Tampilkan postingan dengan label Jadwal Kajian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jadwal Kajian. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 Februari 2018

PB PMII Akan Resmikan Kantor Pusatnya

Jakarta, KOKAM Tegal
Setelah sekian lama menunggu, akhirnya PB PMII bisa berbangga memiliki kantor sendiri yang cukup luas dan megah dengan nama Graha Mahbub Djunaidi. Bangunan seluas 400 meter persegi yang terletak di Jl Salemba Tengah 57A Jakarta Pusat tersebut akan diresmikan pada Kamis, 12 Mei 2005.

Tak serta merta kantor tersebut dapat dibangun. Pertama kali tanah seluas 700 meter persegi dibeli ketika PB PMII di bawah pimpinan Syaiful Bahri Anshori pada tahun 1999-2001. Selanjutnya pada masa kepengurusan Nusron Wahid pada 2001-2003 mulai dibangun dan diselesaikan oleh Malik Haramain yang memimpin pada 2003-2005.

“Dalam periode ini, telah dihabiskan dana sebesar 520 juta yang mencakup pembangunan 70 persen bangunan. Uang ini sumbangan para alumni dan simpatisan untuk menyelesaikan pembangunan kantor ini. Saya tidak tahu berapa dana yang telah dialokasikan pada kepengurusan sebelumnya,” tandas Ketua Umum PB PMII Malik Haramain (7/5).

Kantor tersebut memiliki dua lantai. lantai pertama digunakan untuk ruang tamu, ruang ketua umum, ruang sekjen, ruang rapat, dan musholla sedangkan untuk lantai dua digunakan untuk ruang lembaga dan aula yang dapat menampung sekitar 150 orang.

“Kita harapkan dengan memiliki kantor sendiri, kinerja PMII semakin meningkat, paling tidak teman-teman sudah tak perlu lagi memikirkan tempat untuk rapat,” tandasnya.

Malik juga mengharapkan dengan adanya kantor baru ini, maka sikap independent PMII semakin kuat karena tak perlu lagi tergantung pada pihak lain.

Belum banyak cabang yang memiliki kantor sendiri, diantara yang sudah adalah cabang Malang, Surabaya, Tulungagung dan beberapa lainnya. Sebagian besar masih ngontrak di lokasi-lokasi yang berdekatan dengan kampus.

Sebelum memiliki gedung ini, kantor pusat PMII masih menyatu dengan kantor PBNU di Lt 2 yang ketika itu belum dibangun dan kontrak di Jl. Kramat Lontar untuk menjalankan aktivitasnya.

Pemberian nama Graha Mahbub Djunaidi tersebut merupakan penghormatan kepada ketua umum PMII pertama yang menjabat selama dua periode pada 1960-1963 dan 1963-1966.

Rencananya Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi akan meresmikan sekaligus menandatangani prasasti berdirinya bangunan tersebut. Diundang juga Koordinator Nasional Foksika Ahmad Bagdja, keluarga Mahbub Djunaidi dan Syainuri Ws. “Para alumni PMII juga kami harapkan datang untuk turut mensyukuri berdirinya gedung bersejarah ini,” tandasnya.

Forum peresmian gedung baru ini sekaligus juga digunakan untuk pemutaran perdana VCD mars PMII. lagu ini dikarang oleh Mahbub Djunaidi dan diaransemen ulang oleh Syainuri Ws. Untuk itu akan tampil group paduan suara Lam Yuzad. “Kami juga akan memberikan penghargaan pada Syainuri WS atas jasanya dalam memberi aransemen mars ini,” tambahnya.(mkf)

 


 

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Jadwal Kajian, Pemurnian Aqidah KOKAM Tegal

PB PMII Akan Resmikan Kantor Pusatnya (Sumber Gambar : Nu Online)
PB PMII Akan Resmikan Kantor Pusatnya (Sumber Gambar : Nu Online)

PB PMII Akan Resmikan Kantor Pusatnya

Sabtu, 03 Februari 2018

LAZISNU Sambut Ramadhan dengan Bangkit Sedekah

Tangerang, KOKAM Tegal. Dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan 1435 H, Pengurus Pusat Lembaga Amil Zakat dan Sedekah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) melaksanakan program NUcare dengan pengobatan gratis di Kampung Encle Kabupaten Tangerang Banten pada Sabtu (7/6).

LAZISNU Sambut Ramadhan dengan Bangkit Sedekah (Sumber Gambar : Nu Online)
LAZISNU Sambut Ramadhan dengan Bangkit Sedekah (Sumber Gambar : Nu Online)

LAZISNU Sambut Ramadhan dengan Bangkit Sedekah

Ketua LAZISNU KH Masyhuri Malik mengatakan, kegiatan yang dikerjasamakan dengan BPZIS Mandiri ini berupaya untuk membangkitkan semangat berbagi dan bersedekah kepada golongan yang berhak mendapatkan (mustahiq). “Kegiatan pengobatan gratis merupakan rangkaian kegiatan yang dilaksanakan lazisnu dalam menyambut bulan suci di tahun sekarang dengan tema “Bangkit Sedekah,” katanya kepada KOKAM Tegal Senin (9/7).

Kiai Masyhuri menjelaskan, Bangkit Sedekah adalah membangkitkan budaya bersedekah di kalangan umat Islam Indonesia, terutama warga NU untuk kemandirian umat. Bersedekah adalah budaya baik warisan para pendahulu, baik para kiai dan para ulama. “Dengan Bangkit Sedekah, LAZISNU akan menjadi motor penggerak bagi kebangkitan dan energi segar untuk menuju cita-cita kemakmuran masyarakat Indonesia,” katanya.

KOKAM Tegal

Kiai Masyhuri melanjutkan, kemandirian dengan Bangkit Sedekah itu kita mulai dari LAZISNU. Lembaga zakat NU tersebut selalu memberikan semangat kepada para kadernya untuk bersama-sama dan bahu-membahu dalam menyiarkan kebangkitan kemandirian umat dengan Bangkit Sedekah.

LAZISNU, tambah kiai Masyhuri, sadar instrumen kemandirian umat itu harus dimulai dari lembaga zakat. Karena lembaga zakat secara posisi menjadi garda terdepan dalam memberikan tarbiyah kepada para penerima hak (mustahiq). “Maka semua program distribusi LAZISNU (Nusmart , Nucare, Nupreneur, Nuskil) selalu bermuara dalam memberikan stimulan kepada mustahiq supaya mereka menjadi mandiri,” tambahnya.

KOKAM Tegal

Lebih lanjut ia mengatakan, bulan Ramadhan merupakan bulan Sedekah penuh rahmah. Bulan berkah ini akan dijadikan momentum untuk Program Bangkit sedekah lazisnu sekaligus upaya pencapaian target LAZISNU di tahun 2014. “Program Bangkit Sedekah, Lazisnu mengajak ke semua masyarakat untuk bersedekah di LAZISNU sesuai dengan program Ramadhan 1435 H,” ajaknya.  

Kiai Masyhuri menyebutkan, program "berbagi berkah puasa", yaitu paket buka puasa untuk komunitas marginal Jabodetabek, anak jalanan, pemulung, pesisir. Sedekah untuk kegiatan tersebut adalah Rp 50.000,-/paket.

Sementara program "berbagi sahur tanda syukur" untuk kampung padat penduduk, pesisir dengan sedekah Rp 50.000,-/paket. Serta "bingkisan lebaran", untuk dhuafa, marbot, penjaga stasiun, supir bajaj dengan sedekah @300.000,-/paket. (Red: Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Daerah, Jadwal Kajian KOKAM Tegal

Kamis, 01 Februari 2018

Fikih Keseharian Gusmus

Penulis : KH. Ahmad Musthofa Bisri (Gusmus)

Peresensi : Peresensi Ach. Tirmidzi Munahwan

Selama ini berita yang masih aktual, dan masih menjadi sorotan media massa adalah peristiwa tentang perselisihan dan perdebatan dalam pemikiran masalah-masalah keagamaan atau fiqh, yang dalam istilah NU disebut forum “Bahtsul Masail”. Bahtsul masail ini merupakan salah satu forum diskusi keagamaan untuk merespon dan memberikan solusi atas problematika aktual yang muncul dalam kehidupan masyarakat. KH Sahal Mahfudz, Pengurus Syuriyah PBNU menyebutnya bahwa forum “Bahtsul Masail” merupakan forum yang dinamis dan demokratis, selalu mengikuti perkembangan, dan trend hukum yang terjadi  di masyarakat.

Siapa yang tidak kenal dengan sosok yang satu ini? K.H.A. Musthofa Bisri yang panggilan akrabnya Gus Mus sudah tidak asing lagi bagi semua kalangan, ia adalah seorang kiai, pelukis, penyair, dan budayawan yang karya-karyanya selalu melambung di media massa baik lokal maupun nasional. Setelah pasca Buya Hamkah, Ali Hasjmi, dan Bahrum Rangkuti, umat Islam Indonesia sangat miskin melahirkan ulama yang dikatakan seniman dan sastrawan. Mungkin tidak banyak yang tahu, jika Gus Mus disamping sebagai sastrawan juga seorang pelukis.

Fikih Keseharian Gusmus (Sumber Gambar : Nu Online)
Fikih Keseharian Gusmus (Sumber Gambar : Nu Online)

Fikih Keseharian Gusmus

Meskipun sebagai budayawan, penyair, dan pengasuh pondok pesantren, namun pemikiran dan gagasan-gagasan yang diusungnya mampu menandingi, bahkan melebihi wacana-wacana yang diusung oleh para ilmuwan, dan cendikiawan. Jadi tidak semua masyarakat pesantren hanya dianggap sebagai kaum sarungan yang pemikiran dan gagasannya hanya terpaku pada teks klasik saja, melainkan mampu menyesuaikan dengan realitas sosial yang terjadi saat ini.

Dan pada ahir-ahir ini masyarakat pesantren selalu eksis dimana-mana, dan  mulai banyak mengaktualisasikan pemikiran, dan gagasannya  yang dapat   memasung daya kritis seorang santri, sehingga masyarakat pesantren bisa dikatakan seorang yang produktif, dan kritis.

KOKAM Tegal

 Rois Syuria Nahdhatul Ulama (PB.NU) ini, tidaklah membuat beliau menjadi orang yang rakus terhadap kekuasaan dan memanfaatkan jabatannya. Namun beliau adalah orang yang bisa menjaga jarak dari hal-hal yang sifatnya politis, dan pragmatis.  Seperti yang disampaikan dalam tausiyahnya dalam munas alim ulama di Sokolilo kemarin, bahwa persoalan politik  di Indonesia sangatlah pelik, dan berengsek sekali, tidak didasari dengan etika-etika  politik yang ada.

Kiprah Gus Mus di panggung politik bermula mendapat tawaran dalam bursa pencalonan sebagai anggota legislatif PPP preode 1977-1982 mewakili wilayah Rembang-Blora. Namun meskipun ia mendapat sebuah tawaran yang menggiurkan dan menjanjikan Gus Mus menolaknya. Karena ia merasa belum berpenglaman dan juga belum mempunyai andil di partai.

Buku setebal 525 halaman ini, memang benar-benar hasil garapan kreatif seorang kiai dan budayawan, yang didalamnya mengulas tentang berbagai problematika  kekinian, dengan tanpa meninggalkan keotentikan dan nilai historisitas teks klasik (kitab kuning).

Adapun pemikiran-pemikiran yang ia usung selama ini, memang benar-benar dimanfaatkan untuk meningkatkan, dan memperluas ilmunya untuk mengabdi pada masyarakat. Bagaimana masyarakat bisa mengerti, dan paham terhadap hukum fiqh pada umumnya.

Dengan ketajaman analisis inilah, Gus Mus tidak hanya mampu menawarkan jawaban-jawaban dari bermacam problem yang datang padanya secara normatif. Melainkan ia berhasil memberikan kerangka nuansa pemikiran untuk mengatasi masalah-masalah keagamaan keseharian kita secara rinci dan terurai  secara rapi.

KOKAM Tegal

 Dan perlu dicatat, bahwa  penjelasan atau jawaban-jawaban yang ia berikan semata-mata penjelasan apa adanya yang dirangkai dengan dalil-dalilnya. Sehingga jawaban-jawaban beliau tidak begitu saja mengatakan  ini haram dan itu halal, ini wajib dan itu sunnah.

Selain itu juga, dalam bab akhir Gus Mus dengan sangat gamblang memaparkan berbagai persoalan-persoalan budaya kontemporer yang sedang dihadapi oleh umat Islam. Seperti dalam bab VIII halaman 520, ada seorang penanya mengutarakan kegundahan dalam kehidupan sehari-harinya yaitu, berkenaan dengan maraknya gambar-gambar panas (porno),  dan melakukan onani.

Di saat memberikan jawaban atas pertanyaan ini, Gus Mus menentukan haram tidaknya melihat gambar porno dan melakukan onani, yaitu mengikuti pendapat para ulama. Karena pendapat para ulama sudah sepakat, melihat gambar-gambar panas (porno), dan melakukakan onani hukumnya haram. Karena manfaat dan mudharatnya yang jelas  lebih banyak madaratnya. Dan perbuatan  tersebut, telah dilarang oleh agama, dan dapat merusak moral para generasi muda pada umumnya. Perbuatan yang dilarang oleh agama mDari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Pondok Pesantren, Santri, Jadwal Kajian KOKAM Tegal

Kamis, 25 Januari 2018

Pengabdian di NU Tak Terbatas Waktu

Bangkalan, KOKAM Tegal. Pengabdian di NU tidak dibatasi oleh periodisasi waktu. Warga yang sudah tidak terlibat aktif dalam kepengurusan juga dapat terus berpartisipasi dalam organisasi untuk mewujudkan cita-cita bersama.

Pengabdian di NU Tak Terbatas Waktu (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengabdian di NU Tak Terbatas Waktu (Sumber Gambar : Nu Online)

Pengabdian di NU Tak Terbatas Waktu

Demikian disampaikan KH Fathurrohim A. Rahman, Wakil Ketua PCNU Bangkalan, Madura, dalam arahannya para pelantikan bersama beberapa MWCNU di Bangkalan, Ahad (12/5) yang bertempat di pendopo eks kawedanan Arosbaya.

KH Fathurrohim berharap semua pengurus berkomitment dengan amanat yang telah diterimanya. Kepada mantan pengurus yang pada periode kali ini tidak terpilih juga jangan menghilang, karena secara hakekat pengabdian di NU tidak dibatasi oleh masa periode waktu

KOKAM Tegal

“Berlakulah seperti orang memotong bambu diambil dari ujungnya, bukan dari bawah yang tidak terpilih. Semua harus menjadi pengikat dan memperkuat kepengurusan yang baru, sehingga upaya perjuangan untuk menjadikan jam’iyyah ini bermanfaat dapat segera terealisasi dan bisa dirasakan bersama,” kata adik kandung salah seorang wakil ketua PWNU Jawa Timur ini. 

Tiga kepengurusan MWCNU di wilayah eks Kawedanan Arosbaya yang meliptui MWCNU Arosbaya, Geger dan Klampis resmi dilantik dan diambil sumpahnya.

KOKAM Tegal

Mewakili tiga kepengurusan MWCNU yang dilantik Drs. H. Jakfar Al-Habary dalam sambutan pelantikannya mengingatkan bahwa apa yang telah dilakukan merupakan bentuk kesadaran dan ikhtiar pengabdiannya kepada jam’iyyah.

Rais Syuriyah MWCNU Klampis yang juga mantan Kasek SMAN Arosbaya ini meminta kepada semua kepengurusan yang ada, baik ranting maupun cabang untuk memberikan dukungan dan bimbingan sehingga apa yang dicanangkan untuk periode pengabdian lima tahun ke depan bisa lebih maximal dan berdaya guna baik kepada jama’ah maupun kepada jam’iyyah.

Sementara prosesi pelantikan dipimpin Wakil Rais PCNU Bangkalan KH Abdul Hannan Nawawi. Selain diisi dengan pengucapan baiat acara yang dilangsungkan secara sederhana ini juga diisi dengan pendalaman ke-NU-an dan Aswaja oleh DR. KH. Abdullah Syamsul Arifin.

Dalam mauidhohnya wakil katib PWNU Jawa Timur ini lebih banyak menerangkan tentang perlunya prilaku kolektif bagi pengurus NU. Prinsip sholat berjama’ah harus menjadi salah satu landasan kerja bagi kepengurusan, antara lain adanya kesamaan tujuan dalam segala hal, kepatuhan kepada pimpinan, serta mengenal jama’ah yang akan dipimpin

Terkait semangat kerja Gus Aab, panggilan akrab pegiat pembelaan aswaja yang juga mantan cawabup Jember ini mengajak kepada kepengurusan terpilih untuk memahami landasan didirikannya NU, yaitu Nahdlatut Tujjar (kemapanan ekonomi) Nahdlatul Wathon (nasionalisme ) dan Tasywirul Afkar (pengembangan keilmuan).

Acara pelantikan tiga MWCNU diakhiri dengan pembacaan doa yang dipimpin ketua PCNU Bangkalan KH. Fachrillah Aschall.

Redaktur: A. Khoirul Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Budaya, Hadits, Jadwal Kajian KOKAM Tegal

Senin, 15 Januari 2018

Alumni Sukorejo Tasyakuran atas Gelar Pahlawan Nasional Kiai As’ad

Banyuwangi, KOKAM Tegal. Ikatan Santri Salafiyah Syafiiyah (IKSASS) Banyuwangi menggelar tasyakuran atas gelar Pahlawan Nasional yang dianugerahkan Pemerintah Republik Indonesia kepada KH Asad Syamsul Arifin.?

Tasyakuran dilaksanakan di masjid Baiturrohim Rogojampi, Banyuwangi Jumat (11/11) dihadiri para alumni santri Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo, Situbondo, Jawa Timur dan jamaah rutin masjid tersebut.

Alumni Sukorejo Tasyakuran atas Gelar Pahlawan Nasional Kiai As’ad (Sumber Gambar : Nu Online)
Alumni Sukorejo Tasyakuran atas Gelar Pahlawan Nasional Kiai As’ad (Sumber Gambar : Nu Online)

Alumni Sukorejo Tasyakuran atas Gelar Pahlawan Nasional Kiai As’ad

Salah seorang alumni, H. Ikrom Hasan, menyampaikan, sebagai alumni patut bersyukur atas terakuinya Kiai As’ad sebagai pahlawan.

"Sebenarnya sudah sejak dulu prosedur persyaratan supaya Kiai Asad Syamsul Arifin untuk mendapatkan gelar pahlawan. Berangkat dari pengakuan Kiai Ahmad Shiddiq Jember dalam ? pidatonya. Beliau mengakui betapa luar biasanya perjuangan dalam mengawal dan merebut kemerdekaan NKRI dan menggerakkan roda organisasi Nahdlatul Ulama. Maka seharusnya kiai kita mendapatkan gelar pahlawan secara resmi," jelasnya.

KOKAM Tegal

Namun, karena almarhum Kiai Fawaid, salah seorang putranya, tidak berkenan, gelar kepahlawanan untuk ayahandanya mengalami kemacetan. Kiai Fawaid berpandangan seorang ulama tidak memerlukan gelar-gelar seperti itu. Cukup di hadapan Allah SWT yang mengetahui derajat keluhuran Kiai Asad Syamsul Arifin.

"Semenjak meninggalnya Kiai Fawaid, prosedur kepengurusan gelar pahlawan diajukan kembali karena tuntutan sejarah perjuangan beliau semasa hidup menarik untuk diperjuangkan kembali. Dan Alhamdulillah saat ini gelar pahlawan dapat diakui negara. Oleh karenanya kita sebagai alumni patut bersyukur, salah satunya dengan kita kumpulkan seluruh alumni di masjid ini untuk tasyakuran," pungkasnya.

KOKAM Tegal

Guntur Al-Badri, salah satu panitia dan juga alumni juga menyampaikan beberapa harapan kepada seluruh alumni dan seluruh jamaah yang hadir.

"Kita sebagai alumni, patut bersyukur dengan pengakuan negara sebagai pahlawan kepada guru kita. Tak luput dengan itu, harapan kita sebagai alumni bisa meneladani perjuangan dalam komitmen berbangsa dan bernegara serta komitmen dalam berorganisasi di Nahdlatul Ulama. (M. Sholeh Kurniawan/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Jadwal Kajian KOKAM Tegal

Jumat, 12 Januari 2018

Kumbokarno Gugur: Nguri-uri Kebudayaan dan Gus Dur

Oleh: Ngabdulloh Akrom

Ba’da isya’ (26/09) ratusan orang sudah berkumpul di kediaman Gus Dur, Ciganjur. Semua orang lintas etnis dan agama, berkumpul dalam satu wadah demi memperingati 1000 hari Gus Dur.

Kata “memperingati” memiliki kata dasar ingat dengan awalan me- dan akhiran –i, dimana dalam hal ini menjadi sebuah upaya untuk mengenang atau membuka lembaran-lembaran lama tentang Gus Dur. Bagi saya—tentu ini sangat sujektif—Gus Dur ibarat batu kristal yang memiliki banyak sisi. Pada setiap sisi yang kita dekati, selalu saja ada keindahan tersendiri. Ya. Itulah Gus Dur dengan segala keluar-biasaan dalam keterbiasaannya.

Kumbokarno Gugur: Nguri-uri Kebudayaan dan Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
Kumbokarno Gugur: Nguri-uri Kebudayaan dan Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

Kumbokarno Gugur: Nguri-uri Kebudayaan dan Gus Dur

Malam itu kita diajak mengenal Gus Dur melalui pendekatan Budaya. Pagelaran wayang semalam suntuk sengaja diadakan keluarga ndalem. Alissa Wahid, Putri sulung Gus Dur, menceritakan bagaimana kecintaan Gus Dur terhadap budaya, wayang khususnya. Dulu saat mbak Alissa masih duduk di bangku perkuliahan di Yogyakarta, setiap Gus Dur datang ia wajib memberi ‘upeti’ berupa satu set kisah pewayangan. Begitu seterusnya hingga mbak Alissa selesai kuliah. Ia diberi tanggungan membelikan kaset kisah pewayangan lengkap yang dibawakan berbagai dalang.

KOKAM Tegal

Berbeda dengan pejabat jaman sekarang yang menenteng koper kemana-mana, Gus Dur hanya membawa kaset-kaset wayang beserta tape rekorder. Wajar jika dulu ia sempat ditunjuk sebagai ketua Dewan Kesenian Jakarta. Satu di antara sebabnya jelas karena rasa cintanya terhadap kebudayaan.

***

Malam semakin larut. Ibu Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid memberikan tugas kepada Enthus Susmono untuk segera menjalankan tugasnya sebagai dalang. Kisah punya kisah, konon beberapa hari sebelum Gus Dur wafat, Ki Enthus sempat diminta almarhum mengangkat cerita Kumbokarno Gugur disebuah pagelaran wayang di suatu daerah di Jawa Timur.

KOKAM Tegal

Itulah kenapa, Ki Enthus memilih lakon cerita Kumbokarno Gugur dalam pagelaran semalam. Memang tidak sedikit orang mengidentik dengan Kumbokarno dengan Gus Dur. Selain keduanya memiliki rasa nasionalis yang tinggi, persamaan lainnya adalah keduanya suka tidur. Masih membekas dalam ingatan kita bagaimana Gus Dur memimpin rapat peripurna DPR RI. Saat sidang paripurna usai, Gus Dur masih tertidur. Orang di sebelahnya membangunkan sembari bertanya bagaimana Gus Dur punya pendapat. Dengan ringan Gus Dur mengeluarkan jawaban yang akhirnya membuat para hadirin kebakaran jenggot, “Anggota-anggota DPR saat ini kayak anak TK.” Serta bagaimana Gus Dur membantu "adiknya" (Gus Mus) mengerjakan soal bahasa Prancis, sementara saat Gus Mus belajar, Gus Dur selalu tidur?

Begitu juga dengan tidurnya (tapa brata) Kumbokarno. Meski tak pernah turun gunung menyambangi saudaranya di Alengka, ia tahu apa saja yang terjadi meski dalam kondisi tidur. Ia tahu bagaimana Pamannya meninggal dalam peperangan. Ia tahu bagaimana Rahwana mengadu domba antara Sugriwa dengan Subali.

Ki Entus menceritakan bagaimana dua begawan tersebut tidur. Jika Gus Dur tidur dengan mendengarkan gendhing karawitan. Kumbokarno melakukannya dengan mendengarkan shalawatan. Akan tetapi keduanya tertidur dalam keadaan pasrah terhadap Dzat dimana semua berasal dan berakhir. Eling.

Sudah menjadi rahasia umum bagaimana sikap nasionalis Kumbokarno. Ia berperang bukan karena Alengka yang ditawarkan Rahwana, bukan melakukan pembelaan terhadap kedzaliman, serta tidak untuk membalas kematian dua puteranya. Kumbokarno menyambut garis takdir yang harus ia lalui. Maju dan gugur di medan peperangan sebagai kesatria.

Hal lain yang patut dijadikan pelajaran; walaupun Kumbokarno paham betul tindak-tanduk kakaknya yang semena-mena, ia tetap menghormati Dasamuka sebagai saudara tua. Bahkan sebelum berangkat ke gelanggang peperangan, ia tetap memohon restu dengan sungkem kepada kakaknya.

***

Dari sejak dibuat, kisah pewayangan memang selalu begitu. Ketika pagelaran dimulai, kita sudah bisa menebak siapa tokoh protagonis dan antagonisnya. Kita sudah tahu bagaimana akhir dari kisah terbut. Yang benar selalu menang melawan kebatilan. Klise memang. Tapi kenapa selalu saja ada yang menanggap wayang? Selain ingin melakukan pelestarian budaya, kelihaian dalang dalam melakukan improvisasi, menyelipkan problematika hidup saat ini, entah masalah Sosial, Ekonomi, Politik, kebermasyarakatan, hingga urusan dapur, kasur dan sebagainya.

Masalah politik misalnya, melalui tokoh Mbelong, Entus mendikte Rahwana tentang seni memimpin. Seorang pemimpin harus bisa mengayomi rakyatnya. Sebab jabatan merupakan amanat. Sifatnya hanya sementara. Jika semasa menjadi pemimpin tak pernah peduli kepada rakyat, maklum kelak saat lengser dan bukan lagi siapa-siapa, di kalangan orang kecil akan dipandang kecil, hina bahkan dina. Wallahua’lam.[cw]

 

Ujung Jakarta, 2012/09/27

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Halaqoh, Tokoh, Jadwal Kajian KOKAM Tegal

Kamis, 11 Januari 2018

Ansor Sidoarjo Antisipasi Konflik Rohingya agar Tak Merembet ke Persoalan Agama

Sidoarjo, KOKAM Tegal. Aksi kekerasan yang menimpa warga Muslim di Rohingya Myanmar, mendapatkan perhatian dari semua pihak tak terkecuali Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Sidoarjo.

Ansor Sidoarjo Antisipasi Konflik Rohingya agar Tak Merembet ke Persoalan Agama (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Sidoarjo Antisipasi Konflik Rohingya agar Tak Merembet ke Persoalan Agama (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Sidoarjo Antisipasi Konflik Rohingya agar Tak Merembet ke Persoalan Agama

Ansor Sidoarjo meminta pemerintah untuk melakukan diplomasi baik diplomasi bilateral dengan PBB, negara berkepentingan sekaligus melakukan intervensi politik luar negeri dengan pemerintah Myanmar, agar menghentikan kebiadaban dan kekejaman ini.

"PC GP Ansor Sidoarjo akan melakukan langkah-langkah kongkrit untuk membantu masyarakat Muslim Rohingya, sekaligus mengantisipasi konflik ini menjadi konflik agama yang merembet keluar jauh dari akar masalahnya. Apalagi kalau hal ini tidak diantisipasi akan berpotensi terjadi konflik horisontal yang mengancam kerukunan umat beragama di negeri ini," kata Ketua PC GP Ansor Sidoarjo, H Rizza Ali Faizin kepada KOKAM Tegal, Senin (4/9).

Rizza menginstruksikan kepada seluruh kader untuk mengumpulkan bantuan sosial dalam bentuk apapun. Dalam hal ini pihaknya juga sudah melakukan koordinasi dengan PCNU Sidoarjo dan banom, untuk disalurkan lewat lembaga resmi NU.

Tak hanya itu saja, lanjut Rizza, Ansor Sidoarjo juga mengutuk keras kebiadan dan kekejaman tersebut. Pihaknya akan melakukan dialog dan pendekatan antarumat beragama agar konflik itu tidak dibaca sebagai konflik agama semata yang kemudian akan mengancam keharmonisan, kedamaian serta kerukunan umat beragama di Indonesia khususnya di Sidoarjo.

KOKAM Tegal

"Kami akan mengikuti dan melaksanakan intruksi resmi panglima besar, dalam hal ini Ketua Umum PP GP Ansor pusat. Sebagai Panglima Grasroot Pemegang Pasukan ormas Islam terbesar di Indonesia, Ansor Sidoarjo mengharap agar masyarakat khususnya kader Ansor dan Banser tidak kalap dan gegabah," tegasnya.

Rizaa menegaskan, gencarnya gerakan dan kampanye keperihatinan untuk membantu umat Muslim Rohingya yang menjadi korban kebiadaban rezim yang memakai simbol dan idiom salah satu agama, Ansor Sidoarjo menilai bahwa untuk memberangkatkan pasukan jihad perang ke Myanmar belum saatnya. Karena masyarakat Rohingya tidak butuh perang, melainkan butuh solusi hidup dan perdamaian.

"Kita mengimbau kepada seluruh kader untuk berdoa agar saudara kita (Muslim Rohingya) diberi kekuatan, ketabahan serta diberi jalan terbaik oleh Allah," pinta Rizza. (Moh Kholidun/Fathoni)

KOKAM Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Sunnah, Jadwal Kajian KOKAM Tegal

Selasa, 09 Januari 2018

Ramadhan Momentum Penguatan Solidaritas Sosial

Oleh M. Haromain

Disadari atau tidak, kini perkembangan peradaban manusia telah berada di suatu masa yang nyaris semua hal diukur dengan materi. Terdapat kecendrungan orang makin mengukur legitimasi tindakannya berdasarkan harga. Dalam arus globalisai ini hampir semua urusan diukur dengan uang. Dalam istilah para politisi dan pengusaha dikenal pula prinsip "tak ada makan siang yang gratis".?

Sebagai konsekuensinya orang baru mau mengerahkan tenaga, keterampilan, keahlian dan pikirannya untuk orang lain jika ada ganti materi yang sebanding dengan kerja yang ia berikan. Seseorang bersedia memberikan suatu jasa kepada pihak lain bila ada harga yang sesuai. Akhirnya siapa yang kaya materi dapat memanjakan dan memuaskan pelbagai keinginannya seraya punya banyak alternatif ? gaya hidup yang dapat dipilihnya. ?

Ramadhan Momentum Penguatan Solidaritas Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)
Ramadhan Momentum Penguatan Solidaritas Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)

Ramadhan Momentum Penguatan Solidaritas Sosial

Tetapi harap diketahui pula, bahwa di sisi lain masyarakat dengan segala hal for sale seperti di atas kondisinya akan kontras bagi mereka yang tak mampu. Artinya semakin banyak hal yang diukur dengan materi, semakin menghimpit orang miskin dari kehidupan. Maka di sini terjadilah kesenjangan sosial yang dapat pula disebut sebagai kemungkaran sosial-meminjam istilahnya almarhum Muslim Abdurrahman.

Tak dapat dipungkiri fenomena masyarakat pasar (market society) ini, meminjam istilahnya Michael J. Sandel, tak hanya terjadi di wilayah perkotaan, melainkan sudah merambah juga sampai di kehidupan desa-desa, yaitu daerah yang dahulu warganya dikenal memiliki rasa solidaritas dan sistem paguyuban yang tinggi.?

Salah satu indikator degradasi atau kemerosotan tersebut ialah makin hilangnya tradisi sambatan yang dahulu melekat kuat dalam masyarakat pedesaan. Sambatan ialah kerja gotong royong seperti membantu dalam proses pembuatan atau perbaikan rumahnya tetangga atau bersama-sama ikut membantu mencangkul sawahnya kerabat atas dasar solidaritas sosial dan dalam hal ini tidak mendapatkan bayaran.

KOKAM Tegal

Apakah sudah sedemikian keraskah tatanan hubungan masyarakat hingga semua dinilai dengan materi. Tidak adakah amal perbuatan yang dilandasi ketulusan dan keikhlasan, menolong dan membantu tanpa pamrih?

KOKAM Tegal

Disinilah urgensitas dari makna disunnahkannya ? memperbanyak sedekah serta kewajiban membayar zakat fitrah bagi tiap muslim pada bulan Ramadhan ini. Kita tahu orang yang membayar zakat dan memberi sedekah motifasinya adalah murni ibadah, mendekatkan diri kepada Allah serta mengharapkan ridho-Nya, selain tentunya menggugurkan dari tuntutan kewajiban. Tidak menuntut agar penerima zakat dan sedekah itu memberikan jasa balik entah berupa tenaga, ketrampilan maupun nilai manfaat lainnya.

Kewajiban zakat dan anjuran memperbanyak sedekah pada bulan puasa ini selain sifatnya transendental, sejatinya juga mengirim sinyal kepada umat manusia bahwa sepatutnya jangan semua hal diukur dengan materi, namun manusia perlu insaf bagaimanapun tetap ada bidang-bidang kehidupan yang tak bisa bahkan tak boleh diukur dengan uang.

Tidak cuma itu, hikmah disyariatkannya zakat dan memperbanyak sedekah terutama pada bagian akhir bulan suci Ramadhan adalah agar mereka yaitu golongan yang tidak mampu dapat ikut bahagia dan bergembira pada hari kemenangan, hari raya Idul Fitri.?

Pada perayaan hari Idul Fitri semua orang tanpa kecuali harus bergembira, termasuk orang-orang yang digolongkan kurang mampu. Kegembiraan hari raya idul fitri bukan monopoli orang Islam yang berkecukupan saja, melainkan hak semua muslim.

Alhasil hikmah disyariatkannya kewajiban zakat fitrah serta anjuran berderma pada bulan ramadhan yang mulia ini menandakan betapa agama Islam di samping agama yang anti kemiskinan namun disisi lain juga sangat peduli kepada orang miskin. Mengajarkan supaya orang kaya menyantuni kaum papa, golongan orang lemah (mustadh’afin).***

Penulis adalah Pengajar di Pondok Pesantren Nurun ala Nur Wonosobo, Jawa Tengah.

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Quote, Jadwal Kajian KOKAM Tegal

Kamis, 28 Desember 2017

Kiai Kharismatik Hanya Minta Dirawat di RSNU

Banyuwangi, KOKAM Tegal. Nahdliyyin Banyuwangi dirundung duka. Pasalnya, seorang ulama besar nan kharismatik, Kiai Nasruddin Zaini, wafat, Senin dini hari (4/2).?

Pengasuh pesantren Nurul Huda, Dusun Semalang, Desa Sumbersari, Kec. Srono, Kabupaten Banyuwangi itu, meninggal dunia akibat sesak nafas yang akut.?

Kiai Kharismatik Hanya Minta Dirawat di RSNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Kharismatik Hanya Minta Dirawat di RSNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Kharismatik Hanya Minta Dirawat di RSNU

Yang menarik, sejak sesak nafasnya kambuh Sabtu lalu, Kiai Nasruddin minta kepada anak-anaknya untuk dirawat di Rumah Sakit Nahdlatul Ulama (RSNU), Desa Mangir, Kecamatan Rogojampi. Di rumah sakit milik NU Banyuwangi itulah, Kiai Nasruddin dirawat. Walaupun sesungguhnya, ia harus diopname tapi masih minta pulang karena ingin menemui tamu di rumahnya. Akhirnya permintaan itupun dikabulkan. Setelah menemui tamunya, Kiai Nasruddin pun kembali dibawa ke RSNU. Namun karena kondisi kesehatannya semakin memburuk, ia akhirnya dirujuk ke RSUD Genteng.?

KOKAM Tegal

Hanya beberapa menit berselang, Kiai Nasruddin menghembuskan nafasnya yang terakhir. “Sekitar ? tiga menit di RSUD, abah wafat,” tutur Gus Faisol, putra sulung almarhum.

KOKAM Tegal

Gus Faisol menambahkan, almarhum sangat memperhatikan dan mencintai NU. Bahkan, katanya, jika ia harus berhubungan dengan rumah sakit, maka yang dipilih tetap RSNU. Hal itu sebagai bentuk kecintaannya kepada NU.?

“Kata Abah, saya orang NU. Cuma mau dirawat di rumah sakit NU,” jelas Gus Faisol menirukan kata-kata ayahnya.

Kepergian Kiai Nasruddin mengundang perhatian banyak kalangan. Tak kurang dari Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas, hadir ke rumah duka. Ketua dan Rais Syuriah PCNU Banyuwangi, H Masykur Ali dan KH Hisyam Syafaat serta puluhan tokoh NU dan anggota DPRD juga turut hadir memberikan ungkapan bela sungkawa.

Kiai Nasruddin wafat di usia 65 tahun, meninggalkan 8 orang anak. Ia dimakamkan di kompleks pemakamann keluarga.

Redaktur ? ? : Mukafi Niam

Kontributor: Aryudi A Razaq?

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Jadwal Kajian, Sholawat KOKAM Tegal

Rabu, 20 Desember 2017

IPPNU Kendal Ajak Pemuda Katolik Dialog Pluralitas

Kendal, KOKAM Tegal. Di tengah masyarakat yang kian mudah diprovokasi isu-isu keagamaan, umat Islam dituntut untuk kembali mengkaji dan mengingat sejarah Nabi Muhammad ketika hidup berdampingan dengan damai dengan masyarakat Madinah yang plural.

Kehidupan itu kemudian diabadikan dalam piagam Madinah yang memuat nilai-nilai universal antara masyarakat Yahudi, Nasrani, dan Muslim.

IPPNU Kendal Ajak Pemuda Katolik Dialog Pluralitas (Sumber Gambar : Nu Online)
IPPNU Kendal Ajak Pemuda Katolik Dialog Pluralitas (Sumber Gambar : Nu Online)

IPPNU Kendal Ajak Pemuda Katolik Dialog Pluralitas

Hal tersebut disampaikan oleh Dr. Ja’far Baihaqi MH, Wakil Sekretaris PCNU Kabupaten Kendal dalam acara Buka Bersama dan Diskusi Panel bertajuk “Pluralitas dalam Kancah NKRI” yang didapuk oleh Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama, minggu (13/7) lalu.

KOKAM Tegal

Selain menghadirkan Ja’far Baihaqi, acara yang digelar di Panti Asuhan Darul Hadlonah Patebon Kendal tersebut juga mengundang Romo Laurentius Prasetyo dari gereja Antonius Padua Kendal sebagai pembicara.

KOKAM Tegal

Pendeta yang akrab dipanggil Romo Prasetyo tersebut mengatakan bahwa menghargai perbedaan merupakan hal yang indah sebab perbedaan merupakan fitrah manusia yang harus disyukuri dan diejawantahkan dalam bentuk jalinan emosional yang baik antar agama-agama yang berbeda.

“Kita bisa melakukan aksi sosial bersama, seperti pembagian sembako atau donor darah, tapi jangan itu dianggap sebagai kristenisasi. Kita niatkan itu untuk membangun kehidupan keagamaan yang toleran,” tuturnya.

Diskusi berlangsung menarik karena dalam acara tersebut hadir pula rombongan dari Organisasi Muda Katolik yang pada sesi tanya jawab tidak kalah aktifnya dengan peserta diskusi dari kalangan nadhliyin.

“Bagaimana sebetulnya sikap muslim jika ada pemimpin yang tidak berasal dari kalangan Islam?” tutur Ignatius Hendra dari OMK. Petanyaan itu dijawab Ja’far Baihaqi yang dosen IAIN Walisongo dengan mengatakan bahwa pemimpin yang baik harus didukung tanpa perlu melihat apa latar belakang agamanya.

Selain isu soal kepemimpinan yang seringkali menjadi wacana menarik ketika dikaitkan dengan agama. Diskusi tersebut juga membahas mengenai kekerasan atas nama agama yang masih sering terjadi di berbagai daerah.

Menurut Romo Prasetyo, kekerasan atas nama agama terjadi karena sempitnya pemahaman keagamaan sebagian umat, padahal kekerasan tidak diajarkan oleh agama manapun. Sementara Ja’far Baihaqi mengatakan, ini menjadi refleksi bagi para pemuka agama agar menekankan pentingnya membangun dialog dan keharusan menjauhi kekerasan dan provokasi atas nama agama.

Diskusi yang dihadiri seratusan pemuda lintas agama tersebut diharapkan dapat terus dilaksanakan dan diaplikasikan dalam kehidupan sosial sehari-hari.

“Semoga jalinan persaudaraan antar pemeluk agama tidak hanya erat dalam diskusi formal semacam ini, tapi juga ke depan kita dapat menciptakan suasana keagamaan yang toleran yang dimotori oleh para pemuda yang aktif bersosial” tutur Ida Nur Kholifah, Ketua PC IPPNU Kendal. (Laki Lazuardi/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Jadwal Kajian, Pahlawan KOKAM Tegal

Peserta Diingatkan Bahaya Narkoba

Jombang, KOKAM Tegal. Meskipun sudah banyak korban berjatuhan gara-gara narkoba, namun jumlah itu kian menunjukkan peningkatan. Memberikan pemahaman sejak dini terhadap mudharat bahan berbahaya ini sangat penting.

Indikasi mereka yang terjerat bahan berbahaya itu diantaranya suka uring-uringan, tidak jujur dan cenderung anti sosial. 

Peserta Diingatkan Bahaya Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)
Peserta Diingatkan Bahaya Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)

Peserta Diingatkan Bahaya Narkoba

KOKAM Tegal

Hal Ini salah satu pesan dari Dr. Bambang Eko Sunariyanto, Direktur RSJ Lawang yang mewakili Menteri Kesehatan di depan para peserta Perkemahan Wirakarya Pramuka Ma’arif NU Nasional atau Perwimanas (26/6).

"Saat ini pengguna narkoba di Indonesia sekitar 4 juta,” katanya. “Populasi pengguna narkoba yang cukup besar ini sedang mengepung anak-anak dan remaja Indonesia,” lanjutnya. 

KOKAM Tegal

Karena itu sudah saatnya memperhatikan dan mengawasi perilaku para generasi muda ini. “Jangan sampai salah satu dari pengguna itu adalah teman atau saudara adik-adik," pesan Bambang.

Pada kesempatan tersebut Bambang menghimbau kader pramuka Maarif NU agar mampu menjaga diri, keluarga dan orang-terdekat untuk terhindar dari narkotika dan obat-obatan terlarang. 

"Kenali perubahan-perubahan fisik maupun perilaku,” katanya. Hal yang kasat mata dapat dilihat adalah gejala suka meminta uang tanpa keperluan yang jelas atau mengada-ada, tidak suka makan, senang tidur dan bermalas-malasan sepanjang hari. 

“Itu juga tanda-tanda awal seseorang yang mengalami ketergantungan narkoba,” tandasnya. 

Data yang dipaparkan Bambang, dari total pengguna narkoba di Indonesia sebagian besar adalah anak-anak usia remaja. Anak-anak usia SMA mencapai angka 48%, sementara usia Perguruan Tinggi (PT) berkisar di angka 28%. 

"Angka ini menunjukkan bahwa sasaran peredaran narkoba adalah kalangan remaja,” sergahnya. “Bisa kita bayangkan, betapa bahayanya kelangsungan berbangsa dan bernegara bila keadaan ini tidak segera kita atasi bersama," terangnya.

Lebih lanjut Bambang menyatakan mayoritas kecanduan narkoba akibat dari pergaulan dan iseng mencoba-coba. "Dalam hal ini remaja sangat rentan karena ia berada pada fase pancaroba. Fase dimana seorang remaja dengan mudah terbawa oleh arus lingkungannya," ungkap Bambang yang juga berpraktek sebagai psikiater ini.

Dalam kesempatan tersebut Bambang juga memberikan tips agar terhindar dari pengaruh narkoba. "Jangan sekali-kali mencoba narkoba,” harapnya. “Katakan tidak kalau ditawari meskipun gratis. Dan kalau merasa tidak kuat, jangan bergaul dengan pengguna narkoba," pungkasnya.

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Syaifullah

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Jadwal Kajian, AlaNu KOKAM Tegal

Senin, 18 Desember 2017

Kang Said: Kader NU Harus Kuat Hadapi Cobaan Apapun

Jombang, KOKAM Tegal. Nahdlatul Ulama adalah organisasi besar berskala internasional. Nahdlatul Ulama mengemban tugas berat untuk menjaga dan meneruskan perjuangan pra ulama salafus sholih dalam mengembangkan ajaran Islam Ahlussunnah wal Jamaah yang rahmatan lilalamin (merahmati seluruh alam semesta).

"Karena mengemban tugas yang sangat berat inilah kader-kader Nahdlatul Ulama harus tumbuh menjadi kader yang kuat. Kader-kader Nahdlatul Ulama harus tegar menghadapi segala cobaan dan ujian yang menghadang di depan," pesan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Said Aqil Siroj dalam pembekalannya kepada para pramuka peserta Perkemahan Wirakarya Maarif Nasional (Perwimanas) I di Bumi Perkemahan Pondok Pesantren Babus Salam kalibening Mojoangung Jombang, Senin (24/6).

Kang Said: Kader NU Harus Kuat Hadapi Cobaan Apapun (Sumber Gambar : Nu Online)
Kang Said: Kader NU Harus Kuat Hadapi Cobaan Apapun (Sumber Gambar : Nu Online)

Kang Said: Kader NU Harus Kuat Hadapi Cobaan Apapun

Menurut Kang Said, Kedepan Nahdlatul Ulama akan terus mendapatkan tantangan seiring perkembangan zaman, sehingga kader-kader NU juga harus dibekali dengan beraneka ragam ketrempilan kehidupan, salah satunya adalah ketrampilan pramuka.?

KOKAM Tegal

"Jangan mengaku kader NU kalau dicoba sedikit langung cengeng. Ada ujian dalam perjuangan, baru sedikit saja sudah menyerah. Jangan seperti itu, kader NU harus kuat dan trampil. Nah pramuka ini adalah salah satu sarana bagi kader-kader NU untuk mengasah ketrampilan dan menguatkan mental perjuangan menegakkan Islam Ahlussunnah wal Jamaah ala Nahdlatul Ulama," tandas Kang Said.

KOKAM Tegal

Lebih lanjut Kyai asal Cirebon ini berpesan, hendaknya para peserta dapat menimba ilmu dan ketrampilan sebanyak-banyaknya dari kegiatan pramuka ini. Hendaknya para peserta tidak menyia-nyiakan kesempatan berharga ini.

"Berkemah adalah melatih kemandirian. Ini sangat cocok sekali dengan jatidiri santri-santri NU. Jadi berpramukalah dengan baik dan ? tetap menjaga jiwa Ahlussunnah wal Jamaah," pungkas Kyai Said diiringi tepuk tangan seluruh peserta dan tamu undangan.

Penulis : Syaifullah Amin

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Doa, Hikmah, Jadwal Kajian KOKAM Tegal

Minggu, 10 Desember 2017

Madrasah dan Pesantren Jadi Oase Masyarakat Perkotaan

Jakarta, KOKAM Tegal. Eksistensi lembaga pendidikan Islam seperti pondok pesantren dan madrasah yang mampu tumbuh pesat di tengah masyarakat perkotaan patut menjadi kebanggaan.?

“Saat ini trend-nya di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya dan lain sebagainya, keberadaan lembaga pendidikan yang berbasis keagamaan seperti pesantren dan madrasah menjadi semacam oase baru masyarakat perkotaan,” kata Menag ? Lukman Hakim Saifuddin dalam sambutannya yang dibacakan oleh Direktur Jenderal Bimas Islam Machasin pada acara Peletakan Batu Pertama dan Peresmian Pembangunan Pesantren ? Daarul Rahman Jagakarsa, Jakarta, Selasa (8/9) seperti dilansir oleh situs kemenag.go.id.?

Madrasah dan Pesantren Jadi Oase Masyarakat Perkotaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Madrasah dan Pesantren Jadi Oase Masyarakat Perkotaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Madrasah dan Pesantren Jadi Oase Masyarakat Perkotaan

Machasin melanjutkan, fenomena ini tentu menjadi sebuah peluang sekaligus tantangan eksistensi lembaga pendidikan Islam ke depan. Tak seperti umumnya pesantren yang tumbuh di pedesaan dan perkampungan, Pesantren Daarul Rahman, Jakarta merupakan sebuah tipologi pesantren perkotaan.?

KOKAM Tegal

“Ke depan, Pesantren yang berada di perkotaan tantangannya semakin besar hal ini seiring tuntutan dengan kebutuhan masyarakat perkotaan dalam konteks persaingan modernisasi dan globalisasi,” ujar Machasin.

Menag berharap, sebagai lembaga tafaqquh fiddin, dalam konteks pesantren perkotaan, pesantren dapat menjadi pusat konsultasi keagamaan yang berbasis rahmatan lil ‘alamin. “Pondok pesantren dapat mengajarkan Islam yang ramah, bukan Islam yang marah,” ucap Machasin.?

KOKAM Tegal

Turut hadir dalam acara tersebut Mantan Wakil Presiden RI ke-6 Try Sutrisno, Mantan Menteri Agama Maftuh Basyuni, Mantan Kasal Laksamana (Purn) Marsetio, Mantan Direktur Jenderal PHU Slamet Riyanto dan beberapa tokoh agama seperti Arifin Ilham.

Dirjen Machasin, mewakili Menag selanjutnya meletakkan batu pertama pembangunan Pondok Pesantren Pembangunan Pesantren Daarul Rahman. Pembangunan Pesantren yang terletak di kawasan Jagakarsa, Jakarta ini merupakan ruislah dari PT Ambal Akor atas lahan Pesantren Daarul Rahman di kawasan Senopati Dalam II, No 35A, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Jadwal Kajian, Aswaja, Tokoh KOKAM Tegal

Kamis, 07 Desember 2017

PBNU Yakin Kiai Bisa Atur Santri Kapan Harus Ngaji dan Sepak Bola

Bandung, KOKAM Tegal



Tiga tahun berturut-turut, sejak 2015 ribuan santri mengikuti turnamen sepak bola pada ajang Liga Santri Nusantara yang digelar Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlaltul Ulama (RMINU) bekerja sama dengan Kementerian Pemuda dan Olahraga. Bahkan tahun ini, santri yang mengikuti turnamen itu diperkirakan 22 ribu santri dari 1048 pesantren di seluruh Indonesia. 

PBNU Yakin Kiai Bisa Atur Santri Kapan Harus Ngaji dan Sepak Bola (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Yakin Kiai Bisa Atur Santri Kapan Harus Ngaji dan Sepak Bola (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Yakin Kiai Bisa Atur Santri Kapan Harus Ngaji dan Sepak Bola

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj mengaku percaya sepenuhnya kepada para kiai akan bisa mengatur para santri kapan mereka harus mengaji dan sepak bola. Para kiai telah berpengalaman mengatur ribuan santri. Dan titah kiai akan selalu dipatuhi para santri.   

“Saya yakin, saya yakin, kiai akan mengatur itu, kiai bisa mengatur itu, kapan waktunya ngaji, shalat, kapan waktunya tahajud, istighotsah, kapan waktunya sepak bola,” katanya selepas menonton Grand Final Liga Santri Nusantara tahun lalu dari awal hingga usai di stdion Maguwoharjo, Sleman, Yogyakarta antara kesebelasan Walisongon dan Nur Iman. 

Liga Santri Nusantara, lanjut kiai yang pernah nyantri di Kempek, Lirboyo, dan Krapyak ini, tidak lain untuk menggali bakat para santri. Ia meyakini jutaan santri di Indonesia adalah sumber bakat terpendam dalam berbagai hal, termasuk olahraga. Namun sampai saat ini masih sebatas potensi, belum menjadi prestasi.  

KOKAM Tegal

“Santri-santri kita ini punya potensi, tapi belum dimenej dan dikembangkan. Sehingga potensi belum menjadi prestasi,” ungkap pengasuh pondok pesantren Al-Tsaqofah Ciganjur, Jakarta Selatan itu. 

Dengan adanya Liga Santri Nusantara, ia berharap akan bermunculan sepak bola di Timnas Indonesia yang berprestasi dari kalangan pesantren. Hal itu akan mengangkat nama pemainnya, pesantrennya sendiri dan NU. 

Ia menyebutkan, dalam sepak bola memiliki sisi positif yang bisa dikembangkan, yang selama ini menjadi sikap para santri. 

“Di dalam sepak bola ada sifat yang positif, yaitu tidak boleh memiliki sikap egois. Ada kerja sama, dengan memberikan bola kepada temannya, terbangun jaringan yang sangat solid, membangun teamworking yang sehat untuk kemenangan bersama,” jelasnya. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal

KOKAM Tegal Ahlussunnah, Jadwal Kajian, Berita KOKAM Tegal

Jumat, 01 Desember 2017

Gandeng Komunitas Matapena, Hasyim Asyari Gelar Liburan Sastra

Jepara, KOKAM Tegal. Komunitas Matapena Rayon Hasyim Asyari Bangsri menggandeng komunitas Matapena Yogyakarta menggelar Liburan Sastra di Pesantren (LSdP) #8. kegiatan yang rencananya diselenggarakan Jum’at-Ahad (29/6-1/7) mendatang bertempat di Rumah Joglo Hasyim Asyari Bangsri.

Materi yang disampaikan Sastra Pesantren yang Berpihak pada Kasunyatan Obyektif, ke-Matapena-an, Motivasi Menulis, Penanaman Nilai, Menggali Ide, Membuat Setting Cerita, Penokohan, Alur, Tahlilan Sastra, Olah Rasa, Seni Panggung dan Teater. 

Gandeng Komunitas Matapena, Hasyim Asyari Gelar Liburan Sastra (Sumber Gambar : Nu Online)
Gandeng Komunitas Matapena, Hasyim Asyari Gelar Liburan Sastra (Sumber Gambar : Nu Online)

Gandeng Komunitas Matapena, Hasyim Asyari Gelar Liburan Sastra

Untuk pemateri Zastrow Al-Ngatawi (Budayawan Lesbumi), KH Nuruddin Amin (Pengasuh Pesantren Hasyim Asyari Bangsri), Adipati Genk Kobra, Ahmad Fikri AF (Pembina Komunitas Matapena) dan kru Matapena Yogyakarta; Akhiriyati Sundari, Arifa Juhas, Pijer Sri Laswiji, Zaki Zarung, Mahbub Djamaluddin, Sachree M Daroini, Hugeng Satya Dharma dan Humam Rimba. 

KOKAM Tegal

KH Zainal Umam, pembina Matapena Rayon Hasyim Asyari menuturkan kegiatan bertujuan mengisi liburan dengan kegiatan bersastra dan berkarya, menggali dan mengasak skill menulis maupun ajang silaturahmi dan berjejaring antar rayon komunitas Matapena yang berada di Kabupaten Jepara dan sekitarnya. 

Untuk syarat pendaftaran; peserta berusia 15-22 tahun, mengisi formulir pendaftaran, membayar kontribusi sebesar Rp.150.000, menyerahkan cerpen karya sendiri, pendaftaran ditutup hingga 28 Juni 2012. 

KOKAM Tegal

Tempat pendaftaran sekretariat Matapena Jl. Wonosari KM 4.5 Gang Musholla Jeruk Legi Bantul Yogyakarta atau MTs Hasyim Asyari Jl. Raya Bangsri-Jepara (depan Masjid An-Nur) Bangsri Jepara. Contact person 085643274002 (Mansyur) atau 085742391972 (Shofaun Nafis). 

Redaktur   : Mukafi Niam

Kontributor: Syaiful Mustaqim 

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Jadwal Kajian, Tegal KOKAM Tegal

Kamis, 16 November 2017

Keutamaan Shalat Tasbih Menurut Rasulullah SAW

Sembahyang tasbih atau “tasabih” merupakan salah satu sembahyang sunah yang tidak dianjurkan berjamaah. Kalau pun dilaksanakan berjamaah untuk pembelajaran misalnya, tidak masalah. Sembahyang tasbih ini sangat diajurkan karena menyimpan keutamaan luar biasa di balik amalan ini.

Syekh Said bin Muhammad Ba’asyin dalam Busyral Karim bi Syarhi Masa’ilit Ta’lim halaman 260-261 juz I menyebut sebuah hadits Rasulullah SAW dan sejumlah pandangan ulama berikut ini.

Keutamaan Shalat Tasbih Menurut Rasulullah SAW (Sumber Gambar : Nu Online)
Keutamaan Shalat Tasbih Menurut Rasulullah SAW (Sumber Gambar : Nu Online)

Keutamaan Shalat Tasbih Menurut Rasulullah SAW

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? "? ? ? (? ? ?) ? ? ?" ? ?. ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? "? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?"

KOKAM Tegal

Artinya, “Rasulullah SAW mengajarkan Sayidina Abbas RA (pamannya) sembahyang tasbih. Kepadanya, Rasulullah SAW menyebutkan keutamaan besar sembahyang tasbih. Salah satunya adalah ampunan Allah SWT, ‘Kalau saja dosamu sebanyak gundukan pasir, niscaya Allah SWT akan mengampuni dosamu.’ Hadits ini hasan.

Imam Tajuddin As-Subki mengatakan, ‘Tidak ada yang meninggalkan shalat tasbih ini selain orang yang meremehkan agama. Orang yang meremehkan agama tidak akan berkenan mendengarkan keutamaan sembahyang tasbih ini. Sebuah hadits menyebutkan, ‘Kalau kau sanggup, lakukan sembahyang tasbih ini sekali sehari. Kalau tidak, lakukan sekali dalam satu jumat. Kalau tidak bisa, sembahyang tasbih lah sekali sebulan. Kalau tidak sempat, lakukan sekali setahun. Kalau tidak bisa juga, kerjakanlah sekali dalam seumur hidupmu.’ Baiknya sembahyang empat rakaat ini diakhiri dengan satu salam jika dikerjakan siang hari. Kalau dikerjakan malam hari, boleh dikerjakan dalam dua salam.”

KOKAM Tegal

Menurut Ustadz Abdullah Abdul Qadir Al-Aidrus, hadits ini merupakan potongan sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan Imam At-Tirmidzi. Ibnu Majah dan Abu Dawud juga meriwayatkan hadits serupa.

Melihat besarnya keutamaan sembahyang tasbih ini, tidak heran kalau ada beberapa majelis taklim kaum ibu mengawali pengajiannya dengan sembahyang tasbih berjamaah. Memandang betapa pentingnya sembahyang ini baiknya kita mengerjakan sembahyang berisi tasbih ini meskipun hanya sepekan atau sebulan sekali. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Pemurnian Aqidah, Jadwal Kajian, Bahtsul Masail KOKAM Tegal

Kelengkapan Pengurus Lembaga di PBNU Rampung Sebelum Pengukuhan

Jakarta, KOKAM Tegal. Pengurus inti harian Syuriyah dan Tanfidziyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) tengah menyeleksi nama-nama yang masuk untuk menjadi pengurus lembaga-lembaga di lingkungan PBNU. Mereka hingga kini masih menampung masukan terkait orang-orang yang akan menjadi pengurus sejumlah lembaga di PBNU.

Susunan pengurus lembaga-lembaga di PBNU ditentukan oleh Rais Aam PBNU KH Ma’ruf Amin, Wakil Rais Aam KH Miftahul Akhyar, Katib Aam KH Yahya Cholil Staquf, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, Wakil Ketua Umum PBNU H Slamet Effendi Yusuf, dan Sekretaris Jenderal PBNU H Helmi Faishal Zaini.

Kelengkapan Pengurus Lembaga di PBNU Rampung Sebelum Pengukuhan (Sumber Gambar : Nu Online)
Kelengkapan Pengurus Lembaga di PBNU Rampung Sebelum Pengukuhan (Sumber Gambar : Nu Online)

Kelengkapan Pengurus Lembaga di PBNU Rampung Sebelum Pengukuhan

“Silakan pengurus harian Syuriyah dan Tanfidziyah PBNU untuk memberikan masukan soal nama pengurus lembaga. Nanti enam orang ini yang akan memutuskan,” kata Kiai Ma’ruf Amin saat rapat perdana pengurus baru harian PBNU di Jakarta, Jumat (28/8) sore.

KOKAM Tegal

Enam orang ini menargetkan terbentuknya susunan pengurus lembaga-lembaga di NU sebelum pengukuhan pengurus lengkap PBNU di masjid Istiqlal pada 5 September mendatang.

“Sebelum pengukuhan di Istiqlal, kelengkapan susunan pengurus lembaga-lembaga ini insya Allah sudah rampung,” kata Kiai Ma’ruf.

KOKAM Tegal

Mereka berharap orang-orang yang dipilih sebagai pengurus lembaga dapat menjadi kepanjangan tangan kerja PBNU sesuai dengan bidang lembaga masing-masing.

“Sekarang tidak ada lagi istilah ‘lajnah’. Semua namanya ‘lembaga’,” Kang Said. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Jadwal Kajian KOKAM Tegal

Selasa, 24 Oktober 2017

Mun’im DZ: NU yang Merumuskan Ketuhanan Jadi Sila Pertama

Jakarta, KOKAM Tegal - Pancasila lahir pada 1 Juni 1945 ketika Bung Karno (Soekarno) berpidato dalam sidang BPUPKI. Namun dalam rumusan Bung Karno itu, sila “Ketuhanan" berada pada urutan kelima. Nahdlatul Ulama (NU) merumuskan “Ketuhanan” menjadi sila pertama.

Demikian disampaikan Wakil Sekjen Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Abdul Mun’im DZ di Jakarta, Kamis (1/6/2017). Bagi NU, rumusan lima sila yang diajukan oleh Bung Karno itu belum filosofis.

Mun’im DZ: NU yang Merumuskan Ketuhanan Jadi Sila Pertama (Sumber Gambar : Nu Online)
Mun’im DZ: NU yang Merumuskan Ketuhanan Jadi Sila Pertama (Sumber Gambar : Nu Online)

Mun’im DZ: NU yang Merumuskan Ketuhanan Jadi Sila Pertama

Urutan lima sila atau “panca sila” yang diajukan oleh Bung Karno dalam Sidang BPUPKI 1 Juni 1945 adalah 1)Kebangsaan Indonesia; 2)Internasional atau perikemanusiaan; 3)Mufakat atau demokrasi; 4) Kesejahteraan sosial; dan 5) Ketuhanan.

Menurut Mun’im yang menulis buku “Piagam Kebangsaan” itu, para kiai NU terutama yang terlibat dalam sidang BPUPKI dan PPKI menyampaikan bahwa rumusan Bung Karno tentang Pancasia masih belum sempurna.

KOKAM Tegal

KH Wahid Hasyim pada waktu itu menilai Pancasila yang dirumuskan Soekarno masih belum sistematik. Misalnya, Ketuhanan diletakkan di bagian belakang atau sila kelima. Disampaikan bahwa urutan yang disampaikan belum filosofis, terkait peempatan aspek theos, antrophose, dan kosmos

KOKAM Tegal

“Bagi NU, rumusan Bung Karno itu juga belum ‘taam’ dan belum bisa disebut ‘kalam’, apalagi qoulan tsaqilan. NU setuju usulan Bung Karno tapi urutannya ditata ulang. Ketuhanan ada di sila pertama. Jadi, penempatan ‘Ketuhanan’ pada sila pertama ini bukan semata-mata karena masalah keagamaan. Tetapi ini terkait sistematika konsep filosofis,” kata Mun’im.

Berdasarkan musyawarah yang panjang akhirnya keluar rumusan Pancasila dengan urutan sila-silanya dan kalimatnya yang teratur seperti saat ini. Istilah-istilah yang digunakan juga sangat sederhana dan mudah dipahami oleh rakyat Indonesia.

Pancasila:? 1)Ketuhanan Yang Maha Esa; 2)Kemanusiaan yang adil dan beradab; 3)Persatuan Indonesia; 4) Kerakyatan yang dpimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan; 5)Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Terkait hari kelahiran Pancasila, menurut Mun’im, kalangan NU sudah bersepakat bahwa Pancasila lahir pada 1 Juni 1945, yakni ketika Soekarno menyebutkan istilah “Pancasila” pada sidang sidang Badan Penyelidik Usaha Kemerdekaan Indonesia atau BPUPKI tersebut.

“Jumhur ulama NU sudah ma’lum mutlaq bahwa Pancasila lahir 1 Juni 1945 ketika Bung Karno (Soekarno) berpidato dalam sidang BPUPKI. Ketika itu Dr Radjiman (Wedyodiningrat) menanyakan perihal pidato Bung Karno, semua anggota BPUPKI secara aklamasi menerima,” kata Mu’nim DZ.

Menurutnya, perdebatan seputar tanggal kelahiran Pancasila hanya diciptakan oleh beberapa orang. Ia menyebut nama Nugroho Nutosusanto dan belakangan AM Fatwa, antara lain yang memicu perdebatan mengenai hari lahir Pancasila. “Kalau ijma’ NU Pancasila lahir tanggal 1 Juni 1945,” pungkasnya. (A. Khoirul Anam)Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Amalan, Jadwal Kajian, Hadits KOKAM Tegal

Sabtu, 22 April 2017

Pengamalan Hadis Dhaif

Amal ibadah secara lahir maupun batin haruslah didasarkan pada sumber-sumber keagamaan seperti Al-Quran, Sunah, Ijmak, Qiyas. Umat Islam setidaknya pengikut Ahlussunnah wal Jama‘ah yang besar itu sepakat dalam hal ini.

Sekali saja ibadah tidak didasarkan pada sumber-sumber itu, gempa bumi akan terjadi. Ini bisa dimaklum karena mereka tidak mau agama mereka rusak karenanya. Selain itu mereka ingin ibadah yang bersumber pada tuntunan agama itu diterima baik di sisi Allah.

Pengamalan Hadis Dhaif (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengamalan Hadis Dhaif (Sumber Gambar : Nu Online)

Pengamalan Hadis Dhaif

Namun demikian umat Islam sering dihantui keraguan ketika mengamalkan ibadah berdasarkan hadis. Mereka takut mengamalkan ibadah yang didorong oleh hadis palsu. Pandangan ini benar. Karena, barang palsu entah itu emas, hadis, atau bisnis sekalipun, tetaplah palsu. Singkat kata, hadis palsu bukanlah hadis.

Lantaran kewaspadaannya ini masyarakat terjangkit rasa takut keterlaluan. Bahkan sebagian dari mereka mulai alergi terhadap hadis dhaif. Dhaif artinya lemah. Lemah ditinjau dari segi orang yang meriwayatkan hadis atau isi hadis itu sendiri.

KOKAM Tegal

KOKAM Tegal

Sikap alergi diiiringi dengan rasa cemas terhadap hadis dhaif semacam ini sudah keluar dari kewaspadaan yang dianjurkan agama. Imam Nawawi dalam kitab al-Azkar memberi komentar perihal ini.

فصل قال العلماء Ù…Ù? المحدثÙ? Ù? والفقهاء وغÙ? رهم Ù? جوز ÙˆÙ? ستحب العمل فى الفضائل والترغÙ? ب والترهÙ? ب بالحدÙ? Ø« الضعÙ? ف ما لم Ù? ÙƒÙ? موضوعا وأما الأحكام كالحلال والحرام والبÙ? ع والÙ? كاح والطلاق وغÙ? ر ذلك فلا Ù? عمل فÙ? ها إلا بالحدÙ? Ø« الصحÙ? Ø­ أو الحسÙ? إلا Ø£Ù? Ù? كوÙ? فى احتÙ? اط فى شئ Ù…Ù? ذلك

“Ulama dari kalangan ahli hadis, ahli fiqih, dan ahli lainnya mengatakan, ‘(Umat) boleh dan dianjurkan mengamalkan sesuatu ibadah untuk mendapatkan keutamaan, menyemangati dan menjauhkan umat dari sesuatu berdasarkan hadis dhaif. Sejauh hadis itu tidak palsu.’

‘Sedangkan untuk kepentingan hukum seperti menentukan halal, haram, jual-beli, nikah, talaq, dan lainnya, (umat) harus mendasarkannya pada hanya hadis shahih atau hasan. Boleh juga dengan hadis dhaif dengan catatan harus dilakukan dengan penuh kehati-hatian.’”

Karenanya, untuk menghindari kecemasan yang tidak perlu, patut kiranya umat Islam kembali mengingat pedoman dari Imam Nawawi seperti dikutip di atas.

(Alhafiz Kurniawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Amalan, Syariah, Jadwal Kajian KOKAM Tegal

Rabu, 11 Mei 2016

Dibutuhkan Lebih dari Sekedar Perubahan Regulasi untuk Mengatasi Politik Uang dan Politik Identitas

Belanda, KOKAM Tegal. Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama Belanda (Lakpesdam PCI NU Belanda) menyelenggarakan diskusi dengan tema Money and Identity Politics on Electoral Democracy in Indonesia di Fakultas Hukum, Universitas Leiden, Belanda, Selasa (4/7).

Koordinator Penyelenggara Yance Arizona mengemukakan, diskusi publik ini diselenggarakan dalam rangka melakukan telaah akademik terkait fenomena penyelenggaraan Pemilu di Indonesia saat ini yang menunjukkan semakin masifnya politik uang dan penggunaan identitas sebagai alat untuk memenangkan pemilihan.

Dibutuhkan Lebih dari Sekedar Perubahan Regulasi untuk Mengatasi Politik Uang dan Politik Identitas (Sumber Gambar : Nu Online)
Dibutuhkan Lebih dari Sekedar Perubahan Regulasi untuk Mengatasi Politik Uang dan Politik Identitas (Sumber Gambar : Nu Online)

Dibutuhkan Lebih dari Sekedar Perubahan Regulasi untuk Mengatasi Politik Uang dan Politik Identitas

Hadir sebagai narasumber antara lain; Fritz Edward Siregar (Komisioner Bawaslu bidang Hukum), Prof. ? Gerry van Klinken (Guru Besar bidang Sejarah Universitas Amsterdam) Ward Berenschot ? (Peneliti di KITLV), serta Awaludin Marwan (Lakspesdam PCINU Belanda, Univeristas Utrecht).

Fritz yang baru saja menjabat sebagai komisioner Bawaslu menyampaikan bahwa masih banyak problem regulasi dalam menangani permasalahan politik uang. Misalkan adanya unsur ‘mempengaruhi pemilih’ dalam pemberian uang atau barang kepada pemilih oleh tim sukses kandidat dalam pemilu dan pilkada. Unsur ini cukup sulit dibuktikan sehingga menimbulkan penafsiran yang berbeda-beda di dalam praktiknya antara Bawaslu, Kepolisian dan Kejaksaan. Selain itu, waktu penanganan yang singkat juga menjadi kendala untuk mengatasi hal ini.

Persoalan lain yang juga butuh perhatian adalah praktik menjual barang (Sembako) dengan harga murah. Model bazar murah ini sudah banyak terjadi, termasuk dalam Pilkada DKI Jakarta yang lalu. Belum tegas aturan yang dapat mengkualifikasikan bazar sebagai politik uang, misalkan dengan diskon berapa persen dari harga pasar dapat dikualifikasikan sebagai pelanggaran. Apakah menjual dengan harga 70%, 50% atau 30% dapat dikategorikan sebagai politik uang?

Dalam kaitannya dengan politik identitas, Bawaslu telah melakukan penelitian di enam provinsi dan menemukan bahwa politik identitas mempengaruhi hasil pemilihan kepala daerah. Politik identitas menekankan perbedaan sebagai preferensi untuk memilih pemimpin. Secara faktual, politik yang menekankan identitas bagi sebagian kalangan dipandang wajar karena karakteristik masyarakat Indonesia yang plural berdasarkan agama, suku, dan berbagai latarbelakang lainnya. Namun ia jadi masalah ketika menjurus kepada tindakan diskriminasi kepada sebagian kelompok tertentu. Bawaslu belum punya peraturan yang detail untuk menentukan kapan dan dimana suatu tindakan dapat dikualifikasikan pelanggaran karena menggunakan identitas untuk mempengaruhi pemilih.

KOKAM Tegal

Guru besar sejarah Universitas Amsterdam, Gerry van Klinken, menjelaskan salah satu akar dari politik identitas yang menguat hari ini dengan istilah Ethnic Bossism, yaitu semacam relasi patron-client yang telah berkembang dalam sejarah masyarakat Indonesia. Dia menyampaikan berbagai peta yang menunjukan perbedaan kolonisasi dan pewargenagaraan paska kolonial antara Jawa-Sumatra dan daerah lain di Indonesia. Penjelasan ini berguna untuk memahami mengapa politik identitas sangat kental di luar Jawa dan sedikit di Jawa, dengan beberapa pengecualian. Termasuk pula peta kekerasan komunal berbasis etnik yang terjadi pada tahun 1999-2002 yang terjadi di Sulawesi dan Kalimantan. Kerjasama antara penguasa kolonial dengan sultan dan raja-raja sejak masa kolonial menyuburkan Ethnic Bossism yang sekarang semakin meluas paska Orde Baru. Misalkan dengan mekanisme yang memberikan keistimewaan bagi putra asli daerah untuk posisi-posisi di pemerintahan daerah dan proyek pembangunan di daerah.

KOKAM Tegal

Lebih lanjut, Gerry menyampaikan bahwa Ethnic Bossism berbahaya bagi kelangsungan demokrasi. Lawan dari Ethnic Bossism adalah democratic accountability yang menekankan inklusivitas dan partisipasi masyarakat dalam pembangunan. Ada dua pendekatan yang perlu dipertimbangkan kedepan untuk mengatasi situasi keterjebakan pada sistem oligarkis patron-client ini yaitu suatu pemerintahan pusat yang kuat dan demokratis sehingga bisa memberdayakan warga negara. Pendekatan lain adalah membangun aliansi lintas daerah dari gerakan partisipasi warga dan pemimpin yang baik, terutama antara kelompok urban di Jawa dengan rural di luar Jawa.?

Ward Berenschot menyampaikan presentasi dengan judul Why is Money Politics so Pervasive in Indonesia: An economy analysis. Dia memaparkan hasil risetnya di 38 daerah dengan wawancara terhadap ahli di daerah untuk menyusun Indek Persepsi Klientisme (Clientism Perception Index). Studi ini penting untuk melihat bagaimana relasi patron-client antara masyarakat dan tuannya baik berdasarkan identitas suku dan identitas lainnya juga mempengaruhi politik uang. Studi itu menemukan bahwa semakin ke daerah, maka politik uang semakin massif. Semakin ke nasional, misalkan dalam pemilihan Presiden dan Wakil Presiden, kecenderungan politik uang semakin berkurang.

Dalam kaitannya dengan politik identitas, studi yang dilakukan oleh Ward melengkapi apa yang telah dilakukan oleh Gerry van Klinken, terutama untuk melihat perbedaan antara Jawa dan luar Jawa. Hal lain yang menarik dari studi ini menunjukan bahwa praktik politik identitas cenderung menguat di Ibukota Provinsi di luar Jawa, terutama di Kalimantan, Sulawesi dan Papua. Hal lain yang menarik dari survey ini menunjukan bahwa praktik politik identitas cenderung menguat di Ibukota Provinsi di luar Jawa, terutama di Kalimantan, Sulawesi dan Papua. Ekonomi dalam kota-kota ini cenderung sangat tergantung kepada uang dari negara, karena tidak banyak ditemukan industri di sana.

Ward menganjurkan perlunya mengutamakan politik berdasarkan program dari pada politik berdasarkan relasi klientisme dalam pemilu. Lebih lanjut, Ward mengusulkan perlu adanya waktu khusus bagi Bawaslu sebelum hari pemungutan suara untuk melaporkan kepada publik mengenai pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh kandidat dalam pemilu sehingga menjadi preferensi bagi pemilih dalam menentukan pilihannya. Di satu sisi memang dibutuhkan perubahan peraturan mengatasi politik uang dan politik identitas, namun menurut Ward juga diperlukan perubahan dalam praktiknya. Misalkan dengan memberikan perlindungan yang cukup bagi pelapor pelanggaran dan anggota Bawaslu yang menangani pelanggaran pemilu. Sering pelanggaran tidak bisa diatasi karena aktor-aktor lapangan khawatir akan keselamatan dan statusnya di daerah.

Awaludin Marwan menyampaikan beberapa warisan hukum yang diskriminatif yang pernah berlaku di Indonesia. Umumnya yang menjadi korban dari diskriminasi struktural itu adalah etnis Tionghoa. Dalam kaitannya dengan itu, Awaludin melihat bahwa apa yang terjadi dengan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang dijerat pidana penodaan agama adalah kelanjutan dari proses diskriminasi yang telah berlangsung lama. Besarnya demonstrasi yang menghendaki agar Ahok dihukum meskipun tidak langsung, tetapi sangat mempengaruhi posisi Ahok dalam pilkada. Lebih lanjut, Awaludin menilai bahwa peraturan perundang-undangan mengenai kepemiluan saat ini belum dapat mengatasi politik SARA yang diskriminatif. Sehingga, pembaruan hukum kedepan harus diarahkan kepada hal tersebut. Salah satunya dengan mengadopsi prinsip-prinsip penting dalam UU Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnik ke dalam sistem hukum pemilu. (Red-Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Ubudiyah, Jadwal Kajian KOKAM Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs KOKAM Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik KOKAM Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan KOKAM Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock