Tampilkan postingan dengan label Nahdlatul. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nahdlatul. Tampilkan semua postingan

Senin, 26 Februari 2018

1084 Santri Jawa Barat Ikuti Seleksi Beasiswa Santri Berprestasi

Bandung, KOKAM Tegal. Sekitar 1084 santri tingkat SLTA sederajat dari berbagai pesantren di Jawa Barat mengikuti seleksi Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB) Kementerian Agama Republik Indonesia, di MAN 1 Cijerah, Kota Bandung, Kamis (7/5). PBSB sendiri merupakan program beasiswa bagi santri untuk melanjutkan studi di perguruan tinggi.

Jumlah peserta PBSB tahun ini mencapai 6178 santri yang tersebar di seluruh provinsi di Indonesia. Propinsi Jawa Timur menempati peserta terbanyak dengan jumlah 1900 santri. Disusul Jawa Barat, lalu Jawa Tengah yang mencapai 700 santri.

1084 Santri Jawa Barat Ikuti Seleksi Beasiswa Santri Berprestasi (Sumber Gambar : Nu Online)
1084 Santri Jawa Barat Ikuti Seleksi Beasiswa Santri Berprestasi (Sumber Gambar : Nu Online)

1084 Santri Jawa Barat Ikuti Seleksi Beasiswa Santri Berprestasi

“Keberadaan PBSB merupakan wujud perhatian Pemerintah terhadap santri. Tahapan-tahapan yang diberikan Pemerintah kita terhadap santri-santri dari tahun ke tahun semakin meningkat, salah satunya juga program beasiswa santri berprestasi ini,” terang A Buchori, kepala kantor wilayah Kementerian Agama Jawa Barat kepada KOKAM Tegal usai pembukaan seleksi PBSB tersebut.

KOKAM Tegal

Buchori menuturkan, peluang yang diberikan Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Agama merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari program pemerintah pusat. Oleh karena itu, dia memandang keberadaan program  santri berprestasi ini adalah bagian bagaimana memberikan peluang dan tempat kepada santri untuk mengenyam pendidikan yang dibiayai oleh Pemerintah.

Ditanya tentang mengapa santri diberikan beasiswa, pihaknya menjelaskan bahwa mencerdaskan bangsa merupakan salah satu tujuan dari Negara. Sementara itu, santri adalah bagian dari bangsa ini, dan dari elemen manapun mempunyai hak yang sama. “Oleh karena itu, bukan berarti santri dimarginalkan, justru santri diberikan posisi sama dengan posisi pelajar (mahasiswa) yang lain,” jelasnya.

KOKAM Tegal

Kepala Kanwil Kemenag jabar itu menuturkan, ada beberapa jurusan dalam PBSB, secara umum terbagi dalam jurusan IPA, IPS dan Keagamaan. Itulah bahwa santri ini jangan ada stigma propinsi santri hanya bisa membaca doa saja. Padahal santri itu mestinya bisa menguasai ilmu pengetahuan dari berbagai sisinya, baik IPTEK maupun agama.

“Oleh karena itu, paradigma masyarakat terhadap santri harus diubah, bahwa santri tidak hanya bisa memakai sarung dan datang ke masjid saja. Justru santri harus menunjukkan bahwa dia mempunyai nilai lebih, baik dari karakteristik sisi intelektualnya maupun  dari sisi sosialnya,” tegas dia.

Dia berharap, santri-santri dapat memanfaatkan fasilitas beasiswa ini dengan sebaik-baiknya, agar ke depan santri dapat bermanfaat untuk masyarakat, bangsa dan Negara. “Artinya, ke depan ketika mereka menjadi intelektual-intelektual adalah intelektual yang bukan karbitan, tapi intelektual-intelektual yang memenuhi harapan agama, bangsa dan Negara,” harap dia.

Rencananya, hasil seleksi akan diumumkan tanggal 4 Juni 2015. Untuk kuota PBSB 2015, Kemenag RI menyediakan 300 kuota yang tersebar diberbagai jurusan di perguruan tinggi seperti seperti IPB, UIN Syarif Hidayatullah, UIN Sunan Gunung Djati, UPI, UIN Sunan Kalijaga, UIN Walisongo, UGM, UIN Maulana Malik Ibrahim, UIN Sunan Ampel dan ITS. (Zidni Nafi’/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Nahdlatul, Pahlawan KOKAM Tegal

Selasa, 06 Februari 2018

Helmy Faishal: Umat harus Bersatu Membangun Peradaban

? Jakarta, KOKAM Tegal

Umat Islam khusunya dan kaum beragama di Indonesia umumya diimbau untuk bersatu-padu bahu-membahu membangun peradaban dan tatanan masyarakat yang lebih baik dan maju. Peradaban yang baik tidak akan pernah dicapai oleh masyarakat yang terpecah-belah.

Helmy Faishal: Umat harus Bersatu Membangun Peradaban (Sumber Gambar : Nu Online)
Helmy Faishal: Umat harus Bersatu Membangun Peradaban (Sumber Gambar : Nu Online)

Helmy Faishal: Umat harus Bersatu Membangun Peradaban

Hal tersebut disampaikan oleh Sekjen PBNU HA Helmy Faishal Zaini di acara maulid Nabi Muhammad yang diselenggarakan oleh Majlis Darul Hasyimi Jakarta Selatan yang dipimpin oleh Mustasyar PBNU Habib Luthfi bin Yahya (6/8). Dalam sambutannya, pria kelahiran Cirebon tersebut menjelaskan bahwa perbedaan itu hal yang lumrah. Perbedaan tidak boleh dipertajam. Justru sebaliknya, perbedaan bisa dijadikan modal untuk mencari persamaan satu dengan lainnya.

“Sudah saatnya kita tidak menghabiskan waktu hanya untuk mengurusi hal yang tidak terlalu urgen. Bukan saatnya lagi membahas hal yang remeh-temeh. Kita harus mulai lebih memikirkan hal yang dapat membangun umat seperti pembangunan sektor ekonomi, pendidikan, dan juga kesehatan,” jelas Helmy.

Mengenai konflik bernuansa agama belakangan ini, Helmy menjelaskan bahwa yang paling penting untuk didahulukan adalah sikap waspada dan hati-hati dalam memandang sebuah peristiwa. “Kita tidak boleh gegabah menyimpulkan sebuah peristiwa. Harus jelas ditelusuri kronologinya agar kita tidak salah menyimpulkan,” imbuhnya.

KOKAM Tegal

Selain dihadiri langsung oleh Habib Luthfi bin Yahya, majlis maulid tersebut juga dihadiri oleh Habaib lainnya di sekitar Jakarta beserta ratusan jamaah. Habib Luthfi berpesan agar bangsa Indonesia bersetia kepada Pancasila. ?

“Pancasila merupakan manifestasi dari penafsiran terhadap ajaran agama dan bagaimana manifestasi tersebut bisa terimplementasikan guna menuju kemanusiaan yg adil dan beradab,” tandas Habib Luthfi. (Fariz Alniezar)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal

KOKAM Tegal Nahdlatul KOKAM Tegal

Kamis, 01 Februari 2018

BHNU: Sertifikasi Halal NU bukan Kesempatan Ekonomi, tapi Perlindungan

Jakarta, KOKAM Tegal. Pembentukan Badan Halal NU (BHNU) didasari atas kebutuhan pelayanan kepada masyarakat, bukan untuk tujuan pencarian keuntungan dalam upaya perlindungan konsumen Muslim untuk memperoleh produk yang sesuai dengan ketentuan syariah.

Ketua BHNU Prof Dr Maksum Mahfudh menegaskan, urusan labelisasi halal sama sekali bukan kesempatan ekonomi, tetapi proteksi konsumen dan promosi produsen. Konsumen harus diproteksi dari makanan yang tidak halal sekaligus ikut mempromosikan agar konsumen mencari produk yang sudah halal sehingga produsen yang memiliki sertifikat halal akan mendapat nilai tambah.

BHNU: Sertifikasi Halal NU bukan Kesempatan Ekonomi, tapi Perlindungan (Sumber Gambar : Nu Online)
BHNU: Sertifikasi Halal NU bukan Kesempatan Ekonomi, tapi Perlindungan (Sumber Gambar : Nu Online)

BHNU: Sertifikasi Halal NU bukan Kesempatan Ekonomi, tapi Perlindungan

“Kita harus mempromosikan pentingnya mengkonsumsi produk halal kepada masyarakat, tetapi proses produksi halal ini akan menyebabkan harga produknya lebih tinggi daripada produk yang tidak dijamin kehalalannya. Kita mengedukasi masyarakat tentang jaminan produk halal ini, jangan sampai yang halal malah tidak laku karena harganya lebih tinggi,” paparnya, Jum’at (28/3).

KOKAM Tegal

Menurutnya, sertifikasi halal merupakan urusan privat yang kini sudah bisa dilakukan oleh masyarakat tanpa campur tangan negara dengan baik, sedangkan negara mengurusi public good yang tidak mampu dikelola secara langsung oleh masyarakat. Dalam rancangan UU Jaminan Produk Halal (JPH), Pemerintah melalui Kementarian Agama masih berusaha berperan sebagai regulator, sekaligus sebagai operator JPH. 

“Biarlah negara sebagai regulator, pengawas, dan pengendali. Kalau negara berperan sebagai regulator sekaligus operator, rawan penyalahgunaan,” tandasnya. 

KOKAM Tegal

Dengan perspektif sertifikasi halal sebagai pelayanan, maka tidak ada fee atau penambahan biaya yang tidak perlu yang harus dikeluarkan kepada produsen yang ingin mendapatkan sertifikasi halal dari NU. Biaya yang muncul semuanya terkait secara langsung dengan operasional proses sertifikasi. Andi Najmi, direktur hukum BHNU sangat mendukung pemberian label halal sebagai bentuk pelayanan ini. Jika perspektif ini yang dipakai, maka tidak akan ada rebutan pengelolaan label halal. 

“Saya mencurigai draft RUU JPH saat ini punya kecenderungan berorientasi pada pendapatan, salah satunya ada yang ketentuan Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP), padahal produsen sudah membayar pajak. Ini bukan unsur perlindungannya yang ditekankan dan pada akhirnya, beban ini harus ditanggung oleh konsumen,” tandasnya.

Selanjutnya ia meminta agar sertifikasi halal dibuka untuk semua ormas yang memenuhi syarat, bukan monopoli MUI, yang posisinya dalam UU Ormas juga organisasi massa dan bukan menjadi suprastruktur organisasi lain seperti NU dan Muhammadiyah. Diantara persyaratan yang diusulkannya adalah memiliki jamaah atau anggota, memiliki sistem dan standar halal sementara untuk laboratorium halal bisa bekerjasama dengan pihak lain. 

“Kalau punya fatwa tapi tidak memiliki anggota atau jamaah yang mengikutinya bagaimana,” tanyanya.

Ia mencontohkan, di Australia terdapat banyak sembilan badan sertifikasi halal dan semuanya berjalan baik. Dengan banyaknya lembaga sertifikasi, produsen dan konsumen akan bisa menilai mana lembaga yang memberi pelayanan yang baik dan mana yang tidak. 

“Memang perlu aturan yang menjadi panduan bersama, seperti apakah boleh ada produk yang mendapat sertifikasi halal lebih dari satu dan jika ditolak, apa boleh meminta ke lembaga lain dalam waktu yang bersamaan. Nanti regulator yang akan mengaturnya,” katanya.

Ia sepakat dengan adanya profesionalitas dan transparansi pelayanan, termasuk keuangan karena setiap warga negara berhak meminta informasi terhadap lembaga publik. “Jangankan terhadap BHNU, laporan keuangan PBNU pun kita kasih.”

Bagi perusahaan yang sudah mendapat sertifikasi halal, BHNU setiap tahun akan melakukan uji sampling, tetapi berbeda dengan uji statistik yang memiliki standar error tertentu. Tingkat kehalalan harus dijamin 100 persen, karena itu, ketika ada satu sampel yang ditemukan tidak memenuhi standar halal, maka harus dilakukan pemeriksaan secara keseluruhan. 

Seluruh proses halal tersebut, melibatkan Dewan Tahkik atau dewan pengawas yang terdiri dari para kiai kompeten, ahli kimia, ahli pangan, maupun teknik industri yang telah berpengalaman dalam sertifikasi halal. Saat ini, bidang garapannya terbagi pada pangan dan obat-obatan yang masing-masing dipimpin oleh satu orang direktur.

Bagi perusahaan yang ingin mengajukan sertifikasi halal, mereka dapat mengunduh formulir yang ada di www.nu.or.id yang selanjutnya bisa dikirim via email atau surat ke kantor BHNU gedung PBNU lt 5 jl Kramat Raya 164 Jakarta Pusat.

Dalam waktu dekat, BHNU akan memperluas jaringannya dengan membentuk badan halal di tingkat propinsi atau cabang atau setara dengan kabupaten kota dengan prioritas ditempat tersebut sudah terdapat laboratorium uji halal sehingga biayanya lebih efisien. (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Ubudiyah, Nahdlatul, Humor Islam KOKAM Tegal

Senin, 29 Januari 2018

Inilah Pesantren yang Masuk Delapan Besar Liga Santri

Jakarta, KOKAM Tegal. Pertandingan hari keempat 16 besar  Liga Santri Piala Menpora sudah selesai. Hasilnya sebanyak delapan pesantren akan mengikuti per delapan final setelah klub pesantren Al-Asary Banten berhasil mengalahkan klub PPTQ Wonosobo 6-1 di lapangan Soetasoma AURI TNI AU Halim Perdana Kusuma Jakarta (31/10).

Humas Liga Santri Nusantara Hasanudin mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu suksesnya acara 16 besar, terutama Komandan Lanud TNI AU Halim Perdana Kusuma yang telah berkenana fasilitas lapangan, Asosisasi Wasit Profesional Indonesia (AWAPI) yang telah memimpin jalannya pertandingan, dan manajer tim dan pemain peserta 16 besar.

Inilah Pesantren yang Masuk Delapan Besar Liga Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
Inilah Pesantren yang Masuk Delapan Besar Liga Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

Inilah Pesantren yang Masuk Delapan Besar Liga Santri

“Hasil ini akan kami jadikan acuan untuk mengambil langkah organasasi demi perbaikan sistem pertandingan 8 besar nanti,” kata Hasan.

KOKAM Tegal

Ia memohon maaf atas kekurangan dalam pelayanan khususnya sistem screening pemain yang sempat menimbulkan polemik. Ia berjanji akan memperbaiki lagi sistem screening.

Menurut Hasan, pihaknya belum memutuskan kapan dan di mana akan di helat per delapan besar. “Yang pasti kami punya rencana akan menggelar pertandingan exibhisi juara piala presiden dan juara piala kemerdekaan di kick off per delapan besar.”

KOKAM Tegal

Pihaknya berencana mengundang pelatih klub-klub nasional baik definisi utama maupun ISL untuk ikut hadir di pertandingan per delapan besar dalam kontek pencarian bibit pemain untuk klub mereka.

Adapun klub-klub pesantren yang lolos per delapan besar adalah pesantren Nurul Islam (Jember), pesantren Al-Alfiah (Purwakarta), pesantren Darul Maarif (Indramayu), pesantren Nur Iman (Sleman), pesantren Darunnajah (Garut), pesantren Walisongo (Sragen), pesantren Al-Ikhlas (Jakarta), pesantren Al-Asyari (Serang). (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Nahdlatul, Budaya, IMNU KOKAM Tegal

Kamis, 18 Januari 2018

Dilantik, PMII Probolinggo Diminta Konsisten di Jalur Pergerakan

Probolingo, KOKAM Tegal. Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Probolinggo periode 2014-2015 secara resmi dilantik, Kemarin (18/03), di Gedung Serba Guna Joyo Lelono, Kota Probolinggo. Mereka diingatkan untuk setia menjadi organisasi pergerakan.

Abidurrahman, perwakilan Pengurus Besar PMII yang hadir pada kesempatan tersebut berpesan, dalam menjalankan roda keorganisasiannya PMII tidak boleh keluar dari dua identitas, yakni identitas sebagai organisasi kader dan identitas sebagai organisasi gerakan.

Dilantik, PMII Probolinggo Diminta Konsisten di Jalur Pergerakan (Sumber Gambar : Nu Online)
Dilantik, PMII Probolinggo Diminta Konsisten di Jalur Pergerakan (Sumber Gambar : Nu Online)

Dilantik, PMII Probolinggo Diminta Konsisten di Jalur Pergerakan

Menurutnya, tantangan PMII dan bangsa Indonesia ke depan adalah imperialisasi ekonomi dan liberalisasi ekonomi. “PMII tidak boleh diam. Kita harus bergerak menjaga NKRI,” jelas Abidurrahman.

KOKAM Tegal

Hadir dalam acara pengukuhan ini Ketua Majelis Pembina Cabang (Mabicab) Abdul Azis, Ketua Pengurus Koordinator Cabang (PKC) PMII Jawa Timur Abdullah Junaedi, Katib Suriah PWNU Jawa Timur KH Syafruddin Syarif, serta sejumlah tamu dari Ikatan Pelajar NU (IPNU), Ikatan Pelajar Putri Nu (IPPNU), dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Kabupaten Probolinggo.

KOKAM Tegal

Dalam pelantikan yang diikuti sekitar 130 kader dari rayon dan komisariat PMII se-Probolinggo ini, KH Syafruddin mengingatkan agar PMII tetap di jalur yang benar. . “PMII harus on the track lagi. Jauhi buku Das Kapital. Kaji kembali kitab Ihya’ Ulumuddin. Pergerakan itu harus bertujuan mencari rida Allah,” terangnya.

Dewasa ini, kata KH Syafruddin,  kemerdekaan Indonesia hanya tinggal nama. Indonesia negeri kaya tapi rakyatnya masih banyak yang miskin. “Kekayaan alam Indonesia habis dikuras  asing dan investor,” katanya.

Syubbanul yaum rijalul ghad, pemuda hari ini adalah pemimpin di masa depan,” imbuhnya. Di akhir tausiyah, KH Syafruddin berharap kader PMII memaksimalkan potensi dirinya untuk kemaslahatan rakyat Indonesia.

Sementara itu, Ketua PC PMII Probolinggo Muhammad Towil mengatakan, dibutuhkan kebersamaan yang solid untuk mewujudkan cita-cita bersama. Cita-cita PMII juga cita-cita kemerdekaan bangsa Indonesia. “Saya harap semua elemen bisa bekerja sama untuk mewujudkan cita-cita bersama ini,” tuturnya. (Beny/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Habib, Nahdlatul, Kajian Islam KOKAM Tegal

Senin, 08 Januari 2018

Tumbuhkan Budaya Literasi, PMII Kentingan Adakan Diklat Jurnalistik

Solo, KOKAM Tegal

Melalui Badan Semi Otonom (BSO) yaitu Terkepal, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Kentingan mengadakan kegiatan diklat jurnalistik Solo, selama dua hari (25-26/3). Kegiatan tersebut dilaksanakan di Sekretariat PC PMII Kota Solo Jl Sawo III No 25 Klangsuran, Karangasem, Laweyan, Solo, Jawa Tengah.

Kegiatan bertema ‘Menumbuhkan Budaya Literasi dalam Menjawab Tantangan Zaman’ tersebut memiliki tujuan yaitu sebagai salah satu sarana untuk mendorong anggota dan kader PMII Komisariat Kentingan dalam dunia literasi. Selain itu, kegiatan ini sebagai sarana open recruitmen di dalam BSO Terkepal sendiri.

Tumbuhkan Budaya Literasi, PMII Kentingan Adakan Diklat Jurnalistik (Sumber Gambar : Nu Online)
Tumbuhkan Budaya Literasi, PMII Kentingan Adakan Diklat Jurnalistik (Sumber Gambar : Nu Online)

Tumbuhkan Budaya Literasi, PMII Kentingan Adakan Diklat Jurnalistik

Joko Priyono selaku ketua pelaksana kegiatan menyampaikan bahwa kegiatan ini selain mendorong dalam hal literasi kepada setiap peserta yang mengikuti diklat ini namun juga menekankan pada peran dan tanggung jawab sebagai anggota maupun kader PMII Komisariat Kentingan.

Dalam sambutannya dia menyampaikan kutipan dari Pramoedya Ananta Toer bahwa orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.

“Yang perlu digaris bawahi dari kutipan tersebut adalah masyarakat dan sejarah, kalau dihubungkan dengan organisasi PMII, bahwasannya dua tanggung jawab kita adalah memperjuangkan NKRI dan menyiarkan Islam yang berlandaskan Ahlussunnah Wal Jama’ah. Tentu dengan melihat tanggung jawab tersebut harapannya melalui dunia literasi kita akan selalu berusaha untuk mewujudkan dua hal tersebut,” papar Joko.

KOKAM Tegal

Dalam kesempatan lain, Tsaniananda, Ketua PMII Komisariat Kentingan, mengatakan bahwa literasi merupakan kata lain dari keberaksaraan yang mengandung dua hal yang pokok yaitu membaca dan menulis.

“Untuk memulai menumbuhkan budaya tersebut tentu kita harus memulai dengan hal yang sederhana seperti membiasakan untuk membaca, dan kemudian dikembangkan melalui metode berpikir yang nantinya bisa disampaikan lewat tulisan. Kalau budaya literasi tidak dikembangkan apakah kita akan masih berharap seperti para pejuang-pejuang literasi terdahulu seperti Al-Ghozali, Al-Kindi, Hatta, Pramoedya ataupun yang lainnya”, Terang Ninda.

Kegiatan yang diikuti oleh sebanyak 17 peserta yang terdiri dari anggota dan kader PMII Komisariat Kentingan dengan cakupan lima materi yakni masing-masing adalah Penulisan Keilmiahan, Pengenalan Pers dan Jurnalistik, Pelatihan Desain Grafis, Teknik Penulisan Berita dan Opini di Media dan Gerakan Sosial Media. (Ajie Najmuddin/Fathoni)

KOKAM Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Nahdlatul, Aswaja, AlaSantri KOKAM Tegal

Jumat, 05 Januari 2018

Apa Motif Seseorang Menjadi Pelaku Teror?

Depok, KOKAM Tegal. Psikolog sekaligus peneliti dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Bagus Takwin mengemukakan motif seseorang melakukan teror adalah kekuasaan, prestasi, atau afiliasi. 

Apa Motif Seseorang Menjadi Pelaku Teror? (Sumber Gambar : Nu Online)
Apa Motif Seseorang Menjadi Pelaku Teror? (Sumber Gambar : Nu Online)

Apa Motif Seseorang Menjadi Pelaku Teror?

"Yang paling menonjol dan banyak ditemui pada pelaku teror ataupun pemimpin teror adalah motif kekuasaan," kata Bagus di Depok, Jawa Barat, Rabu.

Bagus mengemukakan hal tersebut berdasarkan studi-studi psikologi terhadap para pelaku teror.

KOKAM Tegal

Berdasarkan studi-studi tersebut, lanjutnya, tidak banyak motif prestasi dan motif afiliasi yang merupakan keinginan mencapai sesuatu dan ikut bergabung karena kedekatan pertemanan atau keluarga.

Bagus pernah mewawancarai sejumlah mantan pelaku teror di Lamongan sebagai salah satu responden penelitiannya.

KOKAM Tegal

Menurut Bagus, dia tidak menemukan pelaku teror yang memiliki gangguan psikologis atau kejadian pada masa lalu. 

"Gangguan psikologis atau kejiwaan tidak banyak berpengaruh. Ternyata psikologis mereka baik baik saja, masa kecil mereka juga bahagia," kata Bagus.

Idamkan Mati Sahid

Dalam penelitiannya, Bagus pun menemukan bahwa para pelaku teror tersebut mengidam-idamkan mati sahid yang menjadi tujuannya. 

Kelompok teror tersebut, menurut Bagus, lebih mementingkan kehidupan akherat ketimbang hidup di dunia. 

"Mereka lebih menginginkan kehidupan setelah mati," ujar Bagus.

Namun, Bagus mengatakan, dirinya belum mengetahui alasan seseorang mengidamkan hal tersebut. "Perlu ada studi lebih lanjut," katanya.

Karakteristik

Pelaku teror juga bisa dikenali dari ciri-ciri cara berpikirnya. 

Bagus menguraikan, pelaku teror merasakan kekalutan dalam dirinya, seperti marah terhadap situasi saat ini, merasa dunia berjalan secara tidak baik, dan menganggap orang lain tak bisa melakukan apapun, merasa diabaikan, merasa tidak adil dan tak berdaya terhadap situasi.

"Pelaku teror tidak mau membicarakan masalah lagi, tapi ingin langsung melakukan tindakan nyata," ujar dia.

Dengan melakukan tindakan teror, lanjut Bagus, ada perasaan-perasaan yang didapat oleh pelaku setelah menjalaninya. 

"Mereka akan mendapatkan identitas sosial, dan penghargaan dari kelompoknya, juga sebagai petualangan bagi yang berusia  muda " kata psikolog tersebut.

Peneliti lain dari Fakultas Psikologi UI Solahudin mengatakan para teroris rata-rata berusia 20 tahunan. 

"Biasanya di bawah 30 (tahun), paling muda 16 paling tua 30," kata Solahudin.

Dalam menekan jumlah terorisme, Bagus berpendapat caranya bukan membalas dengan kekerasan.

Hal yang seharusnya dilakukan adalah mengubah persepsi pelaku teror terhadap dunia yang dianggapnya tidak baik.

"Membuat persepsi mereka bahwa dunia ini nyaman, tentram, bukan sebaliknya dilawan dengan kegeraman," kata Bagus. 

Ia beranggapan, pelaku teror bisa dijauhi dari kekerasan dengan pendekatan dialog dan uluran tangan.

Metode tersebut pun terbukti ampuh dalam membuat pelaku teror jaringan Jamaah Islamiyah dan Moro Islamic Liberation Front, Ali Fauzi, tersentuh dan meninggalkan dunia terorisme. 

Ali pergi ke Moro, Filipina, dan ditangkap kepolisian setempat hingga dipulangkan ke Indonesia.

"Saya tersentuh dengan polisi yang menjemput saya di bandara, bahkan mengantarkan saya ke rumah ibu saya," ujar Ali. 

Selain itu, Ali meninggalkan dunia terorisme juga karena bujukan dari kedua kakaknya, Ali Ghufron dan Ali Imron, yang mengajaknya berhenti menjadi pelaku teror. (antara/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Santri, Nahdlatul, Meme Islam KOKAM Tegal

Kamis, 04 Januari 2018

Gembleng Kader, Risma JT Terjunkan Anggota Baru ke Masyarakat

Semarang, KOKAM Tegal. Puluhan anggota baru Remaja Islam Masjid Agung Jawa Tengah (Risma JT) selama lima hari diterjunkan untuk bersosialisasi dengan masyarakat. Kegiatan tersebut dikemas dalam sebuah acara Camping Bakti Risma (CBR) yang menjadi acara tahunan bagi Risma JT, khususnya bagi anggota baru.

Gembleng Kader, Risma JT Terjunkan Anggota Baru ke Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)
Gembleng Kader, Risma JT Terjunkan Anggota Baru ke Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)

Gembleng Kader, Risma JT Terjunkan Anggota Baru ke Masyarakat

Tahun 2015 ini, acara CBR dilaksanakan di Desa Gogik kecamatan Ungaran Barat Kabupaten Semarang. Dalam acara tersebut, para kader baru Risma JT di tuntut untuk dapat memunculkan inovasi baru berupa aktivitas atau kegiatan yang dapat bermanfaat bagi masyarakat serta dapat menjadi pembelajaran bagi para kader.

Beberapa agenda yang terlaksana yaitu, Grebeg Mushola, Bimbingan belajar gratis untuk siswa SD, SMP dan Santri. Lomba Kreasi Seni, Pengajian Akbar, Jalan Sehat, Bazar dan pengobatan gratis.

KOKAM Tegal

Kegiatan yang berjalan dari 18-22 Pebruari 2015 tersebut berhasil menyedot antusiasme warga. Hal ini terbukti dari banyaknya warga yang hadir dalam setiap acara yang digelar.

Ketua Departemen Pendidikan dan Pelatihan Risma JT, Yekti Nur Azali mengatakan, upaya pendidikan kader yang dilakukannya diharapkan berdampak positif, sehingga bermanfaat bagi mereka secara individu, dan berguna bagi kemajuan organisasi serta masyarakat.

KOKAM Tegal

"Kami berharap, CBR ini dapat membentuk kader menjadi militan, berbakti kepada masyarakat, peka terhadap lingkungan dan semakin solid" tuturnya.

Selain itu, imbuh Yekti, kegiatan terjun langsung kemasyarakat ini juga sebagai ajang memperkenalkan Masjid Kebanggaan masyarakat Jawa Tengah, yakni Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) dan juga Risma JT ke masyarakat luas.

Grebeg Mushola

Salah satu kegiatan yang menonjol dimata warga adalah grebeg mushola. Dalam waktu 5 hari, tak kurang 6 mushola dan 1 masjid berhasil digrebeg oleh kader Risma JT.

Kegiatan ini berupa gerakan mushola bersih, nyaman dan lengkap. Hal tersebut muncul karena biasanya banyak mushola atau masjid tidak terawat kebersihannya. Sehingga banyak orang malas untuk pergi ke mushola atau masjid.

Hal demikian sangatlah perlu dilakukan grebeg mushola, yaitu dengan membersihkan mushola secara menyeluruh.

Miyanto, selaku kepala Desa Gogik sangat mendukung aktivitas tersebut. Ia sangat senang dan berharap hal itu dapat berkesinambungan. "Sangat positif, selain bermanfaat bagi warga, juga dapat memacu kepekaan warga terhadap lingkungan, terutama dalam hal kebersihan lingkungan. Semoga yang demikian itu dapat berlanjut" kata Miyanto (ahsan fauzi/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Sunnah, Nahdlatul KOKAM Tegal

Rabu, 03 Januari 2018

PBB Minta Asia Tenggara Bantu Pengungsi Rohingya dan Bangladesh

Jenewa, KOKAM Tegal. Kepala badan hak asasi Perserikatan Bangsa-Bangsa pada Jumat menyatakan terkejut bahwa tiga negara Asia Tenggara mengusir pengungsi kelaparan, yang sekitar 6.000 di antaranya terdampar di laut.

PBB Minta Asia Tenggara Bantu Pengungsi Rohingya dan Bangladesh (Sumber Gambar : Nu Online)
PBB Minta Asia Tenggara Bantu Pengungsi Rohingya dan Bangladesh (Sumber Gambar : Nu Online)

PBB Minta Asia Tenggara Bantu Pengungsi Rohingya dan Bangladesh

Zeid Raad Al Husein mendesak Thailand, Malaysia dan Indonesia tidak memperburuk bencana perdagangan manusia, yang melibatkan warga Bangladesh dan suku Rohingya dari Myanmar.

Perserikatan Bangsa-Bangsa menyatakan lebih dari 25.000 orang melakukan perjalanan ke selatan dari teluk Benggala antara Januari hingga Maret tahun ini.

KOKAM Tegal

Zeid memuji Indonesia, yang mengizinkan 582 pengungsi mendarat pada Minggu, dan Malaysia, yang memungkinkan 1.018 untuk turun pada hari berikutnya, tapi menyatakan kapal lain diusir sejak itu.

"Saya terkejut atas laporan bahwa Thailand, Indonesia dan Malaysia mengusir perahu penuh pengungsi rentan kembali ke laut, yang akan menyebabkan banyak kematian," katanya.

KOKAM Tegal

"Pusat perhatiannya harus pada menyelamatkan nyawa, bukan membahayakan mereka," katanya.

Seruan itu muncul saat lebih dari 750 warga Rohingya dan Bangladesh diselamatkan di lepas pantai Indonesia.

Penumpang di kapal pembawa 712 orang menyatakan perahu mereka tenggelam di lepas pantai Sumatera sesudah diusir Malaysia.

Zeid juga menyatakan bahaya bahwa beberapa negara dilaporkan mengancam memidanakan pendatang gelap dan pencari suaka.

Ia menyatakan hak mereka harus ditegakkan tanpa memandang kedudukan hukum mereka, bagaimana mereka tiba di perbatasan, atau dari mana mereka berasal, katanya.

Zeid juga menyerukan tindakan lebih keras terhadap pedagang manusia sesudah muncul laporan tentang penyiksaan, pelecehan, tebusan dan orang dilempar ke laut.

Sementara itu, Badan Perpindahan Antarbangsa memperingatkan bahwa sekitar 6.000 pengungsi masih terdampar di laut.

Dikatakannya bahwa badan itu sudah memberikan satu juta dolar Amerika Serikat (sekitar 12 miliar rupiah) untuk membantu pengungsi dalam kesulitan.

"Kita tidak bisa diam dan menonton saat laki-laki, perempuan dan anak-anak meninggal mengenaskan akibat kehausan, hanya beberapa kilometer dari keselamatan," kata kepala IOM William Lacy Swing.

Imbauan juga diberikan kepada pemerintah ketiga negara itu untuk membiarkan pengungsi tersebut mendarat dan mendapat perawatan kesehatan.

"Kami akan membantu Anda dalam menyelesaikan masalah penampungan jangka panjang, pengangkutan pulang untuk beberapa di antaranya, dan pilihan lain, tapi atas nama kemanusiaan, biarkan pengungsi itu mendarat," katanya.

Warga Bangladesh dianggap terutama sebagai pengungsi ekonomi, yang lari dari negara miskin mereka. (antara/mukafi niam) foto: AFP

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Bahtsul Masail, Nahdlatul, Daerah KOKAM Tegal

Sabtu, 23 Desember 2017

Gerah Wacana Khilafah, PMII IAIN Jember Surati SKPD

Jember, KOKAM Tegal. Kepemimpinan khilafah yang kerap disuarakan kalangan tertentu membuat gerah PMII IAIN Jember. Organisasi mahasiswa yang bermarkas di IAIN Jember ini mengirim surat ke ? semua Kantor Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dan sejumlah organisasi masyarakat itu, Kamis (11/6). Surat ini memuat imbaun agar segenap masyarakat tetap menjaga keutuhan NKRI dan tidak terpancing wacana pembentukan kepemimpinan khilafah.

Gerah Wacana Khilafah, PMII IAIN Jember Surati SKPD (Sumber Gambar : Nu Online)
Gerah Wacana Khilafah, PMII IAIN Jember Surati SKPD (Sumber Gambar : Nu Online)

Gerah Wacana Khilafah, PMII IAIN Jember Surati SKPD

"Ini penting kami sampaikan agar Indonesia tetap utuh. Kepemimpinan khilafah yang sering didengung-dengungkan pihak tertentu itu sangat potensial mencabik-cabik keutuhan bangsa Indonesia," kata Ketua PMII IAIN Jember Afton Sholeh kepada KOKAM Tegal, Kamis (11/6).

Menurutnya, keinginan segelintir orang untuk menegakkan khilafah islamiyah di negeri yang majemuk ini, bertetangan dengan Pancasila yang sudah disepakati bersama sebagai dasar negara.

KOKAM Tegal

Untuk itu, Afton berjanji akan berusaha sekuat tenaga untuk melawan setiap gerakan yang berbau khilafah.

"Sebagai kader NU, kita wajib menentang segala bentuk upaya yang ingin menghancurkan NKRI," jelasnya.

KOKAM Tegal

Sementara itu, dalam nafas yang sama, GP Ansor Jember juga tak kalah gerahnya dengan kicauan segelintir orang tentang perlunya kepemimpinan ? khilafah. Pemuda Ansor Jember ini menyampaikan aspirasinya dalam baliho ukuran jumbo yang dipasang di ujung jembatan, jalan Brantas, Jember.

Di baliho itu, tertulis "Jangan Usik NKRI dan Pancasila oleh Khilafah" dengan back ground ? foto Ketua GP Ansor Jember Ayub Junaidi.

Kepada sejumlah media, Ayub mengatakan bahwa baliho itu adalah sebuah peringatan agar tidak ada yang main-main dengan Pancasila dan NKRI.

"Hentikan bicara khilafah, atau kami yang akan bergerak", ungkapnya. (Aryudi A Razaq/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal AlaSantri, Tegal, Nahdlatul KOKAM Tegal

Minggu, 17 Desember 2017

Mahfud MD: SBY Sudah Proporsional Tangani Korupsi

Pamekasan, KOKAM Tegal. Anggota Fraksi Kebangkitan Bangsa DPR RI Moh Mahfud MD menilai, upaya pemberantasan korupsi yang dilakukan pemerintahan Persiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tepat dan proporsional. Pendapat mantan Menteri Pertahanan itu berbeda Ketua Umum Dewan Syura DPP PKB KH Abdurahman Wahid (Gus Dur) yang menilai bahwa pemberantasan korupsi cenderung tebang pilih, khususnya pada orang dekat mantan Presiden Megawati Soekarnoputri.

Mahfud mengatakan hal itu, usai menghadiri dialog dengan tukang ojek dan tukang becak di Jalan Niaga, Pamekasan, Jawa Timur, Minggu (8/4) malam. Bahkan menurutnya, pemberantasan korupsi di era pemerintahan Presiden SBY jauh lebih baik dibandingkan periode sebelumnya. “Justru saya melihat pemberantasan tindak pidana korupsi saat ini jauh lebih bagus ketimbang kepemimpinan Megawati,” ujarnya.

Mahfud MD: SBY Sudah Proporsional Tangani Korupsi (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahfud MD: SBY Sudah Proporsional Tangani Korupsi (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahfud MD: SBY Sudah Proporsional Tangani Korupsi

Dijelaskan, pemberantasan korupsi di era pemerintahan Megawati kurang bergaung. Indikasinya, terlihat dari minimnya pejabat publik yang diseret ke meja hijau. “Kalau dulu izin pemeriksaan pejabat publik seperti gubernur, tidak langsung diteken. Sekarang kan relatif lebih cepat. Presiden SBY langsung meneken permintaan izin pemeriksaan terhadap pejabat, seperti Abdullah Puteh (Gubernur NAD, Syaukani (Bupati Kutai Kertenegara), dan sebagainya,” terang Mahfud.

Karena itu, dia tidak setuju dengan pendapat sebagian pengamat, termasuk Gus Dur, yang menilai Presiden SBY terkesan tebang pilih dan hanya mengincar orang-orang rezim Megawati. Menurutnya, tudingan itu tidak sesuai dengan kenyataan sesungguhnya. Dia menilai, Presiden SBY tidak pandang bulu memerangi pelaku korupsi.

“Era pemerintahan Megawati hampir tidak ada mantan pejabat yang diperiksa. Bahkan, Megawati terkesan menghalang-halangi pemeriksaan seperti yang dialami Abdullah Puteh. Tapi, begitu SBY naik, Abdullah Puteh langsung diperiksa. Begitu pun dengan mantan pejabat lainnya,” ungkapnya.

KOKAM Tegal

Selain itu, Mahfud melihat tidak ada nuansa dendam dari SBY terhadap orang-orang Megawati, seperti banyak diberitakan media massa. “Rokhmin Dahuri (mantan Menteri Kelautan) dan Widjanarko Puspoyo (mantan Dirut Bulog) merupakan pejabat sejak era Gus Dur, bukan hanya orangnya Megawati,” paparnya.

Namun demikian, Mahfud tetap melihat adanya kelemahan pemberantasan korupsi di Indonesia pada era SBY. Indikasinya, penanganan korupsi belum berani menyentuh pejabat yang masih aktif. Padahal, banyak pejabat negara yang diduga tersandung korupsi dalam jumlah tidak sedikit.

“Beberapa pejabat yang nyata-nyata melakukan tindak korupsi lepas dari proses hukum. Yang diproses hanya mereka yang tidak lagi menjabat,” tandasnya.

Kondisi tersebut, menurut Mahfud, mengindikasikan adanya pengaruh kekuasaan yang masih dominan di negeri ini. Dengan kekuatan yang dimiliki, seorang pejabat bisa membeli hukum. Bahkan, katanya, hal itu tidak hanya dilakukan oleh pejabat di daerah, tapi juga di pusat. Sayangnya, pakar hukum dari UII Jogjakarta ini tidak bersedia menyebutkan nama-nama pejabat dimaksud. (gpa/sbh)

KOKAM Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Berita, Nahdlatul, Quote KOKAM Tegal

Sabtu, 16 Desember 2017

Peringati Harlah, Pelajar NU Wanasari Gelar Panggung Kreasi

Brebes, KOKAM Tegal. Dua ikatan organisasi pelajar NU Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) memperingati hari lahir (Harlah) dengan menggelar Panggung Kreasi Pelajar (PKP).

Peringati Harlah, Pelajar NU Wanasari Gelar Panggung Kreasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Peringati Harlah, Pelajar NU Wanasari Gelar Panggung Kreasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Peringati Harlah, Pelajar NU Wanasari Gelar Panggung Kreasi

Harlah ke-60 IPNU dan ke-59 IPPNU diperingati Pimpinan Anak Cabang (PAC) Kecamatan Wanasari di Kantor MWC Wanasari, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, Rabu (25/2).

 

“Kreativitas pelajar NU perlu digali, dengan menyediakan media penyaluran,” kata Ketua Panitia penyelenggara Umi Mukaromah di sela acara.

KOKAM Tegal

Dalam memperingati Harlah, IPNU-IPPNU merasa terpanggil untuk menyediakan media kreativitas pelajar. Diharapkan, para pelajar NU khususnya bakat dan minatnya di dalam berkesenian akan terus tumbuh dan berkembang.

KOKAM Tegal

Acara yang berlangsung meriah tersebut, antara lain ditampilkan berbagai macam atraksi kreasi band pelajar, lawak, drama, rebana, dan tari islami.

Setelah melalui penilaian dewan juri yang sangat ketat, akhirnya berhasil menyabet juara IPNU-IPPNU Pimpinan Ranting Sawojajar meraih juara 1 dengan menampilkan Rebana kolaborasi Tari saman. Juara 2 PR Kertabesuki (band), juara 3 PR Kertabesuki (band) dan juara harapan diraih Komisariat SMK Maarif NU 1 Wanasari (Lawak).

Ikut menyaksikan PKP unsur PC IPNU-IPPNU, Muspika Kecamatan Wanasari dan Ketua MWC NU Wanasari. Selain kegiatan Panggung kreasi pelajar, dalam Harlah tahun ini juga diadakan aksi sosial donor darah yang bekerja sama dengan PMI Cabang Brebes. (Wasdiun/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Humor Islam, Nahdlatul KOKAM Tegal

Minggu, 10 Desember 2017

KPK Dilemahkan, Gusdurian Tuntut Sikap Tegas Jokowi-JK

Jakarta, KOKAM Tegal. Jaringan Gusdurian menuntut sikap tegas Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla dalam menjaga komitmen pemberantasan korupsi dengan melindungi KPK dari segala upaya pelemahan yang dilakukan oleh pihak manapun.

KPK Dilemahkan, Gusdurian Tuntut Sikap Tegas Jokowi-JK (Sumber Gambar : Nu Online)
KPK Dilemahkan, Gusdurian Tuntut Sikap Tegas Jokowi-JK (Sumber Gambar : Nu Online)

KPK Dilemahkan, Gusdurian Tuntut Sikap Tegas Jokowi-JK

Koordinator Sekreariat Nasional Jaringan Gusdurian Alissa Wahid mengatakan hal itu menyusul peristiwa penangkapan Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto oleh Bareskrim Mabes Polri terkait kasus keterangan palsu dalam sengketa pilkada di tahun 2010, Jumat (23/1). Penangkapan ini terjadi dalam suasana ketika calon Kapolri Budi Gunawan baru saja ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK dalam kasus gratifikasi.

Penangkapan Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto, tambahnya, dilakukan? secara tiba-tiba tanpa surat panggilan terlebih dulu, di jalan raya dan di hadapan seorang anak perempuannya. Perlakuan juga di luar kewajaran penangkapan seorang tersangka, yaitu dengan pemborgolan di hadapan publik.

KOKAM Tegal

“Hal ini secara vulgar tampak sebagai upaya intimidasi untuk melemahkan KPK sebagai institusi, mengiringi berbagai serangan yang akhir-akhir ini dilakukan untuk merusak legitimasi dan kredibilitas KPK,” tutur putri KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ini dalam siaran pers yang diterima KOKAM Tegal, Sabtu (24/1).

KOKAM Tegal

Menurutnya, upaya pelemahan terhadap KPK bukan hanya sekali ini terjadi. KPK selama ini selalu diserang dari segala sisi, oleh berbagai pihak yang tidak menginginkan adanya lembaga yang progresif dalam pemberantasan korupsi. Mulai dari isu kecil atau remeh hingga upaya perubahan undang-undang untuk mengurangi peran dan kewenangan KPK. Terkait dengan Polri, pola serangan yang sama pernah dilakukan di tengah proses pemeriksaan IrJen Djoko Susilo dalam kasus rekening gendut dan gratifikasi.

“Hal ini sangat berbahaya bagi upaya pemberantasan korupsi.? Melemahnya KPK akan sangat berdampak pada gerakan pemberantasan korupsi dan menciptakan pemerintahan bersih di Indonesia. Kasus-kasus besar korupsi yang harus ditangani secara luar biasa tidak akan bisa terungkap. Gerombolan koruptpor akan semakin kuat mencengkeram Negara. Hukum tidak akan dapat ditegakkan tanpa prinsip keadilan,” tegasnya.

Rakyat yang sudah terdidik sangat menyadari karut-marut korupsi di negeri ini. Karena itu dukungan rakyat akan mengalir deras kepada KPK yang telah menunjukkan rekam-jejak yang cukup baik. Apabila ketegangan POLRI dan KPK tidak diselesaikan, maka konflik akan meluas menjadi konflik Pemerintah dengan Rakyat.

Rentetan kejadian ini harus direspon secepatnya dan secara tegas oleh Joko Widodo sebagai pemimpin tertinggi Republik Indonesia. Sikap tegas ini diperlukan agar institusi penegak hukum, yakni KPK dan Polri, tidak terseret dalam arus konflik kepentingan yang akan bermuara pada melemahnya penegakan hukum di Indonesia.

Gusdurian juga menuntut dilakukannya reformasi terhadap Kepolisian Republik Indonesia agar menjadi penegak hukum yang profesional. Dan kepada segenap kader Gusdurian di manapun diminta untuk mendukung KPK dalam memberantas korupsi di Indonesia. (Mahbib Khoiron)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Bahtsul Masail, Nahdlatul KOKAM Tegal

Rabu, 06 Desember 2017

Lakpesdam PBNU Siap Fasilitasi MWCNU Gerakkan Ranting

Garut, KOKAM Tegal

Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia (Lakpesdam) PBNU mempersilakan bagi kepengurusan NU di tingkat mana saja untuk mengadakan Pelatihan Penggerak Ranting. Lakpesdam PBNU siap memfasilitasi kegiatan yang menjadi program kerja lembaga yang lahir 7 April 1985 ini.

"Lakpesdam PBNU sangat siap untuk memfasilitasi kegiatan pelatihan-pelatihan semacam ini. Kemana pun, bahkan walau yang mengundang setingkat MWC (Majelis Wakil Cabang NU) sekalipun kita siap untuk datang. Asalkan waktunya saja yang sesuai," kata Sekretaris Lakpesdam PBNU Marzuki Wahid.

Lakpesdam PBNU Siap Fasilitasi MWCNU Gerakkan Ranting (Sumber Gambar : Nu Online)
Lakpesdam PBNU Siap Fasilitasi MWCNU Gerakkan Ranting (Sumber Gambar : Nu Online)

Lakpesdam PBNU Siap Fasilitasi MWCNU Gerakkan Ranting

Marzuki menyampaikan hal itu saat mengisi Pelatihan Penggerak Ranting yang digelar Lakpesdam PCNU Garut di Pesantren Al-Fauzaniyah Garut, Jawa Barat, Sabtu-Ahad (28-29/5). Pelatihan ini diikuti oleh beberapa utusan dari kabupaten/kota terdekat, antara lain Sumedang, Cimahi, dan Bandung.? Semuanya berjumlah 30 peserta.

KOKAM Tegal

Marzuki yang menjadi fasilitator dalam kegiatan ini membawa beberapa trainer (trainer) lainnya antara lain Abdullah Ubed, Kepala Divisi Pemberdayaan Manusia; dan pengurus dan staf lainnya, Tsabit Al-Fauzi dan Rofii.

KOKAM Tegal

Materi yang akan disampaikan dalam kesempatan ini meliputi NU dan Aswaja, Penataan Organisasi Ranting, Pengorganisasian, serta Profil dan Penggerak Ranting.

"Pelatihan ini diselenggarakan atas dasar realita akar permasalahan umat yang sering terjadi di tingkat ranting,” kata Hilwan Faqih, Ketua Lakpesdam NU Garut yang juga penyelenggara pelatihan ini.

Ketika rantingnya kuat, otomatis NU secara kesuluruhan pun akan kuat. Apalah artinya cabang banyak kegiatan, tetapi rantingnya minim kegiatan, tambahnya.

Seluruh peserta tampak sangat antusias atas diselenggarakan pelatihan ini. Mereka berharap sepulang dari pelatihan ini dapat mampu menjadi trainer-trainer yang hebat, yang bisa memfasilitasi kepada ranting-ranting di daerahnya tentang pemahaman akan Aswaja dan NU.

"Terima kasih atas terselenggaranya pelatihan penggerak ranting ini. Banyak ilmu serta pengalaman yang baru, di samping kita juga bisa sharing dengan fasilitator dan peserta yang lain. Sungguh pelatihan ini sangat bermanfaat," tutur Ramli salah satu peserta pada pelatihan ini. (Syarif Hidayatullah/Ayi Abdul Kohar/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Nahdlatul, Kiai KOKAM Tegal

Senin, 27 November 2017

Kekuatan Indonesia Ada di Para Ulama

Jakarta, KOKAM Tegal. Sulitnya penjajah dalam memecah belah rakyat Indonesia, membuat kolonial mengutus Christiaan Snouck Hurgronje untuk meneliti kekuatan Indonesia. Dan kesimpulannya adalah kekuatan Indonesia ada di para ulamanya.

Kekuatan Indonesia Ada di Para Ulama (Sumber Gambar : Nu Online)
Kekuatan Indonesia Ada di Para Ulama (Sumber Gambar : Nu Online)

Kekuatan Indonesia Ada di Para Ulama

Penulis buku “Laskar Ulama-Santri & Resolusi Jihad” Zainul Milai Bizaie mengungkapkan jika tidak ada ulama dan santrinya, negara Indonesia ini tidak akan berdiri. Ia mengatakan hal itu pada pada acara bertajuk “Ngaji Sejarah Laskar Ulama-Santri & Resolusi Jihad” Perguruan Tinggi Ilmu al-Qur’an (di PTIQ) Lebak Bulus, Jakarta Selatan, Rabu, (15/10).

Milal menjelaskan kenapa ulama dan santri mempunyai peran besar terhadap negeri ini. “Jika kita runut ke belakang, berdirinya pesantren-pesantren yang sampai sekarang ada, tidak lepas dari perjuangan Pangeran Diponegoro,” katanya.

KOKAM Tegal

Milal kemudian memberi pemahaman kepada mahasantri PTIQ untuk hati-hati kepada teori-teori dari Barat. Ia mengatakan, kita tidak boleh lengah dengan teori-teori Barat yang mengatakan ilmu itu netral, sesungguhnya ilmu itu tidak netral.

“Teori-teori keilmuan Barat itu membawa misi. Dan kita sebagai santri, juga harus membawa misi di setiap karya-karya kita, misi apa itu? Misi menyebarkan Islam yang rahmatullil alamin,” imbuhnya.

KOKAM Tegal

Menanggapi penanya mahasiswa dari Bima tentang sejarah peran penting ulama di negeri ini seolah hilang, ia menjawab sepakat, bahwa sejarah kita, sejarah perjuangan ulama dan santri memang sengaja ingin dihilangkan.

Menjawab pertanyaan dari peserta lain, apa tujuan diadakan acara “ngaji sejarah” ini? Milal mengatakan, inilah tujuannya, berkumpul, bertukar pikiran, merapatkan kembali misi para ulama dulu.

Sebelum menutup materinya, Milal memberi pesan dan semangat kepada 200 mahasiswa yang hadir di Aula lt. 2 gedung PTIQ. “Anda sekalian yang menuntut ilmu di sini, wajib untuk meneruskan perjuangann ulama di negeri ini. Dengan ilmu Al-Qur’an yang Anda miliki, sebarkanlah Islam rahmatal lil alamin di negeri ini. Ciptakanlah karya yang membawa misi Islam yang agung, banyaklah menulis, karena menulis sama dengan berperang,” ujarnya.

Ngaji sejarah tersebut merupakan pertama dari 10 tempat yang akan dikunjungi dalam rangkaian ngaji sejarah tour de Jabodetabek. Beberapa tempat tersebut antara lain Kampus PTIQ (Perguruan Tinggi Ilmu al-Qur’an) Lebak Bulus (15/10), PMII Cabang Ciputat (17/10), Pondok Pesantren Al-Hamid Cipayung (21/10), Pondok Pesantren As-Siddiqiyah Kebun Jeruk (23/10).

Tempa lainnya yaitu YPI Ar-Roudhoh Tambun Bekasi (26/10), SMK Ma’arif Grogol (27/10), PB PMII Salemba Tengah (29/10), Pondok Pesantren Al-Kenaniyyah Pulomas (5/11), Pondok Pesantren Al-Falakiyyah Kota Bogor (07/11), STAINU Matraman (10/11). (Anwar/Abdullah)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Nahdlatul, Olahraga KOKAM Tegal

Minggu, 12 November 2017

Produktif Menulis, Lahirkan 4 "Buku Berat"

Di dunia tulis-menulis, nama Muhammad Al-Fayyadl (27 tahun) sudah cukup dikenal. Sejumlah buku terlahir dari pria yang kini menempuh pendidikan di Universite Paris 8 pada jurusan Filsafat dan Kritik Kontemporer Kebudayaan itu.

Dilahirkan di lingkungan pondok pesantren, 27 tahun silam, gaya hidup seorang santri memang sangat melekat dengan sosok Muhammad Al-Fayyadl. Setidaknya, itu terlihat ketika Kontributor KOKAM Tegal Probolinggo menemuinya pada Ahad (4/8) di rumahnya.

Pria yang baru pulang dari Prancis, pada Ahad (28/7) dini hari itu, mengenakan sarung dan berkopiah, layaknya santri lainnya. Menekuni filsafat barat dan belajar di negeri Napoleon ternyata tidak membuat gaya hidup Al Fayyadl jadi kebarat-baratan. Identitas santri tetap melekat pada pria kelahiran Oktober 1985 itu.

Produktif Menulis, Lahirkan 4 Buku Berat (Sumber Gambar : Nu Online)
Produktif Menulis, Lahirkan 4 Buku Berat (Sumber Gambar : Nu Online)

Produktif Menulis, Lahirkan 4 "Buku Berat"

Ya, masa kecilnya memang banyak dihabiskan di lingkungan pesantren. Mulai Pesantren Nurul Jadid, di Kecamatan Paiton, Pesantren Nurul Qur’an di Kecamatan Kraksaan  sampai Pesantren Annuqayah, di Kabupaten Sumenep, Madura.

Fayyadl dilahirkan di lingkungan Pesantren Nurul Jadid Kecamatan Paiton Kabupaten Probolinggo. Pendidikan dasar ia kenyam di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Nurul Mun’im, Desa Karanganyar, Kecamatan Paiton. Selama di Paiton, ia rutin mengikuti pengajian bersama santri lain pada kakeknya, alm KH. Hasan Abdul Wafi, dan pengasuh Pesantren Nurul Jadid saat itu alm KH. Abdul Wahid Zaini. “Kalau Ramadhan, saya pasti ikut pengajian,” katanya.

Selain menimba ilmu di Pesantren Nurul Jadid, Fayyadl juga pernah nyantri di Pesantren Nurul Qur’an, di Kecamatan Kraksaan namun tak sampai setahun. Di pesantren tersebut, penulis buku Derrida ini, sempat menghafal beberapa surat dalam Al Qur’an.

KOKAM Tegal

Lulus MI, ia mondok di Pesantren Annuqayah, di Kabupaten Sumenep. Di pesantren tersebut dia menempuh pendidikan Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA). Di sini, dia mulai menaruh minat pada bidang Tasawuf dan sastra Indonesia melalui buku-buku yang dibacanya dari perpustakaan.

Saat masih duduk di bangku kelas 2 MTs, dia sudah mulai membaca buku Ibnu Sina dan nama-nama lain dalam dunia tasawuf. Ia juga mulai membaca karya-karya Imam Ghazali yang selain sufi, juga seorang filsuf.

Di bidang sastra, Fayyadl mulai membaca buku-buku Pramoedya Ananta Toer. Antara lain “Bumi Manusia” dan “Anak Semua Bangsa” (dua buku pertama dari empat buku tetralogi Paramoedya, Red). “Buku Jejak Langkah dan Rumah Kaca, waktu itu saya belum dapat,” kata putra sulung dari H. Malthuf Siraj dan Hj. Hamidah Wafie tersebut.

Buku-buku tersebut, dia dapat dengan cara meminjam pada Makmun, seorang familinya di pesantren. Dari perpustakaan Makmun, Fayyadl juga banyak membaca buku-buku sosial dan filsafat. Hingga akhir Tsanawiyah, dia mulai aktif menulis di buletin pesantren. “Saya suka menulis dengan bentuk esai karena lebih bebas berekspresi,” katanya.

KOKAM Tegal

Memasuki tahun 2000, bersama seorang temannya Faisol, Fayyadl menerbitkan buku kumpulan puisi berjudul “Pertemuan Sufi”. Yang spesial baginya, penyair kenamaan dan pemilik Diva Pers Edi AH. Iyubenu bersedia menulis epilog dalam buku perdananya tersebut.

“Buku itu dibedah di pondok. Dan itu pengalaman pertama saya berbicara di depan orang banyak,” kenang penulis buku Teologi Negatif Ibn Arabi, terbitan LKiS tersebut.

Fayyadl mulai memberanikan diri menulis di media massa, setelah bertemu dan banyak berdiskusi dengan Abdul A’la (kini Rektor IAIN Sunan Ampel Surabaya, Red) yang juga pamannya. “Dia (Abdul A’la, Red) banyak menulis di jurnal Taswirul Afkar, Jawa Pos, Kompas, serta media lain,” kata Fayyadl.

Itulah yang melecutkan semangatnya untuk melakukan hal serupa. Hingga akhirnya, tulisannya dimuat di majalah Aula (terbitan PW NU Jawa Timur). Fayyadl ingat betul topik yang ia bahas di tulisan perdananya di media massa tersebut: fiqh.

Saat kelas 3 MA, Radar Madura (Jawa Pos Group) menyediakan halaman opini. Beberapa tulisan Fayyadl, termuat di koran tersebut. Tanpa ia sadari, kebiasaannya menulis di koran lokal tersebut telah memudahkannya menulis di Koran Jawa Pos. Dan, itu terjadi saat ia mulai kuliah di Insitut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Kalijaga, Jogjakarta pada Fakultas Ushuluddin, jurusan Aqidah Filsafat.

Lulus dari Jogjakarta, Fayyadl lantas melanjutkan studi di Universite Paris 8 pada jurusan Filsafat dan Kritik Kontemporer Kebudayaan pada 2012 lalu. Hingga kini, terhitung telah ada empat buku yang lahir dari tangannya.

Selain kumpulan puisi Pertemuan Sufi, ia juga menerbitkan buku Tawashin: Kitab Kematian (diterbitkan saat kuliah di semester II) yang merupakan terjemahan dari tulisan Al-Hallaj, seorang tokoh sufi yang tewas dibunuh. Kemudian ada buku filsafat berjudul Derrida (2005) dan yang terakhir Teologi Negatif Ibn Arabi: Kritik Metafisika Ketuhanan (2012).

Selain buku pertama, buku karya Fayyadl diterbitkan di Jogjakarta. Buku yang disebutkan terakhir, adalah pengembangan dari skripsinya di IAIN Sunan Kalijaga. Dan kini, sebuah buku baru tengah disiapkannya.

Saat mendapat galar sarjana strata 1 dari IAIN Sunan Kalijaga, ada empat alternatif karir pemikiran (begitu dia memberi istilah) yang akan dijalaninya. Yakni, menekuni filsafat barat, studi keislaman, ilmu-ilmu social, dan sastra.

Namun, pria yang pernah menjadi editor pada penerbitan LKiS Jogjakarta tersebut, memilih filsafat. “Saya rasa, pengetahuan saya di sini masih kurang,” kata penulis yang sempat berencana menempuh studi di Maroko dan Mesir saat lulus Aliyah tersebut.

Ia berobsesi memberikan kontribusi pada wacana filsafat di Indonesia yang menurutnya belum begitu mengakar. Padahal, hal itu sangat penting. Tanpa itu, katanya, tak mungkin founding fathres Indonesia Soekarno merangkai republik ini pada 1945 silam. Baginya, presiden pertama tersebut, terpengaruh pada wacana kebebasan yang berkembang dalam revolusi Prancis saat memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.  (Syamsul Akbar: Red/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Warta, Kajian Sunnah, Nahdlatul KOKAM Tegal

Rabu, 08 November 2017

Pengalaman Lakpesdam Bela Hak-hak Masyarakat Terdiskriminasi

Batam, KOKAM Tegal. Persoalan masyarakat yang terdiskriminasi tidak bisa diselesaikan melalui diskusi, FGD dan seminar. Pertama-tama, kelompok masyarakat yang terdiskriminasi harus berbaur dengan masyarakat umum melalui berbagai sarana dan kegiatan. Setelah itu barulah bicara hak dan kewajiban.

“Perlu dilokalisir dulu problemnya karena setiap wilayah berbeda-beda masalahnya. Setelah itu kita ciptakan sarana agar mereka (masyarakat terdiskriminasi) bisa berbaur dengan masyarakat umum. Bisa berupa kegiatan olah raga bersama, pengolahan sampah bersama, atau apapun,” kata Ufi Ulfiyah Manajer Riset dan Kajian PP Lakpesdam NU di sela persiapan Rakesnas V di Batam, Selasa (14/4).

Pengalaman Lakpesdam Bela Hak-hak Masyarakat Terdiskriminasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengalaman Lakpesdam Bela Hak-hak Masyarakat Terdiskriminasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Pengalaman Lakpesdam Bela Hak-hak Masyarakat Terdiskriminasi

Setelah berbaur, pelan-pelan masyarakat diajak berbincang mengenai banyak hal. Dalamhal terjadi diskriminasi, belum tentu pihak mayoritas yang bersalah. Bisa jadi pihak minoritas yang cenderung ekslusif dan memisahkan diri.

KOKAM Tegal

“Setelah masyarakat berbaur dan berdialog satu sama lain, baru kita melakukan advokasi. Dan advokasi kita terutama berbasis kewargaan, seperti kepemilikan kartu tanda penduduk atau akses layanan kesehatan. Kita temuka ada kelompok masyarkat yang sudah lama tinggal namun tidak bisa bikin KTP karena pejabatnya tidak berani,” kata Ufi.

KOKAM Tegal

Selama empat bulan ini PP Lakpesdam melaksanakan program PNPM Peduli yang terfokus pada kegiatan inklusi sosial yang tersebar di 12 wilayah. Program ini dimaksudkan untuk melakukan advokasi terhadap masyarakat minoritas yang terdiskriminasi, baik berbasis agama, kepercayaan atau adat.

Tiga hari menjelang pelaksanaan Rakernas V Lakpesdam, para kader Lakesdam dari 12 wilayah ini telah hadir di Batam untuk menerima pembekalan training of trainer (ToT) Kader Damai. Pelatihan pelatih ini dimaksudkan untuk memperbanyak jumlah kader Lakpesdam yang terlibat dalam program inklusi sosial.

“Setelah program berjalan, kita perlu memperbanyak orang yang mengatakan bahwa meskipun berbeda agama, kepercayaan atau adat, semua kelompok masyarakat itu mempunyai hak yang sama,” kata Ketua PP Lakpesdam H Yahya Ma’shum. (Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Nahdlatul, Meme Islam KOKAM Tegal

Minggu, 05 November 2017

Silaturrahim “Kiai Kampung” Dihadiri Ribuan Warga

Jakarta, KOKAM Tegal. Lebih dari empat ribu warga masyarakat menghadiri acara silaturrahim yang digelar oleh Dewan Pimpinan Pusat Partai Kebangkitan bangsa (DPP PKB) di komplek Pesantren Ciganjur, Jakarta Selatan, yang diasuh oleh Ketua Dewan Syuro DPP PKB KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Ahad (18/2). Forum yang sebelumnya disebut sebagai pertemuan para kiai kampung itu dihadiri oleh para pengurus masjid, musholla dan majelis ta’lim se-Jabotabek dan perwakilan dari pengurus wilayah PKB Jawa Tengah, Jawa Barat, Yogyakarta dan Jawa Timur.

“PKB melayani para kiai-kiai kampung yang selama ini tidak didengarkan. Kita berharap pertemuan semacam ini berlanjut sampai ke cabang-cabang seluruh Indonesia,” kata Ketua Dewan Tanfidz DPP PKB Muhaimin Iskandar saat memberikan sambutan.

Acara silaturrahim itu diberi tajuk “Majelis Silaturrahim Ulama Rakyat dan Ngaji Bersama Gus Dur.” Sejumlah kiai hadir memimpin istighatsah dan doa bersama antara lain KH Nuril Huda yang juga ketua Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU), KH Lukman Hakim, KH Ali hanafiyah, KH. Hamdun, KH Abdul Aziz Mansyur, KH Jamaluddin Bustomi, KH Manarul Hidayat, dan KH Aminullah Muchtar. Sementara doa pamungkas dipimpin oleh Tuan Guru Turmudzi dari Nusa Tenggara Barat.

Silaturrahim “Kiai Kampung” Dihadiri Ribuan Warga (Sumber Gambar : Nu Online)
Silaturrahim “Kiai Kampung” Dihadiri Ribuan Warga (Sumber Gambar : Nu Online)

Silaturrahim “Kiai Kampung” Dihadiri Ribuan Warga

Beberapa artis ibu kota seperti Rano Karno, Basuki dan Akri Patriyo juga hadir memeriahkan dan menghibur hadirin. Acara inti “Ngaji bersama Gus Dur” dipandu oleh pelawak Akri Patrio yang tampil dengan guyonan-guyonan andalannya. “Saya ini memang pelawak tapi Gus Dur itu embahnya pelawak,” kata Akri mengawali pengajian.

Istilah kiai kampung itu sendiri, kata Gus Dur saat memberikan pengajian, tidak dibuat secara khusus untuk acara silaturrahim kali ini. Menurut Gus Dur istilah kiai kampung itu muncul saat digelar pengajian di Nganjuk, Jawa Timur, beberapa hari yang lalu yang juga dihadiri oleh ribuan warga dan para kiai kampungnya.

“Bukan saya yang mengatakan ada kiai begini dan begitu. Kalau ada yang menganggap saya membuat dikotomi antara kiai kampung dan kiai sepuh itu konyol. Itu namannya tidak tahu asbabun nuzul-nya. Kalau ada istilah kiai kampung dan kiai sepuh ya memang sudah ada begitu,” kata Gus Dur disambut tawa hadirin.

KOKAM Tegal

Dikatakan forum silaturrahim di Pesantren Ciganjur yang rencananya akan diadakan tiga bulan sekali itu bertujuan untuk menampung aspirasi masyarakat terutama dari para kiai dan pemimpin masyarakat yang selama ini hampir tidak didengar suaranya oleh para wakil rakyat. Sementara, kata Gus Dur, para ulama kenamaan yang sering muncul di televisi telah dikapitalisasi oleh industri hiburan sehingga lebih sering menjadi tontonan dari pada menjadi penyampai lidah ummat. (nam)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal

KOKAM Tegal Quote, Nahdlatul, Internasional KOKAM Tegal

Selasa, 31 Oktober 2017

Ranting-ranting IPNU-IPPNU di Sumber Kembali Aktif dan Terbentuk

Rembang, KOKAM Tegal. Pasca digelarnya Masa Kesetiaan Anggota atau Makesta, yang digelar IPNU-IPPNU Kecamatan Sumber, pada 26 Desember 2016 lalu, empat ranting baru berhasil dibentuk. Sementara empat lainnya yang vakum berhasil diaktifkan kembali.

Hal tersebut disampaikan Ketua PAC Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama Kecamatan Sumber Ilmiana Wulansari kepada NU online pada Selasa (3/1).?

Ranting-ranting IPNU-IPPNU di Sumber Kembali Aktif dan Terbentuk (Sumber Gambar : Nu Online)
Ranting-ranting IPNU-IPPNU di Sumber Kembali Aktif dan Terbentuk (Sumber Gambar : Nu Online)

Ranting-ranting IPNU-IPPNU di Sumber Kembali Aktif dan Terbentuk

Ia menjelaskan, Makesta yang pertama kali digelar sejak ia menjabat sebagai Ketua Anak Cabang, merupakan momentum untuk kembali membangkitkan ranting yang tidak aktif.

Selain itu, menurutnya keberadaan 12 ranting lebih terkoordinir dengan baik dibandingkan sebelum diadakannya makesta. Selain itu, ia mengakui jika kesolitan kader lebih terlihat dibandingkan ssebelum mereka mengikuti masa kesetiaan anggota.

KOKAM Tegal

"Setelah diadakannya Makesta, semua ranting yang ada lebih terkoordinir dan lebih solid dari pada sebelumnya. Disamping itu, pada prosesi makesta, membangkitkan semangat kader pelajar NU di Kecamatan Sumber untuk kembali berorganisasi," ujarnya.

Sebelumnya di Kecamatan Sumber terdapat 12 Ranting IPNU-IPPNU, dan 4 diantaranya tidak aktif. Pasca diadakannya Makesta, Pimpinan Anak Cabang berhasil mengaktifkan ranting Desa Krikilan, Sekarsari, dan Kedung Tulup. Selain itu, ranting baru juga berhasil di bentuk di Dusun Nglakeh Desa Logede pada 28 Desember 2016.

KOKAM Tegal

Pada 2017 tahun ini, menurut pengakuan Ilmi, para pengurus PAC menyatakan siap membentuk kembali ranting IPNU-IPPNU di Desa Logong dan Kedung Asem.

Ada 150 kader IPNU-IPPNU yang berhasil terrekrut melalui baiat Makesta yang di gelar di gelar di MTs Negri Kecamatan Sumber. Seluruh peserta yang lolos merupakan perwakilan kader pelajar NU yang berasal dari 18 Desa yang ada di Kecamatan Sumber.(Ahmad Asmui/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal AlaSantri, Nahdlatul KOKAM Tegal

Jumat, 27 Oktober 2017

Pesantren dalam Kesusastraan Indonesia

Oleh Abdurrahman Wahid 

Sebagai objek sastra, pesantren boleh dikata belum memperoleh perhatian dari para sastrawan kita, padahal banyak di antara mereka yang telah mengenyam kehidupan pesantren. Hanya Djamil Suherman yang pernah melakukan penggarapan di bidang ini, dalam serangkaian cerita pendek di tahun-tahun lima puluhan dan enam puluhan. Juga Mohammad Radjab, sedikit banyak telah menggambarkan tradisi hidup bersurau di kampung, dalam otobiografinya yang berjudul Semasa Kecil di Kampung. Walaupun demikian, karya dua orang penulis itu belum lagi dapat dikatakan berhasil mengungkapkan hidup kejiwaan di pesantren. Paling banyak karya mereka baru memantulkan nostalgia akan masa bahagia yang mereka alami semasa kecil dalam lingkungan pesantren. 

Yang ironis, justru sebuah karya pendek yang berhasil menampilkan permasalahan kejiwaan pesantren. Karya itu adalah cerpen Robohnya Surau Kami, oleh A.A. Navis. Permasalahan cerpen ini, yaitu fatalisme yang melanda kehidupan beragama, adalah  permasalahan tipikal pesantren. Walaupun latar belakang sosial yang disoroti adalah kehidupan kampung yang “biasa”, tetapi jelas sekali cerpen ini dipengaruhi corak kehidupan surau/pesantren di Sumatera Barat.  

Pesantren dalam Kesusastraan Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren dalam Kesusastraan Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren dalam Kesusastraan Indonesia

Sebaliknya, karya HAMKA Di Bawah Lindungan Ka’bah, justru tidak mengungkapkan kehidupan kejiwaan pesantren. Walaupun yang dikemukakan adalah cerita berlatar belakang kehidupan agama, tetapi tema pokoknya tidaklah demikian. Tema itu adalah mengenai kegagalan cinta dan usaha mengataasinya, dengan cara mengasingkan diri di Makah. Tema pengorbanan cinta adalah tema umum kemanusiaan, apa pun juga latar belakangnya. Dalam hal ini, karya HAMKA tersebut mengingatkan kita pada pengorbanan tokoh utama karya Andre Gide, La Porte Etroite. Dalam karya ini, tokoh Alissa mengorbankan cinta dengan jalan menjadi seorang biarawati.

Abstraksi-abstraksi yang Sukar Difiktifkan 

Mengapakah sdikit sekali kehidupan pesantren digambarkan dalam kesusastraan kita? Ada beberapa sebab yang dapat dikemukakan untuk menjawab pertanyaan tersebut. Pertama, karena persoalan dramatis di pesantren berlangsung pada “taraf terminologis” yang tinggi tingkatannya. Soal abstrak seperti determinasi, (al-jabru), free destination, (iradah), intensitas ketundukan kepada Tuhan, dan sebagainya, sukar sekali dituangkan sebuah cerita fiktif. 

Kedua, karena masih kakunya pandangan masyarakat kita terhadap manifestasi kehidupan beragama di kehidupan kita. Oleh Nurcholis Madjid pandangan ini dinamai sakralisme agama. Dengan demikian, naluri sastra dan elastisitas bentuk penceritaan tidak memperoleh jalan pelepasan. Kita masih ingat akan reaksi sangat keras terhadap Ki Pandji Kusmin, Langit Makin Mendung, beberapa tahun yang lalu. 

KOKAM Tegal

Desakralisasi 

Jika proses desakralisasi kehidupan beragama telah jauh berlangsung, sebenarnya manifestasi kehidupan beragama dapat menjadi medium sastra yang unik. G. K. Chesterton, misalnya, telah menyajikan kepada kita rangkaian kisah seorang pendeta detektif, Father Brown. Walaupun karya ini tidak dapat dianggap sebagai karya sastra yang serius, tetapi minimal ia telah telah menunjukkan betapa uniknya kehidupan bergama sebagai medium sastra.

Pada umumnya, medium yang digunakan adalah satire, seperti rangkaian novel Giovanni Guareschi di Italia pada tahun-tahun  lima puluhan. Karya Guareschi itu melukiskan suka duka seorang pendeta kampung yang turut campur soal-soal politik lokal. Tokoh pendeta-politikus Don Carmillo ini begitu menarik perhatian, sehingga karya Guareschi tersebut terkenal tidak hanya di Italia saja, bahkan telah menjadi epik modern  yang setara dengan ketenaran karya klasik Jaroslav Hasek, Serdadu Baik si Schweik.

KOKAM Tegal

Pada waktu Lurah Don Peppone, seorang komunis, tampaknya akan memperoleh kemenangan dalam sebuah pemilihan lokal, Don Carmillo menghadap pada patung salib Yesus di altar gereja boboknya. Menolak permintaan Don Carmillo agar Ia menyelamatkan kampung itu dari bahaya komunis, Yesus menjawab bahwa urusan politik bukan urusannya! Mungkinkah satire seperti ini diterbitkan di negeri kita dewasa ini, dengan tidak menerbitkan gelombang reaksi yang hebat?

Jangan Satire

Salah satu jalan untuk mengatasi kekurangan penggarapan materi pesantren dalam kesusastraan kita, adalah dengan mencari persoalan dramatis yang tidak mengarah pada bentuk satire. Dalam hal ini dapat dikemukakan contoh berupa karya seorang penulis Yahudi Amerika, Dr. Chaim Potok.

Potok menceritakan pergulatan Hari, seorang pemuda Yahudi dari sekte ortodoks, yang mempunyai seorang  ayah rabbi terkemuka. Rabbi itu, dengan penderitaan luar biasa, harus melarikan diri dari Rusia dan pindah ke New York. Dalam kedegilan hati yang luar biasa, ia menentang setiap usaha untuk mengadaptasi hukum agama Yuda pada kehidupan modern. 

Keagungan kepribadiannya digambarkan dengan sangat mengena oleh Potok: ketundukannya yang penuh pada ajaran agama, kejujurannya untuk membela nilai-nilai yang dijunjungnya tinggi, kasih sayangnya kepada jemaat yang dipimpinnya, dan kekerasan hatinya untuk melawan setiap “bujukan” untuk berkompromi dengan kehidupan modern di Amerika. Dalam dua karyanya, The Chosen dan The Promise, Potok menyajikan pergulatan yang khusus bersangkutan dengan sikap hidup beragama, secara serius dan penuh kecintaan. 

Dalam karyanya yang ketiga, My Name is Asheerlev, diceritakan seorang pemimpin Yahudi dari sekte kolot, yang mempunyai seorang anak genius yang berbakat melukis. Padahal lingkungan sektenya tidak memperkenankan penuangan bentuk makhluk hidup ke dalam lukisan. Secara dramatis diperlihatkan bagaimana penderitaan batin sang ayah yang terjepit antara tugasnya kepada masyarakat, dan antara bakat anaknya yang begitu luar biasa. 

Karena teknik penceritaan, pengetahuan bahasa, dan keindahan sastra yang bertaraf tinggi, drama tersebut menjadi sangat menarik perhatian bagi pembacanya. Pada pokoknya, Potok berhasil mengungkapkan dilema keagamaan yang universal bagi kita semua: bagaimana harus mempertemukan ketundukan pada nilai agama dengan kebutuhan hidup modern ini. 

Potok mencapai hasilnya yang gemilang itu, dengan pujian dari para kritikus sastra yang terkemuka, karena ia menguasai persoalan yang digarapnya. Jelas dari ketiga karyanya itu bahwa ia mengalami sendiri kemelut yang digambarkannya. Dengan demikian, pesan yang hendak disampaikannya kepada pembaca tampak penuh kejujuran, bukannya gambaran tentang sesuatu sentimen murahan yang digarap secara cengeng.

Kalau ada juga sastrawan kita yang merasa terpanggil untuk menggarap kehidupan pesantren sebagai objek sastra nantinya, terlebih dahulu harus diyakininya persoalan-persoalan dramatis yang akan dikemukakannya. Tanpa penguasaan penuh, hasilnya hanyalah akan berisi kedangkalan pandangan belaka. 

Artikel ini pernah dimuat dalam harian Kompas, 26 November 1973..

ABDURRAHMAN WAHID adalah Ketua Umum PBNU tahun 1984-1999 dan presiden keempat RI tahun 1999-2001. Ketua Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) tahun 1983 yang akrab dipanggil Gus Dur ini lahir di Jombang, Jawa Timur, 7 September 1940.

Selain sebagai seorang agamawan,Gus Dur dikenal kolumnis terkemuka dan penikmat sekaligus pengamat sastra dan budaya. Dalam wawancaranya dengan majalah Editor edisi No 15/THN. IV/22 Desember, ada satu cita-cita Gus Dur yang belum kesampaian, “Saya Ingin mengarang novel tentang keluarga besar Jombang. Tentang orang-orangnya, dengan desa-desanya, keislamannya,” ungkapnya.

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Nahdlatul KOKAM Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs KOKAM Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik KOKAM Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan KOKAM Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock