Tampilkan postingan dengan label Kiai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kiai. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 Maret 2018

Program Transmigrasi Dibutuhkan Untuk Daerah Tertinggal

Jakarta, KOKAM Tegal. Mendiskusikan persoalan kawasan pedesaan tak bisa dilepaskan dari berbagai persoalan transmigrasi. Pasalnya, jejak sejarah transmigrasi di Indonesia sempat menorehkan tinta emas dengan keberhasilannya menciptakan desa-desa baru bahkan memiliki andil besar terbentuknya dua provinsi baru di Indonesia.

Demikian disampaikan Menteri Desa, Pembangunan Daerah tertinggal, dan Transmigrasi, Marwan Jafar dalam diskusi dengan tema Rancangan Normatif dan Praktik Empiris Pembangunan Kawasan Pedesaan yang diselenggarakan Bina Desa dan Walhi di Hotel Cemara, Jakarta, Selasa (12/5) melalui rilis yang diterima KOKAM Tegal.

Program Transmigrasi Dibutuhkan Untuk Daerah Tertinggal (Sumber Gambar : Nu Online)
Program Transmigrasi Dibutuhkan Untuk Daerah Tertinggal (Sumber Gambar : Nu Online)

Program Transmigrasi Dibutuhkan Untuk Daerah Tertinggal

Marwan menjelaskan, program transmigrasi memang diakui sempat meredup pasca reformasi. Oleh karena itu, dimasa kepemimpinannya, Marwan bertekad untuk menghidupkan kembali program transmigrasi. 

KOKAM Tegal

"Jejak transmigrasi ini penting, transmigrasi berhasil menciptakan 13 ribu desa, 3000-an kecamatan, 144 kota hasil transmigrasi dan dua provinsi hasil transmigrasi," ujar Menteri Marwan.

Menteri Marwan mengaku mempunyai kiat-kiat khusus untuk menghidupkan program transmigrasi. Salah satunya dengan menempatkan para transmigran di daerah perbatasan dan pulau-pulau terluar di Indonesia yang selama ini tidak tergarap. 

KOKAM Tegal

"Ini sedang kita canangkan platform baru untuk transmigrasi di daerah perbatasan dan pulau terluar. Selain itu, juga ditargetkan 9 juta hektar lahan untuk transmigrasi," tandasnya.

Program transmigrasi, menurut Marwan, juga akan mereview kembali data-data untuk kabupaten yang masuk kategori daerah tertinggal. "Karena selama ini, kategori pembangunan daerah tertinggal masih berbasis kabupaten. Kalau merujuk data yang ada sekitar 122 kabupaten. Kalau kita dalami lagi lebih dari 200-an kabupaten yang tertinggal," ujarnya.

Dia menginginkan adanya keseimbangan antara pembangunan yang ada di desa dengan pembangunan masyarakat yang ada di kota. "Karena di situ indeks pembangunan masih rendah dan disparitasnya masing menganga. Ketersedian listrik sekitar 15 ribu desa masih belum teraliri listrik, akses komunikasi dan infrastruktur masih lemah," tandasnya.

Selain melakukan mereview kembali data daerah tertinggal, menurut Marwan, beberapa daerah yang sudah lepas dari status tertinggal masih butuh pengawalan dan pembinaan. "Daerah yang sudah terentaskan dari ketertinggalan, masih butuh pembinaan selama jangka waktu tiga tahun," imbuhnya. (Red: Fathoni) 

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Kiai, Pahlawan, Kyai KOKAM Tegal

Kamis, 08 Maret 2018

KPAI Jelaskan Kenapa Anak Mudah Terkena Paham Radikalisme

Jakarta, KOKAM Tegal



Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Susianah Affandi mengatakan, kelompok ekstremis menyasar anak-anak sebagai target perekrutan. Alasannya, anak-anak dinilai masih polos dan belum bisa menyaring mana konten yang mengandung unsur ektrimisme-radikalisme dan mana yang tidak.

“Karena mereka kan masih polos dan mereka tidak bisa menolak,” kata Susianah selepas mengisi acara Halaqah Pencegahan Anak dari Gerakan Radikal di Jakarta, Selasa (29/8).

KPAI Jelaskan Kenapa Anak Mudah Terkena Paham Radikalisme (Sumber Gambar : Nu Online)
KPAI Jelaskan Kenapa Anak Mudah Terkena Paham Radikalisme (Sumber Gambar : Nu Online)

KPAI Jelaskan Kenapa Anak Mudah Terkena Paham Radikalisme

Menurut dia, pemerintah seharusnya melakukan sosialisasi kepada para orang tua tentang ideologi radikalisme dan ekstremisme. Sehingga mereka sadar dan mawas diri akan bahaya gerakan-gerakan yang mengarah kepada terorisme.

“Yang harus dilakukan adalah penguatan ketahanan keluarga,” tegasnya.

Wakil Ketua Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama (LKKNU) itu menyebutkan, anak-anak yang terpapar radikalisme biasanya berasal dari keluarga yang bermasalah seperti orang tuanya bercerai, keluarganya tidak harmonis, dan keluarga yang miskin.

KOKAM Tegal

Selain itu, kelompok ekstremis dan radikalis, imbuh Susianah, melakukan propaganda kepada anak-anak dengan menyuguhkan pengertian jihad yang keliru. Mereka menafsirkan jihad dengan dengan perang melawan non-muslim. Maka dari itu, yang paling rentan terhadap radikalisme adalah anak-anak.

“Nilai-nilai itu (pengertian jihad yang keliru) hanya bisa masuk secara mudah kepada orang-orang yang belum punya filter pendidikan, pengalaman, dan sosio kultur,” ucapya. ?

KOKAM Tegal





Anak sudah terpapar radikalisme

Susianah menjelaskan, seandainya ada anak yang sudah terpapar radikalisme dan terorisme maka pemerintah seharusnya tidak melakukan upaya-upaya yang represif dan menggunakan pendekatan hukum.?

“Jadi bukan pendekatan represif. Kalau menggunakan represif maka akan menularkan virus dendam kepada anak,” jelasnya.

Ia lebih sepakat apabila pemerintah melakukan program rehabilitasi dan kesejahteraan kepada anak-anak yang sudah terpapar radikalisme dan terorisme, yaitu dengan menanamkan pemahaman Islam yang damai.

Di lain pihak, masyarakat juga harus diberikan pendidikan terkait dengan anak-anak yang sudah terpapar radikalisme dan terorisme. Sehingga masyarakat juga bisa ikut serta dalam proses rehabilitasi terhadap anak yang sudah terpapar tersebut. (Muchlishon Rochmat/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Pahlawan, Tegal, Kiai KOKAM Tegal

Rabu, 07 Maret 2018

Ini Berbagai Kegiatan “Pasanan” di Pesantren Al-Muayyad

Sukoharjo, KOKAM Tegal. Selama bulan Ramadhan ini, Pondok Pesantren Al-Muayyad Windan Makamhaji Kartasura Sukoharjo mengadakan berbagai kegiatan pasanan (kegiatan di bulan puasa). Kegiatan yang ada tidak hanya bersifat keagamaan, tetapi juga diadakan pelatihan penyiaran.

Hal tersebut dikatakan Pengasuh Pesantren Windan, KH M Dian Nafi, saat dihubungi KOKAM Tegal, Sabtu (20/6).

Ini Berbagai Kegiatan “Pasanan” di Pesantren Al-Muayyad (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Berbagai Kegiatan “Pasanan” di Pesantren Al-Muayyad (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Berbagai Kegiatan “Pasanan” di Pesantren Al-Muayyad

“Selama bulan puasa di Al-Muayyad Windan ada kajian kitab I’anatun Nisa’. Para peserta dari santri putri dan Muslimat NU Ranting Makamhaji,” terang Kiai Dian.

KOKAM Tegal

Wakil Rais Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah itu juga menambahkan, untuk pengajian kitab umum juga ada kajian kitab Al-Yaqutun Nafis, Al-Arabiyah baina yadaik dan Irsyadul Ibad.

KOKAM Tegal

“Para santri juga kita berikan kajian Fiqih Tradisonalis yang dikaji setiap Selasa ba’da subuh dan ba’da tarawih, serta Senin ba’da ashar,” paparnya.?

Di bulan puasa ini, pesantren Windan juga membekali para santri dengan mengadakan berbagai pelatihan. “Ada pelatihan khitabah, khutbah, broadcasting radio dan pertanian organik,” ujar dia. (Ajie Najmuddin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Habib, Sejarah, Kiai KOKAM Tegal

Selasa, 13 Februari 2018

Muslimat Sukoharjo Diingatkan Tentang Pola Pengasuhan Anak

Sukoharjo, KOKAM Tegal. Cuaca yang agak tidak bersahabat tak membuat luntur semangat sejumlah ibu, untuk mengikuti pengajian “Selagi Berkah”, yang diselenggarakan Bidang Hidmat Muslimat NU Sukoharjo, Jawa Tengah.

Kegiatan pada Sabtu (22/11) tersebut diadakan di Pesantren Al-Muayyad Windan, Makamhaji, Kartasura, Sukoharjo. Acara diawali dengan pembacaan kitab maulid Al-Barzanji.

Muslimat Sukoharjo Diingatkan Tentang Pola Pengasuhan Anak (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslimat Sukoharjo Diingatkan Tentang Pola Pengasuhan Anak (Sumber Gambar : Nu Online)

Muslimat Sukoharjo Diingatkan Tentang Pola Pengasuhan Anak

“Kegiatan ini rutin diadakan setiap Selasa Legi keliling dari satu daerah ke daerah lainnya. Kali ini yang bertindak tuan rumah, yakni Ranting Makamhaji,” terang salah satu pengurus, Nyai Hj. Murtafi’ah Mubarokah.

KOKAM Tegal

Ditambahkan Nyai Murtafi’ah, selain pembacaan maulid, pada kesempatan itu, para jamaah juga mengikuti pembacaan sema’an Al-Qur’an yang dilanjutkan dengan ceramah dari pengasuh Pondok Al-Muayyad Windan, KH M. Dian Nafi’.

KOKAM Tegal

Dalam ceramahnya, Kiai Dian menerangkan tentang metode pendidikan terhadap anak, berdasarkan pada keterangan ayat di Surah Maryam.

“Maka Ibu-ibu Muslimat juga perlu diperkuat pengetahuannya terkait pendidikan kepada anak, agar juga dapat menjadi teladan yang baik dalam pengasuhan anak,” tutur Wakil Rais Syuriyah PWNU Jateng itu. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Kiai KOKAM Tegal

Jumat, 09 Februari 2018

Sambut Bulan Haji, Calon Jamaah Harus Jaga Niat

Surabaya, KOKAM Tegal. Di samping menjaga kesehatan dan menyiapkan kebutuhan selama satu bulan lebih di tanah suci, para calon jamaah haji juga harus mempersiapkan mental agar bisa merampungkan ibadah dengan baik. Yang juga sangat menentukan adalah kemurnian hati agar titel sebagai haji mabrur bisa diraih.

"Ibadah haji mensyaratkan kekuatan fisik jamaah karena akan melakukan sejumlah ibadah yang membutuhkan tenaga ekstra," kata H Farmadi Hasyim, Kepala Seksi Haji Kantor Kementerian Agama Kota Surabaya, Senin (10/8).

Sambut Bulan Haji, Calon Jamaah Harus Jaga Niat (Sumber Gambar : Nu Online)
Sambut Bulan Haji, Calon Jamaah Harus Jaga Niat (Sumber Gambar : Nu Online)

Sambut Bulan Haji, Calon Jamaah Harus Jaga Niat

Mempersiapkan bekal sejak dini dan menempuh perjalanan panjang sejak dari rumah hingga ke pemondokan dan ke tanah suci tentu membutuhkan kondisi tubuh yang prima, lanjutnya. "Karena itu selama menunggu jadwal keberangkatan, disarankan jamaah untuk meperbanyak olahraga sebagai latihan agar saat melaksanakan ibadah tidak mengalami masalah," ungkapnya.

Dan Ustadz Farmadi, sapaan akrabnya yakin bahwa materi seputar hal ini telah disampaikan saat manasik yang diikuti calon jamaah. "Tinggal mengingat dan menjalankan seluruh anjuran itu dengan baik," kata Wakil Ketua Lembaga Dakwah PWNU Jawa Timur ini.

KOKAM Tegal

KOKAM Tegal

Yang juga sangat penting untuk diperhatikan adalah terus lurus dalam menata niat. "Karena factor inilah yang akan sangat diuji selama pelaksanaan ibadah haji," terangnya. Bertemu dengan kaum muslimin dari berbagai daerah dan negara, tentu juga diiringi dengan tabiat dan beragam pula, lanjutnya.

"Dibutuhkan kebesaran hati, kelapangan jiwa dan lurusnya niat agar selama pelaksanaan haji, para jamaah mampu mengendalikan diri dan emosi," tandasnya. Apalagi pada perlaksanaan haji kali ini cuaca lumayan terik, maka kesabaran dan kemurnian niat sangat menentukan, lanjutnya.

?

"Diperkirakan kloter pertama jamaah haji Indonesia akan berada di Asrama Haji tanggal 20 Agustus," pungkasnya. (Syaifullah/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Kajian, Kiai KOKAM Tegal

Senin, 05 Februari 2018

ICIS Inisiasi Konferensi Tokoh Agama Asia

Jakarta, KOKAM Tegal 

DKI Jakarta akan menjadi tuan rumah Konferensi Para Pemimpin Keagamaan ASIA pada 25 Februari sampai dengan 1 Maret mendatang.

ICIS Inisiasi Konferensi Tokoh Agama Asia (Sumber Gambar : Nu Online)
ICIS Inisiasi Konferensi Tokoh Agama Asia (Sumber Gambar : Nu Online)

ICIS Inisiasi Konferensi Tokoh Agama Asia

Konferensi bertajuk Bringing A Commom Word to Common action for justice yang bakal dihelat di Hotel ACACIA, Jakarta Pusat itu diharapkan dapat membangun komitmen bersama antara para pemimpin keagamaan se ASIA, dari kalangan Muslim dan Kristen.

“Konferensi Ulama dan Arcbishop se Asia ini dihadiri 150 ulama dan Arcbishop dari 15 negara. INi merupakan kelanjutan dari pertemuan ICIS (International Conference of Islamic Scolars) di Singapura, beberapa tahun lalu,” ujar Ketua Panitia The Conference of Muslim-Christians Religious Leaders of Asia, M Nasihin Hasan, Selasa (19/2).

KOKAM Tegal

Dikatakan Nasihin, Konferensi yang diinisasi oleh ICIS itu, akan membahas sejumlah hal krusial di Negara-negara Asia, terutama terkait ketegangan antar agama, ketimpangan hukum, kemiskinan, hingga persoalan korupsi dan perdagangan manusia yang sampai saat ini masih marak terjadi di berbagai Negara di Asia.

“Agama seharusnya bisa menjadi spirit utama dalam penegakan keadilan dan pemberantasan kemiskinan. Dalam konferensi ini, para tokoh agama diharapkan bisa bersama merumuskan wacana dan aksi bersama untuk mengatasi  problem keadilan dan persoalan perdagangan manusia yang menjadi masalah besama Asia saat ini,” ujarnya.

KOKAM Tegal

Sementara Sekjend ICIS KH Hasyim Muzadi mengatakan meskipun berbeda secara theologist, setiap agama sejatinya punya titik temu dalam hal ajaran  tanggung jawab sosial dan moral. “Setiap agama ada titik temu. Tetapi juga ada titik pisah. Kita perkuat titik temunya,” ujar Rais Syuriyah  PBNU itu.

Pertemuan tersebut, kata Hasyim juga merupakan bagian dari Konferensi ICIS yang dilaksanakan rutin sejak tahun 2004 lalu.

“ICIS selama tiga kali berturut-turut. Tahun 2004,2006 dan 2008 ICIS aktif mengadakan pertemuan dengan tokoh agama dari 87 negara. Alhamdulillah ini semakin diterima. Sebelumnya dalam 3 kali pertemuan itu hanya muslim. Sekarang interfaith,” paparnya.

Pertemuan itu juga untuk menegaskan kepada dunia internasional bahwa stigma tentang tingginya intoleransi di negeri ini adalah pandangan yang tak proporsional.

”Walaupun agak sulit karena karena dunia internasional menilai dengan sekularisasi dan pandangan atheism. Sementara di Indonesia kita melihat dengan kacamata pancasila dan keberagamaan,” ujarnya. 

Selama ini  kata Hasyim banyak pengamat agama yang tak turun ke bawah. Banyak peneliti yang kerjanya mencatati konflik tanpa memperbaiki.

“Konfllik agama tak berarti dilatarbelakangi pemikiran intoleransi,” tandasnya. Konferensi tersebut dihelat ICIS bekerja sama dengan Koferensi Wali Gereja di Indonesia (KWI) Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), Federas Bishop Asia (FABC) dan Konferensi Kristen Asia (CCA).

Menteri Agama RI Suryadharma Ali direncanakan akan didapuk membuka acara. Konferensi yang berlangsung selama lima hari itu akan menampilkan pembicara-pembicara dari berbagai negara dengan keynote speaker (pembicara kunci) Ali Asghar Engineer.

Pembicara lainnya adalah Arbishop Ferdinand Capalla (Filipina), Arbishop Felix Macado (Hongkong), KH Hasyim Muzadi (Sekjen ICIS), Din Syamsuddin (Ketua PP Muhammadiyah), Prof. Dr. Komarudiin Hidayat, Prof. Dr. Azyumardi.

Redaktur     : Hamzah Sahal

Kontributor : Abdel Malek

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Sunnah, Kiai KOKAM Tegal

Lahan Menyempit, HPN Karawang Akan Gunakan Bibit Padi Unggulan

Karawang, KOKAM Tegal

Pengurus Cabang Himpunan Pengusaha Nahdliyin (HPN) Kabupaten Karawang menilai potensi ekonomi masyarakat Karawang dalam sektor pertanian dan perikanan saat ini mulai terkikis oleh modernisasi dan industrialisasi.

"Salah satu program utama HPN Karawang adalah sektor pertanian dan perikanan. Sektor ini mendapatkan perhatian serius karena minat masyarakat Karawang dalam pertanian dan perikanan mulai menurun bahkan cenderung untuk meninggalkannya," ujar Ketua HPN Kabupaten Karawang, Muhammad Hasyim saat Pelantikan HPN Karawang dan Bekasi di Brits Hotel Karawang, Ahad (10/4).

Menurut Hasyim, perkembangan dunia industri di Karawang semakin pesat sehingga memberikan dampak pada terkikisnya lahan pertanian sekaligus memicu membludaknya jumlah penduduk terutama dari kalangan pendatang yang berimbas pada penambahan tempat tinggal dan persediaan makanan.

Lahan Menyempit, HPN Karawang Akan Gunakan Bibit Padi Unggulan (Sumber Gambar : Nu Online)
Lahan Menyempit, HPN Karawang Akan Gunakan Bibit Padi Unggulan (Sumber Gambar : Nu Online)

Lahan Menyempit, HPN Karawang Akan Gunakan Bibit Padi Unggulan

Dalam menyelesaikan masalah ini, Hasyim menjelaskan bahwa HPN Karawang telah menjalin kerjasama dengan seorang profesor ahli bidang tanaman dan sudah menemukan bibit padi unggul yang dapat panen dalam jangka waktu 55 hari.

"Sehingga jika dihitung dalam satu tahun, petani dapat memanen padi sampai empat kali,"tandasnya.

KOKAM Tegal

Dalam pelantikan ini dihadiri oleh? jajaran? PBNU, KH Said Aqil Siroj, H Asad Said Ali, H Eman Suryaman, DPP HPN, dan para pejabat Kabupaten Karawang, Kabupaten dan Kota Bekasi serta warga Nahdliyin sekitarnya. (Aiz Luthfi/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal

KOKAM Tegal Kiai, Santri KOKAM Tegal

Walima, Kue untuk Baginda Nabi Muhammad

Ekspresi memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW yang jatuh pada 12 Rabiul Awal dilakukan umat Islam Gorontalo dengan membuat walima. Biasanya mereka menggelar parade kue walima atau sesajian kue tradisional yang ditata berbentuk aneka hiasan.

Kepala Bidang Pariwisata Provinsi Gorontalo Resma Kabakoran, walima adalah ada kue yang disusun-susun dari kue tradisional khas gorontalo semisal kolombengi, wapili, tutulu, telor ayam rebus, ayam panggang sendiri. Kemudian diarak ke masjid, kemudian melakukan doa bersama.

Walima, Kue untuk Baginda Nabi Muhammad (Sumber Gambar : Nu Online)
Walima, Kue untuk Baginda Nabi Muhammad (Sumber Gambar : Nu Online)

Walima, Kue untuk Baginda Nabi Muhammad

Pada perkembangannya sekarang, walima yang dibentuk menyerupai rumah, atau masjid ini sering diarak keliling kota sehingga menjadi pusat perhatian warga. Setelah diarak kemudian dibagikan kepada warga.mereka kemudian berusaha dan saling berlomba memperebutkannya. Warga, terdiri dari orang tua, muda, wanita, dan anak-anak, rela berdesakan hingga ada yang terjatuh.

KOKAM Tegal

Bagi warga Gorontalo, walima merupakan berkah dan ungkapan rasa syukur atas hadirnya Nabi Muhammad SAW ke dunia. Menurut Resama, setiap perayaan Maulid Nabi, warga dengan sukarela membuat kue walima.

Sebagai apresiasi kepada kegiatan tersebut, kemudian Pemerintah Kota Gorontalo setiap tahun mengagendakan parade walima. Parade Walima diikuti oleh seluruh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD), instansi swasta, dan sekolah di Gorontalo, serta warga.

KOKAM Tegal

Walima tersebut diekspresikan dalam sebuah masjid yang bernama Walima Emas di Desa Bongo, Kecamatan Batuda’a Pantai, Kabupaten Gorontalo. Di beberapa sudut dan di tengah bagian atap masjid tersebut terdapa walima berwarna emas.

Ekspedisi Islam Nusantara pada Rabu (25/5) mengunjungi masjid yang didirikan di ujung sebuah bukit dengan ketinggian sekitar 250 kaki di atas permukaan laut. Dari masjid tersebut tim ekspedisi bisa menyaksikan pemandangan laut dengan perahu-perahu kecil, rumah-rumah penduduk dan bebukitan yang masih hijau.

Menurut warga sekitar masjid tersebut digagas Yosep Tahir Ma’ruf, pria asli dari Desa Bongo. Masjid yang berukuran kira-kira 10 kali 10 meter tersebut dibangun mulai tahun 2008.(Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Kiai KOKAM Tegal

Jumat, 26 Januari 2018

Majalah Risalah Edisi Terbaru: Puasa dan Berlebaran Cara NU

Nahdlatul Ulama (NU) telah meng-ikhbar-kan 1 Ramadhan jatuh pada Senin, 6 Juni 2016. Hal ini berdasarkan keputusan dan ketetapan yang dilakukan oleh pemerintah melalui sidang itsbat pada Ahad (5/6) malam. Ketetapan ini berdasarkan pada pengamatan Hilal di 93 titik yang disebar oleh Kemenag dengan menggandeng LAPAN, Lembaga Falakiyah PBNU, dan lain-lain.

Nahdlatul Ulama tetap berpegang teguh pada metode rukyatul hilal sebagai instrumen penetapan awal bulan hijriah, termasuk Ramadhan dan Syawal. Langkah ini sama sekali tidak menafikan metode Hisab, karena metode perhitungan secara matematis ini perlu dibuktikan secara empiris. 

Majalah Risalah Edisi Terbaru: Puasa dan Berlebaran Cara NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Majalah Risalah Edisi Terbaru: Puasa dan Berlebaran Cara NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Majalah Risalah Edisi Terbaru: Puasa dan Berlebaran Cara NU

Ketua Lembaga Falakiyah PBNU, KH Ghazali Masroeri sering menekankan kepada seluruh masyarakat bahwa NU sama sekali tidak menafikan metode hisab, tetapi justru NU menggunakan metode hisab dengan almanak yang diterbitkan setiap tahun. 

Namun demikian, berangkat dari Sabda Rasulullah SAW, “Berpuasalah setelah melihat bulan, dan berlebaranlah setelah melihat bulan”, NU tidak berhenti di satu metode, tetapi berusaha membuktikan perhitungan matematis secara empiris dengan mengamati hilal secara langsung.

Demikian sekilas ulasan tentang Majalah Risalah Edisi 61/Tahun X/1437 H/Juni 2016 yang merupakan edisi terbaru. Selain mengulas persoalan puasa, Majalah yang kini dikemas dengan tampilan yang lebih besar ini juga melaporkan kegiatan International Summit of The Moderate Islamic Leaders (Isomil) yang diselenggarakan PBNU pada 9-11 Mei 2016 lalu di JCC Senayan Jakarta. 

KOKAM Tegal

Kemudian, momen bulan haji juga dimanfaatkan Redaksi Majalah Risalah untuk mengulas perkara haji yang kini banyak mengalami perubahan secara pembiayaan yang lebih murah. Tentu hal ini merupakan kabar baik bagi para calon Jamaah Haji. Hal menarik lain yang juga perlu diketahui yaitu, Kementerian Agama mengeluarkan peraturan bahwa jemaah yang sudah pernah melakukan ibadah haji tidak diperkenankan berangkat lagi agar memberi kesempatan kepada jemaah yang belum pernah melakukan ibadah haji.

Edisi terbaru yang terbit 66 halaman ini juga memuat berbagai informasi dan bacaan substantif lain. Di bagian akhir majalah ini, terdapat tulisan renyah dari Dosen muda Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Indonesia, Fariz Alniezar yang mengulas tentang moderatisme keislaman yang selama ini diteguhkan oleh NU sehingga corak Islam khas Nusantara kerap menjadi inspirasi bagi carut marut dunia Islam selama ini. Selamat membaca! (Fathoni) 

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Habib, Kiai KOKAM Tegal

KOKAM Tegal

Kamis, 25 Januari 2018

Hukum Khutbah Berbahasa Indonesia

Salah satu syarat keabsahan shalat Jumat adalah didahului dengan dua khutbah. Kewajiban dua khutbah ini disepakati oleh seluruh ulama selain pendapat Hasan al-Bashri yang berpendapat bahwa hal itu sekadar berhukum sunnah.

Kewajiban khutbah Jumat berdasarkan hadits Nabi:

Hukum Khutbah Berbahasa Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Hukum Khutbah Berbahasa Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Hukum Khutbah Berbahasa Indonesia

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

KOKAM Tegal

KOKAM Tegal

“Rasulullah Saw berkhutbah dengan berdiri kemudian duduk, kemudian berdiri lagi melanjutkan khutbahnya.” (HR Muslim)

Awal mulanya khutbah Jumat disyariatkan setelah pelaksanaan shalat Jumat. Kemudian berubah menjadi sebelum shalat. Saat penduduk Madinah mengalami lapar, datang Dihyah bin Khalifah al-Kalbi membawa barang dagangan dari Syam di saat mereka sedang mendengarkan khutbah Jumat Nabi Saw. Mereka sama beranjak dari tempat khutbah untuk menghampiri Dihyah, hingga tidak tersisa dari mereka kecuali 8 orang.

Melihat sahabatnya beranjak dari masjid, Nabi SAW bersabda, “Demi dzat yang jiwaku berada di kekuasaanNya. Andai mereka bubar semuanya, niscaya lembah menyalakan api untuk menimpa mereka.” Setelah peristiwa tersebut, khutbah Jumat diajukan sebelum pelaksanaan shalat Jumat (keterangan dari Sayyid Muhammad Abdullah al-Jardani, Fath al-‘Alam, juz 3, hal. 50-51, Dar al-Salam-Kairo, cetakan keempat tahun 1990).

(Baca: Sejarah Pensyariatan dan Dalil Kewajiban Shalat Jumat)

Dalam madzhab Syafi’i, khutbah memiliki 5 rukun, yaitu membaca hamdalah, shalawat, wasiat takwa (tiga rukun ini wajib dibaca di kedua khutbah), ayat suci al-Qur’an dan doa untuk kaum Muslimin (2 rukun terakhir ini wajib dibaca di salah satu kedua khutbah).

Dalam membaca rukun-rukun tersebut, disyaratkan menggunakan bahasa Arab. Disyaratkan pula tartib dan terus menerus tanpa adanya pemisah (muwalah) di antara kelima rukun tersebut.?

Namun, selain bacaan-bacaan khutbah yang menjadi rukun khutbah, diperbolehkan menggunakan bahasa non-Arab, seperti yang terlaku di negara kita, isi khutbah biasanya menggunakan bahasa Indonesia. Hal tersebut diperbolehkan dan tidak dapat memutus kewajiban muwalah (terus menerus) di antara rukun-rukun khutbah.

Syekh Abu Bakr bin Syatha’ mengatakan:

? ? ? ? ? ? ( ? ? ? ) ? ? ? ? ? ? ? ? ...? ? ?....? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Disyaratkan dalam dua khutbah memakai bahasa Arab, maksudnya hanya rukun-rukunnya saja seperti keterangan dalam kitab al-Tuhfah, karena mengikuti ulama salaf dan khalaf. Syaikh Ibnu Qasim menulis, kewajiban memakai bahasa Arab terbatas untuk rukun-rukun khutbah memberi kesimpulan bahwa selain rukun-rukun khutbah yaitu beberapa materi yang masih berkaitan dengan khutbah yang diucapkan dengan selain bahasa Arab tidak dapat mencegah kewajiban muwalah di antara rukun-rukun khutbah. Syaikh Ali Syibramalisi mengatakan, hal ini dibedakan dengan diam yang lama yang dapat memutus muwalah karena di dalamnya terdapat unsur berpaling dari khutbah secara keseluruhan. Berbeda dengan isi khutbah dengan selain bahasa Arab yang di dalamnya terdapat sisi mau’izhah secara umum, sehingga tidak mengeluarkannya dari bagian khutbah.” (Syaikh Abu Bakr bin Syatha, I’ânatut Thâlibîn, juz.2, hal.117, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut, cetakan ketiga, tahun 2007)

Demikianlah hukum berkhutbah dengan bahasa Indonesia, juga dengan bahasa-bahasa non-Arab lainnya. Ia diperbolehkan sepanjang rukun-rukun khutbah tetap menggunakan bahasa Arab. Semoga bermanfaat. (M. Mubasysyarum Bih)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Kiai, Humor Islam KOKAM Tegal

Kamis, 11 Januari 2018

Mayoran: Ajaran Rasulullah Satu Nampan Banyak Tangan

Mayoran adalah istilah yang digunakan oleh para santri untuk menunjukkan satu kegiatan makan bersama-sama dalam satu wadah besar. Wadah itu bisa berupa pelepah daun pisang (seperti gambar di atas) bisa juga dengan nampan atau baki. Nampan atau baki merupakan salah satu wadah yang biasa digunakan untuk menyajikan makanan atau minuman, biasanya terbuat dari kayu, plastik, logam, atau bahan lainnya. Adapun bentuknya bisa bulat, atau persegi. Jika persegi kadang ada yang bertelinga di sisi kanan dan kiri sebagai pegangan tangan. Sebagian masyarakat menyebut nampan sebagai talam, dulang atau tapsi. Karena itulah mayoran di sebagian pesantren disebut dengan istilah nampanan atau tapsinan. Yakni makan bersama-sama dengan satu nampan atau tapsi sebagai piring besarnya.

Pada dasarnya mayoran merupakan ekspresi rasa syukur kepada Allah atas nikmatnya yang tidak pernah putus. Mayoran oleh para santri adalah momen spesial yang sengaja diadakan untuk merayakan sebuah keberhasilan. Seperti ketika khatam dari satu pengajian kitab tertentu, atau hatam Al-Quran, atau lulus ujian kitab, atau sekedar bersyukur atas nikmat sehat dan berkumpul bersama sahabat dan teman-teman. Tentang menu masakan sangatlah fariatif, tergantung kesepakatan bersama. Tidak harus mewah, tetapi tidak boleh meninggalkan sambel yang pedas dan harus disajikan dalam keadaan panas.

Mayoran: Ajaran Rasulullah Satu Nampan Banyak Tangan (Sumber Gambar : Nu Online)
Mayoran: Ajaran Rasulullah Satu Nampan Banyak Tangan (Sumber Gambar : Nu Online)

Mayoran: Ajaran Rasulullah Satu Nampan Banyak Tangan

Konsep makan bersama dalam satu piring besar ini tidak hanya ada di pesantren saja, tetapi juga hidup dilingkungan masyarakat Arab. Bahkan di beberapa restoran Arab menyediakan model hidangan nampanan seperti ini. Tentunya dengan menu yang juga khas arab dengan nasi kebuli kambing atau nasi mandhi, nasi kabsah dan lain sebagainya.

KOKAM Tegal

Tradisi makan bersama dengan banyak tangan dalam satu piring besar ini sesungguhnya merupakan ajaran Rasulullah. Dalam sebuah hadits yang datang dari sahabat Wahsyi bin Harb dan diriwayatkan oleh Abu Dawud disebutkan:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

KOKAM Tegal

Bahwasannya para sahabat bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, "(Mengapa) kita makan tetapi tidak kenyang?" Rasulullah balik bertanya, "Apakah kalian makan sendiri-sendiri?" Mereka menjawab, "Ya (kami makan sendiri-sendiri)". Rasulullah pun menjawab, "Makanlah kalian bersama-sama dan bacalah basmalah, maka Allah akan memberikan berkah kepada kalian semua." (HR. Abu Dawud)

Demikianlah anjuran Rasulullah dipegang teguh oleh para sahabat dan keluarganya. Hingga kini para habaib dan kiai di pesantren yang tidak mau makan sehingga datang satu teman untuk makan bersama. Karena makan sendirian? bagi mereka adalah sebuah aib yang harus dihindarkan sebagaimana Rasulullah tidak pernah melakukannya.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Sahabat Anas radliyallahu anh berkata bahwasannya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak pernah makan sendirian. Rasulullah juga pernah bersabda bahwa sebaik-baik makanan adalah yang dimakan banyak tangan.

Artinya keberkahan sebuah makanan juga berhubungan dengan seberapa banyak orang yang ikut menikmatinya, semakin banyak tangan semakin berkah. Inilah kemudian yang oleh para santri dijadikan sebagai pedoman selalu makan dengan konsep mayoran.

Satu nampan banyak tangan merupakan pelajaran yang berharga. Pelajaran membangun karakter kebersamaan dan egaliterian dalam pesantren. Satu nasib satu sepenanggungan satu rasa satu masakan. Tidak ada beda pembagian antara mereka yang memberi banyak atau sedikit, antara pemiliki beras atau pemilik nampan, antara yang masak nasi dan yang menunggu tungku. Semua makan bersama-sama dalam waktu dan ruang yang sama. Hal ini juga menjadi latihan praktis untuk menghindarkan para santri dari sifat kikir dan bakhil.

Inilah yang di kemudian hari menjadi salah satu bahan pengawet kerukunan antar mereka. Perbedaan prinsip, pendapat dan pendapatan tidak akan mempu menggoyahkan rasa kekeluargaan antara mereka. Karena makan satu nampan dengan banyak tangan terlalu kokoh untuk sekedar menghadapi perbedaan prinsip dan pilihan.

Untuk mengenang kembali masa-masa di pesantren, dan untuk memperoleh banyak berkah tradisi makan bersama dalam satu nampan masih dipertahankan. Di beberapa daerah mayoran selalu dilaksanakan ketika memperingati hari-hari besar Islam, terutama setelah acara membaca maulid atau setelah shalat id. (Ulil Hadrawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Kiai, News KOKAM Tegal

Kamis, 04 Januari 2018

KMNU Se-Indonesia Helat Musyawarah Nasional

Yogyakarta, KOKAM Tegal. Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) se-Indonesia menghelat Musyawarah Nasional (Munas) yang bertempat di Pondok Pesantren Sunan Pandanaran, Yogyakarta. Munas dengan tema ‘Sinergi Mahasiswa Nahdlatul Ulama Melalui Nilai Spiritual dan Intelektual Mewujudkan Islam Yang Rahmatan Lil Alamin’ ini dilaksanakan selama tiga hari, Jum’at-Ahad, (23-25/1). Kegiatan ini adalah Munas yang pertama sejak KMNU dibentuk di masing-masing kampus. ?

Menurut Mujib, ketua panitia pelaksana, Munas KMNU bertujuan sebagai ajang silaturrahim antar KMNU se-Indonesia. “Selama ini kan masih sebatas pertemuan di internal masing-masing dan kali ini kita mencoba untuk silaturrahim dan konsolidasi bersama,” tutur Mujib.?

KMNU Se-Indonesia Helat Musyawarah Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)
KMNU Se-Indonesia Helat Musyawarah Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)

KMNU Se-Indonesia Helat Musyawarah Nasional

Selain silaturahim dan konsolidasi, dalam Munas tersebut juga dibahas mengenai kesamaan visi-misi serta program-program KMNU yang selama ini belum ada sinergi. “Program-program KMNU selama ini hanya untuk internal kampus saja, belum ada program bersama secara nasional,” ujar Mujib.

KOKAM Tegal

Target peserta Munas adalah seratus orang yang berasal dari perwakilan kampus yang sudah memiliki KMNU seperti Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Universitas Gadjah Mada (UGM), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Indonesia (UI), dan kampus lainnya.?

KOKAM Tegal

Slamet Mujamil, anggota KMNU UNY mengatakan, Munas kali ini diharapkan bisa menguatkan jaringan antar KMNU di kampus-kampus. Harapannya, lanjut Slamet, KMNU juga bisa segera terbentuk di kampus-kampus luar Jawa agar jaringannya kian luas.

“Dengan KMNU ini, kita bisa menampilkan wajah Islam yang rahmatan lil ‘alamin, bukan menebarkan kebencian dan radikalisme di kampus,” tandas Slamet. (Anas/Fathoni)?

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Kiai, Sejarah, RMI NU KOKAM Tegal

Senin, 01 Januari 2018

Perda Madrasah Diniyah Ditolak, Ribuan Warga NU Turun Jalan

Jepara, KOKAM Tegal. Sekitar lima ribu massa dari Forum Masyarakat Peduli Pendidikan Diniyah (For-Madin) menduduki gedung DPRD Jepara, Rabu (9/1). Ribuan massa yang berkumpul dari gedung NU Jepara terdiri dari berbagai elemen, antara lain Qiroati, Yanbua, RMI, Lakpesdam, Ansor dan IPNU-IPPNU.

Dalam aksi longmarch dari gedung NU menuju gedung DPRD massa hendak menyampaikan aspirasi kepada dewan terkait digagalkannya Peraturan Daerah (Perda) Pendidikan Diniyah dalam rapat paripurna DPRD 26 Desember 2012 lalu. 

Perda Madrasah Diniyah Ditolak, Ribuan Warga NU Turun Jalan (Sumber Gambar : Nu Online)
Perda Madrasah Diniyah Ditolak, Ribuan Warga NU Turun Jalan (Sumber Gambar : Nu Online)

Perda Madrasah Diniyah Ditolak, Ribuan Warga NU Turun Jalan

“Digagalkannya Perda Diniyah merupakan bukti bahwa wakil rakyat kita tidak peka terhadap aspirasi masyarakat. DPRD Jepara telah mempermainkan agama untuk kepentingan politik mereka,” kata Achmad Makhalli koordinator umum aksi sembari membacakan testimoni suara masyarakat Jepara. 

KOKAM Tegal

Ranperda Diniyah merupakan perda inisiatif dari DPRD. Makhalli menyayangkan Ranperda yang diproses dan dikaji Panitia Khusus (Pansus) yang harapannya sesuai dengan kehendak rakyat malah ditolak sendiri oleh Pansus dan Fraksi di DPRD. 

KOKAM Tegal

“Ini artinya DPRD melakukan tindakan yang “sembrono” karena selain pemborosan anggaran juga berakibat kepada pendidikan diniyah di kabupaten Jepara,” sambung Makhalli. 

H Anas Arbaani dari PCNU mengungkapkan munculnya pro-kontra Ranperda dari masyarakat dan DPRD berdalih belum sempurna dan perlu disempurnakan maka masyarakat tidak perlu terkecoh. Masyarakat lanjut Anas yakin digagalkannya Ranperda tersebut berkiatan dengan pertarungan politik elit dan “kue politik” 2014. 

Karenanya, For-Madin, imbuh Anas, menyatakan sikap menolak politisasi agama untuk kepentingan sesaat, DPRD harus menghilangkan dikotomi pendidikan formal dan non formal, DPRD harus segera menyempurnakan dan mengesahkan Ranperda pendidikan diniyah paling lambat 31 Januari 2013 dan For-Madin akan melakukan pengawalan terhadap proses finalisasi Perda dan Pebup pendidikan Diniyah. 

Dalam aksi sebelum berjalan menuju gedung dewan diawali dahulu dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, pembacaan shalawat serta menyuarakan yel-yel. Didepan gedung dewan secara bergantian menyampaikan orasi dengan lagu, syiiran maupun suara nan lantang. 

“Hai wakil rakyat elengono naliko mlarat/ saiki wes sugih ojo nganti nekad/ ngelengono/ ngelengono besok bakal dadi tanggungan akherat.” Begitu salah satu syiir dari salah satu orator. 

Karena perwakilan dari For-Madin yang tak kunjung keluar akhirnya massa merangsek ke gedung dewan. Meski demikian aksi tidak diwarnai dengan anarkis melainkan doa bersama sekaligus mengakhiri aksi siang itu. 

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Syaiful Mustaqim

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Halaqoh, Kiai KOKAM Tegal

Minggu, 31 Desember 2017

Dukung Ayo Mondok, MWCNU Jatibarang Santuni 50 Yatim

Indramayu, KOKAM Tegal. Pengurus MWCNU Jatibarang kabupaten Indramayu memberikan santunan kepada anak yatim di depalan dari 15 ranting NU yang ada di Jatibarang, Kamis (16/7). Santunan ini diadakan sebagai bentuk tunjangan pendidikan anak yatim (Ayo mondok).

Dukung Ayo Mondok, MWCNU Jatibarang Santuni 50 Yatim (Sumber Gambar : Nu Online)
Dukung Ayo Mondok, MWCNU Jatibarang Santuni 50 Yatim (Sumber Gambar : Nu Online)

Dukung Ayo Mondok, MWCNU Jatibarang Santuni 50 Yatim

Penerima bantuan pendidikan ini berasal dari ranting NU Malangsemirang, Lohbener Lor, Krasak, Pawidean, Kebulen, Jatibarang Baru, Bulak Lor, dan Bulak Kidul.

Pihak MWCNU Jatibarang ke depan akan melakukan pemantauan, evaluasi, dan pendataan terkait jumlah anak yatim di seluruh ranting yang tersebar di Jatibarang. Data ini akan dipakai untuk menunjang program khusus pendidikan anak yatim (Ayo Mondok) yang telah dicanangkan MWCNU Jatibarang.

KOKAM Tegal

Pengasuh pesantren As-Salam Bulak ustadz Ahmad Ibnu Sya’roni menyambut baik dan menyatakan siap mendukung sepenuhnya program tahunan ini.

“Acara santunan jangan hanya seremoni tetapi harus menghasilkan program atau mendukung program yang telah ada. Semoga acara ini menjadi berkah bagi kita ‘Wong NU’ dan menjadi eskalator komunikasi antara Majelis Wakil Cabang NU Jatibarang, ranting, dan anak ranting secara khusus, dan secara umum bagi warga Nahdliyin,” kata Ustadz Sya’roni. (Dede Wahyudin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal

KOKAM Tegal Kiai, IMNU, Santri KOKAM Tegal

Jumat, 22 Desember 2017

Pakai Kursi Roda, KH Maimoen Zubair Tetap Berdiri Nyanyikan Indonesia Raya

Jombang, KOKAM Tegal. Ulama sepuh NU sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren al-Anwar Sarang, Rembang Jawa Tengah, KH Maimoen Zubair menghadiri undangan pembukaan Muktamar Ke-33 NU dipapah oleh kursi roda.

Namun demikian, kiai kelahiran 28 Oktober 1928 atau 86 tahun yang lalu ini dengan tegar memaksa diri untuk berdiri dari kursi roda yang memapahnya.

Pakai Kursi Roda, KH Maimoen Zubair Tetap Berdiri Nyanyikan Indonesia Raya (Sumber Gambar : Nu Online)
Pakai Kursi Roda, KH Maimoen Zubair Tetap Berdiri Nyanyikan Indonesia Raya (Sumber Gambar : Nu Online)

Pakai Kursi Roda, KH Maimoen Zubair Tetap Berdiri Nyanyikan Indonesia Raya

“Mau nangis melihat Kiai Maimoen Zubair yang berkursiroda memaksa berdiri untuk menyanyikan Indonesia Raya. #MuktamarNU,” tulis Alissa Wahid dalam akun twitter pribadinya, @AlissaWahid, Sabtu (1/8).

KOKAM Tegal

Bersama dengan ulama sepuh lain seperti KH M Tolchah Hasan, KH Nawawi Abdul Djalil, dan lainnya, Mbah Moen, sapaan akrabnya, nampak terbantu dengan tongkat yang dibawanya dalam menggerakkan badannya untuk berdiri.

Selain tamu undangan penting, puluhan ribu warga NU juga memadati Alun-alun Jombang. Di tempat pembukaan dan penutupan ini, berbagai macam stan juga berdiri selama gelaran Muktamar berlangsung sehingga Nahdliyin dapat dengan mudah mendapatkan informasi dan macam-macam produk ke-NU-an. (Fathoni)

?

KOKAM Tegal

Foto: Mbah Maimoen Zubair berdiri dari kursi rodanya saat menyanyikan Indonesia Raya di Pembukaan Muktamar Ke-33 NU.

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Hadits, Kiai KOKAM Tegal

Minggu, 17 Desember 2017

SMPN 2 Ende Beri Layanan Pendidikan Agama Tanpa Diskriminasi

Jakarta, KOKAM Tegal. Layanan pendidikan agama di sekolah yang sesuai dengan agama peserta didik merupakan amanah Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 tahun 2003. Layanan pendidikan agama harus diberikan oleh guru yang seagama dengan agama siswa. Sayangnya praktik layanan agama di sekolah di masyarakat masih ada pihak-pihak yang keberatan dalam pelaksanaanya. Tentu saja ini perlu mendapat perhatian negara terkait dengan hak-hak warga negara untuk mendapatkan layanan pendidikan agama sesuai dengan agama siswa. 

Kajian ini ingin melihat nuansa implementasi Undang-undang tersebut sekaligus kreativitas yang terjadi pada konteks masyarakat umat beragama tertentu. Daya dukung sosial dan budaya sangat menentukan di dalam pelaksanaan Undang-undang tersebut. Karenanya memahami konteks sosial dan budaya sekaligus proses yang terjadi dalam implementasi isi perundangan menjadi kajian yang menarik untuk dilakukan. Dalam konteks ini, kajian ini akan mengambil konteks sosial masyarakat Flores Nusa Tenggara Timur (NTT), khususnya di Kabupeten Ende sebagai Pusat Keuskupan di Provinsi tersebut.

SMPN 2 Ende Beri Layanan Pendidikan Agama Tanpa Diskriminasi (Sumber Gambar : Nu Online)
SMPN 2 Ende Beri Layanan Pendidikan Agama Tanpa Diskriminasi (Sumber Gambar : Nu Online)

SMPN 2 Ende Beri Layanan Pendidikan Agama Tanpa Diskriminasi

Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) diketahui sebagai daerah dengan penduduk yang mayoritas beragama Katholik. Jumlah mayoritas Katholik tidak hanya di Pulau Flores, tetapi di tingkat Provinsi pemeluk Katholik juga memiliki jumlah penganut yang terbanyak, yaitu 56,28 %. Di tingkat provinsi prosentase umat beragama secara berturut-turut Katolik (56,28 %), Protestan (34,21 %) dan Islam (9,28 %). Kenyataan ini menarik perhatian untuk dilihat praktik  layanan pendidikan agama pada sekolah di wilayah Pulau Flores.

Tahun 2016 Balitbang Diklat Kemenag melakukan penelitian dengan tujuan untuk mengetahui salah satu model layanan pendidikan agama di sekolah, khususnya layanan pendidikan terhadap pemeluk agama minoritas. Penelitian ini merupakan pelaksanaan dari jenis penelitian kualitatif, dengan pendekatan studi kasus. Sebagai kasus ditentukan pada lembaga pendidikan SMP N 2 Ende.   

Penelitian ini awalnya ingin mencari kasus pada lembaga pendidikan swasta yang berlatar belakang agama mayoritas setempat. Namun karena sekolah swasta yang berlatar belakang Katholik sesuai dengan agama mayoritas di Ende mengeluarkan kebijakan bahwa siapapun yang menimba ilmu di lembaga pendidikan tersebut harus menandatangani surat pernyataan kesediaan tidak menerima layanan pendidikan agama non Katolik, maka penelitian ini menyasar pada lembaga pendidikan berstatus negeri. Berikut beberapa penemuan dari penelitian tersebut.

KOKAM Tegal

Konteks sosial masyarakat Ende ada sekitar 75 % anak usia pendidikan dasar dan menengah yang menempuh pendidikan di Sekolah Katholik. Karena ada kebijakan bahwa di sekolah Katholik tidak memberikan layanan pendidikan agama kepada semua agama, maka terdapat banyak anak yang belum mendapatkan pendidikan agama sesuai dengan agama siswa.

Pada sekolah berstatus negeri, layanan pendidikan agama sesuai dengan agama siswa sudah mulai dilaksanakan. Contohnya pada SMP 2 N Ende dalam rangka mendukung layanan pendidikan agama sesuai dengan agama siswa, lembaga pendidikan tersebut mencoba merintis tempat ibadah bagi Katholik dan Muslim.

KOKAM Tegal

Ada sekolah swasta berlatar belakang Islam, yaitu sekolah Muhammadiyah yang muridnya banyak beragama Katolik dan Kristen yang tetap mendapatkan layanan pendidikan agama sesuai dengan agama siswa.

Dari kenyataan di atas, terdapat beberapa hal yang direkomendasikan dalam layanan pendidikan agama, yaitu setiap sekolah hendaknya memberikan layanan pendidikan agama sesuai dengan agama yang dianut oleh peserta didik. Kemudian sekolah yang berlatar belakang agama hendaknya tidak mewajibkan untuk mempelajari agama yang bukan peserta didik anut. (Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Kiai, PonPes KOKAM Tegal

Jumat, 15 Desember 2017

Warganet Didorong Cerdas dalam Bermedsos

Jakarta, KOKAM Tegal. Masyarakat internet atau warganet diimbau agar lebih cerdas menghadapi dunia media sosial. Jangan mudah terprovokasi dengan artikel atau gambar meme yang tersebar di media daring (online) dan medsos. 

Kepala Puslitbang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan (BALK) Balitbang Diklat Kemenag RI, Muharram Marzuki, menyampaikan hal tersebut saat membuka Seminar Hasil Penelitian ‘Persepsi Umat Beragama terhadap Keberagamaan di Era Media Sosial.’ Acara tersebut dihelat di Hotel Millenium Jakarta, Kamis (28/12).

Warganet Didorong Cerdas dalam Bermedsos (Sumber Gambar : Nu Online)
Warganet Didorong Cerdas dalam Bermedsos (Sumber Gambar : Nu Online)

Warganet Didorong Cerdas dalam Bermedsos

“Jangan pula alergi dengan medsos. Ada kawan yang curhat tentang artikel yang viral, ia merasa terganggu. Saya bilang, kalau tidak suka, jangan di-forward. Ngapain susah-susah," ujarnya.

Banyak orang terkena kasus, lanjut dia, gara-gara medsos. Misalnya kepala daerah atau tokoh masyarakat yang disorot media kemudian viral di medsos. “Arab Spring yang awalnya di Tunisia juga dipicu medsos. Jadi, kita mesti cerdas bermedsos,” jelasnya.

KOKAM Tegal

Menurut Muharram, ada pernyataan bahwa tidak semua informasi yang beredar di medsos itu bagus memang benar adanya. “Apapun berita yang kita terima, harus diklarifikasi terlebih dahulu,” tegasnya.

Pria kelahiran Jakarta ini menambahkan, riset tentang medsos tersebut dimaksudkan untuk memberi penyadaran bahwa info tentang agama yang beredar di dunia maya tidak semua benar.

“Bisa jadi itu dibuat untuk mengacaukan stabilitas masyarakat. Nah, lagi-lagi kita harus cerdas di sini. Saya berharap masyarakat lebih peduli terhadap persoalan di era digital,” turturnya.

Sebelumnya, Kabid Litbang Bimas Agama, Kerukunan, dan Aliran Keagamaan Puslitbang BALK, Kustini Kosasih, dalam laporannya berharap penelitian ini menghasilkan rekomendasi bagi satker terkait yakni Bimas-Bimas di lingkungan Kemenag dalam menyusun kebijakan.

“Namun, ini belum merupakan hasil final. Kami masih perlu menyempurnakannya menjadi sebuah policy paper dan policy brief untuk disampaikan kepada Pak Menag, sebelum digunakan para pemangku kepentingan (stakeholders),” tandasnya.

KOKAM Tegal

Sementara itu, koordinator riset Raudlatul Ulum Ruksin dalam paparannya menyebut penelitian tersebut dilakukan dua tahap, yakni, penyebaran kuesioner dan wawancara. Kuesioner diisi oleh 775 responden pemeluk enam agama di 20 kabupaten/kota.

“Responden dipilih secara acak di dalam kluster pemeluk agama di daerah tersebut yang dianggap merepresentasikan umat beragama di 10 provinsi,” kata Ulum.

Seminar menghadirkan dua narasumber, yakni Prof Ibnu Hamad (Guru Besar Komunikasi UI), dan Farhan Muntafa (Dosen Untirta Banten). Hadir dalam kegiatan ini puluhan undangan lintas unit eselon I, para peneliti, akademisi, dan perwakilan ormas keagamaan. (Musthofa Asrori/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Makam, Khutbah, Kiai KOKAM Tegal

Rabu, 13 Desember 2017

UU Kepemudaan Idealis, Tapi Tidak Realistis

Jakarta, KOKAM Tegal. Undang-undang (UU) No.40 tahun 2009 tentang Kepemudaan yang sudah disahkan oleh DPR RI bersama pemerintah (Kemengpora) pada September 2009 lalu ternyata masih menuai protes keras dari kalangan ormas kepemudaan sendiri, termasuk IPNU, PP GP Ansor, PMII maupun PBNU.

UU yang membatasi usia kelompok pemuda 16-30 tahun itu dinilai idealis, tapi tidak realistis, karena dari ratusan organisasi kepemudaan di Indonesia, usianya masih banyak yang lebih dari 40 tahun termasuk KNPI sebagai organisasi induk kepemudaan di Indonesia.

UU Kepemudaan Idealis, Tapi Tidak Realistis (Sumber Gambar : Nu Online)
UU Kepemudaan Idealis, Tapi Tidak Realistis (Sumber Gambar : Nu Online)

UU Kepemudaan Idealis, Tapi Tidak Realistis

“Bagi saya UU kepemudaan ini idealis, tapi tidak realitis, karena dari ratusan organisasi kepemudaan yang ada faktanya usia pimpinan mereka itu banyak yang lebih dari 40 tahun. Jadi, Bab I Pasal I dalam ketentuan umum UUini tidak realistis,” tandas Ketua PBNU Andi Jamaro Dulung dalam dialog publik “Desiminasi UU No.40 tentang Kepemudaan” bersama Panca Putra Hamzah (Deputi Menpora Bidang Pemberdayaan Pemuda-Kemenegpora) dan Ketua Umum IPNU Ahmad Syauqi di Gedung PBNU Jl. Kramat Raya, Jakarta Pusat, Selasa (23/2).

KOKAM Tegal

Karena itu lanjut mantan anggota Komisi I DPR RI dari FPPP ini, seharusnya sebelum disahkan UU kepemudaan itu melibatkan seluruh ormas dan organisasi kepemudaan (OKP) yang ada, sehingga dalam sosialisasinya langsung bisa diterima dan menjadi kotroversi.

KOKAM Tegal

Meski bagi NU sendiri di satu sisi bisa menguntungkan karena akan mengatur segmentasi badan otonom (banom) NU, tapi terbukti susah diterapkan. NU sendiri yang mambahas usia 40 tahun pun kata Andi Jamaro, malah ditentang oleh PP GP Ansor, karena mereka menginginkan 45 tahun.

Tapi, kalau sebatas organisasi kepemudaan pelajar dan mahasiswa UU ini menurut Andi Jamaro, wajar karena usia mereka memang antara 16-25 tahun. Namun, tidak demikian dengan mayoritas OKP yang lain. “Mestinya sebelum disahkan dulu, RUU ini diratifikasi dengan melibatkan seluruh ormas dan OKP, sehingga bisa diterima,” ujar Andi lagi.

Yang pasti kata Ahmad Syauqi, idealnya UU ini sebagai payung hukum untuk kepemudaan. Mengingat disamping secara kuantitatif jumlah penduduk Indonesia yang masuk kategori pemuda cukup besar.

Berdasarkan data BPS 2009 yang berusia 16-30 tahun mencapai 62.985.401 orang. Menurut catatan Menegpora ada 270.000 organisasi kepemudaan di Indonesia, sehingga dibutuhkan payung hukum kepemudaan tersebut.

“Semoga UU ini ke depan bisa bermanfaat dalam proses regenerasi di mana kaum muda sebagai agent of change-agen perubahan itu bisa segera terwujud,” tutur putra mantan Ketua PWNU Jatim, Ali Maschan Musa ini.

Yang pasti kata Panca Putra Hamzah, UU ini akan mulai berlaku tiga tahun setelah diundangkan, yaitu mulai tahun 2011. Meski dengan tegas ada batasan usia 30 tahun, namun kalau ada ormas dan OKP yang pimpinannya usianya lebih dari 30 tahun, hanya akan mendapat sanksi administratif, bukan sanksi pidana.

“OKP-nya pun nanti akan berubah menjadi ormas atau orpol. Dan, setelah diundangkan ini Kemengpora mendapat anggaran Rp 6 triliun untuk pembinaan pemuda di bawah 23 kementerian yang menangani berbagai bidang selain wirausaha, pertanian, olahraga dll,”ujar Panca mengingatkan.

Dikatakan, koordinasi kepemudaan dengan UU ini nantinya langsung oleh Presiden RI yang akan diatur melalui peraturan pemerintah (PP) bekerjasama dengan perguruan tinggi negeri dan sudah memberangkatkan 100 pemuda ke Jepang untuk pelatihan pembinaan pertanian. Juga akan dibangun gelanggang olah raga terpadu di setiap provinsi dengan melibatkan gubernur, bupati dan walikota seluruh Indonesia.

“Pertama pemerintah akan membangun gelanggang olahraga Bulungan dan gelanggang olahraga Kuningan di Jakarta,” tutur Panca Putra Hamzah. (mnf)Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Kiai KOKAM Tegal

Sabtu, 09 Desember 2017

Dari Permainan Kertas Lipat, Pemuda NU Boyolali Dilatih Kreatif

Boyolali, KOKAM Tegal - Dari hal yang sederhana, kita dapat belajar banyak hal. Seperti yang dilakukan para peserta Makesta IPNU-IPPNU Pengurus Komisariat (PK) SMK NU 2 Klego, Boyolali, Sabtu (26/11). Mereka dilatih untuk belajar berkreasi dengan sebuah alat yang sederhana, selembar kertas.

Tak hanya butuh kreatifitas, agar hasil kertas lipat mereka menjadi yang terbaik, masing-masing peserta yang dibagi dalam beberapa kelompok juga mesti kompak antara satu dengan yang lain. Pada akhirnya, dalam waktu 5 menit, terpilihlah satu karya terbaik.

Dari Permainan Kertas Lipat, Pemuda NU Boyolali Dilatih Kreatif (Sumber Gambar : Nu Online)
Dari Permainan Kertas Lipat, Pemuda NU Boyolali Dilatih Kreatif (Sumber Gambar : Nu Online)

Dari Permainan Kertas Lipat, Pemuda NU Boyolali Dilatih Kreatif

Usai menyelesaikan permainan lipat kertas tersebut, Ketua PK IPNU SMK Klego 2, Syarifudin menjelaskan makna dari permainan itu. “Yang kita harapkan dari permainan kita ingin kalian sadar akan pentingnya kebersamaan dan kreativitas dalam berorganisasi,” tukas Syarifudin.

KOKAM Tegal

Senada dengan apa yang diharapkan oleh Syarifudin, sebanyak 50 peserta Makesta yang diselenggarakan di Gedung NU Center ini juga digadang untuk menjadi pelajar yang siap untuk berkhidmat bersama IPNU.

“IPNU-IPPNU itu wadah kaum intelektual muda NU, khususnya di tingkatan pelajar. Khidmadkanlah diri kalian untuk benar-benar memiliki jiwa pelajar NU sesungguhnya,” kata Ketua PC IPNU Boyolali, Khamidurrohim memberikan semangat kepada anggota baru.

KOKAM Tegal

Selama beberapa hari terebut, para peserta juga mendapatkan berbagai materi seperti ke-IPNU-an, Aswaja dan lain sebagainya. (Ajie Najmuddin/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Kiai, Ubudiyah, Daerah KOKAM Tegal

Jumat, 08 Desember 2017

Sowan Pembina, GP Ansor Jati Diimbau Jaga Aset NU

Kudus, KOKAM Tegal. Puluhan pengurus Pimpinan Anak Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, mengadakan silaturahim lebaran kepada pembina dan tokoh NU wilayah setempat, Ahad malam (3/8). Saat di kediaman pembina Ansor KH. Hamdan Suyuti Desa Loram, mereka diimbau turut serta menjaga aset-aset NU.

Sowan Pembina, GP Ansor Jati Diimbau Jaga Aset NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Sowan Pembina, GP Ansor Jati Diimbau Jaga Aset NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Sowan Pembina, GP Ansor Jati Diimbau Jaga Aset NU

Dalam pesannya KH Hamdan mengatakan, Nahdlatul Ulama di berbagai tingkatan memiliki banyak aset yang harus diselamatkan, seperti masjid, mushala dan beberapa tanah yang diwakafkan untuk kemaslahatan.

“Aset tersebut harus dijaga, jangan sampai hilang. Jika bisa dibuatkan sertifikat NU,” ujarnya.

KOKAM Tegal

KH Hamdan mengakui kelemahan NU dan badan otonom terlihat pada pengarsipan dokumentasi maupun administrasi. Oleh karena itu harus segera dilakukan pembenahan sehingga aset NU bisa aman dan terdata dengan baik.

“Termasuk makam-makam harus segera dibuatkan sertifikat dan diberi nama makam Islam,” harap mantan Ketua PC GP Ansor Kudus era tahun 90-an ini.

KOKAM Tegal

Sementara menurut penuturan Sekretaris PAC GP Ansor Jati Eko Budi Setiawan, kunjungan ke sejumlah tokoh NU ini banyak memperoleh manfaat berupa masukan saran, dan informasi untuk kemajuan organisasi.

Dikatakan, ragam persoalan yang terjadi di masyarakat seperti ISIS maupun prilaku umat menjadi topik perbincangan yang hangat. “Yang jelas? silaturahim ini penuh makna demi kemajuan organisasi NU maupun Ansor sendiri,” imbuhnya.

Ia menerangkan, momentum idul fitri ini mampu mempererat silaturahim dan memperkuat? komponen organisasi untuk selalu berperan aktif di masyarakat. “Dalam berorganisasi sering kali ada perbedaan, tetapi kita harus tetap jaga komitmen demi keutuhan generasi muda NU,” tutur Eko. (Qomarul Adib/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Kiai KOKAM Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs KOKAM Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik KOKAM Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan KOKAM Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock