Tampilkan postingan dengan label Kajian Sunnah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kajian Sunnah. Tampilkan semua postingan

Senin, 26 Februari 2018

ASBIHU Tour and Travel Gunakan Pesawat Negara untuk Kenyamanan Jamaah

Jakarta, KOKAM Tegal. Asosiasi Bina Haji dan Umrah Nahdlatul Ulama (ASBIHU) NU Tour and Travel, kini hadir dengan manajeman dan semangat baru. Di bawah kendali Ketua Umum ASBIHU, KH Musthofa Aqil Siroj, ASBIHU berkomitmen untuk memberikan kenyamanan terbaik bagi jamaah yang ingin menunaikan ibadah haji dan umrah.?

ASBIHU Tour and Travel Gunakan Pesawat Negara untuk Kenyamanan Jamaah (Sumber Gambar : Nu Online)
ASBIHU Tour and Travel Gunakan Pesawat Negara untuk Kenyamanan Jamaah (Sumber Gambar : Nu Online)

ASBIHU Tour and Travel Gunakan Pesawat Negara untuk Kenyamanan Jamaah

Ditambah lagi ASBIHU untuk memperkuat pengembangan usaha telah mendapatkan perpanjangan izin dengan diperolehnya SK Kemenag No. 432 Tahun 2016.

Salah satu semangat ASBIHU dalam peningkatan pelayanan kepada para jamaah adalah dengan pesawat yang digunakan. ASBIHU Tour and Travel hanya akan menggunakan pesawat milik negara (pemerintah).

Penggunaan pesawat milik negara ini dipandang efektif, karena pesawat negara akan tetap memberangkatkan penumpang walau penumpang di jam penerbangan tersebut, misalnya kurangnya memenuhi kuota.

“Dengan pesawat negara, walaupun tidak penuh tetap diberangkatkan, karena pesawat negara terbang atas dan untuk kepentingan negara,” kata Direktur ASBIHU Tour and Travel, H Hafidz Taftazani kepada KOKAM Tegal Kamis (1/12) sore.

KOKAM Tegal

Beberapa pesawat negara yang digunakan adalah Oman Air, Qatar, dan Emirates. Pesawat-pesawat tersebut sekalipun terbang dengan singgah di negara-negara pemilik atau asal perusahan penerbangan, tetap langsung ? menuju Madinah sebagai destinasinya. Berbeda dengan pesawat swasta yang kebanyakan berdestinasi ke Jedah, sehingga masih mengharuskan jamaah melakukan penerbangan dari Jedah ke Madinah.?

“Padahal penerbangan dari Jedah ke Madinah memakan waktu sekitar enam jam. Tentu ini akan sangat melelahkan, apalagi bagi jamaah yang sudah berumur yang biasa tinggal di daerah-daerah. Tapi dengan peswat pemerintah, langsung ke Madinah. Ini akan banyak sekali mengefektifkan waktu,” kata Hafidz.

KOKAM Tegal

Pelayanan maksimal yang diberikan ASBIHU Tour and Travel membuahkan kepercayaan masyarakat. Pada bulan Desember ini, ASBIHU akan memberangkatkan sedikitnya 600 jamaah umrah. Hal ini tentu menjadi suatu kebanggaan, rasa syukur dan terima kasih dari manajemen ASBIHU atas kepercayaan masyarakat yang memercayakan perjananan ibadah umrahnya kepada ASBIHU. (Kendi Setiawan/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Quote, Kajian Sunnah, Berita KOKAM Tegal

Minggu, 21 Januari 2018

Banser Temanggung Turut Tangan di Lokasi Tanah Longsor

Temanggung, KOKAM Tegal - Di saat sebagian masyarakat beramai-ramai menyaksikan fenomena langka gerhana matahari, puluhan anggota Barisan Ansor Serba Guna (Banser) Temanggung berpartisipasi menangani bencana tanah longsor yang melanda beberapa tempat di Desa Tegalsari, Kecamatan Tretep, Kabupaten Temanggung. Mereka membantu evakuasi bencana tanah longsor yang mengakibatkan terhambatnya jalur utama yang menghubungkan Kecamatan Wonoboyo dan Kecamatan Tretep.

Nihilnya angkutan desa yang beroprasi pada Rabu itu bukan semata lantaran bertepatan dengan hari libur nasional atau adanya momentum terjadi gerhana matahari, tetapi lebih karena jalur tersebut belum bisa dilewati baik oleh kendaraan roda empat atau roda dua.

Banser Temanggung Turut Tangan di Lokasi Tanah Longsor (Sumber Gambar : Nu Online)
Banser Temanggung Turut Tangan di Lokasi Tanah Longsor (Sumber Gambar : Nu Online)

Banser Temanggung Turut Tangan di Lokasi Tanah Longsor

Hujan lebat mengguyur kawasan Kecamatan Wonoboyo dan Tretep pada Selasa (8/3) sore. Derasnya hujan disertai pula longsor tanah di tiga titik daerah Tretep yang menghalangi jalan raya.

Menurut Koordinator tim SAR Tretep Yanto, pihaknya merasa sangat terbantu dengan keterlibatan Banser Temanggung dan beberapa elemen lain yang turut menangani tanah longsor di kecamatan Tretep, khususnya yang sempat menimpa jalan raya.

KOKAM Tegal

KOKAM Tegal

"Kami mulai menangani longsor ini sejak pagi tadi, berhubung kemarin sore belum memungkinkan untuk turun ke lokasi. Berkat kerja sama dan gotong royong dengan masyarakat daerah dan Banser serta elemen relawan lain, setelah bahu-membahu mengangkat tanah, Alhamdulilah diperkirakan nanti sore jalur ini bisa kembali normal dan sudah bisa dilewati kendaraan," kata Yanto kepada KOKAM Tegal, Rabu (9/3).

Salah satu anggota Banser Temanggung yang sempat kami temui pada siang itu menyatakan bahwa aksi sosial turun lapangan semacam ini bukan kali ini saja. Setiap terjadi bencana seperti tanah longsor, Banser Temanggung sudah kerap ikut terjun menanganinya.

Berdasarkan pantauan KOKAM Tegal, akibat tanah lonsor yang menghambat jalan utama kecamatan Tretep ini banyak pedagang yang memilih pulang kembali ketimbang harus melalui jalur alternatif yang jaraknya beberapa kali lipat lebih jauh dari jalan raya yang biasa mereka lewati menuju tempat berdagangnya. Angkutan desa yang biasanya ramai, juga tak tampak pada Rabu itu. (M Haromain/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Pesantren, Kajian Sunnah KOKAM Tegal

Kamis, 11 Januari 2018

Fatayat NU harus Mampu Membawa Diri

Brebes, KOKAM Tegal. Keberadaan Fatayat NU harus mampu membawa diri, jangan sampai di bawa ke sesuatu yang bersifat sementara. Artinya, bersikap netral dalam sikap politik ataupun pengabdian pada masyarakat. Tidak di bawa-bawa ke mana yang disukai oleh pemimpinnya, sehingga akan menjadi organisasi yang bermartabat dengan pelayanan yang prima dan tidak memihak.

“Mengelola Fatayat itu, harus dengan sinar keikhlasan dengan mampu mambawa diri,” demikian pesan Ketua Pemimpin Wilayah (PW) bidang Pendidikan dan Pengkaderan Fatayat NU Jawa Tengah  Hj Muta’alimah saat membuka Konferensi Cabang (Konfercab) Fatayat NU Brebes di Hotel Dedy Jaya Brebes, Ahad (16/12).

Fatayat NU harus Mampu Membawa Diri (Sumber Gambar : Nu Online)
Fatayat NU harus Mampu Membawa Diri (Sumber Gambar : Nu Online)

Fatayat NU harus Mampu Membawa Diri

Tidak berarti, kata Muta’alimah, Fatayat menghindar dari berbagai partai politik tetapi justru harus mampu bekerja sama. Kader-kader Fatayat bertebaran diberbagai partai politik juga menempati posisi pekerjaan diberbagai sektor. Sehingga kerjasama antar lembaga harus terus dibangun sesuai dengan koridor dan tidak melenceng dari Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) organisasi. 

KOKAM Tegal

“Kerja sama itu bukan kenikmatan yang di bagi bersama-sama, tetapi membangun sinergi untuk menggolkan visi dan misi organisasi,” terangnya.

KOKAM Tegal

Selain itu, lanjutnya, untuk mengelola Fatayat harus dipegang oleh orang-orang yang memiliki kompetensi dalam berorganisasi. Sebab berorganisasi itu memerlukan sentuhan tangan-tangan trampil yang ikhlas dan rela berkorban. 

Yang lebih utama, Muta’alimah menambahkan, dalam kiprahnya Fatayat harus berpegang teguh membantu NU dalam pengembangan Islam ahlussunah wal jamaah. Dengan tetap menjaga keutuhan NKRI. 

“Kita harus waspada dengan aliran-aliran Islam di Indonesia yang melenceng dari ajaran ahlussunah wal jamaah dan berupaya memporakporandakan NKRI,” tandasnya.

Untuk itu, kuantitas keanggatoaan Fatayat diupayakan dengan peningkatan kualitas keanggotaanya pula. “Kami bersyukur, ternyata anggota Fatayat tidak ketinggalan dalam pengetahuan dalam berbagai disiplin ilmu,” pungkasnya.

Sejalan dengan itu, Ketua Pengurus Cabang (PC) NU Brebes H Athoillah meminta kepada Fatayat jangan seperti tukang parkir. Artinya, tidak merasa memiliki tetapi hanya merasa dititipi. Sebab kalau hanya merasa dititipi maka pengelolaannyapun tidak maksimal. 

“Merawat Fatayat itu harus dengan niatan, Fatayat itu hak milik sehingga di rawat dengan temen (sepenuh hati, red),” ajak Athoillah.

Termasuk, dengan merawat NU berarti menjalin kemitraan dengan pemerintah di daerahnya. “Tidak ada alasan, untuk tidak mendukung pemerintahan di daerah,” tegas Athoillah.  

Hanya saja, lanjut Atho, Fatayat harus mampu menjaga diri agar tidak terserang penyakit kurap (kurang disiplin), kudis (kurang disiplin) dan kutil (kurang terapkan ilmu). Semua penyakit itu, bersumber dari kuman (kurang iman). “Kalau sudah kurang iman, maka akan mudah tergoyahkan keteguhannya mempertahankan islam ahlussunah wal jamaah,” kata Athoillah mengingatkan.

Konferensi Cabang dibuka Bupati Brebes Hj Idza Priyanti. Dalam sambutannya mampu memberi kontribusi terhadap pemerintahan. Termasuk didalamnya menangani bidang pendidikan, kesehatan dan perekonomian kerakyatan. 

Ketua panitia penyelenggara Amaliyah menerangkan, kegiatan konfercab diikuti oleh 288 dari 16 Pimpinan Anak Cabang (PAC) dan Pimpinan Ranting (PR) se Kabupaten Brebes. “PAC Banjarharjo, tidak mengirimkan delegasinya tanpa alasan yang jelas,” kata Amaliyah. 

Redaktur     : Mukafi Niam

Kontributor: Wasdiun

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Kajian Sunnah, Kajian, Makam KOKAM Tegal

Tradisi Lesehan Pesantren Warnai Bukber Menpora dengan IKA PMII

Jakarta, KOKAM Tegal. Menteri Pemuda dan Olah Raga (Menpora) Imam Nahrawi, menggelar buka puasa bersama Pengurus Besar Ikatan Keluarga Alumni (IKA) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB IKA PMII) di rumah dinasnya, Jalan Widya Chandra Jakarta, Selasa (14/6) petang.?

Tradisi Lesehan Pesantren Warnai Bukber Menpora dengan IKA PMII (Sumber Gambar : Nu Online)
Tradisi Lesehan Pesantren Warnai Bukber Menpora dengan IKA PMII (Sumber Gambar : Nu Online)

Tradisi Lesehan Pesantren Warnai Bukber Menpora dengan IKA PMII

Beberapa jam setelah acara, melalui akun twitter-nya @imam_nahrawi, Menpora menulis, “Terima Kasih kpd semua sahabat alumni PMII yg telah hadir di acara buka bersama di rumah saya. #IKAPMII.”

Nurul Finza, salah satu alumni PMII yang hadir menuturkan Rabu (15/6) pagi, ada yang unik pada acara yang sebelumnya dirangkai dengan taushiah dan khataman Al-Quran ini. Yakni tata cara makan yang dihamparkan di atas lantai dengan beralaskan daun pisang.?

Sambil duduk lesehan, semua peserta yang hadir menikmati bersama-sama makanan yang tersaji yang berupa nasi liwet dengan lauk teri asin, jengkol, tempe orek, sambal dan lalapan. Tradisi ini memang menjadi ciri khas di banyak pesantren.?

KOKAM Tegal

Di PMII, Menpora antara lain menjabat sebagai Ketua PMII Rayon Tarbiyah UIN Sunan Ampel 1991-1992, Wakil Ketua PMII Komisariat UIN Sunan Ampel Surabaya 1992-1993, Ketua Umum PMII Cabang Surabaya 1995-1996, dan Ketua Umum PMII Koordinator Cabang Jawa Timur tahun 1997-1998.

Hadir juga dalam buka puasa bersama tersebut Menteri Tenaga Kerja (Menaker) Hanif Dakiri, yang juga alumni PMII. Acara buka puasa Menpora dengan IKA PMII menjadi ajang silaturahmi dalam suasana sederhana, namun penuh kekeluargaan. (Kendi Setiawan/Fathoni)?

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal

KOKAM Tegal PonPes, Aswaja, Kajian Sunnah KOKAM Tegal

Jumat, 05 Januari 2018

Bahtsul Masail Narkoba, NU Demak Hadirkan Direktur RSI NU

Demak, KOKAM Tegal

Bahaya narkoba menjadi masalah serius bangsa Indonesia serta membuat keprihatinan banyak kalangan, tak terkecuali Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Demak sehingga persoalan tersebut dibawa ke forum bahtsul masail tingkat cabang.

Sebelum memulai bahtsul masail para pengurus mendengarkan penjelasan ahli dari Rumah Sakit Islam Nahdlatul Ulama (RSI NU) Demak, H Abdul Azis. Direktur RSI NU Demak ini memaparkan masalah narkoba mulai dari asal muasal, jenis, dan efek dari segi kesehatan serta sosial akibat penyalahgunaannya.

Bahtsul Masail Narkoba, NU Demak Hadirkan Direktur RSI NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Bahtsul Masail Narkoba, NU Demak Hadirkan Direktur RSI NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Bahtsul Masail Narkoba, NU Demak Hadirkan Direktur RSI NU

Azis menyampaikan, dalam dunia kedokteran atau kesehatan pemakaian obat psikotropika diperbolehkan guna menyelamatkan pasien dengan batas tertentu semisal pada anestesi yang dipersiapkan untuk operasi pada pasien agar tidak merasakan sakit.

KOKAM Tegal

“Dalam kondisi tertentu, termasuk operasi, kami akan menggunakan obat tertentu yang sudah diatur oleh undang undang, itu pun masih menyesuaikan daya tahan tubuh pasien,” ujarnya, Ahad (31/7).

KOKAM Tegal

Bahtsul masail NU tingkat cabang Demak putaran ke-11 tersebut berlangsung di Masjid Jami Purwosari Kecamatan Sayung Kabupaten Demak. Turut hadir Rais Syuriyah PCNU Demak KH Alawy Masudi.

Forum diskusi keagamaan NU ini juga melibatkan selain pengurus PCNU juga pengurus Majelis Wakil Cabang NU (MWCNU) se-Kabupaten Demak serta pengurus ranting setempat. (A Shiddiq Sugiarto/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Pertandingan, Pendidikan, Kajian Sunnah KOKAM Tegal

Senin, 01 Januari 2018

Ansor NU Diminta Tetap Khidmat pada Ulama

Brebes, KOKAM Tegal. Gerakan Pemuda (GP) Ansor NU diminta untuk tetap khitmat pada titah ulama. Sebab kemuliaan Ansor akan tercermin ketika mematuhi segala titah ulama. Tidak ‘menjual’ diri kepada kekuasaan ataupun berpihak pada kepentingan-kepentingan sesaat.



Ansor NU Diminta Tetap Khidmat pada Ulama (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor NU Diminta Tetap Khidmat pada Ulama (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor NU Diminta Tetap Khidmat pada Ulama

“Nilai kejuangan Ansor akan terpuruk, manakala jauh dari ulama,” ujar Pengasuh Pondok Pesanteren Buntet Cirebon DR KH Mohammad Abbas bin Fuadz Hasyim saat menyampaikan tausiyah Halal bi Halal yang digelar Pengurus Anak Cabang (PAC) Ansor Brebes di Masjid Agung Brebes, Kamis Malam (16/9).

Dia menegaskan, Ansor harus ittiba (mengikuti, red) para ulama. Sebab kekuatan Ansor, terletak pada konsekwensinya menjadi pengikut ulama. Kalau pergerakan Ansor sudah dikotori oleh kepentingan-kepentingan sesaat dengan tidak mengindahkan titah para alim ulama maka Ansor akan hancur.

KOKAM Tegal

Tidak bisa dipungkiri kata Abbas, godaan kerap datang bertubi-tubi. Maka, harus dilibas dengan kekuatan iman. “Jangan sampai pergerakan ansor terkontaminasi gemerlapnya warna kehidupan duniawi yang semu,” pesannya.

KOKAM Tegal

Sejarah telah membuktikan, lanjutnya, Ansor dan NU mampu mematahkan pasukan sekutu AS di Surabaya waktu perang kemerdekaan. Dengan pekik Jihad Merdeka atau Mati, pasukan sekutu mundur tanpa ampun. Meskipun Pasukan Sekutu saat itu telah mampu meluluhlantakan Italia, Jerman, Jepang dan lain-lainnya.

Sedang di era sekarang, masih kata Abbas, lahan perjuangan dan pergerakan Ansor telah bergeser sesuai dengan perkembangan jaman. Nilai-nilai perjuangan Ansor sekarang adalah mengedepankan akhlakul karimah (akhlak mulia,red). Akhlakul karimah menjadi harga mati untuk terus dijunjung tinggi. Akhlakul karimah, harus didahulukan ketimbang syariah-syariah yang belum jelas dan masih diperdebatkan.

“Nabi Muhammad SAW sendiri, diutus ke muka bumi ini untuk menyempurnakan akhlak,” tandasnya.

Dan ulama, tambahnya, adalah pewaris para Nabi. Maka kiblat pencapaian akhlak yang mulia terdapat pada para ulama.

Pembicara lain dalam Pengajian umum dan halal bi halal Pengasuh Ponpes al Hikmah 1 Benda Sirampog Brebes KH Labib Sodiq.

Halal Bi halal yang mengusung tema merajut persaudaraan, menyemai kebersamaan pemuda ini berlangsung hingga pukul 00.30. Turut hadir para Pengurus Cabang dan Anak Cabang GP Ansor se- Kabupaten Brebes, Kepala Bagian Kesra Setda Brebes H Mabruri SH MH, Para anggota Ansor dan Ikatan Keluarga Santri Alumni Al Hikmah Itthobsy (IKSAABI) dan masyarakat umum. (was)Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Kajian Sunnah, Quote KOKAM Tegal

Senin, 25 Desember 2017

Shalawat NU Bergema di Bumi Atturmusi

Pacitan, KOKAM Tegal. Tahun 26 Lahire NU ...

Shalawat NU Bergema di Bumi Atturmusi (Sumber Gambar : Nu Online)
Shalawat NU Bergema di Bumi Atturmusi (Sumber Gambar : Nu Online)

Shalawat NU Bergema di Bumi Atturmusi

Ijo Ijo Benderane NU ...

Gambar Jagad Simbule NU ...

KOKAM Tegal

Bintang Songo Lambange NU ...

Syuriyah Ulamae NU ...

Tanfidziyah Pelaksana NU ...

GP Ansor Pemuda NU ...

KOKAM Tegal

Fatayat Pemudi NU ...

Demikian Lantunan Shalawat NU yang dibawakan oleh Habib Syech Bin Abdul Qodir Assegaf dari Kota Surakarta pada acara Keluarga Pondok Tremas Bersholawat, Selasa (26/3) malam di halaman Masjid Perguruan Islam Pondok Tremas Pacitan Jawa Timur.

Malam itu, komplek Perguruan Islam Pondok Tremas Pacitan atau yang dikenal dengan sebutan “Atturmusi” dibanjiri ribuan Muslimin dari seantaro Pacitan dan sekitarnya. ?

Ribuan Syecher mania, sebutan untuk simpatisan Habib Syech, memadati halaman masjid, serambi masjid, bahkan ribuan jamaah memenuhi jalan sepanjang komplek Perguruan Islam Pondok Tremas Pacitan.

Turut hadir dalam acara tersebut para alim ulama dan habaib, diantarnya KH Fuad, Habib Dimyathi, KH Luqman Harist Dimyathi, Gus Karim (Solo) KH Zaenal Abidin (Trengalek), KH Umar Tumbu dan Kapolres Pacitan. Mereka ikut larut dalam bacaan sholawat dan qasidah yang didendangkan oleh Habib Syech.

Habib Syech bersama Jamiyyah Ababul Musthofa Madiun menyuguhkan sedikitnya 15 Sholawat. Tak lupa, Sholawat NU dikumandangkan di pesantren yang didirkan oleh KH Abdul Manan Pada tahun 1830 M tersebut.

Sholawat NU yang isinya terdiri dari syi’iran tentang NU dan amaliahnya ini termasuk salah satu lagu yang sangat saat ini sering dibawakan oleh Habib Syech dalam setiap gelaran sholawatnya. Dengan tujuan, panji panji NU semakin menyebar di seantaro polosok negeri.?

?

Redaktur ? ? : Mukafi Niam

Kontributor: Zaenal Faizin





Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Kajian Sunnah, IMNU KOKAM Tegal

Minggu, 17 Desember 2017

Rais ‘Aam: LBM PBNU Jadi Dapur Penetapan Hukum

Jakarta, KOKAM Tegal - Rais ‘Aam Syuriyah PBNU KH Ma’ruf Amin ingin Lembaga Bahtsul Masail (LBM) menjadi dapur panduan dan penetapan hukum di lingkungan Nahdlatul Ulama. Sejak awal, ia menghendaki adanya kegiatan Bahtsul Masail agar PBNU memiliki stok hukum.

“Saya ingin menyampaikan penghargaan kepada pengurus LBM untuk adanya kegiatan ini. Saya memang menghendaki bahtsul masail menjadi dapur untuk panduan-panduan dan penetapan hukum baik yang menyangkut kerangka maudluiyyah, waqi’iyyah, maupun qanuniyyah’,” ujar Rais ‘Aam di hadapan peserta bahtsul masail bertema “Konsep Islam Nusantara” di lantai 5 gedung PBNU, Kamis (4/2) malam.

Rais ‘Aam: LBM PBNU Jadi Dapur Penetapan Hukum (Sumber Gambar : Nu Online)
Rais ‘Aam: LBM PBNU Jadi Dapur Penetapan Hukum (Sumber Gambar : Nu Online)

Rais ‘Aam: LBM PBNU Jadi Dapur Penetapan Hukum

Dahulu, lanjut Kiai Ma’ruf, di NU hanya waqi’i saja. Tapi dirasakan mulai dari Munas Lampung pada 1992 para kiai memformalkan pentingnya ada maudlhui. Sehingga ada masalah tematik yang harus dibahas. “Dan ini tidak hanya ketika ada munas atau muktamar saja, sehingga kita punya berbagai konsep yang kita jadikan keputusan di lingkungan NU,” tandasnya.

Menurut Kiai Ma’ruf, para kiai juga merasakan adanya persoalan perundang-undangan yang sangat kompleks. Ada yang sifatnya usulan RUU, ada review sekaligus mengamati proses RUU yang sedang disiapkan. “Oleh karena itu, NU harus terlibat agar semua UU itu minimal tidak bertentangan dengan hukum Islam,” tegas kiai yang juga Ketua Umum MUI ini.

KOKAM Tegal

KOKAM Tegal

Keterlibatan tersebut antara lain melalui sejumlah usulan dan rekomendasi dari komisi bahtsul masail atas RUU, dan review atas UU yang ada. Oleh karenanya, NU kemudian menetapkan pada Munas 2005 di Surabaya tentang bahtsul masail maudluiyyah.

“Jadi kita perlu tahu historical background lahirnya komisi maudluiyyah ini. Bahkan, di bahtsul masail kita tambah satu lagi yaitu iqtishadiyyah. Karena masalah ekonomi terus berkembang dan tidak bisa kita biarkan tanpa panduan yang hukum-hukumnya terus ditanyakan masyarakat,” papar Kiai Ma’ruf.

Dan yang paling dinamis itu justru masalah ekonomi ini. Terutama di pasar modal, ada ijarah berbasis proyek. “Kalau dulu berbasis bentuk bangunan, karena bangunan sudah habis maka kemudian yang dijaminkan itu proyek yang mau dibangun. Kita harus selalu merespons berbagai perkembangan yang terjadi ini,” tandasnya.

Apalagi sekarang ini Presiden Jokowi telah membentuk Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS) yang diketuainya sendiri.? “Jadi ini ada perkembangan yanbg luar hiasa yang nanti kita selalu siap merespons produk-produk yang akan lahir di Indonesia. itu yang harus disiapkan LBM,” tegas Rais ‘Aam.

Senada dengan Kiai Ma’ruf, Rais Syuriah PBNU KH Masdar Farid Mas’udi yang berbicara pada sesi sebelumnya menegaskan perlunya PBNU mencermati perundangan-undangan. Ia beralasan, UU merupakan norma yang mengikat masyarakat. “Ini sasaran Islamisasi syariat kita. Jangan biarkan norma-norma yang mengikat itu yang jelas sangat powerful karena didukung negara, sementara kita tidak pernah menjamahnya,” ujar Kiai Masdar. (Musthofa Asrori/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal News, Kajian Sunnah KOKAM Tegal

Jumat, 15 Desember 2017

Kesebelasan As-Sulamy Masuk Runner Up Group A pada LSN 2016

Yogyakarta, KOKAM Tegal - Perjuangan maksimal ditunjukkan oleh tim kesebelasan Pesantren Assulamy Lingsar Lombok Barat pada babak penyisihan group A Liga Santri Nusantara yang berlangsung selama tiga hari di Yogyakarta, Selasa (25/10) sore. Kapten Kesebelasan As-Sulamy M Dwiki Risnawan dan timnya harus puas pada posisi kedua setelah dikalahkan oleh kesebelasan Pesantren Salafiah United FC Jawa Barat 2 di Stadion Bantul.

Jawa Barat 2 yang sebelumnya melumpuhkan Kalimantan 3 dengan skor 5:1 tampak kewalahan untuk mengecoh pertahanan belakang NTB 1 yang terbukti babak pertama dengan kedudukan skor 0:0.

Kesebelasan As-Sulamy Masuk Runner Up Group A pada LSN 2016 (Sumber Gambar : Nu Online)
Kesebelasan As-Sulamy Masuk Runner Up Group A pada LSN 2016 (Sumber Gambar : Nu Online)

Kesebelasan As-Sulamy Masuk Runner Up Group A pada LSN 2016

Pelatih NTB 1 bongkar pasang pemain di babak kedua untuk menekan tim lawan yang tampak semakin kuat. Namun sayang dua gol berturut-turut diciptakan oleh Jawa Barat 2 atas kesebelasan NTB.

"Alhamdulillah, kami bersyukur. Sebetulnya tidak menyangka akan sampai masuk putaran 16 besar," kata M Dwiki usai bertanding.

KOKAM Tegal

KOKAM Tegal

Ini semua, lanjutnya, merupakan berkat kekompakan anggota tim dan juga berkat doa. "Yang penting sekarang fokus latihan. Dan yang tidak kalah penting selain latihan adalah doa," jelasnya.

Seperti diketahui, tim As-Sulamy sepanjang perjalanan mulai berangkat bahkan hingga saat bertanding selalu membaca shalawat Nariyah secara bersama-sama.

"Ini yang membuat kita tenang," kata Dwiki. (Hadi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Tegal, Kajian Sunnah, Daerah KOKAM Tegal

Kamis, 14 Desember 2017

Bupati Brebes Janji Perhatikan Penuh Pendidikan Islam

Brebes, KOKAM Tegal. Bupati Brebes Hj Idza Priyanti mengakui, pendidikan yang berbasis agama Islam akan memberikan pondasi yang kuat bagi kelangsungan hidup anak-anak menuju kehidupan yang lebih baik dan sukses.

“Tanpa pondasi agama, kehidupan manusia tidak terarah,” ujar Idza ketika memberikan sambutan pada halal bihalal keluarga besar Kementerian Agama, di Pendopo Brebes, sabtu (9/8) lalu.

Bupati Brebes Janji Perhatikan Penuh Pendidikan Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Bupati Brebes Janji Perhatikan Penuh Pendidikan Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Bupati Brebes Janji Perhatikan Penuh Pendidikan Islam

Untuk itu, Idza bertekad akan memperhatikan sepenuh hati keberadaan lembaga pendidikan agama maupun pengelolanya, seperti guru dan sarana prasarana pendidikan sesuai aturan yang berlaku. “Pemkab tidak menutup mata dengan sumbangsih guru agama maupun ulama dalam turut mencerdaskan anak-anak bangsa di Kabupaten Brebes,” terang Bupati.

KOKAM Tegal

Ketua Panitia Abdul Rosid menjelaskan, halal bihalal diikuti 283 orang yang terdiri dari kepala dan guru Raudlatul Athfal 81 orang, kepala dan Guru MI 116 orang dan guru Pendidikan Agama Islam sebanyak 86 orang. “Mereka menjadi sumber ilmu dalam pembelajaran agama di sekolah dan menjadi ulama di masyarakat,” terang Rosid.

KOKAM Tegal

Dalam kesempatan tersebut, Ustadz Sukaryono dari Tegal menyampaikan tausiyah dengan gaya yang kocak. Ustadz yang pandai memainkan mulutnya dengan bunyi nada berbagai alat musik itu menjadikan hadirin segar dan kerap terbahak.

Dia menjelaskan pentingnya menjaga silaturahmi diantara sesama karena bisa dilapangkan rejeki dan dipanjangkan umurnya.

Dalam kesempatan tersebut Kepala Seksi Pendidikan Madrasah Kantor Kementerian Agama Kabupaten Brebes H Moh Aqso menjelaskan tentang keterlambatan penyaluran dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) madrasah. Keadaan tersebut tidak hanya menjadi masalah bagi Kabupaten Brebes saja, tetapi di seluruh Indonesia. Justru Kabupaten Brebes beruntung karena bisa merealisasikan dana tersebut pada triwulan 1.

Menurutnya, tertundanya bantuan itu karena erat kaitannya dengan kebijakan di Kementerian Keuangan yang menerapkan regulasi baru soal BOS. "Ini karena ada kebijakan Kemenkeu terkait BOS yang dulunya menggunakan akun 57 atau akun bantuan sosial. Sementara sekarang akun BOS itu adalah akun 52 atau untuk belanja barang," kata Aqso.

Dua akun itu, lanjutnya, memiliki perbedaan mendasar yaitu terkait mekanisme penyaluran dana. Akun 57 merupakan akun bansos yang tidak membolehkan penyaluran dana akun secara rutin. "Esensi bansos juga untuk bantuan sewaktu-waktu bukan untuk hal yang rutin," kata dia.

BOS, kata Aqso, disalurkan secara rutin ke sekolah, termasuk madrasah yang ada di bawah naungan Kemenag.

Dia mengatakan BOS lewat akun 52 membuat penyalurannya membutuhkan proses yang relatif lama. "Prosesnya penyalurannya tidak sederhana, tidak hanya terkait pembukuan, pencatatan tapi juga sumber daya manusianya, karena yang menindaklanjuti BOS itu harus PNS. Tidak semua madrasah punya PNS cukup," kata dia.

Menteri Agama, kata Aqso, tengah mengusahakan dan optimis dana BOS tetap dapat dicairkan secepatnya. (Wasdiun/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Kajian Sunnah, Quote KOKAM Tegal

Kamis, 30 November 2017

Ketua MUI Lampung Kenang Kejenakaan KH Hasyim Muzadi

Pringsewu, KOKAM Tegal. Kamis Pagi (16/3) sekitar pukul 06.15 WIB Ulama kharismatik Nahdlatul Ulama (NU) KH Ahmad Hasyim Muzadi berpulang ke Rahmatullah. Kiai Hasyim Muzadi, Ketua PBNU periode 1999-2009 dipanggil Allah SWT setelah beberapa kali dirawat dirumah sakit pada usia 72 tahun.

Ketua MUI Lampung Kenang Kejenakaan KH Hasyim Muzadi (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketua MUI Lampung Kenang Kejenakaan KH Hasyim Muzadi (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketua MUI Lampung Kenang Kejenakaan KH Hasyim Muzadi

Pendiri International Conference of Islamic Scholars (ICIS) ini merupakan Ulama yang kiprahnya sudah mendunia. Keuletan dan komitmennya dalam menyebarkan Islam rahmatan lil alamin sudah diakui oleh dunia.

Kesan inilah yang dirasakan oleh Ketua MUI Provinsi Lampung KH Khairuddin Tahmid ? pernah mendampingi lawatan Kiai Hasyim ke luar negeri dalam rangka syiar Islam.

"Saya tidak hanya kenal, bahkan memiliki hubungan dekat. Saya pernah diberi kesempatan untuk mendampingi beliau ke Negeri China selama 8 hari pada 4-12 Juni 2007 untuk melakukan muhibbah, dan menyebarkan paham Islam rahmatan lil alamin pada komunitas muslim di negri tirai bambu itu," kata Kiai Khairuddin yang saat itu menjadi Ketua PWNU Provinsi Lampung periode 2002-2007.

KOKAM Tegal

Menurutnya, Kiyai Hasyim Muzadi adalah sosok yang populer dan populis. Ia adalah seorang agamawan dan sekaligus negarawan. "Wawasan beliau sangat luas, tidak hanya dalam bidang agama, tetapi juga sangat mendalam pengatahuannya tentang politik, hukum, budaya dan sejarah," tegasnya, Kamis siang (16/3).

Selain sebagai seorang ulama kharismatik tambahnya, Kiyai Hasyim juga merupakan seorang kiai yang sangat jenaka. "Saya ingat betul kumpulan kejenakaan beliau dirangkum dalam sebuah buku," jelas Kiai Khairuddin yang juga memiliki selera humor yang tinggi ini.

KOKAM Tegal

Pemikiran Kiai Hasyim menurutnya sangat orisinil dan visioner jauh kedepan. "Sering beliau mengatakan, orang zaman dulu itu, kalau ngomong sesuatu yang berat, yang rumit, bisa dibicarakan dengan cara yang mudah. Sementara orang zaman sekarang, ngomong hal mudah, tapi dibicarakan dengan cara yang sulit dan ruwet. Menurut mereka semakin rumit ngomongnya semakin ilmiah," kata Kiai Khairuddin diiringi senyum khasnya.

Kiai Khairuddin berharap ummat Islam khususnya warga NU mampu meneladani kiprah dan kepribadiannya. "Kami warga NU bangga punya tokoh panutan seperti beliau. Kami sangat terkesan dengan kesantunan dan kearifan beliau. Kami butuh tokoh seperti beliau. Selamat jalan Pak Kiai Hasyim, semoga Allah SWT memberi tempat yang mulia, amin," pungkasnya. (Muhammad Faizin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Kajian Sunnah KOKAM Tegal

Minggu, 12 November 2017

Produktif Menulis, Lahirkan 4 "Buku Berat"

Di dunia tulis-menulis, nama Muhammad Al-Fayyadl (27 tahun) sudah cukup dikenal. Sejumlah buku terlahir dari pria yang kini menempuh pendidikan di Universite Paris 8 pada jurusan Filsafat dan Kritik Kontemporer Kebudayaan itu.

Dilahirkan di lingkungan pondok pesantren, 27 tahun silam, gaya hidup seorang santri memang sangat melekat dengan sosok Muhammad Al-Fayyadl. Setidaknya, itu terlihat ketika Kontributor KOKAM Tegal Probolinggo menemuinya pada Ahad (4/8) di rumahnya.

Pria yang baru pulang dari Prancis, pada Ahad (28/7) dini hari itu, mengenakan sarung dan berkopiah, layaknya santri lainnya. Menekuni filsafat barat dan belajar di negeri Napoleon ternyata tidak membuat gaya hidup Al Fayyadl jadi kebarat-baratan. Identitas santri tetap melekat pada pria kelahiran Oktober 1985 itu.

Produktif Menulis, Lahirkan 4 Buku Berat (Sumber Gambar : Nu Online)
Produktif Menulis, Lahirkan 4 Buku Berat (Sumber Gambar : Nu Online)

Produktif Menulis, Lahirkan 4 "Buku Berat"

Ya, masa kecilnya memang banyak dihabiskan di lingkungan pesantren. Mulai Pesantren Nurul Jadid, di Kecamatan Paiton, Pesantren Nurul Qur’an di Kecamatan Kraksaan  sampai Pesantren Annuqayah, di Kabupaten Sumenep, Madura.

Fayyadl dilahirkan di lingkungan Pesantren Nurul Jadid Kecamatan Paiton Kabupaten Probolinggo. Pendidikan dasar ia kenyam di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Nurul Mun’im, Desa Karanganyar, Kecamatan Paiton. Selama di Paiton, ia rutin mengikuti pengajian bersama santri lain pada kakeknya, alm KH. Hasan Abdul Wafi, dan pengasuh Pesantren Nurul Jadid saat itu alm KH. Abdul Wahid Zaini. “Kalau Ramadhan, saya pasti ikut pengajian,” katanya.

Selain menimba ilmu di Pesantren Nurul Jadid, Fayyadl juga pernah nyantri di Pesantren Nurul Qur’an, di Kecamatan Kraksaan namun tak sampai setahun. Di pesantren tersebut, penulis buku Derrida ini, sempat menghafal beberapa surat dalam Al Qur’an.

KOKAM Tegal

Lulus MI, ia mondok di Pesantren Annuqayah, di Kabupaten Sumenep. Di pesantren tersebut dia menempuh pendidikan Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA). Di sini, dia mulai menaruh minat pada bidang Tasawuf dan sastra Indonesia melalui buku-buku yang dibacanya dari perpustakaan.

Saat masih duduk di bangku kelas 2 MTs, dia sudah mulai membaca buku Ibnu Sina dan nama-nama lain dalam dunia tasawuf. Ia juga mulai membaca karya-karya Imam Ghazali yang selain sufi, juga seorang filsuf.

Di bidang sastra, Fayyadl mulai membaca buku-buku Pramoedya Ananta Toer. Antara lain “Bumi Manusia” dan “Anak Semua Bangsa” (dua buku pertama dari empat buku tetralogi Paramoedya, Red). “Buku Jejak Langkah dan Rumah Kaca, waktu itu saya belum dapat,” kata putra sulung dari H. Malthuf Siraj dan Hj. Hamidah Wafie tersebut.

Buku-buku tersebut, dia dapat dengan cara meminjam pada Makmun, seorang familinya di pesantren. Dari perpustakaan Makmun, Fayyadl juga banyak membaca buku-buku sosial dan filsafat. Hingga akhir Tsanawiyah, dia mulai aktif menulis di buletin pesantren. “Saya suka menulis dengan bentuk esai karena lebih bebas berekspresi,” katanya.

KOKAM Tegal

Memasuki tahun 2000, bersama seorang temannya Faisol, Fayyadl menerbitkan buku kumpulan puisi berjudul “Pertemuan Sufi”. Yang spesial baginya, penyair kenamaan dan pemilik Diva Pers Edi AH. Iyubenu bersedia menulis epilog dalam buku perdananya tersebut.

“Buku itu dibedah di pondok. Dan itu pengalaman pertama saya berbicara di depan orang banyak,” kenang penulis buku Teologi Negatif Ibn Arabi, terbitan LKiS tersebut.

Fayyadl mulai memberanikan diri menulis di media massa, setelah bertemu dan banyak berdiskusi dengan Abdul A’la (kini Rektor IAIN Sunan Ampel Surabaya, Red) yang juga pamannya. “Dia (Abdul A’la, Red) banyak menulis di jurnal Taswirul Afkar, Jawa Pos, Kompas, serta media lain,” kata Fayyadl.

Itulah yang melecutkan semangatnya untuk melakukan hal serupa. Hingga akhirnya, tulisannya dimuat di majalah Aula (terbitan PW NU Jawa Timur). Fayyadl ingat betul topik yang ia bahas di tulisan perdananya di media massa tersebut: fiqh.

Saat kelas 3 MA, Radar Madura (Jawa Pos Group) menyediakan halaman opini. Beberapa tulisan Fayyadl, termuat di koran tersebut. Tanpa ia sadari, kebiasaannya menulis di koran lokal tersebut telah memudahkannya menulis di Koran Jawa Pos. Dan, itu terjadi saat ia mulai kuliah di Insitut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Kalijaga, Jogjakarta pada Fakultas Ushuluddin, jurusan Aqidah Filsafat.

Lulus dari Jogjakarta, Fayyadl lantas melanjutkan studi di Universite Paris 8 pada jurusan Filsafat dan Kritik Kontemporer Kebudayaan pada 2012 lalu. Hingga kini, terhitung telah ada empat buku yang lahir dari tangannya.

Selain kumpulan puisi Pertemuan Sufi, ia juga menerbitkan buku Tawashin: Kitab Kematian (diterbitkan saat kuliah di semester II) yang merupakan terjemahan dari tulisan Al-Hallaj, seorang tokoh sufi yang tewas dibunuh. Kemudian ada buku filsafat berjudul Derrida (2005) dan yang terakhir Teologi Negatif Ibn Arabi: Kritik Metafisika Ketuhanan (2012).

Selain buku pertama, buku karya Fayyadl diterbitkan di Jogjakarta. Buku yang disebutkan terakhir, adalah pengembangan dari skripsinya di IAIN Sunan Kalijaga. Dan kini, sebuah buku baru tengah disiapkannya.

Saat mendapat galar sarjana strata 1 dari IAIN Sunan Kalijaga, ada empat alternatif karir pemikiran (begitu dia memberi istilah) yang akan dijalaninya. Yakni, menekuni filsafat barat, studi keislaman, ilmu-ilmu social, dan sastra.

Namun, pria yang pernah menjadi editor pada penerbitan LKiS Jogjakarta tersebut, memilih filsafat. “Saya rasa, pengetahuan saya di sini masih kurang,” kata penulis yang sempat berencana menempuh studi di Maroko dan Mesir saat lulus Aliyah tersebut.

Ia berobsesi memberikan kontribusi pada wacana filsafat di Indonesia yang menurutnya belum begitu mengakar. Padahal, hal itu sangat penting. Tanpa itu, katanya, tak mungkin founding fathres Indonesia Soekarno merangkai republik ini pada 1945 silam. Baginya, presiden pertama tersebut, terpengaruh pada wacana kebebasan yang berkembang dalam revolusi Prancis saat memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.  (Syamsul Akbar: Red/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Warta, Kajian Sunnah, Nahdlatul KOKAM Tegal

Kamis, 02 November 2017

Acara NU Jombang, dari Tahlilan hingga Pengobatan Gratis

Jombang, KOKAM Tegal. Dalam rangka memperingati hari lahir (Harlah) Nahdlatul Ulama yang ke-91, Pengurus Cabang  NU (PCNU) Jombang, Jawa Timur, akan menggelar serangkaian kegiatan sebagai rasa syukur di usia menjelang satu abad tersebut.

Acara NU Jombang, dari Tahlilan hingga Pengobatan Gratis (Sumber Gambar : Nu Online)
Acara NU Jombang, dari Tahlilan hingga Pengobatan Gratis (Sumber Gambar : Nu Online)

Acara NU Jombang, dari Tahlilan hingga Pengobatan Gratis

KH Fadhulloh Malik selaku ketua panitia menjelaskan, tasyakuran NU harlah ke-91 ini akan dimulai dengan tahlil akbar dan hadrah ishari se-Kabupaten Jombang, Kamis (15/5) malam nanti, di Masjid Agung “Baitul Mukminin” Jombang.

Hari berikutnya, tutur salah satu pengasuh Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas ini, acara bakti sosial berupa berupa  pengobatan gratis dan donor darah turut memeriahkan rangkaian harlah, Jumat, pukul 07.00 WIB, di Rumah Sakit Nadlatul Ulama (RSNU) Jombang.

KOKAM Tegal

Acara ketiga adalah Apel Kesetiaan NU oleh anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser) dan sejumlah badan otonom NU lainnya, seperti Fatayat NU, IPNU-IPPNU, serta PSNU Pagar Nusa. “Ini kita laksanakan pada tanggal  17 Mei 2014, pukul 12.30 WIB di Alun-alun Jombang,” tambahnya.

KOKAM Tegal

Menurut Fadhulloh Malik, “Resepsi Harlah NU ke-91” pada Sabtu (17/5) malam menjadi puncak acara. Kesempatan ini akan diisi dengan Maulid Diba Akbar dan Pengajian Rojabiyyah bersama Jamiyah Sholawat 1000 Rebana Jombang. Ketua Umum PBNU  KH Said Aqil Siroj  dijadwalkan memberi ceramah dalam puncak acara tersebut. (Anwar Muhamad/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Kajian Sunnah KOKAM Tegal

Sabtu, 28 Oktober 2017

Studi Hubungan Mayoritas dan Minoritas Agama di Lima Negara (Bagian II-Habis)

Pada tahun 2016 lalu Kementerian Agama melakukan penelitian tentang penanganan minoritas di lima negara yaitu India, Iran, Malaysia, Filipina, dan Thailand. Dipilihnya lima negara tersebut sebagai area kajian adalah karena kelima negara tersebut memiliki keunikan dan kekhasan masing-masing baik dalam hal sistem ataupun kondisi sosial antara mayoritas dan minoritas agama. 

Konsep Kehidupan Kegamaan

1. Definisi Agama

Studi Hubungan Mayoritas dan Minoritas Agama di Lima Negara (Bagian II-Habis) (Sumber Gambar : Nu Online)
Studi Hubungan Mayoritas dan Minoritas Agama di Lima Negara (Bagian II-Habis) (Sumber Gambar : Nu Online)

Studi Hubungan Mayoritas dan Minoritas Agama di Lima Negara (Bagian II-Habis)

Setiap negara memiliki definisi yang berbeda soal agama sesuai dengan pemeluknya masing-masing. Muslim India mendefinisikan agama sebagai struktur Tuhan dan wahyu, penyampai pesan/rasul, kitab suci. Sedangkan dalam perspektif Hinduisme, Hindu sebagai agama dan sebagai kultur dominan di India. Adapun di Thailand. Di sana, pemerintah memberikan keleluasaan kepada para pemeluk agama untuk mendefinisikan agamanya masing-masing asal tidak menentang dan membuat ontran-ontran di Thailand.

2. Pendirian Rumah Ibadah

Di India, pendirian rumah ibadah tidak diatur secara kaku dalam skala nasional mengingat India adalah negara federal yang memiliki kebijakan yang beragam antar satu negara bagian dengan yang lainnya. 

KOKAM Tegal

Di Thailand adalah salah satu negara yang cukup ‘unik’ dalam pendirian rumah ibadah. Penduduk Thailand beragama Buddha, namun ia tidak mengenal pembatasan pendirian rumah ibadah berdasarkan proporsi tertentu. Yakni mendirkan rumah ibadah di atas tanah yang bersertifikat warga Thailand. Meski demikian, ada beberapa wihara dan masjid yang dibangun di atas tanah kerajaan.

Sedangkan di Malaysia, pendirian rumah ibadah bisa dibilang cukup ketat dan cukup diskriminatif terhadap umat non-muslim. Ini diatur oleh pemerintah lokal. Misalnya rumah ibadah agama tertentu harus berjarak minimal 500 meter dari rumah ibadah agama lainnya, rumah ibadah non-muslim tidak boleh tinggi dari masjid dan dilarang menampakkan simbol-simbol agama. Hal ini tentu menimbulkan kecemburuan sosial bagi non-muslim. Meski demikian, Pemerintah Malaysia memberikan dana bantuan kepada umat muslim dan juga non-muslim.

Di Iran, Masjid Sunni dan Syi’ah diperlakukan ‘berbeda.’ Operasional Masjid Sunni mulai dari air, listrik, dan bisyaroh imam ditanggung oleh pemerintah. Sedangkan, Masjid Syi’ah imamnya tidak digaji oleh pemerintah karena mereka sudah mendapatkan gaji dari khumus. Meski mayoritas penduduknya Syi’ah, namun kelompok Sunni tidak mengalami kesulitan ketika hendak membangun masjid baru. Saat ini ada empat belas ribu masjid Sunni di seluruh wilayah Iran.

3. Penyiaran Agama dan Perayaan Hari Besar

KOKAM Tegal

India dikenal sebagai negera sekuler. Oleh karena itu, kehidupan keagamaan termasuk penyiaraan agama tidak diatur oleh Pemerintah India. Namun, setiap negara memiliki kebijakan masing-masing soal penyiaran agama ini.

Thailand membebaskan penduduknya soal agama. Pemerintah tidak membatasi penyiaran agama dan hubungan antar satu agama dengan yang lainnya. Sedangkan Malaysia melarang umat agama non-Islam melakukan dakwah kepada kaum muslim. Akan tetapi, negara menjamin kebebasan merayakan hari besar keagamaan semua agama, bahkan negara menetapkan hari libur nasional terhadap perayaan hari besar agama agama.

Sama seperti Thailand, Iran juga membebaskan penduduknya untuk menyiarkan agamanya masing-masing. Tidak ada ketakutan adanya Kristenisasi, Yahudinisasi, atau Zoroasterisasi. Pun perayaan hari besar keagamaan tidak dibatasi negara karena berdasarkan agama. Semuanya dibebaskan untuk merayakan hari besar agamanya masing-masing dan bersatu dalam perayaan Nauruz, tahun baru kalender Persia.

4. Registrasi Agama dan Identitas

Tidak ada kolom agama dalam kartu identitas penduduk di India karena pemerintah tidak mengatur akan hal itu. Namun, masing-masing pemeluk agama mengekspresikan identitas agamanya di ruang publik tanpa ada gangguan dari yang lain. Di salah satu negara bagian, ada UU Anti Konversi yang melarang penduduknya untuk pindah agama.

Buddha, Islam, Protestan, Katholik, Hindu, dan Sikh adalah enam agama yang diakui Pemerintah Thailand. Setiap pemeluk agama wajib daftar pada rumah ibadat masing-masing agama.

Sedangkan di Filipina, registrasi agama diperlukan di beberapa sektor kehidupan seperti saat masuk sekolah. Filipina tidak mengenal pencantuman identitas agama pada KTP, SIM, dan Paspor. Begitu pun dengan Iran, ia tidak mengenal identitas pada kartu pengenal.

5. Perkawinan Beda Agama

Meski ada sebagian umat muslim yang ‘mengharamkan’ nikah agama, namun tidak reaksi yang signifikan terhadap praktik nikah agama di lima negara tersebut. Hanya di Iran pernikahan beda agama bisa dibatalkan oleh pengadilan.

6. Majelis Agama

Kelima negara ini memiliki lembaga agama di tingkat nasional. Di Thailand, setiap agama memiliki majelis agama yang otonom tanpa campur tangan pemerintah. Di Malaysia, majelis agama Islam ada Jawatan Kemajuan Islam Malaysia (JAKIM) dan di setiap negara negara bagian ada majelis agamanya masing-masing. Jawatan ini dan majelis agama Islam dalam institusi negara dan mendapat rekognisi dari negara untuk menjalankan syariat Islam dan mewadahi kegiatan-kegiatan keislaman di malaysia.  Lagi-lagi hal itu tidak terjadi kepada umat non-Islam. Mereka tidak mendapatkan rekognisi dari pemerintah.

Tidak ada majelis agama di Iran karena satu-satunya majelis Al Wilayatul Fakih telah menyatu dengan negara.

7. Pendidikan Agama

Bagi Pemerintah India, pendidikan agama adalah wilayah privat atau tanggungjawab kelompok agama itu sendiri. Namun, di sana ada lembaga pendidikan berbasis agama yang dibiayai oleh pemerintah seperti Aligarh Muslim University yang merupakan kelembagaan negara. Lainnya, lembaga pendidikan berbasiskan agama juga berdiri yang dibiayai oleh swasta atau yayasan berbasiskan agama masing masing.

8. Bantan Luar Negeri

Negara-negara tersebut tidak secara tegas membatasi bantuan yang datang dari luar negeri. Akan tetapi, karena maraknya isu terorisme, perdagangan senjata, dan narkotika maka kontrol ketat terhadap pergerakan keuangan dan lintas manusia antarnegara cukup diperketat.

Dari sedikit uraian di atas, bisa disimpulkan bahwa penanganan minoritas di lima negara tersebut bisa dibilang cukup baik meski dengan beberapa catatan. India melakukan politik afirmasi terhadap minoritas agama dan suku untuk memperkuat konsolidasi nasional. Maka dari itu, misalnya, dibangun lah institusi minoritas terutama dalam sektor pendidikan.

Thailand cukup dipusingkan dengan wilayah selatannya yang ingin memisahkan diri meski mereka sudah diberi kelonggaran-kelonggaran, hak-hak minoritas dijamin dan tidak dibatasi. Berbeda dengan India yang melakukan afirmasi terhadap minoritas, Malaysia melakukan politik afirmasi kepada mayoritas penduduk yaitu mayoritas muslim. Meski demikian, kebebasan agama selain Islam terjamin dan terlindungi.

Sama seperti Thailand, Filipina juga mengalami kendala politik yakni Moro dan Mindanau yang ingin memisahkan diri. Iran juga baik dalam menangani minoritas. Opini negatif terhadap Iran lebih banyak dibangun oleh mereka yang bermusuhan dengan Iran, mulai dari isu diskriminasi terhadap Sunni dan penindasan terhadap penganut Zoroaster dan Baha’i.

Masalah keagamaan masing-masing negara memiliki karakteristik yang berbeda. Masing-masing memiliki kendala dan solusinya sendiri. Tetapi ada satu hal yang sama, urusan agama ternyata tetap berhubungan dengan urusan negara. (A Muchlishon Rochmat)



Baca Kajian Keagamaan lainnya DI SINI

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Kajian Sunnah, Pertandingan, Ubudiyah KOKAM Tegal

Selasa, 10 Oktober 2017

Pemerintah Umumkan 1 Syawal pada Ahad, 25 Juni

Jakarta, KOKAM Tegal. Sidang isbat di Kementerian Agama yang diikuti oleh pemerintah dan sejumlah ormas Islam memutuskan bahwa 1 Syawal 1438 Hijriyah jatuh pada Ahad, 25 Juni 2017. Dengan demikian, Lebaran Idul Fitri jatuh pada esok hari.

Menteri Agama Lukman Hakim Syaifuddin menjelaskan peserta sidang menerima laporan dari enam saksi tersumpah yang melihat hilal yang berasal dari dua lokasi, yaitu di Kupang Nusa Tenggara Timur dan di Bukit Condrodipo Gresik Jawa Timur.

Pemerintah Umumkan 1 Syawal pada Ahad, 25 Juni (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemerintah Umumkan 1 Syawal pada Ahad, 25 Juni (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemerintah Umumkan 1 Syawal pada Ahad, 25 Juni

Lukman Hakim menjelaskan, pada Sabtu sore ini, posisi bulan sudah memenuhi kriteria untuk bisa dilihat atau imkanur rukyat. Ketinggian bulan pada 24 Juni ini adalah 3.88 derajat, elongasi atau jarak antara bulan dengan matahari sebesar 5.06 derajat dan umur bulan 8 jam 15 menit.

Kriteria tersebut telah memenuhi standar yang ditetapkan oleh negara-negara ASEAN, yaitu minimal ketinggian hilal 2 derajat, elongasi 3 derajat dan umur bulan 8 jam.?

Hadir dalam sidang isbat Rais Aam PBNU KH Ma’ruf Amin dan Ali Taher, ketua komisi VIII DPR RI.?

KOKAM Tegal

Di Gedung PBNU KH Said Aqii Siroj mengeluarkan ikhbar atau pemberitahuan hasil rukyatul hilal yang dilakukan oleh Lembaga Falakiyah NU dan mengumumkan bahwa Idul Fitri jatuh pada Ahad 25 Juni 2017 setelah tim Falakiyah NU melihat hilal dengan mata telanjang di beberapa tempat.

“Atas dasar rukyatul hilal tersebut dan sesuai dengan pendapat al madzahibul arbaah, maka dengan ini, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama mengikhbarkan pemberitahuan bahwa awal bulan Syawwal 1438 H jatuh pada hari Ahad 25 Juni 2017 masehi.”

KOKAM Tegal

“Kepada warga NU dan umat Islam pada umumnya, kami sampaikan selamat merayakan Idul Fitri 1 Syawwal 1438 Hijriyah dengan penuh sukacita mohon maaf lahir dan batin,” tambahnya

Kiai Said juga menambahkan, semoga ibadah puasa kita dan rangkaian ibadah lainnya selama bulan Ramadhan diterima Allah SWT dan semoga pula amaliyah bulan Ramadhan bisa berlanjut pada bulan-bulan berikutnya.”. (Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Santri, Kajian Sunnah, Aswaja KOKAM Tegal

Kamis, 07 September 2017

Nalar Civil Religion Mbah Achmad Shiddiq

(Refleksi Menyambut Haul Ke-26 KH Achmad Shiddiq)

Oleh Hayi Abdus Sukur

Nalar Civil Religion Mbah Achmad Shiddiq (Sumber Gambar : Nu Online)
Nalar Civil Religion Mbah Achmad Shiddiq (Sumber Gambar : Nu Online)

Nalar Civil Religion Mbah Achmad Shiddiq

Membaca dialektika antara agama dan negara dewasa ini tampaknya akan semakin mengkhawatirkan. Ukhuwah Islamiyah (persaudaraan sesama muslim) sebagai bagian dari komponen ukhuwah wathaniyah (persaudaraan sebangsa) tercederai oleh prilaku intoleransi.

Sejak tahun 2014 hingga 2016 kasus intoleransi atas nama agama mengalami tren peningkatan. Komnas HAM mencatat ada 74 kasus intoleransi di tahun 2014. Meningkat menjadi 87 kasus di tahun 2015. Bahkan hampir 100 kasus yang mengkhawatirkan kebhinnekaan di Indonesia ini pada tahun 2016. Varian kasus intoleransi meliputi pelarangan aktivitas keagamaan, pengrusakan rumah ibadah, diskriminasi atas dasar keyakinan agama, intimidasi, dan pemaksaan keyakinan.

KOKAM Tegal

Di sisi lain benih kekerasan yang secara intrinsik ada dalam agama, tidak serta merta timbul dengan sendirinya. Kadang, entitas di luar agama, seperti kondisi sosial politik dan riil ekonomi merupakan faktor utama timbulnya beberapa tindak kekerasan bernuansa agama yang memenuhi pemberitaan di berbagai media di seantero negeri ini.

KOKAM Tegal

Masalah ketidaksetaraan dan kesenjangan sosial misalnya, pada ambang batas tertentu sangat menyentuh rasa keadilan masyarakat secara luas. Data kemiskinan memang mengalami tren penurunan, akan tetapi tidak seimbang dengan peningkatan laju kekayaan yang membutuhkan formula baru dalam penyelesaiannya.

Semakin menumpuknya hutang luar negeri yang diwarnai dengan isu persekongkolan, ditambah lagi dengan penyebaran informasi yang menyudutkan pemerintah baik berdasar pembuktian ataupun tidak, telah ikut serta menimbulkan keresahan secara massif.

Globalisasi ekonomi baik secara teoritis maupun terapannya, lebih menguntungkan kelompok tertentu yang lebih maju dari sisi ilmu pengetahuan dan penguasaan sumber-sumber ekonomi melalui perusahan multinasional semakin menimbulkan rasa frustasi di berbagai level? anggota masyarakat. Lambannya penegakan hukum, semakin meningkatnya tindakan korupsi, kolusi dan nepotisme menjadikan masyarakat semakin tidak berdaya dalam berbagai dimensinya.

Ketidakadilan struktural ini merupakan tanggung jawab pemerintah baik pusat hingga daerah yang terejawantahkan dalam wujud pelayanan sosial. Kebijakan pro-rakyat seperti pelayanan kesehatan, sandang, pangan, pendidikan, penerangan, akses ekonomi dan supremasi hukum merupakan wujud hadirnya negara atas kebutuhan sosial dasar rakyatnya.

Perubahan rezim setiap periode kepemimpinan melalui pemilu tidak akan menimbulkan persoalan yang signifikan jika layanan sosial terhadap masyarakat tetap berjalan dengan prima. Kebutuhan masyarakat yang terlayani dengan baik menjadi penopang stabilitas pemerintahan. Sebaliknya lemahnya kinerja pelayanan sosial akan menambah akumulasi rasa ketidakadilan dan ketidakpuasan masyarakat terhadap kinerja pemerintah.

Perkawinan antara faktor eksternal dan pemahaman sempit terhadap teks-teks keagamaan serta ditopang oleh rasa ketidakadilan global hingga lokal tersebut merupakan cikal-bakal terciptanya situasi yang semakin rumit dan kompleks. Rasa ketidakadilan dan pemahaman yang rapuh akan keberadaan orang lain maupun kelompok, baik suku, ras, agama maupun budaya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara akan mendatangkan marabahaya yang sangat mengerikan di belakang hari.

Pendekatan hukum apalagi pendekatan militer dalam penyelesaian kasus kekerasan bahkan teror atasnama agama belum mampu menyentuh akar permasalahan. Bahkan tak jarang semakin meningkatkan militansi serta rasa dendam warisan. Bahkan pada momentum tertentu, mereka akan kembali muncul dengan wajah yang lebih agresif.?

Dalam konteks ini, peran tokoh agama dan ormas keagamaan, menemukan siginifikansinya dalam membantu menyelesaikan masalah radikalisme serta sebagai penyanggah moderasi Islam di Indonesia. Al-Maghfurlah KH Achmad Shiddiq (Mbah Achmad) salah tokoh agama, tokoh masyarakat yang dalam kontsalasi sejarahnya menjadi salah satu tokoh? tauladan penyanggah moderasi Islam di Indonesia. Dengan kemampuan keagamaannya yang mendalam dan keluwasan pergaulannya, Mbah Achmad mampu mengejawantahkan nilai substansi agama menjadi etika sosial dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Mengikuti jejak pemikiran the founding fathers bangsa sekaligus tokoh pendiri NU, Mbah Achmad meyakini asas ikhlas dan taqwa dalam amal ibadah dan amal perjuangan. Sehingga tidak perlu asas dicantumkan dalam Anggaran Dasar, melainkan cukup dihayati dan diamalkan. Menempatkan Islam sebagai ideologi, berarti menempatkan agama setara dengan liberalisme, marxisme serta isme-isme yang lain.? Padahal ideologi adalah ciptaan manusia. Umat Islam boleh berideologi apa pun yang penting tidak bertentangan dengan substansi Islam.

Umat Islam tidak lagi berwawasan golongan, akan tetapi lebih berwawasan nasional. Umat Islam adalah mereka yang bersahabat, percaya, dan menyaksikan bahwa tidak ada Tuhan yang disembah kecuali Tuhan Yang Maha Esa. Negara Republik Indonesia lahir dan tegak berdiri sebagai hasil perjuangan seluruh golongan rakyat Indonesia. Para tokoh pejuang Islam Indonesia banyak terilhami oleh Mitsaq al-Madinah atau “Piagam Madinah” dalam merumuskan NKRI berdasarkan Pancasila. Bahkan dikatakan Pancasila adalah sejiwa dengan Piagam Madinah.

Mbah Achmad menegaskan bahwa menjaga kedaulatan NKRI dan stabilitas nasional bagi umat Islam bukan hanya kewajiban sebagai warga negara, tetapi sekaligus kewajiban agama yang asasi. Perubahan kepemimpinan sebagai bagian dari amanah rakyat, mempunyai tanggung jawab yang sama? yaitu memantapkan stabilitas nasional. Stabilitas nasional adalah kunci kesuksesan pembangunan.

Nalar civil religion yang menginginkan sebuah dialog dengan entitas lain melalui nilai-nilai substansial ketimbang formalitasnya adalah khas Indonesia yang tak terjebak pada teokrasi maupun sekulerisasi. Sehingga nilai substansi Islam dapat terejawantahkan secara dinamis sebagai bukti rahmatan lil ‘alamin.

Penulis adalah Pengurus Lakpesdam NU Bondowoso



Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Kajian Sunnah, Meme Islam KOKAM Tegal

Rabu, 06 September 2017

NU harus Mampu Penuhi Kebutuhan Warganya

Jakarta, KOKAM Tegal. Rais Aam PBNU KH Sahal Mahfudz mengungkapkan bahwa NU harus menggunakan pendekatan berdasarkan kebutuhan. Kalau tidak suatu saat pasti akan hilang karena ditinggal warganya.

“Kalau sekarang masih kuat ke-NU-annya, banyak orang kalau tak NU tidak mau. Ini karena kokohnya jamaah yang dipengaruhi kultur dan tzakofah.,” tuturnya dalam Halaqoh Penyusunan Rancangan Program Pemberdayaan Syuriah Nahdlatul Ulama di Jakarta, Kamis.

NU harus Mampu Penuhi Kebutuhan Warganya (Sumber Gambar : Nu Online)
NU harus Mampu Penuhi Kebutuhan Warganya (Sumber Gambar : Nu Online)

NU harus Mampu Penuhi Kebutuhan Warganya

Namun demikian, NU harus merubah paradigmanya karena jika suatu saat tidak bisa memenuhi kebutuhan, akan ditinggalkan masyarakat karena mereka akan beralih pada organisasi lain

Upaya untuk mengembangkan NU dengan berbasis pada kebutuhan tersebut bisa dilakukan dengan peningkatan kemampuan para pengurusnya. Menurut Kiai Sahal, jajaran syuriyah layak untuk mendapatkan prioritas pertama.

Selama ini banyak pengurus syuriah yang lebih menguasai aspek-aspek keagamaan daripada aspek manajerial dan keorganisasian. Sering seorang syuriah hanya berpendidikan ibtidaiyah tapi bisa menjadi kiai karena mondok di pesantren dalam jangka waktu lama. Disisi lain, jajaran tanfidziyah atau pelaksana banyak yang bergelar S1 sehingga sering ada kesenjangan.

Kondisi inilah yang salah satunya menjadi alasan PBNU menyelenggarakan halaqah dalam upaya meningkatkan pemberdayaan jajaran syuriah. Namun pengaruh Ponpes Maslahul Huda Pati tersebut berpesan agar upaya ini mempertimbangkan aspek jamaah dan jamiyyah sehingga tidak terjadi gelojal yang tidak diinginkan.

KOKAM Tegal

Ketua Umum MUI tersebut menjelaskan kesenjangan yang timbul ini bisa ditarik dari latar belakang berdirinya NU. Pada zaman dahulu, embrio NU adalah sebuah jamaah, kelompok ulama-ulama yang melakukan kegiatan yang belum dijadikan organisasi yang akhirnya diformalkan manjadi jamaah.

Pada masa awalnya, yang aktif dalam organisasi tersebut juga para ulama. Namun kebutuhan adanya pengurus akhirnya melibatkan orang lain untuk terlibat dalam organisasi.

KOKAM Tegal

?

Sampai sekarang, kesenjangan antara syuriah dan tanfidziah tersebut masih terasa. Salah satunya disebabkan oleh pola rekrutmen pengurus syuriyah yang dalam hal tertentu masih kental nuansa jamiyyahnya.

“Kalau menggunakan pendekatan jamiyyah, pakai banyak kriteria dan syarat. Kalau pengurus syuriah biasanya pakai aklamasi pura-pura, saya sendiri juga begitu. Tapi kalau tanfidziyah pilihan langsung, kan lain. Ini persoalan jamaah, saya akui itu,” tandasnya.

Akibatnya, seringkali terjadi para pengurus syuriah ketika dimintai pendapat oleh ummatnya tentang suatu masalah seringkali masalah menyerahkan ke jajaran tanfidziyah. Akibatnya timbul kesan bahwa tanfidziyah lebih berkuasa dibandingkan dengan syuriyah karena mereka lebih sering tampil di depan public dan membahas berbagai masalah.

“Ini terjadi karena memang kiai tidak menguasai masalahnya, karena memang cara pemilihan belum sepenuhnya menggunakan kriteria jamiyyah. Kita masih menggunakan pola-pola jamaah itu tadi dalam pola rekrutmen kepengurusan.

Pelatihan ini diikuti oleh 40 orang dari jajaran syuriah, tanfidziyah, lembaga, lajnah, badan otonom dari PBNU dan beberapa pengurus wilayah NU. Acara berlangsung pada 5-6 April dengan membahas meneguhkan peran dan fungsi syuriah dalam struktur organisasi NU, merumuskan sosok kader ideal syuriah NU untuk masa mendatang dan merumuskan rancangan program pemberdayaan syuriah Nahdlatul Ulama. (mkf)



Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Kajian Sunnah, News, Meme Islam KOKAM Tegal

Rabu, 26 Juli 2017

Banser Lampung Dan Masyarakat Metro Gelar Baksos Peringati Harlah Ansor

Metro, KOKAM Tegal. Memperingati 83 tahun hari lahir Gerakan Pemuda Ansor, Satuan Koordinasi Wilayah (Satkorwil) Banser Lampung bekerja sama dengan Paguyuban Purwoasri Bersatu menggelar bakti sosial penyembuhan alternatif dengan menurunkan kader Banser yang telah teruji menyembuhkan masyarakat sejumlah provinsi di Indonesia.

"Ini upaya mematuhi apa disampaikan Rasulullah Muhammad SAW, sebaik-baik manusia ialah yang bermanfaat bagi manusia lainnya, daripada ngalor-ngidul,kesana kemari pamer bendera, pamer simbol, lebih baik berbuat," ujar Kasatkorwil Banser Lampung Tatang Sumantri, di Metro, Kamis (6/4).

Tatang menambahkan, bakti sosial penyembuhan alternatif ATS Metode tersebut digelar di Masjid Ar Rohim, Kelurahan Purwoasri, Kecamatan Metro Utara, Kota Metro, Sabtu 8 April 2017, pukul 08.00-16.00 WIB. Informasi dan pendaftaran, Asiten Perbekalan (Askal) Satkorwil Banser Lampung, Maryanto di nomor 081272469630.

Banser Lampung Dan Masyarakat Metro Gelar Baksos Peringati Harlah Ansor (Sumber Gambar : Nu Online)
Banser Lampung Dan Masyarakat Metro Gelar Baksos Peringati Harlah Ansor (Sumber Gambar : Nu Online)

Banser Lampung Dan Masyarakat Metro Gelar Baksos Peringati Harlah Ansor

Satkorwil Banser Lampung, kata dia menambahkan, menurunkan Asinfokom Satkornas Banser Gatot Arifianto untuk menyembuhkan 70 masyarakat Metro yang sakit.

Aktivis Gusdurian, motivator, praktisi Hypnosis, Kultivasi Energi Ilahi, Neo Neuro-Lingusistic Programing dan Aji Tapak Sesontengan itu, ujar Tatang lagi, akan berupaya menyembuhkan sejumlah penyakit seperti alergi dingin, mata minus dan plus, nyeri persendian, sakit pinggang, sakit gigi, migrain, vertigo, saraf kejepit, sakit tengkuk, lemah syahwat, ? asam urat, asma, bronchitis hingga diabetes.

"Saya sakit maag akut. Alhamdulillah sembuh dengan penyembuhan relatif cepat dan tidak sakit," ujar Ketua PC GP Ansor Pare-Pare, Sulawesi Selatan, Edi Rahmadi.

KOKAM Tegal

Pernyataan senada disampaikan Aba Rouf, warga Paser, Kalimantan Timur. Saat mengikuti kegiatan, ? penyakit maagnya kambuh.

KOKAM Tegal

"Setelah disentuh sebentar oleh sahabat Gatot selaku instruktur kegiatan, Alhamdulillah ada perbaikan. Tidak terasa sakit, langsung ada reaksi, sekitar tiga menit. Saya membuktikan sendiri jadi saya yakin bukan dibuat-buat," kata Rouf lagi.

?

Warga Muna, Sulawesi Tenggara, Farahu juga memberikan kesaksian mengenai ATS Metode. Saat mengikuti kegiatan dan Gatot menjadi instruktur, dirinya terserang demam ? sehingga keluar dari ruang ber-AC.

"Tapi setelah disentuh-sentuh sebentar tanpa sakit oleh instruktur kami, ada perubahan sehingga tak berapa lama berani masuk ruangan ber-AC lagi," kata Farahu. (Erli Badra/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Kajian Sunnah, Sunnah KOKAM Tegal

Sabtu, 22 Juli 2017

Tawadhu dan Pembelaan Harkat Hidup Manusia Menurut Ibnu Athaillah

Unggah ungguh atau tata krama belaka bukanlah tawadhu karena ini hanya dampak saja dari ketawadhuan. Tawadhu bermakna jauh lebih dahulu dari sekadar sopan santun. Tawadhu adalah sikap batin yang menjelma dalam praktik lahiriyah secara proporsional dan wajar.

Karena merupakan sikap batin, ketawadhuan sulit diukur. Yang bisa dilihat hanya praktik lahiriyah yang proporsional dan wajar. Bisa jadi dalam tata krama tertentu, seseorang dapat menyesuaikan diri tetapi sesungguhnya ia belum terbilang orang yang tawadhu. Masalah ini disinggung oleh Syekh Ibnu Athaillah sebagai berikut:

Tawadhu dan Pembelaan Harkat Hidup Manusia Menurut Ibnu Athaillah (Sumber Gambar : Nu Online)
Tawadhu dan Pembelaan Harkat Hidup Manusia Menurut Ibnu Athaillah (Sumber Gambar : Nu Online)

Tawadhu dan Pembelaan Harkat Hidup Manusia Menurut Ibnu Athaillah

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

KOKAM Tegal

Artinya, “Orang yang tawadhu itu bukan ia yang ketika merendah menganggap dirinya lebih tinggi dari yang dilakukannya. Tetapi, orang yang tawadhu itu ia yang ketika merendah menganggap dirinya lebih rendah dari yang dilakukannya.”

Ketawadhuan hanya bisa diukur oleh diri manusia itu sendiri karena hanya mereka yang mengerti batin mereka. Penilaian atas sikap batin itu persis dengan penilaian atas ibadah puasa. Hanya mereka sendiri yang dapat menyadari apakah mereka merasa lebih tinggi atau merasa istimewa dibanding orang lain atau bahkan makhluk lain.

KOKAM Tegal

Syekh Ibnul Hajib menyebutkan secara jelas bahwa ketawadhuan adalah sebuah sikap batin yang merendah. Sikap batin ini yang melahirkan tata krama dan sikap sosial yang wajar. demikian disampaikan Syekh Ibnul Hajib sebagai berikut:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Menurut saya, ketawadhuan hakiki adalah sikap yang muncul dari orang yang memandang segala sesuatu dari Allah. Ketika ia merendah, maka ia merasa bahwa segala sesuatunya berhak lebih banyak lagi ketakziman dan merasa bahwa dirinya dalam kerendahan dan kehinaan lebih rendah dari ketawadhuan yang telah dilakukannya. Orang yang merasa istimewa di tengah yang lain bukan orang yang tawadhu. Kalaupun ia merendah di tengah yang lain, tetapi memandang dirinya lebih tinggi dan lebih utama dari ketawadhuan yang dilakukannya, maka hakikatnya ia orang yang takabur karena ia menyematkan ketawadhuan bagi dirinya sendiri karena sesuatu yang menurutnya layak ia terima,” (Lihat Syekh Ibnul Hajib, Iqazhul Himam, Beirut, Darul Fikr, tanpa catatan tahun, juz I, halaman 238).

Sebagaimana dikatakan di atas bahwa ketawadhuan mengandung konsep yang lebih luas dari sekadar formalitas tata krama, unggah ungguh, adab, atau sopan santun. Ketawadhuan bisa dipahami dalam konteks hukum dan etika. Hal ini yang kiranya jarang disampaikan banyak orang.

Ketawadhuan adalah upaya dalam membela dan menjamin hak pribadi dan hak orang lain. Ketawadhuan juga berarti upaya mempertahankan harkat manusia baik diri sendiri maupun orang lain. Jangan sampai diri sendiri terhina. Jangan sampai orang lain terhina dan dirugikan karena ulah kita. Pengertian ketawadhuan ini justru jauh sekali berbeda dari sekadar tata karma atau sopan santun. Hal ini sebagaimana keterangan Syekh Ibrahim Al-Aqshara’i berikut ini:

?: ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Bagi saya, ketawadhuan itu bergerak antara kerendahan dan ketakaburan. Kerendahan itu adalah kamu menjadi hina dan hakmu terlantar. Sementara takabur adalah kau menjadi sebab atas kehinaan orang lain dan haknya terlantar karenamu. Sedangkan ketawadhuan itu adalah kau tidak menjadi hina dan orang lain tidak menjadi hina karenamu; hakmu tidak terlantar dan hak orang lain tidak terlantar karenamu,” (Lihat Syekh Ibrahim Al-Aqshara’i, Ihkamul Hikam, Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyah, 2008 M/1429 H, halaman 135).

Meskipun hanya sikap batin, tanda-tanda ketawadhuan itu dapat dilihat dengan jelas. Syekh Syarqawi menyebutkan sejumlah tanda konkret mutawadhi‘in yang memiliki kepribadian tangguh dalam menghadapi berbagai tekanan sosial dan tabah dalam menjaga diri dari godaan kemunafikan hidup. Berikut ini kutipannya:

? ? ? ? ?) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? (? ? ? ? ?) ? ? ? ? ? ? ? ? (? ?) ? (? ? ?) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? (? ? ? ? ?) ? ? ? ? ? ? ? ?... ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Orang yang tawadhu itu bukan ia yang ketika merendah) berlaku sebagai laku orang bermaqam mutawadhi‘in, antara lain duduk di belakang dalam sebuah forum (menganggap dirinya lebih tinggi dari yang dilakukannya) merasa dirinya berhak duduk di depan. (Tetapi, orang yang tawadhu itu) adalah (ia yang ketika merendah) berlaku sebagai laku orang bermaqam mutawadhi‘in, antara lain duduk tak jauh dari depan pada sebuah forum (menganggap dirinya lebih rendah dari yang dilakukannya) merasa dirinya justru lebih berhak duduk di belakang... Tanda riil dari perilaku mutawadhi‘in adalah ia yang tidak marah ketika dicela atau difitnah, tidak membenci ketika dicaci atau dituduh melakukan dosa besar; tidak ngotot mengejar pencitraan, mencari muka atau mengambil hati orang lain; dan tidak merasa bahwa dirinya memiliki tempat di hati banyak orang,” (Lihat Syekh Syarqawi, Syarhul Hikam, Semarang, Maktabah Thaha Putra, tanpa catatan tahun, juz II, halaman 60-61).

Dari sejumlah keterangan ulama itu, kita dapat menyimpulkan bahwa ketawadhuan hanya dimiliki oleh orang-orang besar. Tawadhu adalah mereka yang siap belajar (mondok, ngaji, sekolah, kuliah. Pokoknya belajar) ketika bodoh, bertanya ketika tidak mengetahui, berterima kasih atas budi baik orang lain, memohon maaf atas kesalahan. Tidak banyak orang yang bersikap tawadhu. Hanya mereka yang berjiwa besar dapat mencapai derajat mutawadhi‘in. Karena hanya mereka yang siap melawan arus demi hak dan harkat hidup manusia. Wallahu a’lam. (Alhafiz K)Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Aswaja, Kajian Sunnah KOKAM Tegal

Selasa, 02 Mei 2017

Mengenang Petilasan Masjid Sunan Bonang di Rembang

Rembang, KOKAM Tegal. Maulana Makdum Ibrahim atau Sunan Bonang lahir pada tahun 1465 Masehi, salah satu dari sembilan Walisongo yang menyebarkan ajaran agama Islam di tanah Jawa khususnya pesisir timur pantai utara. Lebih tepatnya di Desa Bonang Kecamatan Lasem Rembang Jawa Tengah.

Bukti sejarah singgahnya Sunan Bonang di Rembang, adanya sejumlah peninggalan dan juga petilasan yang masih bisa dilihat karena tetap dijaga kelestariaannya. Salah satunya Masjid Sunan Bonang. Konon menurut riwayat cerita dari masyarakat sekitar, tidak tahu persis kapan berdirinya masjid ini.

Mengenang Petilasan Masjid Sunan Bonang di Rembang (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengenang Petilasan Masjid Sunan Bonang di Rembang (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengenang Petilasan Masjid Sunan Bonang di Rembang

Masjid di tengah perkampungan Desa Bonang dipercaya sebagai salah satu peninggalan Sunan Bonang, ketika pada zaman dahulu menyebarkan agama Islam di wilayah ini. Posisinya persis di sebelah selatan makam Sunan Bonang, jaraknya sekitar 50 meter.

KOKAM Tegal

Masjid yang satu ini dianggap sebagai salah satu keramat Sunan Bonang karena penuh teka-teki yang belum dapat dipecahkan hingga saat ini. Selain riwayat proses pembangunannya konon tidak diketahui oleh masyarakat sekitar. Menurut cerita turun temurun, kala itu dikisahkan warga terkaget kaget, begitu mengetahui sudah berdiri sebuah bangunan. Saat mereka bertanya kepada Sunan Bonang, beliau menjawab omah gede atau rumah besar.

Menurut riwayat cerita wakil juru kunci petilasan Sunan Bonang, Ahmad Luthfi Haqim dulu warga memang sempat diselimuti rasa keheranan, lantaran saat malam hari di tempat berdirinya masjid tersebut masih berupa kawasan hutan lebat, namun keesokan harinya berubah menjadi rumah besar. Dulu belum dijadikan masjid. 

Lantaran sering digunakan shalat masyarakat yang mulai memeluk agama Islam akhirnya bangunan itu disebut dan digunakan sebagai masjid. Lama kelamaan masyarakat mengetahui bahwa Sunan Bonang telah membangun Masjid melalui kekuasaan Allah SWT, yang masih bisa dilihat sampai sekarang ini.

KOKAM Tegal

Terdapat pula kisah nyata yang masih bisa disaksikan oleh orang modern pada zaman ini, dan masih ada saksi mata yang masih hidup dapat dijumpai di Desa Bonang. Ada seorang donatur dari Kabupaten Jepara, yang ingin menyumbang sebuah mimbar khutbah baru dengan bentuk yang jauh lebih bagus dengan ukiran khas Jepara untuk menggantikan mimbar khutbah yang sudah lama. Kejadian yang sangat mengejutkan terjadi, meski sudah diukur berulang kali, hingga saat ini mimbar khutbah sumbangan milik donatur itu tidak dapat dimasukkan di samping pengimaman menggantikan mimbar yang lama.

Hingga saat ini mimbar sumbangan milik donatur meski lebih bagus dari segi arsitekturnya, mimbar tersebut masih tetap dibiarkan di teras masjid Sunan Bonang, dan membiarkan mimbar lama tetap digunakan khutbah setiap hari Jumat. 

Menurut keterangan juru kunci makam Sunan Bonang, masjid ini memiliki dua bagian. Serambi depan direhab dengan arsitektur modern, untuk menampung jumlah jamaah. Sedangkan bagian utama tetap dibiarkan asli tanpa perubahan. Namun tetap dirawat secara teratur. (Ahmad Asmui/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Kajian Sunnah, Fragmen, IMNU KOKAM Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs KOKAM Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik KOKAM Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan KOKAM Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock