Tampilkan postingan dengan label Kajian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kajian. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 Februari 2018

Sambut Bulan Haji, Calon Jamaah Harus Jaga Niat

Surabaya, KOKAM Tegal. Di samping menjaga kesehatan dan menyiapkan kebutuhan selama satu bulan lebih di tanah suci, para calon jamaah haji juga harus mempersiapkan mental agar bisa merampungkan ibadah dengan baik. Yang juga sangat menentukan adalah kemurnian hati agar titel sebagai haji mabrur bisa diraih.

"Ibadah haji mensyaratkan kekuatan fisik jamaah karena akan melakukan sejumlah ibadah yang membutuhkan tenaga ekstra," kata H Farmadi Hasyim, Kepala Seksi Haji Kantor Kementerian Agama Kota Surabaya, Senin (10/8).

Sambut Bulan Haji, Calon Jamaah Harus Jaga Niat (Sumber Gambar : Nu Online)
Sambut Bulan Haji, Calon Jamaah Harus Jaga Niat (Sumber Gambar : Nu Online)

Sambut Bulan Haji, Calon Jamaah Harus Jaga Niat

Mempersiapkan bekal sejak dini dan menempuh perjalanan panjang sejak dari rumah hingga ke pemondokan dan ke tanah suci tentu membutuhkan kondisi tubuh yang prima, lanjutnya. "Karena itu selama menunggu jadwal keberangkatan, disarankan jamaah untuk meperbanyak olahraga sebagai latihan agar saat melaksanakan ibadah tidak mengalami masalah," ungkapnya.

Dan Ustadz Farmadi, sapaan akrabnya yakin bahwa materi seputar hal ini telah disampaikan saat manasik yang diikuti calon jamaah. "Tinggal mengingat dan menjalankan seluruh anjuran itu dengan baik," kata Wakil Ketua Lembaga Dakwah PWNU Jawa Timur ini.

KOKAM Tegal

KOKAM Tegal

Yang juga sangat penting untuk diperhatikan adalah terus lurus dalam menata niat. "Karena factor inilah yang akan sangat diuji selama pelaksanaan ibadah haji," terangnya. Bertemu dengan kaum muslimin dari berbagai daerah dan negara, tentu juga diiringi dengan tabiat dan beragam pula, lanjutnya.

"Dibutuhkan kebesaran hati, kelapangan jiwa dan lurusnya niat agar selama pelaksanaan haji, para jamaah mampu mengendalikan diri dan emosi," tandasnya. Apalagi pada perlaksanaan haji kali ini cuaca lumayan terik, maka kesabaran dan kemurnian niat sangat menentukan, lanjutnya.

?

"Diperkirakan kloter pertama jamaah haji Indonesia akan berada di Asrama Haji tanggal 20 Agustus," pungkasnya. (Syaifullah/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Kajian, Kiai KOKAM Tegal

NU Tak Pernah Main-main dengan Perusak Lingkungan

Jakarta, KOKAM Tegal

Nahdlatul Ulama (NU) tak pernah bersikap main-main dengan para pelaku perusak lingkungan. Organisasi kemasyarakatan Islam terbesar di Indonesia itu telah sejak lama menegaskan bahwa tak ada kata maaf bagi pelaku kejahatan hutan dan lingkungan.



NU Tak Pernah Main-main dengan Perusak Lingkungan (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Tak Pernah Main-main dengan Perusak Lingkungan (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Tak Pernah Main-main dengan Perusak Lingkungan

Demikian ditegaskan Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj saat menjadi narasumber pada Halaqah bertajuk “Perubahan Iklim dan Pengurangan Risiko Bencana Berbasis Masyarakat dalam Perspektif Islam” di Hotel Gren Alia Cikini, Jakarta, Selasa (24/7)

Dalam acara yang juga dihadiri Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Mar’ie Muhammad itu, Kang Said—begitu panggilan akrabnya—menjelaskan, pada Muktamar NU ke-29 tahun 1994, di Cipasung, Tasikmalaya, Jawa Barat, NU mengeluarkan fatwa yang melarang keras setiap bentuk dan upaya merusak lingkungan hidup.

KOKAM Tegal

Sebagaimana juga telah ditegaskan di dalam Al-Quran, jelas Kang Said, NU memfatwakan, pelaku perusakan lingkungan atau hutan harus dihukum sekeras-kerasnya. “Kalau perlu dihukum mati, atau dibuang, diasingkan ke tempat lain yang terpencil,” ujarnya pada halaqah yang digelar Community Based Disaster Risk Management (CBDRM) NU itu.

KOKAM Tegal

Hal tersebut, katanya, bukanlah fatwa main-main dan tanpa dasar. Selain telah ditegaskan di dalam Islam, perusakan lingkungan tak hanya berakibat pada rusaknya tatanan ekosistem, melainkan pula mengancam keberlanjutan kehidupan manusia. Dengan demikian, para pelakunya harus diganjar dengan hukuman sekeras-kerasnya.

Menurutnya, berbagai musibah bencana alam yang terjadi belakangan ini yang merupakan akibat dari perusakan lingkungan, sebagian besar para korbannya adalah warga Nahdliyin (sebutan untuk warga NU).

Karena itu, ia juga meminta agar para santri juga dibekali dengan pengetahuan dan keterampilan tentang penanganan bencana alam. Pun pengetahuan akan pentingnya menjaga serta melestarikan alam.

Sependapat dengan Kang Said, Mar’ie mengatakan, pada dasarnya NU memiliki posisi penting dalam hal penanganan bencana alam, tidak hanya pada penanganan tanggap darurat jika terjadi bencana, melainkan peran dalam menjaga dan melestarikan lingkungan.

Basis massa Nahdliyin yang tak bisa dihitung kecil jumlahnya, papar Mar’ie, sangat potensial jika dimanfaatkan dengan baik, terutama dalam hal penanganan bencana alam berbasis masyarakat. Apalagi, tambahnya, NU memiliki ratusan ribu lembaga pendidikan pondok pesantren. (rif)Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Kajian, Humor Islam KOKAM Tegal

Jumat, 02 Februari 2018

Sistem Budaya Daerah Kita dan Modernisasi

Oleh KH Abdurrahman Wahid. Beberapa belas tahun lalu, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengadakan penelitian tentang 14 sistem budaya daerah di negeri kita. Sistem budaya daerah Aceh hingga Nusa Tenggata Timur (NTT) diteliti, termasuk sistem budaya Jawa I dan Jawa II. Yang dimaksudkan dengan sistem budaya Jawa I adalah sistem budaya Jawa yang ada di daerah-daerah pusat keraton, seperti Yogyakarta dan Solo. Sebaliknya, sistem budaya Jawa II adalah Jawa pinggiran, terutama di Jawa Timur.

Budaya pesantren, dalam hal ini, termasuk sistem budaya Jawa II. Hasil yang sangat menarik dari penelitian tersebut, yang dipimpin Dr. Mochtar Buchori, adalah pentingnya menerapkan sistem-sistem tersebut di saat sistem modern belum dapat diterapkan. Sistem budaya Ngada di Flores Timur, umpamanya, adalah substitusi bagi sistem hukum nasional kita di daerah itu, ketika belum berdiri lembaga pengadilan di sana. Kode etik Siri dalam masyarakat Bugis, yang berintikan pembelaan terhadap kehormatan diri, tidaklah lekang pada masa ini. Beberapa kejadian penggunaan badik untuk mempertahankan diri, di berbagai daerah di kalangan orang Bugis, jelas menunjukkan adanya penerapan nilai-nilai yang berlaku dalam sistem budaya daerah Bugis itu.

Sistem Budaya Daerah Kita dan Modernisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Sistem Budaya Daerah Kita dan Modernisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Sistem Budaya Daerah Kita dan Modernisasi

Penelitian menunjukkan, terdapat kemampuan hidup sistem budaya daerah kita di tengah-tengah arus modernisasi yang datang tanpa dapat dicegah. Karenanya, sikap yang tepat adalah bagaimana memanfaatkan sistem budaya daerah di suatu tempat dalam satu periode, dengan dua tujuan: menunggu mapannya masyarakat dalam menghadapi modernisasi, dan mengelola arus perubahan untuk tidak datang secara tiba-tiba. Dengan cara demikian, kita dapat mengurangi akibat-akibat modernisasi menjadi sekecil mungkin.

KOKAM Tegal

***

Clifford Geertz dari Universitas Princeton, menganggap kyai/ulama’ pesantren sebagai “makelar budaya” (cultural broker). Dia menyimpulkan demikian, karena melihat para kyai melakukan fungsi screening bagi budaya di luar masyarakatnya.

KOKAM Tegal

Nilainilai baru yang dianggap merugikan, disaring oleh mereka agar tidak menanggalkan budaya lama —kyai bagaikan dam/ waduk yang menyimpan air untuk menghidupi daerah sekitar. Namun pengaruh budaya luar yang datang ke suatu daerah, bagaikan permukaan air yang naik oleh adanya bendungan itu. Masyarakat dilindungi dari pengaruh-pengaruh negatif, dan dibiarkan mengambil pengaruh-pengaruh luar yang positif.

Hiroko Horikoshi dalam disertasinya2 berhasil membuktikan bahwa Kyai mengambil peranan sendiri untuk merumuskan gerak pembangunan di tempat mereka berada. Ini berarti, menurut Horikoshi reaksi pesantren terhadap modernisasi tidaklah sama dari satu ke lain tempat. Dengan demikian, tidak akan ada sebuah jawaban umum yang berlaku bagi semua pesantren terhadap tantangan proses modernisasi. Dengan kata lain, Horikoshi menolak pendapat Geertz di atas.

Menurut Horikoshi, masing-masing pesantren dan Kyai akan mencari jawaban-jawaban sendiri —dan, dengan demikian tidak ada jawaban umum yang berlaku bagi semua dalam hal ini. Pendapat Geertz di atas, dengan sendirinya, terbantahkan oleh temuan-temuan yang dilakukan Horikoshi terhadap reaksi Kyai Yusuf Thojiri dari Pesantren Cipari, Garut, atas tantangan modernisasi. Pesantren yang dipimpin oleh besan mendiang KH. Anwar Musaddad itu, tentu memberikan reaksi lain terhadap proses modernisasi. Pesantren yang sekarang dipimpin oleh Ustadzah Aminah Anwar Musaddad itu, sekarang justru tertarik pada upaya mendukung Usaha Kecil dan Menengah (UKM) yang bergerak di bidang garment dan pelestarian lingkungan alam melalui penghutanan kembali.

***

Jelaslah dengan demikian, bahwa bermacam cara dapat digunakan untuk mengenal berbagai reaksi terhadap proses modernisasi. Ada reaksi yang menggunakan warisan sistem budaya daerah, tapi ada pula yang merumuskan reaksi mereka dalam bentuk tradisi yang tidak tersistemkan. Ada pula reaksi yang bersifat temporer, tapi ada pula yang bersifat permanen. Ada yang berpola umum, tapi ada pula yang menggunakan caracara khusus dalam memberikan reaksi.

Kesemuannya itu dapat disimpulkan, keengganan menerima bulat-bulat apa yang dirumuskan “orang lain” untuk diri kita sendiri. Proses pribumisasi (nativisasi) berlangsung dalam bentuk bermacammacam, pada saat tingkat penalaran dan keterampilan berjalan, melalui berbagai sistem pendidikan. Dengan demikian, proses pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) di Indonesia berjalan dalam dua arah yang berbeda. Di satu pihak, kita menerima pengalihan teknologi dan keterampilan dari bangsa-bangsa lain, melalui sistem pendidikan formal—maka, lahirlah tenagatenaga profesional untuk mengelolanya. Di pihak lain, pendidikan informal kita justru menolak pendekatan menelan bulat-bulat apa yang datang dari luar.

Dengan demikian, tidaklah heran jika ada dua macam jalur komunikasi dalam kehidupan bangsa kita. Di satu sisi, kita menggunakan jalur komunikasi modern, yang bersandar pada sistem pendapat formal dan media massa. Media massa pun, yang dahulu sangat takut pada kekuasaan pemerintah, kini justru tunduk terhadap kekuasaan uang; dengan kemampuan yang belum berkembang menjadi proses yang efektif. Di sisi lain, digunakan jalur lain, yaitu komunikasi langsung dengan massa kongregasi jama’ah masjid/surau, gereja, pengajian-pengajian khalayak/majelis ta’lim, kelenteng/vihara, merupakan saluran wahana langsung tersebut. Apalagi, jika seseorang atau kelompok mampu menggunakan kedua jalur komunikasi itu, tentu akan menjadikan sistem politik kita sekarang dan di masa depan menjadi sangat transparan, akan menjadi lahan menarik untuk dapat dipelajari dan diamati dengan seksama.

*) Diambil dari Abdurrahman Wahid, Islamku Islam Anda Islam Kita: Agama Masyarakat Negara Demokrasi, 2006 (Jakarta: The Wahid Institute).

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Kajian, Anti Hoax KOKAM Tegal

Kamis, 25 Januari 2018

Pesantren Gudangnya Ilmu Pengetahuan

Jepara, KOKAM Tegal. Pesantren sebagai lembaga pendidikan tertua di Nusantara merupakan gudangnya ilmu pengetahuan. Demikian dikemukakan Kepala Kantor Kementerian Agama kabupaten Jepara H Muhdi Zamru dalam kegiatan Gerakan Santri Menulis; Sarasehan Jurnalistik Ramadhan 2013.

Pesantren Gudangnya Ilmu Pengetahuan (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Gudangnya Ilmu Pengetahuan (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Gudangnya Ilmu Pengetahuan

Kegiatan diselenggarakan di Pondok Pesantren Balekambang desa Gemiring Lor kecamatan Nalumsari kabupaten Jepara, Selasa (16/7).  

Muhdi menyatakan, sebagai gudang ilmu pengetahuan pesantren kini sudah sesuai dengan tuntutan zaman. Pesantren mempertahankan kajian kitab kuning dan menambah kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan santri. Sehingga jebolan-nya bisa menyamai lulusan pendidikan umum yang lain. 

KOKAM Tegal

Disisi lain lanjut Muhdi santri mempunyai banyak kemahiran. Semisal kepandaian dalam berbicara. Namun keluwesan dalam berbicara himbaunya agar diimbangi dengan kepandaian dalam menulis. Sebab menulis, tambahnya, sudah diwariskan sejak penghafal Al-Qur’an era sahabat berkeinginan mengumpulkan hafalan itu dalam bentuk teks. Tujuannya agar saat para penghafal itu wafat teks itu masih kekal abadi. 

Karenanya, kegiatan yang difasilitasi harian Suara Merdeka dan sudah berlangsung 19 tahun itu disambutnya dengan positif. “Dengan berkarya (menulis, red) maka generasi yang akan datang akan tetap bisa menikmati karya-karya yang kita torehkan,” tambahnya. 

KOKAM Tegal

Ia juga menyebut Kurikulum 2013 salah satu tujuannya untuk menggerakkan otak kiri dan kanan. Otak kiri untuk menghafal paling banter hanya mampu menampung 10%. Sedangkan otak kanan dengan prosentase selebihnya 90% merupakan pusat untuk kreativitas berpikir. 

“Salah satu kreativitas untuk berpikir ya dengan membaca dan menulis. Dengan menulis kita akan memberikan informasi kepada khalayak. Dan itu merupakan ikhtiar kita untuk menguasai dunia,” tegasnya kepada 300an santri yang mengikuti kegiatan.

Dalam kegiatan yang berlangsung sehari itu hadir HM Solikhin (Kabid Madin dan Pondok Pesantren Kanwil Kemenag Provinsi Jawa Tengah), H Ahmad Marzuqi (Bupati Jepara), Harun-Rofiul Hadi (Unwahas Semarang), H Miftakhudin dan KH Mustamir Wildan (perwakilan Pengasuh Pesantren).

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Syaiful Mustaqim

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Kajian KOKAM Tegal

Selasa, 16 Januari 2018

Santri Annuqayah Kaji Militansi Sahabat Nabi untuk Teladan Berorganisasi

Sumenep, KOKAM Tegal. Ikatan Santri Muda Lintas Kecamatan (Iksandalika) Kabupaten Sumenep Madura Jawa Timur melangsungkan dialog terbuka di Pesantren Annuqayah Lubangsa Selatan, Guluk-Guluk, Sumenep, Jumat (25/3). Tokoh pemuda Madura, Syamsuni, didapuk sebagai pemateri.



Santri Annuqayah Kaji Militansi Sahabat Nabi untuk Teladan Berorganisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Annuqayah Kaji Militansi Sahabat Nabi untuk Teladan Berorganisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Annuqayah Kaji Militansi Sahabat Nabi untuk Teladan Berorganisasi



Acara tersebut mengangkat tema Menumbuhkan Militansi Santri dalam Berorganisasi. Pembahasan militansi sahabat Nabi dalam berorganisasi cukup mengemuka di forum tersebut.

KOKAM Tegal





Menurut Syamsuni, syarat membangun kinerja bersama adalah militansi yang dimiliki semua anggota organisasi. Militansi inilah gambaran ketika sebuah organisasi memiliki keyakinan yang sama akan terwujudnya visi dan misi organisasi.

KOKAM Tegal





"Militansi adalah rasa kebersamaan yang penuh ketulusan, kesabaran, dan keikhlasan secara kolektif. Militansi tergolong sholeh sosial dalam berkinerja di mana semuanya memiliki semangat yang sama, energi yang sama dalam mencapai sebuah tujuan," urainya.





Ditegaskan, militansi adalah kekuatan para sahabat Nabi Muhammad ketika mereka menjadi agen perubahan dalam mewujudkan visi dan misi perjuangan.





Kita bisa cermati, tambah pria yang juga jurnalis tersebut, betapa militannya para sahabat Nabi di Madinah ketika dikepung kafir quraisy. Negara Madinah menjadi aman karena kaum di dalamnya sevisi dengan Nabi untuk membentuk masyarakat yang baldatun thayyibatun warobbun ghafur.





"Muaranya, umat Islam yang punya militansi tinggi di Madinah, mampu menaklukkan Makkah tanpa adanya pertumpahan darah. Kunci militansi ialah merasa memiliki dan bertanggung jawab untuk kemajuan organisasi," tegas Syamsuni. (Hairul Anam/Fathoni). Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Amalan, Kajian, Olahraga KOKAM Tegal

Senin, 15 Januari 2018

Menjawab Tuduhan Kiai Said Mendukung Hary Tanoe

Jakarta, KOKAM Tegal. Beberapa hari terakhir publik sempat dikejutkan dengan pemberitaan terkait Ketua Umum Nahdlatul Ulama KH Said Aqil Siroj mempromosikan Hary Tanoe untuk menjadi presiden. Namun demikian, Wakil Sekretaris Jenderal Nahdlatul Ulama Masduki Baidlowi menyangkal bahwa pemberitaan tersebut tidaklah benar.

Masduki menjelaskan bahwa sebuah berita harus berimbang dan sesuai dengan kaidah kode etik jurnalistik. Ia mengatakan bahwa pemberitaan yang melibatkan Kiai Said tersebut adalah tidak utuh dan hanya sepotong-sepotong.

“Pembicaraan Ketua Umum (Kiai Said) mesti dimuat secara utuh, harus sesuai dengan prinsip 5W plus 1H,” kata Masduki di kantor KOKAM Tegal, Selasa, (26/4).

Menjawab Tuduhan Kiai Said Mendukung Hary Tanoe (Sumber Gambar : Nu Online)
Menjawab Tuduhan Kiai Said Mendukung Hary Tanoe (Sumber Gambar : Nu Online)

Menjawab Tuduhan Kiai Said Mendukung Hary Tanoe

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa foto-foto Hary Tanoe yang tersebar di berbagai media sosial tersebut adalah kumpulan dari rangkaian kunjungan Hary Tanoe ke berbagai pesantren, termasuk pesantren Nahdlatul Wathon di NTB dan Pesantren Al Falah di Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan.?

“Itu (foto-foto itu) adalah kompilasi dari beberapa peristiwa yang dihadiri oleh Hary Tanoe di beberapa pesantren,” terangnya.

KOKAM Tegal

Namun, imbuh Masduki, media memberitakan dan menggiring pendapat masyarakat seolah-olah itu adalah satu peristiwa ketika Hary Tanoe bertamu ke pesantren Al Tsaqofah bulan lalu.?

“Itu tidak benar dan bersifat fitnah,” tegasnnya.?

Hary Tanoe bertandang ke Pesantren Al Tsaqafah asuhan Kiai Said di Ciganjur, Jakarta Selatan, pada Minggu, (13/3). Dalam lawatannya tersebut, Hary Tanoe hanya berbagi ilmu dan pengalaman kepada para santri Al Tsaqafah. (Muchlishon Rochmat/Zunus)?

KOKAM Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal RMI NU, Kajian, Quote KOKAM Tegal

Jumat, 12 Januari 2018

Liga Santri Nusantara, Konsep Sepak Bola Akhlakul Karimah

Jakarta, KOKAM Tegal. Kalau kita menonton pertandingan sepak bola, baik pada Liga Super Indonesia (LSI) atau liga di negara-negara lain, sepertinya menjadi lazim melihat pemain yang suka marah, memukul, menenendang, bahkan sampai menembak wasit lantaran si pemain dihadiahi kartu merah. Pun dengan suporternya, saling ejek dalam bentuk yel-yel, baku hantam dan deretan kekerasan lainnya.

Namun, kedua hal tersebut tidak berlaku bagi para pemain dan supporter bersama klub yang ikut serta pada kompetisi Liga Santri Nusantara (LSN) yang diadakan atas kerja sama Rabithath Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMI NU) dengan Kementerian Pemuda dan Olah raga (Kemenpora). 

Liga Santri Nusantara, Konsep Sepak Bola Akhlakul Karimah (Sumber Gambar : Nu Online)
Liga Santri Nusantara, Konsep Sepak Bola Akhlakul Karimah (Sumber Gambar : Nu Online)

Liga Santri Nusantara, Konsep Sepak Bola Akhlakul Karimah

Sebagai contoh, insiden yang menimpa seorang pemain bernama Aldo dari klub Al-Asy’ariyah (LSN 2016). Saat itu, Aldo melakukan pelanggaran dengan menekel pemain lawan, wasit pun menghadiahi kartu merah padanya. Namun, wasit cukup terkejut dengan tingkah Aldo yang seketika itu langsung mencium tangan wasit justru ketika ia harus menerima kenyataan diusir sang wasit.

(Baca: Diusir Wasit, Bukannya Marah Malah Cium Tangan)

KOKAM Tegal

Begitu juga yel-yel dari suporter yang menggema di stadion, bukan ejekan atau hinaan, melainkan asmaul husna dan sholawat yang mengudara.

(Baca: Perang Antar-Suporter ala Liga Santri Nusantara)

KOKAM Tegal

Penasihat LSN Mohamad Kusnaeni saat ditemui KOKAM Tegal di ANOE Hotel, Jakarta, Rabu (18/10) mengatakan, pemandangan di lapangan hijau seperti mencium tangan, dan pembacaan sholawat merupakan bagian dari ciri dikedepankan dalam kompetisi LSN, yakni sepak bola yang berakhlakul karimah.

Menurutnya, sifat-sifat baik yang pemain dapatkan dari pondok pesantren sudah seharusnya diimplementasikan saat berlaga di lapangan hijau. 

“Menghormati (keputusan) wasit, menghormati lawan itu kan bagian dari pendidikan moral yang ditanamkan ketika mereka mondok,” kata pria yang bakrab dipanggil Bung Kus ini. 

Lebih dari itu, kata pria kelahiran Cirebon, Jawa Barat ini, pada tahun ini para pemain juga diharapkan berusaha untuk menghindari pelanggaran yang dapat  menciderai lawan.  

“Karena salah satu yang kita tekankan adalah sepak bola ini untuk membangun persahabatan, sepak bola ini untuk memberi kesehatan bagi para pemian. jadi kalau samapai menciptakan masalah dengan adanya cidera itu kan merugikan bagi mereka,” terangnya.

Begitu pula dalam hal yel-yel. Menurut Bung Kus, hal tersebut menjadi bagian yang ditekankan dari konsep sepak bola akhlakul karimah. 

“Akhlakul karimah kan tidak hanya dalam bentuk perbuatan, tapi juga melalui perkataan yang baik (yel-yel),” ujar pria yang dikenal dengan komentator sepak bola ini. 

Ia memaparkan, penyelenggara menekankan kepada para supporter agar yel-yel yang menggema di stadion bersifat memberi dukungan bagi klub kesayangannya, dan menjauhi yel-yel yang sifatnya memprovokasi atau merendahkan klub lawan. 

“Bahkan lebih jauh lagi kami mendorong para santri yang hadir mendukung tim kesayangannya tersebut lebih baik memanjatkan doa dalam bentuk sholawat atau puji-pujian kepada nabi. Dan itu saya pikir hal yang kemudian menjadi trade mark dari penyelenggaraan LSN di berbagai daerah,” pungkasnya. (Husni Sahal/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Hadits, Kajian KOKAM Tegal

Kamis, 11 Januari 2018

Fatayat NU harus Mampu Membawa Diri

Brebes, KOKAM Tegal. Keberadaan Fatayat NU harus mampu membawa diri, jangan sampai di bawa ke sesuatu yang bersifat sementara. Artinya, bersikap netral dalam sikap politik ataupun pengabdian pada masyarakat. Tidak di bawa-bawa ke mana yang disukai oleh pemimpinnya, sehingga akan menjadi organisasi yang bermartabat dengan pelayanan yang prima dan tidak memihak.

“Mengelola Fatayat itu, harus dengan sinar keikhlasan dengan mampu mambawa diri,” demikian pesan Ketua Pemimpin Wilayah (PW) bidang Pendidikan dan Pengkaderan Fatayat NU Jawa Tengah  Hj Muta’alimah saat membuka Konferensi Cabang (Konfercab) Fatayat NU Brebes di Hotel Dedy Jaya Brebes, Ahad (16/12).

Fatayat NU harus Mampu Membawa Diri (Sumber Gambar : Nu Online)
Fatayat NU harus Mampu Membawa Diri (Sumber Gambar : Nu Online)

Fatayat NU harus Mampu Membawa Diri

Tidak berarti, kata Muta’alimah, Fatayat menghindar dari berbagai partai politik tetapi justru harus mampu bekerja sama. Kader-kader Fatayat bertebaran diberbagai partai politik juga menempati posisi pekerjaan diberbagai sektor. Sehingga kerjasama antar lembaga harus terus dibangun sesuai dengan koridor dan tidak melenceng dari Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) organisasi. 

KOKAM Tegal

“Kerja sama itu bukan kenikmatan yang di bagi bersama-sama, tetapi membangun sinergi untuk menggolkan visi dan misi organisasi,” terangnya.

KOKAM Tegal

Selain itu, lanjutnya, untuk mengelola Fatayat harus dipegang oleh orang-orang yang memiliki kompetensi dalam berorganisasi. Sebab berorganisasi itu memerlukan sentuhan tangan-tangan trampil yang ikhlas dan rela berkorban. 

Yang lebih utama, Muta’alimah menambahkan, dalam kiprahnya Fatayat harus berpegang teguh membantu NU dalam pengembangan Islam ahlussunah wal jamaah. Dengan tetap menjaga keutuhan NKRI. 

“Kita harus waspada dengan aliran-aliran Islam di Indonesia yang melenceng dari ajaran ahlussunah wal jamaah dan berupaya memporakporandakan NKRI,” tandasnya.

Untuk itu, kuantitas keanggatoaan Fatayat diupayakan dengan peningkatan kualitas keanggotaanya pula. “Kami bersyukur, ternyata anggota Fatayat tidak ketinggalan dalam pengetahuan dalam berbagai disiplin ilmu,” pungkasnya.

Sejalan dengan itu, Ketua Pengurus Cabang (PC) NU Brebes H Athoillah meminta kepada Fatayat jangan seperti tukang parkir. Artinya, tidak merasa memiliki tetapi hanya merasa dititipi. Sebab kalau hanya merasa dititipi maka pengelolaannyapun tidak maksimal. 

“Merawat Fatayat itu harus dengan niatan, Fatayat itu hak milik sehingga di rawat dengan temen (sepenuh hati, red),” ajak Athoillah.

Termasuk, dengan merawat NU berarti menjalin kemitraan dengan pemerintah di daerahnya. “Tidak ada alasan, untuk tidak mendukung pemerintahan di daerah,” tegas Athoillah.  

Hanya saja, lanjut Atho, Fatayat harus mampu menjaga diri agar tidak terserang penyakit kurap (kurang disiplin), kudis (kurang disiplin) dan kutil (kurang terapkan ilmu). Semua penyakit itu, bersumber dari kuman (kurang iman). “Kalau sudah kurang iman, maka akan mudah tergoyahkan keteguhannya mempertahankan islam ahlussunah wal jamaah,” kata Athoillah mengingatkan.

Konferensi Cabang dibuka Bupati Brebes Hj Idza Priyanti. Dalam sambutannya mampu memberi kontribusi terhadap pemerintahan. Termasuk didalamnya menangani bidang pendidikan, kesehatan dan perekonomian kerakyatan. 

Ketua panitia penyelenggara Amaliyah menerangkan, kegiatan konfercab diikuti oleh 288 dari 16 Pimpinan Anak Cabang (PAC) dan Pimpinan Ranting (PR) se Kabupaten Brebes. “PAC Banjarharjo, tidak mengirimkan delegasinya tanpa alasan yang jelas,” kata Amaliyah. 

Redaktur     : Mukafi Niam

Kontributor: Wasdiun

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Kajian Sunnah, Kajian, Makam KOKAM Tegal

Jumat, 05 Januari 2018

IPNU dan IPPNU Rekrut Pelajar Urban di Jakarta

Jakarta, KOKAM Tegal - Sebanyak 200 pelajar SMK Maarif Jakarta beserta dewan guru mengikuti deklarasi pengurus komisariat SMK Maarif Jakarta, Sabtu (10/9) sore. Acara ini dilanjutkan dengan Masa Kesetiaan Anggota (Makesta) sampai Ahad (11/9) yang diikuti oleh 28 orang terdiri atas pengurus OSIS dan perwakilan setiap kelas.

Tampak hadir Ketua Umum IPPNU Puti Hasni, pengurus harian IPNU dan IPPNU DKI Jakarta, dan pengurus harian IPNU dan IPPNU Jakarta Barat.

IPNU dan IPPNU Rekrut Pelajar Urban di Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU dan IPPNU Rekrut Pelajar Urban di Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU dan IPPNU Rekrut Pelajar Urban di Jakarta

Makesta kali ini mengusung tema Membangun Jiwa Enterpreneur Pelajar dalam Menghadapi Era Globalisasi. Deklarasi komisariat ini merupakan bentuk program IPNU dan IPPNU DKI Jakarta dalam kaderisasi.

Ketua IPNU DKI Jakarta Muhammad Muhadzab mengatakan, IPNU DKI Jakarta memfokuskan ke permasalahan kaderisasi di Ibukota Jakarta. Membentuk komisariat di tingkat Maarif, Pesantren, MAN, bahkan di tingkat SMAN/SMKN se-DKI Jakarta.

KOKAM Tegal

“Dengan demikian, IPNU DKI Jakarta merumuskan kaderisasi yang diterima oleh pelajar ibukota ini, yaitu Kaderisasi Urban 2016,” kata Muhadzab.

KOKAM Tegal

Kegiatan ini didukung oleh Ketua IPPNU Jakarta Barat Husnul Maulida. Menurutnya, Deklarasi komisariat di SMK Maarif Jakarta ini merupakan bentuk revitalisasi dan inovaai terhadap pengkaderan IPNU dan IPPNU di DKI Jakarta.

“Kami IPPNU Jakarta Barat siap mengawal”. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Tokoh, Sejarah, Kajian KOKAM Tegal

Kamis, 04 Januari 2018

Benarkah Narkoba Masuk Pesantren?

Oleh KH Ahmad Ishomuddin

Miris rasanya mendengar berita TV dan media cetak bahwa Komjen Budi Waseso (Kepala BNN) berencana mengumpulkan kiai dari seluruh Indonesia sebagai tindak lanjut dari adanya penyalahgunaan narkoba di pesantren di Jawa Timur. Saya berharap, mudah mudahan ucapan baik itu bukan untuk motif-motif politik yang tersembunyi.

Kepala BNN tentu tidak asal terima berita dan tidak asal membuat statemen yang bisa meresahkan umat Islam Se-Indonesia, khususnya warga NU, kepada lembaga pendidikan mana lagi umat Islam menyerahkan pendidikan putra putrinya jika benteng moral pondok-pondok pesantren justru runtuh dan berhasil dimasuki oleh sindikat narkoba?

Benarkah Narkoba Masuk Pesantren? (Sumber Gambar : Nu Online)
Benarkah Narkoba Masuk Pesantren? (Sumber Gambar : Nu Online)

Benarkah Narkoba Masuk Pesantren?

Sungguh menyedihkan jika pernyataan itu terbukti benar adanya, mengingat bahwa seluruh santri dan para kiai adalah manusia yang paling menjauhi minuman keras (miras), apalagi sampai menyalahgunakan narkoba, rasa-rasanya sebuah tuduhan dan rasa kuatir berlebihan yang jauh panggang dari api. Pondok pesantren selama ini adalah lembaga pendidikan agama Islam yang sudah terbukti dan berhasil mencetak generasi bangsa yang religius, berakhlak mulia dan punya jiwa nasionalisme yang tinggi.

Komjen Budi Waseso selaku Kepala BNN harus bisa membuktikan siapa kiai, santri dan tunjukkan pesantren mana di Jawa Timur yang menyalahgunakan narkoba. Berita tersebut tidak perlu dibesar-besarkan sehingga seolah penyalahgunaan narkoba di dunia pesantren sudah demikian massif. Sebab, pasti tidak masuk akal jika main pukul rata bahwa semua pesantren "dicurigai" atau dikuatirkan akan menjadi pusat peredaran narkoba yang oleh karenanya para kiai dari seluruh Indonesia perlu dikumpulkan.

Justru seluruh jajaran pemerintah, seperti Polri, Dirjen Bea Cukai dan lain-lain termasuk BNN sebagai leading sector nasional harus lebih optimal dan serius bekerja untuk mencegah dan memberantas maraknya produksi dan peredaran narkoba di seluruh Indonesia. BNN bersama Polri seharusnya lebih fokus dan rutin menangani dengan lebih tegas dan keras sindikat-sindikat atau mafia besar narkoba yang kini sudah memasuki fase paling membahayakan seluruh anak bangsa. Penegakan hukum harus lebih serius dan hukuman yang berefek jera wajib dijatuhkan kepada siapa pun--tanpa pandang bulu dan tebang pilih--yang terbukti memproduksi, mengedarkan atau menyalahgunakan narkoba.?

KOKAM Tegal

Pasti kita semua sepakat bahwa penyalahgunaan narkotika dan obat-obatan terlarang (narkoba) adalah musuh bersama dan karenanya menjadi tanggungjawab bersama. Perlu komitmen bersama yang bersifat nasional untuk lebih serius bekerjasama untuk mengoptimalkan pemberantasan narkoba.

Saya, sebagai Rais Syuriah PBNU, masih yakin seyakin-yakinnya, bahwa para santri dan para kiai di seluruh Indonesia terus bersatu menjadi benteng keutuhan NKRI yang mampu melindungi diri sendiri keluarga dan masyarakatnya dari serangan bertubi sindikat dan mafia narkoba. Saya percaya, Komjen Budi Waseso akan bekerjasama dan akan terus berkoordinasi untuk memberantas narkoba berdasarkan skala prioritas, memberantas tuntas yang kelas kakap hingga yang kelas teri tanpa tebang pilih.

Kepala BNN boleh mencemaskan isu masuknya sindikat narkoba ke dunia pesantren, tetapi tidak boleh dengan kecemasan yang berlebihan.

Selamat bertugas berat Bapak Komjen Budi Waseso, semua kiai tahu bahwa tugas nahi? anil munkar? (mencegah kemungkaran) itu jauh lebih berat dan beresiko dibandingkan sekedar? amru bil ma’ruf? (memerintahkan kebajikan).



KOKAM Tegal



Penulis adalah Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU)





Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Ubudiyah, Sholawat, Kajian KOKAM Tegal

Selasa, 26 Desember 2017

Jamaah Korban Crane Asal Jombang Hanya Luka Ringan

Jombang, KOKAM Tegal. Di antara korban musibah jatuhnya alat berat crane di Masjidil Haram adalah Sainten bin Said Tarub (61). Perempuan ini adalah warga Desa Segodorejo, Sumobito Jombang, Jawa Timur.  Ia yang mengalami luka ringan, menjalani perawatan di Rumah Sakit An Nur, Arab Saudi.

 

Sainten adalah jamaah haji asal Kabupaten Jombang yang turut menjadi korban robohnya crane proyek di Masjidil Haram, Makkah, Arab Saudi, Jumat (11/9) lalu.

Jamaah Korban Crane Asal Jombang Hanya Luka Ringan (Sumber Gambar : Nu Online)
Jamaah Korban Crane Asal Jombang Hanya Luka Ringan (Sumber Gambar : Nu Online)

Jamaah Korban Crane Asal Jombang Hanya Luka Ringan

Salah seorang anak korban, Nasratin mengungkapkan, ibunya merupakan Calon Jamaah Haji Kloter 15 Jombang pemegang paspor B0992684 yang berangkat melalui Embarkasi Juanda, Surabaya.

KOKAM Tegal

 "Ya ahamdulillah ibu baik-baik di sana. Kami sebelumnya sangat khawatir." ungkap Nasratin, Senin (14/9).

Kepala Seksi Haji dan Umrah Kantor Kemenag Jombang, Habib Adnan mengaku sudah mendapatkan laporan tentang adanya jamaah haji asal Jombang yang mengalami luka ringan dari Ketua Kloter.

KOKAM Tegal

Ia menjelaskan korban luka ringan itu bernama Sainten bin Said Tarub, warga Desa Segodorejo, Kecamatan Sumobito. Sainten berada di kloter 15 bersama ratusan CJH asal Jombang lainnya.

Dari laporan yang diterima Kemenag, jamaah tersebut tidak tertimpa secara langsung, namun hanya terkena percikan reruntuhan. "Saat ini beliau (Sainten) menjalani perawatan di RS Arab Saudi," pungkasnya.

 

Dari foto yang diterima media ini lewat salah seorang petugas haji, tampak korban didampingi oleh dokter Nur Lailaturriza, Kepala Puskesmas Pesantren (Puskestren) Tebuireng yang juga Tenaga Kesehatan Haji atau TKHI Kloter 15 SUB. (Ibnu Nawawi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Kajian, AlaNu KOKAM Tegal

Sabtu, 23 Desember 2017

Muktamar Harus Putuskan Penyatuan Kartu Keanggotaan Resmi NU

Jombang, KOKAM Tegal. Sebagai organisasi sosial keagamaan (jam’iyah diniyyah ijtima’iyah) yang memiliki anggota cukup banyak, sudah seharusnya NU memiliki data keanggotaan yang valid. Hal itu penting agar keberadaan jumlah anggota tidak hanya klaim, namun riil sebagai anggota resmi.

Muktamar Harus Putuskan Penyatuan Kartu Keanggotaan Resmi NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Muktamar Harus Putuskan Penyatuan Kartu Keanggotaan Resmi NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Muktamar Harus Putuskan Penyatuan Kartu Keanggotaan Resmi NU

"Karena itu yang sangat mendesak untuk dilakukan adalah menjadikan keanggotaan NU dalam satu kartu identitas resmi melalui putusan Muktamar," kata Sekretaris PCNU Jombang, H Muslimin Abdilla kepada KOKAM Tegal, Senin (6/4).?

Dia menandaskan, sudah saatnya semua lembaga, badan otonom maupun lajnah di NU tidak memiliki kartu identitas keanggotaan sendiri, melainkan menjadi satu identitas lewat Kartu Tanda Anggota NU atau Kartanu.

KOKAM Tegal

"Di Kartanu kan sudah ada kualifikasi apakah yang bersangkutan adalah anggota NU, GP Ansor, Fatayat, Muslimat, IPNU, IPPNU, dan sebagainya," kata Cak Muslimin, sapaan akrabnya. Justru dari pemilahan keangotaan tersebut, lanjutnya, maka setiap banom atau lembaga dapat dengan mudah melihat secara pasti berapa anggota yang telah terdaftar.

Cak Muslimin sangat menyayangkan kalau selama ini terkesan ada ‘persaingan’ antara data pengurus dan anggota NU dengan banom serta lembaga yang ada. "Muslimat memiliki Kartu Tanda Anggota Muslimat atau Kartamus, demikian juga kepengurusan di GP Ansor maupun Fatayat serta yang lain mengeluarkan kartu keanggotaan sendiri,” ungkapnya.

KOKAM Tegal

Padahal menurutnya, andai data yang telah dikumpulkan lewat Kartanu dioptimalkan, maka perihal keanggotaan NU, baik di banom maupun lembaga serta lajnah dapat dengan mudah terpantau.

Oleh sebab itu, tambahnya, pada Muktamar ke-33 NU yang akan berlangsung di Jombang awal Agustus mendatang hendaknya hal ini menjadi pembicaraan serius. Muktamar nanti idealnya ada pembicaraan soal terintegrasinya keanggotaan NU melalui Kartanu ini.?

“Hal ini sebagai jawaban atas klaim besarnya jumlah jamaah NU serta tentunya data yang ada bisa dioptimalkan untuk memperjelas ? segmentasi keanggotaan yang ada,” pungkasnya. (Syaifullah/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Syariah, Kajian Islam, Kajian KOKAM Tegal

Minggu, 17 Desember 2017

Zakat Untuk Pemberdayaan dan Zakat Profesi

Al-Quran dalam surat At-Taubah ayat 60 menerangkan bahwa zakat harus di berikan kepada asnaf delapan, yaitu faqir, miskin, amil, muallaf, memerdekakan budak, orang yang punya hutang, ibnu sabil dan sabilillah). 

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ ۖ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana

Akan tetapi, perkembangan yang ada di masyarakat sekarang ini memunculkan berbagai macam program pemberdayaan ekonomi umat yang menggunkan dana zakat  misalnya untuk memberi pinjaman kepada pedagang kecil, penambahan modal usaha mikro dan lain sebagainya. 

Zakat Untuk Pemberdayaan dan Zakat Profesi (Sumber Gambar : Nu Online)
Zakat Untuk Pemberdayaan dan Zakat Profesi (Sumber Gambar : Nu Online)

Zakat Untuk Pemberdayaan dan Zakat Profesi

Hal ini seolah bertentangan dengan ketentuan Surat At-Taubah ayat 60 di atas, padahal tidak demikian. Karena pada dasarnya penggunaan dana zakat untuk pemberdayaan hanyalah merupakan pengembangan sistem distribusi dan perngoranisaian yang lebih efektif. Dalam pandangan fiqih hal ini boleh saja dilakukan asalkan sudah mendapat persetujuan dari mustahik. Sebagaimana diputuskan oleh Bahtsul Masail Diniyyah Nahdlatul Ulama pada Muktamar ke – 28 di Pondok Pesantren Al-Munawwir , Krapyak,  Jogjakarta dengan dasar Al-Majmu Syarh Muhadzdzab.



KOKAM Tegal

وَلاَ يَجُوْزُ لِلسَّاعِيْ وَلاَ لِلإِمَامِ أَنْ يَتَصَرَّفَ فِيْمَا يَحْصُلُ عِنْدَهُ مِنَ الْفَرَائِضِ حَتَّى يُوْصِلَهَا إِلَى أَهْلِهَا لِأَنَّ الْفُقَرَاءَ أَهْلُ رُشْدٍ لاَ يُوَالَى عَلَيْهِمْ فَلاَ يَجُوْزُ التَّصَرُّفُ فِيْ مَالِهِمْ بِغَيْرِ إِذْنِهِمْ 

Bagi petugas penarik zakat dan penguasa tidak boleh mengelola harta zakat yang mereka dapat, sehingga menyampaikannya kepada yang berhak. Sebab, para fakir adalah golongan orang-orang cakap yang tidak dikuasai orang lain. Maka tidak boleh mengelola harta mereka tanpa seizinnya

KOKAM Tegal

sedangkan tentang zakat profesi, Sebagai pekerja kita wajib mengeluarkan zakat profesi kita kalau sudah mencapai nisab (kadar harta yang mewajibkan berzakat).Jadi, begitu dapat gaji atau  penghasilan kita setiap bulan, maka harus langsung zakatnya dikeluarkan. Sedangkan usaha misalnya berdagang kalau sudah setahun dan sudah ada satu nisab dagang dan pegawai adalah 85 gram mas murni, maka wajib mengeluarkan zakatnya 2,5%.

Dasar hukum zakat profesi, para ulama berbeda pendapat tentang dasar hukum zakat profesi. Ada yang mengatakan bahwa dasar hukumnya adalah mal mustafad (pendapatan dari hasil kerja), dan ada pula yang mengatakan bahwa dasar hukumnya adalah qiyas (dianalogikan) kepada zakat pertanian dan buah-buahan.Tapi pendapat yang pertama adalah lebih tepat karena lebih sesuai dengan realita dengan dalil sebagai berikut:Firman Allah:



يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ

“Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah sebagian yang baik-baik dari hasil usahamu dan hasil-hasil yang kami keluarkan dari bumi” (QS. Al-Baqarah: 267).

Perlu dicatat, bahwa zakat itu tidak boleh diberikan kepada orang kaya (selain amil) dan orang yang kuat dan sehat sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits:“Tidaklah shadaqoh (zakat) itu dihalalkan bagi orang kaya dan tidak pula bagi orang sehat dan kuat” (HR. Lima Imam Hadits dan Imam Turmudzi). Wallahu a’lam bishwab (Sumber: Konsultasi Zakat LAZIZNU dalam Nucare yang diasuh oleh KH. Syaifuddin Amsir / Red. Ulil H

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Kajian KOKAM Tegal

Jumat, 15 Desember 2017

Kader Ansor Tak Boleh Meniru Karakter Itik

Pamekasan, KOKAM Tegal - Syahdan, itik tidak mampu menyerap dengan baik “hasil rapat” dengan bebek dan angsa terkait kesinambungan anak-cucunya. Akibatnya, itik hingga kini sembarangan dalam bertelur.

"Para kader Gerakan Pemuda Ansor tidak boleh meniru karakter itik yang ketinggalan informasi cara bertelur yang baik dan benar," ujar Kiai Jaman saat memberi pengarahan di sela-sela kolom bulanan Majelis Dzikir dan Shalawat (MDS) Rijalul Ansor PAC GP Ansor Kadur Kabupaten Pamekasan, Jumat (14/1) malam.

Kader Ansor Tak Boleh Meniru Karakter Itik (Sumber Gambar : Nu Online)
Kader Ansor Tak Boleh Meniru Karakter Itik (Sumber Gambar : Nu Online)

Kader Ansor Tak Boleh Meniru Karakter Itik

Salah satu Dewan Penasehat GP Ansor Kadur tersebut menambahkan, agar tidak seperti karakter itik, kader GP Ansor mesti banyak belajar pada sejarah. Utamanya bagaimana sepak terjang para ulama pendiri NU.

KOKAM Tegal

"Kalau sampai ada kader GP Ansor yang karakter dan sikapnya keluar dari rel organisasi, berarti dia tidak jauh beda dengan itik," tegas Dosen STAI Al-Khairat itu.

Karenanya, Kiai Jaman mengetengahkan pemahaman betapa kader GP Ansor harus selalu belajar dalam banyak hal. Kepada yang lebih tua dan pengalaman, jangan sungkan untuk minta nasihat yang bermanfaat.

"Manusia tidak bisa tahu tanpa peran orang lain," tegasnya.

KOKAM Tegal

Kiai Jaman juga mengimbau agar kader GP Ansor tidak seperti siput linu atau lemar; matanya melotot dan penuh semangat, tetapi tersenggol sedikit langsung kerdil.

"Karenanya, jangan jadikan jabatan sebagai andalan. Jangan berlebih-lebihan. Kita punya kelebihan dan kelemahan. Hidup bagai roda berputar," tegas Kepala SMA Islam Yaspimu Pamekasan tersebut.

Saat ini marak fitnah di dunia nyata maupun maya. Kader GP Ansor, tegas Kiai Jaman, jangan sampai termakan isu-isu negatif. Teman dengan teman di internal pengurus, mudah terjadi fitnah.

"Jika ada potensi fitnah di internal kepengurusan maupun keanggotaan, cepat tangani. Jangan seperti membiarkan tambak yang bocor. Kalau dibiarkan, akan makin besar dan membahayakan. Segeralah koordinasi," paparnya.

Alumnus Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep ini menambahkan, sukses itu hanya sekali seumur hidup. Siapa pun orangnya. Selebihnya karena dipertahankan.

"Dari nol sampai puncak kesuksesan berpotensi menurun. GP Ansor jangan sampai menurun. Sukses banyak hambatan. Ketika hampir sukses, akan muncul masalah yang lain. Bagaikan bulunya badan; dicukur bulunya kumis, bulu hidung lebat. Bulu hidung dicukur, bulu kumis tumbuh," katanya penuh analogi.

Penempatan pengurus dalam organisasi harus disesuaikan dengan porsi jabatan yang diemban. "Selaku ketua, tentu harus belajar ada rambut kepala; melebihi rambut yang lain tanpa ada arogansi. Lihai dan lentur sangat perlu dalam memimpin organisasi," tegas Kiai Jaman.

Persatuan pengurus juga penting. Jika ada persoalan, segera koordinasi. Selain itu, Kiai Jaman juga mengarahkan tiap kali GP Ansor menyelenggarakan acara, mesti undang tokoh masyarakat. Karena itu bisa memperkuat sistem organisasi.

Target kegiatan apa untuk masyarakat banyak, imbuhnya, juga perlu diperjelas oleh GP Ansor. Apa sebatas hanya berkumpul, bekerja di balik meja, tapi tidak merembet ke masyarakat, atau bagaimana? Jangan jadi raksasa tidur yang hanya besar tapi nihil peran.

"Kita juga mesti apental syahadat, asapok iman, apajung Allah. Sisa hidup kita gunakan untuk berjuang. Karena suatu saat, kita akan meninggalkan kesan setelah meninggalkan alam fana ini," tandasnya. (Hairul Anam/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Sunnah, Pondok Pesantren, Kajian KOKAM Tegal

Minggu, 10 Desember 2017

9 Tim Siap Ramaikan Liga Santri Zona Kedu

Solo, KOKAM Tegal. Sembilan tim siap ikut meramaikan kompetisi Liga Santri Nusantara (LSN) 2017 Region Jawa Tengah II Zona Kedu. Mereka akan memperebutkan satu tiket ke babak final Region Jateng II, di mana satu tiket sudah digenggam oleh pemenang dari Zona Soloraya, Walisongo FC.

Penanggung jawab LSN Jateng II Zona Kedu Sholahuddin Al-Ahmadi menerangkan sembilan tim tersebut akan berkompetisi dalam sistem babak gugur.

“Dua tim akan menjalani pertandingan play-off terlebih dahulu, sehingga nanti hanya ada delapan tim yang langsung bertanding di babak perempat final,” terang Sholahuddin saat dihubungi KOKAM Tegal, Kamis (16/9).

9 Tim Siap Ramaikan Liga Santri Zona Kedu (Sumber Gambar : Nu Online)
9 Tim Siap Ramaikan Liga Santri Zona Kedu (Sumber Gambar : Nu Online)

9 Tim Siap Ramaikan Liga Santri Zona Kedu

Ditambahkan Sholahuddin, Sembilan tim pesantren tersebut yakni Sandola FC Pesantren Al-Iman Purworejo, An-Nawawi Purworejo, PPTQ Sabilillah Wonosobo, API Al-Huda Magelang, Darul Mutaqin Temangung, Roudhotul Asna, Daruttauhid Purworejo, Nurussalaf Purworejo, dan Al-Quddus Purworejo.

“Kick-off perdana insyaallah tanggal 21 September 2017, mempertandingkan antara Pesantren Nurussalaf yang akan menghadapi API Al-Huda dari Magelang. Kemudian hari berikutnya langsung kita gelar babak semifinal dan final,” kata dia.

KOKAM Tegal

Juara di Zona Kedu ini, nantinya akan memperebutkan satu tiket ke babak nasional. Babak final Region Jateng II sendiri, sedianya akan digelar pada 30 September 2017 mendatang di Kota Solo.(Ajie Najmuddin/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal

KOKAM Tegal Kajian, Warta KOKAM Tegal

Senin, 04 Desember 2017

PCNU Bagikan Nasi Kepada KPPS

Semarang, KOKAM Tegal. Masih dalam rangkaian peringatan hari lahir ke-90 NU, di acara Pilgub kemarin, aktivis muda NU Kota Semarang memberikan ratusan nasi kotak kepada para anggota KPPS di beberapa TPS di Kecamatan Ngaliyan dan Tugu dan Mijen.

Di Ngaliyan, menu makan siang itu dikirim ke TPS 07 Karonsih, TPS 10 Tambak Aji,  dan TPS 24 perum Bhakti Persada Indah (BPI). Selain itu, di TPS 26 Jrakah dan TPS 24 Beringin.

PCNU Bagikan Nasi Kepada KPPS (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Bagikan Nasi Kepada KPPS (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Bagikan Nasi Kepada KPPS

Adapun di Kecamatan Tugu, ransum diberikan ke TPS  TPS 02 Tugurejo, TPS 05 Tugurejo dan TPS 10 Tugurejo.  Sedangkan di Kecamatan Mijen, dikirim ke TPS 02 Jatibarang, TPS 04 Ngadirego.

KOKAM Tegal

Walhasil, para anggota KPPS yang sedang beristirahat untuk persiapan penghitungan suara, riang gembira menerima kiriman makan siang yang tiba-tiba tersebut. Maklum tanpa diberitahu sebelumnya. Bahkan tak hanya 6 anggota KPPS yang dapat makan siang. Empat orang lain yang berada di TPS juga mendapatkannya. Yakni anggota Linmas dan para saksi. Sebab setiap TPS diberi 10 kotak nasi.

Meskipun sudah mendapatkan jatah makan siang dari TPS setempat, petugas KPPS mengaku sangat bersyukur dan berterumakasih atas rizki yang datangnya tidak terduga dari PCNU Kota Semarang ini. Mereka berharap PCNU Kota Semarang untuk sering melakukan kegiatan macam itu.

KOKAM Tegal

“Alhamdulillah, terima kasih dapat rejeki yang tidak disangka. Sebaiknya NU sering bagi-bagi makanan seperti ini,” ujar Abdullah, serang anggota KPPS Ngaliyan sambil bercanda.

Ketua PCNU Kota Semarang H Anasom mengatakan, pemberian nasi kotak untuk KPPS tersebut diorganisir oleh tim Lumbung Pangan NU yang berada dalam naungan Lembaga Mabarrot (sosial) PCNU Kota Semarang. 

“Kegiatan ini diorganisir oleh Lembaga Mabarrot yang memiliki program Lumbung Pangan,” tutur Dosen IAIN Walisongo Semarang ini.  

 

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: M Ichwan

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Hadits, Kajian KOKAM Tegal

Minggu, 26 November 2017

STIKes Nurul Jadid Paiton Berikan Penyuluhan Kesehatan

Probolinggo, KOKAM Tegal. Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Nurul Jadid Paiton Kabupaten Probolinggo, Jumat (7/4) menggelar pengajian sekaligus penyuluhan kesehatan di Masjid Jami At-Taubah Desa Bulu, Kecamatan Kraksaan.

STIKes Nurul Jadid Paiton Berikan Penyuluhan Kesehatan (Sumber Gambar : Nu Online)
STIKes Nurul Jadid Paiton Berikan Penyuluhan Kesehatan (Sumber Gambar : Nu Online)

STIKes Nurul Jadid Paiton Berikan Penyuluhan Kesehatan

Kegiatan yang diawali dengan istighotsah bersama yang dipimpin langsung oleh Dosen STIKes Nurul Jadid  Siti Nur Tamami ini dihadiri Ketua STIKes Nurul Jadid Dr. KH Hefny dan Takmir Masjid Jami At-Taubah H Nurdin Junaedi.

Ketua STIKes Nurul Jadid KH Hefny menyampaikan bahwa perlu pola dakwah yang tepat kepada masyarakat yang dapat merangkul semua kalangan, mulai kelas atas, menengah dan bawah.

“Kita juga berusaha untuk mensinergikan antara penguatan agama yang kuat dan penanaman jiwa yang sehat. Al Aqlussalim fi Jismis Salim,” katanya.

Sementara H. Nurdin Junaedi menyampaikan bahwa metode dakwah untuk bisa merekatkan masyarakat perlu ditata ulang. “Insya Allah dengan Komunitas Muslimat Binaan akan dapat merangkul semua kalangan,” ungkapnya.

KOKAM Tegal

Sedangkan Dra. Hj. Zahrowiyah menuturkan, sudah saatnya pembinaan keagamaan kepada masyarakat didesain sedemikian rupa. “Setidaknya kita bisa lebih dekat masyarakat sehingga mengerti permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat,” tegasnya. (Syamsul Akbar/Abdullah Alawi)

KOKAM Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Daerah, Fragmen, Kajian KOKAM Tegal

Senin, 20 November 2017

Taman Komik Nusantara Ciptakan 70 Komik Bertema HUT RI

Jakarta, KOKAM Tegal. Taman Komik Nusantara mengadakan kegiatan “Mencipta Karya 70 Komik Bertema Hari Kemerdekaan RI ke-70” dengan bertutur tentang “Memaknai Bhinneka Tunggal Ika dan Hakikat Kemerdekaan” di Halaman Gedung Teater Taman Ismail Marzuki Jakarta, Sabtu (15/8) pukul 15.00-17.30 WIB lalu.

Dengan disuguhkan atraksi Gambar Wayang Punakawan tentunya menambah antusias peserta yang hadir yakni para pelajar muda Kota Bekasi dan para remaja yang terbiasa melakukan kegiatan komunitas di jalanan sekitar wilayah Kali Pasir, Cikini, Jakarta Pusat.

Taman Komik Nusantara Ciptakan 70 Komik Bertema HUT RI (Sumber Gambar : Nu Online)
Taman Komik Nusantara Ciptakan 70 Komik Bertema HUT RI (Sumber Gambar : Nu Online)

Taman Komik Nusantara Ciptakan 70 Komik Bertema HUT RI

“Dari kegiatan ini diharapkan para pelajar berlatih berimajinasi kreatif menggambar dan menemu kenali sejarah bangsa dengan baik, belajar mencintai dengan kesungguhan, merawat dan memelihara rasa kebangsaan. Mereka belajar untuk tidak mudah menebar kebencian namun saling menjaga persatuan di negeri Nusantara tercinta ini,” ujar Pendiri Taman Komik Nusantara, Endah Priyanti lewat rilis yang dikirimkan ke KOKAM Tegal, Senin (17/8).

KOKAM Tegal

Kegiatan diawali dengan pelatihan public speaking yang mengulas tentang sumbangan pemikiran dan perjuangan para tokoh pahlawan nasional seperti Tan Malaka, Soekarno, M Hatta, Sutan Sjahrir, dan sebagainya yang ditampilkan oleh para pelajar muda secara komunikatif di depan publik. Dengan demikian diharapkan para pelajar muda memiliki wawasan kebangsaan dan meneladani sikap positif para tokoh pemimpin bangsa di masa lampau yang telah berjasa bagi Republik ini. 

KOKAM Tegal

Kegiatan yang tak kalah menarik adalah apresiasi seni pertunjukan dan narasi kitab sastra klasik bersejarah seperti Arjunawiwaha, Bharatayuda, Gatotkacasraya, Sutasoma dan Negarakertagama. Selanjutnya kegiatan diakhiri dengan workshop pembuatan komik sejarah yang bertema tentang “Memaknai Bhinneka Tunggal Ika dan Hakikat Kemerdekaan”. 

“Kegiatan bersama Taman Komik Nusantara ini juga menjadi ajang silaturahmi anak-anak jalanan terutama memperkenalkan Budaya Wayang Nusantara melalui media komik. Acara ini bertujuan untuk memberikan edukasi kepada mereka tentang makna kebhinekaan yang sudah menjadi suatu keniscahyaan namun tetap menghormati antar pertemanan yang berbeda baik agama, suku maupun latar belakang budayanya,” terang Endah yang juga Guru di SMA Negeri 12 Kota Bekasi.

Merawat Budaya Nusantara

Gerakan kebudayaan berupa Taman Komik Nusantara ini sudah dimulai sejak awal Januari 2015 dan peluncurannya sudah dilakukan bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional pada tanggal 2 Mei 2015 lalu. Menurut Endah, gerakan ini penting ketika makna pendidikan hadir dalam bentuk gerakan sadar budaya di akar rumput sehingga masyarakat memandang bahwa pendidikan berbasis kebudayaan juga bisa diciptakan di ruang-ruang publik yang sederhana. 

“Taman Komik Nusantara ini memiliki visi merawat Budaya Nusantara melalui komik kreatif anak bangsa. Dalam wahana ini, kami merayakan Hari Kemerdekaan RI ke-70 dengan penuh suka-cita menciptakan taman belajar yang menyenangkan dan humanis sesuai Tut Wuri Handayani,” paparnya.

Melalui wadah ini, Endah mengajak para pelajar muda mengumpulkan serpihan peristiwa sejarah yang terbuang, terlupakan, tersimpan, tersembunyi dan terselip di belantara kekayaan sejarah perjuangan Bangsa Indonesia. Mereka serasa diajak menelusuri mesin waktu ke tahun-tahun awal terbentuknya jaringan Nusantara. 

Dia mengungkapkan, penelusuran mesin waktu ini secara pribadi menghentak kesadarannya dan kesadaran para pelajar muda tentang hal yang paling hakiki akan makna bernegara dan berbangsa Indonesia yang selama ini mungkin perlahan mati suri karena melihat situasi dan kondisi bangsa dirusak oleh tercerabutnya akar budaya luhur di segala bidang kehidupan. 

“Kesadaran ini menggelitik nalar kita bahwa sebagai bangsa kita sebenarnya sudah berusia yang cukup untuk bisa menyebut diri sebagai bangsa merdeka jika kita mau menemukan bentuk kemerdekaan yang hakiki yaitu merdekalahir batin dalam pikiran, sikap dan perbuatan,” pungkasnya. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Kajian KOKAM Tegal

Minggu, 12 November 2017

Sayid Ustman bin Yahya Petamburan

Kalau ada kitab tua sedang dibaca lansia berpakaian santri di Jakarta, maka kitab itu tidak lain adalah karya Sayid Usman bin Yahya. Karya-karya Sayid Usman sangat populer di kalangan masyarakat Jakarta. Karya yang mengajarkan doa, fiqih, tajwid, dan juga aqidah, menjadi panduan praktis pengamalan agama Islam untuk masyarakat.

Karyanya yang dicetak dan beredar di kalangan masyarakat luas, umumnya berbahasa Arab Melayu atau Arab Pegon. Doa-doa dan kutipan berbahasa Arab juga umumnya diterjemahkan dengan terjemahan gantung yang juga berbahasa Arab Melayu.

Sayid Ustman bin Yahya Petamburan (Sumber Gambar : Nu Online)
Sayid Ustman bin Yahya Petamburan (Sumber Gambar : Nu Online)

Sayid Ustman bin Yahya Petamburan

“Sayid Usman itu orang alim. Kalau dia menulis kitab Sifat Dua Puluh itu, tentunya dia sudah membaca kitab-kitab yang besar-besar. Untuk mengajarkan kitab-kitabnya, seorang guru pun harus juga sudah membaca atau mengaji kepada guru-guru yang lebih alim,” kata KH Hasbullah (87) Pondok Pinang, Kebayoran Lama.

Awal Desember 1822 M, Sayid Usman lahir di Pekojan. Ayahnya bernama Sayid Abdullah bin Aqil bin Umar bin Yahya. Ibunya bernama Aminah binti Syekh Abdurrahman Al-Mishri yang tidak lain salah seorang ulama terkemuka di zamannya. Sejak kecil ia gemar menuntut ilmu. Menginjak usia remaja, ia menunaikan ibadah haji di Mekkah lalu bertahan di sana selama 7 tahun. Di sana ia mengaji kepada ayahnya sendiri dan mufti Mekkah bermadzhab Syafi’i Sayid Ahmad Zaini Dahlan.

KOKAM Tegal

Pada 1848 M Sayid Usman bergerak menuju Hadhramaut. Di negeri ini ia berguru kepada Habib Abdullah bin Umar bin Yahya, Habib Hasan bin Shaleh Al-Bahar, Syekh Abdullah bin Husein bin Thahir, dan Habib Alwi bin Saggaf Al-Jufri. Lepas dari Hadhramaut, ia melanglang buana mengejar ilmu ke sejumlah negeri. Sayid Usman mengunjungi antara lain Mesir, Tunis, Istambul, Persia, dan Syiria, (Ulama Betawi, Studi Tentang Jaringan Ulama Betawi dan Kontribusinya terhadap Perkembangan Islam Abad ke-19 dan 20, Ahmad Fadli HS).

KOKAM Tegal

Pada 1862 M, Sayid Usman tiba di tanah air. Belanda mengangkatnya sebagai mufti di Jakarta, menggantikan Syekh Abdul Ghani yang usianya semakin lanjut. Kecuali itu, ia diangkat Belanda sebagai adviseur honorer untuk urusan Arab di kantor Voor Inlandsche Zaken pada 1899 M. Di sini ia sebagai penasihat pemerintah Kolonial untuk urusan agama, bergaul dengan Snouck Hurgronye, KF Holle, dan LWC Van den Berg.

Atas jasanya, pemerintah kolonial Belanda menyematkan bintang penghargaan sebagai tanda jasa pemerintah terhadapnya. Sayid Usman juga mendapat honor bulanan sebesar 100 gulden, hanya 1/7 dari gaji yang diterima Snouck.

Selama hidup, Sayid Usman aktif berdakwah melalui media ceramah dan menulis. Ia membuka majelis hadir di kediamannya di bilangan Petamburan. Sementara produktivitasnya tidak perlu disangkal. Karyanya banyak sekali dicetak dan menjadi rujukan Bergama masyarakat Jakarta karena menggunakan bahasa masyarakat, Arab Melayu.

Kecuali itu, Sayid Usman tidak jarang terlibat polemik terbuka dengan ulama lain misalnya dengan Syekh Ahmad Khatib Minangkabau perihal dua masjid di Palembang. Polemiknya diwujudkan dalam bentuk sebuah karya untuk menjawab atau mementahkan pandangan ulama lain dengan dasar argumentasi yang kuat.

Sayid Usman sendiri dikenal sebagai seorang faqih dan mutakallim yang memandang segala sesuatunya dari sudut disiplin Fiqih dan Ilmu Kalam. Untuk itu, sikapnya terhadap tarekat cenderung ketat. Ia hanya mengakui tarekat-tarekat muktabarah yang sesuai syariah saja seperti tarekat yang diajarkan Syekh Junaid Al-Baghdadi, Sadatul Alawiyin, Ghazaliyah, Qadiriyah, Naqshabandiyah, Khalwatiyah, juga Rifa’iyah.

Menyadari rendahnya pemahaman agama umumnya masyarakat, Sayid Usman melarang pelajaran taswuf di kalangan awam. Pasalnya dapat membawa kemudaratan atau salah paham. Begitu juga dengan ilmu Kalam. Dengan mengutip Az-Zawajir karya Ibnu Hajar, Ia dalam Sifat Dua Puluh-nya melarang keras orang belajar ilmu Kalam terlampau tinggi karena khawatir tergelincir paham.

Namun demikian Sayid Usman mengambil sikap penolakan nyata terhadap paham Wahabi dan penyebaran pahamnya. Menurut Fadli HS, Sayid Usman juga sangat anti gerakan Wahabi dan menganggap gerakan itu sangat radikal. Dalam bukunya Mustika Pengaruh buat Menyembuhkan Penyakit Keliru, ia berpendapat bahwa kaum Wahabi adalah paling berdusta.

Sayid Usman sangat berjasa dalam peningkatan pemahaman masyarakat Betawi khususnya terhadap ilmu syariah melalui karya tulisnya yang berbahasa Arab Melayu. Tidak kurang dari 120 karyanya dicetak dan disebarluaskan. Sebagian darinya berbahasa Arab. Karyanya menyentuh pelbagai isu yang berkembang di masyarakat mulai dari kisah Rasul, aqidah, fiqih haji, fiqih sembahyang, adab di rumah tangga, kumpulan doa keseharian, tajwid, gramatika, Falak, kamus, geografi, silsilah para nabi, hukum perkawinan, silsilah Alawiyah, tarekat-tarekat muktabarah, dan isu lainnya.

Karyanya seperti Sifat Dua Puluh, Babul Minan, Maslakul Akhyar, Irsyadul Anam hingga kini masih dibaca oleh para orang tua di Jakarta. Bahkan kitab Zuhral Basim yang memuat kisah hidup Nabi Muhammad SAW hingga dibaca setiap kali peringatan maulid atau Isra di langgar-langgar di Jakarta. Muridnya yang kemudian menjadi ulama besar ialah Guru Mughni Kuningan dan Habib Ali al-Habsyi Kwitang.

Sayid Usman dipanggil Allah pada pertengahan Januari 1914 M dan dikebumikan di TPU Karet. Pada masa Orde Baru makamnya kena gusur. Pihak kerabat memindahkannya ke sisi selatan masjid Al-Abidin, Sawah Barat, Pondok Bambu, Jakarta Timur. (Alhafiz Kurniawan)

*) Tulisan ini diambil dari buku 100 Ulama Nusantara terbitan Lembaga Takmir Masjid PBNU, tahun 2015.

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Makam, Kajian, Fragmen KOKAM Tegal

Kamis, 02 November 2017

Ansor Way Kanan Terjunkan 14 Dai untuk Safari Ramadhan

Way Kanan, KOKAM Tegal. Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Way Kanan, Lampung, menerjunkan 14 dai muda yang siap belajar mengisi acara safari Ramadhan. Kegiatan yang dimotori Rijalul Ansor ini menjadi bagian dari langkah kaderisasi sebagai pendakwah.

Ansor Way Kanan Terjunkan 14 Dai untuk Safari Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Way Kanan Terjunkan 14 Dai untuk Safari Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Way Kanan Terjunkan 14 Dai untuk Safari Ramadhan

"Dengan menggelar safari Ramadhan kita berdayakan kader-kader muda Ansor yang memiliki kemampuan sebagai mubaligh untuk dapat belajar mengasah kemampuannya," ujar Ketua PAC Rijalul Ansor Kecamatan Bumiagung Hasyim Asyari selaku penanggung jawab kegiatan tersebut di Blambangan Umpu, Jumat (11/7).

GP Ansor Way Kanan, kata Hasyim, memiliki program Ansor Digdaya (Mendidik Generasi Memberdayakan Masyarakat) yang dipimpin Gatot Arifianto. Program itu berorientasi pada tercapainya penyebaran pendidikan dan pengetahuan Ahlus Sunnah wal Jamaah bagi publik serta mendorong semangat wirausaha bagi kader dan masyarakat.

KOKAM Tegal

Safari Ramadhan digelar di 14 masjid di empat kecamatan. Di Kecamatan Bumiagung dilakukan di Kampung Karangdadi, Wonoharjo, Srinumpi, Bumiagung, Sukamaju, Bumi say Agung, Pisang Indah dan Tanjung dalom.

Adapun di Kecamatan Buaybahuga berlangsung di Kampung Sukadana, Bumiharjo, Sukaagung, Sritunggal dan Lebunglawe. Lalu di Kecamatan Bahuga di Kampung Saptorenggo, Bumiagung Wates dan Serdangkuring. Lalu di Kecamatan Waytuba di Kampung Bukitgemuruh.

KOKAM Tegal

"Kegiatan safari ini juga didukung oleh Panti Asuhan Mandiri Yayasan Shuffah Blambangan Umpu dengan memberikan suvenir berupa jam dinding bagi masjid yang dituju sekaligus mengumumkan jika Yayasan Shuffah membuka diri jika ada anak yatim ingin diasah dan diasuh mereka," tambah Hasyim.

Ketua PC GP Ansor Way Kanan Supri Iswan menegaskan, kader adalah ruh organisasi, karena itu kaderisasi adalah sebuah keniscayaan sebagaimana diamanatkan sang proklamator, Muhammad Hatta, "Kaderisasi sama artinya dengan menanam bibit. Untuk menghasilkan pemimpin bangsa di masa depan, maka pemimpin pada masanya harus menanam".

"Hal tersebut merupakan inti dari kelanjutan perjuangan Ansor ke depan. Tanpa kaderisasi, rasanya sangat sulit dibayangkan Ansor dapat bergerak dan melakukan tugas sosial kemasyarakatan dan keorganisasiannya dengan baik dan dinamis," kata Supri. (Heri Amanudin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Pemurnian Aqidah, Kajian, Quote KOKAM Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs KOKAM Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik KOKAM Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan KOKAM Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock