringatan HAN dan Halal Bi Halal PP Muslimat NU berlangsung meriah, dihadiri ribuan peserta, utamanya ibu-ibu dan anak-anak. Sejumlah tokoh turut hadir seperti Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, Ketua KPAI Asroru Niam Saleh, Kepala BKKBN, dan tokoh pemerhati anak Seto Mulyadi. (Kendi Setiawan/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Meme Islam, Syariah, Pesantren KOKAM Tegal

Minggu, 11 Februari 2018

Masjid NU Dihimbau Tak Sediakan Buku Provokatif

Jakarta, KOKAM Tegal. Sebagai sarana ibadah dan dakwah Islam yang strategis, masjid ternyata tak luput dari incaran buku-buku provokatif yang sarat kebencian antarkelompok agama. Guna mencegah suhu permusuhan yang meningkat, Pengurus Pusat Lembaga Takmir Masjid Nahdlatul Ulama (LTMNU) menghimbau masjid-masjid berbasis Nahdliyin untuk menghindari buku-buku semacam ini.

“Tentu buku-buku itu meresahkan. Sehingga, masjid-masjid NU harus terhindar dari buku-buku provokatif ini,” pinta Ketua Pengurus Pusat LTMNU KH Abdul Manan A Ghani, Selasa (8/5).

Masjid NU Dihimbau Tak Sediakan Buku Provokatif (Sumber Gambar : Nu Online)
Masjid NU Dihimbau Tak Sediakan Buku Provokatif (Sumber Gambar : Nu Online)

Masjid NU Dihimbau Tak Sediakan Buku Provokatif

Manan menyayangkan maraknya sejumlah buku yang isinya mengumbar kesalahan dan kesesatan kelompok tak sepaham. Di akui, jenis buku yang umumnya disebar oleh kelompok haluan keras ini sekarang sudah mulai ikut menyesaki rak buku masjid yang tersedia. Yang ironis, selain provokatif alasan menyesatkan juga diimbuhi dalil-dalil agama.

KOKAM Tegal

Karena itu, PP LTMNU kini proaktif mencanagkan visi masjid sebagai pusat pembangunan umat. Melalui Rapat Pimpinan untuk 33 provinsi di 17 kota, PP LTMNU menyosialisasikan fungsi masjid sebagai tempat yang ramah dan bermanfaat bagi masyarakat.

Usai menyusun buku tentang dalil amaliah NU, baru-baru ini organ NU yang dulu bernama LTMI ini juga rampung menerjemahkan kitab “Risalah Ahlussunnah Wal Jama’ah” karya Hadratus Syaikh KH Muhammad Hasyim Asy’ari. Dalam lawatan ke sejumlah kota di Indonesia, buku ini rencananya akan dibagi ke seluruh pengurus cabang di Indonesia.

KOKAM Tegal

Redaktur : Syaifullah Amin

Penulis ? ? : Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Meme Islam, Pesantren KOKAM Tegal

Kamis, 08 Februari 2018

150 Kader GP Ansor Sukolilo Ikut PKD di Tengah Banjir

Pati, KOKAM Tegal. Di tengah surutnya banjir yang mengepung kecamatan Sukolilo kabupaten Pati, GP Ansor Sukolilo menyelenggarakan Pelatihan Kader Dasar (PKD) guna membekali anggotanya dalam menghadapi tantangan pascabanjir. Sedikitnya 150 kader Ansor-Banser mengikuti pelatihan ini.

150 Kader GP Ansor Sukolilo Ikut PKD di Tengah Banjir (Sumber Gambar : Nu Online)
150 Kader GP Ansor Sukolilo Ikut PKD di Tengah Banjir (Sumber Gambar : Nu Online)

150 Kader GP Ansor Sukolilo Ikut PKD di Tengah Banjir

Pelatihan ini dibuka langsung Ketua PC GP Ansor Pati Ahmad Sholhan. Ia mewajibkan seluruh anggotanya untuk terus bergerak dan bahu-membahu membantu korban pascabanjir. Selain materi-materi PKD, peserta pelatihan dibekali dengan materi pemulihan warga pascabanjir.

PKD berlangsung di pesantren Maslakul Ridwan, Sukolilo, Sabtu-Ahad (8-9/2). Pelatihan dimaksud untuk menciptakan kader berkualitas.

KOKAM Tegal

“Kualitas artinya kader yang mandiri, peduli terhadap sekitar dan lingkungan, loyal terhadap organisasi, dan meneruskan perjuangan ulama yang senantiasa menjaga keutuhan NKRI,” terang Ketua PAC GP Ansor Sukolilo Ahmad Darmaji. (M Sultan Agung/Alhafiz K)

KOKAM Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Pesantren KOKAM Tegal

Selasa, 06 Februari 2018

Tragedi Crane: Sebuah Kesaksian dari Misfalah

Banyak gambar dan postingan di media sosial seputar kejadian runtuhnya alat berat (crane) yang tengah mengerjakan perluasan Masjidil Haram. Musibah yang terjadi Jumat (11/9) jelang Maghrib tersebut akhirnya merenggut 11 nyawa jamaah dari Indonesia. Puluhan korban luka tengah dirawat di rumah sakit setempat.

Bagaimana suasana sebelum dan sesudah kejadian? Berikut catatan dari H Nur Hidayat, salah seorang Tim Pembimbing Ibadah Haji Indonesia atau TPIHI yang juga Wakil Sekretaris PWNU Jatim. Ia melaporkan ? dari penginapan atau maktab jamaah haji di kawasan Misfalah.

Tragedi Crane: Sebuah Kesaksian dari Misfalah (Sumber Gambar : Nu Online)
Tragedi Crane: Sebuah Kesaksian dari Misfalah (Sumber Gambar : Nu Online)

Tragedi Crane: Sebuah Kesaksian dari Misfalah

Senin (7/9) dinihari, calon jamaah haji Kloter SUB 14 memasuki Kota Suci Makkah. Kelompok penerbangan atau kloter yang terdiri dari 450 orang jamaah dari Kabupaten Jombang ini menempati pemondokan Nomor 902, di sektor IX. Tepatnya di Hotel Jauharot Adham, yang berjarak sekitar 1.125 meter dari Masjidil Haram. Di hotel ini, jamaah kloter SUB 14 tinggal bersama dengan kloter SUB 05 SUB, JKS 25 dan sebagian jamaah kloter BTH 17.

KOKAM Tegal

Melalui "jalur tikus", jamaah yang menghuni Hotel Jauharot Adham dapat memperpendek jarak tempuh ke Masjidil Haram menjadi sekitar 750 meter. Karena itu, hampir semua jamaah yang masih berusia di bawah 60 tahun dan kondisinya sedang fit selalu berusaha melaksanakan shalat fardlu di Masjidil Haram. Adapun jamaah yang lansia dan kurang sehat, biasa melaksanakan di mushalla berkapasitas sekitar 500 di hotel setempat.

Usai melaksanakan umrah wajib pada Senin dinihari hingga pagi, sebagian jamaah kloter SUB 14 pun mulai mencuci kain ihram dan pakaian yang sudah kotor. Selasa pagi adalah "hari mencuci berjamaah", usai menghilangkan kepenatan akibat perjalanan Madinah-Makkah yang memakan waktu hingga hampir 12 jam dan menunaikan umrah wajib.

Menerima pertanda

KOKAM Tegal

Keesokan harinya, Selasa (8/9) sore, sekitar pukul 17:10 WAS, Nanik Kusyani (37), seorang jamaah kloter SUB 14, mengirimkan pemberitahuan melalui grup WhatsApp Ketua Regu dan Rombongan, agar jamaah yang memiliki jemuran segera mengambil jemurannya. "Angin sore ini sangat kencang, hingga banyak pakaian jamaah yang beterbangan dan terjatuh dari tempat jemuran," pesannya.

Sebagian jamaah di pemondokan 902 sempat agak kalut sore itu. Sebab, beberapa orang mengatakan ada badai pasir yang sedang berlangsung dan meminta jamaah untuk turun ke lobi hotel. Tapi, angin kencang Selasa sore itu sebenarnya tidak seberapa terasa dibandingkan apa yang terjadi pada Jumat (11/9) petang, yang berujung petaka jatuhnya (atau lebih tepatnya: terjungkal) mobile crane di proyek perluasan Masjidil Haram.

Karena itu, ketika Kamis (10/9) malam ada teman karib yang bekerja di sebuah perusahaan telekomunikasi di Jakarta menanyakan kabar dan berusaha mengonfirmasi kebenaran video badai pasir Jeddah yang beredar di media sosial, saya hanya menjawab santai. Pasalnya, saya kebetulan menyanggong jamaah yang kembali dari Masjidil Haram untuk melaksanakan Shalat Maghrib dan Isya di lobi hotel. Setiap saya tanya, rata-rata jamaah menjawab santai dan tidak ada kondisi yang mengejutkan. "Mboten wonten nopo-nopo, cuma radi gerimis kolowau (Tidak ada apa-apa. Cuma memang tadi agak gerimis)," kata M Syaikhu Amirulloh (43), salah seorang jamaah yang baru pulang dari Masjidil Haram.

Kepada teman karib tersebut, saya menjawab, "Sejak akhir Agustus, memang beberapa kali ada badai gurun." Ya, maskapai Saudia Airlines juga sempat menunda beberapa jam penerbangan haji karena badai pasir, termasuk keberangkatan kloter SUB 13 yang berisi jamaah dari Kabupaten Jember. Tapi, sepertinya itu sesuatu yang biasa di sini. Buktinya, di video badai pasir Jeddah yang beredar, kendaraan penumpang yang merekam badai pasir tersebut tetap melaju dengan santai sambil menyalakan lampu hazard. "Mungkin hal itu menjadi sesuatu bagi orang Indonesia," jawab saya dalam pesan WA pada Kamis (10/9) pukul 19.46 WAS.

Tapi, semuanya berubah pada Jumat (11/9) petang itu. Saya tidak bisa lagi menyembunyikan kegelisahan ketika menyaksikan badai pasir disusul hujan yang datang secara tiba-tiba, sekitar pukul 17:15 WAS. Saat itu, calon jamaah haji di pemondokan 902 sedang bersiap melaksanakan Shalat Maghrib di Masjidil Haram.

Awalnya, saya berencana mengajak Mbah Karnadi (75), seorang jamaah lansia berangkat ke Masjidil Haram bersama-sama. Ketika akan mengambil sajadah, saya melihat gumpalan pasir yang terbawa angin dari jendela kamar di lantai 7. Menyadari potensi bahaya yang muncul, pukul 17:24 saya segera mengirimkan pesan singkat ke grup Ketua Regu dan Rombongan Kloter SUB 14, "Alert!!! Hujan Badai... Mohon tidak usah ke Masjidil Haram!".

Setelah itu, saya segera menuju lobi hotel untuk memastikan tidak ada jamaah yang memaksakan diri berangkat ke Masjidil Haram. Selebihnya, saya berusaha merekam momen langka tersebut dengan kamera video telepon seluler. Hujan deras disertai angin kencang yang berlangsung sekitar 30 menitan itu, merupakan peristiwa yang jarang terjadi di Makkah.

Abdurrahman (51), petugas kebersihan hotel asal Bangladesh yang sudah lima tahun bekerja di Makkah juga sibuk merekam momen langka itu dengan kamera video di telepon selulernya. Ketika saya tanya apakah hujan seperti ini sering terjadi, ia menjawab hal itu jarang terjadi. Dahsyatnya hujan dan angin yang menerpa, sampai harus membuat petugas hotel mematikan sensor pintu otomatis yang menjadi akses keluar masuk jamaah.

Tidak berselang lama, Faisol Adib (34) warga Sidokerto, Kecamatan Mojowarno, Kabupaten Jombang, yang baru turun ke lobi hotel bercerita, menyaksikan sebuah crane yang patah dan terjungkal karena terpaan angin. Faisol dan istrinya, Aisyah Muniroh (27), yang tinggal di lantai 11, menduga yang patah dan terjungkal itu adalah crane proyek pembangunan di sekitar Masjidil Haram.

Usai Shalat Maghrib berjamaah di mushalla hotel, saya segera menemui beberapa jamaah untuk menghimbau agar mereka tidak berangkat ke Masjidil Haram, hingga cuaca stabil. Tetapi, saya tidak menduga bahwa cerita Faisol tentang crane patah dan terjungkal itu terjadi di sekitar mathaf (area thawaf) dan memakan puluhan korban jiwa. Saat memasuki kamar, Susanto Slamet (31), salah satu anggota Tim Kesehatan Haji Indonesia (TKHI), menunjukkan tiga foto yang diterimanya dari anggota TKHI yang sedang berada di Masjidil Haram. Saat itu, saya baru menyadari bahwa suara sirine yang bergema di sekitar maktab kami sejak hujan mereda ternyata sedang mengevakuasi jamaah yang meninggal dan terluka.

Sontak, saya segera menyalakan televisi, untuk menyaksikan berita di saluran televisi Al-Arabiya. Sekitar pukul 20.00 WAS, Al-Arabiya melaporkan data 62 jamaah yang meninggal dan lebih dari 100 orang terluka akibat tertimpa crane proyek perluasan Masjidil Haram tersebut. Saya pun segera menemui salah satu pimpinan Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) yang sudah mengagendakan untuk umrah sunnah malam itu.

Fatimatuz Zahro (51), pimpinan KBIH Al-Kautsar yang mengagendakan umrah sunnah untuk sekitar 324 orang jamaah malam itu, menjawab santai ketika saya minta menunda kegiatannya. Fatimah berada di Mushalla Nisa (tempat shalat khusus perempuan, berlokasi di sekitar pintu 84 Masjidil Haram) saat kejadian berlangsung menjelang Maghrib. Dia bercerita melihat beberapa petugas mengevakuasi jamaah yang berlumuran darah melalui kawasan Mushalla Nisa.

Ketika saya tanya apakah bisa agenda umrah sunnahnya ditunda, dia bilang akan jalan terus. "Tidak ada apa-apa kok. Tadi sudah selesai evakuasinya," tutur anggota DPRD Kabupaten Jombang ini. Tapi, muka Fatimah mendadak merah padam ketika saya tunjukkan gambar situasi di area mathaf yang tertimpa crane. Dia pun buru-buru menelepon muthawif untuk membatalkan sewa bis dan menunda pada hari lain.

Fatimah juga sempat menyatakan keheranannya karena imam hanya membaca dua ayat pendek dalam Shalat Maghrib saat itu. Hanya saja, saat itu dia benar-benar tidak tahu apa yang sedang terjadi. "Kalau tahu ada musibah itu, mungkin saya akan lari ke mathaf untuk menyaksikan secara langsung. Tapi karena tidak tahu, saya hanya memastikan suami saya aman karena berada di hotel," imbuh perempuan kelahiran Pasuruan ini.

Cerita berbeda diungkap oleh Abdurrahman (37). Pengusaha muda asal Jember yang kini tinggal di Bandung itu sedang melakukan thawaf di lantai 2, saat hujan mulai turun. Bersama ibu dan istrinya, Abdurrahman yang menginap di Hotel Hilton sore itu sedang melaksanakan thawaf sunnah. "Kami sedang memasuki putaran kelima saat badai pasir menerpa. Banyak botol air mineral, plastik dan pasir yang beterbangan di udara," tuturnya.

"Pas putaran ketujuh, hujan mulai turun. Banyak orang di lantai 2 dan lantai 3 mathaf yang panik, karena hujannya masya Allah (dahsyat). Langit juga penuh pasir dan angin kencang," imbuhnya.

Karena mengkhawatirkan keselamatan, Abdurrahman segera mengajak ibu dan istrinya berteduh di Masa (tempat Sai). Sempat berjalan perlahan, karena lantai sudah banjir dan licin. Dalam ingatan Abdurrahman, crane jatuh sekitar 17.32 WAS. "Saat itu, evakuasi jenazah sudah dimulai," kisahnya.

Dari siaran langsung televisi Masjidil Haram, tampak bahwa mathaf lantai 2 dan lantai 3 sempat ditutup hingga Sabtu sore. Tapi, aktivitas jamaah lainnya sudah mulai normal saat Shalat Subuh. Hanya sebagian area jatuhnya crane yang ditutup aksesnya untuk jamaah. Sabtu jelang Subuh, saya akhirnya memenuhi janji mengantar Mbah Karnadi ke Masjidil Haram.?

(Ibnu Nawawi/Fathoni)

Keterangan gambar: Suasana mathaf lantai dua Masjidil Haram usai musibah jatuhnya crane.

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Pesantren KOKAM Tegal

Ketika Mendes Jajal Jembatan Reot di Pandeglang

Pandeglang, KOKAM Tegal. Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Mendes PDTT), Eko Sandjojo mengungkapkan kegelisahannya saat meninjau kondisi infrastruktur di Desa Kadubera Kecamatan Picung Kabupaten Pandeglang, Senin (12/9). Ia melintasi jalan tanah berlubang bahkan jembatan reot dari bambu tua di salah satu aliran sungai desa. Di sanalah, anak sekolah dan petani beraktifitas setiap harinya.

"Tadi waktu jalan ke sini memang saya merasakan banyak goyang-goyang. Tapi mudah-mudahan dengan dana desa, perlahan jalan-jalan di desa ini bisa segera diperbaiki," ujarnya bersama warga.

Ketika Mendes Jajal Jembatan Reot di Pandeglang (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketika Mendes Jajal Jembatan Reot di Pandeglang (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketika Mendes Jajal Jembatan Reot di Pandeglang

Desa Kadubera adalah salah satu dari 75 desa tertinggal di kabupaten Pandeglang. Tahun ini, Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi memberikan bantuan berupa 2 unit jembatan penghubung antar desa. Dengan jembatan tersebut, diharapkan dapat mempermudah masyarakat setempat untuk beraktivitas.

"Kementerian-kementerian lain nanti juga bisa bantu sesuai tupoksinya. Kalau dana desa awalnya dipakai untuk infrastruktur desa, selain itu diselingkan juga untuk pengembangan ekonomi misalnya lewat BUMDes," ujarnya usai menyerahkan hewan kurban.

Selain itu, Menteri Eko juga mengatakan pentingnya peran kepolisian dan TNI dalam mensukseskan pembangunan desa. "Kalau desa tidak aman, pembangunan di desa tidak akan bisa berjalan dengan baik," ujarnya.

KOKAM Tegal

Terkait hal tersebut, Bupati Pandeglang, Irna Narulita mengatakan, dari 326 desa di pandeglang 75 desa di antaranya masih kategori tertinggal. Ia berharap, Kemendes PDTT dapat membantu daerahnya agar terlepas dari kategori tertinggal.

"Saya berterimakasih sekali kepada pak Eko (Mendes PDTT) yang di sela-sela hari raya idul adha masih menyempatkan diri untuk berkunjung di desa-desa kami," ujarnya.

Irna mengakui, kabupaten yang ia pimpin saat ini telah banyak mendapatkan dorongan dari pemerintah pusat untuk menjadi daerah maju. Bantuan 2 jembatan penghubung yang diberikan Kementerian desa misalnya, diyakini berpengaruh pada aktifitas ekonomi petani.?

KOKAM Tegal

"Untuk dua jembatan ini bantuan yang diberikan Kementerian Desa hampir Rp1 Miliar. Satu untuk menghubungkan desa Sukalangu dan Kadubera, juga untuk menghubungkan antar kecamatan," ujarnya. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Pesantren KOKAM Tegal

Rabu, 24 Januari 2018

Selain Pelayanan Kesehatan, RSNU Jombang Dorong Upaya Pengabdian

Jombang, KOKAM Tegal

Rumah Sakit Nahdaltul Ulama (RSNU) Kabupaten Jombang, Jawa Timur gelar training motivasi untuk para karyawannya, Selasa (22/3) pagi hingga siang di aula KH Abdurrahman Wahid lantai 2 RSNU setempat.

Selain Pelayanan Kesehatan, RSNU Jombang Dorong Upaya Pengabdian (Sumber Gambar : Nu Online)
Selain Pelayanan Kesehatan, RSNU Jombang Dorong Upaya Pengabdian (Sumber Gambar : Nu Online)

Selain Pelayanan Kesehatan, RSNU Jombang Dorong Upaya Pengabdian

Dalam training ini, para karyawan diajak untuk berpikir ulang tentang hakikat bekerja serta menilai terhadap kinerja dari masing-masing petugas RSNU, mulai pelayanan kesahatan bagi pasien, pengawasan pihak atasan dan juga tugas keamanan bagi satpam RSNU ini.?

Perihal tersebut bertujuan untuk memberikan motivasi yang kuat dalam menjalankan tugas sebagai karyawan di lembaga kesehatan milik NU. Sebab sebagian kecil terdapat perbedaan yang menonjol terkait pola kerja karyawan dibandingkan dengan sejumlah lembaga kesehatan pada umumnya, yaitu aspek kinerja yang harus disertai dengan nilai pngabdian dan dakwah.

“Manusia punya tiga segmen. Yang pertama pikiran, kemudian perasaan dan yang terahir adalah raga. Maka yang pertama pikiran mereka, kita ajak berpikir ulang tentang hakikat bekerja itu apa? orang ketika bekerja niat betul-betul untuk ibadah, maka apapun yang dikerjakan pasti senang, dan ketika senang akan memberikan yang terbaik.,” kata Askan Setiabudi, narasumber training.

KOKAM Tegal

Kemudian yang kedua, lanjut dia setelah diajak untuk berpikir ulang, maka hatinya harus diisi dengan nilai-nilai keagamaan. “Manusia tidak hanya ingin merasakan kepuasan di dunia saja, tapi juga akan hidup di akhirat. Keseimbangan aktivitas untuk urusan dunia dan akhirat harus seimbang,” tuturnya.

Menurutnya, RSNU bukan semata-mata media untuk memperoleh keuntungan profit, namun yang lebih utama adalah memberikan pelayanan-pelayanan terbaik untuk pasien dengan niat ikhlas dan ibadah.?

“Kalau semata-mata karena uang maka kerjanya sangat beda, dibandingkan kerja yang didasarkan karena ibadah, semangatnya juga pasti beda. Apalagi rumah sait ini adalah rumah sakit NU yang lebih mementingkan nilai kemanusiaan dan sosial,” ujarnya.

Pada puncak kegiatan, Ketua lembaga “tips Indonesi” asal Kabupaten Malang, Jawa Timur ini mengevaluasi beberapa tugas setiap karyawan yang belum bisa dilaksanakan dengan menuliskan di kertas yang disediakan. Kemudian mencari solusi yang dihasilkan dari semua peserta training dengan saling tukar pendapat. (Syamsul Arifin/Fathoni)

KOKAM Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Hikmah, Pesantren KOKAM Tegal

Minggu, 21 Januari 2018

Banser Temanggung Turut Tangan di Lokasi Tanah Longsor

Temanggung, KOKAM Tegal - Di saat sebagian masyarakat beramai-ramai menyaksikan fenomena langka gerhana matahari, puluhan anggota Barisan Ansor Serba Guna (Banser) Temanggung berpartisipasi menangani bencana tanah longsor yang melanda beberapa tempat di Desa Tegalsari, Kecamatan Tretep, Kabupaten Temanggung. Mereka membantu evakuasi bencana tanah longsor yang mengakibatkan terhambatnya jalur utama yang menghubungkan Kecamatan Wonoboyo dan Kecamatan Tretep.

Nihilnya angkutan desa yang beroprasi pada Rabu itu bukan semata lantaran bertepatan dengan hari libur nasional atau adanya momentum terjadi gerhana matahari, tetapi lebih karena jalur tersebut belum bisa dilewati baik oleh kendaraan roda empat atau roda dua.

Banser Temanggung Turut Tangan di Lokasi Tanah Longsor (Sumber Gambar : Nu Online)
Banser Temanggung Turut Tangan di Lokasi Tanah Longsor (Sumber Gambar : Nu Online)

Banser Temanggung Turut Tangan di Lokasi Tanah Longsor

Hujan lebat mengguyur kawasan Kecamatan Wonoboyo dan Tretep pada Selasa (8/3) sore. Derasnya hujan disertai pula longsor tanah di tiga titik daerah Tretep yang menghalangi jalan raya.

Menurut Koordinator tim SAR Tretep Yanto, pihaknya merasa sangat terbantu dengan keterlibatan Banser Temanggung dan beberapa elemen lain yang turut menangani tanah longsor di kecamatan Tretep, khususnya yang sempat menimpa jalan raya.

KOKAM Tegal

KOKAM Tegal

"Kami mulai menangani longsor ini sejak pagi tadi, berhubung kemarin sore belum memungkinkan untuk turun ke lokasi. Berkat kerja sama dan gotong royong dengan masyarakat daerah dan Banser serta elemen relawan lain, setelah bahu-membahu mengangkat tanah, Alhamdulilah diperkirakan nanti sore jalur ini bisa kembali normal dan sudah bisa dilewati kendaraan," kata Yanto kepada KOKAM Tegal, Rabu (9/3).

Salah satu anggota Banser Temanggung yang sempat kami temui pada siang itu menyatakan bahwa aksi sosial turun lapangan semacam ini bukan kali ini saja. Setiap terjadi bencana seperti tanah longsor, Banser Temanggung sudah kerap ikut terjun menanganinya.

Berdasarkan pantauan KOKAM Tegal, akibat tanah lonsor yang menghambat jalan utama kecamatan Tretep ini banyak pedagang yang memilih pulang kembali ketimbang harus melalui jalur alternatif yang jaraknya beberapa kali lipat lebih jauh dari jalan raya yang biasa mereka lewati menuju tempat berdagangnya. Angkutan desa yang biasanya ramai, juga tak tampak pada Rabu itu. (M Haromain/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Pesantren, Kajian Sunnah KOKAM Tegal

Kamis, 11 Januari 2018

Gus Ghofur: Santri Berkarakter Tetap Baik saat Jadi Politisi atau Birokrat

Brebes, KOKAM Tegal - Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al-Anwar Sarang Rembang, KH Abdul Ghofur Maimun Zubair menegaskan, pesantren yang sarat dengan pendidikan karakter mencetak santri berkarakter. Tetapi, banyak yang luntur ketika masuk ke dunia politik maupun birokrat. Kelunturan itu menunjukan kalau santri tersebut belum matang, alias tidak menyerap karakteristik pesantren atau berkarakter jelek.

“Santri yang baik, ketika jadi politisi maupun birokrasi memegang teguh karakter santri,” ujar Gus Ghofur saat memaparkan makalahnya pada halaqah alim ulama Jateng di Pesantren Al-Ishlah Assalafiyah 2 Luwungragi, Bulakamba, Brebes, Jumat (13/10) sore.

Gus Ghofur: Santri Berkarakter Tetap Baik saat Jadi Politisi atau Birokrat (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Ghofur: Santri Berkarakter Tetap Baik saat Jadi Politisi atau Birokrat (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Ghofur: Santri Berkarakter Tetap Baik saat Jadi Politisi atau Birokrat

Karakter yang baik juga ditunjukan dengan kedisiplinan yang tinggi, yang dibedakan antara disiplin internal dan disiplin eksternal.

KOKAM Tegal

Disiplin internal, terdorong dari dalam diri manusia itu sendiri karena hasil pendidikan yang penuh kasih sayang dan itu diterapkan di berbagai pondok pesantren salaf. Tetapi disiplin eksternal tercipta karena ancaman dan hukuman.

Ancaman dan hukuman cepat merubah seseorang menjadi disiplin tapi semu, karena dalam waktu yang singkat akan luntur bahkan hilang kedisiplinan tersebut. Tetapi kalau disiplin internal terbangun cukup lama, berbulan bulan bahkan bertahun-tahun tetapi akan bertahan lama dan membekas sehingga benar-benar terpatri ke dalam dada.

KOKAM Tegal

Menjadi bupati yang berkarakter akan berlanjut hingga periode berikutnya bahkan bisa meningkat menjadi gubernur bahkan meningkat menjadi presiden. “Jatuhnya peradaban, karena jatuhnya karakter dan karakter berada pada titik-titik pemegang kekuasaan maupun rakyatnya,” ujarnya.

Isilah dunia politik dan birokrasi dengan orang-orang baik ke dalam struktur dan itu dimiliki para santri. “Karakter santri tidak hanya untuk santri itu sendiri, tetapi juga untuk bangsa dan Negara. Jadi sah-sah saja, ketika santri berada di panggung politik maupun birokrasi,” tandasnya.

Mantan Menteri ESDM Sudirman Said yang juga mengisi halaqah menyatakan kekagumannya dengan pesantren termasuk pengelolanya. Sudirman melihat ada kekuatan berkhidmat dalam mengelola pesantren yang pantang menyerah. Dia kagum dengan beraneka ragam pesantren di Indonesia yang hanya memiliki puluhan santri hingga ribuan santri tetapi tetap berjalan. Bahkan ada juga yang hanya memiliki beberapa meter petak sawah dan bilik juga berjalan.

Namun dari balik kesederhanaan para santri, ketika berada di panggung sangat piawai dalam menjalankan roda politik maupun birokrasi. “Santri memang berkarakter,” tandasnya.

Ketua Panitia Halaqah Ulama Jateng KH Maufur Idrus menjelaskan, halaqah digelar dalam rangkaian hari santri nasional. Diikuti perwakilan ulama dari 35 Kabupaten dan Kota Se Jateng. Halaqoh mengusung tema Peran Pesantren dalam Penguatan Pendidikan Karakter Bangsa. (Wasdiun/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Pesantren, Kajian Islam KOKAM Tegal

Selasa, 02 Januari 2018

Seruan Moral PBNU Menyikapi Aksi 4 November

Pesan Moral

Berpecah adalah Musuh Utama Ukhuwah: Jaga Ukhuwah untuk Indonesia yang Aman dan Damai

Seruan Moral PBNU Menyikapi Aksi 4 November (Sumber Gambar : Nu Online)
Seruan Moral PBNU Menyikapi Aksi 4 November (Sumber Gambar : Nu Online)

Seruan Moral PBNU Menyikapi Aksi 4 November

Bismillahirrohmanirrohim?

Alhamdulillahirobbilalamin, puji syukur kepada Allah SWT, Indonesia terus berkembang menjadi sebuah negara yang hidup berdasarkan kepada nilai-nilai luhur bangsa dimana masyarakatnya dapat hidup aman-tenteram saling menghormati, dan rukun berdampingan secara harmonis antara satu dengan yang lainnya.

Hari ini, Indonesia dikenal publik Internasional sebagai negara yang patut dijadikan percontohan dan teladan, terutama dalam menjadikan faktor kebhinnekaan (keanekaragaman) justru sebagai kekuatan. Bhinneka Tunggal Ika. Indonesia telah berhasil meletakkan hubungan agama dengan negara secara ideal.

KOKAM Tegal

Agama tidak lagi dipertentangkan dengan negara. Nilai agama melebur dengan budaya lokal yang baik, melahirkan spirit wathoniyah (nasionalisme yang tumbuh subur dengan berkembangnya nilai keagamaan). Sebagaimana yang disampaikan Hadlratussyaikh KH M. Hasyim Asyari, pendiri Jamiyyah Nahdlatul Ulama yakni:

? ? ? ?

KOKAM Tegal

"Cinta tanah air adalah bagian dari Iman"

Tidak begitu halnya yang terjadi di beberapa negara, terutama di negara-negara Teluk ataupun di negara-negara sekuler.

Hari ini negara-negara teluk seperti Irak, Pakistan, Afghanistan, Suriah, Yaman dan lainnya, memasuki suatu babakan baru yang disebut sebagai "failed-state", negara gagal, diakibatkan keliru menerapkan hubungan agama dan negara, sehingga keduanya dipertentangkan satu sama lain yang akibatnya menimbulkan kekacaubalauan.

Ratusan ribu bahkan jutaan manusia menjadi korban atas peperangan yang timbul akibat kesalahpahaman. Sementara di negara-negara sekuler yang hanya mengedepankan rasionalitas tanpa agama justru melahirkan titik balik suatu peradaban yang tidak lagi "memanusiakan manusia".

Dewasa ini, kita tengah menghadapi suatu diskursus publik yang luas, terutama dalam penyikapan masyarakat atas pernyataan Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama di Kepulauan Seribu, yang menimbulkan kontroversi di hampir seluruh kalangan. Bahkan sebagian kalangan mengatasnamakan "Aksi Bela Islam II" akan menggelar aksi besar tanggal 4 November mendatang.

Mencermati eskalasi dan perkembangan keadaan terkini, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), bersama ini menegaskan:

1. ? Mari jaga persatuan dan kesatuan bangsa. Pererat tali silaturahim antar komponen masyarakat. Berpecah adalah musuh utama dari ukhuwah. Ukhuwah adalah modal utama kita di dalam membangun suatu tatanan masyarakat yang aman, damai, adil, dan makmur. Jaga Ukhuwah Wathoniyah? (persaudaraan setanah air) dan Ukhuwah Basyariyah (persaudaraan sesama manusia), agar Indonesia terbebas dari ancaman perpecahan.

? ? ? ? ?

? “Berpegang teguhlah kalian semua pada tali Allah, dan jangan berpecah-belah (QS: Ali-Imran, 103)”

2. ? Kepada seluruh pengurus NU dan warga NU untuk secara pro-aktif turut menenangkan situasi, menjaga agar suasana yang aman dan damai tetap terpelihara dan tidak ikut-ikutan memperkeruh suasana dengan provokasi dan hasutan. PBNU melarang penggunaan simbol-simbol NU untuk tujuan-tujuan di luar kepentingan sebagaimana menjadi keputusan jamiyyah NU.

3. ? Mengimbau kepada aparat kepolisian untuk segera melakukan tindakan dan langkah sesuai dengan prosedur hukum dan perundangan yang berlaku, agar dapat memenuhi rasa keadilan masyarakat dengan tanpa mengabaikan asas praduga tak bersalah. Upaya ini harus dilakukan guna menghindarkan terjadinya yang cenderung menimbulkan kegaduhan dan anarki.

4. ? Kepada para pihak yang hendak menyalurkan aspirasi dengan berunjuk rasa, PBNU mengimbau agar tetap menjaga akhlakul karimah dengan tetap menjaga ketertiban, menjaga kenyamanan lalu lintas dan dapat menjaga keamanan masyarakat demi keutuhan NKRI.

5. ? Mari tengadahkan tangan mohon petunjuk dan berdoa semoga Indonesia selalu diberi kesejukan dan kedamaian dalam perlindungan, penjagaan dan pertolongan dari Allah SWT.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ?

Jakarta, 28 Oktober 2016/27 Muharram 1438

? ? ? ? ?

? ? ? ? ?

DR KH Ma’ruf Amin

Rais Aam PBNU

?

KH Yahya C. Staquf

Katib Aam PBNU


Prof Dr KH Said Aqil Siroj, MA

Ketua Umum PBNU


DR HA. Helmy Faishal Zaini

Sekretaris Jenderal PBNU









(Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Internasional, Nusantara, Pesantren KOKAM Tegal

Senin, 01 Januari 2018

Pesantren dan ‘Lubang Hitam’ Pendidikan Nasional

Oleh Ulfatur Rahmah



Ketika menulis untuk pertama kalinya tentang pesantren, sekitar 50 tahun lalu, antropolog kondang Clifford Geertz mengutarakan rasa pesimismenya terhadap daya tahan pesantren dalam menghadapi gempuran modernitas. Bagi Geertz, pesantren akan mengalami crash dengan modernitas.

Sekarang, kita dapat melihat, prediksi Geertz terbukti salah. Lukens-Bull dalam Teaching Morality: Javanese Islamic Education in a Globalizing Era (2000) menunjukkan secara jujur kepada kita bagaimana daya tahan pesantren dalam menghadapi modernitas. Menurutnya, pesantren mampu bertahan bahkan beriringan dengan modernitas tanpa harus menggadaikan prinsip-prinsip fundamental yang selama ini tertanam kuat di dalamnya.

Pesantren dan ‘Lubang Hitam’ Pendidikan Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren dan ‘Lubang Hitam’ Pendidikan Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren dan ‘Lubang Hitam’ Pendidikan Nasional

Pesantren, tulis Lukens-Bull, kini mampu menjelma sebagai kontrol tak terduga terhadap sisi negatif modernitas dengan tetap mengarusutamakan pendidikan moral kepada setiap santri yang belajar di sana. Di pesantren, globalisasi hanya berpengaruh pada tataran sistem dan struktur, tidak sampai pada nilai dan kultur.



KOKAM Tegal

Lubang Hitam

Di lain pihak, lembaga pendidikan nonpesantren seperti keteteran membendung arus modernitas yang eksesnya terlalu cepat memengaruhi moralitas anak didik mereka. Salah satu bukti konkretnya adalah di pesantren tidak pernah terjadi tawuran antarsiswa atau antarsantri. Tawuran hanya terjadi di lembaga-lembaga pendidikan nonpesantren.

Dalam hemat penulis, pendidikan nasional hari ini sedang mengarah ke “lubang hitam” amoralitas. Terlampau banyak kejadian-kejadian di dunia pendidikan yang sama sekali tidak mencerminkan tindakan kaum terdidik. Pembunuhan yang dilakukan oleh mahasiswa UMSU terhadap dosennya beberapa waktu lalu, misalnya, adalah tamsil kecil betapa nilai-nilai moral telah merosot jauh ke tangga terendahnya.?

Belum lagi soal pemerkosaan, pemerasan, perundungan (bullying), pelecehan seksual, dan kekerasan yang semakin sulit dikendalikan di dunia pendidikan. Pemandangan itu sering kita saksikan di layar kaca televisi, dan banyak praktisi pendidikan kebingungan untuk mendatangkan solusi.

KOKAM Tegal

Tindakan-tindakah amoral yang terjadi di lingkungan pendidikan memberi indikasi kuat bahwa di satu sisi modernitas memiliki dampak yang besar terhadap pendidikan, dan di sisi lain pendidikan nasional belum sepenuhnya sanggup memberikan kesadaran etis terhadap anak-anak didik mereka. ? ?

Di luar sana, sopan santun dan perilaku jujur sudah nyaris menjadi makhluk langka. Hilangnya kejujuran dan sopan santun dalam dunia pendidikan adalah pukulan keras terhadap nilai-nilai fundamental pendidikan sebagaimana diamanatkan UUD 1945.?

Kembali ke Pesantren

Pada 2 November 1928, Ki Hadjar Dewantara menulis dalam Wasita. Tulisan yang berjudul Faedahnya Sistem Pondok? itu menegaskan bahwa “sistim pondok dan asrama itulah sistim nasional”. Ia melanjutkan, “Sudah teranglah di sini anak akan terdidik dengan sempurna, tidak menurut buku-buku pedagogik, tetapi menurut pedagogik yang hidup, yaitu menurut cara hidup yang nyata dan baik. Anak-anak sehari-harinya terus merasa anak rakyat, terus insyaf akan kemanusiaan, karena senantiasa hidup dalam dunia kemanusiaan…”

Ki Hajar Dewantara sendiri menyadari peran vital pondok dalam menumbuhkembangkan pribadi-pribadi terdidik. Dan memang benar, sepanjang sejarahnya, pesantren mempunyai peran penting dalam menginternalisasi nilai-nilai keislaman dan keindonesiaan.?

Namun, tantangan pesantren hari ini bukan semata soal ekses modernitas yang datang “dari luar”, melainkan juga pertumbuhan ideologi-ideologi radikal yang tumbuh “dari dalam”. Angela Rabasa dalam Islamic Education in Southeast Asia (2007), mencacat bahwa kelompok-kelompok radikal yang muncul di Indonesia banyak yang berasal dari pesantren.

Tetapi Rabasa memberi cacatan tambahan bahwa pesantren yang melahirkan teroris dapat dibedakan secara mencolok dari pesantren tradisional yang biasanya tumbuh subur di lingkungan orang-orang NU. Pesantren yang menjadi basis kelompok radikal biasanya sangat tertutup, antibid’ah dan antipemerintah. Pesantren Al-Mukmin, Ngruki, Solo, merupakan contoh yang disebut Rabasa dalam penelitiannya.

Mengingat tantangan pesantren hari ini datang dari dua arah (dari luar dan dari dalam), maka pesantren dituntut untuk lebih peka lagi, tidak saja terhadap aspek kemerosotan moral di kalangan anak-anak muda, tetapi juga harus lebih cerdik dalam melakukan perlawanan terhadap pembelokan pesantren menjadi basis kelompok radikal.?

Sampai hari ini, pesantren memiliki kedudukan esensial dalam menginternalisasikan nilai-nilai keislaman dan keindonesiaan dalam kehidupan sehari-hari. Maka, warisan kultural yang dibangun pesantren sangat cocok sebagai pemecah masalah terhadap dekadensi moral yang santer menggerogoti anak-anak muda.

Terlepas dari itu, menurut hemat penulis, perlu inovasi strategi pembelajaran di pesantren agar anak-anak muda yang hidup di lingkungan kota juga tertarik untuk menimba ilmu di pesantren, karena selama ini pesantren kebanyakan diisi oleh anak-anak yang tinggal di pedesaan.

Gerakan Nasional Ayo Mondok yang dikampanyekan Rabithah al-Ma’ahid al-Islamiyyah Nahdlatul Ulama (RMI-NU), dalam hemat penulis, sudah berada di jalur yang benar. Gerakan ini perlu diapresiasi dan didukung. Gerakan Ayo Mondok sesungguhnya adalah upaya mengajak anak-anak bangsa “kembali ke pesantren”.?

Sebab pesantren—sebagaimana disebut Ki Hajar Dewantara—sangat efektif untuk menjadikan anak-anak didik “insyaf akan kemanusiaan”, sehingga ini menjadi alasan kuat mengapa di pesantren tidak pernah terjadi tawuran.

Walhasil, pesantren perlu terus berbenah dan berinovasi dalam meng-upgrade sistem pembelajaran agar ia tidak terseok-seok menghadapi perubahan zaman serta mampu menghindari “lubang hitam” pendidikan yang mengancam aspek moral dan kemanusiaan.?

Penulis adalah alumnus Pascasarjana Manajemen Pendidikan Universitas Negeri Surabaya; Dosen UINSA dan STAIN Pamekasan

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Tegal, Pesantren KOKAM Tegal

Minggu, 24 Desember 2017

Ansor Way Kanan Jaga Toleransi dengan Tanam Pohon

Way Kanan,KOKAM Tegal ? . Pemuka Gereja Pantekosta di Indonesia (GPDI) Timotius Trisno Handoyo di Kampung Gisting Jaya, Kecamatan Negara Batin, Kabupaten Way Kanan, Provinsi Lampung mengpresiasi langkah sederhana Gerakan Pemuda Ansor setempat menjaga toleransi dengan berbagi dan menanam pohon buah.

"Saya berpendapat itu gerakan bagus dalam memaknai keberagaman. Kami sampaikan terima kasih dengan upaya kecil dilakukan namun bermanfaat besar sebagai penegasan dan pengakuan keberagaman sehingga patut ditindaklanjuti," ujar Timotius di Gisting Jaya, Selasa (9/8).

Ansor Way Kanan Jaga Toleransi dengan Tanam Pohon (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Way Kanan Jaga Toleransi dengan Tanam Pohon (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Way Kanan Jaga Toleransi dengan Tanam Pohon

Pemuda Ansor Ranting Gisting Jaya melakukan penanaman pohon buah jenis nagkadak (persilangan nangka cempedak) dan mangga Thailand di Pesantren? Pesantren Darul Ulum, asuhan Ustadz Bahyuni hasil Gerakan Sedekah Oksigen diinisiasi Gusdurian Lampung dan alumni Bimbingan Belajar Pasca Ujian Nasional (BPUN) 2016 PC GP Ansor Way Kanan.

KOKAM Tegal

Total bibit buah dikirim sejumlah 70. Rinciannya, 50 untuk pesantren dari para donatur, 20 dari kas Ansor dibagi dua, 15 sebagai tabungan organisasi dan 5 pohon untuk diberikan kepada kepada masyarakat.

KOKAM Tegal

"Namun karena kekurangan tempat, di pesantren kita tanam 26 pohon, lalu sisanya kami tanam di mushola-mushola. Kemudian yang lima pohon untuk masyarakat, kami berinisiatif memberikannya ke empat gereja, serta satunya lagi kami tanam di pura yang ada di sini. Kami sampaikan terima kasih kepada seluruh donatur yang berpartisipasi dalam Sedekah Oksigen, salah satu M Iqbal dari Salatiga, Jawa Tengah," ujar Ketua Ansor Ranting Gisting Jaya Nanang Yudhi Saputra.

Para pemuka agama Kristen dan Hindu setempat menurut Nanang memberi apresiasi positif atas penanaman pohon dilakukan Ansor Gisting Jaya.

Gerakan Sedekah Oksigen dimaksudkan untuk mendorong kemandirian pesantren. "Itu upaya yang bagus. Pesantren tidak boleh jadi anak kecil terus menerus. Itu yang berulang kali saya sampaikan. Saya bangga anak-anak muda NU bergerak semacam ini," ujar Rais PCNU Way Kanan KH? Rofiul Bashori Annashih? menambahkan. (Syuhud Tsaqafi/Abdullah Alawi)



Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Pesantren, Quote KOKAM Tegal

Minggu, 03 Desember 2017

Muslimat NU Karimun Bantu 2000 Sarung dan Mukena untuk Pidie Jaya

Karimun, KOKAM Tegal?

Setelah beberapa hari melakukan penggalangan bantuan berupa mukena dan sarung, akhirnya Pengurus Cabang Mulimat NU Kabupaten Karimun berhasil mengumpulkan lebih dari 2000 sarung dan 2000 mukena untuk korban gempa Pidie Jaya, Aceh. Jumlah tersebut melebihi target yang mereka tentukan, yaitu masing-masing 1000.

"Alhamdulillah penggalangan bantuan mukena dan sarung jauh melebihi dari target yang kami tentukan," ungkap Ketua PC Muslimat NU Kabupaten Karimun Nyimas Novi Ujiani.

Jumlah tersebut belum termasuk sumbangan lainnya, berupa pakaian dan kerudung. Secara keseluruhan terkumpul 65 balpres. Selanjutnya bantuan yang diserahkan kepada Pemkab Karimun selaku koordinator Kabupaten dalam penggalangan dana bantuan korban gempa Aceh.

Muslimat NU Karimun Bantu 2000 Sarung dan Mukena untuk Pidie Jaya (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslimat NU Karimun Bantu 2000 Sarung dan Mukena untuk Pidie Jaya (Sumber Gambar : Nu Online)

Muslimat NU Karimun Bantu 2000 Sarung dan Mukena untuk Pidie Jaya

Secara simbolis, bantuan diterima oleh Bupati Karimun Aunur Rafiq, Rabu sore (21/12) di gedung serbaguna Kantor Lurah Sungai Raya Kecamatan Meral.

"Enam puluh lima ballpres yang berhasil kami kumpulkan. Dan kami serahkan kepada koordinator kabupaten yang diterima oleh bapak Bupati Karimun" tambahnya.

Untuk pakaian bekas layak pakai, oleh pengurus dan anggota Muslimat NU disortir terlebih dahulu sebelum dikemas diposko utama Muslimat NU, Masjid Agung Kabupaten Karimun.?

KOKAM Tegal

Tidak hanya mukena, kain sarung, pakaian baru atau bekas, Muslimat NU Kabupaten Karimun juga berhasil menggalang dana sebesar Rp 20 juta lebih. Semua jenis bantuan untuk korban gempa Aceh juga diserahkan kepada Bupati Aunur Rafiq.

"Selain bantuan berupa sarung, mukena dan pakaian baik baru maupun bekas layak pakai, kami juga berhasil menggalang dana sebanyak 20 Juta Rupiah. Itu (uang) juga telah kami serahkan kepada Bupati," ujar anggota DPRD Karimun Fraksi PKB ini.

Novi Ujiani mengaku terharu atas pencapaian yang melebihi target. Karena awalnya difokuskan hanya untuk 1000 mukena dan 1000 kain sarung, sebagai peralatan ibadah bagi korban bencaa gempa bumi Aceh. Namun di luar dari perkiraan ternyata melebihi target.

"Apa yang kami dapat kumpulkan sampai hari ini sejak 14 Desember kemarin merupakan kerja keras dari kaum ibu dalam hal ini yang tergabung didalam Muslimat NU Kabupaten Karimun. Hal itu merupakan bukti dan semuanya kami dedikasikan untuk ibu dihari ibu yang jatuh pada esok hari," ungkapnya.

KOKAM Tegal

Novi mengaku sangat terharu ketika respon para ibu-ibu sangat antusias, bahkan hampir semua para pedagang pakaian di Pasar Sri Karimun rela menyerahkan pakaian baru yang dijualnya untuk disumbangkan kepada korban gempa Aceh.

Kaum ibu dari Muslimat NU pun ikut mengangkat karung berisikan pakaian seberat puluhan kilogram, mereka mengaku kerja keras yang dilakukan tidak seberapa dari beban yang dirasakan oleh para korban gempa Aceh.

"Terima kasih kepada segenap donatur, tanpa donatur kami tidak akan dapat seperti ini. Terima kasih untuk seluruh pengurus dan anggota Muslimat NU dari ranting sampai cabang, saya bangga dengan kekompakan ini" pungkas Nyimas terlihat berkaca-kaca.

Sementara Bupati Karimun Aunur Rafiq mengatakan, bantuan logistik yang ada saat ini baru sekitar lima karung berisi pakaian bekas layak pakai, bersumber dari masayarakat dan beberapa organisasi. Ketika bantuan dari Muslimat NU sejumlah 65 karung berisikan mukena, kain sarung, pakaian baru dan bekas diserahkan, maka total menjadi 70 karung.

Sedangkan uang tunai yang telah terkumpul sampai kemarin mencapai Rp223 juta, belum ditambah dari dana yang digalang oleh Muslimat NU senilai Rp20 juta lebih.

"Terima kasih saya ucapkan kepada ibu-ibu Muslimat NU Kabupaten Karimun, tak disangka memiliki kerja keras yang hasilnya sangat baik sekali. Dari ibu Kabupaten Karimun untuk korban bencana gempa Aceh dan selamat Hari Ibu," ucapnya. (Sularno Menot/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Pesantren, IMNU KOKAM Tegal

Minggu, 26 November 2017

Ketum PBNU: Konflik Berbasis SARA Meningkat Akhir-akhir Ini

Magelang, KOKAM Tegal?

Akhir-akhir ini konflik yang dilatarbelakangi sentimen suku, agama, ras dan agama (SARA) semakin meningkat. Perlahan tapi pasti, hawa konflik di Irak, Suriah, dan Myanmar telah turut mereduksi komitmen kebangsaan warga Indonesia.

Demikian disampaikan oleh Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj pada upacara pembukaan Perkemahan Wirakraya Pramuka Maarif NU Nasional (Perwimamas) II, Senin (18/9), di Lapangan Tembak Akademi Militer Magelang, Jawa Tengah.

Ketum PBNU: Konflik Berbasis SARA Meningkat Akhir-akhir Ini (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketum PBNU: Konflik Berbasis SARA Meningkat Akhir-akhir Ini (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketum PBNU: Konflik Berbasis SARA Meningkat Akhir-akhir Ini

“Hal ini ditunjukkan dengan berbagai gerakan intoleran yang terjadi akhir-akhir ini,” tegas Kiai Said.

Sebagai penerus perjuangan ulama, lanjut Kiai Said, sudah sepantasnya nilai-nilai kebangsaan berbasis agama yang dibangun oleh para pendahulu, kita tanamkan kepada segenap generasi muda bangsa Indonesia.?

“Oleh karena itu menurut hemat saya kegiatan ini hadir di saat yang tepat. Saat generasi muda bangsa ini dihadapkan kepada berbagai tantangan toleransi,” tegas Kiai Said.

KOKAM Tegal

Pada kesempatan tersebut, Kiai Said tiada henti-hentinya mengingatkan kepada seluruh bangsa Indonesia bahwa nasionalisme tidak bertentangan dengan ajaran agama apa pun.

“NU sejak berdiri dan selamanya akan komitmen menjaga kemajemukan Indonesia dengan menanamkan cinta tanah air kepada generasi muda,” tandasnya.?

Agenda dua tahunan Lembaga Pendidikan Ma’arif itu diikuti 15 ribu peserta mengikuti upacara pembukaan Perkemahan Wirakraya Pramuka Maarif NU Nasional (Perwimamas) II. Peserta tersebut terdiri dari enam ribu peserta kemah dan sembilan ribu guru serta peserta didik Maarif NU dari seluruh Indonesia.?

Hadir dalam upacara pembukaan tersebut Presiden Republik Indonesia Joko Widodo, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, para menteri Kabinet Kerja, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, serta Bupati Magelang Zaenal Arifin beserta wakilnya. (Nur Rokhim/Mahbib)

KOKAM Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Daerah, Pesantren KOKAM Tegal

Sabtu, 25 November 2017

Jadi Aktivis hingga Tua, Ini Kisah Hj. Basyiroh Shoimuri

Solo, KOKAM Tegal. Mestinya hampir setiap tahun saya memiliki kesempatan bersua dengan tokoh kelahiran Boyolali, 9 Agustus 1937 itu. Sebab hampir saban tahun, pemilik nama lengkap Nyai Hj. Basyiroh Zawawi tersebut, mengunjungi Kota Solo, terutama saat diadakannya peringatan haul kakeknya, salah satu tokoh perintis NU Solo, KH Ahmad Siradj.

Jadi Aktivis hingga Tua, Ini Kisah Hj. Basyiroh Shoimuri (Sumber Gambar : Nu Online)
Jadi Aktivis hingga Tua, Ini Kisah Hj. Basyiroh Shoimuri (Sumber Gambar : Nu Online)

Jadi Aktivis hingga Tua, Ini Kisah Hj. Basyiroh Shoimuri

Namun, kesempatan bertemu dengan Ketua Umum Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama kedua tersebut, justru terjadi tiga tahun silam, saat penulis sowan ke kediamannya di daerah Jenu, Tuban. Sebuah wilayah yang terletak di pesisir utara, yang konon memiliki akronim nama “jelas NU”.

Kala itu, saya tiba di kediamannya, dalam suasana Lebaran. Saya memperkenalkan diri secara singkat. Setelah mengetahui maksud kedatangan saya, mulailah ia bercerita mengenai perjalanan singkat hidupnya, serta kisah suka dukanya kala berjuang di IPPNU.

Meskipun raut mukanya menunjukkan usianya yang sudah uzur, tapi cara bicaranya yang ala aktivis masih melekat kuat: tegas dan bersemangat! Basyiroh merupakan salah satu dari kader IPPNU generasi awal. Bersama dengan Umroh Mahfudzoh dan kawan-kawan lainnya di Pesantren Masyhudiyah Keprabon Solo, ia menjadi saksi terbentuknya organisasi yang dulu bernama IPNU Putri itu.

Pada zaman tersebut, menurut dia, perjuangan bersama IPPNU sangatlah berat. Namun, minimnya fasilitas bukan menjadi penghalang bagi mereka untuk mengadakan pertemuan. “Kami sering pergi dengan jalan kaki dari Keprabon ke Kantor PCNU Solo (di Jalan Honggowongso,-red),” kenang Nyai Basyiroh.

KOKAM Tegal

Keluarga Pejuang NU

Pada buku “Sejarah Perjalanan IPPNU 1955-2000” (diteerbitkan PP IPPNU, 2000), Nyai Basyiroh dikenal dengan nama Basyiroh Shoimuri. Nama yang melekat di belakangnya, merupakan nama ayahnya, yang tak lain KH Shoimuri. Setelah menikah dengan KH Zawawi, namanya lebih dikenal dengan sebutan Basyirah Zawawi, sampai sekarang.

KH Shoimuri ini merupakan seorang ulama kharismatik dari Boyolali, putera dari KH Ahmad Siradj Solo. Semasa hidupnya, Kiai Shoimuri pernah mengemban amanah sebagai Rais Syuriah PCNU Boyolali.

KOKAM Tegal

Putera-puteri Kiai Shomuri pun banyak yang mengikuti jejak ayah mereka, mengabdi di NU. Anak-anaknya selain Basyiroh, yakni: Muhammad, Tamam (pernah menjadi Rais Syuriah PCNU Boyolali), Karimah, Mujab, Sabiq, Muhsinah (Istri KH Cholil Bisri Rembang), Makin (Pesantren Raudhatut Thalibin Putri Leteh Rembang) dan Mubin (pernah menjadi Ketua Tanfidziyah PCNU Solo).

Kiai Shoimuri pula yang mendorong Basyirah yang masih remaja, untuk mengenyam pendidikan sekolah. Sejak usia 5 tahun, Basyiroh dititipkan kepada kakeknya, Kiai Siradj, yang juga pengasuh Pesantren NU 001.

Di Solo, ia disekolahkan di RA NDM selama 2 tahun dan MI NDM selama 6 tahun. Lalu, pada tahun 1950, Basyiroh melanjutkan pendidikannya di Muallimat pertama (3 tahun) dan Muallimat atas (1 tahun), yang kesemuanya ditempuh di Nadhlatul Muslimat (NDM) Solo.

Peletak Dasar Organisasi

NDM sendiri merupakan sekolah yang didirikan para tokoh Muslimat NU Solo, salah satunya Machmudah Mawardi pada tahun 1930-an. Catatan pada artikel ini, sekaligus menjadi ralat pada buku “Sejarah Perjalanan IPPNU 1955-2000” (PP IPPNU, 2000) di mana seharusnya NDM, akan tetapi pada buku tersebut ditulis MDM.

Nama NDM patut dicatat pada sejarah IPPNU, sebab dari sekolah tersebut sejumlah tokoh IPPNU generasi awal muncul. “NDM ini dulu dijadikan rujukan pelajar dari berbagai daerah,” tutur Nyai Basyiroh.

Semasa berjuang sebagai ketua PP IPPNU, Basyiroh dikenal sebagai sosok peletak dasar organisasi. Mewarisi 30 cabang bentukan Umroh, Basyiroh berhasil melipatduakan hingga 60 cabang pada akhir kepengurusannya.

Kepengurusan periode pertama yang diemban hingga tahun 1958, digunakan Basyiroh untuk memperluas cabang-cabang IPPNU. Dalam setiap forum nasional di mana keluarga besar NU hadir, Basyiroh selalu menyempatkan diri memperkenalkan dan meminta bantuan pendirian IPPNU di tempat asal cabang-cabang yang bersangkutan.

Setelah usai pengabdiannya di IPPNU, ia sempat aktif di Fatayat, hingga akhirnya ia melanjutkan pengabdiannya di Muslimat NU. Tercatat dirinya pernah menjadi Ketua Muslimat PCNU Tuban. Selain itu, ia juga pernah menjadi anggota DPRD Kabupaten Tuban.

Mengabdi di Usia Senja

Kini, di usianya yang hampir genap 80 tahun, Nyai Basyiroh mendedikasikan hidupnya untuk menemani para murid dan santri di Madrasah Al-Hidayah, yang didirikannya bersama mendiang suami. Di lain waktu, ia juga masih mengisi pengajian ibu-ibu di wilayah Tuban. Nampaknya dunia dakwah dan sosial terus menjadi bagian penting dari hidupnya.

Saat penulis sowan ke kediamanya, tercatat ia masih memiliki jadwal mengisi pengajian yang cukup padat. Setiap Kamis, ia mengelola Majelis Taklim Al-Istiqomah Jenu. Jumat Pahing ia mengisi pengajian di Masjid Agung Tuban. Kemudian Jumat Pahing di salah satu mushola Desa Glodog, Palang, dan masih banyak lagi kegiatan lain yang ia ikuti.

“Sebab moto yang saya pegang: menjadi manusia yang berguna bagi agama, nusa, dan bangsa,” ujarnya.

Moto tersebut menjadi pegangan hidupnya, sehingga meski usianya semakin tua, namun tak menyurutkan langkahnya untuk tetap ikut berjuang dan memberikan manfaat bagi sesama.

Obrolan kami, pada hari Jumat tersebut dipungkasi santapan siang bersana dengan menu masakan ikan laut khas Jenu! Jelas NU!? (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Pesantren, Budaya KOKAM Tegal

Selasa, 21 November 2017

Krisis Rohingya Perpanas Hubungan Bangladesh-Myanmar

Dhaka, KOKAM Tegal. Kekerasan pemerintah Myanmar atas Rohingya tak hanya memaksa hampir 400.000 ribu etnis minoritas tersebut melakukan eksodus ke negara tetangga, tetapi juga membuat Bangladesh sebagai negeri tujuan pengungsi tertimpa beban. Bangladesh beberapa kali mengecam Myanmar terkait krisis kemanusiaan ini.

Belakangan hubungan keduanya kian panas ketika Bangladesh menuduh Myanmar berulang kali melanggar perbatasan kawasan udara. Bangladesh menilainya sebagai provokasi dan mengancam tentang konsekuensi tertentu bila tindakan itu terulang lagi.

Krisis Rohingya Perpanas Hubungan Bangladesh-Myanmar (Sumber Gambar : Nu Online)
Krisis Rohingya Perpanas Hubungan Bangladesh-Myanmar (Sumber Gambar : Nu Online)

Krisis Rohingya Perpanas Hubungan Bangladesh-Myanmar

Ratusan ribu Muslim Rohingya telah tiba di Bangladesh sejak mereka lari dari serbuan tentara Myanmar yang berdalih telah melakukan perburuan "teroris Bengali". Jumlahnya terus meningkat sejak 25 Agustus lalu. PBB menyebut krisis ini sebagai langkah "pembersihan etnis" oleh Myanmar.

Bangladesh, seperti dilansir Reuters, mengatakan bahwa pesawat tempur dan helikopter Myanmar melanggar kawasan udara sebanyak tiga kali, yakni pada 10, 12 dan 14 September,  dan telah meminta pejabat kedutaan besar Myanmar di Dhaka untuk melakukan komplain.

"Bangladesh menyampaikan keprihatinan mendalam atas pengulangan tindakan provokasi semacam itu dan menuntut agar Myanmar segera melakukan tindakan untuk memastikan bahwa pelanggaran kedaulatan semacam itu tidak terjadi lagi," kata kementerian di Myanmar dalam sebuah pernyataan pada Jumat malam. (Red: Mahbib)

KOKAM Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Pesantren, Lomba KOKAM Tegal

KOKAM Tegal

Minggu, 19 November 2017

STISNU Kritik Mendagri soal Mandegnya Perda Pemberdayaan Pesantren

Tangerang, KOKAM Tegal. Tim Pengabdian Masyarakat 2016 Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Nahdlatul Ulama (STISNU) Nusantara Tangerang prihatin atas ketidakpekaan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) membaca peraturan atas rencana pembuatan Peraturan Daerah tentang Pesantren di Banten.

Nurullah, ketua tim pengabdian masyarakat STISNU menjelaskan, pihkanya kecewa atas jawaban surat dari Kemendari No. 188.34/8829/OTDA yang ditujukan Sdr. Plt. Gubernur Banten yang menyatakan bahwa kewenangan pengaturan pesantren adalah hak pemerintah pusat, bukan pemerintah daerah.

STISNU Kritik Mendagri soal Mandegnya Perda Pemberdayaan Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
STISNU Kritik Mendagri soal Mandegnya Perda Pemberdayaan Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

STISNU Kritik Mendagri soal Mandegnya Perda Pemberdayaan Pesantren

"Saya kecewa, pihak kemendari tidak menilai semangatnya untuk memberdayakan pesantren. Saya rasa mereka terjebak dengan istilah pengaturan, padahal dalam rencana peraturan daerah ditulis pemberdayaan,” ujarnya.

Muhamad Qustulani anggota tim pengabdian lainnya menambahkan, pemerintah keliru memahami pesantren sebagai institusi agama, padahal pesantren adalah bagian dari lembaga pendidikan. Mereka selalu beralasan dengan UU 23 Tahun 2014 yang menyatakan agama domain pemerintahan pusat.?

KOKAM Tegal

Padahal jelas itu bertentangan UU No. 22 Tahun 1989 yang disempurnakan dengan Undang-Undang No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional memuat pada pasal 30 ayat 1 sampai 4 memuat bahwa pondok pesantren termasuk pendidikan keagamaan dan merupakan bagian dari sistem pendidikan nasional.

"Jelas pesantren bukanlah institusi agama, bukan agama, tidak mengatur agama, akan tetapi pesantren adalah lembaga pendidikan yang mengajarkan ilmu agama,” tegas Qustulani.

KOKAM Tegal

PMA No. 13 Tahun 2014 yang mengatur Pesantren dengan sistem muadalah, alumninya sejajar dengan lembaga pendidikan lain, itu hanya mengatur pesantren-pesantren yang jumlah santrinya mencapai 300 orang. Pertanyaannya? Bagaimana dengan pesantren di Kabupaten Tangerang atau Banten yang jumlahnya hanya puluhan? Bangunanya kumuh (balerombeng)? MCK-nya sungguh amat memprihatinkan, bahkan santri banyak MCK di kali?

"Jelas, PMA (Peraturan Menteri Agama, red) tidak menjangkau pesantren yang seperti itu,” tambahnya.

"Saya berharap Kemendagri baca Perdanya dengan utuh, Perda tersebut tidak mengatur keberadaan pesantren, tapi menjadi payung hukum pemerintah daerah untuk memberdayakan pesantren, seperti dinas-dinas selain Kementerian Agama di Daerah juga bisa masuk ke pesantren, bisa melaksanakan kegiatan pembinaan bisnis, beternak, berwirausaha, BLK, dan CSR perusahaan pun bisa untuk pemberdayaan pesantren".?

Fahmi Irfani, tim pengabdian lainnya pun berharap kemendagri menindaklanjuti dan merekomendasikan peraturan daerah tentang pemberdayaan pesantren.?

"Kami akan kawal sampai lahirnya peraturan daerah pemberdayaan pesantren, termasuk penerapannya di pemerintah daerah," tambahnya.

"Andai harus diperbaiki, maka akan kami dorong Perda tersebut untuk diperbaiki. Ini demi masa depan generasi pesantren selanjutnya,” tegasnya.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam kegiatan upgrading perjalanan Kegiatan Pemberdayaan Masyarakat di STISNU Nusantara Tengerang pada Ahad, 11 November 2016 dalam Forum Group Discussions (FGD) bersama para dosen di STISNU Nusantara. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Nahdlatul Ulama, Pesantren, Ahlussunnah KOKAM Tegal

Selasa, 14 November 2017

Tata Kelola Sumber Daya Alam di Mata Pelbagai Agama

Surabaya, KOKAM Tegal. Gerakan GUSDURian (GERDU) Surabaya menggelar diskusi terbuka perihal isu pengelolaan Sumber Daya Alam dalam pandangan agama-agama di auditorium Museum 10 Nopember, Tugu Pahlawan Surabaya, Selasa, (16/6). Komunitas ini mencoba menggali suara tokoh pelbagai agama berkaitan tata kelola SDA di Indonesia.

Tata Kelola Sumber Daya Alam di Mata Pelbagai Agama (Sumber Gambar : Nu Online)
Tata Kelola Sumber Daya Alam di Mata Pelbagai Agama (Sumber Gambar : Nu Online)

Tata Kelola Sumber Daya Alam di Mata Pelbagai Agama

Hadir sebagai pembicara dalam seminar ini Koordinator Sekretariat Nasional (Seknas) Jaringan GUSDURian Alissa Wahid, M al-Fayyadl, aktivis Muda NU, Romo Tri Budi Utomo yang biasa disapa Romo Didik, tokoh agama Katolik, dan Dewan Daerah Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Jatim Purnawan Dwikora Negara yang akrab dipanggil pupung.

WALHI memberi apresiasi tinggi atas seminar yang dihadiri sedikitnya 200 orang dari berbagai lapisan masyarakat. Menurut Pupung, WALHI sangat membutuhkan forum-forum seperti ini. ia mengapresiasi sensitivitas tokoh agama terhadap isu SDA. Sebab, menurut WALHI, saat ini Indonesia mengalami krisis eko-moral atau keteladanan ekologi.?

KOKAM Tegal

“Spirit Gus dur dan nilai-nilai utama Gusdurian sebenarnya sama dan sevisi dengan 10 nilai WALHI. Bahkan WALHI pernah memberikan penghargaan terhadap Gus Dur sebagai pejuang lingkungan,” kata Pupung.

Pada kesempatan ini Romo Didik mendedahkan beberapa data teologis yang saat ini tengah berkembang di dalam gereja Katolik. Menurutnya, trend teologi sekarang; perdamaian bukan lagi sekedar keadilan sosial, namun bergeser menjadi keadilan lingkungan.

KOKAM Tegal

Sementara dalam fiqih tersebut tiga aspek pengelolaan SDA. Pertama, prinsip-prinsipnya, kedua, pengelolanya (siapa yang paling berhak memiliki), ketiga, tata kelolanya, ? tegas Fayyadl.

Fayyadl menjelaskan salah satu aspek dalam fiqih yang dirintis Rais Aam PBNU era Gus Dur KH Ali Yafie mengedepankan prinsip-prinsip pengelolaan SDA, yaitu prinsip melindungi jiwa raga (hifdzun nafs). Dengan kata lain, di dalam pengelolaan SDA tidak boleh ada manusia yang menjadi korban.

Alissa Wahid sendiri menegaskan isu lingkungan bukan hanya soal penghijauan, namun juga soal kemanusiaan, keadilan, dan kearifan tradisi. "Jadi, kalau Gus Dur terlibat dalam isu lingkungan hidup, itu karena aspek kemanusiaan, keadilan, dan kearifan tradisi. Gus Dur itu berbasis nilai, bukan power atau status sosial," katanya.

Bagi Gus Dur, kebijakan pemimpin yang tidak maslahah atau tidak rahmatan lil alamin itu perlu diingatkan. Jadi, ada nilai-nilai.

“Misalnya, kita beli makanan, maka uangnya adalah milik kita. Tetapi makanan adalah milik bersama. Karena itu makanan yang tidak dihabiskan dan dibuang, itu salah," imbuhnya. (Iqbal Muhammad/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Pesantren, Meme Islam KOKAM Tegal

Jumat, 10 November 2017

HIPSI Gelar Diskusi Bisnis dan Konsolidasi di Pesantren Al-Munawwir

Krapyak, KOKAM Tegal. Himpunan Pengusaha Santri Indonesia (HIPSI) bekerja sama dengan RMI NU menggelar kegiatan Sharing atau Diskusi Bisnis dan Konsolidasi bertajuk ‘Melompat Lebih Jauh’ yang bertempat di Ponpes Al-Munawwir, Krapyak, Yogyakarta, Ahad (26/4).

Hadir sebagai narasumber diantaranya Ketua HIPSI DIY, KH Buchori Al–Zahrawi, KH Ketua HIPSI Jawa Timur KH Sulaiman, Ike Laura Krisna, Kepala Bank Mandiri Bantul, dan Gus Tanto Abdurrahman penulis buku “Dikejar Rejeki”.

HIPSI Gelar Diskusi Bisnis dan Konsolidasi di Pesantren Al-Munawwir (Sumber Gambar : Nu Online)
HIPSI Gelar Diskusi Bisnis dan Konsolidasi di Pesantren Al-Munawwir (Sumber Gambar : Nu Online)

HIPSI Gelar Diskusi Bisnis dan Konsolidasi di Pesantren Al-Munawwir

Dalam sambutannya, Kiai Buchori mengatakan, jangan sampai kita bekerja pada uang, tetapi uang yang harus bekerja pada kita. 

KOKAM Tegal

“Acara yang di selenggarakan oleh HIPSI ini tidak hanya menghimpun pengusaha dari santri, tetapi juga mencetak santri menjadi pengusaha sukses. Salah satu usaha yang dilakukan oleh HIPSI yaitu mengadakan pelatihan di berbagai Ponpes se-DIY,” tegas Kiai Buchori. 

Kiai Buchori juga memaparkan, bahwa sebuah negara dikatakan sejahtera dan maju jika jumlah pengusaha diatas 5% dari jumlah penduduk. Sedangkan di indonesia sendiri baru 1% atau sekitar 2.350.000 orang yang menjadi pengusaha. 

KOKAM Tegal

“Inilah salah satu alasan awal berdirinya HIPSI yang dinaungi oleh RMI (Rabithah Ma’ahid Islamiyah) Nahdlatul Ulama,” terangnya. (Muhlisin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Santri, Pesantren KOKAM Tegal

Kamis, 02 November 2017

Gus Dur Sumbang Canda

Untuk menggalang dana, rumah sahabat anak Puspita, mengundang KH Abdurrahman Wahid dalam acara Bercanda Bersama Gus Dur. Acara tersebut, dihadiri para donatur lintas iman, para aktivis, mahasiswa, dan warga Nahdliyin.

Selepas acara, Gus Dur berjanji kepada Aang, ketua Yayasan Puspita, akan menyumbangkan uang sebesar lima puluh juta rupiah. Aang pung tenang, anak jalanan yang ia asuh di Duren Sawit, Jakarta Timur, tidak akan kelaparan.

Setelah seminggu, tak ada kabar orang suruhan Gus Dur mengantar uang. Dua minggu, tiga minggu, bahkan hampir sebulan, belum juga ada tanda-tanda uang itu diantarkan.

Gus Dur Sumbang Canda (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Dur Sumbang Canda (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Dur Sumbang Canda

Karena penasaran, Aang pun sowan ke Ciganjur, kediaman Gus Dur. Dalam percakapan, ia menanyakan uang yang dijanjikannya.

“Uang apa?”

KOKAM Tegal

KOKAM Tegal

“Uang yang dijanjikan Njenengan pas acara Bercanda Bersama Gus Dur,” jelas Aang.

“Oh, itu. Nama acaranya kan bercanda, ya sumbangannya juga bercanda.” (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Pesantren, News, Tokoh KOKAM Tegal

Ansor Ponorogo Tangani Pasar Rakyat PBNU

Ponorogo, KOKAM Tegal. Rangkaian kegiatan pasar rakyat PBNU untuk etape ke-47 akan diselenggarakan di Ponorogo. PBNU akan menunjuk PCNU sebagai panitia lokal, dalam hal ini PCNU Ponorogo yang melimpahkan kepanitiaan kepada PC GP Ansor Ponorogo.

Ansor Ponorogo Tangani Pasar Rakyat PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Ponorogo Tangani Pasar Rakyat PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Ponorogo Tangani Pasar Rakyat PBNU

Menurut Fatchul Aziz, MA ketua PCNU Ponorogo, GP Ansor telah berkali-kali menangani event-event massif dengan dukungan sponsor baik tingkat nasional dan lokal. Sebut saja kegiatan jalan sehat sarungan bareng Gus Ipul tahun lalu.

“Kami percaya PC GP Ansor akan lebih pas jika menangani kegiatan massif semacam pasar rakyat ini,” kata Aziz, panggilan pria yang juga sedang menjabat sebagai Ketua KPUD Ponorogo ini.

KOKAM Tegal

Pasar rakyat sendiri akan dilaksanakan pada tanggal 23-24 Pebruari 2013 di lapangan Seblabur Kelurahan Setono. Pasar rakyat ini akan mengenalkan produk-produk milik NU hasil kerjasama dengan beberapa produsen nasiona.l

KOKAM Tegal

Selain itu salah satu sponsor rokok Apache dalam rangka promo produknya juga akan menggelar hiburan musik yang menampilkan artis nasional. Direncanakan akan tampil penyanyi KDI dan Opick. Pihak PBNU juga memberi ruang kepada banom NU untuk ikut menggelar stand.

Menurut Idam Mustofa Ketua PC GP Ansor Ponorogo (Pjs.) yang bertindak sebagai Ketua Panitia, pihaknya telah menjalin kerjasama dengan Pemda Ponorogo untuk ikut melibatkan UMKM di bawah binaan Satker terkait untuk ikut menggelar stand.

“Bapak Bupat telah menyetujui Satker terkait dengan UMKM untuk ikut mendukung pasar rakyat ini. Beliau juga akan memfasilitasi penampilan reyog Ponorogo binaan Dinas Pariwisata Pemkab untuk tampil memeriahkan acara pembukaan. Kami sedang berusaha untuk dapat menghadirkan Gus Ipul untuk hadir di Ponorogo guna membuka pasar rakyat,” kata pria berkacamata ini.

Selama dua hari penuh, pasar rakyat akan diisi dengan pelatihan kewirausahaan dan broadcasting, penjualan sembako murah, pameran produk PBNU dan UMKM serta banom NU, aneka game dan pertunjukan musik persembahan rokok Apache.

Pada acara pembukaan akan digelar parade budaya dan drumband sekolah-sekolah di bawah naungan LP Ma’arif Ponorogo. Selain itu, PC IPNU-IPPNU Ponorogo juga akan memanfaatkan momentum ini untuk menggelar pelantikan bersama.

Masih pada rangkaian pasar rakyat, PC Muslimat NU akan menggelar perpotoan Kartanu bagi anggotanya sekaligus belanja paket sembako. Jadilah pasar rakyat ini bak ajang pesta warga NU.

Redaktur ? ? : A. Khoirul Anam

Kontributor: Rheza Aswaja

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Kyai, Pesantren KOKAM Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs KOKAM Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik KOKAM Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan KOKAM Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock