Tampilkan postingan dengan label Kyai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kyai. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 Maret 2018

Program Transmigrasi Dibutuhkan Untuk Daerah Tertinggal

Jakarta, KOKAM Tegal. Mendiskusikan persoalan kawasan pedesaan tak bisa dilepaskan dari berbagai persoalan transmigrasi. Pasalnya, jejak sejarah transmigrasi di Indonesia sempat menorehkan tinta emas dengan keberhasilannya menciptakan desa-desa baru bahkan memiliki andil besar terbentuknya dua provinsi baru di Indonesia.

Demikian disampaikan Menteri Desa, Pembangunan Daerah tertinggal, dan Transmigrasi, Marwan Jafar dalam diskusi dengan tema Rancangan Normatif dan Praktik Empiris Pembangunan Kawasan Pedesaan yang diselenggarakan Bina Desa dan Walhi di Hotel Cemara, Jakarta, Selasa (12/5) melalui rilis yang diterima KOKAM Tegal.

Program Transmigrasi Dibutuhkan Untuk Daerah Tertinggal (Sumber Gambar : Nu Online)
Program Transmigrasi Dibutuhkan Untuk Daerah Tertinggal (Sumber Gambar : Nu Online)

Program Transmigrasi Dibutuhkan Untuk Daerah Tertinggal

Marwan menjelaskan, program transmigrasi memang diakui sempat meredup pasca reformasi. Oleh karena itu, dimasa kepemimpinannya, Marwan bertekad untuk menghidupkan kembali program transmigrasi. 

KOKAM Tegal

"Jejak transmigrasi ini penting, transmigrasi berhasil menciptakan 13 ribu desa, 3000-an kecamatan, 144 kota hasil transmigrasi dan dua provinsi hasil transmigrasi," ujar Menteri Marwan.

Menteri Marwan mengaku mempunyai kiat-kiat khusus untuk menghidupkan program transmigrasi. Salah satunya dengan menempatkan para transmigran di daerah perbatasan dan pulau-pulau terluar di Indonesia yang selama ini tidak tergarap. 

KOKAM Tegal

"Ini sedang kita canangkan platform baru untuk transmigrasi di daerah perbatasan dan pulau terluar. Selain itu, juga ditargetkan 9 juta hektar lahan untuk transmigrasi," tandasnya.

Program transmigrasi, menurut Marwan, juga akan mereview kembali data-data untuk kabupaten yang masuk kategori daerah tertinggal. "Karena selama ini, kategori pembangunan daerah tertinggal masih berbasis kabupaten. Kalau merujuk data yang ada sekitar 122 kabupaten. Kalau kita dalami lagi lebih dari 200-an kabupaten yang tertinggal," ujarnya.

Dia menginginkan adanya keseimbangan antara pembangunan yang ada di desa dengan pembangunan masyarakat yang ada di kota. "Karena di situ indeks pembangunan masih rendah dan disparitasnya masing menganga. Ketersedian listrik sekitar 15 ribu desa masih belum teraliri listrik, akses komunikasi dan infrastruktur masih lemah," tandasnya.

Selain melakukan mereview kembali data daerah tertinggal, menurut Marwan, beberapa daerah yang sudah lepas dari status tertinggal masih butuh pengawalan dan pembinaan. "Daerah yang sudah terentaskan dari ketertinggalan, masih butuh pembinaan selama jangka waktu tiga tahun," imbuhnya. (Red: Fathoni) 

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Kiai, Pahlawan, Kyai KOKAM Tegal

Senin, 12 Februari 2018

Lailatul Ijtima’ Simpul Kerekatan Warga Banyudono

Boyolali, KOKAM Tegal. Kegiatan lailatul ijtima’ yang digelar rutin Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) kecamatan Banyudono kabupaten Boyolali, Jawa Tengah menjadi ajang silaturahim antarwarga NU. Lailatu ijtima’ juga menjadi wadah perekatan NU dengan masyarakat setempat.

“Kegiatan Lailatul Ijtima’ ini kita harapkan bisa menjadi ajang anjangsana dari satu desa ke desa. Sehingga, NU bisa dikenal di tiap desa,” terang Ketua MWCNU Banyudono Zainal Arifin di desa Surobayan Banyudono, Selasa (24/12).

Lailatul Ijtima’ Simpul Kerekatan Warga Banyudono (Sumber Gambar : Nu Online)
Lailatul Ijtima’ Simpul Kerekatan Warga Banyudono (Sumber Gambar : Nu Online)

Lailatul Ijtima’ Simpul Kerekatan Warga Banyudono

Menurutnya, silaturahim ini juga dapat menyinergikan program NU dan kepentingan masyarakat. Zainal menambahkan, lailatul ijtima’ dilanjutkan dengan program pembentukan ranting di tiap desa.

KOKAM Tegal

Kesempatan itu juga diisi dengan kajian kitab Tafsir Showi yang disampaikan Rais Syuriah Banyudono KH Asikin.

KOKAM Tegal

Kiai Asikin yang menerangkan kandungan surah al-Fatihah, menekankan pentingnya surah ini. “Diusahakan kita bisa membacanya dengan benar, sebab surah ini menjadi salah satu rukun dalam shalat,” tuturnya.

Dia menganjurkan warga NU untuk membenahi kemabli bacaan surah al-Fatihah. Penting untuk mereka kembali belajar kepada seorang guru yang memiliki ilmu tajwid. (Ajie Najmuddin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Kyai, Sholawat KOKAM Tegal

Rabu, 24 Januari 2018

Kader Muda NU Pati Beri Motivasi Kuliah lewat Radio

Pati, KOKAM Tegal. Kader muda NU yang tergabung dalam Sanlat dan BPUN bimbingan Mata Air Pati memberikan motivasi kuliah lewat Radio 101 PAS FM Pati, Ahad (02/2). Sebelumnya, mereka menghasilkan buku motivasi dan info seputar kuliah, kemudian dilanjutkan dengan BPUN Expo Kampus.

"Kami tak ada henti-hentinya memberikan motivasi kepada siswa-siswi yang akan melanjutkan kuliah. Kuliah sangat penting. Kuliah menjadi jembatan yang harus dilewati untuk berjuang , hijrah baik secara horizontal maupun vertikal.” Ungkap Afif Elmuflich.

Kader Muda NU Pati Beri Motivasi Kuliah lewat Radio (Sumber Gambar : Nu Online)
Kader Muda NU Pati Beri Motivasi Kuliah lewat Radio (Sumber Gambar : Nu Online)

Kader Muda NU Pati Beri Motivasi Kuliah lewat Radio

Laki-laki yang akrab dipanggil Afif ini juga menerangkan saat talk show, jika siswa-siswi yang ingin masuk perguruan Tinggi khususnya Perguruan Tinggi Negeri harus mempersiapkan sejak dini. Siap dalam hal materi dan mental.

“Untuk memilih jurusan yang harus diperhatikan adalah dengan memperhatikan kemampuan kita. Selain itu juga mata pelajaran yang paling disenangi. Sehingga ketika mengenyam pendidikan di perguruan tinggi negeri tidak akan salah jurusan” tambah afif.

KOKAM Tegal

Talk show yang dilaksanakan di Radio 101 PAS FM Pati Jl. Raya Pati Kudus Km. 3 Pati ini diisi oleh tiga alumni Sanlat dan BPUN Pati. Di antaranya adalah Abdul Afif Elmuflich mahasiswa UGM, Masudi UNDIP, dan Sholikhin Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Talk show tersebut dilaksanakan selama satu jam, yaitu pada jam 20 :00-21 :00 wib.

Masudi yang juga ikut serta memberikan motivasi kepada para pelajar Pati meyatakan bahwa jangan sampai patah semangat untuk kuliah gara-gara biaya. “Siswa yang tidak mampu dalam hal biaya, saat ini difasilitasi oleh pemerintah yaitu dengan adanya beasiswa Bidik Misi. Beasiswa yang diberikan kepada siswa yang kurang mampu, dan diberikan setiap bulan kurang lebih 600 ribu rupiah,” tandasnya.

KOKAM Tegal

Ia juga mengatakan ketika siswa-siswi tidak diterima dalam jalur bidik misi, jangan sampai berkas-berkasnya sampai hilang. “Banyak beasiswa diberikan di universitas-universitas khususnya negeri, tinggal kita rajin-rajin mengakses beritanya. Beasiswa-beasiswa yang ada diberikan juga membutuhkan berkas hampir sama dengan berkas beasiswa bidikmisi, sehingga jangan sampai berkas bidikmisi sampai hilang, bagi kalian yang tidak lolos beasiswa bidikmisi.” Ungkap Masudi yang juga menerima beasiswa BUMN. (Nur Sholikhin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Kyai KOKAM Tegal

Klangenan: Hukum dan Norma Memeliharanya

Klangenan adalah bahasa jawa asal kata kangen. Klangenan dapat diartikan dengan sesuatu yang bisa menjadikan seseorang merasa kangen kepadanya. Klangenan dapat berupa benda apasaja, tetapi lumrahnya objek klangenan adalah hewan piaraan yang memiliki nilai guna seperti Kuda, onta, keledai (sebagai alat transportasi), Kerbau (sebagai pembajak sawah), sapi (untuk dijual)  atau sekedar untuk kepuasan, semisal burung dara, burung kicauan (perkutut, cucak rowo, dan lain sebagainya). Ataupun berupa ikan hias seperti arwana, lohan dan sejenisnya atau berupa unggas piaraan seperti, bebek, ayam dan semacamnya, hingga kucing, kelinci, hamster, tupai dan lain-lain.

Sebagaimana sebutannya, klangenan selalu saja menumbuhkan rasa rindu pemiliknya. Entah itu rindu pada nilai gunanya atau rindu pada keindahan kicauan, warna bulu pada burung. Atau rindu pada warna kulit dan sisik yang mengkilat pada ikan Arwana. Atau bisa saja rindu untuk bermain-main saja.

Pada dasarnya seorang muslim diperbolehkan memelihara hewan piaraan, selama tidak ada alasan yang melarangnya karena adanya unsur yang membahayakan (mudharat). Baik membahayakan yang memelihara karena jenis hewan piaraan tersebut dianggap membawa kemudharatan (menyebabkan virus atau penyakit, sebagaimana kasus flu burung). Ataupun membahayakan hewan piaraan itu sendiri, karena keberadaanya sebagai hewan piaraan dapat mengancam jiwanya. Maka dengan sendirinya kasus per-klangenan seperti ini (yang membawa mudharat) dilarang oleh agama.

Klangenan: Hukum dan Norma Memeliharanya (Sumber Gambar : Nu Online)
Klangenan: Hukum dan Norma Memeliharanya (Sumber Gambar : Nu Online)

Klangenan: Hukum dan Norma Memeliharanya

Yang tidak kalah pentingnya adalah pola hubungan antara pemelihara dan yang dipelihara. Pertama, tidak adanya unsur pemaksaan. Seorang pemelihara tidak dibolehkan memaksakan pekerjaan diluar kemampuan hewan piaraannya, dengan berbagai cara. Misalkan membebani kerbau mengangkat beban diatas standar maksimalnya, memacu onta untuk mengejar angin, ataupun memaksa ayam berkicau seperti perkutut dan lain sebagainya.

Kedua, Wajib hukumnya bagi pemelihara menyediakan dan memberikan makan-minum kepada hewan klangenan. Kewajiban ini bersifat mutlak  tidak ada pengecualian maupun persyaratan. Artinya, wajib bagi pemelihara memberikan makan-minum hewan klangenannya walaupun ia sendiri berada dalam kefakiran.

Kewajiban ini juga tidak gugur walaupun hewan klangenan tidak memuaskan keinginan pemeliharanya. Dengan kata lain, pemelihara harus tetap menyediakan makan-minum walaupun hewan klangenan tidak berkicau, tidak enak dipandang bahkan bila tiba-tiba hewan klangenan itu menderita tuna rungu, tuna wisma ataupun tunawicara.

KOKAM Tegal

? ? ? ?, ? ? ? ?

Membei nafkah kepada hamba sahaya dan binatang itu wajib. Dan mereka tidak boleh dibebani pekerjaan yang di luar kemampuannya.

Demikian pendapat Qadhi Abu Suja’ dalam Ghayatu wat Taqrib. Pendapat ini berdasar pada hadits Rasulullah saw yang menceritakan kasus perempuan masuk neraka karena seekor kucing:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Seorang wanita menerima adzab karena kucing yang ia tahan sehingga mati. Ia msuk neraka karenanya, ia tidak mau memberi makan kucing itu dan tidak memberi minum, karenaa dia menahannya dan tidak melepaskan sehingga ia makan serangga tanah (HR. Bukhari dan Muslim)

KOKAM Tegal

Selain dalil tersebut sebagai bahan pertimbangan adalah sebuah hadits yang menjadi pembuka dalam kitab ushfuriyah dan nashaihul ibad tentang anjuran menyayangi segala makhluk yang ada dibumi.

 ? ? ? ? ? ? ? ?.

Sayangilah segala makhluk yang ada di bumi, maka kamu akan disayangi makhluk yang ada di langit 

Pada dasarnya pemberian makan-minum ini, yang merupakan kewajiban pemelihara adalah hak hewan klangenan. Karena jikalau hewan klangenan ini berada di alam bebas, pastilah ia akan menerima rizkinya secara mandiri langsung dari Allah swt. Yang Maha Pemberi Rizki. (red. Ulil H)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal IMNU, Kyai KOKAM Tegal

Selasa, 23 Januari 2018

Nabi Muhamad Bangun Negara Berdasar Platform Kemajuan dan Kebersamaan

Manado, KOKAM Tegal. Nabi Muhammad ketika berhijrah dari Makkah ke Madinah hidup dalam komunitas masyarakat yang plural, ada penganut Yahudi, ada pula suku-suku lokal, kelompok Ansor dan juga Muhajirin. Dengan situasi seperti itu, maka yang dibangun adalah negara yang berdasarkan kesepakatan bersama untuk mencapai kemajuan dan kebersamaan, tidak didasarkan pada agama atau etnis. Karena itulah, negeri tersebut dikatakan sebagai Negara Madinah, dari kata tamaddun yang artinya masyarakat yang berperadaban. 

Nabi Muhamad Bangun Negara Berdasar Platform Kemajuan dan Kebersamaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Nabi Muhamad Bangun Negara Berdasar Platform Kemajuan dan Kebersamaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Nabi Muhamad Bangun Negara Berdasar Platform Kemajuan dan Kebersamaan

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Kiai Said ketika memberikan sambutan dalam acara pra-Munas dan Konbes dengan tema NU dan Kebinekaan di Manado, Sulawesi Utara (11/11). 

 

“Asalkan satu cita-cita dan satu garis perjuangan, sesungguhnya mereka adalah satu umat. Jadi Nabi Muhammad, modern banget,” katanya di hadapan perwakilan NU se-Wilayah Indonesia Timur. 

KOKAM Tegal

Negara Madinah itu penduduknya ada yang Muslim dan non-Muslim, Arab dan non-Arab, semua diperlakukan sama. Semua penduduk Madinah telah menandatangani kesepakatan bersama untuk hidup damai. Terdapat tanggung jawab bersama kalau ada serangan dari luar. Mereka yang berkhianat juga harus diusir.

Kiai Said yang tinggal di Arab Saudi selama tiga belas tahun untuk belajar dari sarjana sampai dengan doktor ini memberikan sejumlah contoh tindakan Rasululah yang berlaku adil pada semua kelompok. Pertama, Suatu ketika ada sahabat yang bertengkar dengan Yahudi, kemidian mereka berkelahi sampai si Yahudi meninggal. Nabi marah besar dengan mengatakan, Barangsiapa membunuh non-Muslim, berhadapan dengan saya. Dan barang siapa berhadapan dengan saya, tidak akan selamat.

Keadilan juga diperlakukan kepada sesama umat Islam, yaitu ketika ada perempuan yang tertangkap mencuri. Ada usulan agar pencuri tersebut tidak dihukum karena berasal dari keluarga terpandang. Dalam kesempatan tersebut, Rasulullah menyampaikan, seandainya Fatimah, anak satu-satunya, yang mencuri, beliau akan menghukumnya sendiri. 

“Kalau kita bandingkan umat Islam dulu dan sekarang, kita sekarang akan malu,” katanya mengomentari tindakan tegas Nabi dalam menghukum pencuri tersebut. 

“Tidak boleh ada permusuhan, kecuali kepada yang melanggar hukum. Tidak boleh ada permusuhan karena alasan beda agama, beda suku, beda budaya, apalagi beda pilihan gubernur,” tegasnya. 

KOKAM Tegal

Dikatakan Kiai Said, yang dijalankan oleh Rasulullah tersebut merupakan prinsip muwathonah, citizenship atau kewarganegaraan, bukan kewargaagamaan, atau kesukuan. “Islam seperti inilah yang dibawa Walisongo, yang mengislamkan seluruh Nusantara,” imbuhnya. 

Sebagai pemimpin dari seluruh komunitas yang sangat beragam, Rasulullah juga sangat memperhatikan kepentingan dari pemeluk agama Nasrani. Suatu ketika ada gosip dari Yahudi bahwa Maryam berzina sehingga melahirkan seorang anak. Ia sangat bersedih dan bagaimana menjelaskan peristiwa tersebut, sampai akhirnya Allah menurunkan surat Maryam yang menegaskan bahwa Maryam atau disebut Maria dalam agama Kristiani merupakan perempuan suci yang bersih dari perilaku tidak terpuji.

Demikian pula, ketika terjadi perang antara Kristiani dan pengikut Zoroaster, Rasulullah mendoakan agar umat Kristiani dimenangkan. Romawi pertama kalah dalam perang tersebut, tapi kemudian kurang dari sepuluh tahun, menang dalam peperangan. Dalam kesempatan tersebut, umat Islam diminta untuk menyambut dengan gembira. Peristiwa tersebut diabadikan dalam surat Ar-Rum.

Kiai Said yang merupakan alumnus Pesantren Lirboyo Kediri ini juga mengisahkan teladan yang diberikan oleh Sayyidina Umar saat mengunjungi Palestina. Pada kesempatan tersebut, Umar memasuki gereja untuk melihat-lihat karena di Makkah dan Madinah tidak ada gereja. Lalu terdengar adzan saat ia masih dalam gereja. Ia tidak mau shalat dalam gereja, melainkan di luar karena takut, jika shalat di gereja, suatu saat geraja tersebut direbut dengan alasan di situ bekas shalatnya Umar. 

Kiai Said mempersilahkan generasi muda untuk belajar agama Islam di Arab karena memang kawasan tersebut merupakan pusat pendidikan Islam yang belum bisa ditandingi di tempat lain seperti di Al Azhar atau di Arab Saudi, tetapi ia mengingatkan agar yang dibawa adalah ilmunya, bukan budayanya 

Cara pandang orang Arab dalam hubungan antara agama dan negara sangat berbeda dengan bangsa Indonesia. Di sana, para ulama bukanlah tokoh nasionalis, sedangkan tokoh nasionalis bukanlah ulama. Situasi ini menyebabkan terjadinya benturan dan pertumpahan darah.

Berbeda dengan di Arab, Kiai Hasyim Asy’ari mampu menyatukan agama dan nasionalisme dengan ungkapannya, mencintai tanah air adalah bagian dari iman. Apa yang disampaikan oleh Kiai Hasyim tersebut merupakan bentuk refleksi atas kondisi di Nusantara yang sangat beragam. 

“Kebinekaan yang muncul merupakan anugerah dari Allah yang harus dirawat. Seandainya Allah menghendaki, di muka bumi ini semuanya bisa Islam. Karena itu, tidak boleh menggunakan kekerasan dalam berdakwah,” ujar Kiai Said. (Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Cerita, Pertandingan, Kyai KOKAM Tegal

Jumat, 19 Januari 2018

Ketum PBNU: Konflik Berbasis SARA Meningkat Akhir-akhir Ini

Magelang, KOKAM Tegal?

Akhir-akhir ini konflik yang dilatarbelakangi sentimen suku, agama, ras dan agama (SARA) semakin meningkat. Perlahan tapi pasti, hawa konflik di Irak, Suriah, dan Myanmar telah turut mereduksi komitmen kebangsaan warga Indonesia.

Ketum PBNU: Konflik Berbasis SARA Meningkat Akhir-akhir Ini (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketum PBNU: Konflik Berbasis SARA Meningkat Akhir-akhir Ini (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketum PBNU: Konflik Berbasis SARA Meningkat Akhir-akhir Ini

Demikian disampaikan oleh Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj pada upacara pembukaan Perkemahan Wirakraya Pramuka Maarif NU Nasional (Perwimamas) II, Senin (18/9), di Lapangan Tembak Akademi Militer Magelang, Jawa Tengah.

“Hal ini ditunjukkan dengan berbagai gerakan intoleran yang terjadi akhir-akhir ini,” tegas Kiai Said.

Sebagai penerus perjuangan ulama, lanjut Kiai Said, sudah sepantasnya nilai-nilai kebangsaan berbasis agama yang dibangun oleh para pendahulu, kita tanamkan kepada segenap generasi muda bangsa Indonesia.?

“Oleh karena itu menurut hemat saya kegiatan ini hadir di saat yang tepat. Saat generasi muda bangsa ini dihadapkan kepada berbagai tantangan toleransi,” tegas Kiai Said.

KOKAM Tegal

Pada kesempatan tersebut, Kiai Said tiada henti-hentinya mengingatkan kepada seluruh bangsa Indonesia bahwa nasionalisme tidak bertentangan dengan ajaran agama apa pun.

“NU sejak berdiri dan selamanya akan komitmen menjaga kemajemukan Indonesia dengan menanamkan cinta tanah air kepada generasi muda,” tandasnya.?

Agenda dua tahunan Lembaga Pendidikan Ma’arif itu diikuti 15 ribu peserta mengikuti upacara pembukaan Perkemahan Wirakraya Pramuka Maarif NU Nasional (Perwimamas) II. Peserta tersebut terdiri dari enam ribu peserta kemah dan sembilan ribu guru serta peserta didik Maarif NU dari seluruh Indonesia.?

KOKAM Tegal

Hadir dalam upacara pembukaan tersebut Presiden Republik Indonesia Joko Widodo, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, para menteri Kabinet Kerja, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, serta Bupati Magelang Zaenal Arifin beserta wakilnya. (Nur Rokhim/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Kyai, Berita, Nusantara KOKAM Tegal

PWNU Jatim Siapkan Mekanisme Ahlul Halli wal Aqdi

Surabaya, KOKAM Tegal. Wacana akan digunakannya model Ahlul Halli wal Aqdi atau pemilihan oleh dewan dalam Konferensi Wilayah (Konferwil) NU Jawa Timur Mei mendatang ternyata bukan isapan jempol. PWNU Jawa Timur telah mempersiapkan konsep dan implementasinya pada untuk memilih rais syuriyah dan ketua tanfidziyah.

PWNU Jatim Siapkan Mekanisme Ahlul Halli wal Aqdi (Sumber Gambar : Nu Online)
PWNU Jatim Siapkan Mekanisme Ahlul Halli wal Aqdi (Sumber Gambar : Nu Online)

PWNU Jatim Siapkan Mekanisme Ahlul Halli wal Aqdi

"Prinsipnya, formula Ahlul Halli wal Aqdi adalah sebagai refleksi keprihatinan NU terhadap kian maraknya praktik riswah atau suap saat terjadi konferensi NU di berbagai tingkatan," kata H Abdul Wahid Asa kepada KOKAM Tegal di Surabaya, Selasa (5/2).

Efek dari pemujaan terhadap mekanisme demokrasi di tanah air yang mengharuskan dilakukan pemilihan secara umum kepada calon pemimpin ternyata tidak semua berakibat baik. "Untuk demokrasinya kita sepakat," Wahid Asa yang juga Wakil Ketua PWNU Jawa Timur.

KOKAM Tegal

Namun praktik yang terjadi, banyak sekali pesta demokrasi yang mengharuskan calon pemimpin untuk terlebih dahulu memberikan sejumlah uang agar bisa terpilih. "Ini yang kita prihatinkan," katanya.

Celakanya, praktik ini ternyata juga menggejala saat suksesi di NU. Dalam ajang konferensi, tidak sedikit yang harus mengeluarkan uang agar dapat dipilih oleh peserta. "Dilihat dari sudut pandang apapun, praktik ini kan dilarang?" sergahnya.

KOKAM Tegal

Sebagai organisasi sosial keagamaan, maka NU terpanggil untuk melakukan bersih-bersih kepada dirinya sendiri. "Kita tidak bisa melakukan amar makruf nahi mungkar kalau ternyata diri kita kotor," lanjutnya.

Mekanisme Ahlul Halli wal Aqdi dapat dijadikan metode untuk bisa meminimalisir atau bahkan meniadakan sama sekali praktik riswah saat pemilihan di ajang konferensi NU. 

Apakah cara ini tidak bertentangan dengan aturan yang berlaku di NU? Buru-buru Wahid mengingatkan bahwa dalam ART NU Bab XIV pasal 42 telah disebutkan (ayat b): Ketua dipilih secara langsung melalui musyawarah mufakat atau pemungutan suara dalam konferensi dengan terlebih dahulu menyampaikan kesediaannya dan mendapat persetujuan Rais Terpilih. 

"Ada dua mekanisme yang diizinkan yakni melalui musyawarah mufakat atau pemungutan suara," lanjutnya. Selama ini yang banyak dilakukan saat konferensi atau muktamar adalah pemungutan suara. "Padahal mekanisme musyawarah mufakat juga dibenarkan dalam aturan NU. Dengan demikian mekanisme Ahli Halli wal Aqdi tidak melanggar aturan," katanya meyakinkan. 

PWNU Jawa Timur telah mempersiapan aturan main untuk ide ini. "Semoga ini akan berjalan lancar dan nantinya akan menjadi pilihan alternatif bagi perbaikan NU di masa depan," harapnya.

Konferwil NU Jawa Timur sendiri akan berlangsung di Pondok Pesantren Bhumi Sholawat, Tulangan, Sidoarjo pada 24-26 Mei 2013 mendatang.

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Saifullah

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Warta, Olahraga, Kyai KOKAM Tegal

Selasa, 16 Januari 2018

Mata Air Jepara Jaring Donatur Beasiswa Kartini Scholarship

Jepara, KOKAM Tegal

Genap satu tahun komunitas Mata Air Kabupaten Jepara memberikan beasiswa kepada para pelajar di Kabupaten Jepara yang memiliki prestasi unggul namun memiliki kendala ekonomi. 

Hingga saat ini sudah ada sembilan belas siswa yang memperoleh beasiswa tersebut. Dwi Wahyu, ketua penyalur beasiswa Kartini Scholarship mengatakan bahwa pihaknya membuka peluang para dermawan untuk menjadi donatur. 

Mata Air Jepara Jaring Donatur Beasiswa Kartini Scholarship (Sumber Gambar : Nu Online)
Mata Air Jepara Jaring Donatur Beasiswa Kartini Scholarship (Sumber Gambar : Nu Online)

Mata Air Jepara Jaring Donatur Beasiswa Kartini Scholarship

“Mata Air Jepara melalui program Kartini Scholarship-nya selalu membuka diri kepada seluruh dermawan yang ingin menyumbangkan bantuan,” kata alumnus Universitas Negeri Semarang ini saat ditemui, Ahad (21/2/2016).

Dia berharap dengan semakin banyaknya dermawan yang mempunyai kepedulian dibidang pendidikan, akan semakin banyak pelajar berprestasi yang diberikan beasiswa. 

KOKAM Tegal

“Sembilan belas adalah jumlah yang sedikit dari keseluruhan pelajar di Jepara, semoga dengan banyaknya donatur akan menambah jumlah peserta yang kami berikan beasiswa,” jelasnya.

Lebih lanjut, Wahyu menerangkan bahwa untuk penyaluran donasi dapat menghubungi nomor 0821-3439-5941, atau mentransfer ke nomor rekening BNI 0226763546 a.n Endri Listiani. 

“Bagi para dermawan yang ingin menjadi donatur bisa menghubungi kami untuk bertanya lebih lanjut mengenai program beasiswa ini,” pungkasnya. (Rif’ul Mazid Maulana/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal

KOKAM Tegal News, Kyai, Hadits KOKAM Tegal

Rukyatul Hilal Rabu Petang, Idul Adha Berpotensi Beda

Jakarta, KOKAM Tegal. Lajnah Falakiyah Nahdlatul Ulama menyelenggarakan rukyatul hilal atau observasi bulan sabit di sejumlah titik strategis di Indonesia untuk penentuan awal bulan Dzulhijjah 1435 H pada Rabu (24/9) petang bertepatan dengan tanggal 29 Dzulqa’dah.

Rukyatul Hilal Rabu Petang, Idul Adha Berpotensi Beda (Sumber Gambar : Nu Online)
Rukyatul Hilal Rabu Petang, Idul Adha Berpotensi Beda (Sumber Gambar : Nu Online)

Rukyatul Hilal Rabu Petang, Idul Adha Berpotensi Beda

Ketua Lajnah Falakiyah PBNU KH A. Ghazali Masroeri mengatakan, pihaknya telah mengaktifkan pos pelaporan hasil rukyat di kantor PBNU Jakarta Pusat dan menyebarkan nomor-nomor kontak informasi kepada para pengurus Lajnah Falakiyah di sejumlah daerah.

Data hasil hisab awal Dzuhijjah 1325 H yang diterbitkan oleh Lajnah Falakiyah untuk markaz Jakarta menunjukkan ijtima’ atau konjungsi baru terjadi pada Rabu 24 September 2014 pukul 13.24 WIB, sementara tinggi hilal pada saat matahari tenggelam baru mencapai 0 derajat 27 menit di atas ufuk.

KOKAM Tegal

Berdasarkan data itu, diperkirakan rukyatul hilal tidak akan berhasil atau hilal dinyatakan tidak memenuhi kriteria imkanur rukyat. Seperti tercetak dalam kalender NU, tanggal 1 Dzulhijjah baru terjadi pada hari Jum’at bertepatan dengan 26 Septermber 2014, dan hari raya Idul Adha jatuh pada hari Ahad 5 Oktober 2014. Namun kepastian awal bulan tetap menunggu hasil rukyat Rabu petang dan akan diverifikasi dalam sidang itsbat di kantor Kementerian Agama.

KOKAM Tegal

Sementara itu seperti diwartakan, Muhammadiyah telah mengumumkan awal Dzulhijjah jatuh pada Kamis 25 September 2014 dan hari raya Idul Adha 10 Dzulhijjah 1435 H jatuh pada Sabtu 4 Oktober 2014. Keputusan itu diambil berdasarkan metode hisab yang dinamakan wujudul hilal yakni ijtima’ sebelum tenggelam matahari dan hilal berada di atas ufuk pada saat tenggelam matahari tanpa mempertimbangkan derajat ketinggian dan tanpa melalui proses rukyatul hilal. (A. Khoirul Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Kyai, Nusantara, Syariah KOKAM Tegal

Rabu, 10 Januari 2018

Amalan Sayidina Umar yang Membawanya ke Surga

Usai Sayyidina Umar wafat, ada salah seorang yang bermimpi bertemu beliau. Ia bertanya "wahai Umar, apa yang dilakukan Allah kepadamu?"?

Umar menjawab, "Allah telah mengampuniku".

"Apakah karena keadilanmu?"?

Amalan Sayidina Umar yang Membawanya ke Surga (Sumber Gambar : Nu Online)
Amalan Sayidina Umar yang Membawanya ke Surga (Sumber Gambar : Nu Online)

Amalan Sayidina Umar yang Membawanya ke Surga

"Bukan"?

Padahal sebagaimana kita ketahui, sahabat Umar adalah seorang khalifah yang tegas berprinsip dan adil dalam memberi keputusan.?

KOKAM Tegal

Namun ternyata beliau masuk surga bukan karena amalnya. Namun beliau justru mengaku, "(aku masuk surga) karena seekor burung".?

Ketika itu ada burung yang dibuat mainan anak kecil. Merasa iba, sahabat Umar lalu membeli burung dari anak kecil itu, setelah terbeli, burung pun dilepas.

KOKAM Tegal

Kisah di atas sangat cocok dengan sebuah hadis yang diriwayatkan dalam Kitab Sunan At-Tirmidzi:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Orang-orang yang berbelas kasih akan dikasihi Allah yang maha pengasih. Maka kasihanilah penduduk yang ada di bumi, niscaya kalian akan dikasihi penduduk langit.?

(Ahmad Mundzir)

Disarikan dari ceramah KH Abdullah Kafabihi Mahrus, Pengasuh Pesantren Lirboyo, Kediri.

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal RMI NU, Kyai KOKAM Tegal

Sabtu, 30 Desember 2017

Fatayat NU Karanganyar Produksi Minuman Herbal Berbahan Lokal

Karanganyar, KOKAM Tegal. Pengurus Fatayat NU Karanganyar bersama para anggota saat ini tengah mengembangkan produksi aneka minuman herbal. Mereka mencoba membangun karakter kewirausahaan di kalangan kader lewat usaha kecil dan menengah.

Fatayat NU Karanganyar Produksi Minuman Herbal Berbahan Lokal (Sumber Gambar : Nu Online)
Fatayat NU Karanganyar Produksi Minuman Herbal Berbahan Lokal (Sumber Gambar : Nu Online)

Fatayat NU Karanganyar Produksi Minuman Herbal Berbahan Lokal

Ketua Fatayat NU Karanganyar Sri Lestari menyatakan, usaha ini dijalankan sebagai program pertama usai terbentuknya koperasi Yasmin milik Fatayat Karanganyar.

“Minuman ini diproduksi koperasi Yasmin, dan merupakan program perdana,” kata Sri, Selasa (21/10).

KOKAM Tegal

Sementara minuman herbal yang diproduksi, lanjut Sri, antara lain jahe manis, kunir asem dan temu lawak. Minuman ini bisa dikonsumsi sebagai hidangan keluarga atau jamaah pengajian. Kami memberikan fasilitas mengantarkan produk ke lokasi pemesan.

KOKAM Tegal

Produk herbal ini menjadi pilihan karena saat ini aneka macam produk ini sedang diminati masyarakat. Selain bahan bakunya mudah didapat serta murah, efek samping produk herbal juga diyakini sangat kecil sekali.

Harapannya, dengan produk yang berbentuk minuman kemasan dan siap seduh ini akan semakin mempermudah seseorang untuk dapat menikmati berbagai macam minuman herbal di mana pun berada. Usaha ini diharapkan nantinya dapat meningkatkan kesejahteraan anggota. (Ahmad Rosyidi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Kyai KOKAM Tegal

Senin, 18 Desember 2017

Habib Luthfi Keluarkan Zakat 130 Ton Beras

Pekalongan, KOKAM Tegal. Rais ‘Aam Idaroh Aliyah Jamiyyah Ahlit Thariqah Al Mutabarah An Nahdliyyah (JATMAN) KH Habib Muhammad Luthfi bin Yahya mengeluarkan zakat sebanyak 130 ton beras pada malam Idul Fitri 1438 H.

Pengeluaran zakat Habib Luthfi tahun ini mengalami peningkatan cukup signifikan, yaitu sebanyak 68 ton beras dari tahun sebelumnya.

Habib Luthfi Keluarkan Zakat 130 Ton Beras (Sumber Gambar : Nu Online)
Habib Luthfi Keluarkan Zakat 130 Ton Beras (Sumber Gambar : Nu Online)

Habib Luthfi Keluarkan Zakat 130 Ton Beras

Dari zakat yang dikeluarkan, Habib Luthfi menyalurkan kepada panti panti asuhan yatim piatu di wilayah Pekalongan dan sekitarnya dengan dibantu puluhan santri, armada 6 truk dari Brigif 407 dan Brimob Pekalongan sebanyak 2 truk serta puluhan armada kecil.

Penanggung jawab penyaluran zakat, Fatkhurrohman, kepada KOKAM Tegal mengatakan, untuk tahun ini memang ada peningkatan yang cukup banyak bila dibanding tahun lalu dan semuanya berasal dari pribadi Habib Luthfi bin Yahya.

"Apa yang telah dilakukan Habib Luthfi merupakan kegiatan rutin setiap malam Idul Fitri dan itu dilakukan sudah berjalan cukup lama," ujar Fatkhurrahman.

KOKAM Tegal

Dikatakan, disamping didistribusikan kepada panti panti asuhan yatim piatu dan pondok pesantren, Habib Luthfi juga secara rutin mengirimkan zakatnya ke polsek-polsek di wilayah Pekalongan dan sekitarnya.

Pendistribusian zakat dimulai sejak usai shalat maghrib dan ditargetkan rampung sekitar jam 3 pagi disaksikan langsung oleh Habib Luthfi di kediamannya di Jalan dr Wahidin Gang Noyontaan 7 Pekalongan Jawa Tengah. (Abdul Muiz/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal

KOKAM Tegal Kyai, AlaSantri, Sunnah KOKAM Tegal

Senin, 11 Desember 2017

Tafakur Ramadhan di Macau

Ahad 11 Juni kemarin, sambil mengernyitkan dahi karena terik saya memakai topi hitam yang baru saja dibeli seharga 20 MOP (mata uang Macau) di toko Sheng Heng. Ini toko teramai dan termurah hasil survei pribadi menelusuri pertokoan.

Bisa dikatakan, Ahad adalah hari libur bagi mayoritas masyarakat di Macau. Bersama Ustad Muhandis dan Mbak Indah, saya mengunjungi salah satu spot sejarah Macau, yaitu The Ruins Of St. Pauls. Tempat itu ramai dikunjungi baik oleh turis lokal maupun mancanegara.

Tafakur Ramadhan di Macau (Sumber Gambar : Nu Online)
Tafakur Ramadhan di Macau (Sumber Gambar : Nu Online)

Tafakur Ramadhan di Macau

Di sebelah kiri gereja yang terbakar dan runtuh pada tahun 1835 itu terdapat patung Matteo Ricci. Matteo sendiri seorang pioner yang memperkenalkan Barat ke Tiongkok. Ia dikenal sebagai misionaris terhebat di Tiongkok. Yang menarik, busana pria kelahiran Italia itu justru pakaian khas Tiongkok. Hati saya bertanya-tanya, "Siapa orang ini? Mengapa ia yang orang Italia, mengenakan busana Tiongkok?”

Saya lalu termenung. Salah satu ajaran Islam yang banyak manfaatnya dan banyak diabaikan ialah bertafakur. Sebagaimana dikutip Ibnu Katsir ketika berbicara tentang tafsir Surat Ali Imran ayat 177, Al-Hasan Al-Basri berkata, “Bertafakur sejenak dinilai lebih baik daripada menghidupkan malam (dengan shalat malam, zikir, dan doa).”

KOKAM Tegal

Bertafakur bukan berarti sekadar berpikir tanpa arah. Sebab pikiran bisa menjadi cahaya yang menerangi kalbu. Pikiran juga bisa menjadikan segala hal sebagai pelajaran hidup. Pikiran laksana cermin yang mampu memperlihatkan kebaikan dan keburukan kita. Tapi pikiran tanpa disertai bimbingan wahyu bisa menjerumuskan seseorang dalam kehancuran dan kehinaan.

KOKAM Tegal

Objek pikiran ialah alam raya. Ia merupakan ayat-ayat Allah (kauniyah) yang mengundang para peneliti, pengkaji, ilmuwan atau ulama serta siapa pun yang hendak mengetahui rahasia, hikmah, serta segala macam pengetahuan perihal langit dan bumi. Dari sini Islam amat menekankan pada penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Di era banjir informasi terutama melalui media sosial, pikiran seseorang bisa ikut terbawa arus bahkan terombang-ambing terbawa entah ke mana. Energi pikir habis oleh hal sepele bahkan tak jarang cenderung sia-sia. Orang kuat di zaman ini ialah yang bisa mengontrol pikirannya, tidak terjebak pada asyiknya bermedsos ria sehingga melalaikan dirinya.

Nabi bersabda, "Meninggalkan sesuatu yang tak bermanfaat merupakan salah satu tanda keislaman seseorang itu baik," (HR Al-Turmudzi dan Ibnu Majah).

Dalam kitab Tuhfatul Ahwadzi Syarah Sunan Al-Turmudzi, disebutkan yang mesti ditinggalkan ialah hal-hal yang haram, syubhat, makruh, bahkan hal yang mubah yang bukan menyangkut kebutuhan.

Saya teringat seorang guru berpesan, "Pikir selaras dengan zikir." Itu dilakukan agar segala macam pikiran dikaitkannya dengan Allah SWT. Di saat yang sama sesungguhnya kita juga sedang berzikir, sebab zikir ialah ingat Allah baik dalam keadaan berdiri, duduk maupun terbaring.

Sudah saatnya melalui Ramadhan kita melatih pikiran pada skala prioritas bukan standar popularitas, sehingga dengan bekal latihan ini bisa membawa orang Indonesia khususnya umat Islam menjadi bangsa yang unggul dan berakhlak mulia. Sudah sejauh manakah kita tertinggal?

*) Saepuloh, anggota Tim Inti Dakwah Internasional dan Media (TIDIM) LDNU yang ditugaskan ke Macau.

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Kyai, Halaqoh, Fragmen KOKAM Tegal

Sabtu, 09 Desember 2017

Waketum PBNU: Penulisan Sejarah Keislaman harus Dilanjutkan

Jakarta, KOKAM Tegal. Wakil Ketua Umum PBNU H As’ad Said Ali meminta agar penulisan sejarah keislaman, terutama yang menyangkut sejarah perjuangan komunitas NU terus dilanjutkan.  Peran para ulama  dalam perjuangan kemerdekaan seolah-olah diabaikan, padahal banyak diantara kaum santri yang meninggal.

Pernyataan tersebut diungkapkan dalam peluncuran buku Laskar Ulama-Santri  dan Resolusi Jihad yang digelar di Gedung Juang 45 Jakarta, Ahad (2/2).

Waketum PBNU: Penulisan Sejarah Keislaman harus Dilanjutkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Waketum PBNU: Penulisan Sejarah Keislaman harus Dilanjutkan (Sumber Gambar : Nu Online)

Waketum PBNU: Penulisan Sejarah Keislaman harus Dilanjutkan

Ia menuturkan, suatu saat pernah diberi dokumentasi perjuangan kemerdekaan oleh Des Alwi, sejarawan dan penulis asal Jakarta, tetapi peran kaum santri sama sekali tidak disebutkan didalamnya.

KOKAM Tegal

“Padahal banyak sekali santri yang meninggal waktu perjuangan kemerdekaan,” tandasnya.

KOKAM Tegal

Untuk itu, ia mengapresiasi langkah Zainul Millal dalam menelusuri dan menuliskan peran ulama dan santri dalam perjuangan kemerdekaan ini.

“Ini merupakan langkah awal untuk menuliskan sejarah selanjutnya,” tegasnya.

Ditegaskannya, para ulama memiliki peran sangat besar sejak zaman zaman Kesultanan Demak yang menyerang Malaka, kemudian Sultan Agung yang menyerang Jayakarta sampai zaman Diponegoro yang selanjutnya, para keturunannya melahirkan para kiai dan pejuang kemerdekaan.

Dengan latar belakang sejarah inilah, Indonesia menjadi sebuah negara nasionalis yang religius, bukan sebuah negara agama atau negara sekuler dan bisa hidup damai sampai sekarang.

Dalam pertemuan dengan para ulama Afganistan, mereka menanyakan, bagaimana Indonesia bisa menyatukan nasionalisme sekaligus agama sehingga bisa hidup damai. Mereka sendiri merasa kelelahan menghadapi perang selama 32 tahun terus menerus yang sampai sekarang belum selesai.

“Karena itu, mereka saya ajak ke sini untuk belajar tentang kebangsaan ini,” paparnya.

Buku Sejarah Ulama-Santri yang dalam satu bulan ini sudah cetak ulang yang kedua ini menelusuri jejak perjuangan para ulama, termasuk peran penting dalam pertempuran 10 November di Surabaya, yang dalam sejarah umum sampai saat ini belum banyak diungkap. (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Kyai, Anti Hoax KOKAM Tegal

Perlu Dinamisasi Ushul Fiqh Pesantren

Sleman, KOKAM Tegal. Perkembangan zaman menghasilkan berbagai permasalahan yang kompleks. Sebagian hal tersebut masih dapat dijangkau oleh keluasan khazanah pemikiran hukum pesantren, akan tetapi tidak sedikit hal-hal yang memang baru. 

Hal-hal baru ini tentu membutuhkan respons. Untuk itu, pintu masuk paling strategis adalah dinamisasi diskursus ushul fiqh dalam kajian dan pembelajaran hukum di pesantren.

Perlu Dinamisasi Ushul Fiqh Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Perlu Dinamisasi Ushul Fiqh Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Perlu Dinamisasi Ushul Fiqh Pesantren

Demikian disampaikan Muhammad Hilal, Redaktur Jurnal Mlangi Pesantren Aswaja Nusantara dalam Diskusi Rutin, Kamis (19/09), di Perpustakaan Aswaja Nusantara, Mlangi, Nogotirto, Gamping, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

KOKAM Tegal

Hilal memandang bahwa selama ini kajian pengembangan pemikiran Ushul yang berakar pada khazanah tradisi pesantren relatif kurang dinamis. Hal ini disebabkan karena dua hal.

KOKAM Tegal

“Pertama, literatur kitab yang dipakai secara empiris berputar-putar pada lingkaran syarah-mukhtashar. Kedua, ushul fiqh agak jarang dipraktikkan dalam penggalian hukum dalam forum-forum ilmiah seperti bahsul masail yang lebih banyak menggunakan produk pemikiran hukum berupa fiqh yang diambil dari kutubul mu’tabarah,” jelasnya malam itu.

Kemudian, ia mengambil contoh salah satu kitab ushul fiqh standar di pesantren, yakni Jam’ul Jawami’ karya Imam As Subki. 

Sebagaimana diketahui, pada awalnya, disiplin ushul fiqh berkembang secara hampir bersamaan ketika Imam Syafi’i menulis Ar-Risalah dan Imam Hanafi menulis Ar-Ra’yu.  “Kedua mazhab ini sempat bersinggungan, namun polemik keduanya masih dalam wilayah fiqh,” ujarnya.

Persinggungan dengan debat kalam, lanjut Hilal, terjadi ketika ulama kalam ikut terlibat seperti  Imam Juwayni dengan Al-Burhan-nya atau Imam Ghozali dengan Al-Mustashfa-nya. 

Keempat  kitab inilah yang kemudian  dibuat ikhtisarnya oleh Fahruddin Ar-Razi dan Al-Amidi.  Dua kitab ini diringkas lagi oleh Ibn Hajib dengan Al-Mukhtashar al-Kabir dan Al Baidhowy dengan Al-Minhaj.  

Al-Mukhtashar ini kemudian disyarah oleh ayahnya, Imam Tajudin As-Subki (Taqiyyyudin As-Subki), namun tidak selesai, dan diselesaikan oleh As-Subki menjadi Rof’ul Hajib ‘’an Mukhtashar Ibn Hajib, sedangkan Al-Minhaj disyarahi menjadi Al-Ibhaj fi Syarhil Minhaj. 

Kedua syarah inilah yang  diringkas menjadi Jam’ul Jawami’. Kitab ini diringkas kagi menjadi Lubbul Ushul dan Al-Bayan. Al-Bayan merupakan salah satu dari karya trilogi ulama Minangkabau Syaikh Abdul Hamid.

“Dengan pola reproduksi pengetahuan seperti ini, membutuhkan dinamisasi agar bisa mengimbangi berbagai perkembangan zaman yang membutuhkan respons kreatif pemikiran pesantren,” tandasnya. (Dwi Khoirotun Nisa’/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Internasional, Kyai KOKAM Tegal

Jumat, 08 Desember 2017

Matinya Petani dan Tanggung Jawab Keislaman Kita

Oleh Irham Ali Saifuddin

Tak dipungkiri lagi, Indonesia adalah negara yang besar. Kita adalah bangsa yang besar. Situ enggak percaya? Walaupun kita belum menjadi negara maju dan berdaulat sepenuhnya dalam relasi global, seenggak-enggaknya kita besar hal populasi dan luasan geoprafis. Baiklah, biar lebih ciyus, kita kutip Laporan BPS pada Februari 2016 yanng memperkirakan jumlah penduduk kita saat ini sebanyak 257,62 juta jiwa. Saking luasnya wilayah Indonesia, sudah terpatri dalam benak kita klaim turun-temurun sebagai bangsa agraris dan maritim.

Matinya Petani dan Tanggung Jawab Keislaman Kita (Sumber Gambar : Nu Online)
Matinya Petani dan Tanggung Jawab Keislaman Kita (Sumber Gambar : Nu Online)

Matinya Petani dan Tanggung Jawab Keislaman Kita

Memang kita memiliki garis pantai terpanjang kedua di dunia.Nyatanya, klaim sebagai bangsa agraris dan maritim tidak sepenuhnya salah. Setidaknya bila dilihat dari okupasi prosentase sektor ketenagakerjaan. Sektor pertanian, kehutanan dan perikanan, yang oleh BPS digolongkan sebagai Sektor 1, memang merupakan sektor yang menyerap tenaga kerja paling besar, yakni 31,74 persen. Ada 38,29 juta jiwa yang bekerja di Sektor 1 ini. Dahsyat kan?

KOKAM Tegal

Tetapi tunggu dulu. Kenapa sekarang sudah semakin langka anak muda yang ketika ditanya cita-citanya apa maka tidak ada yang menjawab ingin menjadi petani?

Secara diametral, di sini kita melihat dengan jelas bahwa sektor pertanian dan perikanan sampai detik ini belum bisa menjadi sektor yang menjanjikan, yang darinya orang dapat menggantungkan hidup. Sudah semakin jarang kita temui cerita seorang petani yang kaya raya dan penuh kuasa seperti dongeng-dongeng di masa kecil. Berarti ada yang salah dari pertanian kita. Oke... Sektor tersebut memang menyerap tenaga kerja terbesar. Tetapi jangan lupa, kontribusi terhadap pendapatan domestik bruto-nya (PDB) rendah, hanya sekitar 14,5 persen. Bandingkan dengan sektor industri dan manufaktur yang hanya menyerap 12 persen tenaga kerja, tetapi sumbangsih terhadap PDB dua kali lipat dari pertanian, yakni 25 persen.

KOKAM Tegal

Gimana? Jelas kan? Angka tersebut secara jelas memberi gambaran betapa rendahnya produktivitas pertanian kita. Akhirnya ia tidak kompetitif dan selanjutnya semakin ditinggalkan oleh keluarga petani. Celakanya, hingga saat ini belum ada upaya yang terukur dari pemerintah terkait dengan strategi penyelamatan warisan nenek moyang ini.



Matinya petani, matinya bangsa


Kondisi ini tidak saja bisa disebut sebagai matinya desa. Kematian sektor pertanian adalah proyeksi masa depan kematian kita sebagai bangsa. Ini menyangkut kedaulatan kita sebagai sebuah bangsa, Bung! Betapa tidak, dari hal-hal yang paling kecil dan sederhana sekalipun, kita sudah tidak berdaulat. Tidak percaya?

Atas nama mendulang investasi dan memperkuat likuiditas, Negara bersimpuh-serah pada kekuatan-kekuatan korporasi untuk mengelola pertanian kita. Masih ingat Monsanto kan? Ia merupakan gurita global yang fokus pada pembenihan/pembibitan melalui benih/bibit transgenik. Rejim bibit ini akan sangat mengancam masa depan petani kita. Bukan saja karena Monsanto melakukan rekayasa genetik yang berbahaya dan mengancam keanekaragaman hayati. Atau kalau kamu orang Jogja, pasti tahu Pakem kan? Di Pakem terdapat sebuah perusahaan pembenihan asing yang sudah lima tahun terakhir beroperasi. Hebatnya, ia hanya fokus pada komoditas bambu. Aneka bambu yang tumbuh subur di Nusantara dikawin-sliangkan hingga menjadi varietas unggulan, kemudian bibit bambunya dipatenkan.

Ngeri enggak? Korporasi sudah seperti ancaman Jaddal bagi manusia petani di dunia modern saat ini. Penguasaan benih oleh korporasi seperti di atas ibarat sabotase karunia Tuhan terhadap bumi yang kita tinggali dengan keragaman hayatinya, lalu tetiba diklaim dan dimonopoli oleh korporasi atas nama paten dan sertifikasi. Atas sesuatu yang dititipkan oleh Allah SWT di tanah kita saja, kita sudah tidak berdaulat. Tidak terbayang kan petani kita bisa dipidanakan cuma gegara menanam bambu atau padi? Korporasi melalui rejim hak paten akan membuat negeri ini tiba-tiba miskin karena kita kemudian menjadi tidak punya hak apa-apa atas semua yang ditumbuhkan oleh Tuhan di negeri subur ini. (Hhhmmmmm... Jadi ingat lagu Darah Juang).

Itu baru dari sisi bibit saja ya. Kita belum lagi membahas mengenai swasembada pangan, ketahanan pangan, lalu seringnya Negara terjebak strategi impor atas komoditas-komoditas pangan yang menguasai hajat orang banyak. Cukuplah ini sebagai ironi negara agraris!

Di sebrang yang lain, mari kita lihat petani kita. Struktur agraria kita timpang. Prosentase kepemilikan lahan tak seimbang. Mayoritas petani pun kemudian tumbang. Kenapa? Mereka rata-rata hanya memiliki kurang dari setengah hektar lahan. Dengan luasan seperti ini, para petani kita akan kesulitan untuk menggantungkan hidupnya dari sektor pertanian. Belum lagi ketergantungan petani terhadap faktor produksi pertanian seperti pupuk, bibit, pestisida dan peralatan penunjang lainnya yang semua harus beli. Produktivitas rendah karena lahan terbatas lalu ditunjang oleh faktor produksi yang mahal. Klop sudah. Kemudian harga panen rendah karena tidak kompetitif dengan produk yang diimpor pemerintah. Gimana enggak gulung koming mereka...

Berikutnya, diserahkannya sektor pertanian kepada korporasi besar secara pasti dan sistematis akan menggerus pertanian rakyat, bahkan memati-permanenkan petani kecil. Lihat saja misalnya, beberapa tahun lalu, perusahaan-perusahaan dari China dan Malaysia mulai masuk ke dunia pertanian kita. Tak tanggung-tanggung, mereka mengucurkan investasi puluhan trilyun rupiah untuk menguasai lahan-lahan pertanian kita untuk membangun lahan persawahan dan pertanian terpadu. Bukan hanya teknologi terkini pertanian yang mereka bawa, mereka mengganti semua pola bertani tradisional kita. Ini hanya menjadi sekedar gambaran, betapa makin tampaknya gempuran korporasi tersebut semakin meminggirkan pertanian rakyat.

Akibat high-technology yang tak terbeli dan subtitusi tenaga manusia menjadi mesin-mesin pertanian yang canggih, para petani kita semakin tersudut di pinggir galeng-galeng persawahan. Mereka hanya menjadi penonton yang menyaksikan atraksi Akbar korporasi atas bumi pertiwi. Kearifan lokal seperti budaya gotong royong, bertani yang ramah alam, serta nilai-nilai social lainnya kemudian hilang. Pertanian hanya dimaknai secara serapah sebagai proses produksi dalam perspektif rakusnya industrialisasi. Pertanian sudah tidak lagi memiliki dimensi budaya dan keyakinan sosial yang sebenarnya merupakan ekstraksi nilai peradaban yang berabad turun-temurun.

Merenungkan wasiat Hadratussyekh



Dunia Islam di Indonesia seharusnya memiliki tanggung jawab yang lebih akan keberlanjutan masa depan pertanian kita. Pertanian telah menjadi saksi bagaimana ia dijadikan alat diplomasi politik, sosial dan budaya di masa penyebaran Islam di Nusantara selain jalur perdagangan. Bahkan, pesantren-pesantren di masa lalu selalu menjadikan pertanian sebagai penopang utama bagi kebutuhan pendanaan roda pendidikan Islam.

Dalam hal ini, kita sudah diingatkan oleh ulama besar pendiri organisasi terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama, Hadratussyekh KH Muhammad Hasyim Asyari. Sebagaimana pernah di tulis Hamzah Sahal di situs resmi PBNU, KH Hasyim Asyari memberikan perhatian yang luar biasa pada pertanian. Hamzah Sahal menyebut, Hadratussyekh bahkan memiliki tulisan khusus yang berjudul "Keoetamaan Bertjotjok Tanam dan Bertani." Hadratussyekh bahkan meyakinkan kepada kita semua bahwa pertanian adalah benteng terakhir bagi pertahanan Negara.

Hamzah Sahal menjelaskan bahwa Hadratussyekh secara spesifik menulis:

"Pendek kata, bapak tani adalah goedang kekajaan, dan dari padanja itoelah Negeri mengeloearkan belandja bagi sekalian keperloean. Pa Tani itoelah penolong Negeri apabila keperloean menghendakinja dan diwaktoe orang pentjari-tjari pertolongan. Pa Tani itoe ialah pembantoe Negeri jang boleh dipertjaja oentoek mengerdjakan sekalian keperloean Negeri, jaitoe diwaktunja orang berbalik poenggoeng (ta soedi menolong) pada negeri; dan Pa Tani itoe djoega mendjadi sendi tempat? negeri didasarkan."

Mbah Hasyim seperti hendak mengingatkan kepada kita, betapa strategisnya sektor pertanian ini. Nasehat tersebut semakin relevan dengan kondisi terkini dunia di mana ketahanan pangan kita sedang tercancam karena semakin terbatasnya lahan pertanian dan adanya perubahan iklim dan bencana alam. Betul sekali pesan Hadratussyekh tersebut, bahwa "Pak Tani itulah penolong negeri." Pertanian memang sektor yang sangat strategis sampai kapan pun. Saat ini, secara global ada 1 miliar lebih penduduk dunia yang bekerja di sektor pertanian. Angka ini setara dengan sepertiga tenaga kerja dunia. Walaupun angka ini turun selama dua decade terakhir, dari 45 persen menjadi 35 persen. Tetap saja yang paling siginfikan diantara sektor lainnya.

NU sebagai ormas terbesar di Indonesia, yang menurut lembaga survei LSI berjumlah 90 juta orang, seharusnya memiliki kepentingan yang besar terhadap pertanian ini. NU bukan saja memiliki landasan teologis-historis untuk menempatan pertanian sebagai prioritas dalam khidmah sosialnya, lebih jauh lagi. Jamaah NU yang sebagian besar tersebar di pedesaan adalah bidang garap yang hanya berjarak sejengkal dari dunia pertanian. Data Sakernas BPS pada Agustus 2015 mencatat ada 55 juta penduduk Indonesia yang bekerja di pedesaan. Proporsi terbesarnya, yakni 31,4 juta bekerja di sektor pertanian, kehutanan dan perikanan (Sektor 1). Kembali lagi ke survei yang dilaksanakan LSI, bila survei tersebut valid, maka mayoritas petani di Indonesia adalah mereka yang mengklaim NU secara kultural (yakni NU yang tidak memiliki identitas formal sebagai anggota Jamiyah Nahdlatul Ulama atau menjadi pengurus di badan-badan organisasi).

Isu-isu pertanian hampir selalu dibahas dalam forum-forum pembahasan masalah sosial-keagamaan di lingkungan NU, bahkan di setiap Muktamar limatahunan NU selalu memperbincangkannya. Bahkan secara formal NU memiliki badan otonom yang didedikasikan untuk pertanian, yakni Lembaga Pengembangan Pertanian Nahdlatul Ulama (LPPNU).

Meminjam istilah KH Mustofa Bisri (Gus Mus), Islam itu sebagai mayoritas di negeri ini dan karenanya ia memiliki tanggung jawab tertinggi atas apa pun yang terjadi di negeri ini. Apalagi, dalam konteks NU, organisasi ini memiliki anggota yang mayoritas mata pencahariannya adalah betani. Tanggung jawab itu menjadi berlipat ganda.

Pertanyaan penutup yang perlu kita refleksikan adalah sudah seberapa jauh dunia Islam kita dan NU mengawal wasiat Hadratussyekh tersebut?

Penulis adalah pengurus Departemen Pendidikan dan Ketenagakerjaan Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Anti Hoax, Kyai KOKAM Tegal

Senin, 04 Desember 2017

Sinta Nuriyah: Syukur Tidak Bisa Memanjat

Kendal, KOKAM Tegal. Suasana di SMK NU 01 Kendal, Sabtu (2/2) pagi tadi itu cerah. Di lapangan sekolah, seribuan siswa duduk beralaskan karpet di bawah tenda yang sengaja dibangun untuk acara peresmian Gedung Praktik Siswa SMK NU 01 Kendal.



Sinta Nuriyah: Syukur Tidak Bisa Memanjat (Sumber Gambar : Nu Online)
Sinta Nuriyah: Syukur Tidak Bisa Memanjat (Sumber Gambar : Nu Online)

Sinta Nuriyah: Syukur Tidak Bisa Memanjat

Sudah direncanakan sebulanan lebih bahwa Hj. Nyai Shinta Nuriyah Wahid akan hadir pagi itu untuk meresmikan gedung tersebut. Tak ayal, para hadirin yang berasal dari para siswa dan tamu undangan diliputi ketaksabaran untuk melihat dan menyimak taushiyah istri almarhum Gus Dur itu.

Maka, ketika ibu beranak empat itu hadir, para hadirin yang semula duduk, spontan berdiri untuk menyambut kedatangannya. Dikatakan kepala sekolah SMK NU Kendal, Mokh. Izzudin M.Pd, mereka sangat merindukan mendiang Gus Dur.

KOKAM Tegal

“Dulu ketika peletakan batu pertama sekolah ini, Gus Durlah yang turut hadir dan mendoakan, kini Gus Dur telah tiada, kami ingin dzurriyah Gus Dur yang hadir untuk mengobati kerinduan kami,” tuturnya.

Ketika tiba waktunya Nyai Shinta naik ke atas panggung untuk memberikan taushiyah, hadirin dibuat hening seketika. Melihat  kursi roda bergerak pelan ke depan, mereka terbayang Gus Dur yang dalam kondisi yang kurang sehat pun, selalu mampu memberikan ceramahnya yang menggugah.

KOKAM Tegal

“Saya ucapkan selamat dan mari kita memanjatkan syukur atas diresmikannya gedung ini,” tutur Nyai Shinta mengawali ceramahnya.

“Kalau membicarakan syukur, saya selalu teringat dengan Gus Dur,” lanjutnya yang membuat para hadirin mengerutkan kening. Ada yang menduga-duga bu Shinta tengah terbayang dengan suatu memori mengharukan terkait Gus Dur.

Masih dengan wajah yang datar, ia melanjutkan kalimatnya. “Gus Dur selalu bilang, sebenarnya kenapa syukur harus kita panjatkan?” 

Hadirin makin diliputi penasaran. Sebagian yang sudah paham arah pembicaraan bu Shinta, hanya tersenyum-senyum kecil.

“Ya kita memang harus memanjatkan syukur, karena syukur tidak bisa memanjat sendiri,” tuturnya yang sontak disambut tawa para hadirin. Usai menyampaikan kelakarnya sendiri, Nyai Shinta pun turut tertawa.

Barangkali dalam hati kecilnya, ia berbahagia karena menghadirkan kembali Gus Dur yang humoris ke tengah-tengah para hadirin yang memang tidak hanya merindukan sosok Gus Dur semata, tapi juga humor-humor Gus Dur yang cerdas dan menggelitik. Membuat para hadirin menumpahkan kerinduan mereka dengan tawa bahagia.  

Redaktur     : Hamzah Sahal

Kontrbutor   : Amalia Ulfah

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Kyai, Anti Hoax KOKAM Tegal

Jumat, 01 Desember 2017

Tiga Tahun Kemensos Berhasil Tutup 115 Lokalisasi

Tegal, KOKAM Tegal. Direktur Rehabilitasi Rehabilitasi Sosial Tuna Sosial dan Korban Perdagangan Orang (RSTS & KPO) Kemensos RI Dr. Sonny W. Manalu menyebutkan, dalam kurun waktu tiga tahun, Kementerian Sosial RI nutupan 115 lokalisasi dari 168 yang ada di Indonesia. Dia berharap pada 2019 nanti, Indonesia bisa bebas dari prostitusi

"Kementerian Sosial mencatat, penutupan lokalisasi di Tegal ini merupakan yang ke 115 dari 168 lokalisasi yang ada di seluruh Indonesia,” ujarnya saat mewakili Menteri Sosial, Khofifah Indar Parawansa pada penutupan lokalisasi dan penyerahan bantuan bagi eks penghuni lokalisasi di Kabupaten Tegal, Jumat (19/5).?

Kementerian Sosial juga akan mendukung sepenuhnya pemerintah kabupaten dan kota di Indonesia yang akan menutup tempat pelacuran. Targetnya, Indonesia bebas Prostitusi pada tahun 2019 mendatang.

Tiga Tahun Kemensos Berhasil Tutup 115 Lokalisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Tiga Tahun Kemensos Berhasil Tutup 115 Lokalisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Tiga Tahun Kemensos Berhasil Tutup 115 Lokalisasi

Sonny mengapresiasi langkah Pemkab Tegal dalam merehabilitasi lokalisasi prostitusi. Menurutnya penutupan lokalisasi di Kabupaten Tegal berjalan sukses, aman, dan tertib. Kemensos meminta setelah penutupan harus dilakukan evaluasi dan pemantauan.?

"Saya saat melakukan penutupan lokalisasi di Jambi, diculik oleh paguyuban germo dan mucikari selama dua hari. Penutupan di Kabupaten Tegal ini paling teduh dan damai," ungkapnya.

KOKAM Tegal

Sementara Wakil Bupati Tegal Hj. Umi Azizah menuturkan, penghentian permanen lokalisasi prostitusi pada hari ini bukan saja karena adanya momentum bulan suci Ramadhan, tetapi juga untuk mendukung terbebasnya Kabupaten Tegal dari lokalisasi prostitusi sebagai bagian dari program nasional yang mentargetkan seluruh wilayah di tanah air terbebas dari lokalisasi prostitusi Tahun 2019.

"Saya berharap, pasca penghentian lokalisasi prostitusi ini, masyarakat setempat tetap dapat membuka usaha ekonomi produktifnya, menjalankan bisnis dan usahanya tanpa melanggar Peraturan Daerah Nomor 7 Tahun 2011 tentang Ketertiban Umum. Untuk itu, dukungan seluruh elemen masyarakat sangat diperlukan agar proses menuju kemandirian tersebut cepat terbangun," imbuh Ketua PC Muslimat NU Tegal ini. (Hasan/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal

KOKAM Tegal Anti Hoax, Kyai KOKAM Tegal

Selasa, 28 November 2017

Khofifah Besuk Kinara, Balita Selamat Pembunuhan Satu Keluarga di Medan

Medan, KOKAM Tegal. Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa membawakan mainan masak-masakan dan diecast pesawat berwarna putih untuk Balita Kinara (4) korban selamat pembunuhan sekeluarga di Medan, Sabtu (15/4).?

Khofifah menjenguk Kinara sekembalinya dari Aceh Tenggara mengunjungi korban longsor dan banjir bandang. Kirana dirawat di RSUP H Adam Malik Medan setelah menjalani operasi pembekuan darah di bagian kepala.?

Khofifah Besuk Kinara, Balita Selamat Pembunuhan Satu Keluarga di Medan (Sumber Gambar : Nu Online)
Khofifah Besuk Kinara, Balita Selamat Pembunuhan Satu Keluarga di Medan (Sumber Gambar : Nu Online)

Khofifah Besuk Kinara, Balita Selamat Pembunuhan Satu Keluarga di Medan

"Dua mainan itu adalah permintaan khusus Kinara jadi sebisa mungkin dipenuhi, terutama diecast pesawat berwarna putih," ungkap Khofifah.?

Khofifah juga membawakan tas sekolah, tempat makan dan minum, buku cerita anak, susu, dan pampers. Seluruh bingkisan itu sengaja dibawa Khofifah guna menghibur Kinara.?

KOKAM Tegal

Melihat bingkisan tersebut, Kinara langsung meresponnya lalu bangun dan ikut bermain. Balita perempuan tersebut terlihat begitu gembira.?

Menurut Khofifah, Balita Kinara dipastikan mengalami trauma mendalam setelah menyaksikan pembunuhan kejam yang dilakukan oleh Andi Lala yang masih memiliki hubungan saudara.?

"Kami akan lakukan assesmen terlebih dahulu, setelah itu dilakukan pendampingan oleh tim psikososial," ujarnya.

Lama pendampingan, lanjut dia, minimal dilakukan selama tiga bulan kedepan. Setelah itu, akan dilakukan secara berkala sesuai keadaan psikologi Kinara.?

Menurut Khofifah, hal terpenting saat ini adalah memastikan Kinara memperoleh perlindungan, pengasuhan, dan pemenuhan kebutuhan utamanya dari keluarga inti. Dengan demikian kesejahteraan Kinara dapat lebih terjamin.?

KOKAM Tegal

"Saya harap keluarga yang ditunjuk menjadi wali bisa memberikan perlindungan dan pengasuham yang baik kepada Kinara," tuturnya.?

Sebelumnya, kejahatan menimpa dan menewaskan satu keluarga di Medan, Ahad (9/4/2017) lalu. Para korban adalah pasangan suami istri Riyanto (40) dan Sri Ariyani (35), serta dua anak, Naya (13), dan Gilang (8). Mereka warga Jalan Kayu Putih, Gang Benteng, Mabar, Medan Deli. Sumarni (60), mertua Riyanto, juga meninggal. Mereka warga Jalan Kayu Putih, Gang Benteng, Mabar, Medan Deli.?

"Semoga seluruh korban diterima Allah SWT dan Kirana bisa melanjutkan hidup lebih baik dan mampu melupakan kejadian ini," tutup Khofifah. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Budaya, Kyai, IMNU KOKAM Tegal

Sabtu, 25 November 2017

Mahasiswa Sunan Pandanaran Ngaji Otobiografi Gus Dur

Sleman, KOKAM Tegal. Mahasiswa STAI Sunan Pandanaran (Staispa) ngaji Karakter Santri ala Gus Dur, Selasa (1/9) malam. Mereka mengangkat karya Greg Barton Autobiography of Abdurrahman Wahid sebagai rujukan diskusi. Mereka mengawalinya dengan tawasulan yang ditujukan kepada para ulama dan kiai-kiai Nusantara, terutama Gus Dur.

Pemandu Ngaji Gus Dur Dr. Suhadi Cholil mengatakan, dari karya Greg Barton ini kita hanya mengambil empat bab yang dirasa penting. Kegiatan ini juga menggunakan metode khas pesantren yakni model bandongan.

Mahasiswa Sunan Pandanaran Ngaji Otobiografi Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahasiswa Sunan Pandanaran Ngaji Otobiografi Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahasiswa Sunan Pandanaran Ngaji Otobiografi Gus Dur

"Ngaji Gus Dur ini bisa juga disebut ngaji sirah (riwayat). Sebab, kita akan menyelami sosok Gus Dur melalui buku ini untuk menggali berbagai perilaku dan pemikiran Gus Dur sebagai teladan. Selain itu kita juga sekaligus dapat belajar bahasa Inggris melalui buku ini," terangnya.

KOKAM Tegal

Dari seorang Gus Dur, lanjutnya, kita dapat melihat sosok yang dengan jerih payah serta teguh dalam mengabdikan ilmu dan masyarakat. Gus Dur juga merupakan seorang yang sangat mencintai ilmu dan masyarakat. Itu yang perlu kita tiru, sebagai generasi penerus bangsa.

Menurut dosen CRCS program pasca sarjana UGM ini, santri hari ini harus mampu berbahasa asing. Karena untuk menggaungkan Islam Nusantara, penguasaan bahasa asing merupakan komponen yang sangat penting.

KOKAM Tegal

"Sebab, saya melihat karya-karya para Ulama Nusantara, sekarang banyak yang telah dialihbahasakan ke bahasa asing. Di antaranya, karya Syeikh Nawawi al-Bantani yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang, pada saat saya berkesempatan berkunjung ke sana. Karya Syeikh Ihsan Jampes juga telah ada terjemahannya dalam bahasa asing, dan lain sebagainya. Hal demikian baik, apalagi jika santri yang melakukan itu," pungkasnya. (Anwar Kurniawan/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Kyai KOKAM Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs KOKAM Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik KOKAM Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan KOKAM Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock