Tampilkan postingan dengan label Anti Hoax. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Anti Hoax. Tampilkan semua postingan

Kamis, 22 Februari 2018

Zainul Milal Bizawie Sebut Beberapa Kelompok Penolak Islam Nusantara

Jombang, KOKAM Tegal

Dalam rangka memberikan pemahaman yang komprehensif tentang Islam Nusantara kepada khalayak, PC ISNU Jombang gelar seminar nasional bertajuk "Kontribusi Ulama dan Santri Nusantara dalam Perjuangan Bangsa" dan bedah buku Masterpiece Islam Nusantara, Rabu (4/5) kemarin.

Zainul Milal Bizawie Sebut Beberapa Kelompok Penolak Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)
Zainul Milal Bizawie Sebut Beberapa Kelompok Penolak Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)

Zainul Milal Bizawie Sebut Beberapa Kelompok Penolak Islam Nusantara

Acara yang berlangsung di Auditorium STKIP PGRI Jombang tersebut tampak semarak dengan dihadiri ratusan peserta dan tamu undangan. Mereka di antaranya Gerakan Pemuda (GP) Ansor, Muslimat, Fatayat, PMII, IPNU-IPPNU dan perwakilan mahasiswa dari kampus se-Jombang. Hadir juga Wakil Bupati Jombang, Munjidah Wahab.

Ketua Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Jombang Ahmad Athoillah menegaskan, Islam Nusantara memiliki misi membumikan ajaran Islam yang rahmatan lil alamin. Hal ini relevan diterapkan di Indonesia bahkan dunia, agar persatuan dan kesatuan antar sesama Islam terjaga dengan kuat.

KOKAM Tegal

"Islam Indonesia dikenal dengan Islam yang ramah, santun dan toleran, jauh berbeda dengan wajah Islam yang berada di Timur tengah," katanya saat memberikan sambutannya di depan para peserta dan tamu undangan.

KOKAM Tegal

Sementara itu, Munjidah Wahab menyatakan penyebaran ajaran Islam belakangan ini sudah jauh berbeda dengan pola yang diajarkan Nabi pada zamannya. Berbagai cara kekerasan saat ini dilakukan untuk memaksakan kehendaknya dalam penyebaran ajaran Islam.

"Islam Nusantara adalah Islam yang santun, saling menghargai perbedaan dan tidak melakukan dakwah dengan cara kekerasan," ujarnya.

Di samping itu, ia mengimbau agar peran ISNU harus benar-benar memberikan pencerahan kepada warga NU tentang istilah Islam Nusantara, sebab tidak semua masyarakat bisa memahami layaknya para akademisi.

Penulis buku "Masterpiece Islam Nusantara" Zainul Milal Bizawie menjelaskan bahwa bentuk dari Islam sebagai agama rahmatan lil alamin ialah NKRI itu sendiri, yakni kemerdekaan Indonesia.

"Di pembukaan teks kemerdekaan RI, di sana tertera bahwa kemerdekaan adalah rahmat dari Allah SWT," tuturnya.

Namun demikian ia mengakui, bahwa tak sedikit kelompok yang tidak sepaham dengan Islam Nusantara.

"Memang tidak sedikit juga yang kontra dengan Islam Nusantara, yang dilansir diberbagai media online pada saat ini, sebut saja Hizbut Tahrir Indonesia, NU Garis Lurus, dan sejumlah alamat website lainnya yang melakukan propaganda bahwa Islam Nusantara hanyalah untuk mengotak-ngotakkan Islam" terangnya.

Di awal kegiatan, panitia membagikan 30 buah buku "Masterpiece Islam Nusantara" secara gratis kepada peserta dan tamu undangan yang beruntung.(Rifatuz Zuhro/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Anti Hoax, Pendidikan, Warta KOKAM Tegal

Jumat, 09 Februari 2018

Menpora Sanjung Peran Pagar Nusa dalam Membangun Bangsa

Cirebon, KOKAM Tegal 

Menteri Pemuda dan Olahraga, H Imam Nahrawi mengatakan kehadiran Pagar Nusa telah membantu Pemerintah, membantu Indonesia; membangun Indonesia sekaligus mengkader dan mendidik anak-anak muda untuk memiliki prinsip yang kuat, jiwa yang sehat, sekaligus akhlak yang agung dan mulia. 

Menpora Sanjung Peran Pagar Nusa dalam Membangun Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)
Menpora Sanjung Peran Pagar Nusa dalam Membangun Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)

Menpora Sanjung Peran Pagar Nusa dalam Membangun Bangsa

"Karenanya, saya Imam Nahrawi mewakili Pemerintah mengucapkan terima kasih, matur sembah nuwun kepada keluarga Pagar Nusa yang tak henti-hentinya terus melahirkan atlet-atlet, pendekar-pendekar yang mengharumkan di kancah dunia internasional," kata Imam pada Ijazah Kubro dan Pengukuhan Pimpinan Pusat Pagar Nusa di Lapangan Puser Bumi Ciperna, Cirebon, Jawa Barat, Ahad (28/1).

Imam sempat menyinggung perhelatan Asean Games yang akan diselenggarakan di Indonesia Agustus 2018 mendatang.

KOKAM Tegal

Menurutnya, untuk pertama kalinya Pencak Silat dipertandingkan di Asean Games. Keikutsertaan Pencak Silat, katanya, bukan karena Menpora pernah menjadi bagian dari keluarga Pagar Nusa, tapi karena memang Indonesia dipercaya menjadi tuan rumah perhelatan Asia, bahkan dunia. 

Menpora mengaku senang karena akan ada pendekar dari Pagar Nusa yang menjadi peserta pada perhelatan tersebut. 

"Yang saya senang adalah informasinya, salah satu peserta Pencak Silat nanti akan berasal dari Pagar Nusa," katanya. 

(Baca: Silaturahmi Kebangsaan,10.000 Pendekar Pagar Nusa Konsolidasi di Cirebon)Untuk memaksimalkan Indonesia mendapat banyak medali, Imam berharap agar Ijazah Kubro tidak hanya diberikan kepada para pendekar Pagar Nusa, tapi juga pesilat-pesilat lain agar membawa medali emas untuk Merah Putih. 

KOKAM Tegal

Hadir Rais Aam PBNU KH Ma ruf Amin, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, Rais Syuriyah PBNU KH Mustofa Aqil Siroj, Rais Syuriyah PBNU KH Akhmad Said Asrori, Ketua PBNU H Eman Suryaman, Ketua PBNU H Robikin Emhas, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, Sesepuh Cirebon KH Mukhlas Dimyati, Ketua PWNU Jawa Barat KH Hasan Hidayatullah, Wakil Sekretaris PBNU H Andi Najmi Fuadi, Ketua Umum Pagar Nusa M Nabil Haroen dan sekitar sepuluh ribu pendekar dan Nahdliyin.

Kegiatan tersebut dijadwalkan dirangkai dengan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Pagar Nusa. (Husni Sahal/Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Anti Hoax, AlaSantri, Hikmah KOKAM Tegal

Selasa, 06 Februari 2018

Musuh dalam Selimut itu Bernama Kanker Serviks

Jakarta, KOKAM Tegal. Kanker serviks adalah pembunuh pertama wanita di Indonesia. Setiap 2 menit ada 1 perempuan meninggal karena kanker serviks. Kanker serviks seperti musuh dalam selimut, karena virus menyerang tanpa tanda-tanda seperti flu atau demam.

Demikian disampaikan dr H Imam Rasjidi dalam Seminar Awam bertema “Mengenali Kanker Serviks dan Kanker Ovarium” di Gedung PBNU Jakarta Pusat, Selasa ? (20/12).

Musuh dalam Selimut itu Bernama Kanker Serviks (Sumber Gambar : Nu Online)
Musuh dalam Selimut itu Bernama Kanker Serviks (Sumber Gambar : Nu Online)

Musuh dalam Selimut itu Bernama Kanker Serviks

Pria yang pernah menjabat sebagai Ketua LKNU itu menambahkan mayoritas penderita kanker serviks baru mengetahui mengidap kanker serviks ketika sudah berada pada stadium lanjut. Oleh karena itu, sejumlah hal perlu dilakukan.

“Jangan takut untuk melakukan deteksi dini melalui tes IVA atau pap smear,” kata Imam,?

KOKAM Tegal

Ia pun menganjurkan agar para perepuan menerapkan pola hidup sehat, setia pada pasangan, menghindari pernikahan dini dan menjaga kebersihan organ intim.

Sementara itu, Ketua Fatayat NU, Anggia Ermarini mengungkapkan banyaknya kasus kanker serviks harus membuat masyarakat sadar akan pentingnya pola hidup sehat.?

“Fatayat akan terus mengkampanyekan anti kanker serviks di daerah-daerah melalui peran tokoh agama perempuan. Fatayat juga akan menggandeng mitra strategis untuk dapat memberikan layanan tes IVA gratis bagi anggota Fatayat dan masyarakat ? umum," jelas Anggia.

Seminar Awam “Mengenali Kanker Serviks dan Kanker Ovarium” terselenggara atas kerja sama PP Fatayat NU dan Roche. Seminar diikuti PP Fatayat NU, Pengurus Wilayah NU se-Indonesia, badan-badan otonom NU, Aisyiyah, dan masyarakat umum. (Kendi Setiawan/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal

KOKAM Tegal Anti Hoax, Warta, Sunnah KOKAM Tegal

Minggu, 04 Februari 2018

Bagi IPPNU Bondowoso, Hukum Turba “Fardhu ‘Ain”

Bondowoso, KOKAM Tegal. Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, sejak dilantik, terbilang rajin menyabangi Pimpinan Anak Cabang dan Pimpinan Komisariat (turba). Tujuannanya untuk pengayoman dan kaderisari.

Ketua PC IPPNU Bondowoso Robiatul Adawiyah menyebut pernah menyambangi PAC Telogo 2 kali, Jambesari dan Weringin, PAC Tegal Ampel 2 Kali dengan pembentukan Ketua IPPNU, ke SMA NU Bondowoso sampai 7 kali, Wonosari, ke Cermi 2 kali dan Curahdami.

Bagi IPPNU Bondowoso, Hukum Turba “Fardhu ‘Ain” (Sumber Gambar : Nu Online)
Bagi IPPNU Bondowoso, Hukum Turba “Fardhu ‘Ain” (Sumber Gambar : Nu Online)

Bagi IPPNU Bondowoso, Hukum Turba “Fardhu ‘Ain”

Robik, panggilan akrabnya, mengaku sejak dilantik sebagai pengurus, bahkan sejak masih menjadi ketua dua (kaderisasi) periode 2012-2014 sudah melakulan hal itu. “Hampir semua pembentukan saya hadir. Selama masih sanggup membentuk PAC dan PK, maka turba “fardhu ‘ain” (kewajiban yang tak bids digantikan orang lain, red.) hukumnya," katanya kepada KOKAM Tegal Jumat (18/12).

KOKAM Tegal

PAC dan Komisariat, kata dia, tidak cukup hanya dibentuk saja, tapi butuh pengayoman karena mereka masih banyak yang kurang mengerti. Jadi dari PC IPPNU sering turba mengarahkan bagaimana alurnya menjadi pengurus IPPNU.

KOKAM Tegal

Ia bercerita, dengan menyambangi PAC dan Komisariat, mereka antusias karena mereka merasa punya muara untuk menumpahkan beragam pertanyaan.

Robik menambahkan agenda terdekat di awal tahun 2016 akan mengadakan pelatihan batik tulis yang melibatkan pelajar putra putri dan remaja putri secara umum. Dari pelatihan tersebut, IPPNU ingin memberikan pengetahuan dan praktek untuk membuka lapangan pekerjaan. “Juga melestarikan budaya indonesia dan warisan nenek moyang," tutupnya. (Ade Nurwahyu/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Anti Hoax KOKAM Tegal

Sabtu, 03 Februari 2018

Pergunu Diminta Membentuk Anak Didik Berakhlakul Karimah

Brebes, KOKAM Tegal. Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) diminta untuk membentuk anak didik yang berakhlakul karimah. Pasalnya, telah terjadi pergeseran etika moral bagi generasi muda di era digitalisasi. 

Pergunu Diminta Membentuk Anak Didik Berakhlakul Karimah (Sumber Gambar : Nu Online)
Pergunu Diminta Membentuk Anak Didik Berakhlakul Karimah (Sumber Gambar : Nu Online)

Pergunu Diminta Membentuk Anak Didik Berakhlakul Karimah

“Pergunu, harus mampu membentuk anak didik yang berakhlakul karimah,” pinta Ketua Pengurus Cabang (PC) Nahdlatul Ulama (NU) Kab Brebes H Athoillah saat menyampaikan sambutan pelantikan Pimpinan Anak Cabang (PAC) Pergunu se Kab Brebes di Gedung NU, Jalan Yos Sudarso 36 Brebes, Kamis (28/6).

Anggota Pergunu, lanjutnya, harus mampu menjadi garda terdepan dalam pembentukan karakter dan akhlakulkarimah peserta didik. “Peran guru sangat penting dalam pembentukan akhlakul karimah,” terangnya.

KOKAM Tegal

Namun demikian, kata Athoillah, anggota pergunu harus membuat citra positif terlebih dahulu dengan keteladanan. 

Athoillah juga memuji guru-guru swasta yang walaupun tidak mempunyai gaji yang jelas, tetapi hidupnya tentram dan sejahtera. Para guru ngaji, guru madrasah dan guru swasta lainnya yang sebagian tersebar di sekolah-sekolah NU, hanya memilih manajemen barokah. “Walau hanya mengharap bisaroh (sumbangan suka rela, red), mereka bisa mempertahankan aqidah dan akhlakul karimah,” pujinya.

KOKAM Tegal

Diapun berpesan, menjalankan tugasnya sebagai guru NU, agar tetap pada korikodor memperjuangkan 4 dimensi. Yakni dimensi keagamaan, dimensi keilmuan, dimensi kepemimpinan dan dimensi kebangsaan. 

Sementara, Ketua Pimpinan Cabang (PC) Pergunu Kab Brebes Syamsu Asyifa MPd menjelaskan, Pergunu di Kab Brebes telah lahir sejak 16 Mei 2011. Dalam kurun waktu setahun telah menginventaris guru NU di Kabupaten Brebes, termasuk pembentukan pengurus ditingkat kecamatan.

Secara serentak, 17 Kepengurusan Pimpinan Anak Cabang (PAC) Pergunu se Kabupaten Brebes dilantik untuk masa bakti 2012-2017. Pelantikan ditandai dengan pembacaan baiat atau janji pengurus di hadapan Pengurus Cabang NU yang dipimpin oleh Wakil Ketua PC NU KH Sodikin Rachman.  

 

Redaktur      : Syaifullah Amin

Kontributor : Wasdiun

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Anti Hoax, Syariah, Nasional KOKAM Tegal

Jumat, 02 Februari 2018

Sistem Budaya Daerah Kita dan Modernisasi

Oleh KH Abdurrahman Wahid. Beberapa belas tahun lalu, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengadakan penelitian tentang 14 sistem budaya daerah di negeri kita. Sistem budaya daerah Aceh hingga Nusa Tenggata Timur (NTT) diteliti, termasuk sistem budaya Jawa I dan Jawa II. Yang dimaksudkan dengan sistem budaya Jawa I adalah sistem budaya Jawa yang ada di daerah-daerah pusat keraton, seperti Yogyakarta dan Solo. Sebaliknya, sistem budaya Jawa II adalah Jawa pinggiran, terutama di Jawa Timur.

Budaya pesantren, dalam hal ini, termasuk sistem budaya Jawa II. Hasil yang sangat menarik dari penelitian tersebut, yang dipimpin Dr. Mochtar Buchori, adalah pentingnya menerapkan sistem-sistem tersebut di saat sistem modern belum dapat diterapkan. Sistem budaya Ngada di Flores Timur, umpamanya, adalah substitusi bagi sistem hukum nasional kita di daerah itu, ketika belum berdiri lembaga pengadilan di sana. Kode etik Siri dalam masyarakat Bugis, yang berintikan pembelaan terhadap kehormatan diri, tidaklah lekang pada masa ini. Beberapa kejadian penggunaan badik untuk mempertahankan diri, di berbagai daerah di kalangan orang Bugis, jelas menunjukkan adanya penerapan nilai-nilai yang berlaku dalam sistem budaya daerah Bugis itu.

Sistem Budaya Daerah Kita dan Modernisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Sistem Budaya Daerah Kita dan Modernisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Sistem Budaya Daerah Kita dan Modernisasi

Penelitian menunjukkan, terdapat kemampuan hidup sistem budaya daerah kita di tengah-tengah arus modernisasi yang datang tanpa dapat dicegah. Karenanya, sikap yang tepat adalah bagaimana memanfaatkan sistem budaya daerah di suatu tempat dalam satu periode, dengan dua tujuan: menunggu mapannya masyarakat dalam menghadapi modernisasi, dan mengelola arus perubahan untuk tidak datang secara tiba-tiba. Dengan cara demikian, kita dapat mengurangi akibat-akibat modernisasi menjadi sekecil mungkin.

KOKAM Tegal

***

Clifford Geertz dari Universitas Princeton, menganggap kyai/ulama’ pesantren sebagai “makelar budaya” (cultural broker). Dia menyimpulkan demikian, karena melihat para kyai melakukan fungsi screening bagi budaya di luar masyarakatnya.

KOKAM Tegal

Nilainilai baru yang dianggap merugikan, disaring oleh mereka agar tidak menanggalkan budaya lama —kyai bagaikan dam/ waduk yang menyimpan air untuk menghidupi daerah sekitar. Namun pengaruh budaya luar yang datang ke suatu daerah, bagaikan permukaan air yang naik oleh adanya bendungan itu. Masyarakat dilindungi dari pengaruh-pengaruh negatif, dan dibiarkan mengambil pengaruh-pengaruh luar yang positif.

Hiroko Horikoshi dalam disertasinya2 berhasil membuktikan bahwa Kyai mengambil peranan sendiri untuk merumuskan gerak pembangunan di tempat mereka berada. Ini berarti, menurut Horikoshi reaksi pesantren terhadap modernisasi tidaklah sama dari satu ke lain tempat. Dengan demikian, tidak akan ada sebuah jawaban umum yang berlaku bagi semua pesantren terhadap tantangan proses modernisasi. Dengan kata lain, Horikoshi menolak pendapat Geertz di atas.

Menurut Horikoshi, masing-masing pesantren dan Kyai akan mencari jawaban-jawaban sendiri —dan, dengan demikian tidak ada jawaban umum yang berlaku bagi semua dalam hal ini. Pendapat Geertz di atas, dengan sendirinya, terbantahkan oleh temuan-temuan yang dilakukan Horikoshi terhadap reaksi Kyai Yusuf Thojiri dari Pesantren Cipari, Garut, atas tantangan modernisasi. Pesantren yang dipimpin oleh besan mendiang KH. Anwar Musaddad itu, tentu memberikan reaksi lain terhadap proses modernisasi. Pesantren yang sekarang dipimpin oleh Ustadzah Aminah Anwar Musaddad itu, sekarang justru tertarik pada upaya mendukung Usaha Kecil dan Menengah (UKM) yang bergerak di bidang garment dan pelestarian lingkungan alam melalui penghutanan kembali.

***

Jelaslah dengan demikian, bahwa bermacam cara dapat digunakan untuk mengenal berbagai reaksi terhadap proses modernisasi. Ada reaksi yang menggunakan warisan sistem budaya daerah, tapi ada pula yang merumuskan reaksi mereka dalam bentuk tradisi yang tidak tersistemkan. Ada pula reaksi yang bersifat temporer, tapi ada pula yang bersifat permanen. Ada yang berpola umum, tapi ada pula yang menggunakan caracara khusus dalam memberikan reaksi.

Kesemuannya itu dapat disimpulkan, keengganan menerima bulat-bulat apa yang dirumuskan “orang lain” untuk diri kita sendiri. Proses pribumisasi (nativisasi) berlangsung dalam bentuk bermacammacam, pada saat tingkat penalaran dan keterampilan berjalan, melalui berbagai sistem pendidikan. Dengan demikian, proses pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) di Indonesia berjalan dalam dua arah yang berbeda. Di satu pihak, kita menerima pengalihan teknologi dan keterampilan dari bangsa-bangsa lain, melalui sistem pendidikan formal—maka, lahirlah tenagatenaga profesional untuk mengelolanya. Di pihak lain, pendidikan informal kita justru menolak pendekatan menelan bulat-bulat apa yang datang dari luar.

Dengan demikian, tidaklah heran jika ada dua macam jalur komunikasi dalam kehidupan bangsa kita. Di satu sisi, kita menggunakan jalur komunikasi modern, yang bersandar pada sistem pendapat formal dan media massa. Media massa pun, yang dahulu sangat takut pada kekuasaan pemerintah, kini justru tunduk terhadap kekuasaan uang; dengan kemampuan yang belum berkembang menjadi proses yang efektif. Di sisi lain, digunakan jalur lain, yaitu komunikasi langsung dengan massa kongregasi jama’ah masjid/surau, gereja, pengajian-pengajian khalayak/majelis ta’lim, kelenteng/vihara, merupakan saluran wahana langsung tersebut. Apalagi, jika seseorang atau kelompok mampu menggunakan kedua jalur komunikasi itu, tentu akan menjadikan sistem politik kita sekarang dan di masa depan menjadi sangat transparan, akan menjadi lahan menarik untuk dapat dipelajari dan diamati dengan seksama.

*) Diambil dari Abdurrahman Wahid, Islamku Islam Anda Islam Kita: Agama Masyarakat Negara Demokrasi, 2006 (Jakarta: The Wahid Institute).

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Kajian, Anti Hoax KOKAM Tegal

Kamis, 25 Januari 2018

Perpecahan di Irak Mirip Kasus Maluku

Bogor, KOKAM Tegal. Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi mengungkapkan bahwa konflik sektarian di Irak antara kaum Sunni dan Syiah yang terjadi saat ini mirip dengan kasus yang terjadi di Ambon Maluku.

“Asalnya merupakan konflik ekonomi dan kekuasaan, kemudian masing-masing kelompok menggunakan pendekatan keagamaan untuk menarik simpati masyarakat pada kelompoknya. Ketika konflik sudah membesar, seolah-olah ini bersumber dari masalah keagamaan,” tuturnya.

Perpecahan di Irak Mirip Kasus Maluku (Sumber Gambar : Nu Online)
Perpecahan di Irak Mirip Kasus Maluku (Sumber Gambar : Nu Online)

Perpecahan di Irak Mirip Kasus Maluku

Di Irak sendiri terdapat dendam kekuasaan dan dendam sejarah. Pada masa Saddam Hussein berkuasa, kaum Syiah kurang mendapatkan tempat dalam kekuasaan. Posisi saat ini berbalik dengan berkuasanya golongan Syiah yang mengakibatkan golongan sunni tersingkir.

“Kalau itu disulut, apinya menjadi sangat besar. rakyat sendiri terpecah belah. Apakah sudah bersedia untuk rukun, saya kira pemimpinnya sudah oke, tetapi apakah efektif dilapangan, masih memerlukan perjaungan yang lebih lanjut, karena sekalipun dipicu oleh politik dan hegemoni, tetapi dikalangan arakyat sudah menggelinding seperti peperangan,” imbuhnya.

Untuk menghentikan perang ini, tidak hanya cukup dengan himbauan yang dilakukan oleh para ulama. Kiai Hasyim menyatakan harus ada kekuatan yang mampu mencegah, baru kemudian ada rekonsiliasi mental, moral dan agamis. “Rakyat harus ditunjukkan bahwa anda adalah korban dari berbagai gerakan politik,” paparnya.

Ulama dan pemerintah Indonesia mau terlibat dalam upaya penyelesaian konflik ini karena solidaritas sebagai sesama negara berpenduduk muslim dan amanat konstitusi untuk menciptakan perdamaian dunia. (mkf)

KOKAM Tegal



Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Fragmen, Anti Hoax KOKAM Tegal

KOKAM Tegal

Sabtu, 20 Januari 2018

10.000 Warga Sipil Termasuk Anak-anak Masih Terjebak di Mosul

Baghdad, KOKAM Tegal. Dana Anak PBB (UNICEF), Kamis (29/6) mengatakan ribuan anak telah terjebak di daerah yang masih dikuasai gerombolan ISIS, di Kota Tua Mosul, Irak.

"Anak-anak menghadapi banyak ancaman terhadap keselamatan mereka. Mereka yang terjebak dalam pertempuran bersembunyi di lantai bawah rumah mereka, takut terhadap pembantaian lain. Mereka yang berusaha menyelamatkan diri, terancam ditembak atau cedera. Ratusan warga sipil sudah dilaporkan tewas dan digunakan sebagai tameng manusia," kata Peter Hawkins, Wakil UNICEF di Irak, di dalam satu pernyataan.

10.000 Warga Sipil Termasuk Anak-anak Masih Terjebak di Mosul (Sumber Gambar : Nu Online)
10.000 Warga Sipil Termasuk Anak-anak Masih Terjebak di Mosul (Sumber Gambar : Nu Online)

10.000 Warga Sipil Termasuk Anak-anak Masih Terjebak di Mosul

"Anak lelaki dan perempuan yang telah menyelamatkan diri memperlihatkan tanda kekurangan gizi sedang dan menyimpan luka psikologis akibat konflik, sebagai akibat dari kondisi yang telah mereka lalui," tambah Hawkins.

UNICEF kembali menyampaikan seruannya kepada semua pihak dalam konflik di Mosul agar melindungi anak-anak dari kerusuhan yang berkecamuk.

"Anak-anak harus dijauhkan dari ancaman, tak peduli apa pun kondisinya," kata Hawkins.

KOKAM Tegal

Pasukan Irak telah terlibat pertempuran di dalam kota tua tersebut, tapi tentara membuat kemajuan lamban akibat perlawanan sengit gerombolan ISIS dan banyak bom rakitan serta perangkap di dalam bangunan.?

Selain itu, penembak gelap ISIS mengambil posisi di bangunan dan jalan sempit di permukiman yang padat penghuni.

KOKAM Tegal

Menurut laporan PBB baru-baru ini, sebanyak 100.000 warga sipil masih terjebak di daerah yang dikuasai ISIS di pusat kota tua itu dan permukiman yang bersebelahan, Ash-Shifaa.

Mosul, 400 kilometer di sebelah utara Baghdad, telah dikuasai ISIS sejak Juni 2014, ketika pasukan pemerintah melarikan diri dan meninggalkan senjata mereka, sehingga gerombolan ISIS bisa menguasai banyak wilayah di Irak Utara dan Barat. (Antara/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Hikmah, Anti Hoax KOKAM Tegal

Selasa, 16 Januari 2018

Perkuat Koordinasi, PBNU Kumpulkan Seluruh PWNU

Jakarta, KOKAM Tegal. Koordinasi dan komunikasi merupakan salah satu aspek penting dalam menjalankan roda organisasi. PBNU mengundang seluruh pengurus wilayah NU untuk membahas berbagai permasalahan bangsa dan kinerja organisasi.

Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi yang memimpin rapat tersebut mengingatkan kepada pada pengurus wilayah agar berhati-hati terhadap tumbuhnya berbagai gerakan yang tumbuh bak jamur di musim hujan pasca reformasi. Bukan hanya gerakan Islam radikal atau Islam liberal, gerakan komunis dengan motif ingin melakukan balas dendam juga perlu mendapat perhatian.

Sementara itu dalam upaya perbaikan manajemen, PBNU meminta seluruh wilayah mengadakan konsolidasi pengurus wilayah dan mengadakan rapat kerja yang juga menghadirkan pengurus PBNU. Dari hasil program yang dihasilkan tersebut, pada akhir tahun 2007 diharapkan sudah dapat dievaluasi hasilnya. “Saya minta hari ini juga para pengurus wilayah sudah bisa menetapkan kapan raker tersebut diadakan,” tuturnya.

Perkuat Koordinasi, PBNU Kumpulkan Seluruh PWNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Perkuat Koordinasi, PBNU Kumpulkan Seluruh PWNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Perkuat Koordinasi, PBNU Kumpulkan Seluruh PWNU

Untuk mengefektifkan jalannya organisasi Kyai Hasyim meminta lembaga-lembaga terpenting dahulu yang dimaksimalkan perannya seperti lembaga hukum, lembaga dakwah, lembaga kesehatan, lembaga maarif, dan lembaga wakaf. “Pada umumnya lembaga-lembaga ini macet,” kritiknya kepada para ketua wilayah tersebut.

Salah satu program yang akan dijalankan adalah penataran bagi para syuriah. “Saya diperintah oleh wakil rais aam menatar para syuriah. Ternyata syuriah ini harus ditata, menurut syuriah sendiri,” tandasnya.

Sementara itu Sekjen PBNU Endang Turmudi menjelaskan bahwa saat ini PBNU sudah menjalin kerjasama dengan 18 institusi dalam bentuk MoU. Sebagian dari MoU tersebut memungkinkan wilayah atau cabang yang memiliki potensi untuk terlibat dalam program yang dijalankan seperti dengan Pertamina, Debudpar dan Departemen Kehutanan dan lainnya.

KOKAM Tegal

Wakil bendahara Sirojul Munir meminta agar wilayah-wilayah NU menerapkan sistem keuangan yang transparan dan akuntable sesuai dengan prinsip-prinsip manajemen keuangan modern. Pengelolaan keuangan yang baik akan membuat organisasi semakin sehat.

Sirojul yang juga tim kerjasama dengan Pertamina juga memberi kesempatan kepada daerah-daerah yang memiliki aset tanah di lokasi yang strategis untuk dimanfaatkan menjadi pompa bensin. Kerjasama ini untuk memudahkan proses perizinan ke Pertamina karena langsung diurus oleh PBNU.

Tawaran kerjasama juga datang dari PT Telkom dimana wilayah atau cabang yang memiliki tanah di lokasi yang akan dijadikan BTS untuk disewa atau kalau mau dijual. “Kita harus sering-sering komunikasi, apa potensi yang dimiliki daerah yang bisa kita kerjakan,” tambahnya.

KOKAM Tegal

Sementara itu, Wasekjen PBNU Anas Taher yang saat ini sedang melakukan inventarisasi ranting diseluruh Indonesia meminta agar seluruh wilayah dan cabang mendukung program ini. “Kalau ditanya orang, kita tidak bisa menjawab, berapa jumlah warga NU sebenarnya. Dengan program ini diharapkan kita memiliki database warga kita,” tuturnya.

Saat ini PBNU sudah mencetak 25 ribu formulir untuk diisi oleh ranting-ranting tentang database mereka yang mencakup kedudukan dan kepengurusannya. Formulir ini akan dibagikan melalui cabang-cabang dan akan diteruskan ke bawah. “Dan jangan lupa, ini jangan sampai tidak dikembalikan,” pintanya. (mkf)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Bahtsul Masail, Anti Hoax, Nasional KOKAM Tegal

Selasa, 19 Desember 2017

Pesan Ahmad Tohari kepada Sastrawan Muda

Jakarta, KOKAM Tegal

Anak-anak muda NU perlu mengembangkan sastra, bukan hanya diabdikan untuk NU, tetapi juga kepada Indonesia. Bahkan bila dirasa perlu kepada dunia, kepada peradaban ini.

Demikian dikatakan sastrawan senior, Ahmad Tohari saat berbincang dengan KOKAM Tegal, Sabtu (23/4) di Jakarta, sebelum bertolak ke Makasar untuk mengisi workshop ‘Pengembangan Softskill Karya Sastra Religi Siswa Madrasah Aliyah di Kawasan Indonesia Timur’ yang digagas Balai Litbang Agama Sulawesi Selatan.

Menurut penulis trilogi Ronggeng Dukuh Paruk ini, sastra di Islam sebetulnya sudah lama berlangsung. Misalnya sastra-sastra yang mengajarkan hukum-hukum Islam, etika Islam, maupun adab-adab. Sedangkan di Indonesia, sastra Islam sudah ada sejak Sultan Ali Haji pada abad ke-18 dengan salah satu karyanya Gurindam 12.

Pesan Ahmad Tohari kepada Sastrawan Muda (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesan Ahmad Tohari kepada Sastrawan Muda (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesan Ahmad Tohari kepada Sastrawan Muda

Selain itu, lanjut Tohari, suku-suku di Indonesia juga sudah akrab dengan bermacam-macam puji-pujian, misalnya di Jawa, Sunda, dan Madura. Puji-pujian itu termasuk sastra lisan yang semuanya mengajarkan nilai-nilai keislaman. Menurutnya sastra Islam adalah sastra yang disemangati oleh nilai-nilai keislaman. Di dalamnya tidak harus mengajarkan dalil-dalil agama Islam. Selama sastra itu mempertinggi keadaban manusia, maka itu disebut sastra Islam.

Penulis kelahiran Banyumas, 13 Juni 1948 ini mengingatkan kepada anak-anak muda NU untuk menyadari bahwa sastrawan NU yang masih ada saat ini, sudah berusia tua. Selain dirinya, ada penyair D Zawawi Imron, Gus Mus, dan Acep Zamzam Noor.

KOKAM Tegal

“Tapi saya tahu (penulis) yang muda-muda di kalangan NU juga mulai tumbuh dan mulai banyak,” kata Tohari yang dikukuhkan harian KOKAM Tegal sebagai salah satu dari 46 Tokoh Inspiratif Penakluk Dunia.

Tohari mengaku mengikuti perkembangan sastra di kalangan muda NU. Beberapa diantaranya seperti Binhad Nurahmat yang aktif dengan gerakan "NU Miring", Candra Malik, dan Abdullah Wong adalah sejumlah nama yang bisa disebut dalam jajaran penulis sastra dari kalangan anak muda NU saat ini.

“Dan masih banyak sekali anak-anak muda NU yang berusia di bawah 30 tahun sudah melahirkan karya-karya yang menurut saya menuju proses pematangan dan pendewasaan,” ujarnya.

KOKAM Tegal

Ketika ditanya bagaimana agar penulis muda tidak cepat putus asa, Tohari mengatakan agar para penulis muda terus berproses. Karena siapa pun tidak serta merta menjadi penulis terkenal. Seorang menjadi penulis terkenal menjalani proses yang lama.?

“Saya sendiri kan mulai menerbitkan karya sastra pada tahun 1971. Kalau dihitung sampai sekarang itu sudah 45 tahun saya berkaryasastra. Jadi kalau katakanlah karya saya mendapatkan pengakuan, itu karena telah berproses lama sekali. Nah itu artinya apa? Anak-anak muda sekarang pun akan mencapai hal seperti itu apabila mereka terus berproses. Jangan berhenti berproses,” saran Tohari.?

Ia berpendapat tidak ada salahnya bila peminat sastra menjadikan berkarya sastra pada tahap awal sebagai hobi. Tetapi, hobi itu bukan berarti main-main. Karya sastra dari penulis baru biasanya sulit dijual, artinya orang yang baru-baru sulit untuk mendapatkan penghasilan dari karya sastra.?

“Boleh-boleh saja kok seorang sastrawan itu jadi wartawan, pedagang, dosen atau guru, ndak papa. Jadi boleh-boleh saja misalnya ada anak muda yang pedagang kemudian menulis karya sastra. Apalagi bila sastrawan tersebut sudah berkeluarga. Saya tidak setuju apabila sastrawan mengabaikan anak istrinya. Jadi silakan saja berdagang sambil berkarya sastra,” pungkas Tohari.(Kendi Setiawan/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Anti Hoax KOKAM Tegal

Sabtu, 09 Desember 2017

Waketum PBNU: Penulisan Sejarah Keislaman harus Dilanjutkan

Jakarta, KOKAM Tegal. Wakil Ketua Umum PBNU H As’ad Said Ali meminta agar penulisan sejarah keislaman, terutama yang menyangkut sejarah perjuangan komunitas NU terus dilanjutkan.  Peran para ulama  dalam perjuangan kemerdekaan seolah-olah diabaikan, padahal banyak diantara kaum santri yang meninggal.

Pernyataan tersebut diungkapkan dalam peluncuran buku Laskar Ulama-Santri  dan Resolusi Jihad yang digelar di Gedung Juang 45 Jakarta, Ahad (2/2).

Waketum PBNU: Penulisan Sejarah Keislaman harus Dilanjutkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Waketum PBNU: Penulisan Sejarah Keislaman harus Dilanjutkan (Sumber Gambar : Nu Online)

Waketum PBNU: Penulisan Sejarah Keislaman harus Dilanjutkan

Ia menuturkan, suatu saat pernah diberi dokumentasi perjuangan kemerdekaan oleh Des Alwi, sejarawan dan penulis asal Jakarta, tetapi peran kaum santri sama sekali tidak disebutkan didalamnya.

KOKAM Tegal

“Padahal banyak sekali santri yang meninggal waktu perjuangan kemerdekaan,” tandasnya.

KOKAM Tegal

Untuk itu, ia mengapresiasi langkah Zainul Millal dalam menelusuri dan menuliskan peran ulama dan santri dalam perjuangan kemerdekaan ini.

“Ini merupakan langkah awal untuk menuliskan sejarah selanjutnya,” tegasnya.

Ditegaskannya, para ulama memiliki peran sangat besar sejak zaman zaman Kesultanan Demak yang menyerang Malaka, kemudian Sultan Agung yang menyerang Jayakarta sampai zaman Diponegoro yang selanjutnya, para keturunannya melahirkan para kiai dan pejuang kemerdekaan.

Dengan latar belakang sejarah inilah, Indonesia menjadi sebuah negara nasionalis yang religius, bukan sebuah negara agama atau negara sekuler dan bisa hidup damai sampai sekarang.

Dalam pertemuan dengan para ulama Afganistan, mereka menanyakan, bagaimana Indonesia bisa menyatukan nasionalisme sekaligus agama sehingga bisa hidup damai. Mereka sendiri merasa kelelahan menghadapi perang selama 32 tahun terus menerus yang sampai sekarang belum selesai.

“Karena itu, mereka saya ajak ke sini untuk belajar tentang kebangsaan ini,” paparnya.

Buku Sejarah Ulama-Santri yang dalam satu bulan ini sudah cetak ulang yang kedua ini menelusuri jejak perjuangan para ulama, termasuk peran penting dalam pertempuran 10 November di Surabaya, yang dalam sejarah umum sampai saat ini belum banyak diungkap. (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Kyai, Anti Hoax KOKAM Tegal

Jumat, 08 Desember 2017

Maqom-maqom dalam Tasawuf (3-habis)

Jakarta, KOKAM Tegal. Para pelaku tasawuf yang telah meniti tiga maqom (tingkatan) sebelumnya, yaitu tawakal, ridlo, dan syukur akan menjalani maqom-maqom selanjutnya, yaitu mahabbah, tuma’ninah, dan ma’rifat. 

Maqom-maqom dalam Tasawuf (3-habis) (Sumber Gambar : Nu Online)
Maqom-maqom dalam Tasawuf (3-habis) (Sumber Gambar : Nu Online)

Maqom-maqom dalam Tasawuf (3-habis)

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, mengurai ketiga maqom tersebut, pada pengajian mingguan yang digelar di PBNU, Jakarta, Senin malam, (28/01).

Mahabbah adalah maqom cinta kepada Allah. Kalau sudah cinta kepada-Nya, kepada apapun cinta, mencintai segalanya. Orang yang menapaki maqom tersebut, yang cantik, yang jelek, yang pintar, yang bodoh, yang kaya, yang miskin; semua dicintainya.

KOKAM Tegal

“Karena semuanya yang ada itu adalah tanda-tanda keagungan Allah,” ungkap kiai kelahiran Cirebon 1953 tersebut.

Kalau sudah mahabbah, akan tumbuh tuma’ninah, atau full happy, enjoy. Hati orang yang menempuh jalan tuma’ninah adalah tenang.  

KOKAM Tegal

Tuma’ninah bukan di rumah, mobil, uang, tapi dalam hati,” tambahnya. 

Setelah maqom tuma’ninah, muncul maqom terakhir, ma’rifat. Kiai yang akrab disapa Kang Said ini menjelaskan, maqom ini dengan pengalaman Imam Ghazali sepulang menyepi di masjid Damaskus. Setelah keluar dari masjid tersebut, ia tak bisa mengatakan pengalamannya. 

“Ilmu ma’rifah tak bisa dituliskan. Tak bisa diceritakan. Tidak bisa diajarkan dengan kata-kata,” ujar kiai yang pernah nyantri di Pesantren Kempek, Lirboyo dan Krapyak tersebut.  

Orang yang sedang mengalami maqom ma’rifat, tahu betul bahwa segala sesuatu dari Allah, untuk Allah, karena Allah, bersama Allah. Tanpa itu sedetik saja, dunia hancur. 

Kiai yang juga doktor jebolan University of Umm Al-Qura Jurusan Aqidah/Filsafat Islam menegaskan, ketiga maqom tersebut dinamakan tajalli (manifestasi). Allah sudah menjelma dalam segala keadannya. 

Dampak spirutual temporalnya adalah al-uns, harmonis. Amal salehnya, bukan karena lita’abud (ibadah), bukan litaqorub (ingin dekat dengan Allah), melainkan litahaquq (mencari hakikat).  

Maqom-maqom tersebut adalah versi ringkasnya. Para ahli tasawuf berbeda rincian maqomnya. Misalnya, menurut Syekh Abdul Qodir Jilani, terdapat 40 maqom tasawuf. Sementara Imam Ghazali berpendapat ada 14 tingkatan.  

Penulis: Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Anti Hoax, Halaqoh, Khutbah KOKAM Tegal

Matinya Petani dan Tanggung Jawab Keislaman Kita

Oleh Irham Ali Saifuddin

Tak dipungkiri lagi, Indonesia adalah negara yang besar. Kita adalah bangsa yang besar. Situ enggak percaya? Walaupun kita belum menjadi negara maju dan berdaulat sepenuhnya dalam relasi global, seenggak-enggaknya kita besar hal populasi dan luasan geoprafis. Baiklah, biar lebih ciyus, kita kutip Laporan BPS pada Februari 2016 yanng memperkirakan jumlah penduduk kita saat ini sebanyak 257,62 juta jiwa. Saking luasnya wilayah Indonesia, sudah terpatri dalam benak kita klaim turun-temurun sebagai bangsa agraris dan maritim.

Matinya Petani dan Tanggung Jawab Keislaman Kita (Sumber Gambar : Nu Online)
Matinya Petani dan Tanggung Jawab Keislaman Kita (Sumber Gambar : Nu Online)

Matinya Petani dan Tanggung Jawab Keislaman Kita

Memang kita memiliki garis pantai terpanjang kedua di dunia.Nyatanya, klaim sebagai bangsa agraris dan maritim tidak sepenuhnya salah. Setidaknya bila dilihat dari okupasi prosentase sektor ketenagakerjaan. Sektor pertanian, kehutanan dan perikanan, yang oleh BPS digolongkan sebagai Sektor 1, memang merupakan sektor yang menyerap tenaga kerja paling besar, yakni 31,74 persen. Ada 38,29 juta jiwa yang bekerja di Sektor 1 ini. Dahsyat kan?

KOKAM Tegal

Tetapi tunggu dulu. Kenapa sekarang sudah semakin langka anak muda yang ketika ditanya cita-citanya apa maka tidak ada yang menjawab ingin menjadi petani?

Secara diametral, di sini kita melihat dengan jelas bahwa sektor pertanian dan perikanan sampai detik ini belum bisa menjadi sektor yang menjanjikan, yang darinya orang dapat menggantungkan hidup. Sudah semakin jarang kita temui cerita seorang petani yang kaya raya dan penuh kuasa seperti dongeng-dongeng di masa kecil. Berarti ada yang salah dari pertanian kita. Oke... Sektor tersebut memang menyerap tenaga kerja terbesar. Tetapi jangan lupa, kontribusi terhadap pendapatan domestik bruto-nya (PDB) rendah, hanya sekitar 14,5 persen. Bandingkan dengan sektor industri dan manufaktur yang hanya menyerap 12 persen tenaga kerja, tetapi sumbangsih terhadap PDB dua kali lipat dari pertanian, yakni 25 persen.

KOKAM Tegal

Gimana? Jelas kan? Angka tersebut secara jelas memberi gambaran betapa rendahnya produktivitas pertanian kita. Akhirnya ia tidak kompetitif dan selanjutnya semakin ditinggalkan oleh keluarga petani. Celakanya, hingga saat ini belum ada upaya yang terukur dari pemerintah terkait dengan strategi penyelamatan warisan nenek moyang ini.



Matinya petani, matinya bangsa


Kondisi ini tidak saja bisa disebut sebagai matinya desa. Kematian sektor pertanian adalah proyeksi masa depan kematian kita sebagai bangsa. Ini menyangkut kedaulatan kita sebagai sebuah bangsa, Bung! Betapa tidak, dari hal-hal yang paling kecil dan sederhana sekalipun, kita sudah tidak berdaulat. Tidak percaya?

Atas nama mendulang investasi dan memperkuat likuiditas, Negara bersimpuh-serah pada kekuatan-kekuatan korporasi untuk mengelola pertanian kita. Masih ingat Monsanto kan? Ia merupakan gurita global yang fokus pada pembenihan/pembibitan melalui benih/bibit transgenik. Rejim bibit ini akan sangat mengancam masa depan petani kita. Bukan saja karena Monsanto melakukan rekayasa genetik yang berbahaya dan mengancam keanekaragaman hayati. Atau kalau kamu orang Jogja, pasti tahu Pakem kan? Di Pakem terdapat sebuah perusahaan pembenihan asing yang sudah lima tahun terakhir beroperasi. Hebatnya, ia hanya fokus pada komoditas bambu. Aneka bambu yang tumbuh subur di Nusantara dikawin-sliangkan hingga menjadi varietas unggulan, kemudian bibit bambunya dipatenkan.

Ngeri enggak? Korporasi sudah seperti ancaman Jaddal bagi manusia petani di dunia modern saat ini. Penguasaan benih oleh korporasi seperti di atas ibarat sabotase karunia Tuhan terhadap bumi yang kita tinggali dengan keragaman hayatinya, lalu tetiba diklaim dan dimonopoli oleh korporasi atas nama paten dan sertifikasi. Atas sesuatu yang dititipkan oleh Allah SWT di tanah kita saja, kita sudah tidak berdaulat. Tidak terbayang kan petani kita bisa dipidanakan cuma gegara menanam bambu atau padi? Korporasi melalui rejim hak paten akan membuat negeri ini tiba-tiba miskin karena kita kemudian menjadi tidak punya hak apa-apa atas semua yang ditumbuhkan oleh Tuhan di negeri subur ini. (Hhhmmmmm... Jadi ingat lagu Darah Juang).

Itu baru dari sisi bibit saja ya. Kita belum lagi membahas mengenai swasembada pangan, ketahanan pangan, lalu seringnya Negara terjebak strategi impor atas komoditas-komoditas pangan yang menguasai hajat orang banyak. Cukuplah ini sebagai ironi negara agraris!

Di sebrang yang lain, mari kita lihat petani kita. Struktur agraria kita timpang. Prosentase kepemilikan lahan tak seimbang. Mayoritas petani pun kemudian tumbang. Kenapa? Mereka rata-rata hanya memiliki kurang dari setengah hektar lahan. Dengan luasan seperti ini, para petani kita akan kesulitan untuk menggantungkan hidupnya dari sektor pertanian. Belum lagi ketergantungan petani terhadap faktor produksi pertanian seperti pupuk, bibit, pestisida dan peralatan penunjang lainnya yang semua harus beli. Produktivitas rendah karena lahan terbatas lalu ditunjang oleh faktor produksi yang mahal. Klop sudah. Kemudian harga panen rendah karena tidak kompetitif dengan produk yang diimpor pemerintah. Gimana enggak gulung koming mereka...

Berikutnya, diserahkannya sektor pertanian kepada korporasi besar secara pasti dan sistematis akan menggerus pertanian rakyat, bahkan memati-permanenkan petani kecil. Lihat saja misalnya, beberapa tahun lalu, perusahaan-perusahaan dari China dan Malaysia mulai masuk ke dunia pertanian kita. Tak tanggung-tanggung, mereka mengucurkan investasi puluhan trilyun rupiah untuk menguasai lahan-lahan pertanian kita untuk membangun lahan persawahan dan pertanian terpadu. Bukan hanya teknologi terkini pertanian yang mereka bawa, mereka mengganti semua pola bertani tradisional kita. Ini hanya menjadi sekedar gambaran, betapa makin tampaknya gempuran korporasi tersebut semakin meminggirkan pertanian rakyat.

Akibat high-technology yang tak terbeli dan subtitusi tenaga manusia menjadi mesin-mesin pertanian yang canggih, para petani kita semakin tersudut di pinggir galeng-galeng persawahan. Mereka hanya menjadi penonton yang menyaksikan atraksi Akbar korporasi atas bumi pertiwi. Kearifan lokal seperti budaya gotong royong, bertani yang ramah alam, serta nilai-nilai social lainnya kemudian hilang. Pertanian hanya dimaknai secara serapah sebagai proses produksi dalam perspektif rakusnya industrialisasi. Pertanian sudah tidak lagi memiliki dimensi budaya dan keyakinan sosial yang sebenarnya merupakan ekstraksi nilai peradaban yang berabad turun-temurun.

Merenungkan wasiat Hadratussyekh



Dunia Islam di Indonesia seharusnya memiliki tanggung jawab yang lebih akan keberlanjutan masa depan pertanian kita. Pertanian telah menjadi saksi bagaimana ia dijadikan alat diplomasi politik, sosial dan budaya di masa penyebaran Islam di Nusantara selain jalur perdagangan. Bahkan, pesantren-pesantren di masa lalu selalu menjadikan pertanian sebagai penopang utama bagi kebutuhan pendanaan roda pendidikan Islam.

Dalam hal ini, kita sudah diingatkan oleh ulama besar pendiri organisasi terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama, Hadratussyekh KH Muhammad Hasyim Asyari. Sebagaimana pernah di tulis Hamzah Sahal di situs resmi PBNU, KH Hasyim Asyari memberikan perhatian yang luar biasa pada pertanian. Hamzah Sahal menyebut, Hadratussyekh bahkan memiliki tulisan khusus yang berjudul "Keoetamaan Bertjotjok Tanam dan Bertani." Hadratussyekh bahkan meyakinkan kepada kita semua bahwa pertanian adalah benteng terakhir bagi pertahanan Negara.

Hamzah Sahal menjelaskan bahwa Hadratussyekh secara spesifik menulis:

"Pendek kata, bapak tani adalah goedang kekajaan, dan dari padanja itoelah Negeri mengeloearkan belandja bagi sekalian keperloean. Pa Tani itoelah penolong Negeri apabila keperloean menghendakinja dan diwaktoe orang pentjari-tjari pertolongan. Pa Tani itoe ialah pembantoe Negeri jang boleh dipertjaja oentoek mengerdjakan sekalian keperloean Negeri, jaitoe diwaktunja orang berbalik poenggoeng (ta soedi menolong) pada negeri; dan Pa Tani itoe djoega mendjadi sendi tempat? negeri didasarkan."

Mbah Hasyim seperti hendak mengingatkan kepada kita, betapa strategisnya sektor pertanian ini. Nasehat tersebut semakin relevan dengan kondisi terkini dunia di mana ketahanan pangan kita sedang tercancam karena semakin terbatasnya lahan pertanian dan adanya perubahan iklim dan bencana alam. Betul sekali pesan Hadratussyekh tersebut, bahwa "Pak Tani itulah penolong negeri." Pertanian memang sektor yang sangat strategis sampai kapan pun. Saat ini, secara global ada 1 miliar lebih penduduk dunia yang bekerja di sektor pertanian. Angka ini setara dengan sepertiga tenaga kerja dunia. Walaupun angka ini turun selama dua decade terakhir, dari 45 persen menjadi 35 persen. Tetap saja yang paling siginfikan diantara sektor lainnya.

NU sebagai ormas terbesar di Indonesia, yang menurut lembaga survei LSI berjumlah 90 juta orang, seharusnya memiliki kepentingan yang besar terhadap pertanian ini. NU bukan saja memiliki landasan teologis-historis untuk menempatan pertanian sebagai prioritas dalam khidmah sosialnya, lebih jauh lagi. Jamaah NU yang sebagian besar tersebar di pedesaan adalah bidang garap yang hanya berjarak sejengkal dari dunia pertanian. Data Sakernas BPS pada Agustus 2015 mencatat ada 55 juta penduduk Indonesia yang bekerja di pedesaan. Proporsi terbesarnya, yakni 31,4 juta bekerja di sektor pertanian, kehutanan dan perikanan (Sektor 1). Kembali lagi ke survei yang dilaksanakan LSI, bila survei tersebut valid, maka mayoritas petani di Indonesia adalah mereka yang mengklaim NU secara kultural (yakni NU yang tidak memiliki identitas formal sebagai anggota Jamiyah Nahdlatul Ulama atau menjadi pengurus di badan-badan organisasi).

Isu-isu pertanian hampir selalu dibahas dalam forum-forum pembahasan masalah sosial-keagamaan di lingkungan NU, bahkan di setiap Muktamar limatahunan NU selalu memperbincangkannya. Bahkan secara formal NU memiliki badan otonom yang didedikasikan untuk pertanian, yakni Lembaga Pengembangan Pertanian Nahdlatul Ulama (LPPNU).

Meminjam istilah KH Mustofa Bisri (Gus Mus), Islam itu sebagai mayoritas di negeri ini dan karenanya ia memiliki tanggung jawab tertinggi atas apa pun yang terjadi di negeri ini. Apalagi, dalam konteks NU, organisasi ini memiliki anggota yang mayoritas mata pencahariannya adalah betani. Tanggung jawab itu menjadi berlipat ganda.

Pertanyaan penutup yang perlu kita refleksikan adalah sudah seberapa jauh dunia Islam kita dan NU mengawal wasiat Hadratussyekh tersebut?

Penulis adalah pengurus Departemen Pendidikan dan Ketenagakerjaan Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Anti Hoax, Kyai KOKAM Tegal

Senin, 04 Desember 2017

Para Kiai Pesantren Desak Jokowi Tegas soal Korupsi

Jombang, KOKAM Tegal. Sejumlah pengasuh pondok pesantren di Jawa Timur meminta Presiden Joko Widodo bersikap tegas dalam menangani masalah korupsi. Pasalnya, masa depan pemberantasan korupsi semakin kabur dengan menguatnya konflik antara KPK dan Polri.

Para Kiai Pesantren Desak Jokowi Tegas soal Korupsi (Sumber Gambar : Nu Online)
Para Kiai Pesantren Desak Jokowi Tegas soal Korupsi (Sumber Gambar : Nu Online)

Para Kiai Pesantren Desak Jokowi Tegas soal Korupsi

Tuntutan terkait ketegasan pemberantasan korupsi ini merupakan hasil Haloqoh Kebangsaan yang digelar di Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, Ahad (29/3). Hadir dalam forum bertema “Masa Depan Pemberantasan Korupsi” ini, Johan Budi (Plt Pimpinan KPK), Prof Jimly Assidiqie (mantan ketua MK), KH Sholahudin Wahid (pengasuh Pesantren Tebuireng), dan Dr. Bambang Widjayanto (pimpinan KPK nonaktif).

"Korupsi adalah kejahatan kemanusiaan yang tidak dapat dibenarkan dari aspek manapun dan nyata-nyata merugikan umat. Karena itu pesantren tegas mendukung pemberantasan korupsi dan menentang segala bentuk pelemahan," ujar KH Imron Rosady, pengasuh pesantren Islahiyah Malang saat membacakan hasil halaqoh.

KOKAM Tegal

Kedua, lanjutnya, Negara Indonesia harus diselenggarakan oleh pemimpin yang bisa menggunakan akal sehat dan hati nurani serta memiliki intrigitas. Oleh karena itu seluruh penyelenggara negara harus menunjukkan komitmennya sebagai pelopor pemberantasan korupsi.

KOKAM Tegal

Dalam hal pemberantasan korupsi, para pengasuh pesantren ini  memandang masih terdapat intervensi kekuatan besar yang mencoba mengganggu proses penegakan hukum. Karenanya Presiden harus bersikap tegas dalam penangan urusan korupsi dengan melakukan upaya politik nyata yang mengarah pada penyamaan persepsi dan pengutan institusi hukum Polri, KPK, MA, dan Kejaksaan.

"Presiden harus menolak segala bentuk intervensi politik pihak manapun yang mengarah pada pelemahan dan kriminalisasi atau mencari cari kesalahan terhadap lembaga manapun, pegiat antikorupsi, dan berpihak pada rakyat," tandasnya.

Lebih lanjut, kalangan kiai ini juga mengusulkan hukuman seberat-beratnya bagi koruptor, berupa pemiskinan, sanksi sosial, serta menolak pemeberian remisi dan pembebasan bersyarat. "Kita juga mendorong pemerintah dan parlemen untuk memberikan dukungan politik bagi penguatan lembaga anti korups," pungkas Gus Imron. (Muslim Abdurrahman/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Anti Hoax KOKAM Tegal

Inilah Obat Hati di Kalangan Sufi

Penyakit yang hinggap pada manusia tidak hanya bersifat lahir, tetapi juga ada penyakit yang dapat merusak batin manusia. Orang-orang tua di zaman dahulu menyebut sejumlah penyakit hati seperti riya, sum‘ah, ujub, takabur, hasud.

Untuk mengobati sejumlah penyakit batin itu, orang-orang tua di zaman dahulu membuat sejumlah formula untuk memulihkan kesehatan batin. Abu Ishak Ibrahim bin Ahmad Al-Khawash salah satunya.

Inilah Obat Hati di Kalangan Sufi (Sumber Gambar : Nu Online)
Inilah Obat Hati di Kalangan Sufi (Sumber Gambar : Nu Online)

Inilah Obat Hati di Kalangan Sufi

Pernyataan Syekh Ibrahim Al-Khawash ini kemudian diabadikan oleh Imam Al-Qusyairi dalam Risalah-nya sebagai berikut.

KOKAM Tegal

? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Salah satu ucapannya (Ibrahim Al-Khawash adalah, ‘Obat hati terdiri atas lima perkara, (1) membaca Al-Quran disertai perenungan, (2) mengatur pola makan agar perut tidak kenyang (bisa puasa atau cara lain), (3) bangun malam (tahajud, zikir, atau amal lainnya), (4) merendahkan diri di hadapan Allah pada akhir malam, (5) bergaul dengan orang-orang saleh.’ Hal ini disebutkan dalam Ar-Risalatul Qusyairiyah.”

KOKAM Tegal

Ketika mensyarahkan Minhajul Abidin karya Imam Al-Ghazali, Syekh Ihsan Muhammad Dahlan Jampes Kediri dalam Sirajut Thalibin jilid 2 mengutip pernyataan Syekh Ibrahim Al-Khawash. Rincian obat hati ini merupakan keterangan tambahan ketika Imam Al-Ghazali menjelaskan tawakal.

Kalangan sufi meyakini bahwa lima hal ini dipercaya dapat merontokkan penyakit hati dari dalam batin seseorang. Pasalnya satu-sama lain dari lima hal ini akan saling membantu dalam mengatasi penyakit hati seperti disebutkan di atas.

Obat hati ini cukup efektif untuk menasihati manusia yang terjankiti penyakit batin karena lima hal ini menasihati manusia dalam waktu-waktu dan dalam kondisi-kondisi tertentu. Wallahu a’lam. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Anti Hoax, RMI NU, Daerah KOKAM Tegal

Sinta Nuriyah: Syukur Tidak Bisa Memanjat

Kendal, KOKAM Tegal. Suasana di SMK NU 01 Kendal, Sabtu (2/2) pagi tadi itu cerah. Di lapangan sekolah, seribuan siswa duduk beralaskan karpet di bawah tenda yang sengaja dibangun untuk acara peresmian Gedung Praktik Siswa SMK NU 01 Kendal.



Sinta Nuriyah: Syukur Tidak Bisa Memanjat (Sumber Gambar : Nu Online)
Sinta Nuriyah: Syukur Tidak Bisa Memanjat (Sumber Gambar : Nu Online)

Sinta Nuriyah: Syukur Tidak Bisa Memanjat

Sudah direncanakan sebulanan lebih bahwa Hj. Nyai Shinta Nuriyah Wahid akan hadir pagi itu untuk meresmikan gedung tersebut. Tak ayal, para hadirin yang berasal dari para siswa dan tamu undangan diliputi ketaksabaran untuk melihat dan menyimak taushiyah istri almarhum Gus Dur itu.

Maka, ketika ibu beranak empat itu hadir, para hadirin yang semula duduk, spontan berdiri untuk menyambut kedatangannya. Dikatakan kepala sekolah SMK NU Kendal, Mokh. Izzudin M.Pd, mereka sangat merindukan mendiang Gus Dur.

KOKAM Tegal

“Dulu ketika peletakan batu pertama sekolah ini, Gus Durlah yang turut hadir dan mendoakan, kini Gus Dur telah tiada, kami ingin dzurriyah Gus Dur yang hadir untuk mengobati kerinduan kami,” tuturnya.

Ketika tiba waktunya Nyai Shinta naik ke atas panggung untuk memberikan taushiyah, hadirin dibuat hening seketika. Melihat  kursi roda bergerak pelan ke depan, mereka terbayang Gus Dur yang dalam kondisi yang kurang sehat pun, selalu mampu memberikan ceramahnya yang menggugah.

KOKAM Tegal

“Saya ucapkan selamat dan mari kita memanjatkan syukur atas diresmikannya gedung ini,” tutur Nyai Shinta mengawali ceramahnya.

“Kalau membicarakan syukur, saya selalu teringat dengan Gus Dur,” lanjutnya yang membuat para hadirin mengerutkan kening. Ada yang menduga-duga bu Shinta tengah terbayang dengan suatu memori mengharukan terkait Gus Dur.

Masih dengan wajah yang datar, ia melanjutkan kalimatnya. “Gus Dur selalu bilang, sebenarnya kenapa syukur harus kita panjatkan?” 

Hadirin makin diliputi penasaran. Sebagian yang sudah paham arah pembicaraan bu Shinta, hanya tersenyum-senyum kecil.

“Ya kita memang harus memanjatkan syukur, karena syukur tidak bisa memanjat sendiri,” tuturnya yang sontak disambut tawa para hadirin. Usai menyampaikan kelakarnya sendiri, Nyai Shinta pun turut tertawa.

Barangkali dalam hati kecilnya, ia berbahagia karena menghadirkan kembali Gus Dur yang humoris ke tengah-tengah para hadirin yang memang tidak hanya merindukan sosok Gus Dur semata, tapi juga humor-humor Gus Dur yang cerdas dan menggelitik. Membuat para hadirin menumpahkan kerinduan mereka dengan tawa bahagia.  

Redaktur     : Hamzah Sahal

Kontrbutor   : Amalia Ulfah

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Kyai, Anti Hoax KOKAM Tegal

Jumat, 01 Desember 2017

Tiga Tahun Kemensos Berhasil Tutup 115 Lokalisasi

Tegal, KOKAM Tegal. Direktur Rehabilitasi Rehabilitasi Sosial Tuna Sosial dan Korban Perdagangan Orang (RSTS & KPO) Kemensos RI Dr. Sonny W. Manalu menyebutkan, dalam kurun waktu tiga tahun, Kementerian Sosial RI nutupan 115 lokalisasi dari 168 yang ada di Indonesia. Dia berharap pada 2019 nanti, Indonesia bisa bebas dari prostitusi

"Kementerian Sosial mencatat, penutupan lokalisasi di Tegal ini merupakan yang ke 115 dari 168 lokalisasi yang ada di seluruh Indonesia,” ujarnya saat mewakili Menteri Sosial, Khofifah Indar Parawansa pada penutupan lokalisasi dan penyerahan bantuan bagi eks penghuni lokalisasi di Kabupaten Tegal, Jumat (19/5).?

Kementerian Sosial juga akan mendukung sepenuhnya pemerintah kabupaten dan kota di Indonesia yang akan menutup tempat pelacuran. Targetnya, Indonesia bebas Prostitusi pada tahun 2019 mendatang.

Tiga Tahun Kemensos Berhasil Tutup 115 Lokalisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Tiga Tahun Kemensos Berhasil Tutup 115 Lokalisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Tiga Tahun Kemensos Berhasil Tutup 115 Lokalisasi

Sonny mengapresiasi langkah Pemkab Tegal dalam merehabilitasi lokalisasi prostitusi. Menurutnya penutupan lokalisasi di Kabupaten Tegal berjalan sukses, aman, dan tertib. Kemensos meminta setelah penutupan harus dilakukan evaluasi dan pemantauan.?

"Saya saat melakukan penutupan lokalisasi di Jambi, diculik oleh paguyuban germo dan mucikari selama dua hari. Penutupan di Kabupaten Tegal ini paling teduh dan damai," ungkapnya.

KOKAM Tegal

Sementara Wakil Bupati Tegal Hj. Umi Azizah menuturkan, penghentian permanen lokalisasi prostitusi pada hari ini bukan saja karena adanya momentum bulan suci Ramadhan, tetapi juga untuk mendukung terbebasnya Kabupaten Tegal dari lokalisasi prostitusi sebagai bagian dari program nasional yang mentargetkan seluruh wilayah di tanah air terbebas dari lokalisasi prostitusi Tahun 2019.

"Saya berharap, pasca penghentian lokalisasi prostitusi ini, masyarakat setempat tetap dapat membuka usaha ekonomi produktifnya, menjalankan bisnis dan usahanya tanpa melanggar Peraturan Daerah Nomor 7 Tahun 2011 tentang Ketertiban Umum. Untuk itu, dukungan seluruh elemen masyarakat sangat diperlukan agar proses menuju kemandirian tersebut cepat terbangun," imbuh Ketua PC Muslimat NU Tegal ini. (Hasan/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal

KOKAM Tegal Anti Hoax, Kyai KOKAM Tegal

Minggu, 26 November 2017

PPHQ Wisuda 133 Santri Program Tahfidz Cepat 6 Bulan

Jombang, KOKAM Tegal

Pondok Pesantren Hamalatul Quran (PPHQ) Jogoroto, Jombang, Jawa Timur mengadakan acara wisuda bagi para penghafal Al-Qur’an (hafidh). Prosesi wisuda yang ke-3 ini diikuti 133 wisudawan Qiroah Masyhuroh dan 1 wisudawan Qiroah Sabah.

Ustadz Ainul Yaqin, pengasuh PPHQ mengatakan, meskipun berusia relatif muda, PPHQ sudah menunjukkan eksistensinya di kancah nasional, sebagai lembaga yang mencetak kader penghafal Al-Qur’an dengan program unggulan "Tahfidz Cepat 6 Bulan". PPHQ juga tetap konsisten dengan program beasiswa tahfidz bagi santri yang memenuhi syarat-syarat yang ditetapkan.

PPHQ Wisuda 133 Santri Program Tahfidz Cepat 6 Bulan (Sumber Gambar : Nu Online)
PPHQ Wisuda 133 Santri Program Tahfidz Cepat 6 Bulan (Sumber Gambar : Nu Online)

PPHQ Wisuda 133 Santri Program Tahfidz Cepat 6 Bulan

Acara yang berlangsung Senin (1/8) itu dihadiri sejumlah tokoh, di antaranya pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah). Dalam kesempatan itu, Gus Sholah berpesan agar para hafidh Al-Qur’an tidak berhenti pada hafalan semata tapi juga bisa memahami dan mengamalkan isinya.

KOKAM Tegal

Turut hadir pula KH Imam Suprayogo, mantan rektor UIN Maulana Malik Ibrahim. Ia mengaku sangat bangga dan terharu melihat 133 wisudawan yang mayoritas menyelesaikan setoran hafalan Al-Qurannya kurang dari satu tahun, bahkan ada yang hanya sekitar 3 bulan.

KOKAM Tegal

Ia lalu teringat ketika dahulu banyak mahasiswa hafidh yang tidak ia perhatikan, namun hal itu berakhir ketika Imam menemukan fakta bahwa selama ia menjabat sebagai rektor UIN Maulana Malik Ibrahim mahasiswa yang sering mendapat nilai cumlaude adalah mahasiswa penghafal Al-Quran. Sebagai bentuk pertobatan, Imam pun menggagas program beasiswa bagi mahasiswa yang hafal Al-Quran.

Sementara itu Kepala Seksi Kesantrian pada Subdit Pendidikan Diniyah, Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Ditjen Pendidikan Islam Kemenag RI H Ahmad Rusydi menekankan pentingnya memahami Islam yang lebih lanjut. Ia mendorong para santri menjadi duta Islam moderat, toleran, damai, dan mencerahkan.

Pada siang itu PPHQ juga mendapatkan Piagam Rekomendasi dari Lajnah Pentashih Mushaf Al-Quran untuk menggunakan Murottal Al-Quran dengan Qori Syekh Mahmud al-Khushori sebagai standar bacaan pembelajaran Al-Quran.

Ustadz Ainul Yaqin sebagai pengasuh PPHQ juga menandatangani nota kesepahaman dengan H Amirul Mukminin selaku ketua Yayasan Mahesa Institute dan Qomar selaku direktur Genta English Course untuk mewujudkan pendirian "Al-Quran Village’ atau Kampung Al-Quran" di kawasan Jogoroto, Jombang. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Humor Islam, Anti Hoax, Khutbah KOKAM Tegal

Minggu, 19 November 2017

Ketum GP Ansor : Mbah Liem Populerkan Slogan NKRI Harga Mati!

Solo, KOKAM Tegal



Slogan NKRI Harga Mati! saat ini seakan menjadi sebuah kalimat sakti untuk membangunkan bangsa ini dari ancaman perpecahan maupun rongrongan dari berbagai kelompok yang berusaha untuk mengubah dasar negara.

Ketum GP Ansor : Mbah Liem Populerkan Slogan NKRI Harga Mati! (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketum GP Ansor : Mbah Liem Populerkan Slogan NKRI Harga Mati! (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketum GP Ansor : Mbah Liem Populerkan Slogan NKRI Harga Mati!

Menurut penuturan Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda (GP) Ansor H. Yaqut Quomas Cholil, slogan itu dipopulerkan oleh Kiai kharismatik asal Klaten, KH Moeslim Imampuro atau yang akrab disapa Mbah Liem.

“Mbah Liem-lah yang mengeluarkan dan meneriakkan slogan NKRI Harga Mati!” ungkap Yaqut dalam kunjungannya di Solo, Kamis (10/8).

Tidak hanya itu semasa hidupnya ulama Pengasuh Pesantren Al-Muttaqien Pancasila Sakti Klaten itu juga pernah meneguhkan pondoknya sebagai Kampus Kader Bangsa (KKB), yang didirikannya adalah bentuk kecintaannya kepada Ibu Pertiwi.

Menurut dia, slogan tersebut kini sering didengungkan Ansor dan Banser di setiap kesempatan. Tidak hanya menjadi penyemangat, tapi juga bersambung kepada para pendahulu.

KOKAM Tegal

“Oleh karena itu kita sepakati, bagi Ansor dan Banser, teriakan tersebut mampu satukan kita semua. Bukan hanya generasi saat ini, tapi juga kepada para pendahulu kita dan dengan generasi penerus,” kata dia. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

KOKAM Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Anti Hoax KOKAM Tegal

Rabu, 08 November 2017

15 Ribu Nahdliyin Sidoarjo Ikuti Jalan Bareng Ansor

Sidoarjo,KOKAM Tegal. Jalan bareng santri di paseban Alun-alun Sidoarjo dalam rangka memperingati puncak Jambore Harlah Ansor ke-81 diikuti puluhan ribu warga NU dan masyarakat Sidoarjo. Mereka terdiri dari anak-anak, remaja, dewasa hingga orang tua.

Meski suasana mendung mengelilingi kota Udang ini, tidak menyurutkan semangat para peserta untuk melangkahkan kakinya guna mengikuti moment yang sangat spesial ini.

15 Ribu Nahdliyin Sidoarjo Ikuti Jalan Bareng Ansor (Sumber Gambar : Nu Online)
15 Ribu Nahdliyin Sidoarjo Ikuti Jalan Bareng Ansor (Sumber Gambar : Nu Online)

15 Ribu Nahdliyin Sidoarjo Ikuti Jalan Bareng Ansor

Ketua GP Ansor Sidoarjo Slamet Budiono mengatakan bahwa acara puncak jambore jalan bareng santri ini dalam rangka memperingati Harlah Ansor Ke-81. Dalam serangkaian acara ini peserta mendapatkan kupon gratis dari panitia yang akan diundi pada penghujung acara.

KOKAM Tegal

"Alhamdulillah pesertanya melebihi dari target yang ditentukan oleh panitia. Untuk jalan bareng santri ini diikuti sekitar 15.000 peserta dari Banom NU mulai dari Ranting, PAC, PC hingga masyarakat Sidoarjo yang mengikuti Car Free Day di alun-alun Sidoarjo," Ahad (3/5).

Bupati Sidoarjo H Saiful Ilah dalam sambutan pemberangkatannya mengatakan bahwa dalam mengikuti jalan bareng santri ini harus tertib, kondusif dan mematuhi peraturan yang sudah diberikan oleh panitia.

KOKAM Tegal

"Saya berpesan kepada semua peserta jalan bareng santri agar mempererat kekeluargaan, persahabatan, persaudaraan dan kebersamaan antar peserta jalan sehat,” tutur Abah Ipul sapaan akrab Bupati.

Nampak hadir dalam acara itu Wakil Bupati Sidoarjo H MG Hadi Sutjipto, Ketua DPRD Sidoarjo H Sulamul Hadi Nurmawan, Ketua GP Ansor Sidoarjo Slamet Budiono, Rektor Unusida, Kepala Kemenag Sidoarjo dan beberapa pejabat di lingkungan Kabupaten Sidoarjo/Forpimda.

Setelah peserta diberangkatkan oleh Bupati, para peserta kemudian menempuh jalan yang sudah ditentukan oleh panitia yakni alun-alun Sidoarjo menuju ke Selatan lewat Slautan, kemudian kembali lagi ke alun-alun Sidoarjo untuk mendapatkan hadiah atau door price dari panitia dan hadiah utama berupa sepeda motor Honda. (Moh Kholidun/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal IMNU, Hadits, Anti Hoax KOKAM Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs KOKAM Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik KOKAM Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan KOKAM Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock