Tampilkan postingan dengan label Ubudiyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ubudiyah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 Februari 2018

Manipulasi Naskah, Siasat Belanda Hancurkan Pesantren

Subang, KOKAM Tegal. Ketika meneliti sejarah Islam Nusantara, Agus Sunyoto menyimpulkan bahwa pesantren adalah elemen bangsa Indonesia yang tidak pernah terjajah oleh kolonial. Pesantren malah melakukan perlawanan.

Ketika sampai akhirnya Belanda tidak mampu mengatasi perlawanan itu, terutama pasca penangkapan Pangeran Diponegoro, kolonial Belanda membuat strategi baru yaitu melalui perang ideologi dengan cara memanipulasi sejarah.

Manipulasi Naskah, Siasat Belanda Hancurkan Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Manipulasi Naskah, Siasat Belanda Hancurkan Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Manipulasi Naskah, Siasat Belanda Hancurkan Pesantren

Maka, kata Agus, sejak saat itu Belanda membuat naskah-naskah kuno manipulatif dengan tujuan untuk mengkerdilkan kalangan pesantren.

KOKAM Tegal

"Misalnya ada pegawai jabatannya jaksa namanya Mas Ngabehi Purwowijoyo. Dia diberi tugas membikin Babad Kediri,” katanua di hadapan para Mahasiswa Pascasarjana STAINU Jakarta Kelas Ciganjur, Jumat (28/11)

Dalam Babad Kediri, Sunan Bonang, Sunan Giri itu dijelek-jelekkan. Dakwah Islam itu jelek karena merusak tatanan masyarakat dan seterusnya. “Naskah kolonial itu yang bikin pegawainya Belanda," tambahnya.

KOKAM Tegal

Dari Babad Kediri ini, lanjut Agus, lahirlah naskah-naskah baru buatan Belanda yang cenderung mendiskreditkan Wali Songo, diantaranya adalah Serat Darmogandul, Serat Syekh Siti Jenar, Kronik Klenteng Sam Po Kong.

Dalam naskah yang disebut terakhir itu diceritakan Wali Songo adalah utusan Kaisar China untuk meruntuhkan Majapahit. Intinya menyebutkan Wali Songo itu pengkhianat.

Menurut Agus, tujuan dibuat naskah-naskah itu adalah untuk memecah belah kalangan pesantren. "Semua bikinan Belanda ini, nggak ada dalam kenyataan. Saya pernah ngejar ini (Kronik Klenteng Sam Po Kong) sampai ke Leiden, Denhaag karena menurut kabar ada di sana, ternyata nggak ada di sana" cerita Agus.

Untuk menelusuri naskah kronik ini, Agus menanyakan ke beberapa Sejarawan, termasuk sejarawan Belanda yaitu De Graaf. Menurut Agus, ketika ditanya tentang naskah kronik, De Graaf hanya tertawa saja karena memang naskah itu adalah fiktif dan tidak ada.

Diceritakan bahwa seorang Residen yang bernama Portman merampas naskah itu dan menurut De Graaf, tidak ada Residen yang bernama Portman. "Saya jadikan kunci itu, saya datang ke Arsip Nasional, saya cari namanya Almanak Van Netherlandsch Indie, 1810 sampai 1942 tiap tahun mengeluarkan almanak yang menceritakan Residen-residen di berbagai daerah,” lanjutnya.

Setelah ia meneliti bupati, wedono, pejabat pemerintah di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, ternyata memang tidak ada residen yang bernama Portman.

“Bohong, naskahnya nggak ada. Portman juga tidak pernah ada. Tujuannya untuk menghancurkan Islam, menjelek-jelekan Wali Songo," tukasnya.

Selain itu, tambah Agus, pada tahun 1860 Belanda secara khusus mengeluarkan naskah Kidung Sunda. Setelah diteliti, ternyata yang bikin orang Bali. Isinya menceritakan tentang Peristiwa Bubat, yaitu Gajah Mada membunuh Raja Sunda sekeluarga dan pasukannya.

"Itu cerita fiktif, rekayasa Belanda. Belanda yang bikin pasti tujuannya devide et impera, memecah belah. Jadi kita harus hati-hati sama naskah kolonial, uji dulu, kita harus mengkompilasi dengan data lain," pungkasnya (Ais Luthfi/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Ubudiyah KOKAM Tegal

Minggu, 11 Februari 2018

Munas NU: Haram Pilih Pemimpin yang Gagal

Cirebon, KOKAM Tegal?

Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) NU 2012 menegaskan hukum haram untuk pemilihan calon pemimpin yang mengabaikan kepentingan rakyat secara umum, cenderung memanfaatkan jabatannya untuk kepentingan pribadi, dan gagal dalam melaksanakan tugas sebelumnya.

Keputusan tersebut dibacakan Sekretaris Komisi Bahtsul Masail ad-Diniyah al-Waqi’iyah KH Arwani Faishal dalam sidang pleno terakhir Munas dan Konbes NU 2012 di Pondok Pesantren Kempek Cirebon, Senin (17/9). Sidang dikuti sedikitnya 600 peserta dari unsur pengurus NU dan ulama-ulama nonstruktural.

Munas NU: Haram Pilih Pemimpin yang Gagal (Sumber Gambar : Nu Online)
Munas NU: Haram Pilih Pemimpin yang Gagal (Sumber Gambar : Nu Online)

Munas NU: Haram Pilih Pemimpin yang Gagal

Kepada forum, Arwani menyampaikan, tidak boleh mencalonkan diri, dicalonkan, dan dipilih untuk menduduki jabatan publik atau urusan rakyat/umat orang yang mengidap sifat-sifat seperti itu.?

KOKAM Tegal

“Larangan tersebut karena beberapa hal di atas membuktikan bahwa ia adalah calon yang tidak jujur, tidak terpercaya, suka berkhianat dan tidak memiliki keahlian,” sambungnya.

Sumber keputusan didasarkan pada dalil al-Qur’an dan Sunnah, dilengkapi dengan pendapat ulama (aqwal ulama), seperti termaktub dalam kitab Raudlatut Thalibin, Is’adur Rafiq, dan sejumlah kitab lainnya.

KOKAM Tegal

Selain tentang memilih calon pemimpin, peserta Munas juga memutusan berbagai persoalan aktual (masail waqi’iyah) lain. Di antaranya, risywah atau suap politik yang berkedok zakat atau sedekah, hukuman mati bagi koruptor, syariat Islam mengenai kekayaan negara, pemenuhan kesejahteraan rakyat oleh pemerintah, pematokan harga beras, dana talangan haji, dan ihwal pembunuhan karakter. Proses bahsul masail yang diikuti para kiai ini sudah dimulai sejak Ahad pagi.

Redaktur : A. Khoirul Anam

Penulis ? ? : Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Bahtsul Masail, Ubudiyah, Nasional KOKAM Tegal

Sabtu, 10 Februari 2018

Soal FDS, Presiden Jokowi Tak Cukup Hanya Bilang Terserah

Jember, KOKAM Tegal - Program Full Day School (FDS) yang digagas Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendi, terus menggelinding bak bola liar. Di mana-mana sejumlah elemen masyarakat dan kalangan pesantren menolak pemberlakuan FDS.

Kendati Presiden Jokowi di berbagai statemennya belakangan ini agak "melunak" dengan memberikan kebebasan pada lembaga pendidikan untuk tidak mengikuti program FDS, tapi tampaknya itu belum cukup membuat penolak FDS tenang.

Soal FDS, Presiden Jokowi Tak Cukup Hanya Bilang Terserah (Sumber Gambar : Nu Online)
Soal FDS, Presiden Jokowi Tak Cukup Hanya Bilang Terserah (Sumber Gambar : Nu Online)

Soal FDS, Presiden Jokowi Tak Cukup Hanya Bilang Terserah

(Baca: Tak Ada Ketentuan Penerapan Opsional dalam Permendikbud Lima Hari Sekolah)?

Penolakan terbaru terhadap pelaksanaan FDS datang dari ulama dan pengurus NU se-eks Karesidenan Besuki. Dalam rapat koordinasi PCNU se-eks Karesidenan? Besuki yang terdiri atas PCNU Jember, Banyuwangi, Kencong, Situbondo, dan Bondowoso di ruang pertemuan RSNU Banyuwangi, Ahad (13/8), mereka sepakat? menolak penerapan FDS.

KOKAM Tegal

Menurut perwakilan PCNU Jember Moch Kholili, selain menolak dengan sejumlah alasan, mereka juga memandang Presiden Jokowi tidak cukup hanya menyatakan bahwa lembaga pendidikan tidak wajib mengikuti program FDS, pemerintah tidak memaksakan lembaga pendidikan untuk mengikuti FDS dan sebagainya. Tetapi yang terpenting adalah harus ada keputusan tentang pencabutan peraturan FDS.

KOKAM Tegal

"Sebab, kalau lembaga di Indonesia sebagian ada yang mengikuti FDS, sebagian lagi tidak, nanti akan kacau, dan cenderung terjadi polarisasi. Presiden jangan setengah-setengah. Tak cukup hanya bilang teserah. Kalau memang ikut menolak, ya tolak. Jika memang setuju FDS, ya terapkan. Tapi kami bulat menolak FDS," kata Kholili kepada KOKAM Tegal.

Sementara itu, Koorinator PCNU se-eks Karesidenan Besuki, KH Syadid Jauhari menilai bahwa pemberlakuan FDS pada akhirnya mengancam keberlangsungan madrasah diniyah yang selama ini terbukti unggul dalam mendidik karakter anak bangsa.

"Selain itu, kami juga tidak melihat upaya penguatan karakter pada penerapan FDS tersebut," ungkapnya. (Aryudi A Razaq/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal PonPes, Ubudiyah, Nahdlatul Ulama KOKAM Tegal

Kamis, 08 Februari 2018

Pemkab Brebes Gelontorkan Rp 4 Miliar untuk Guru Ngaji

Brebes, KOKAM Tegal. Pemerintah Kabupaten Brebes menggelontorkan dana bantuan untuk guru ngaji sebesar Rp 4 Milyar. Bantuan tersebut diberikan sebagai tanda terima kasih kepada para guru ngaji yang telah mengabdi selama 1 tahun.  Pemkab memandang guru ngaji telah berjasa membangun rohani sehingga melahirkan generasi qurani.

Bantuan secara simbolis diberikan Bupati Brebes Hj Idza Priyanti SE dan Wakil Bupati Narjo pada saat pembinaan guru ngaji di Aula Kantor Kecamatan Brebes, Rabu (8/10).

Pemkab Brebes Gelontorkan Rp 4 Miliar untuk Guru Ngaji (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemkab Brebes Gelontorkan Rp 4 Miliar untuk Guru Ngaji (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemkab Brebes Gelontorkan Rp 4 Miliar untuk Guru Ngaji

Bupati beralasan, menjadi guru mengaji di masjid dan mushola yang kerap dilakoni para ustadz dan kiai NU didasari atas niat ikhlas, tanpa berharap imbalan atau lillahi taala. Namun atas keikhlasan tersebut justru menjadi perhatian Pemkab Brebes sehingga digulirkanlah dana stimulan bagi guru ngaji.

KOKAM Tegal

Dalam kata sambutannya, Bupati mengucapkan terima kasih kepada para guru ngaji yang dengan ikhlas telah meluangkan waktunya mencurahkan ilmu kepada umat Islam yang belajar membaca Al Quran. Dengan telaten para guru ngaji setiap hari mentransfer ilmunya di masjid, mushola maupun rumah masing-masing. “Bantuan yang tidak seberapa ini, mudah-mudahan menambah barokah,” kata Bupati.

Idza menjelaskan, pemberian bantuan sebagai realisasi dari program enam pilar pemerintah kabupaten Brebes. Sekaligus sebagai penghargaan kepada para ngaji sebagai bukti penyeimbang antara pembangunan jasmani dan pembangunan rohani.

KOKAM Tegal

Bantuan diberikan kepada 8000 guru ngaji se-Kabupaten Brebes. Kalau tahun lalu hanya 5000 orang, tahun 2014 bertambah menjadi  8000 orang. “Ini berarti ada penambahan 3000 orang atau Rp 1,5 Milyar,” paparnya.

Tiap orang, lanjutnya, mendapatkan bantuan Rp 500 ribu per tahun. Para guru yang mendapatkan stimulan berdasarkan usulan dari lebe (kaur kesra) di masing-masing desa atas persetujuan kepala desa. Mekanismenya, yang bersangkutan, dipilih secara selektif. Selanjutnya diserahkan kepada Kecamatan masing-masing untuk diusulkan kepada Bupati. (Wasdiun/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Tokoh, Ubudiyah, Quote KOKAM Tegal

Selasa, 06 Februari 2018

Terkait ISIS, Gus Ipul: Laporkan Pendatang Baru yang Mencurigakan

Jember, KOKAM Tegal. Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf mengatakan, pihaknya menentang keras kehadiran kelompok garis keras ISIS di Indonesia. Gubernur Jatim telah menerbitkan Peraturan Gubernur Nomor 51/2014 yang intinya melarang ISIS masuk dan berkembang di Jawa Timur.

Terkait ISIS, Gus Ipul: Laporkan Pendatang Baru yang Mencurigakan (Sumber Gambar : Nu Online)
Terkait ISIS, Gus Ipul: Laporkan Pendatang Baru yang Mencurigakan (Sumber Gambar : Nu Online)

Terkait ISIS, Gus Ipul: Laporkan Pendatang Baru yang Mencurigakan

"Pergub itu bisa dijadikan dasar bagi aparat penegak hukum untuk melarang dan menolak ISIS, termasuk faham radikal yang dikembangkan oleh pengikut ISIS," jelas Gus Ipul, sapaan akrab Saifullah Yusuf di sela acara seminar internasional tentang? gerakan radikalisme di aula STAIN Jember kemarin (25/8).

Secara pribadi, ia mengaku gerah dengan sepak terjang ISIS. Menurutnya, tindakan ISIS yang kerap memaksakan kehendaknya, bahkan tak segan-segan berlaku brutal dalam mencapai tujuannya, sungguh tidak bisa dipahami. ISIS yang mengklaim sebagai organisasi pemerintahan Islam itu, justru sama sekali tidak mencerminkan ajaran Islam.

KOKAM Tegal

"Ajaran Islam itu lembut, penuh kasih sayang. Bukan main kekerasan. ISIS itu mengkoyak-koyak kedamaian," tukasnya.

KOKAM Tegal

Gus Ipul meminta masyarakat untuk berperan aktif dalam mengantisipasi masuknya ISIS, dengan cara mewaspadai dan melaporkan pendatang? baru jika terdapat tanda-tanda yang mencurigakan. "Kalau ada pendatang misterius, dan gerak-geriknya mencurigakan, cepat laporkan ke aparat? terdekat," urainya.

Sementara itu, Ketua STAIN Jember, Babun Suharto mengungkapkan, seminar internasional tersebut merupakan wujud upaya membendung? paham Islam radikal seperti ISIS dan sejensinya. "Memang mereka ingin mendirikan negara Islam. Itu bertentangan dengan Pancasila," ujarnya. (Aryudi A. Razaq/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Ubudiyah KOKAM Tegal

Kamis, 01 Februari 2018

BHNU: Sertifikasi Halal NU bukan Kesempatan Ekonomi, tapi Perlindungan

Jakarta, KOKAM Tegal. Pembentukan Badan Halal NU (BHNU) didasari atas kebutuhan pelayanan kepada masyarakat, bukan untuk tujuan pencarian keuntungan dalam upaya perlindungan konsumen Muslim untuk memperoleh produk yang sesuai dengan ketentuan syariah.

Ketua BHNU Prof Dr Maksum Mahfudh menegaskan, urusan labelisasi halal sama sekali bukan kesempatan ekonomi, tetapi proteksi konsumen dan promosi produsen. Konsumen harus diproteksi dari makanan yang tidak halal sekaligus ikut mempromosikan agar konsumen mencari produk yang sudah halal sehingga produsen yang memiliki sertifikat halal akan mendapat nilai tambah.

BHNU: Sertifikasi Halal NU bukan Kesempatan Ekonomi, tapi Perlindungan (Sumber Gambar : Nu Online)
BHNU: Sertifikasi Halal NU bukan Kesempatan Ekonomi, tapi Perlindungan (Sumber Gambar : Nu Online)

BHNU: Sertifikasi Halal NU bukan Kesempatan Ekonomi, tapi Perlindungan

“Kita harus mempromosikan pentingnya mengkonsumsi produk halal kepada masyarakat, tetapi proses produksi halal ini akan menyebabkan harga produknya lebih tinggi daripada produk yang tidak dijamin kehalalannya. Kita mengedukasi masyarakat tentang jaminan produk halal ini, jangan sampai yang halal malah tidak laku karena harganya lebih tinggi,” paparnya, Jum’at (28/3).

KOKAM Tegal

Menurutnya, sertifikasi halal merupakan urusan privat yang kini sudah bisa dilakukan oleh masyarakat tanpa campur tangan negara dengan baik, sedangkan negara mengurusi public good yang tidak mampu dikelola secara langsung oleh masyarakat. Dalam rancangan UU Jaminan Produk Halal (JPH), Pemerintah melalui Kementarian Agama masih berusaha berperan sebagai regulator, sekaligus sebagai operator JPH. 

“Biarlah negara sebagai regulator, pengawas, dan pengendali. Kalau negara berperan sebagai regulator sekaligus operator, rawan penyalahgunaan,” tandasnya. 

KOKAM Tegal

Dengan perspektif sertifikasi halal sebagai pelayanan, maka tidak ada fee atau penambahan biaya yang tidak perlu yang harus dikeluarkan kepada produsen yang ingin mendapatkan sertifikasi halal dari NU. Biaya yang muncul semuanya terkait secara langsung dengan operasional proses sertifikasi. Andi Najmi, direktur hukum BHNU sangat mendukung pemberian label halal sebagai bentuk pelayanan ini. Jika perspektif ini yang dipakai, maka tidak akan ada rebutan pengelolaan label halal. 

“Saya mencurigai draft RUU JPH saat ini punya kecenderungan berorientasi pada pendapatan, salah satunya ada yang ketentuan Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP), padahal produsen sudah membayar pajak. Ini bukan unsur perlindungannya yang ditekankan dan pada akhirnya, beban ini harus ditanggung oleh konsumen,” tandasnya.

Selanjutnya ia meminta agar sertifikasi halal dibuka untuk semua ormas yang memenuhi syarat, bukan monopoli MUI, yang posisinya dalam UU Ormas juga organisasi massa dan bukan menjadi suprastruktur organisasi lain seperti NU dan Muhammadiyah. Diantara persyaratan yang diusulkannya adalah memiliki jamaah atau anggota, memiliki sistem dan standar halal sementara untuk laboratorium halal bisa bekerjasama dengan pihak lain. 

“Kalau punya fatwa tapi tidak memiliki anggota atau jamaah yang mengikutinya bagaimana,” tanyanya.

Ia mencontohkan, di Australia terdapat banyak sembilan badan sertifikasi halal dan semuanya berjalan baik. Dengan banyaknya lembaga sertifikasi, produsen dan konsumen akan bisa menilai mana lembaga yang memberi pelayanan yang baik dan mana yang tidak. 

“Memang perlu aturan yang menjadi panduan bersama, seperti apakah boleh ada produk yang mendapat sertifikasi halal lebih dari satu dan jika ditolak, apa boleh meminta ke lembaga lain dalam waktu yang bersamaan. Nanti regulator yang akan mengaturnya,” katanya.

Ia sepakat dengan adanya profesionalitas dan transparansi pelayanan, termasuk keuangan karena setiap warga negara berhak meminta informasi terhadap lembaga publik. “Jangankan terhadap BHNU, laporan keuangan PBNU pun kita kasih.”

Bagi perusahaan yang sudah mendapat sertifikasi halal, BHNU setiap tahun akan melakukan uji sampling, tetapi berbeda dengan uji statistik yang memiliki standar error tertentu. Tingkat kehalalan harus dijamin 100 persen, karena itu, ketika ada satu sampel yang ditemukan tidak memenuhi standar halal, maka harus dilakukan pemeriksaan secara keseluruhan. 

Seluruh proses halal tersebut, melibatkan Dewan Tahkik atau dewan pengawas yang terdiri dari para kiai kompeten, ahli kimia, ahli pangan, maupun teknik industri yang telah berpengalaman dalam sertifikasi halal. Saat ini, bidang garapannya terbagi pada pangan dan obat-obatan yang masing-masing dipimpin oleh satu orang direktur.

Bagi perusahaan yang ingin mengajukan sertifikasi halal, mereka dapat mengunduh formulir yang ada di www.nu.or.id yang selanjutnya bisa dikirim via email atau surat ke kantor BHNU gedung PBNU lt 5 jl Kramat Raya 164 Jakarta Pusat.

Dalam waktu dekat, BHNU akan memperluas jaringannya dengan membentuk badan halal di tingkat propinsi atau cabang atau setara dengan kabupaten kota dengan prioritas ditempat tersebut sudah terdapat laboratorium uji halal sehingga biayanya lebih efisien. (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Ubudiyah, Nahdlatul, Humor Islam KOKAM Tegal

Senin, 22 Januari 2018

Ini Pendapat Kiai Said Terkait Ormas yang Mengancam Keutuhan NKRI

Jakarta, KOKAM Tegal. Indonesia adalah negara yang menjadikan Pancasila sebagai dasar negara. Ini sudah menjadi kosepakatan bersama para pendiri bangsa ini untuk menjadikan Indonesia sebagai negara agama yang relijius. Bukan negara agama secara formal ataupun negara sekuler saja. Para pendiri bangsa yang terdiri dari perwakilan Islam, Kristen, Katolik, Hindu, dan Buddha menyepakati Pancasila sebagai falsafah negara. Tentu, ini sudah melalui perdebatan yang panjang.?

Namun, belakangan ini ada kelompok-kelompok yang berusaha mengubah Pancasila sebagai dasar negara Indonesia. Bahkan, secara terang benderang mereka menolak pemerintahan Indonesia yang sah. ? ?

Ini Pendapat Kiai Said Terkait Ormas yang Mengancam Keutuhan NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Pendapat Kiai Said Terkait Ormas yang Mengancam Keutuhan NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Pendapat Kiai Said Terkait Ormas yang Mengancam Keutuhan NKRI

Menanggapi hal itu, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj menyatakan, ia meminta pemerintah untuk tegas melarang setiap kelompok yang berusaha untuk menggerogoti keutuhan Negara Kesatuan Indonesia.?

“Kalau saya sejak dulu meminta pemerintah untuk melawan siapa saja yang merongrong keutuhan NKRI,” katanya di Lantai 3 Gedung PBNU Jakarta, Senin (10/4).

Menurutnya, tujuan kelompok tersebut dengan tujuan Indonesia itu bertolak belakang. Maka dari itu, pemerintah Indonesia harus menindak tegas agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. “Ide, agenda, dan tujuan mereka jelas-jelas bertentangan dengan Indonesia,” ucapnya.

KOKAM Tegal

Jika pemerintah mengambil tindakan tegas kepada kelompok tersebut, jelas Kiai Said, NU akan mendukung penuh keputusan itu. “Kita selalu sejalan dengan konstitusi. Tidak boleh bergeser dari itu,” terangnya.

NU, lanjut dia, memiliki dua amanat, yaitu amanat untuk memperjuangkan Islam dan amanat untuk menjaga keutuhan dan persatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia. (Muchlishon Rochmat/Abdullah Alawi) ?

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal

KOKAM Tegal Ubudiyah KOKAM Tegal

Minggu, 14 Januari 2018

Meski Geram Karena Dihujat, Kepala Banser Batam Tetap Dingin

Batam, KOKAM Tegal

Sejumlah anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau meradang atas ujaran kebencian dilontarkan YD, seorang jurnalis perempuan di daerah itu melalui akun media sosialnya.

Meski Geram Karena Dihujat, Kepala Banser Batam Tetap Dingin (Sumber Gambar : Nu Online)
Meski Geram Karena Dihujat, Kepala Banser Batam Tetap Dingin (Sumber Gambar : Nu Online)

Meski Geram Karena Dihujat, Kepala Banser Batam Tetap Dingin

YD dalam statusnya mempertanyakan Banser pernah mengaji atau tidak. Ia juga mempertanyakan apakah Banser kumpulan preman yang menjual agama. Dalam statusnya itu pula, perempuan berasal dari Provinsi Riau tersebut menuding Banser ialah kumpulan orang menyebalkan sehingga pantas dibubarkan.

“Pernyataan yang bersangkutan karena reaksi spontan menanggapi isu pembubaran pengajian Khalid Basalamah oleh GP Ansor Sidoarjo, Jawa Timur. Namun kita giring terus untuk fokus pada subtansi masalah,” papar Alumni Susbanpim II PP GP Ansor, Khoirul Anam, di Batam, Senin (6/3).

Pertemuan dengan YD bisa dilakukan atas mediasi mantan Ketua GP Ansor Kota Batam yang merupakan general manager tempat YD bertugas.

“Insya Allah, kami mengedepankan rasa kekeluargaan dengan YD kendati awalnya alot dan menolak didokumentasikan. Bahkan yang bersangkutan sempat akan meninggalkan lokasi mediasi. Kami tegaskan, jika tidak mau menyelesaikan secara kekeluargaan, kami akan membawanya ke ranah hukum,” papar Anam.

KOKAM Tegal

YD akhirnya mengurungkan niat meninggalkan lokasi mediasi dan selanjutnya membuat surat pernyataan permohonan maaf dan tidak akan mengulangi ujaran kebencian. Pernyataan itu ditandangani yang bersangkutan serta bermaterai.

Penolakan terhadap Khalid Basalamah tak hanya terjadi di Sidoarjo. Tapi juga di beberapa tempat seperti di Gresik, Surabaya, dan Mojokerto, Jawa Timur.

KOKAM Tegal

Kapolresta Sidoarjo Kombespol Anwar Nasir, sebagaimana dilansir Republika menegaskan pihaknya sudah menyarankan agar Khalid tak berceramah pada pengajian Sabtu (5/3) pagi di Masjid Shalahudin Sidoarjo.

Saran itu disampaikan kepolisian kepada panitia karena adanya penolakan dari GP Ansor Sidoarjo.

“Ketegangan memang ada. Tapi tidak ada pembubaran jamaah pengajian. Jamaah tetap di masjid karena panitia hanya meminta Khalid menghentikan ceramah,” tegas Kapolresta.

Ketua PC GP Ansor Sidoarjo, Riza Ali Faizin menyayangkan informasi beredar di sejumlah media tidak sesuai fakta di lapangan.

“Berita yang beredar di media kita melakukan pembubaran dan bentrok bahkan merusak masjid. Masya Allah, tidak ada satu pun aset rumah Allah yang dirusak dan dikotori oleh Ansor dan Banser NU,” kata Riza menegaskan. (Gatot Arifianto/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Ubudiyah KOKAM Tegal

Kamis, 04 Januari 2018

Benarkah Narkoba Masuk Pesantren?

Oleh KH Ahmad Ishomuddin

Miris rasanya mendengar berita TV dan media cetak bahwa Komjen Budi Waseso (Kepala BNN) berencana mengumpulkan kiai dari seluruh Indonesia sebagai tindak lanjut dari adanya penyalahgunaan narkoba di pesantren di Jawa Timur. Saya berharap, mudah mudahan ucapan baik itu bukan untuk motif-motif politik yang tersembunyi.

Kepala BNN tentu tidak asal terima berita dan tidak asal membuat statemen yang bisa meresahkan umat Islam Se-Indonesia, khususnya warga NU, kepada lembaga pendidikan mana lagi umat Islam menyerahkan pendidikan putra putrinya jika benteng moral pondok-pondok pesantren justru runtuh dan berhasil dimasuki oleh sindikat narkoba?

Benarkah Narkoba Masuk Pesantren? (Sumber Gambar : Nu Online)
Benarkah Narkoba Masuk Pesantren? (Sumber Gambar : Nu Online)

Benarkah Narkoba Masuk Pesantren?

Sungguh menyedihkan jika pernyataan itu terbukti benar adanya, mengingat bahwa seluruh santri dan para kiai adalah manusia yang paling menjauhi minuman keras (miras), apalagi sampai menyalahgunakan narkoba, rasa-rasanya sebuah tuduhan dan rasa kuatir berlebihan yang jauh panggang dari api. Pondok pesantren selama ini adalah lembaga pendidikan agama Islam yang sudah terbukti dan berhasil mencetak generasi bangsa yang religius, berakhlak mulia dan punya jiwa nasionalisme yang tinggi.

Komjen Budi Waseso selaku Kepala BNN harus bisa membuktikan siapa kiai, santri dan tunjukkan pesantren mana di Jawa Timur yang menyalahgunakan narkoba. Berita tersebut tidak perlu dibesar-besarkan sehingga seolah penyalahgunaan narkoba di dunia pesantren sudah demikian massif. Sebab, pasti tidak masuk akal jika main pukul rata bahwa semua pesantren "dicurigai" atau dikuatirkan akan menjadi pusat peredaran narkoba yang oleh karenanya para kiai dari seluruh Indonesia perlu dikumpulkan.

Justru seluruh jajaran pemerintah, seperti Polri, Dirjen Bea Cukai dan lain-lain termasuk BNN sebagai leading sector nasional harus lebih optimal dan serius bekerja untuk mencegah dan memberantas maraknya produksi dan peredaran narkoba di seluruh Indonesia. BNN bersama Polri seharusnya lebih fokus dan rutin menangani dengan lebih tegas dan keras sindikat-sindikat atau mafia besar narkoba yang kini sudah memasuki fase paling membahayakan seluruh anak bangsa. Penegakan hukum harus lebih serius dan hukuman yang berefek jera wajib dijatuhkan kepada siapa pun--tanpa pandang bulu dan tebang pilih--yang terbukti memproduksi, mengedarkan atau menyalahgunakan narkoba.?

KOKAM Tegal

Pasti kita semua sepakat bahwa penyalahgunaan narkotika dan obat-obatan terlarang (narkoba) adalah musuh bersama dan karenanya menjadi tanggungjawab bersama. Perlu komitmen bersama yang bersifat nasional untuk lebih serius bekerjasama untuk mengoptimalkan pemberantasan narkoba.

Saya, sebagai Rais Syuriah PBNU, masih yakin seyakin-yakinnya, bahwa para santri dan para kiai di seluruh Indonesia terus bersatu menjadi benteng keutuhan NKRI yang mampu melindungi diri sendiri keluarga dan masyarakatnya dari serangan bertubi sindikat dan mafia narkoba. Saya percaya, Komjen Budi Waseso akan bekerjasama dan akan terus berkoordinasi untuk memberantas narkoba berdasarkan skala prioritas, memberantas tuntas yang kelas kakap hingga yang kelas teri tanpa tebang pilih.

Kepala BNN boleh mencemaskan isu masuknya sindikat narkoba ke dunia pesantren, tetapi tidak boleh dengan kecemasan yang berlebihan.

Selamat bertugas berat Bapak Komjen Budi Waseso, semua kiai tahu bahwa tugas nahi? anil munkar? (mencegah kemungkaran) itu jauh lebih berat dan beresiko dibandingkan sekedar? amru bil ma’ruf? (memerintahkan kebajikan).



KOKAM Tegal



Penulis adalah Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU)





Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Ubudiyah, Sholawat, Kajian KOKAM Tegal

Rabu, 03 Januari 2018

Lain Partai, Umat Harus Tetap Takzim Kiai-Politik

Solo, KOKAM Tegal. Pengasuh majelis Rijalul Ansor Solo Habib Muhammad Al-Habsyi mengimbau umat Islam untuk tetap menaruh rasa hormat kepada para kiai yang berbeda wadah partai dengan mereka. Karena, sebagai warga negara para kiai memiliki hak berpolitik di partai mana pun.

“Orang tidak lagi hormat dan patuh pada ulama. Apabila ada ulama di partai A, maka sebagian umat yang di partai B tidak menyukai ulama tersebut,” terang Habib Muhammad yang merupakan cucu penulis kitab Simthud Durar Habib Ali Al-Habsyi menyayangkan sikap umat Islam demikian, Rabu (5/3).

Lain Partai, Umat Harus Tetap Takzim Kiai-Politik (Sumber Gambar : Nu Online)
Lain Partai, Umat Harus Tetap Takzim Kiai-Politik (Sumber Gambar : Nu Online)

Lain Partai, Umat Harus Tetap Takzim Kiai-Politik

Menurutnya, keterlibatan para kiai di ranah politik praktis menjadi berkah tersendiri. Sekurangnya mereka dapat memperbaiki kondisi politik, yaitu mengisi pemerintahan dengan jiwa keulamaan.

KOKAM Tegal

Ia berharap, para ulama yang terjun dalam lingkar kekuasaan dapat meniru jejak para khalifah yang sukses menggabungkan kesalehan dan kekuasaan kendati tidak menutup fakta bahwa sebagian kiai belum berhasil mengharmoniskan keduanya. (Ajie Najmuddin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal

KOKAM Tegal Ubudiyah, Khutbah KOKAM Tegal

Senin, 01 Januari 2018

Mahasiswa NU di Unnes Dirikan FKMNU dan Resmikan MATAN

Semarang, KOKAM Tegal. Unit Kegiatan Mahasiswa Rebana Modern Universitas Negeri Semarang (Unnes) Jawa Tengah, PKPT IPNU-IPPNU Unnes, PK PMII Al-Ghazali, PK Matan Unnes, dan santri Ponpes Sunan Gunung Jati Baalawy berkumpul membentuk Forum Komunikasi Mahasiswa dan Santri Nahdlatul Ulama (FKMNU) Unnes.?

Mahasiswa NU di Unnes Dirikan FKMNU dan Resmikan MATAN (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahasiswa NU di Unnes Dirikan FKMNU dan Resmikan MATAN (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahasiswa NU di Unnes Dirikan FKMNU dan Resmikan MATAN

Dalam kegiatan ini, dilaksanakan juga pelantikan resmi Mahasiswa Ahlit Thoriqoh Almutabarah an-Nahdliyyah (MATAN) Komisariat Unnes dan diskusi bersama Sekretaris JATMAN Drs KH Masroni. Mereka berkumpul di komplek SMK Al-Asror Patemon, Gunungpati, Semarang.

Acara dimulai dengan pembacaan simtud duror sambil menunggu kedatangan tamu undangan. FKMNU yang setiap 35 hari sekali (selapan) selama setahun tujuh bulan ini menjadi ajang silaturahim antar organisasi yang berbasis NU di kampus.?

KOKAM Tegal

Walaupun MATAN sudah lama berada di Unnes, baru kali ini diresmikan dan dilantik oleh pengurus pusat JATMAN. Tampil sebagai ketua komisariat Muhammad Azarul Adib dengan periode 2015-2017.?

Kiai Roni yang juga Penggagas Matan bersama Mbah Dimyati Kaliwungu menyampaikan pemaparan bertema ‘Multikulturalisme Sebagai Penopang NKRI’. Dia memulainya dengan menyatakan, bahwa mahasiswa 10 tahun ke depan adalah pemimpin bangsa. Minimal menjadi pemimpin rumah tangga, maka pergunakan kesempatan muda sebaik mungkin.

KOKAM Tegal

Selanjutanya, Kiai Roni mencontohkan anggota tubuh yang normal itu terdiri dari berbagai macam hal yang kontradiksi namun dengan keseimbangan bisa berjalan dengan normal. Misalnya, kaki berada di bawah bertugas menjalankan langkah, apabila kaki kanan di depan maka kiri di belakang dan seterusnya.?

“Tentu berbeda fungsi dengan kepala dan otak yang memerintahkan seluruh pergerakan tubuh. Inilah ibarat multikulturalisme secara gampang, bila disatukan dan disinergikan akan menghasilkan kekuatan,” terangnya.

Bila dihubungkan dengan organisasi, lanjutnya, ini relevan bahwa kita tidak bisa meninggalkan adat istiadat bahkan multikulturalisme. Jangan sampai konseptor organisasi meninggalkan tugasnya dan seksi konsumsi melaksanakan tugas konseptor maka ini tak ubahnya kaki menjalankan pekerjaan otak dan sebaliknya.?

“Bila kita mau merubah sesuatu yang buruk di sekitar kita, kita bisa meneladani para Walisanga. Konteknya seperti wali dulu, kalau merubah jangan menyalahkan seseorang itulah watak seorang pendidik,” ujar Pengasuh Pesantren Sunan Gunung Jati Baalawy ini. (M. Zulfa/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Ubudiyah, Pemurnian Aqidah KOKAM Tegal

Sabtu, 23 Desember 2017

Jurnal Pesantren

Nama sebuah berkala yang diterbitkan oleh P3M, sebuah LSM di Jakarta yang memiliki perhatian pada pengembangan pesantren. Dalam daftar pengelolanya, tertulis nama KH Sahal Mahfudz ? sebagai Pemimpin Umum dan sebagai wakilnya Abdurrahman Wahid. Bertindak sebagai pemimpin redaksi M. Nashihin Hasan.

Sementara itu duduk di dewan redaksi ada Abdurrahman Wahid, Abdulllah Syarwani, Adi Sasono, M. Dawam Rahardjo, Djohan Effendi, Said Budairy, Soetjipto Wirosardjono, Zamakhsyari Dhofier, Musfihin Dahlan. Staf redaksinya Muntaha Azhari dan Abdul Mun’im Shaleh H. Dan Masdar F. Mas’udi sebagai pPemimpin usaha. Berkala ini beralamat di Jalan Anggrek Nelimurni V/B.83, Slipi, Jakarta.

Pada kulit sampulnya di bagian dalam dikemukakan bahwa, “Berkala ini diterbitkan sebagai media informasi dan komunikasi serta wadah pengajian untuk membangkitkan kepedulian dan wawasan pengembangan melalui jalur pemikiran yang bertolak pada titik pandang keagamaan....”?

Jurnal Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Jurnal Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Jurnal Pesantren

Dalam nomor perdana berkala ini, M. Nashihin Hasan sebagai Pemimpin Redaksi dalam rubrik “Assamualaikum” mengemukakan peran berkala ini sebagai media kajian dan dialog yang secara khusus ditujukan pada tiga bidang prioritas.

KOKAM Tegal

Pertama, kajian bidang sistem pendidikan Islam di Indonesia dengan proyeksi pada integrasi ke dalam sebuah sistem pendidikan nasional yang terpadu. Kedua, dialog di bidang pengabdian masyarakat dan pembentukan jaringan komunikasi. Dan ketiga, pembahasan bidang pemikiran keagamaan dan kemasyarakatan dengan proyeksi khusus pada penumbuhan etos kemasyarakatan sesuai tuntutan keadaan.

Dengan keinginan di atas, berkala ini menyajikan tulisan-tulisan ilmiah populer hasil penelitian, survei, hipotesis atau gagasan kratif yang menyangkut aspek pendidikan, pengembangan masyarakat, kepesantrenan, ilmu-ilmu keagamaan dan yang sejenisnya. Redaksi berkala ini secara terbuka mengundang para ahli, sarjana, kiai, praktisi, santri, maupun mahasiswa untuk menulis secara bebas di media ini, tetapi kebanyakan tulisan tampaknya hadir atas dasar permintaan redaksi secara khusus berkaitan dengan topik yang hendak dikemukakan.

KOKAM Tegal

Nomor perdana Pesantren terbit pada Oktober-Desember 1984 dengan sampul depan lukisan seorang kiai. Berkala berukuran 17,5 x 24,5 dengan bahan isi kertas buram dan sampul kertas karton, dan tebal 80-an halaman ini dijual dengan harga Rp 1.000.?

Dalam edisi perdana yang bertopik tradisi keilmuan di pesantren, setelah rubrik “Mukaddimah” yang berisi semacam editorial redaksi, hadir rubrik “Artikel” yang diisi empat tulisan masing-masing dari Abdurrahman Wahid, Nurcholish Madjid, Zamakhsyari Dhofier, dan Masdar F. Mas’udi. Semuanya membahas tradisi dan pengembangan keilmuan di pesantren.?

Kemudian rubrik “Wawasan” diisi wawancara dengan KH Aziz Mashuri, Tholhah Mansur, Habib Chirzin, dan A. Syafii Ma’arif. Lalu rubrik “Profil Tokoh” diisi tulisan mengenai sosok KH Bisri Sansuri, rubrik “Sosok Pesantren” diisi ulasan mengenai pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, dan terakhir, rubrik “Tinjauan Buku” yang diisi dengan tulisan mengenai sebuah kitab hadits Itman al-Dirayah.

Edisi-edisi Pesantren selanjutnya diisi dengan susunan rubrik seperti di atas. Hanya sesekali ditambah dengan rubrik “Komentar” yang berisi tanggapan pembaca terhadap suatu tulisan pada edisi sebelumnya. Yang menarik, halaman-halaman sisa yang kosong pada awal-awal edisi diisi lukisan vignet oleh Mustofa Bisri, seorang pelukis, penyair, dan kiai, serta belakangan disi oleh Mufid Aziz.?

Berkala Pesantren memiliki kedudukan penting pada pertengahan hingga akhir 1980-an, terutama dalam mewadahi pemikiran-pemikiran dan gagasan-gagasan baru mengenai pengembangan pendidikan pesantren dan pendidikan Islam khususnya, serta pemikiran keagamaan secara umum.

Melalui berkala ini di antaranya sejumlah gagasan seperti kontekstualisasi kitab kuning, kesalehan sosial, pembaruan fiqih, kedudukan perempuan, dan lain-lain dikemukakan dengan berani serta penuh semangat.

Para penulisnya yang berusia 20-an akhir hingga 40-an awal pada saat itu kelak menjadi pemimpin dan intelektual terkemuka di kemudian hari, baik di lingkungan NU dan pesantren maupun di tataran nasional secara umum, seperti Abdurrahman Wahid, Mustofa Bisri, Tholhah Mansur, Masdar F. Mas’udi, A. Malik Madany, dan lain-lain. Dari keanggotaan redaksinya, para penyumbang tulisan, dan topik-topik yang diangkat, jelas sekali kalau berkala ini menjadi media dialog kalangan pesantren dengan kalangan di luarnya.

Pada 1989 terjadi pergeseran dalam susunan pengelola keredaksian. Nama Abdurrahman Wahid tidak lagi menjadi Wakil Pemimpin Umum, posisinya digantikan M. Nashihin Hasan yang sebelumnya menjabat Pemimpin Redaksi. Sedangkan posisi Pemimpin Redaksi diduduki oleh Masdar Farid Mas’udi yang sebelumnya menjabat Pemimpin Usaha sekaligus Redaktur Pelaksana. Abdurrahman Wahid sendiri kemudian duduk di jajaran Staf Ahli bersama KH Ali Yafie, Soetjipto Wirasardjono, Abdullah Syarwani, Dawam Rahardjo, dan Adi Sasono.?

Berkala Pesantren terbit rutin tiga bulan sekali atau empat edisi dalam setahun hingga tahun 1988. Tapi, sejak 1989, karena faktor pendanaan dan keterbatasan tulisan, jumlah edisi ? menjadi menurun. Pada 1989 hanya terbit tiga edisi, tahun 1990 dua edisi, tahun 1991 tiga edisi, dan tahun 1992 hanya satu edisi, bahkan sejak itu berkala Pesantren tidak pernah muncul lagi.?

Edisi terakhir No. 1/Vol IX/1992 berisi laporan mengenai “Tarekat dan Gerakan Rakyat”. (Hairus Salim HS)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Pertandingan, Pondok Pesantren, Ubudiyah KOKAM Tegal

Kamis, 21 Desember 2017

PMII UPN Veteran Jatim Gelar Pelatihan Jurnalistik

Surabaya, KOKAM Tegal. Guna mencetak pewarta muda yang profesional, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Bela Negara UPN "Veteran" Jatim menggelar pelatihan Jurnalistik. Setelah mengikuti pelatihan diharapkan peserta mengetahui dasar-dasar jurnalistik dan teknik menulis berita.

PMII UPN Veteran Jatim Gelar Pelatihan Jurnalistik (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII UPN Veteran Jatim Gelar Pelatihan Jurnalistik (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII UPN Veteran Jatim Gelar Pelatihan Jurnalistik

Ketua PMII Komisariat UPN, Shiddiqurahman mengatakan, derasnya era globalisasi membawa konsekuensi logis dengan semakin menjamurnya media online, cetak, dan televisi. Untuk itu, PMII setidaknya dapat melahirkan kader yang memiliki keterampilan menulis.

“Ini kebutuhan zaman, apalagi sebagai seorang mahasiswa keterampilan menulis adalah sebuah keharusan. Kami ingin semua kader bisa menulis, baik dalam bentuk berita, artikel, maupun puisi,” terangnya saat ditemui usai acara di Bascamp PMII UPN, Rabu (25/11) 

KOKAM Tegal

Lebih lanjut, dia menjelaskan, saat ini pihaknya telah membuat media yang cukup representatif sebagai sarana belajar menulis yakni website. Media tersebut juga menjadi corong informasi bagi internal kader maupun dunia luar yang ingin mengetahui aktivitas PMII UPN. “Website akan diisi oleh para kader. Ke depan kita upayakan membuat media cetak seperti buletin,” tegasnya.

KOKAM Tegal

Sementara itu, Jurnalis Kominfo Jatim, Lukman Hakim yang diundang sebagai narasumber menuturkan, untuk melatih kemampuan menulis, maka membaca dan diskusi sudah harus menjadi kebiasaan. Artinya, antara membaca, diskusi dan menulis merupakan aktivitas yang saling berkaitan dan menunjang satu sama lain.

“Input informasi itu diperoleh dari membaca, baik membaca Koran, realitas maupun fenomena. Sementara diskusi itu semakin mematangkan hasil bacaan. Setelah matang dicurahkan dalam bentuk tulisan,” terang Lukman yang juga Mahasiswa Pascasarjana Komunikasi Islam UIN Sunan Ampel Surabaya ini.

Diungkapkannya, kemampuan menulis bukan ditentukan oleh bakat, namun lebih banyak dipengaruhi oleh konsistensi latihan. Maka tidak ada alasan bagi siapapun yang ingin belajar menulis karena pada hakikatnya semua orang dapat menulis dengan baik. 

Acara yang diikuti sebanyak 30 kader ini terdiri dari mahasiswa semester 1 dan 3. Rencananya pelatihan jurnalistik akan menjadi kegiatan rutin tiap minggunya. (Yusuf Efendi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Ubudiyah KOKAM Tegal

Senin, 18 Desember 2017

Pendidikan Penyetaraan di Pesantren

Jakarta, KOKAM Tegal



Pemerintah melalui Surat Keputusan Dirjen Bimbingan Kelembagaan Agama Islam (Bagais) Departemen Agama RI tahun 1999, mengeluarkan keputusan tentang Pendidikan Muadalah (Pengakuan Penyetaraan). Pendidikan muadalah sebagai bentuk recognition negara terhadap lembaga tersebut, yang lulusannya setara dan sederajat dengan lulusan SMA/MA.?

Namun, seiring perjalanan, regulasi ini belum dianggap cukup dan belum kuat, sehingga masih banyak lulusannya tidak bisa diterima di PTN—karena tidak setara dan sederajat dengan lulusan SMA/MA.?

Pendidikan Penyetaraan di Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Pendidikan Penyetaraan di Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Pendidikan Penyetaraan di Pesantren

Keluarnya PMA baru nomor 18 tahun 2014 yang secara khusus mengatur penyelenggaraan satuan pendidikan muadalah membuatnya disetarakan dengan pendidikan formal. Dasar hukumnya meningkat, yang dulunya berupa SK Dirjen, menjadi PMA. Implikasi dari regulai ini, satuan pendidikan muadalah semestinya mendapatkan pengakuan yang jelas, dan memperoleh fasilitas yang sama seperti institusi-institusi pendidikan lainnya.

Dilihat dari penyelenggaraan satuan pendidikan muadalah memiliki karakteristik dan problem yang berbeda. Keberagaman dan problem itu terkait pada aspek kurikulum, pembelajaran, keluaran lulusan, tenaga pendidik dan kependidikan, pembiayaan, dan pengelolaan. Keberagaman ini diduga karena belum adanya standar baku dalam penyelenggaraan pendidikan muadalah.



KOKAM Tegal



(Baca juga: Penelusuran Kebutuhan Pendidikan di Pesantren Penyetaraan)

Pada 2016, Puslitbang Penda dan Balitbang Kemenag RI pun mendapatkan temuan dalam penyelanggaraan pendidikan muadalah di pondok pesantren meliputi:

KOKAM Tegal

Pertama, penyelenggaraan satuan pendidikan muadalah sangat tergantung pada pengelolaan pesantren dalam hal ini kepemimpinan kiai. Kepemimpinan kiai yang banyak bersentuhan dengan dunia luar (modern) mempengaruhi sistem pendidikan yang dikembangkannya, baik menyangkut aspek manajerial kelembagaan, kurikulum, pendidik, pembiayaan.?

Kedua, realitas penyelenggaraan Satuan Pendidikan Muadalah dari sebelas lokasi dapat dikategorikan sebagai berikut: pada aspek kelembagaan, kurikulum, pendidik dan tenaga kependidikan, santri, kelulusan, pembiayaan, dan akreditasi.?

Ketiga, aspek kelembagaan penyelenggaraan satuan pendidikan muadalah mencakup: persyaratan yayasan berbadan hukum dan terdaftar di Kemenag sudah terpenuhi, namun dari aspek jumlah santri minimal 300 santri dan mengikuti layanan pendidikan formal masih ada lembaga yang belum memenuhi persyaratan, sehingga perlu dijelaskan dalam pedoman. Sementara pada jenis tingkatan penyelenggaraan masih beragam, dari hanya satu tingkatan, dua, hingga tiga tingkatan sekaligus.

Keempat, aspek kurikulum pendidikan keagamaan Islam sesuai dengan kekhasan masing-masing, yaitu tujuh penyelenggara berjenis pendidikan muadalah salafiyah yang berbasis kitab kuning, dan empat penyelenggara berjenis muadalah muallimin yang berbasis pada dirasah islamiyah.?

Kurikulum pendidikaan umum yang diajarkan pada jenis muallimin terpenuhi dan bahkan melampaui dari apa yang dipersyaratkan, sementara jenis salafiyah sebagian terpenuhi dan lainnya belum terpenuhi dengan mengembangkan istilah tersendiri. Kurikulum pendidikan umum belum ada standar yang sama.

Kelima, pendidik pada pendidikan keagamaan Islam terpenuhi sesuai dengan kompetensi, sementara dari kualifikasi masih beragam lulusannya, dari hanya tamatan pesantren, SMA/MA hingga perguruan tinggi.?

Pendidik mata pelajaran umum masih belum terpenuhi, baik dari aspek kompetensi maupun kualifikasi, seperti guru mismatch. Aspek tenaga kependidikan, pada jenis muallimin umumnya sudah terpenuhi, sementara pada salafiyah tenaga kependidikan masih terbatas seperti kepala satuan dan TU.

Keenam, aspek santri secara keseluruhan mukim dan tidak sekolah pada pendidikan formal lainnya. Adanya seleksi atau tes masuk sebagai santri muadalah. Pada aspek sarana prasarana sudah terpenuhi walaupun masih terbatas pada jenis salafiyah, sementara jenis muallimin sudah cukup terpenuhi.?

Ketujuh, aspek sumber pembiayaan masih bertumpu pada kontribusi wali santri, donatur dan usaha pondok pesantren. Sementara pemanfaatan pembiayaan digunakan untuk proses pembelajaran, gaji guru/ustad dan pengembangan lainnya. Belum ada sertifikasi guru-guru muadalah dan dana BOS.

Kedelapan, penyelenggara muadalah telah melakukan proses-proses penilaian baik harian, mid semester, semester dan ujian muadalah. Saat lulus santri memperoleh ijazah atau syahadah dari pondok pesantren. Masih ada kendala lulusan muadalah untuk masuk ke perguruan tinggi.

Kesembilan, kebutuhan prioritas dalam penyelenggaraan satuan pendidikan muadalah yang belum terpenuhi adalah kurikulum pendidikan umum, kompetensi pendidik pendidikan umum, tenaga kependidikan pustakawan, pembiayaan, dan akreditasi.?

Dari temuan di atas, Puslitbang Penda dan Balitbang Kemenag RI merekomendasikan;

Pertama, pemerintah tidak memaksakan standarisasi pendidikan keagamaan tetapi mendorong pesantren untuk mengembangkan dan mempertahankan secara mandiri sesuai ciri kekhasan masing-masing satuan muadalah. Kedua, aspek kurikulum; Pemerintah perlu segera membuat pedoman penyusunan standar? isi mata pelajaran pendidikan umum khas bagi satuan pendidikan muadalah yang berbeda dengan standar isi satuan lainnya.

Ketiga, aspek tenaga pendidik. Tenaga pendidik perlu mendapatkan hak yang sama dalam sertifikasi guru, peningkatan pendidikan dan pelatihan, program penyetaran guru melalui program beasiswa bagi guru-guru yang tamat SMA/MA, dan perlu dibuatkan pembuatan nomor induk guru/DAPODIK pada umumnya.

Keempat, aspek ketenagaan. Pemerintah menyediakan tenaga kependidikan, dan memberikan pelatihan khusus serta beasiswa pendidikan. Kelima, aspek santri. Perlu dibuat? aturan khusus bagi santri yang hanya mengikuti muadalah/tafaqquh fiddin tetapi tidak untuk mencari ijazah, yaitu mengikutsertakan santri/siswa dalam pendataan Nomor Induk Siswa Nasional (NISN). (Husni Sahal/Kendi Setiawan)





Baca Kajian Keagamaan lainnya? DI SINI

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Pondok Pesantren, Warta, Ubudiyah KOKAM Tegal

Minggu, 17 Desember 2017

Semarak Rajaban di Kampung Kranji

Pekalongan, KOKAM Tegal. Rajaban adalah istilah lain peringatan peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Hampir setiap daerah memiliki tradisi yang mungkin berbeda istilah atau cara perayaannya.

Namun sejatinya semua memiliki esensi yang sama, yakni sebuah pengingat peristiwa agung, tatkala Nabi saw melakukan perjalanan dari Makah ke Palestina (isra’), kemudian naik (mi’raj) hingga ke Sidratul Muntaha untuk bertemu Rabb-nya.

Semarak Rajaban di Kampung Kranji (Sumber Gambar : Nu Online)
Semarak Rajaban di Kampung Kranji (Sumber Gambar : Nu Online)

Semarak Rajaban di Kampung Kranji

Tak terkecuali kegiatan Rajaban yang diselenggarakan oleh masyarakat di Kampung Kranji Kab. Pekalongan, Kamis kemarin (23/5). Rajaban menjadi sebuah momentum acara bersama mulai dari remaja, ibu-ibu hingga para sesepuh kampung turut menyemarakkan acara tersebut.

KOKAM Tegal

Semarak acara sebetulnya sudah tampak sejak hari-hari sebelumnya, dimana para remaja yang tergabung dalam IPNU-IPPNU membuka bazar. Selain mereka yang berjualan aneka makanan dan minuman, para pedagang dari luar juga turut ngalap berkah dari acara tersebut. Bermacam-macam pedagang tumpah-ruah di dekat kompleks Masjid Jami’ Kranji.

KOKAM Tegal

Rabu (22/5), para remaja putri dari IPPNU, dan Fatayat serta siswa-siswi dari Madrasah Diniyah Nurul Anam berbondong-bondong datang ke kompleks makam. Di sana mereka mengadakan yasinan dan tahlilan sampai menjelang Maghrib. Malam harinya, diadakan lagi yasinan dan tahlilan untuk umum. selesai itu, acara dilanjutkan dengan khataman Al-Quran 30 juz bil ghaib.

Puncak acara peringatan Rajaban di Kampung Kranji, yakni acara peringatan Isra’ Mi’raj dan Haul Mbah Nurul Anam serta para Sesepuh Kampung Kranji diselenggarakan Kamis (23/5) lalu di kompleks pemakaman Kampung Kranji Kedungwuni Kabupaten Pekalongan. Acara tersebut dihadiri ribuan jamaah yang datang dari berbagai daerah.

Salah satu peziarah, Mustofa, menuturkan dirinya bersama rombongan dari Kecamatan Gringsing, Kabupaten Batang selalu menghadiri Khaul Ulama Nurul Anam setiap tahunnya.

”Kehadiran kami dalam acara tersebut diantaranya adalah ngalap berkah. Selain itu juga agar dapat meneladani ulama Nurul Anam semasa hidupnya,” ujar warga Kecamatan Gringsing, Kabupaten Batang tersebut.

Hal itu juga dibenarkan H. Subhan dari Cirebon Jawa Barat. Meski bersama rombongan kecil, pihaknya terus mengikuti acara Khaul Ulama Nurul Anam setiap tahunnya. “Selain sebagai pencerahan, kami juga ingin ngalap berkah,” ungkapnya. (Ajie Najmuddin/Red: Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Ubudiyah KOKAM Tegal

Beda Nuzulul Qur’an dan Lailatul Qadar

Jakarta, KOKAM Tegal. Nuzulul Qur’an adalah waktu turunya Al-Qur’an yang bertepatan dengan malam yang disebut Lailatul Qadar. Allah SWT menurunkan Al-Qur’an pada Lailatul Qadar sebagaimana firman-Nya dalam Surat Al-Qadr ayat 1-5.

Namun begitu, Nuzulul Qur’an sering diperingati pada malam 17 Ramadhan, sementara umum diketahui bahwa malam Lailatul Qadar itu diperkirakan jatuh pada sepertiga malam yang terakhir bulan Ramadhan. Mengapa bisa berbeda? Berikut penjelasan Ketua Pengurus Pusat Lembaga Dawah Nahdlatul Ulama (LDNU) KH A Nuril Huda dan Wakil Ketua Pengurus Pusat Lembaga Bahtsul Masail (LBM) NU KH Arwani Faisal kepada KOKAM Tegal.

Beda Nuzulul Qur’an dan Lailatul Qadar (Sumber Gambar : Nu Online)
Beda Nuzulul Qur’an dan Lailatul Qadar (Sumber Gambar : Nu Online)

Beda Nuzulul Qur’an dan Lailatul Qadar

? ? ? ? ?. ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ?

Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan. Tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. (QS. Al-Qadr 1-5).

Para ulama berbeda pendapat tentang dlamir “hu” atau kata ganti yang merujuk kepada Al-Qur’an dalam ayat pertama. Apakah Al-Qur’an yang dimaksud dalam ayat itu adalah keseluruhannya, artinya Allah SWT menurunkan Al-Qur’an sekaligus dari Lauhil Mahfudz ke Baitul Izzah (langit dunia) pada malam Lailatul Qadar, ataukah sebagiannya, yaitu bahwa Allah SWT menurunkan pertama kali Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW, yaitu surat Al-‘Alaq Ayat 1-5 pada malam Lailatul Qadar?

Dalam sebuah riwayat disebutkan, Ibnu Abbas RA menjelaskan bahwa Al-Qur’an yang diturunkan pada Lailatul Qadar keseluruhnya; baru kemudian secara berangsur diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. (HR Ath-Thabrani).

KOKAM Tegal

Sementara itu Nuzulul Qur’an sering diperingati pada tanggal 17 Ramadhan, dengan mengadakan pengajian atau tabligh akbar, dan bukan pada malam Lailatul Qadar. Hal ini didasarkan pada pendapat yang menyatakan bahwa pada tanggal tersebut Rasulullah SAW pada umur 41 tahun mendapatkan wahyu pertama kali. Yaitu  surat Al-‘alaq ayat 1-5 ketika beliau berkonteplasi (berkhalwat) di gua Hira, Jabal Nur, kurang lebih 6 km dari Mekkah.

Menurut KH Arwani Faisal, Nuzulul Qur’an yang diperingati oleh umat Islam dimaksudkan sebagai peringatan turunnya ayat Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW yakni ayat 1-5 Surat Al-Alaq:

? ? ? ? ?. ? ? ? ?. ? ? ?. ? ? ?. ? ? ? ? ?

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.

KOKAM Tegal

Adapun Lailatul Qadar merujuk kepada malam diturunkannya Al-Qur’an dari Lauhil Mahfudz ke Baitul Izzah atau langit dunia. Dikisahkan bahwa pada malam itu langit menjadi bersih, tidak nampak awan sedikitpun, suasana tenang dan sunyi, tidak dingin dan tidak panas.(nam)



Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Amalan, Ubudiyah KOKAM Tegal

Jumat, 15 Desember 2017

Negeri Ini Harus Dijaga Bersama

Blitar, KOKAM Tegal - Bupati Blitar H Riyanto menegaskan agar masyarakat harus banyak bersyukur kepada Allah SWT dengan anugerah yang diberikan untuk bangsa Indonesia. menurutnya, Indonesia dianugerahi negeri yang damai dan makmur.

Demikian disampaikan Riyanto dalam acara sarasehan kerukunan umat beragama dan pemantapan wawasan kebangsaan yang diselenggarakan keluarga besar Kantor Kementrian Agama Kabupaten Blitar di MTs N Kunir, Wondadi, Blitar.

Negeri Ini Harus Dijaga Bersama (Sumber Gambar : Nu Online)
Negeri Ini Harus Dijaga Bersama (Sumber Gambar : Nu Online)

Negeri Ini Harus Dijaga Bersama

“Kita harus bangga dengan Indonesia yang multietnis, multiagama, dan budaya. Namun bisa bersatu padu dan kompak dalam bingkai NKRI,” kata Riyanto.

Kepala Kakanwil Kementrian Agama Provinsi Jawa Timur H Mahfud Shodar juga turut memberikan pengarahan dalam pertemuan tersebut.

KOKAM Tegal

Menurut Mahfud, Indonesia saat ini sedang ditimpa berbagai ujian sehingga kondisinya sangat memprihatinkan. Namun demikian, berkat kerja sama semua komponen masyarakat Indonesia bisa bertahan hingga saat ini.

KOKAM Tegal

“Kita ada Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika, sehingga sebesar apapun goncangan bisa diatasi bersama-sama sehingga pihak-pihak yang ingin Indonesia hancur harus gigit jari,” katanya.

Menurutnya, kesuburan negeri tercinta inilah menjadi alasan mengapa Indonesia menjadi incaran negara-negara lain untuk menguasainya.

“Untuk itu kita harus terus bersatu padu bersama-sama untuk mempertahankan negara kesatuan tercinta ini. Selama kita tetap bersatu dan tetap menjujung nilai-nilai Pancasila. Insya Allah negeri ini sampai kapanpun akan tetap berdiri kokoh,” katanya.

Ia menambahkan, kondisi Indonesia akhir-akhir ini memang penuh dengan goncangan dan ujian. Namun berkat kekompakan semua pihak, termasuk pemerintah, ulama, dan masyarakat goncangan-goncangan itu bisa teratasi dengan baik.

Acara tersebut dihadiri sekitar 1000 undangan. Tampak hadir Ketua PCNU Blitar KH Masdain Rifai Ahyat, Ketua MUI Blitar KH Ahmad Djamrozi, dan seluruh kepala dan pegawai Kemenag se-Kabupaten Blitar. (Imam Kusnin Ahmad/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Bahtsul Masail, Ubudiyah, News KOKAM Tegal

Selasa, 12 Desember 2017

Lakpesdam Dorong Pemuda Aktif dalam Penganggaran Desa

Jepara, KOKAM Tegal



Untuk mendorong partisipasi warga khususnya pemuda di bidang penganggaran, Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PCNU Jepara mengadakan Pelatihan Perencanaan dan Pengaggaran Desa Inklusif, di Ruang Serbaguna DPRD Jepara, belum lama ini.?

Lakpesdam Dorong Pemuda Aktif dalam Penganggaran Desa (Sumber Gambar : Nu Online)
Lakpesdam Dorong Pemuda Aktif dalam Penganggaran Desa (Sumber Gambar : Nu Online)

Lakpesdam Dorong Pemuda Aktif dalam Penganggaran Desa

Pelatihan itu membekali pemuda agar paham dan terlibat aktif dalam perencanaan penganggaran di desa. Pelatihan diikuti oleh beberapa elemen pemuda yaitu kader peduli desa, IPNU-IPPNU, PMII, Fatayat, dan lain-lain.?

Para pemuda diharapkan mau kembali melihat desa sebagai lahan untuk belajar sekaligus mengabdi, serta mau terlibat dalam proses-proses krusial dalam membangun desa, khususnya di bidang penganggaran.?

Nur Rohmad, project officer program peduli dari Lakpesdam NU, Senin (26/09/16) mengatakan, hal itu harus ditunjang dengan kemampuan teknis yang memadai untuk berpartisipasi serta mendorong anggaran supaya inklusif. Anggaran yang mencerminkan terakomodirnya berbagai kepentingan dan tidak mendiskriminasi kaum-kaum minoritas, baik minoritas secara sosial, ekonomi, keyakinan, politik, budaya dan lain-lainnya.?

KOKAM Tegal

“Setiap warga desa terlepas apa pun latar belakangnya mempunyai hak yang sama untuk ikut dalam proses pembangunan di desa,” kata dia sebagaimana rilis yang dikirim kepada KOKAM Tegal.

Muhamadun, mewakili pengurus Lakpesdam PCNU Jepara mengutarakan hal-hal ? yang terkait dengan peningkatan kapasitas sumber daya manusia, seperti pelatihan yang dilakukan pada kesempatan ini ? adalah salah satu fokus kerja pemberdayaan masyarakat yang dilakukan Lakpesdam.?

“Jika hari ini sebagian pemuda masih sebatas menjadi penonton dalam proses-proses penganggaran di desa, harapannya ke depan mampu mewarnai untuk membahas anggaran. Kalau masyarakat pemahamannya kurang bahkan tidak mau tahu tentang tentang proses-proses penganggaran maka anggaran rentan disalahgunakan,” kata Muhamadun.

Adib Akrom, salah satu pemateri yang juga menjabat sebagai tenaga ahli pendamping desa Kabupaten Pati mengatakan, salah satu filosofi penting yang harus dipahami dalam partisipasi di bidang penganggaran adalah, “Saya tahu, sadar, siap, dan melakukan”. Filosofi ini, kata Adib, berarti bahwa kerja-kerja pendampingan itu butuh proses, karena ternyata di tengah besarnya dana desa masih banyak pemuda yang tidak tahu.

Secara normatif, jelasnya peraturan tentang penganggaran desa sudah bagus, seperti tercermin dalam Permendagri No 114/2014 yaitu proses dan tahapan kegiatan penganggaran yang dilaksanakan Pemdes harus melibatkan Badan Perwakilan Desa (BPD) dan masyarakat.?

KOKAM Tegal

Tapi, lanjut Adib Akrom, permasalahan di lapangan seringkali terjadi, misalnya musyawarah desa seringkali dihadiri oleh orang-orang yang sama dari waktu ke waktu. Banyak pihak yang tidak tahu akan adanya proses penganggaran di desa. Padahal Salah satu tujuan ? dari proses-

proses penganggaran adalah berdaya, berdaya secara ekonomi, berdaya secara partisipatif, berdaya secara politik.

Sementara itu, M Syariful Wai pemateri sesi kedua yang juga pernah aktif sebagai pengurus PP Lakpesdam, menandaskan anggaran tidak hanya soal apa yang harus dilakukan menurut peraturan, tetapi juga soal kesepakatan-kesepakatan di balik meja antar kekuatan-kekuatan politik yang ada. Ini memungkinkan terdapat kelompok masyarakat yang marginal dalam struktur sosial dimana mereka tidak mendapat perhatian. (Syaiful Mustaqim/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Ubudiyah KOKAM Tegal

Sabtu, 09 Desember 2017

Dari Permainan Kertas Lipat, Pemuda NU Boyolali Dilatih Kreatif

Boyolali, KOKAM Tegal - Dari hal yang sederhana, kita dapat belajar banyak hal. Seperti yang dilakukan para peserta Makesta IPNU-IPPNU Pengurus Komisariat (PK) SMK NU 2 Klego, Boyolali, Sabtu (26/11). Mereka dilatih untuk belajar berkreasi dengan sebuah alat yang sederhana, selembar kertas.

Tak hanya butuh kreatifitas, agar hasil kertas lipat mereka menjadi yang terbaik, masing-masing peserta yang dibagi dalam beberapa kelompok juga mesti kompak antara satu dengan yang lain. Pada akhirnya, dalam waktu 5 menit, terpilihlah satu karya terbaik.

Dari Permainan Kertas Lipat, Pemuda NU Boyolali Dilatih Kreatif (Sumber Gambar : Nu Online)
Dari Permainan Kertas Lipat, Pemuda NU Boyolali Dilatih Kreatif (Sumber Gambar : Nu Online)

Dari Permainan Kertas Lipat, Pemuda NU Boyolali Dilatih Kreatif

Usai menyelesaikan permainan lipat kertas tersebut, Ketua PK IPNU SMK Klego 2, Syarifudin menjelaskan makna dari permainan itu. “Yang kita harapkan dari permainan kita ingin kalian sadar akan pentingnya kebersamaan dan kreativitas dalam berorganisasi,” tukas Syarifudin.

KOKAM Tegal

Senada dengan apa yang diharapkan oleh Syarifudin, sebanyak 50 peserta Makesta yang diselenggarakan di Gedung NU Center ini juga digadang untuk menjadi pelajar yang siap untuk berkhidmat bersama IPNU.

“IPNU-IPPNU itu wadah kaum intelektual muda NU, khususnya di tingkatan pelajar. Khidmadkanlah diri kalian untuk benar-benar memiliki jiwa pelajar NU sesungguhnya,” kata Ketua PC IPNU Boyolali, Khamidurrohim memberikan semangat kepada anggota baru.

KOKAM Tegal

Selama beberapa hari terebut, para peserta juga mendapatkan berbagai materi seperti ke-IPNU-an, Aswaja dan lain sebagainya. (Ajie Najmuddin/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Kiai, Ubudiyah, Daerah KOKAM Tegal

Kamis, 07 Desember 2017

Ramadhan di AS dan Upaya Kikis Pandangan Negatif Islam

Kansas City, KOKAM Tegal
Menjalankan ibadah puasa di negara bagian Missouri, Amerika Serikat yang bertepatan dengan musim gugur 2004 relatif lebih ringan. Selain udara yang dingin, waktu berpuasanya relatif lebih singkat, karena siang hari yang lebih singkat dibanding malam yaitu imsak jatuh pukul 06.15 pagi dan Magrib datang pada pukul 18.35 sore.

Pada tahun ini Organisasi Masyarakat Islam Amerika Utara (ISNA) agak terlambat mengumumkan terlihatnya hilal yang menandai kedatangan bulan Ramadhan. Pemberitahuan lewat telepon mengenai kepastian awal puasa itu diterima oleh komunitas Muslim di kota Kansas City pada Jumat (16/10) pukul 11 malam, sehingga kaum Muslim yang hendak berpuasa harus menyiapkan makanan untuk sahur dalam waktu sangat singkat.

Tarawih pertama pun baru diadakan pada malam kedua pada bulan Ramadhan. Seperti halnya mesjid-mesjid di Indonesia, pada hari-hari pertama, hampir seluruh mesjid di Amerika dipenuhi jamaah yang melaksanakan salat tarawih. Biasanya jumlah jamaah akan berkurang pada pertengahan Ramadhan tetapi kembali ramai menjelang akhir bulan suci bagi umat Islam itu.

Mesjid yang ada di lingkungan "Islamic Center of Greater Kansas City" juga dipenuhi oleh jamaah yang melaksanakan sholat tarawih. Mereka umumnya warga Muslim yang tinggal di sekitar Islamic Center dengan berbagai macam latar belakang, budaya dan bahasa. Tetapi begitu Imam mengucapkan takbir tanda dimulainya sholat, semua perbedaan tersebut hilang, semua jamaah dengan khusyuk mengikuti semua gerakan sang Imam.

Pusat Islam Greater Kansas City memiliki tradisi unik setiap bulan Ramadhan. Selain menyediakan menu buka puasa dan sholat tarawih bersama, para pengurus mengundang seorang ulama hafiz Quran -biasanya dari Pakistan- untuk menjadi imam sholat tarawih maupun sholat lainnya seperti salat Jumat dan salat fardhu.

Menurut sesepuh Islamic Center of Greater Kansas City Adnan Bayedid, tujuan mendatangkan ulama yang hapal Al Quran adalah untuk mendirikan sholat tarawih dengan 30 juz Al Quran selama satu bulan penuh. Komunitas Muslim di Kansas City, juga dikota-kota lain di AS, berniat melakukan tradisi salat tarawih seperti yang berlangsung di Mekkah maupun Madinah. Sayangnya, kebanyakan jamaah telah meninggalkan Mesjid saat Imam menyelesaikan rakaat ke delapan dari duapuluh rakaat yang dilakukan.

Hal itu terjadi karena malam telah larut, mengingat sholat tarawih baru dimulai pada pukul 20.30 dan untuk menyelesaikan delapan rakaat diperlukan waktu selama dua jam, padahal kebanyakan jamaah harus masuk kerja pada pagi harinya. Tentu saja di AS tidak ada pengurangan jam kerja selama Ramadhan sebagaimana yang dinikmati para pekerja di Indonesia atau negara Muslim lainnya. "Tidak ada pennyesuaian waktu di tempat kerja sehingga kami yang harus mengaturnya sendiri," kata Asma Rehman, seorang jamaah Mesjid yang sehari-hari bekerja pada kantor Departemen Kesehatan setempat.

Meski begitu, Asma mengatakan bahwa bulan Ramadhan baginya adalah waktu untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta dan waktu untuk memperkuat ikatan keluarga dan masyarakat."Di Amerika, kita seperti dikejar-kejar waktu, tetapi pada bulan Ramadhan kita dapat mengabaikannnya, menyerahkan waktu kita untuk mendekatkan diri kepada Tuhan," ujarnya.

Sejumlah Islamic Center lain di AS juga mengagendakan berbagai kegiatan yang bertujuan memperkenalkan bulan Ramadhan kepada komunitas non Muslim yang tinggal di sekitar Islamic Center. Islamic Center of Lawrence, misalnya, pada Minggu lalu, mengadakan open house dengan mengundang anggota masyarakat non Muslim untuk menghadiri acara buka puasa bersama.

Dalam kesempatan itu Moussa Elbayoumy, direktur the Islamic Center of Lawrence menjelaskan kepada para tamu mengenai makna puasa, tata cara pelaksanaan ibadah puasa dan Hari Raya Idul Fitri yang menandai berakhirnya bulan Ramadhan. Lebih dalam, semangat yang ingin dibawa Muslim Amerika selama bulan Ramadhan bukan hanya melaksanakan ibadah wajib ini, tetapi juga terpanggil untuk melakukan berbagai upaya untuk "memerangi" pandangan maupun penilaian negatif terhadap Islam.

Mesjid-mesjid, Islamic Center dan sekolah Islam dihimbau untuk meningkatkan usaha mengikis citra negatif terhadap Muslim yang meningkat di AS setelah tragedi September 11. Sebuah survei menemukan bahwa satu dari empat orang Amerika memiliki pandangan negatif terhadap Muslim. Mayoritas orang Amerika setuju dengan pernyataan bahwa orang Islam mengajarkan anak-anak mereka kebencian dan orang Islam beranggapan kehidupan tanpa Islam berkurang maknanya. Temuan survei itu menimbulkan kekecewaan di kalangan komunitas Muslim.

"Saya mengetahui ada persepsi negatif dan sentimen anti-Muslim di negeri ini, tetapi saya terkejut dengan hasil survei tersebut,&Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Ubudiyah KOKAM Tegal

Ramadhan di AS dan Upaya Kikis Pandangan Negatif Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Ramadhan di AS dan Upaya Kikis Pandangan Negatif Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Ramadhan di AS dan Upaya Kikis Pandangan Negatif Islam

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs KOKAM Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik KOKAM Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan KOKAM Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock