Tampilkan postingan dengan label Sholawat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sholawat. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 Maret 2018

UNU Sidoarjo dan Kemenristekdikti Jalankan Layanan Pusat Karir

Sidoarjo, KOKAM Tegal

Dalam rangka mempersiapkan mutu lulusan, Universitas NU (UNU) Sidoarjo telah memastikan diri dengan barbagai kegiatan di antaranya dengan mengikuti seleksi Proposal Hibah Pusat Karir di Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) pada April 2016.

Irviandi Yudhotomo, dosen UNU Sidoarjo yang mengikuti seleksi tersebut menjelaskan, Hibah Pusat Karir merupakan program dari Kemenristekdikti untuk peningkatan kualitas lulusan di sebuah perguruan tinggi. Selain itu, program Pusat Karir dapat diikuti mahasiswa tanpa ada batasan semester dan jurusan.? ?

UNU Sidoarjo dan Kemenristekdikti Jalankan Layanan Pusat Karir (Sumber Gambar : Nu Online)
UNU Sidoarjo dan Kemenristekdikti Jalankan Layanan Pusat Karir (Sumber Gambar : Nu Online)

UNU Sidoarjo dan Kemenristekdikti Jalankan Layanan Pusat Karir

Artinya, apapun jurusannya dan berapapun semesternya, bagi mahasiswa yang memiliki nilai tambah berupa bakat dan minat selain jurusan yang diambil dapat dimaksimalkan potensinya di Pusat Karir. Selain itu juga untuk pematangan dan pemetaan karir melalui program Karir Kompas yang dijalankan sebelum mereka lulus.

KOKAM Tegal

"Jadi mahasiswa yang memiliki potensi lain selain jurusan yang dia ambil bisa dimaksimalkan melalui program Pusat Karir," ujar dosen yang akrab disapa Pak Irviandi itu, Senin (9/5). ?

Ia menambahkan, dengan adanya hibah tersebut peluang mahasiswa UNU Sidoarjo dalam mengembangkan karir dapat dimulai sebelum mereka lulus. Selain itu, program tersebut juga membantu mahasiswa mengurangi masa tunggu masuk dunia kerja setelah lulus –permasalahan yang masih terjadi pada lulusan perguruan tinggi.

KOKAM Tegal

Berdasar pada Nota Perjanjian Pelaksanaan Pekerjaan Bantuan Pengembangan Layanan Pusat Karir 2016 Nomor: 642.172/B3.4/KM/PK/2016 tertanggal 25 April 2016, UNU Sidoarjo bersama Kementerian Ristekdikti akan melakukan sederetan program pembinaan karir mahasiswa selama 6 bulan. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Sholawat, Khutbah, PonPes KOKAM Tegal

Senin, 12 Februari 2018

Lailatul Ijtima’ Simpul Kerekatan Warga Banyudono

Boyolali, KOKAM Tegal. Kegiatan lailatul ijtima’ yang digelar rutin Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) kecamatan Banyudono kabupaten Boyolali, Jawa Tengah menjadi ajang silaturahim antarwarga NU. Lailatu ijtima’ juga menjadi wadah perekatan NU dengan masyarakat setempat.

“Kegiatan Lailatul Ijtima’ ini kita harapkan bisa menjadi ajang anjangsana dari satu desa ke desa. Sehingga, NU bisa dikenal di tiap desa,” terang Ketua MWCNU Banyudono Zainal Arifin di desa Surobayan Banyudono, Selasa (24/12).

Lailatul Ijtima’ Simpul Kerekatan Warga Banyudono (Sumber Gambar : Nu Online)
Lailatul Ijtima’ Simpul Kerekatan Warga Banyudono (Sumber Gambar : Nu Online)

Lailatul Ijtima’ Simpul Kerekatan Warga Banyudono

Menurutnya, silaturahim ini juga dapat menyinergikan program NU dan kepentingan masyarakat. Zainal menambahkan, lailatul ijtima’ dilanjutkan dengan program pembentukan ranting di tiap desa.

KOKAM Tegal

Kesempatan itu juga diisi dengan kajian kitab Tafsir Showi yang disampaikan Rais Syuriah Banyudono KH Asikin.

KOKAM Tegal

Kiai Asikin yang menerangkan kandungan surah al-Fatihah, menekankan pentingnya surah ini. “Diusahakan kita bisa membacanya dengan benar, sebab surah ini menjadi salah satu rukun dalam shalat,” tuturnya.

Dia menganjurkan warga NU untuk membenahi kemabli bacaan surah al-Fatihah. Penting untuk mereka kembali belajar kepada seorang guru yang memiliki ilmu tajwid. (Ajie Najmuddin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Kyai, Sholawat KOKAM Tegal

Minggu, 04 Februari 2018

Dua Jenazah Kiai NU Madura Ini Dikebumikan Bersamaan

Sumenep, KOKAM Tegal - Jenazah KH Ahmad Basyir AS dan KH Mannan Fadhaly bakal dikebumikan secara bersamaan. Keduanya akan dimakamkan pada pukul 14.00 WIB atau pukul 2 siang, Sabtu (15/7). Kendati demikian, dua kiai yang sama-sama Rais Syuriyah PCNU Sumenep dan PCNU Pamekasan ini dikebumikan di lokasi yang berbeda.

Kiai Basyir dimakamkan di pasarean keluarga besar Pesantren Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep. Sementara Kiai Mannan dimakamkan di area Pesantren Miftahul Qulub, Polagan, Galis, Pamekasan.

Dua Jenazah Kiai NU Madura Ini Dikebumikan Bersamaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Dua Jenazah Kiai NU Madura Ini Dikebumikan Bersamaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Dua Jenazah Kiai NU Madura Ini Dikebumikan Bersamaan

"Semula Kiai Basyir direncanakan bakal dikebumikan usai Ashar. Tapi ada perubahan rencana, yakni dimajukan ke pukul 14.00 WIB," KH Muhammad Mushthafa selaku bagian dari keluarga besar Annuqayah.

KOKAM Tegal

Sebelumnya diberitakan, Kiai Basyir dan Kiai Mannan wafat Sabtu (15/7) pagi. Kiai Mannan mengembuskan nafas terakhir di RSUD Pamekasan. Sedangkan Kiai Basyir wafat di Rumah Sakit Islam Jemursari Surabaya setelah sebelumnya menjalani perawatan sejak Selasa (4/7) lalu.

KOKAM Tegal

Saat ini, ribuan alumni sudah memadati kompleks Pesantren Annuqayah. Mereka berdatangan dari berbagai penjuru Indonesia, khususnya di daerah Jawa Timur. (Hairul Anam/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Sholawat KOKAM Tegal

Rabu, 24 Januari 2018

Venezuela Siapkan Pasukan Hadapi Peperangan Melawan AS

Caracas, KOKAM Tegal. Pemerintah Venezuela kini sedang bersiap menerapkan sejumlah strategi untuk menghadapi peperangan dengan Amerika Serika (AS). Strategi apakah itu?

Presiden Venezuela Hugo Chaves, Minggu (24/6), mendesak tentaranya untuk menyiapkan perang gaya gerilya melawan AS, dan mengatakan pemerintah AS saat ini sedang menggunakan peperangan psikologi dan ekonomi sebagai bagian dari kampanye yang tak lazim guna merongrong pemerintahannya.

Venezuela Siapkan Pasukan Hadapi Peperangan Melawan AS (Sumber Gambar : Nu Online)
Venezuela Siapkan Pasukan Hadapi Peperangan Melawan AS (Sumber Gambar : Nu Online)

Venezuela Siapkan Pasukan Hadapi Peperangan Melawan AS

Dengan mengenakan pakaian warna hijau pudar dan baret merah, Chaves menyampaikan pidatonya di Tiuna Fort, pusat militer Venezuela, sebelum ratusan pasukan berseragam berbaris di samping kendaraan bersenjata dan tank yang dihiasi dengan sejumlah baner bertuliskan: "Tanah Air, Sosialisme, atau Mati! Kita Akan Menang!"

KOKAM Tegal

"Kita harus terus mengembangkan perang resistensi, yaitu senjata anti-imperialis. Kita harus berpikir dan menyiapkan perang resistensi setiap hari," terang Chaves, yang berulang kali mengingatkan bahwa pasukan AS bisa menginvasi Venezuela guna mengontrol cadangan minyak yang luar biasa di negara Amerika Selatan itu.

KOKAM Tegal

Para pejabat AS menolak klaim bahwa Washington sedang merencanakan sebuah serangan militer. Namun, pemerintah AS mengungkapkan keprihatinannya atas apa yang ia persepsi sebagai sebuah kekuatan militer yang signifikan.

Chaves, sahabat karib Pemimpin Kuba Fidel Castro, mengingatkan kepada "TNI"nya bahwa Washington sedang mencoba memperlemah dan memecahbelah rakyat Venezuela, termasuk angkatan bersenjatanya, tanpa melalui pertempuran.

"Ini bukanlah peperangan senjata," kata Chaves, mantan pejabat militer yang memimpin sebuah gerakan yang dikenal dengan "Rovolusi Bolivarian," sebauh gerakan sosialis setelah pahlawan kemerdekaan Simon Bolivar. "Saya juga sedang menunjuk peperangan psikologi, peperangan media, peperangan politik, dan peperangan ekonomi."

Di bawah pemerintahan Chaves, Venezuela belakangan ini telah membeli perlengkapan senjata dari Rusia senilai 3 milyar dolar, termasuk 53 helikopter militer, 100.000 senapan Kalashnikov, dan 24 pesawat tempur jenis SU-30 Sukhoi.

Pekan lalu, Chaves mengungkapkan, pihaknya juga berencana membeli sejumlah peralatan perang lainnya seperti kapal selam dan sebuah sistem pertahanan udara yang dilengkapi misil, saat ia bersiap melakukan kunjungan ke sejumlah negara seperti Rusia, Belarusia, dan Iran.

"Kami sedang memperkuat kekuatan militer Venezuela secara tepat untuk menghindari agresi-agresi imperial dan menjamin keamanan, bukan untuk menyerang setiap orang," kata Chaves, seperti dilansir sumber AP. (dar)Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Lomba, Sholawat KOKAM Tegal

Kamis, 04 Januari 2018

Gerakan Shalawat Jamrud Lider

Selepas dibentuk secara resmi kepengurusan pada medio 2010 Jamaah Rutin Simthud Durar Lintas Daerahtau? Jamrud Lider mulai berbenah dan menggorganisir diri hampir se eks Karsidenan Banyumas meliputi Kab Purbalingga, Banjarnegara, Wonosobo dan Cilacap. Sehingga semakin dicintai umat.

Acara Jamrud Lider pada hari Sabtu 5 Mei 2013 di Selakambang Kec Kaligondang Kab Purbalingga, Jawa Tengah berlangsung sangat meriah puluhan ribu jamaah warga Nahdliyin yang datang dari pelbagai penjuru wilayah Kab Purbalingga dan sekitarnya memadati area lapangan desa setempat.?

Gerakan Shalawat Jamrud Lider (Sumber Gambar : Nu Online)
Gerakan Shalawat Jamrud Lider (Sumber Gambar : Nu Online)

Gerakan Shalawat Jamrud Lider

Mereka datang baik sendiri-sendiri maupun berjamaah, abaik berjalan kaki maupun naik kendaraan roda dua dan roda empat hadir di acara jama’aah rutin Simthud Durar lintas daerah yang digelar tiap hari Sabtu Pon malam Ahad Wage.

Selepas shalat isya, jamaah mulai berdatangan dan menempati tempat duduk beralaskan tikar atau terpal yang disediakan panitia, ada sekitar 50 terpal digelar di area lapangan sepak bola dan jamaah benar-benar tumplek blek memadati tempat digelarnya pembacaan maulid Simthud Durar maha karya habib Ali bin Husein Al Habsyi itu.

KOKAM Tegal

KOKAM Tegal

Keindahan sastra maulid, riwayat kelahiran Nabi Muhammad SAW itu memang belakangan ini menjadi sebuah acara tontonan sekaligus tuntunan yang menarik dan diminati oleh masyarakat Indonesia, terlebih di wilayah Kab Purbalingga.?

Selepas dibentuk secara resmi kepengurusan Jamaah rutin pada medio 2010, di Bukateja dengan pengijazahan secara ‘am (umum) oleh Habib Alwi bin Ali bin Alwi Al Habsyi, jamrud lider mulai berbenah dan menggorganisir diri hampir se eks Karsidenan Banyumas meliputi Kab Purbalingga, Banjarnegara, Wonosobo dan Cilacap.

Terlebih iringan kelompok rebana jamrud yang hampir pasti menyeluruh di masing-masing kecamatan mereka mengasah diri untuk tidak sekedar membaca kisah maulid Simthud Durar namun juga kasidah-kasidah yang ada di dalamnya. Kemasan iringan rebana dan dipadu suara yang rampak dari para munsyid Jamrud mampu mengundang ribuan jamaah baik anak-anak, sampai orang tua , laki-laki perempuan untuk menghadiri acara pengajian jamrud tiap bulan dan berpindah-pindah tempat dan pembicara ternama dari Ibukota ataupun dai –dai yang biasa tampil di depan televisi maupun khalayak umum.?

Mereka seperti syechermania bagi jamaah Habib Syech bin AbdulQodir Asegaf (Solo) atau Jamuro (KH Abdul Karim-Solo). Begitu acara dimulai, lantunan shalawat disambut dengan gerakan tangan atau bendera dari berbagai majlis taklim, taman pendidikan Al Quran, bendera Ansor , Nahdlatul Ulama, Muslimat dan jamaah-jamaah pengajian yang tersebar se-eks kars Banyumas.?

Barisan muda Ansor bertidak sebagai panitia mulai dari area parkir , mengatur jalan raya bekerja sama dengan aparat keamanan setempat sampai mengamankan tempat acara. Kebetulan pada hari Sabtu beberapa waktu yang lalu, di awal bulan Mei 2013 yang mengisi pengajian adalah KH Mudatsir Idris dari Jatilawang, Banyumas.

Acara pembacaan maulid Simthud Durar dibuka dengan pembacaan kalam ilahy oleh ustadz Zamzami Suyuthi berlanjut dengan sambutan pembuka oleh Habib Ali bin Umar al Quthban, pembina Jamrud Lider se-eks Karsidenan Banyumas.?

“Tidak ada tujuan lain dari Jamrud Lider, semata-mata adalah pengajian sebagai latihan untuk mencintai rasulullah SAW, tidak ada dukung-mendukung partai politik.Yang ada adalah cara untuk mencintai Rasulullah melalui pengajian shalawatan,” kata Habib Ali in Umar Al Quthban kepada jamaah.?

Dilanjutkan, “Setiap ada pengajian tidak hanya pembacaan Simthud Durar, namun juga mengundang mubalig. Jamaah mengekpresikan kepada kepada Rasulullah SAW, jamaah tidak boleh berjoged, bendera boleh berkibar . Selama pembacaan Simthud Durar, jamaah tidak boleh merokok. Selepas pembacaan Simthud Durar, dibacakan juga Aqidahtul awwam(Aqidahnya orang awam). Sebab sekarang banyak orang mengaku orang berakidah ahlussunnah wal jamaah, namun tidak hafal nabinya dan malaikatnya.”?

Redaktur ? ? : A. Khoirul Anam

Kontributor: Aji Setiawan

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Lomba, Sholawat KOKAM Tegal

Benarkah Narkoba Masuk Pesantren?

Oleh KH Ahmad Ishomuddin

Miris rasanya mendengar berita TV dan media cetak bahwa Komjen Budi Waseso (Kepala BNN) berencana mengumpulkan kiai dari seluruh Indonesia sebagai tindak lanjut dari adanya penyalahgunaan narkoba di pesantren di Jawa Timur. Saya berharap, mudah mudahan ucapan baik itu bukan untuk motif-motif politik yang tersembunyi.

Kepala BNN tentu tidak asal terima berita dan tidak asal membuat statemen yang bisa meresahkan umat Islam Se-Indonesia, khususnya warga NU, kepada lembaga pendidikan mana lagi umat Islam menyerahkan pendidikan putra putrinya jika benteng moral pondok-pondok pesantren justru runtuh dan berhasil dimasuki oleh sindikat narkoba?

Benarkah Narkoba Masuk Pesantren? (Sumber Gambar : Nu Online)
Benarkah Narkoba Masuk Pesantren? (Sumber Gambar : Nu Online)

Benarkah Narkoba Masuk Pesantren?

Sungguh menyedihkan jika pernyataan itu terbukti benar adanya, mengingat bahwa seluruh santri dan para kiai adalah manusia yang paling menjauhi minuman keras (miras), apalagi sampai menyalahgunakan narkoba, rasa-rasanya sebuah tuduhan dan rasa kuatir berlebihan yang jauh panggang dari api. Pondok pesantren selama ini adalah lembaga pendidikan agama Islam yang sudah terbukti dan berhasil mencetak generasi bangsa yang religius, berakhlak mulia dan punya jiwa nasionalisme yang tinggi.

Komjen Budi Waseso selaku Kepala BNN harus bisa membuktikan siapa kiai, santri dan tunjukkan pesantren mana di Jawa Timur yang menyalahgunakan narkoba. Berita tersebut tidak perlu dibesar-besarkan sehingga seolah penyalahgunaan narkoba di dunia pesantren sudah demikian massif. Sebab, pasti tidak masuk akal jika main pukul rata bahwa semua pesantren "dicurigai" atau dikuatirkan akan menjadi pusat peredaran narkoba yang oleh karenanya para kiai dari seluruh Indonesia perlu dikumpulkan.

Justru seluruh jajaran pemerintah, seperti Polri, Dirjen Bea Cukai dan lain-lain termasuk BNN sebagai leading sector nasional harus lebih optimal dan serius bekerja untuk mencegah dan memberantas maraknya produksi dan peredaran narkoba di seluruh Indonesia. BNN bersama Polri seharusnya lebih fokus dan rutin menangani dengan lebih tegas dan keras sindikat-sindikat atau mafia besar narkoba yang kini sudah memasuki fase paling membahayakan seluruh anak bangsa. Penegakan hukum harus lebih serius dan hukuman yang berefek jera wajib dijatuhkan kepada siapa pun--tanpa pandang bulu dan tebang pilih--yang terbukti memproduksi, mengedarkan atau menyalahgunakan narkoba.?

KOKAM Tegal

Pasti kita semua sepakat bahwa penyalahgunaan narkotika dan obat-obatan terlarang (narkoba) adalah musuh bersama dan karenanya menjadi tanggungjawab bersama. Perlu komitmen bersama yang bersifat nasional untuk lebih serius bekerjasama untuk mengoptimalkan pemberantasan narkoba.

Saya, sebagai Rais Syuriah PBNU, masih yakin seyakin-yakinnya, bahwa para santri dan para kiai di seluruh Indonesia terus bersatu menjadi benteng keutuhan NKRI yang mampu melindungi diri sendiri keluarga dan masyarakatnya dari serangan bertubi sindikat dan mafia narkoba. Saya percaya, Komjen Budi Waseso akan bekerjasama dan akan terus berkoordinasi untuk memberantas narkoba berdasarkan skala prioritas, memberantas tuntas yang kelas kakap hingga yang kelas teri tanpa tebang pilih.

Kepala BNN boleh mencemaskan isu masuknya sindikat narkoba ke dunia pesantren, tetapi tidak boleh dengan kecemasan yang berlebihan.

Selamat bertugas berat Bapak Komjen Budi Waseso, semua kiai tahu bahwa tugas nahi? anil munkar? (mencegah kemungkaran) itu jauh lebih berat dan beresiko dibandingkan sekedar? amru bil ma’ruf? (memerintahkan kebajikan).



KOKAM Tegal



Penulis adalah Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU)





Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Ubudiyah, Sholawat, Kajian KOKAM Tegal

Selasa, 02 Januari 2018

Pembual Garis Keras

Oleh Ahmad Ishomuddin

Carut marut kehidupan umat manusia beragama saat ini banyak disumbang oleh para penceramah yang pengetahuan agamanya dangkal,? karena diperoleh secara instan dan tanpa sanad keilmuan (transmisi periwayatan)? yang jelas.

Pembual Garis Keras (Sumber Gambar : Nu Online)
Pembual Garis Keras (Sumber Gambar : Nu Online)

Pembual Garis Keras

Para alumni "pesantren kilat" tersebut punya hobi menyampaikan ceramah agama bernada kekerasan,? hantam sana hantam sini,? kritik sana kritik sini, sambil meneriakkan pentingnya memusuhi siapa saja yang tidak satu alur fikrah (pemikiran,? ide) atau memusuhi benda-benda apa saja dari produk orang-orang? kafir. Tujuan pokok dari "bualan"-nya itu tiada lain kecuali mencari pengaruh,? memperbanyak pengikut,? dan memperkaya diri.

Dalam berpenampilan sehari-hari mereka menonjolkan keakuan,? bukan kekitaan,? menonjolkan ciri-ciri klaim kebenaran apa saja? yang bisa membedakan kelompoknya dari komunitas lainnya. Warna kopiah hitam pun yang sudah mentradisi tidak selamat dari gunjingan mereka karena juga dipakai "orang kafir" sehingga wajib diganti dengan kopiah haji berwarna putih karena hanya itulah yang islami.

KOKAM Tegal

Cara berpakaiannya pun harus seperti orang Arab asli karena berpakaian sesuai kebiasaan umumnya orang Indonesia itu tidaklah berpakaian syari. Mungkin mereka menyangka bahwa untuk menjadi Muslim dalam segala hal wajib sama dengan orang-orang Arab.

KOKAM Tegal

Padahal kini banyak masyarakat Arab yang agamanya juga beragam itu berwatak pasir seperti alamnya yang gersang tandus berpadang pasir, yakni sulit untuk dipersatukan satu sama lain karena tidak memiliki "semen pemersatu" Bhinneka Tunggal Ika seperti di Indonesia.

Kegemaran pembual garis keras adalah dengan mudah? mengkafirkan sesama kaum Muslim hanya karena beda penafsiran. Selain itu,? mereka juga bertindak sebagai hakim pemberi vonis apabila suatu amalan tidak sesuai dengan apa yang mereka lakukan pasti dibidahkan,? bahkan hingga persoalan fiqh yang dipenuhi khilafiyah (perbedaan pendapat ulama mujtahid)? pun terburu-buru disesatkan.

Mungkin mereka menyangka bahwa untuk menjadi Muslim sejati harus punya ciri-ciri keislaman yang seragam seperti dalam tampilan fisik wajib berjidat hitam sebagai atsarussujud (tanda bekas sujud) dan wajib tampil dengan ciri pembeda dari Muslim lain yang bukan kelompoknya.

Untuk menyampaikan dakwah Islam mereka lebih nyaman menempuh jalan kekerasan karena lebih berdaya paksa dan lebih menunjukkan superioritas atas Muslim lain,? lebih-lebih terhadap non Muslim yang dianggapnya "musuh abadi", bukan saudara sesama manusia sebangsa yang wajib dihormati dan juga harus dijamin keamanannya.

Dalam mengkritik kebijakan pemerintah yang sedang berkuasa pun para pembual garis keras itu sering mengabaikan sopan santun,? melecehkan, dan tanpa memahami duduk perkara yang sesungguhnya. Mereka menempatkan penguasa sebagai "thaghut" syetan-iblis yang terkutuk,? seperti sedang menghadapi Firaun yang dengan angkuhnya mengaku sebagai tuhan yang maha tinggi, sedangkan seolah-olah para juru dakwah "pembual" garis keras itu merasa lebih hebat dari Nabi Musa dan Nabi Harun alaihimassalam yang telah menyampaikan kebenaran dengan penuh kelemah-lembutan.

Padahal menurut al-Imam Abu al-Laits al-Tsamarqandi (wafat: 393 H.) dalam Bustan al-Arifin halaman 103, seorang pemberi nasehat haruslah bersikap rendah hati,? lemah lembut,? tidak sombong,? keras atau kasar,? karena rendah hati dan lemah lembut adalah akhlak Nabi shalla Allahu alaihi wa sallama.

Sedangkan al-Imam al-Ghazali (lahir: 450 H.,? wafat: 505 H.) dalam al-Adab fi al-Din halaman 92-93, mengimbau agar setiap juru dakwah meninggalkan sikap sombong dan senantiasa menjaga rasa malu kepada-Nya. Selalu menampakkan rasa membutuhkan kepada Sang Pencipta.? Senantiasa terdorong untuk memberikan manfaat kepada para pendengar,? instropeksi diri untuk mengetahui kekurangan.?

Memandang para pendengar dengan pandangan bersahabat,? berprasangka baik terhadap mereka,? membimbing mereka agar mau menjaga diri,? lemah lembut dalam mendidik,? bersikap halus terhadap para pemula,? dan nasihat yang disampaikan harus benar-benar meyakinkan agar manusia bisa mengambil manfaat dari apa yang disampaikan.

Semoga kita tidak menjadi pembual dalam urusan agama,? lebih-lebih pembual garis keras,? untuk tujuan memperoleh keuntungan duniawi.



Penulis adalah Rais Syuriyah PBNU



Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Sholawat, Internasional, Kajian Islam KOKAM Tegal

Kamis, 28 Desember 2017

Kiai Kharismatik Hanya Minta Dirawat di RSNU

Banyuwangi, KOKAM Tegal. Nahdliyyin Banyuwangi dirundung duka. Pasalnya, seorang ulama besar nan kharismatik, Kiai Nasruddin Zaini, wafat, Senin dini hari (4/2).?

Pengasuh pesantren Nurul Huda, Dusun Semalang, Desa Sumbersari, Kec. Srono, Kabupaten Banyuwangi itu, meninggal dunia akibat sesak nafas yang akut.?

Kiai Kharismatik Hanya Minta Dirawat di RSNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Kharismatik Hanya Minta Dirawat di RSNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Kharismatik Hanya Minta Dirawat di RSNU

Yang menarik, sejak sesak nafasnya kambuh Sabtu lalu, Kiai Nasruddin minta kepada anak-anaknya untuk dirawat di Rumah Sakit Nahdlatul Ulama (RSNU), Desa Mangir, Kecamatan Rogojampi. Di rumah sakit milik NU Banyuwangi itulah, Kiai Nasruddin dirawat. Walaupun sesungguhnya, ia harus diopname tapi masih minta pulang karena ingin menemui tamu di rumahnya. Akhirnya permintaan itupun dikabulkan. Setelah menemui tamunya, Kiai Nasruddin pun kembali dibawa ke RSNU. Namun karena kondisi kesehatannya semakin memburuk, ia akhirnya dirujuk ke RSUD Genteng.?

KOKAM Tegal

Hanya beberapa menit berselang, Kiai Nasruddin menghembuskan nafasnya yang terakhir. “Sekitar ? tiga menit di RSUD, abah wafat,” tutur Gus Faisol, putra sulung almarhum.

KOKAM Tegal

Gus Faisol menambahkan, almarhum sangat memperhatikan dan mencintai NU. Bahkan, katanya, jika ia harus berhubungan dengan rumah sakit, maka yang dipilih tetap RSNU. Hal itu sebagai bentuk kecintaannya kepada NU.?

“Kata Abah, saya orang NU. Cuma mau dirawat di rumah sakit NU,” jelas Gus Faisol menirukan kata-kata ayahnya.

Kepergian Kiai Nasruddin mengundang perhatian banyak kalangan. Tak kurang dari Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas, hadir ke rumah duka. Ketua dan Rais Syuriah PCNU Banyuwangi, H Masykur Ali dan KH Hisyam Syafaat serta puluhan tokoh NU dan anggota DPRD juga turut hadir memberikan ungkapan bela sungkawa.

Kiai Nasruddin wafat di usia 65 tahun, meninggalkan 8 orang anak. Ia dimakamkan di kompleks pemakamann keluarga.

Redaktur ? ? : Mukafi Niam

Kontributor: Aryudi A Razaq?

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Jadwal Kajian, Sholawat KOKAM Tegal

Rabu, 20 Desember 2017

Melawan Narasi ISIS

Oleh Azis Anwar Fachrudin?



Bagaimana melawan ISIS secara kultural agar upaya mencegah berkembangnya bibit-bibit kekerasan dan terorisme atas nama agama bukan hanya agenda pemerintah tapi juga publik secara umum? Jawabannya tak lain adalah dengan mengidentifikasi ideologi dan melawan narasi yang dibangun ISIS. Dalam hal ini, ada dua jenis narasi ISIS yang patut diidentifikasi: narasi ideologis dan narasi politis.

Ideologi penting karena ia punya kontribusi sepertiga, kalau bukan malah setengah, dari faktor yang? berkontribusi terhadap kemunculan ISIS. Dalam studi agama dan kekerasan (religious violence), biasanya dikaji tiga faktor yang ketika terakumulasi akan membuat (pemeluk) agama mengalami “radikalisasi” dan rentan memilih jalan kekerasan: (1) ideologi; (2) sosial-ekonomi-psikologi; dan (3) faktor yang dikembangkan dalam teori gerakan sosial, yaitu “struktur kesempatan politik” (political opportunity structure).

Melawan Narasi ISIS (Sumber Gambar : Nu Online)
Melawan Narasi ISIS (Sumber Gambar : Nu Online)

Melawan Narasi ISIS

Hanya saja, dalam kasus ISIS faktor kedua tampaknya kurang begitu berpengaruh—meski tak berarti tak ada sama sekali. Banyak pasukan asing ISIS justru berasal dari Eropa, yang jauh lebih banyak jumlahnya jika dibanding Indonesia. Tak sedikit pula dari mereka yang bergabung dengan ISIS justru berasal dari kalangan menengah bahkan kaum muda terdidik. Artinya, mereka yang bergabung ini bukan dari kelas sosial marginal atau ekonomi bawah.

Karena itu, di samping ideologi, faktor lain yang kuat berpengaruh adalah struktur kesempatan politik. Analisis tentang ini bertesis bahwa pilihan untuk mendukung dan/atau melakukan kekerasan sangat bergantung pada gelanggang aksi (“repertoire”) yang dikondisikan oleh konteks politik setempat. ISIS bisa tumbuh subur karena diamplifikasi konteks politik tempat lahirnya: rezim Suriah yang represif (setidaknya bagi kaum pemberontak/oposisi), rezim Irak yang dipandang loyalis Saddam dan beberapa kelompok Sunni sebagai sektarian, dan kondisi politik setempat yang kacau-balau (chaotic) sebagai imbas dari fenomena yang disebut “Musim Semi Arab” (ar-Rabi’ al-‘Arabiy). Tamsilnya kira-kira seperti pegas: semakin suatu rezim politik menekan kuat ke bawah, daya balik ke atas untuk memberontak semakin kuat dan pilihan untuk melakukan kekerasan semakin terjustifikasi.

KOKAM Tegal

Hal yang terakhir ini turut menjadi penjelesan mengapa pasokan jihadis ISIS dari Indonesia, sebagai negara (relatif) demokratis dengan penduduk Muslim terbesar sedunia, sebenarnya sangat sedikit bila dibanding negara-negara mayoritas Muslim lainnya. Penjelasan inilah yang belum lama diangkat dan diulas dalam “Why are so few Indonesians joining the Islamic State” (www.theatlantic.com).

Mengamini penjelasan ini, semakin suatu rezim represif dan kondisi politik kacau-balau, potensi untuk munculnya ISIS dan gerakan serupa semakin besar. Karen itu, Indonesia selayaknya menjaga alam demokrasi agar aspirasi bisa tersalurkan melalui jalan yang beradab dengan, tentu saja, tetap menjaga kekuatan pengawal keamanan dan keterjaminan kebebasan sipil.



Wahhabisme dan Qutbisme

KOKAM Tegal

Terkait perlawanan terhadap narasi ideologis, hal pertama yang jelas teridentifikasi dari ISIS adalah akar teologisnya. Secara teologis, sulit untuk menampik bahwa ISIS merupakan percabangan (ramification) dari Wahhabisme. Ini sangat jelas, terutama bila melihat beberapa selebaran (baik pamflet atau booklet) yang dipublikasikan ISIS sendiri.

Salah satu pamflet ISIS yang menjadi semacam manifesto teologisnya, yakni? Hadzihi ‘Aqidatuna wa Hadza Manhajuna (Ini Akidah Kami dan Ini Jalan Kami), menunjukkan indikasi kuat ke arah itu: kebencian terhadap kuburan, patung (yang dianggap berhala), praktik-praktik tradisional (yang dianggap syirik), pemerintahan yang mengadopsi sistem politik sekuler (yang disebut thaghut) dan, tak kalah penting, Syiah (yang diangap kafir). Ini semua karakter tipikal—meski tak seluruhnya—Wahhabisme. Agaknya tak berlebihan kalau dikatakan bahwa ‘DNA’ Wahhabisme memang anti-Syiah, sehingga di mana Wahhabisme tumbuh subur, narasi anti-Syiah akan menguat.

Namun ISIS bukan semata Wahhabisme. Dalam ranah teologi-politik, ISIS adalah racikan antara Wahhabisme dan Qutbisme. Yang terakhir ini terkenal dengan ide tentang “jahiliyah modern” dan dipancangkan dasarnya oleh Sayyid Qutb, figur yang acap disebut meradikalkan satu faksi dalam Jama’ah al-Ikhwan al-Muslimin dan membidani gerakan ‘salafi-jihadi’ seperti al-Qaeda. Qutbisme membagi dunia menjadi dua saja: negara Islam (darul-Islam) dan negara kafir (darul-kufr). Dengan pondasi Qutbisme ini ISIS bercita-cita mendirikan khilafah global, melintasi sekat-sekat negara modern, dan mendeklarasikan perang kepada siapapun selainnya.

Hal yang terakhir ini juga terindikasi kuat dari salah satu booklet ISIS yang berjudul Muqarrar fit-Tauhid (Buku Daras Tauhid). Satu konsep kunci dalam booklet ini adalah ideologi “nawaqidh al-Islam” (hal-hal yang membatalkan keislaman), yang berisi 10 poin, yang jika seorang Muslim menyentuh satu saja dari 10 poin itu maka dia otomatis kafir, auto-murtad, dan karena itu layak diperangi. Satu catatan penting dalam hal ini: Muhammad ibn Abdil Wahhab, pengasas Wahhabisme itu, punya risalah kecil dengan judul yang sama, “Nawaqidh al-Islam”, yang 10 poin isinya diadopsi dengan sedikit modifikasi oleh ISIS—di samping juga risalah kecil berjudul “Masa’il Jahiliyyah”, yang dipublikasikan ISIS dengan subjudul yang mengarahkan makna “jahiliah” di situ kepada “jahiliah kontemporer” (jahiliyyah al-‘ashr), yakni apalagi kalau bukan ide-ide sekuler seperti demokrasi, HAM, dll. Di antara yang bisa masuk dalam 10 poin itu ialah: para penghina Islam dan Nabi Muhammad (ingat kasus Charlie Hebdo di Perancis), para pemimpin yang mengadopsi ideologi sekuler (dan karena itu masuk dalam kategori darul-kufr), dan Syiah-Rafidhah (dengan dakwaan klasik: mencaci para Sahabat Nabi).

Ideologi “pembatal keislaman” inilah yang pada gilirannya membuat ISIS membuat distingsi antara “musuh jauh” (al-‘aduww al-ba’id) dan “musuh dekat” (al-‘aduww al-qarib)—di sinilah signifikansi Qutbisme. Musuh jauh adalah yang sejak awal sudah ‘kafir’ (bagi ISIS semua non-Muslim adalah kafir). Musuh dekat adalah Muslim yang menyentuh salah satu poin “pembatal keislaman” itu. Distingsi ini turut menjelaskan mengapa mayoritas korban ISIS justru adalah Muslim, yakni karena dianggap sebagai musuh dekat.

Kategorisasi “musuh dekat”-“musuh jauh” dapat ditemukan muasalnya, antara lain, dari buku kecil berjudul “Al-Jihad: al-Faridhah al-Ghaibah” (Jihad: Kewajiban yang Hilang) ditulis Muhammad Abdus-Salam Faraj, otak serangan asasinasi Presiden Mesir Anwar Sadat pada 1981. Narasi yang dibangun di buku kecil itu berupa analogi, seraya mengutip fatwa Ibn Taimiyyah, dengan rezim Tartar (Mongol) yang telah menginvasi dan meluluhlantakkan Baghdad dan dianggap menjajah umat Islam pada abad pertengahan lalu. Fatwa Ibn Taimiyah saat itu kurang lebih ialah siapapun yang mengaku Muslim tapi berdamai atau mengungkapkan dukungan (muwalah) terhadap rezim Tartar, maka dia hakikatnya zindiq dan layak diperangi. Dengan analogi ini, Presiden Sadat dianggap kafir karena telah melakukan perjanjian damai Camp David dengan Israel,? yang disamakan belaka dengan mereka yang ber-muwalah pada rezim Tartar di zaman Ibn Taimiyah. Karena inilah lalu Presiden Sadat dibunuh oleh Khalid Islambouli dari kelompok al-Jihad al-Islamiy. Abdus-Salam Faraj, ideolog al-Jihad al-Islamiy, terinsipirasi kuat oleh Sayyid Qutb, dan karena inilah apa yang disebut “salafi-jihadisme” kerap ternisbahkan padanya dan disebut pula Qutbisme.

Demikianlah ringkasan substansi ideologi ISIS—lebih jauh, Anda bisa menelusurinya dengan melacak tokoh-tokoh di atas serta tulisan-tulisannya. Setiap narasi keislaman yang mengacu ke ideologi itu adalah indikator yang potensial menjadi lahan persemaian ISIS.

Sektarianisme

Secara politis, narasi yang dikembangkan ISIS adalah mengeksploitasi kasus Timur Tengah, terutama di Suriah, yang dibingkai sebagai perang Sunni-Syiah. Narasinya: rezim Assad adalah representasi kejahatan Syiah dan ISIS adalah pejuang pembela Sunni. Kekacauan politik di Suriah dinarasikan ISIS dengan bungkus sektarian untuk mendapat simpati massa Muslim dari gerakan-gerakan lain yang memiliki kecenderung politik yang sama dengan ISIS: menjatuhkan rezim Assad. Framing seperti inilah yang diimpor ke mana-mana, tak terkecuali ke Indonesia.

Ideologi “takfiri” dan jihadisme ala ISIS bisa tumbuh subur ketika lahan sektarianisme “permusuhan abadi Sunni-Syiah” sudah disemai terlebih dahulu. Metode semacam ini cukup terkonfirmasi bila kita membaca antara lain buku Idarah al-Tawahhusy (Manajemen Brutalisme), karya orang yang menyebut dirinya Abu Bakar Naji, yang menjadi panduan strategis ISIS untuk masuk ke lahan baru. Tahapannya secara ringkas: kobarkan kekacuan politik (terutama di kawasan yang rezimnya lemah), buat umat Islam merasa terkepung, lalu datang sebagai ‘penyelamat’. Dalam konteks hari ini, salah satu isu yang paling gampang untuk mengobarkan chaos di kawasan mayoritas Muslim tapi rezimnya lemah adalah isu sektarianisme. Di Indonesia, hal ini sudah terjadi, meski eskalasinya belum—dan semoga tidak sampai—separah di Timur Tengah; yakni dengan adanya satu-dua pemerintah lokal yang jatuh ke dalam kubangan politik sektarian.



Begitulah dua narasi utama ISIS, secara ideologis (Wahhabisme dan Qutbisme) dan politis (sektarianisme). Melawan ISIS secara kultural, baik oleh ormas keislaman moderat maupun masyarakat Indonesia secara umum, bisa dimulai dengan mengidentifikasi kemudian melawan narasi itu. Langkah pertama antara lain dengan memperkuat narasi tandingan sebagai antidote-nya, yakni narasi anti sektarianisme, yang bisa dilakukan antara lain dengan memperkuat upaya pendekatan (taqrib) Sunni-Syiah. Kalau terwujud, ini bisa menjadi narasi tandingan dengan pesan kultural yang kuat. Tapi kalau tidak, dan malah memilih memanas-manasi sengketa sektarian yang sudah berusia berabad-abad ini, bibit “ISIS-isme” masih mendapat lahan subur untuk ditanami.?



Mahasiswa S2 Center for Religious and Cross-cultural Studies (CRCS), Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal News, Sholawat KOKAM Tegal

Sabtu, 09 Desember 2017

Dakwah Perlu Kontektualisasi

Jakarta, KOKAM Tegal. Perubahan situasi dan lingkungan masyarakat perlu diantisipasi oleh para dai dalam menjalankan dakwahnya. Ajaran agama harus dikontekstualisasi sesuai dengan kondisi yang ada saat ini.

Wakil Rais Aam PBNU KH Tolchah Hasan menjelaskan terdapat ayat-ayat yang memang sifatnya permanent, namun juga terdapat ayat yang dipengaruhi oleh kondisi tempat dan waktu.

Senin, 27 November 2017

LPBINU Bantu Warga Terdampak Banjir di Brebes

Brebes, KOKAM Tegal - Banjir besar akibat jebolnya tanggul Sungai Pemali, Sungai Cisanggarung, dan Sungai Babakan yang melanda Kabupaten Brebes, Jawa Tengah pada Kamis (16/2) telah merendam belasan desa di 4 Kecamatan.

Relawan Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBINU) turut serta menyalurkan bantuan kepada warga terdampak banjir berupa 150 paket cleaning kits yang berisi wiper, keset lantai, sabun colek, dan ember plastik.

LPBINU Bantu Warga Terdampak Banjir di Brebes (Sumber Gambar : Nu Online)
LPBINU Bantu Warga Terdampak Banjir di Brebes (Sumber Gambar : Nu Online)

LPBINU Bantu Warga Terdampak Banjir di Brebes

Menurut Tim Tanggap Darurat PP LPBINU, Asbit Panatagara, pemberian bantuan ini didasarkan pada tinjauan kebutuhan yang dilakukan oleh Tim Tanggap Darurat LPBINU selama di lokasi bencana. Bantuan disalurkan di Desa Limbangan Kulon, Wangandalem, Pemaron Kecamatan Brebes, Selasa (21).

Menurut pantauannya, hingga hari ini, korban banjir yang melanda Brebes dalam beberapa hari ini mulai surut dengan debit air di sungai Pemali yang mulai turun.

KOKAM Tegal

“Sebagian warga yang mengungsi di Gelanggang Olahraga Brebes sudah mulai pulang ke rumah masing-masing. Warga mulai membersihkan rumah. Mereka menjemur perabotan yang basah karena terendam air. Tumpukan lumpur sisa banjir masih berserakan di jalan-jalan kampong” jelas Asbit.

KOKAM Tegal

Ketua PP LPBINU Muhamad Ali Yusuf mengajak semua pihak terutama pemerintah dan masyarakat di Brebes, khususnya di daerah terdampak banjir untuk melakukan kajian risiko bencana agar didapatkan gambaran menyeluruh dan terukur tentang ancaman, dampak, risiko, dan juga kapasitas yang dimiliki oleh para pihak di daerah tersebut.

Hasil kajian risiko bencana itu nantinya dapat dijadikan acuan semua pihak dalam melakukan upaya pengurangan risiko bencana dan mengintegrasikannya dalam perencanaan pembangunan di daerah tersebut.

Dengan begitu, Ali Yusuf berharap ke depan rencana dan tindakan konkret untuk penanggulangan bencana banjir dapat segera dirumuskan agar kejadian yang sangat merugikan itu tidak terulang lagi di masa mendatang. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Sholawat, Warta KOKAM Tegal

Kamis, 23 November 2017

Menag: Jama’ah Thariqah Punya Kesadaran Moral Tinggi

Pekalongan, KOKAM Tegal. Kesadaran moral para pengamal ajaran tarekat atau jama’ah thariqah diharapkan mampu memberi sumbangan berharga bagi penegakan nilai-nilai moral keagamaan dan penghayatan spiritual.

”Berbagai hasil penelitian mengungkapkan bahwa pengikut toriqoh memiliki tingkat kesadaran menjalankan ibadah yang tinggi dan menampakan kesadaran moral yang tinggi pula,” kata Menteri Agama Muhammad Maftuh Basyuni pada acara silaturahmi ulama pesantren dan kyai Thoriqah se-Indonesia, di ponpes Al Mubarok, Medono, Pekalongan, Jawa Tengah, Selasa (22/5).

Menurut Menag, tugas ulama ke depan  semakin berat, sebab masyarakat kita semakin terbuka terhadap pengaruh dari luar akibat kemajuan teknologi informasi dan komunikasi.

Menag: Jama’ah Thariqah Punya Kesadaran Moral Tinggi (Sumber Gambar : Nu Online)
Menag: Jama’ah Thariqah Punya Kesadaran Moral Tinggi (Sumber Gambar : Nu Online)

Menag: Jama’ah Thariqah Punya Kesadaran Moral Tinggi

Peran ulama di lingkungan ponpes, kata Menag, perlu dipertahankan. Ulama adalah pendidik bagi santrinya, penyuluh bagi masyarakat dan pembimbing bagi umat yang memerlukan nasehat, pertimbangan atau menghadapi masalah. “Peran yang sudah berakar ini tak boleh ditinggalkan atau dibaikan,” katanya.

Menag meminta para ulama dan pengasuh pondok pesantren untuk terus membina kedekatan dengan umat dan meningkatkan peran dalam mengatasi berbagai penyakit masyarakat.

Pada kesempatan itu Menag juga menegaskan, umat yang lemah dari segi pemahaman biasanya mudah terseret ke dalam pemahaman yang radikal. Mereka akan menjadi sasaran yang empuk bagi orang-orang yang memang bertujuan untuk menyelewengkan ajaran agama atau mengajarkan paham-paham  keagamaan yang sesat.

KOKAM Tegal

“Umat yang lemah dari segi pemahaman biasanya mudah tergiur dengan bujukan material untuk melakukan hal-hal yang menyimpang dari ajaran agama,” ujar Menag.

Menag mengatakan,  mereka yang sudah memiliki pengetahuan agama tetapi lemah dari segi pengamalan perlu sentuhan-sentuhan yang berdimensi tasawuf  atau penjelasan tentang himatut tasyri’. Dengan demikian mereka akan memahami esensi dari perintah dan larangan agama.

Sebaliknya, kata Menag, mereka yang taat dalam pengamalan, tetapi lebih dari segi pemahaman perlu diberi dorongan untuk terus meningkatkan pemahamannya. Sehubungan dengan hal itu, majelis taklim maupun pengajian toriqoh perlu digalakkan terus menerus.(nam)



KOKAM Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Amalan, Sholawat KOKAM Tegal

Sabtu, 11 November 2017

Mensos Targetkan Indonesia Bebas Anak Jalanan di Tahun 2017

Sidoarjo, KOKAM Tegal. Menteri Sosial RI, Hj Khofifah Indar Parawansa menargetkan Indonesia bebas anak jalanan di tahun 2017 ini. Menurutnya, Indonesia bebas anak jalanan merupakan bagian dari proses eksplorasi per kabupaten kota di bulan Mei 2015 lalu.

Khofifah menghitung dari 2015 seluruh kabupaten kota, berapa data anak jalanannya itu supaya masing-masing daerah terdorong, termotivasi dan kinerjanya bisa terukur.

Mensos Targetkan Indonesia Bebas Anak Jalanan di Tahun 2017 (Sumber Gambar : Nu Online)
Mensos Targetkan Indonesia Bebas Anak Jalanan di Tahun 2017 (Sumber Gambar : Nu Online)

Mensos Targetkan Indonesia Bebas Anak Jalanan di Tahun 2017

"Kota-kota ini biasanya menjadi sentra siapa saja untuk mencari gula-gula, mencari keuntungan . Banyak juga ditemukan anak-anak ini kemudian dieksploitasi, apakah oleh pihak lain ataukah orang tuanya, itulah yang kemudian secara simultan kita menyiapkan program antara lain desaku menanti seperti di Desa Kedungkandang Kota Malang, itu satu paket gelandangan, pengemis dan anak jalanan bisa direlokasi," kata Khofifah disela-sela acara dzikir akbar di depan Masjid Agung Sidoarjo, Ahad (12/2).

Ketum PP Muslimat NU itu menjelaskan bahwa, di Desa Kedungkandang Kota Malang, tahun Maret lalu dilakukan peletakan batu pertama, Oktober kemudian diresmikan dan Januari 2017 sudah bisa menjadi destinasi wisata baru.

"Jadi Kementerian Sosial mencoba mencari format yang betul-betul solutif. Ketika puasa kita selalu cerita gelandangan, pengemis, ketika kita ke jalan masih menemukan anak-anak jalanan, ini harus dilakukan reintegrasi sosial satu paket tidak hanya anaknya, tetapi juga orang tuanya," jelasnya.

KOKAM Tegal

Khofifah menyebutkan bahwa di Jawa Timur salah satu contoh yang bisa dijadikan runmodel yaitu Kedungkandang. Kalau ini bisa diikuti kota-kota lain, yang memang ditemukan gelandangan, pengemis atau anak jalanan relokasinya ini satu paket. Tidak bisa anakya saja, kalau orang tuanya tidak ada pendekatan secara ekonomi, kemungkinan nanti masih akan mengajak anaknya ke jalan.

"Nah format satu paket solutif seperti yang dilakukan di Kota Malang itu semoga bisa dijadikan runmodel di kota lain," harapnya. (Moh Kholidun/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal

KOKAM Tegal Sholawat, Warta, Pertandingan KOKAM Tegal

Kamis, 28 September 2017

Muktamar Harus Mengambil Sikap Terkait PMII

Rembang, KOKAM Tegal. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Lasem mengimbau agar Muktamar ke-33 NU di Jombang Jawa Timur menegaskan posisi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Organisasi mahasiswa ini seolah netral, namun kenyataannya merupakan bagian dari NU dan hampir selalu terlibat dalam kegiatan NU.

Muktamar Harus Mengambil Sikap Terkait PMII (Sumber Gambar : Nu Online)
Muktamar Harus Mengambil Sikap Terkait PMII (Sumber Gambar : Nu Online)

Muktamar Harus Mengambil Sikap Terkait PMII

Ketua PCNU Lasem KH Shalahudin Fattawi (Gus Din) kepada KOKAM Tegal di Rembang, Senin (27/7) mengatakan, jangan sampai kondisi ketidakjelasan ini dibiarkan berkepanjangan. Kasus PMII sudah harus dapat diputuskan oleh NU dalam muktamar mendatang.

Selama ini PMII berada di sekitar NU dan mengakses berbagai fasilitas NU, namun dengan menyatakan independen itu seakan PMII tidak mau diatur oleh NU.

KOKAM Tegal

"Nahdlatul Ulama harus mengambil sikap pada muktamar yang akan datang, terkait dengan PMII yang memilih seolah independen tetapi masih menggunakan NU. Hal ini harus diakukan jika NU mau memperkuat keorganisasian,” katanya.

KOKAM Tegal

Shalahudin berpendapat, NU harus mempeketat sistem keadministrasian dan pola hubungan dengan badan otonom atau organisasi-organisasi yang bernaung di bawah NU.

"NU harus mulai memperkuat halaqoh keadministrasian, untuk saling terjalinnya komunikasi antara badan otonom bersama dengan NU. Penekanan juga harus ditegaskan dalam AD ART,” katanya.

Pihaknya juga menghimbau kepada PMII agar menengok kembali apa dan bagaimana PMII itu dibentuk dan dirikan, serta menegaskan hubungan dengan NU. (Ahmad Asmui/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Kiai, IMNU, Sholawat KOKAM Tegal

Jumat, 08 September 2017

Mustasyar PBNU: Peringatan Haul Mauidhah bagi Umat

Kudus, KOKAM Tegal. Mustasyar PBNU KH Sya’roni Ahmadi menyatakan, peringatan haul ulama memiliki makna penting. Bukan hanya sekadar bertujuan mendoakan, melainkan mampu menjadi mauidhah atau nasehat bagi umat Islam.

Mustasyar PBNU: Peringatan Haul Mauidhah bagi Umat (Sumber Gambar : Nu Online)
Mustasyar PBNU: Peringatan Haul Mauidhah bagi Umat (Sumber Gambar : Nu Online)

Mustasyar PBNU: Peringatan Haul Mauidhah bagi Umat

KH Sya’roni menyampaiakan hal itu pada tahlil dalam rangka peringatan haul ke 56 KHR Asnawi di Komplek Makam Menara Kudus, Jumat sore (25/4).

Diterangkan, Nabi Muhammad mengkategorikan mauidhah dua macam, yakni mauidhah annatiq (yang bisa berbicara) seperi Al-Qur’an dan mauidhah ashshomid (diam ) melalui? kematian sebagaimana halnya acara 7 hari, 40, 100, 1000 hari hingga haul wafatnya seseorang.

KOKAM Tegal

“Jadi kita acara haul ini penting sekali sebagai peringatan untuk kita semua. Bahkan, bila ada umat Islam yang sudah tidak mempan diberi nasehat melalui Al Qur’an dan kematian, maka sudah tidak ada cara lain untuk dinasihati lagi,” tandasnya.

Peringatan haul, terang KH Sya’roni, adalah mempunyai tujuan mendoakan almarhum dan memperingati haul terhadap orang alim akan memberi kemanfaatan dan keberkahan bagi umat Islam yang memperingatinya.

KOKAM Tegal

“Kita berziarah ke makam Mbah Asnawi ini, jangan hanya sekadar mendoaakan saja. Kita harus? niat menharap keberkahan dari Allah dengan harapan diberi kemudahan rizki, umur panjang, bisa syukur nikmat Allah dan mati husnul khotimah ”katanya

Ulama kharismatik ini menuturkan KHR Asnawi merupakan sosok pendiri NU yang lengkap kealimannya dan mapan dalam perjuangannya. Semasa hayatnya, KHR Asnawi mengajarkan ilmu kepada santrinya? yang sebagian besar kiai-kiai besar Kudus seperti KH Arwani Amin.

“Mbah Asnawi juga meninggalkan shodaqoh jariyah berupa Madrasah Qudsiyyah dan pesantren Raudhotuth Thalibin. Karena sosok lengkap beliau ini ibaratnya seperti Kiai Raden Mas Ngabehi,” tandas Mbah Sya’roni mengenangnya.

Peringatan haul ke 56 KHR Asnawi ini tidak jauh beda dengan tahun sebelumnya. Diawali acara tahtimul Qur’an di pondok dan makam KHR Asnawi, kemudian dilanjutkan tahlil yang Jumat kemarin dihadiri ratusan santri dan kiai.

Diantara kiai tersebut? adalah Mustasyar PBNU KH Sya’roni Ahmadi, KH Aniq Muhammadun (Pati), Wakil Rois PCNU KH Ahmadi Abdul Fatah, KH Hasan Fauzi, KH Arifin Fanani, KH Noor Halim Ma’ruf, KH Sanusi Yasin dan KH Mujib Sholeh.

Usai tahlil bersama di komplek Makam KHR Asnawi itu, peringatan haul dilanjutkan dengan pengajian umum bersama KH Abdul Qoyyum Mansur (Lasem) dan Habib Umar Muthohar (Semarang). Pengajian dihadiri ribuan masyarakat yang memenuhi halaman pondok pesantren Raudhotuth Thalibin Bendan Kudus. (Qomarul Adib/Abdullah Alawi)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Sholawat KOKAM Tegal

Kamis, 31 Agustus 2017

Peringati Harlah ke-27, Pagar Nusa Tasikmalaya Pawai Taaruf

Tasikmalaya, KOKAM Tegal. Dalam rangka memperingati hari lahir (harlah) ke-27, Pencak Silat Nahdlatul Ulama Pagar Nusa Kabupaten Tasikmalaya menggelar pawai ta’aruf (memperkenalkan) kepada khalayak luas di Tasikmalaya pada Kamis (3/1).

Peringati Harlah ke-27, Pagar Nusa Tasikmalaya Pawai Taaruf (Sumber Gambar : Nu Online)
Peringati Harlah ke-27, Pagar Nusa Tasikmalaya Pawai Taaruf (Sumber Gambar : Nu Online)

Peringati Harlah ke-27, Pagar Nusa Tasikmalaya Pawai Taaruf

Menurut Ketua Pagar Nusa Kabupaten Tasikmalaya, M. Anam Nazily, pawai tersebut dimulai dari Pesanten Cipasung dan berakhir di alun-alun Singaparna.

“Kemudian digelar pentas budaya pencak silat bertempat di halaman Gedung Ukhuwah Cisinga,” ujarnya ketika dihubungi KOKAM Tegal, Kamis (3/1).

KOKAM Tegal

Pawai taaruf tersebut diikuti pengurus Pagar Nusa, 3 padepokan pencak silat binaan Pagar Nusa, Madrasah Diniyah dan sebagian majelis talim Cipakat, Singaparna.

“Peserta pawai sekitar 300 orang, dan pentas budaya 50 orang,” jelasnya.

KOKAM Tegal

Lebih jauh, Anam menjelaskan, tujuan pawai tersebut adalah mengajak masyarakat untuk memelihara tradisi pencak silat. Selain itu, masyarakat mengetahui keberadaan organisasi benteng para ulama yang didirikan 3 Januari 1986 di Pesantren Lirboyo tersebut.

Agenda ke depan, akan mengadakan pasanggiri (perlombaan) pencak silat dalam menyambut pelantikan Pagar Nusa Kabupaten Tasikmalaya yang akan diadakan bulan Maret.

Menurut An’am, selama ini di Pagar Nusa Tasikmalaya berkembang beberapa aliran silat semisal Maen po, Cimande, Cikalong, Syahbandar, dan jurus Asmaul Husna.

Redaktur : A. Khoirul Anam

Penulis ? ? : Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Sholawat, Kajian Islam KOKAM Tegal

Selasa, 25 Juli 2017

Penuhi Keinginan Kiai Mustafa Yaqub, Ulama Lebanon Ini Ajarkan Kitab di Pesantren Darus Sunnah

Ciputat, KOKAM Tegal. Darus Sunnah International Institute for Hadith Sciences Ciputat kembali kedatangan ulama besar asal Lebanon, Dr Amin Salim al-Kurdi. Kedatangan Dr Amin Salim ini bertujuan untuk mengajarkan kitab hadits as-Syamail al-Muhammadiyah karangan Imam at-Tirmidzi.

Agenda pengajaran yang berlangsung pada hari Kamis-Jumat (12-13/5) ini sebenarnya merupakan salah satu keinginan KH Ali Mustafa Yaqub, sebelum wafat. Dr Amin Salim al-Kurdi adalah sahabat baik almarhum bahkan ia pernah berjanji untuk mengundang kiai Ali ke Libanon untuk mengisi khutbah di masjid al-Amin Lebanon.?

Penuhi Keinginan Kiai Mustafa Yaqub, Ulama Lebanon Ini Ajarkan Kitab di Pesantren Darus Sunnah (Sumber Gambar : Nu Online)
Penuhi Keinginan Kiai Mustafa Yaqub, Ulama Lebanon Ini Ajarkan Kitab di Pesantren Darus Sunnah (Sumber Gambar : Nu Online)

Penuhi Keinginan Kiai Mustafa Yaqub, Ulama Lebanon Ini Ajarkan Kitab di Pesantren Darus Sunnah

Pengajian yang berlangsung mulai pukul 15.30 sampai pukul 20.00 Wib itu juga diselingi dengan jamaah shalat maghrib dan isya’ yang diimami langsung oleh Dr Amin Salim al-Kurdi. Seluruh mahasantri Darus Sunnah begitu antusias untuk mengikuti pengajian. Terlebih, agenda ini merupakan salah satu keinginan kiai Ali saat masih hidup.?

Sistem pengajaran yang digunakan Dr Amin Salim al-Kurdi adalah dengan membaca satu-persatu hadits di kitab al-Syamail al-Muhammadiyah, kemudian menjelaskan kalimat-kalimat gharib (samar) dalam hadits tersebut. Jika terdapat kalimat yang dianggap samar dan membutuhkan contoh, ia tak segan untuk beranjak dari tempat duduknya dan mencontohkan dengan gerakan secara langsung. Selain itu Dr Amin Salim juga memberi kesempatan kepada asatidz Darus Sunnah untuk membaca hadits secara bergantian dan memberikan kesempatan bertanya.

Salah satu pesan yang ia tekankan kepada umat Islam adalah untuk menghidupkan sunah Nabi Muhammad SAW dengan catatan harus memahami dengan baik dan benar serta mengamalkan dengan cara-cara yang baik. ?

KOKAM Tegal

Hal sederhana yang ia contohkan adalah ketika orang menggunakan siwak. Menurutnya masih banyak orang yang mengamalkan sunah siwak tapi serampangan. Misalkan, siwaknya kotor, terlalu diperlihatkan kepada orang lain sehingga menjadikan orang lain yang melihat malah jijik. Inilah yang ia sebut mengamalkan sunah tapi dengan cara yang tidak baik.

Semua penjelasan yang ia sampaikan kepada para peserta daurah adalah dengan bahasa Arab tanpa diterjemahkan mengingat Darus Sunnah adalah pesantren yang menggunakan dua bahasa ? dalam proses belajar mengajarnya.?

Pada akhir pengajaran, rencananya Dr Amin Salim akan memberikan sanad kepada seluruh peserta. Untuk itu ia meminta setiap peserta agar tidak melewatkan satu hadits pun yang dibaca agar nantinya ijazah yang diberikan benar-benar sempurna. (M Alvin Nur Choironi/ Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal

KOKAM Tegal Sholawat, Kajian Islam KOKAM Tegal

Senin, 03 Juli 2017

Ihwal Islamisasi Nusantara

Oleh Muhammad Iqbal



Historiografi tentang Islamisasi Nusantara pada abad ke-14 sampai 16, biasanya dilakukan oleh para ahli arkeologi dan ahli bahasa–yang meneliti pelbagai macam teks ajaran Islam. Masalah utama yang biasanya dibahas adalah kapan Islam pertama kali memperlihatkan dampaknya. Islam di Jawa menyebar melalui Wali Songo, sembilan tokoh sakti Islam yang menyiarkan agama ini menurut tradisi Jawa. Ada banyak dongeng ihwal keajaiban yang mereka perlihatkan. Di antara Wali Songo, ada yang merupakan tokoh sejarah seperti Sunan Gunung Jati, Sunan Giri, Sunan Ngampel. Namun ada juga yang hanya legenda dan diragukan apakah mereka memang ada.

Ihwal Islamisasi Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)
Ihwal Islamisasi Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)

Ihwal Islamisasi Nusantara

Dari dongeng para wali itu selalu muncul kenyataan bahwa agama baru ini, yakni Islam lebih unggul sebagai kekuatan magis daripada agama yang lama (Buddha). Dari naskah agama Islam yang sampai pada kita dari zaman itu terungkap juga bahwa Islam yang menyebar ke Asia Tenggara adalah Islam Sufi yang berorientasi ke mistik. Menurut Michael Laffan, hanya Islam dalam bentuk mistik inilah yang dapat menyebar ke Nusantara (baca: Indonesia), karena cocok dengan alam rohani masyarakatnya.

***

KOKAM Tegal

Misteri peralihan agama di Nusantara dari abad ke-14 sampai 16 belum terpecahkan. Peralihan ini dapat dikatakan berlangsung singkat dan kokoh, sebab sampai kini agama Islam, bagaimanapun penghayatannya, adalah yang paling dominan di Indonesia. Selain itu, sejak Islam tersebar di Nusantara, agama memainkan peran politik yang lebih penting daripada sebelumnya. Memang dalam Pararaton dikisahkan tentang para brahmana yang meninggalkan Tunggul Ametung untuk mengakui Ken Arok sebagai raja. Namun bandingkan peristiwa tunggal ini dengan masalah yang dihadapi oleh Sultan Agung ketika menghadapi para ulama, atau yang lebih tragis lagi Sunan Amangkurat I, yang dikatakan membunuh ribuan ulama untuk menegakkan kekuasaannya.

Dalam setiap pemberontakan yang dihadapi oleh dinasti Mataram Islam dan ulamanya berperan, seperti dalam pemberontakan Trunojoyo (1678), Perang Diponegoro (1825-1830), gerakan ratu adil seperti di Cilegon (1882), ataupun Sarekat Islam yang menjadi bagian dari pergerakan nasional pada abad ke-20. Dalam kasus Perang Aceh (1872-1912) dan Perang Banjar (1859-1906) misalnya, Islam dan para ulamanya juga berperan besar.

KOKAM Tegal

Dari uraian di atas tampak peralihan agama jelas memiliki arti politis dan sosiologis yang dalam. Mendiang H.J. Benda dari Yale University, seorang sarjana yang ahli perihal Asia Tenggara dan Indonesia, mengajukan hipotesa bahwa perubahan agama di Nusantara dan di Asia Tenggara daratan terjadi pada zaman yang sama. Menurut saya, hipotesa Benda ini patut mendapat perhatian jauh lebih besar daripada kisah ajaib Wali Songo.

H.J. Benda melihat peralihan agama di Asia Tenggara dari Civa-Buddha, atau Buddha menurut istilah Jawa, ke Islam pada abad ke-14-16 tidaklah unik. Di daratan Asia Tenggara, kecuali di Malaysia, terjadi pula peralihan agama ke ajaran Buddha Theravada memiliki ciri yang lebih kerakyatan daripada ajaran agama sebelumnya, yang berkisar pada Brahmanisme, dimana brahmana-nya merupakan golongan pendeta yang bertugas melegitimasi konsep dewa-raja. Dengan kata lain, kaum brahman ini melihat ke atas atau ajaran mereka tidak berakar ke bawah, ke rakyat.

Baik Islam maupun Buddha Theravada memiliki konsep yang egalitarian, semua orang adalah sama di mata Tuhan, apakah ia raja, priyayi, atau rakyat biasa (wong cilik). Para ulama dalam agama Islam dan para biarawan (biksu/pongyi) dalam agama Buddha Theravada merupakan tokoh agama. Berlainan dengan kaum brahman, ulama maupun pongyi mengkritik atau sering menunjukkan sikap lebih kritis terhadap kewenangan raja. Lebih penting dari ini, ulama dan pongyi hidup di tengah rakyat dan menjadi tokoh di sana, sehingga dapat menjadi counter elite terhadap elite politik, yakni para pejabat kerajaan atau golongan priyayi.

Berlainan dengan priyayi yang tinggal di keraton atau di kota kabupaten, hal yang juga dilakukan oleh kaum brahman dahulu, para ulama dang pongyi lebih dapat menjadi saluran bagi keluhan rakyat. Seperti telah disebutkan di atas, banyak pemberontakan dipimpin oleh ulama atau pongyi. Pendek kata, menurut H.J. Benda, peralihan agama di Asia Tenggara pada abad ke-14-16 memberi perubahan struktural yang sangat penting, sebagai akibat dari krisis agama sebelumnya maupun krisis dalam hubungan antara raja dan rakyatnya.

Di daratan Asia Tenggara, krisis dewa-raja terefleksi dari runtuhnya Angkor di Kamboja kini. Di antara monumen peninggalan para dewa-raja di Asia Tenggara, tidak ada yang semegah, seagung, dan semonumental Angkorwat. Angkorwat ini tidak kalah bila dibandingkan dengan monumen sejarah lain, seperti piramida para Firaun di Mesir atau bangunan di Iran. Dengan sendirinya pembangunan Angkorwat ini merupakan beban bagi rakyat. Tetapi kita tidak mendengar apa-apa ihwal keruntuhan Angkorwat. Kemungkinan besar rakyat meninggalkan tempat tersebut karena melarikan diri dari beban penderitaan atau terjadi epidemi.

Tidak ada lagi pusat di Kamboja yang memiliki bangunan semegah Angkorwat pasca Brahmanisme diganti dengan Buddha Theravada. Ankorwat sendiri ditutupi hutan tropis yang lebat selama berabad-abad dan baru “ditemukan” oleh sarjana Prancis pada abad ke-19.

Kalau perubahan agama dari abad ke-14 sampai 16 disebabkan oleh dinamika masyarakat sebagai reaksi terhadap beban dari atas, lantas mengapa bukan agama Buddha Theravada yang menyebar di Nusantara dan kepulauan Asia Tenggara, melainkan Islam? Dalam hal ihwal ini Semenanjung Malaysia harus dilihat pula sebagai bagian dari kepulauan Asia Tenggara yang menganut Islam, yang tersebar sampai ke Luzon (Filipina Utara) dan di sekitar Manila sebelum Spanyol datang.

Masalah ini timbul justru karena struktur Buddha Theravada dan Islam maupun Katolik-Spanyol yang kemudian tersebar di Filipina Utara, menurut Benda, tidak banyak berbeda. Jawabannya adalah faktor geografis dan sejarah. Kepulauan Asia Tenggara sangat penting sebagai daerah perdagangan dan dari abad ke-14 sampai 16 perdagangan Islam adalah yang unggul.

Perdagangan itu berpusat di Gujarat, India, yang jatuh di bawah kekuasaan Islam. Perdagangan Islam ini menyebabkan timbulnya kerajaan Maritim di Sumatera Utara, seperti Piddie, Pasai, dan kemudian Aceh. Malaka, yang sudah merupakan pelabuhan penting sebelum rajanya masuk Islam dan bergelar Sultan Malaka, sengaja menarik perdagangan Islam.

Perlindungan militer dan politis karena ancaman Ayuthia (Siam) maupun Majapahit (Jawa) merupakan faktor dari perubahan agama di Malaka. Sejarawan O.W. Woters menunjukkan alasan konkret mengapa para maharaja Malaka masuk agama Islam, yakni untuk memperkuat kedudukan dagang dan politiknya. Memang, Malaka di bawah para sultannya yang Islam menjadi pelabuhan dan pusat imperium lautan yang terbesar di Asia Tenggara sampai 1512, ketika kerajaan maritim ini jatuh ke tangan Portugis. Sampai masa itu Malaka adalah pengganti Sriwijaya dan pendahulu Singapura di zaman modern.

Penyebaran Islam melalui pedagangan itu, bagi Nusantara, mengungkapkan masalah lain di samping masalah kerajaan dengan Brahmanisme-nya dan dinamika masyarakat, yakni konflik antara negara maritim dan negara agraris-pedalaman. Para sejarawan Belanda, semisal J.C. van Leur dan Bertram Johannes Otto Schrieke, sudah mengajukan pola pertentangan antara kedua struktur politis tersebut. Sriwijaya mewakili pola maritim melawan Mataram I di sekitar abad ke-9 sampai 10. Kerajaan-kerajaan pesisir yang Islam seperti Demak, Kudus, Tuban dan Giri Ngampel mewakili pola maritim. Hal yang sama juga terjadi antara pesisir utara melawan Mataram II (Senopati Sultan Agung) pada abad ke-16.

***

Singkat kata, penyebaran agama Islam ke Nusantara harus dilihat tidak saja karena konflik sosial antara kerajaan Brahman dan masyarakat, tetapi juga dari sudut persaingan antara pesisir dan pedalaman-agraris, antara kosmopolitanisme dan isolasionisme. Melalui pola pertentangan ini para sejarawan mencoba mendedahkan perubahan sosial, politik ataupun ekonomi yang terjadi.

Bagaimana dengan dongeng ihwal Wali Songo yang berperan dalam penyebaran agama Islam? Zaman peralihan agama di mana pun juga selalu kacau, baik itu peralihan agama ke Islam, ke Katolik, atau ke Protestan. Perubahan itu selalu terkait dengan kisah-kisah ajaib. Yang terakhir ini adalah untuk memperkokoh kepercayaan dan penghayatan agama.

Dalam agama Kristen yang tersebar di Eropa, ada banyak cerita tentang kaum penyebar agama, orang suci, misalnya St. Patrick di Irlandia, St. George di Inggris yang membunuh naga, St. Wilibrodus di Belanda, St. Nicolas, atau St. Elizabeth yang melakukan hal-hal ajaib. Banyak di antara orang-orang suci itu, dalam usaha merasionalisasikan agama, kini mulai dikeluarkan dan tidak diakui oleh Gereja Katolik-Roma. Kendati demikian, usaha ini menimbulkan banyak protes dari umat Katolik, hal yang menunjukkan bahwa di Barat pun terdapat kesukaran untuk menyesuaikan rasio/ilmu dan kepercayaan dan penghayatan. Jadi, tidaklah mengherankan bila dalam penyebaran agama Islam di Jawa, ada pula kisah-kisah keajaiban Wali Songo.

Ketika menulis teorinya ihwal peralihan agama di Asia Tenggara, H.J. Benda mengambil contoh peran para biksu dalam melawan pemerintahan Ngo Dien Dhiem di Vietnam Selatan, peran para pongyi dalam pemberontakan Saya Sen di Myanmar pada 1930-an, dan peran para ulama dalam pemberontakan Cilegon (1882) di Nusantara. Para pemberontak dalam karya H.J. Benda itu gagal melawan negara.

Arkian, di masa kontemporer ini, agama sebagai jawaban masyarakat terhadap penindasan negara lebih relevan lagi, sebab kasus revolusi yang dipimpin oleh Ayatollah Khomeini terbukti dapat menggoncangkan negara totaliter modern Iran di bawah Syah Iran. Selama ini, ada kesan bahwa penindasan oleh negara dan perluasan campur tangan aparat dalam kehidupan masyarakat tanpa persetujuan masyarakat, yang merupakan gejala khas Dunia Ketiga, akan dijawab oleh masyarakat dengan revolusi liberal, sosialis, bahkan komunis. Padahal dari dahulu sampai kini jawaban masyarakat bisa juga melalui agama. Dengan kata lain, baik pada zaman kolonial maupun nasional, agama dapat menjadi unsur politis.



Penulis adalah alumnus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta


Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Humor Islam, Sholawat KOKAM Tegal

Senin, 22 Mei 2017

Untuk Medsos Positif, Ini Ikrar Netizen NU Jawa Tengah

Pekalongan, KOKAM Tegal. Ratusan pegiat media sosial (medsos) NU Jawa Tengah menggelar acara Kopi Darat (Kopdar) Netizen NU Jawa Tengah di Aula Kantor PCNU Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, Ahad (8/1).?

Untuk Medsos Positif, Ini Ikrar Netizen NU Jawa Tengah (Sumber Gambar : Nu Online)
Untuk Medsos Positif, Ini Ikrar Netizen NU Jawa Tengah (Sumber Gambar : Nu Online)

Untuk Medsos Positif, Ini Ikrar Netizen NU Jawa Tengah

Selain pengarahan dan diskusi bersama Sekretaris Jenderal PBNU, Helmy Faisal Zaini dan tokoh-tokoh muda NU, dalam acara yang bertajuk Membangun Masyarakat Medsos Yang Edukatif dan Berakhlaqul Karimah itu juga digelar Deklarasi Netizen NU Jateng dengan dipimpin oleh Pengurus Anshor Jawa Tengah, Sholahuddin Al-Ahmadi.?

Adapun bunyi deklarasi tersebut adalah sebagai berikut:?

Bismillahirrahmanirrahim

KOKAM Tegal





Kami, Netizen NU Jawa Tengah, siap memposting dawuh-dawuh para kiai Nahdlatul Ulama dan memproduksi karya di media sosial baik berupa video, meme dan artikel untuk dakwah yang inspiratif dan berakhlaqul karimah ala Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyyah.

KOKAM Tegal





La haula wala quwwata illa billahil aliyyil adzim.





Pekalongan, 8 Januari 2017 M / 9 Rabiul Akhir 1438 H?

(Ahmad Mundzir/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Sholawat, Ahlussunnah KOKAM Tegal

Minggu, 21 Mei 2017

Sepuluh Santri Terpilih dalam Lomba Karya Tulis Ilmiah Kemenag

Bogor, KOKAM Tegal. Siapa bilang santri tidak bisa menulis karya ilmiah? Kesepuluh santri dari berbagai pesantren terpilih dalam lomba karya tulis ilmiah yang diinisiasi Pusat Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Agama dan Keagamaan (Puspenda) Balitbang dan Diklat Kementerian Agama RI, Kamis (20/11), di Bogor, Jawa Barat.

Sepuluh Santri Terpilih dalam Lomba Karya Tulis Ilmiah Kemenag (Sumber Gambar : Nu Online)
Sepuluh Santri Terpilih dalam Lomba Karya Tulis Ilmiah Kemenag (Sumber Gambar : Nu Online)

Sepuluh Santri Terpilih dalam Lomba Karya Tulis Ilmiah Kemenag

Dalam laporannya, Pjs Kepala Puspenda Dr Rudi Subiantoro mengatakan, seminar ini sebenarnya kegiatan yang seharusnya dilakukan tiap tahun. “Sejak awal ada 50 peserta, lalu tersisa 10 santri. Sejak penyaringan sehingga diperoleh 10 besar pemenang melalui beberapa tahap yang ketat. Tidak ada kolusi apalagi nepotisme,” tegasnya.

Tujuan kegiatan ini, lanjut Rudi, adalah untuk meningkatkan kemampuan menulis santri agar menghasilkan karya ilmiah. Nantinya, karya ilmiah yang dihasilkan akan dibukukan atau menjadi kumpulan tulisan yang menarik.

KOKAM Tegal

Menurut Husen Hasan Basri, salah satu peneliti yang menginisiasi acara tersebut, kegiatan ini bukan merupakan lomba, tetapi lebih pada pendampingan bagi para santri untuk melahirkan karya tulis ilmiah. “Jadi, para santri selain dilatih menulis ilmiah juga didorong untuk menjadi peneliti,” ujar Husein.

Senada dengan Husein, Ta’rif, peneliti lainnya juga mengatakan bahwa para santri tersebut dipersiapkan menjadi peneliti di masa depan. “Masing-masing mendapat? uang pembinaan sebesar Rp 10 juta untuk bekal penelitian,” ujar Ta’rif.

KOKAM Tegal

Kesepuluh santri tersebut adalah: 1) Idris Ahmad Rifai (PP LSQ Ar-Rahman Yogyakarta), 2) Rinaldiyanti Rukman, dkk (PP Tebuireng Jombang), 3) Wildan Imaduddin Muhammad (PP LSQ Ar Rahma Yogyakarta), 4) Nur Imam Saifulloh (PP Al-Hidayah Karangsuci Purwokerto), 5) Sulfa Fariana (PP Krapyak Ali Maksum Yogyakarta).

Kemudian, 6) M Taufiq Maulana (Ma’had Aly PP Salafiyah Syafi”iyah Situbondo), 7) Syamsuar Hamka (PP Ar Rohman, Bogor), 8) Afifur Rohman, dkk (PP LSQ Ar-Rahman Yogyakarta), 9) Siti Afifah (PP Ibnul Qoyyim Putri Yogyakarta), 10) Miftahul Alimin (Ma’had Aly PP Salafiyah Syafiiyah Situbondo).

Kepala Badan Litbang dan Diklat Kemenag Prof Abdurrahman Mas’ud dalam pengarahannya mendorong kepedulian dan meningkatnya wawasan para santri terhadap dunia tulis-menulis. Menurutnya, perlu diupayakan sebuah kegiatan pengembangan karya ilmiah bagi para santri.

“Kegiatan tersebut bertujuan untuk menghidupkan kembali tradisi menulis di pesantren, membangun motivasi kaum santri untuk leluasa berkreasi, berprestasi, dan berimajinasi melalui tulisan-tulisannya,” ujar Mas’ud.

Para santri, lanjut Mas’ud, harus meneladani para ulama masa lalu. Ketika itu, karya-karya tulis para ulama banyak diterbitkan di Saudi dan Turki, selain di Indonesia sendiri. Karya yang monumental tersebut antara lain Tafsir al-Munir li Ma’alim at-Tanzil atau Tafsir Marah Labid (Syekh Nawawi al-Bantani) dan Manhaj Zhawi an Nazhar (Syekh Mahfudz al-Tirmasi), sebuah tafsir atas Manzhumat ‘Ilm al Atsar karya Abdurrahman al-Suyuthi.

Mas’ud menambahkan, sekarang ini belum ada lagi penulis produktif dari kalangan ulama setelah Rais Aam PBNU KH MA Sahal Mahfudh. “Yang menarik, adalah kitab Thariqatul Hushul ala Ghayatil Wushul karya Kiai Sahal Mahfudh, sebuah penjelasan dari kitab Ghoyatul Wushul karya Syekh Abu Zakariya al-Anshori,” tegasnya. (Musthofa Asrori/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Quote, Sholawat KOKAM Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs KOKAM Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik KOKAM Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan KOKAM Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock