Tampilkan postingan dengan label Pondok Pesantren. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pondok Pesantren. Tampilkan semua postingan

Minggu, 25 Februari 2018

Membayar Utang kepada Syekh Rabbani (2)

Oleh KH Yahya C. Staquf



Syahidnya Syekh Rabbani adalah tanggungan (dzimmah) atas Nahdlatul Ulama. Beliau terbunuh karena keterlibatan beliau dalam inisiatif yang dibuat oleh Nahdlatul Ulama. Dan beliau terlibat karena diminta oleh Nahdlatul Ulama.

Membayar Utang kepada Syekh Rabbani (2) (Sumber Gambar : Nu Online)
Membayar Utang kepada Syekh Rabbani (2) (Sumber Gambar : Nu Online)

Membayar Utang kepada Syekh Rabbani (2)

Nahdlatul Ulama berhutang nyawa kepada Syekh Rabbani!

KOKAM Tegal

Tapi NU tahu, tidak ada yang lebih diimpikan oleh Syekh Rabbani selain perdamaian dan keselamatan rakyat Afghanistan yang teramat beliau cintai, demi siapa beliau rela mempertaruhkan nyawa. Maka Kiai Asad Said Ali pun tidak berhenti menempuh ikhtiar menuju terwujudnya impian Syekh Rabbani itu. Kiai Asad melanjutkan hubungan intensif dengan para pemimpin Afghanistan, terutama ulama-ulama mereka.

KOKAM Tegal

Kiai Asad juga mengatur suatu kegiatan berkala yang rutin berupa pertukaran kunjungan antara ulama Afghanistan dan ulama NU, sekurang-kurangnya setahun sekali. Hingga kini, walaupun beliau tidak lagi menduduki jabatan apa pun di PBNU, beliau tidak berhenti mengatur dan memfasilitasi kunjungan wakil PBNU ke Afghanistan. Yang terakhir, beberapa bulan yang lalu, Kiai Abdul Ghofur Maimoen yang dikirim kesana. Semua atas biaya dari Kiai Asad. Dirogoh dari kantong pribadi beliau sendiri!

Keperdulian Kiai Asad kepada Afghanistan tidak bertepuk sebelah tangan. Para ulama Afghanistan melihat secercah cahaya diujung lorong gelap yang panjang. Dan mereka menyambutnya dengan gairah harapan yang menyala-nyala dan dengan keyakinan yang mengkristal akan rahmat yang dibawa oleh Nahdlatul Ulama! Pada 25 Juni 2014, mereka menyatukan tekad diantara mereka dan mendeklarasikan organisasi baru wadah persatuan mereka, yang diberi nama: Nahdlatul Ulama Afghanistan!

Dengan organisasi itu, mereka melanjutkan perjuangan untuk perdamaian. Demi masa depan umat mereka, rakyat Afghanistan yang mereka cintai hingga ke sumsum tulang. Amanat keulamaan mereka. Dan mereka terus berbesar hati bahwa Nahdlatul Ulama yang ada di Indonesia tidak akan pernah berhenti mendukung mereka dan menyediakan apa pun yang mampu disediakan untuk membantu mereka. Tidak akan berhenti selamanya. Tidak, selama masih ada Kiai Asad Said Ali, dan orang-orang yang berbagi kasih-sayang dengannya. Orang-orang yang memahami hutang Nahdlatul Ulama kepada Syekh Rabbani!

Lebih dari itu, Syekh Burhanuddin Rabbani dibunuh dengan tanpa haqq. Membunuh satu nyawa dengan tanpa haqq sama halnya membunuh manusia seluruhnya. Maka nyawa Syekh Rabbani senilai nyawa seluruh umat manusia. Nahdlatul Ulama berhutang kepada Syekh Rabbani bukan hanya nyawa beliau sendiri saja, tapi keselamatan seluruh ummat manusia!

Maka, dengan bertawakkal kepada Allah Subhanahu Wa Taala, Nahdlatul Ulama bertekad untuk melunasi hutang itu sebaik-baiknya. Nahdlatul Ulama mengerti bahwa Afghanistan hanyalah cuwilan kecil dari bencana raksasa yang menimpa seluruh peradaban umat manusia hari ini. Yaitu konflik dan antagonisme yang mengatasnamakan segala yang agung bagi manusia, termasuk agama, justru untuk membunuh belas-kasih dan tepa-selira kepada sesama.

Nahdlatul Ulama tidak berhenti hanya dengan Afghanistan saja.

Penulis adalah Katib ‘Aam PBNU



Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Pondok Pesantren, Aswaja KOKAM Tegal

Jumat, 02 Februari 2018

Mahasiswi Nurul Jadid Paiton Gelar Diskusi Publik

Probolinggo, KOKAM Tegal - Kelompok mahasiswa (Pomas) putri Nurul Jadid Paiton Kabupaten Probolinggo menggelar diskusi tentang feminisme dan Islam dalam konteks keindonesiaan kini di Aula IAI Nurul Jadid, Sabtu (10/6).

Diskusi ini diikuti oleh para pimpinan pada 3 (tiga) perguruan tinggi di Nurul Jadid Paiton (STT, IAI dan STIKes), jajaran pengasuh putri, pengurus pesantren dan mahasantri dari 3 perguruan tinggi Nurul Jadid Paiton.

Mahasiswi Nurul Jadid Paiton Gelar Diskusi Publik (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahasiswi Nurul Jadid Paiton Gelar Diskusi Publik (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahasiswi Nurul Jadid Paiton Gelar Diskusi Publik

Hadir sebagai penyaji adalah Lailatul Fitriyah, alumnus hubungan international dan kandidat doktor di Universitas Notre Dome Amerika Serikat. Laila adalah alumnus Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton.

Rektor IAI Nurul Jadid KH Abdul Hamid Wahid mengatakan, kegiatan ini bertujuan untuk memberi wawasan dan membahas salah satu isu yang sering dihadapi oleh Muslimah berupa feminisme.

KOKAM Tegal

“Bagaimana kita dapat memposisikan dengan benar dan tepat dalam memaknai dan mengaplikasikan dalam kehidupan. Demikian pula bagaimana kita belajar pada bangsa lain di belahan dunia ini dalam isu tersebut. Mengingat pembicara sebagai alumni juga belajar di negeri Paman Sam,” katanya.

KOKAM Tegal

Menurut Kiai Abdul Hamid Wahid, sebetulnya isu ini sudah lama ada di tengah-tengah masyarakat. “Tapi mungkin berkembang dalam implementasinya sesuai perkembangan keadaan,” jelasnya.

Sementara penyaji Lailatul Fitriyah mengatakan bahwa sudah saatnya konsep feminisme dibumikan di Indonesia. Akan tetapi masyarakat Indonesia masih alergi dengan konteks itu, karena semuanya dianggap dari Barat.

“Oleh karena itu, persepsi negatif itu harus dihilangkan, agar roh feminisme bisa diterapkan secara universitas,” ungkapnya. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Pondok Pesantren, Lomba, Meme Islam KOKAM Tegal

Betapa Gamangnya Menghadapi Globalisasi

Jakarta, KOKAM Tegal. Globalisasi yang ditandai dengan lintas-batasnya negara-negara, liberalisasi, internasionalisasi dan? universalisasi adalah perubahan besar tata dunia. Persoalannya bukan lagi apakah globalisasi sebuah keniscayaan, akan tetapi bagaimana menghadapi itu.

Sesi kedua Halaqoh II Pra-Munas dan Konbes di Jakarta, Sabtu (8/7), membuka kembali perbincangan tentang globalisasi, universalisme dan HAM dalam perpektif NU. Bertindak sebagai pembicara, Guru Besar UIN Qodri Azizi, Ketua PBNU Fajrul Falakh dan? KH. Hasyim Muzadi.

Mengawali pembicaraan, Qodri Azizi mengungkapkan, globalisasi adalah proses yang dialami oleh sebuah peradaban besar bernama dunia. Kekhawatiran bahwa globalisasi adalah proyek besar negara-negara Barat sama sekali tidak beralasan.

Betapa Gamangnya Menghadapi Globalisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Betapa Gamangnya Menghadapi Globalisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Betapa Gamangnya Menghadapi Globalisasi

“Kita tak mungkin bisa setuju atau tidak? menghadapi globalisasi. Dan globalisasi itu sebenarnya netral, hanya saja Barat saat ini memang mendominasi. Dalam sejarah sebenarnya globalisasi dimulai oleh Islam pada abad pertengahan,” kata Qodri Azizi.

Fajrul Falah menyoroti beberapa persoalan penting dalam globalisasi seperti terorisme, perdagangan orang dan obat-obat terlarang, penyebaran virus dan penyakit secara mendunia, perdagangan uang dan hak milik intelektual, serta ekspor-impor limbah beracun. Menurutnya, saat ini setiap bangsa panik dengan berbagai isu yang kemudian disebut sebagai isu dunia.

KOKAM Tegal

Dikatakan Dosen Fakultas Hukum UGM itu, ada tiga pilihan yang mau tidak mau harus dijalani oleh setiap bangsa yang “kalah” dalam persaingan global.

“Apakah bertahan atau uzlah seperti China dulu menerapkan "tirai bambo", apakah kita beradaptasi dengan kesiapan peralatan jejaring masyarakat sipil global, atau berintegrasi dengan kemungkinan menyerah dan larut, mewarnai, atau memimpin,” kata Fajrul.

Ketua Umum PBNU KH. Hasyim Muzadi berpandangan, globalisasi perlu dihadap dengan filter ketat. Menurutnya, tatanan nilai yang ada menjadi ukuran apakah suatu proses globalisasi dilanjutkan atau tidak.

KOKAM Tegal

“Kalau tidak? bertentangan ya nggak masalah sebagai bagian dari sebuah perkembangan, bahwa kata Nabi antum a’lamu bi’umuri dunyakum (kalian lebih mengerti urusan kalian sendiri: Red),” kata Hasyim.

Qodri Azizi menyangkal. “Kita jangan berfikir filter dulu,” katanya. Keinginan untuk membuat filter dapat menghambat kemajuan. Menut Qodri, berbicara filter adalah tanda-tanda kalah dalam berkompetisi. (nam)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Pondok Pesantren, Aswaja, Doa KOKAM Tegal

Kamis, 01 Februari 2018

Fikih Keseharian Gusmus

Penulis : KH. Ahmad Musthofa Bisri (Gusmus)

Peresensi : Peresensi Ach. Tirmidzi Munahwan

Selama ini berita yang masih aktual, dan masih menjadi sorotan media massa adalah peristiwa tentang perselisihan dan perdebatan dalam pemikiran masalah-masalah keagamaan atau fiqh, yang dalam istilah NU disebut forum “Bahtsul Masail”. Bahtsul masail ini merupakan salah satu forum diskusi keagamaan untuk merespon dan memberikan solusi atas problematika aktual yang muncul dalam kehidupan masyarakat. KH Sahal Mahfudz, Pengurus Syuriyah PBNU menyebutnya bahwa forum “Bahtsul Masail” merupakan forum yang dinamis dan demokratis, selalu mengikuti perkembangan, dan trend hukum yang terjadi  di masyarakat.

Siapa yang tidak kenal dengan sosok yang satu ini? K.H.A. Musthofa Bisri yang panggilan akrabnya Gus Mus sudah tidak asing lagi bagi semua kalangan, ia adalah seorang kiai, pelukis, penyair, dan budayawan yang karya-karyanya selalu melambung di media massa baik lokal maupun nasional. Setelah pasca Buya Hamkah, Ali Hasjmi, dan Bahrum Rangkuti, umat Islam Indonesia sangat miskin melahirkan ulama yang dikatakan seniman dan sastrawan. Mungkin tidak banyak yang tahu, jika Gus Mus disamping sebagai sastrawan juga seorang pelukis.

Fikih Keseharian Gusmus (Sumber Gambar : Nu Online)
Fikih Keseharian Gusmus (Sumber Gambar : Nu Online)

Fikih Keseharian Gusmus

Meskipun sebagai budayawan, penyair, dan pengasuh pondok pesantren, namun pemikiran dan gagasan-gagasan yang diusungnya mampu menandingi, bahkan melebihi wacana-wacana yang diusung oleh para ilmuwan, dan cendikiawan. Jadi tidak semua masyarakat pesantren hanya dianggap sebagai kaum sarungan yang pemikiran dan gagasannya hanya terpaku pada teks klasik saja, melainkan mampu menyesuaikan dengan realitas sosial yang terjadi saat ini.

Dan pada ahir-ahir ini masyarakat pesantren selalu eksis dimana-mana, dan  mulai banyak mengaktualisasikan pemikiran, dan gagasannya  yang dapat   memasung daya kritis seorang santri, sehingga masyarakat pesantren bisa dikatakan seorang yang produktif, dan kritis.

KOKAM Tegal

 Rois Syuria Nahdhatul Ulama (PB.NU) ini, tidaklah membuat beliau menjadi orang yang rakus terhadap kekuasaan dan memanfaatkan jabatannya. Namun beliau adalah orang yang bisa menjaga jarak dari hal-hal yang sifatnya politis, dan pragmatis.  Seperti yang disampaikan dalam tausiyahnya dalam munas alim ulama di Sokolilo kemarin, bahwa persoalan politik  di Indonesia sangatlah pelik, dan berengsek sekali, tidak didasari dengan etika-etika  politik yang ada.

Kiprah Gus Mus di panggung politik bermula mendapat tawaran dalam bursa pencalonan sebagai anggota legislatif PPP preode 1977-1982 mewakili wilayah Rembang-Blora. Namun meskipun ia mendapat sebuah tawaran yang menggiurkan dan menjanjikan Gus Mus menolaknya. Karena ia merasa belum berpenglaman dan juga belum mempunyai andil di partai.

Buku setebal 525 halaman ini, memang benar-benar hasil garapan kreatif seorang kiai dan budayawan, yang didalamnya mengulas tentang berbagai problematika  kekinian, dengan tanpa meninggalkan keotentikan dan nilai historisitas teks klasik (kitab kuning).

Adapun pemikiran-pemikiran yang ia usung selama ini, memang benar-benar dimanfaatkan untuk meningkatkan, dan memperluas ilmunya untuk mengabdi pada masyarakat. Bagaimana masyarakat bisa mengerti, dan paham terhadap hukum fiqh pada umumnya.

Dengan ketajaman analisis inilah, Gus Mus tidak hanya mampu menawarkan jawaban-jawaban dari bermacam problem yang datang padanya secara normatif. Melainkan ia berhasil memberikan kerangka nuansa pemikiran untuk mengatasi masalah-masalah keagamaan keseharian kita secara rinci dan terurai  secara rapi.

KOKAM Tegal

 Dan perlu dicatat, bahwa  penjelasan atau jawaban-jawaban yang ia berikan semata-mata penjelasan apa adanya yang dirangkai dengan dalil-dalilnya. Sehingga jawaban-jawaban beliau tidak begitu saja mengatakan  ini haram dan itu halal, ini wajib dan itu sunnah.

Selain itu juga, dalam bab akhir Gus Mus dengan sangat gamblang memaparkan berbagai persoalan-persoalan budaya kontemporer yang sedang dihadapi oleh umat Islam. Seperti dalam bab VIII halaman 520, ada seorang penanya mengutarakan kegundahan dalam kehidupan sehari-harinya yaitu, berkenaan dengan maraknya gambar-gambar panas (porno),  dan melakukan onani.

Di saat memberikan jawaban atas pertanyaan ini, Gus Mus menentukan haram tidaknya melihat gambar porno dan melakukan onani, yaitu mengikuti pendapat para ulama. Karena pendapat para ulama sudah sepakat, melihat gambar-gambar panas (porno), dan melakukakan onani hukumnya haram. Karena manfaat dan mudharatnya yang jelas  lebih banyak madaratnya. Dan perbuatan  tersebut, telah dilarang oleh agama, dan dapat merusak moral para generasi muda pada umumnya. Perbuatan yang dilarang oleh agama mDari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Pondok Pesantren, Santri, Jadwal Kajian KOKAM Tegal

Senin, 29 Januari 2018

Gus Sholah: Gerakan Fundamentalisme Agama Ancam Nasionalisme

Jombang, KOKAM Tegal. Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, KH Sholahuddin Wahid (Gus Sholah) mengatakan, gerakan fundamentalisme agama dan radikalisasi massa yang marak belakangan ini, merupakan tanda-tanda bagi ancaman nasionalisme Indonesia.

Hal itu disampaikan Gus Sholah saat menjadi pembicara pada seminar “Nasionalisme Indonesia, Dulu dan Kini”, di sela-sela Pertemuan Anak Muda Nahdlatul Ulama (NU) di Aula Ponpes Tebuireng, Jombang, Jatim, Ahad (20/05) kemarin, seperti dilansir syirah.com.

Gus Sholah, dalam acara yang digelar untuk memperingati Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) itu, mencontohkan ancaman bagi nasionalisme juga tampak pada hubungan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Menurutnya, hubungan itu tidak lagi mencerminkan hubungan yang berlandaskan keadilan dan memberi nilai lebih bagi pemberdayaan masyarakat miskin.

Gus Sholah: Gerakan Fundamentalisme Agama Ancam Nasionalisme (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Sholah: Gerakan Fundamentalisme Agama Ancam Nasionalisme (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Sholah: Gerakan Fundamentalisme Agama Ancam Nasionalisme

Globalisasi, tambah mantan Ketua Pengurus Besar NU yang juga adik kandung KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) itu punya peran besar dalam menumbuh-suburkan gerakan fundamentalisme agama dan radikalisasi massa. Semakin besar efek yang ditimbulkan globalisasi, maka nasionalisme Indonesia akan terpinggirkan, terancam.

Waspadai Gerakan Fundamentalisme

Sementara itu, Pertemuan Anak Muda NU, Minggu (20/05), menghasilkan beberapa rekomendasi. Di antaranya, mengimbau kepada masyarakat agar mewaspadai gerakan-gerakan fundamentaslime yang mengancam nasionalisme Indonesia.

KOKAM Tegal

Selain itu, acara yang diikuti aktivis NU dan LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) juga mengeluarkan seruan kepada pemerintah pusat untuk lebih memperhatikan kembali rakyat miskin yang jumlahnya masih banyak di beberapa daerah.

Hal itu dianggap penting karena selama ini kebijakan-kebijakan pemerintah pusat kepada daerah dinilai tidak cocok dengan kearifan lokal dan tidak seimbang dengan sumberdaya lokal daerah.

Kepada kalangan “NU struktural”, seperti dikutip syirah.com, Pertemuan Anak Muda NU menyatakan agar lebih aktif memperjuangkan isu yang sedang menimpa warga NU, misalnya soal kemiskinan. Karena kalangan struktural NU dinilai masih mempunyai kekuatan untuk menggerakkan warganya agar terlepas dari belenggu kemiskinan.

KOKAM Tegal

Sedangkan, kalangan “NU kultural”, dalam hal ini dapat memainkan dua peran. Pertama, mendukung, mendampingi NU struktural untuk merealisasikan program yang berpihak pada permasalahan yang dihadapi umat.

Acara tersebut dihadiri sekitar 200 peserta dari kalangan LSM NU; Syarikat Indonesia, Lembaga Kajian Islam dan Sosial (LKiS) Yogyakarta, Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M) Jakarta, Pengurus Pusat Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) NU Jakarta, FLA, Averroes Malang. (rif)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Pondok Pesantren, Humor Islam, Aswaja KOKAM Tegal

Rabu, 24 Januari 2018

IPNU Jakpus Gelar Turnamen Futsal untuk Para Artis Cebol

Jakarta, KOKAM Tegal. Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Jakarta Pusat mengadakan turnamen futsal se-DKI Jakarta. Kali ini turnemen tergolong unik, karena semua pesertanya adalah orang mini (cebol) yang tak asing lagi di layar televisi Indonesia.

IPNU Jakpus Gelar Turnamen Futsal untuk Para Artis Cebol (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU Jakpus Gelar Turnamen Futsal untuk Para Artis Cebol (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU Jakpus Gelar Turnamen Futsal untuk Para Artis Cebol

Kebanyakan dari mereka adalah pemain sinetron, seperti Tarzan Betawi, Ronaldowati, dan  7 Manusia Harimau, yang sampai saat ini sinetronnya masih tayang. “Saya sendiri awalnya meragukan akan terlaksanannya turnamen ini. Mereka adalah pemain sinetron, terlebih ada yang bilang bahwa setelah futsal mau langsung menuju lokasi syuting di Cibubur,” ujar Yani Rahman, Ketua PC IPNU Jakarta Pusat.

Turnamen yang digelar Sabtu (12/9) ini dihadiri langsung oleh Faisal dari Deputi 3 Kemenpora Republik Indonesia. Ia membuka turnamen ini dengan menendangkan bola dari tengah lapangan yang kemudian disahut gemuruh tepuk tangan para peserta dan panitia.

KOKAM Tegal

Faisal tampak terkejut dan senang ketika memasuki lapangan futsal, di kawasan Kwitang, Jalan Keramat 2, Jakarta Pusat itu. “Waw, ini merupakan suatu kegiatan yang beda dengan yang lain, tetap jaya olahraga Indonesia,” ujarnya.

KOKAM Tegal

PC IPNU Jakarta Pusat mengadakan turnamen ini karena menilai bahwa olahraga bisa dinikmati oleh semua kalangan. Gelak tawa yang tanpa henti mewarnai turnamen futsal tersebut. Semua larut dalam kebersamaan dan kegembiraan, termasuk bagi tim yang kalah. “Ini merupakan kemenangan kita bersama,” ujar Farly sesaat setelah menerima piala juara 1 turnamen futsal mini. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Pondok Pesantren, AlaNu KOKAM Tegal

Minggu, 21 Januari 2018

Kepahlawanan Kaum Santri

Hanya sedikit sejarawan yang menuliskan kisah perjuangan para ulama dan kaum santri dalam merebut kemerdekaan dan mendirikan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tidak banyak bukti sejarah yang mencatat keterlibatan kaum santri. Kisah perjuangan para santri hanya tersebar secara lisan dari generasi ke generasi.

Di sisi lain, sejarah konvensional lebih sering menulis kisah-kisah heroik yang bertumpu pada kepahlawanan seorang raja, panglima perang, tentara profesional, orator ulung, atau pemimpin diplomasi. Perjuangan yang melibatkan rakyat banyak hanya ditulis di sela-sela kisah kebesaran satu dua tokoh.

Kepahlawanan Kaum Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
Kepahlawanan Kaum Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

Kepahlawanan Kaum Santri

Hal lain lagi, sejarah konvensional bertumpu pada catatan-catatan sejarah yang ditulis oleh para pelaku. Sementara para ulama dan kaum santri tidak biasa dan tidak sempat membuat memoar atau semacamnya. Mereka berjuang sebagai bagian dari panggilan tugas. Setelah berjuang, mereka yang masih hidup kembali menjalankan aktifitas sehari hari di pesantren, di masjid, di masyarakat.

KOKAM Tegal

Wajar jika generasi penerus para ulama dan kaum santri yang telah berbaur dengan berbagai kalangan pun merasa gelisah, karena para pendahulu mereka tidak dinyatakan secara formal sebagai orang-orang yang telah berjuang. Perjuangan para pendahulu mereka hanya dikisahkan secara lisan dan diyakini oleh kalangan internal.

KOKAM Tegal

Maka upaya-upaya kaum muda NU untuk menggali berbagai sumber, dokumen, dan bukti sejarah mengenai kisah perjuangan kaum pesantren dalam merebut kemerdekaan Indonesia adalah langkah strategis. Dokumen Resolusi Jihad KH Hasyim Asy’ari hanyalah bukti yang diam, yang perlu digerakkan untuk melacak sejauh mana keterlibatan kaum santri dalam perjuangan kemerdekaan.

Terkait peristiwa November 1945, belakangan baru diketahui bahwa Cak Asy’ari yang menyobek warna biru dalam bendera merah putih biru di depan hotel Yamato sebelum terjadi pertempuran besar-besaran di Surabaya adalah seorang kader Ansor NU. Ada juga kisah mengenai pergerakan massa dari pesantren di kawasan Mataraman ke Surabaya, bahkan dari pesantren nun jauh di Cirebon. Ada juga kisah-kisah mengenai aktivitas para santri menyiapkan makanan di barak-barak para pejuang.

Wakil Sekjen PBNU Abdul Munim DZ mengungkapkan, KH Hasyim Asy’ari adalah tokoh muslim paling disegani semenjak kehadiran Jepang. Ada sebutan "Kiai No 1 dari pemerintah Jepang. Setelah dipenjara Kiai Hasyim malah dipercaya memimpin dua organisasi tingkat nasional, yakni Sumubu dan Masyumi. Kiai Hasyim juga mempunyai komando langsung kepada pasukan Hizbullah, Sabilillah, dan barisan kiai yang telah mendapatkan pendidikan militer dari Jepang dan bahkan mendapatkan lucutan senjata dari Jepang. Sangat aneh ketika nama KH Hasyim Asy’ari tidak disebut dalam catatan sejarah formal.

Jika mundur ke belakang, keterlibatan kaum santri akan selalu tampak dalam setiap gerakan konfrontasi dengan penjajah. Pelatihan-pelatihan militer untuk para pejuang dilakukan di pesantren-pesantren yang berada di pelosok desa. Jaringan tarekat dan santri kelana menjadi penyampai informasi dan propaganda dari satu tempat ke tempat lain.

PBNU mengapresiasi para sejarawan, peneliti dan sastrawan muda NU mulai gemar menulis kisah-kisah dari kalangan kaum santri sendiri. Siapa lagi yang menulis kalau bukan kita sendiri? Tidak perlu berharap kepada orang lain, karena bagi orang lain kaum santri mungkin tidak menarik untuk ditulis.

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj sering mengingatkan bahwa menulis merupakan bagian dari dakwah. Istilah fikih dakwah dalam khasanah pesantren sering diterjemahkan secara lugas dengan fikih marketing. Ia mengingatkan, kaum santri dan kalangan NU masih perlu belajar banyak dan istiqomah dalam menekuni bidang ini. (A. Khoirul Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Pondok Pesantren, Ulama KOKAM Tegal

Selasa, 16 Januari 2018

Ikan Milik Allah

Sudah menjadi aktivitas sehari-hari Kiai Nuri untuk mendidik dan mengajar para santri di pondok pesantrennya. Pagi itu ia menyampaikan tentang kekuasaan Allah yang tidak terbatas.

Seorang santri bernama Muhidin memahami penjelasan kiainya bahwa apa yang ada di langit dan di bumi ini semua milik Allah SWT.

Ikan Milik Allah (Sumber Gambar : Nu Online)
Ikan Milik Allah (Sumber Gambar : Nu Online)

Ikan Milik Allah

Tibalah saat Muhidin dan beberapa santri membutuhkan lauk pauk untuk makan tetapi sudah tidak ada persediaan uang untuk membelinya.

Sampai pada akhirnya si santri mengambil ikan di kolam milik kiai. Saat memperoleh ikan yang besar, tiba-tiba Kiai Nuri datang.

“Hai, kenapa kamu mengambil ikan milik kiaimu?” tegur Kiai Nuri kepada Muhidin dan beberapa kawan santrinya.

KOKAM Tegal

Alih-alih lari tunggang langgang, Muhidin justru mendekati Kiai Nuri dan berkata, “Bukankah kiai sendiri yang mengajarkan ayat, lillahi ma fis samawati wa ma fil ardh, semua ini milik Allah. Jadi bukan milik kiai,” seloroh Muhidin. 

Kiai Nuri terdiam. Dalam hati ia berucap, “Senjata makan kiai nih.” 

“Iya Nak, itu milik Allah, tapi jangan ikan yang besar!” ujar Kiai Nuri.

Saking gemesnya, Kiai Nuri sekaligus melempar sandal bakiaknya ke arah Muhidin. “Aduh, kenapa kiai melempar bakiak ke saya?” tanggap Muhidin.

KOKAM Tegal

Dengan membaca ayat, wa ma romaita wa lakinallaha roma, Kiai Nuri menjawab tenang, “Bukan saya yang melempar, tapi Allah Nak.” (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Pondok Pesantren, News KOKAM Tegal

Minggu, 14 Januari 2018

Pengungsi Merapi Kehabisan Uang Tunai

Boyolali, KOKAM Tegal. Pengungsi letusan Gunung Merapi yang tersebar di sejumlah daerah mengaku sudah kehabisan uang, sementara kebutuhan makanan relatif tercukup dari bantuan yang datang dari berbagai pihak.



Pengungsi Merapi Kehabisan Uang Tunai (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengungsi Merapi Kehabisan Uang Tunai (Sumber Gambar : Nu Online)

Pengungsi Merapi Kehabisan Uang Tunai

Sejumlah pengungsi asal Desa Sruni, Kecamatan Musuk, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, ketika ditemui pada Jumat mengatakan sudah kehabisan uang padahal mereka setiap hari membutuhkan uang transportasi untuk mengurusi ternak-ternaknya yang ditinggal mengungsi.

Sugiyo (47) dan bersama istrinya, ketika ditemui sedang memberi makanan empat sapinya yang berada dalam rumahnya. Ia baru saja datang dari lokasi pengungsian di Jatinom, Kabupaten Klaten, bersama satu anaknya yang siang itu ditinggalkan sendirian di pengungsian.

KOKAM Tegal

"Kalau setiap hari saya tidak beri makan dan minum, sapi ini bakal mati. Saat ini saja bobot sapi saya sudah turun beberapa kilogram," katanya. Desa Sruni berjarak sekitar delapan kilometer dari puncak Merapi.

Ia mengatakan, setiap hari untuk biaya transpot dan beli pakan ternak tidak kurang dari Rp25.000, padahal saat ini sudah lebih dari delapan hari berada di pengungsian.

KOKAM Tegal

Empat sapi itu merupakan harta paling berharga yang dimiliki Sugiyo, yang sebagian di antaranya dibelinya melalui pinjaman Bank BRI. "Sebagian uang utangan itu saat ini malah berkurang untuk menutup kebutuhan sehari-hari," katanya.

Istrinya mengkhawatirkan uang pinjaman itu malah habis untuk menutup kebutuhan sehari-hari selama keluarganya mengungsi. Padahal enam bulan kemudian ia harus mengembalikan pinjaman ke bank.

Warga Sruni, Ny Sarbiyah (50) juga mengatakan setiap hari pasti pulang ke rumah untuk merawat dan memberi pakan ternaknya. Ia mengaku juga mengeluarkan banyak uang selama mengungsi, sementara penghasilan suaminya sebagai petani tidak ada.

Selama masa mengungsi, ia mengeluarkan uang sisa dari penjualan cengkih dan bunga mawar sebelum Merapi meletus. Namun ia khawatir uang itu akan segera habis sehingga kelak tidak punya modal untuk memulai usaha kembali.

Sabar, warga Desa Samiran Kecamatan Selo malah sudah menjual dua ekor sapi miliknya untuk mencukupi kebutuhan hidupnya selama berada di tempat pengungsian.

Ia menyebutkan, dua ekor sapinya dijual dengan harga Rp5 juta padahal saat membeli harganya Rp8 juta lebih. "Saya rugi Rp3 juta lebih, tetapi mau bagaimana karena saya sudah tidak memiliki uang untuk menyambung biaya hidup di tempat pengungsian," kata Sabar yang sehari-harinya bekerja sebagai buruh tani.

Menurut dia, ada beberapa pengungsi yang sudah melakukan apa yang dirinya lakukan yaitu menjual hewan ternak. "Kalau mereka memiliki perhiasan maka barang itu yang dijual karena selama di tempat pengungsian, mereka tidak memiliki uang," katanya.

Win (27), warga Desa Sruni Kecamatan Musuk Kabupaten Boyolali, mengakui, dirinya dan keluarga baru mengungsi baru mengungsi dua hari yang lalu, tetapi dirinya selalu waspada jika Gunung Merapi beraktivitas kembali.

"Mobil saya diparkir di depan rumah dengan kondisi mobil diarahkan ke jalan umum. Jika sewaktu-waktu Gunung Merapi meletus, kami langsung naik ke mobil lari mencari tempat yang aman," katanya.

Ia mengatakan, tempat duduk yang ada di dalam mobil sudah dilepas dan digantikan dengan tikar dan kasur. "Dalam kondisi seperti ini, kami harus siap-siap dan waspada jika Merapi meletus," katanya.Pengungsi Merapi Kehabisan Uang Tunai. (ant)Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Pondok Pesantren, Internasional, Aswaja KOKAM Tegal

Jumat, 12 Januari 2018

Banser Tangerang Pasang Badan Demi Kebinekaan

Tangerang,KOKAM Tegal. Ketua Pimpinan Cabang GP Ansor Kabupaten Tangerang Khoirun Huda mengatkaan, GP Anosr akan selalu pasang badan demi kukuhnya kebinekaan di Indonesia. Ia menyampaikan hal itu pada pembukaan Diklat Terpadu Dasar (DTD) yang? berlangsung di Pondok Pesantren Tarbiyatul Mubtadiin, Ds Pasir Nangka Tigaraksa.

Banser Tangerang Pasang Badan Demi Kebinekaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Banser Tangerang Pasang Badan Demi Kebinekaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Banser Tangerang Pasang Badan Demi Kebinekaan

Menurut Huda GP Ansor dan Banser adalah garda terdepan Nahdlatul Ulama (NU)? yang telah? memberikan andil besar dalam memperjuangkan kemerdekaan dan mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia .

"Kita tidak rela ketika ada pihak-pihak yang ingin memecah belah bangsa karena buat kami NKRI Harga mati," ucapnya melalui siaran pers yang diterima KOKAM Tegal Rabu malam (14/12).

KOKAM Tegal

Huda juga menjelasakan bahwa ia melihat dinamika sosial politik akhir-akhir ini cukup panas, ada yang? mencoba memudarkan semangat kebinekaan bangsa. Menurutnya kehinekaan adalah? sunatullah, jadi tidak boleh ada upaya pemaksaan dan apalagi penyeragaman kultur, sosial, budaya atau agama.

Huda menambahkan bahwa dalam Islam dengan sangat jelas disampaikan bahwa Tuhan menciptakan umta manusia bersuku-suku dan berbangsa-bangsa adalah untuk saling kenal-mengenal bukan untuk saling mendholimi atau bahkan meniadakan yang lain.

KOKAM Tegal

"Ketika ada yang mengancam kebhinekaan kita, maka? Ansor dan Banser wajib? tampil di depan demi terjaganya kebhinekaan."

Pelatihan yang berlangsung selama tiga hari tersebut diikuti oleh setidaknya 208 peserta dari berbagai daerah di tangerang. Materi pembelajaran yang disampaikan diantaranya Aswaja dan Keindonesiaan, Deteksi Dini dan Antisipasi gerakan Radikalisme, Gerak Olah Bathin dan materi Proxy War dan Ketahanan Nasional. (Red: Abdullah Alawi)



Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Pondok Pesantren, Warta, Hadits KOKAM Tegal

Senin, 08 Januari 2018

Masjid Toyota Punya Silabus Bentengi Karyawan dari Khutbah Politis

Jakarta, KOKAM Tegal. Badan Koordinasi Masjid Toyota (BKMT), yang membawahi 17 Dewan Kemakmuran Masjid dan (DKM) dua otonom di lingkungan PT Toyota Motors Manufacturing Indonesia (TMMIN) dan PT Toyota Astra Motor (TAM), memiliki silabus khotbah untuk mencegah beredarnya ceramah-ceramah agitatif dan bermuatan politis di antara karyawan mereka.

Masjid Toyota Punya Silabus Bentengi Karyawan dari Khutbah Politis (Sumber Gambar : Nu Online)
Masjid Toyota Punya Silabus Bentengi Karyawan dari Khutbah Politis (Sumber Gambar : Nu Online)

Masjid Toyota Punya Silabus Bentengi Karyawan dari Khutbah Politis

Selain untuk mencegah penyampaian materi yang berpotensi buruk tersebut, Ketua BKMT Ari Syamsudin mengungkapkan bahwa silabus khutbah juga berperan besar untuk penguatan keimanan secara berkesinambungan.

"Kami ada khotib silabus, supaya materi terkontrol, kemudian jelas arahnya," kata Ari di Pabrik TMMIN Karawang, Jawa Barat, Senin (12/6) lalu.

"Temanya berkaitan syariah, aqidah, akhlak, kami putar-putar di situ. Pengkhutbah juga setiap tahun kami ajak bertemu untuk mengkoordinasikan tema apa yang mau disampaikan," ujarnya menambahkan.

Tidak berhenti hanya sampai di penyusunan silabus, BKMT melalui masing-masing DKM juga melakukan pemantauan untuk memastikan kesesuaian antara yang tertulis dan tersampaikan lewat khutbah di masjid-masjid.

KOKAM Tegal

"Ini efeknya besar, selain jamaah seperti berkuliah, karena temanya berkesinambungan," kata Ari.

Pada dasarnya, BKMT menyusun silabus itu dengan salah satu tujuan yakni mengoptimalkan waktu Sholat Jumat yang biasanya hanya berlangsung selama 25-30 ment.

"Karena kami mau mengoptimalkan waktu Shalat Jumat, itu kan undangan dari Allah, berbeda dengan pengajian. Waktunya terbatas 20-25 menit, bagaiamana supaya waktu itu sangat efektif bagi karyawan," ujanya.

KOKAM Tegal

Belakangan, manfaat silabus juga terasa ketika masa Pilgub DKI 2017 lalu BKMT mampu mengawasi khutbah-khutbah di TMMIN tetap tidak berubah menjadi kampanye politik.

"Kalau kita tidak ada silabus itu kan terserah khatibnya, datang kadang-kadang ceramah semaunya dia," kata Ari.

"Ini berimbas ke politik juga, semisal kemarin Pilkada DKI 2017 alhamdulillah masjid-masjid Toyota tidak terkena isu apa-apa," pungkas Ari. (Antara/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Pondok Pesantren KOKAM Tegal

Sabtu, 23 Desember 2017

Jurnal Pesantren

Nama sebuah berkala yang diterbitkan oleh P3M, sebuah LSM di Jakarta yang memiliki perhatian pada pengembangan pesantren. Dalam daftar pengelolanya, tertulis nama KH Sahal Mahfudz ? sebagai Pemimpin Umum dan sebagai wakilnya Abdurrahman Wahid. Bertindak sebagai pemimpin redaksi M. Nashihin Hasan.

Sementara itu duduk di dewan redaksi ada Abdurrahman Wahid, Abdulllah Syarwani, Adi Sasono, M. Dawam Rahardjo, Djohan Effendi, Said Budairy, Soetjipto Wirosardjono, Zamakhsyari Dhofier, Musfihin Dahlan. Staf redaksinya Muntaha Azhari dan Abdul Mun’im Shaleh H. Dan Masdar F. Mas’udi sebagai pPemimpin usaha. Berkala ini beralamat di Jalan Anggrek Nelimurni V/B.83, Slipi, Jakarta.

Pada kulit sampulnya di bagian dalam dikemukakan bahwa, “Berkala ini diterbitkan sebagai media informasi dan komunikasi serta wadah pengajian untuk membangkitkan kepedulian dan wawasan pengembangan melalui jalur pemikiran yang bertolak pada titik pandang keagamaan....”?

Jurnal Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Jurnal Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Jurnal Pesantren

Dalam nomor perdana berkala ini, M. Nashihin Hasan sebagai Pemimpin Redaksi dalam rubrik “Assamualaikum” mengemukakan peran berkala ini sebagai media kajian dan dialog yang secara khusus ditujukan pada tiga bidang prioritas.

KOKAM Tegal

Pertama, kajian bidang sistem pendidikan Islam di Indonesia dengan proyeksi pada integrasi ke dalam sebuah sistem pendidikan nasional yang terpadu. Kedua, dialog di bidang pengabdian masyarakat dan pembentukan jaringan komunikasi. Dan ketiga, pembahasan bidang pemikiran keagamaan dan kemasyarakatan dengan proyeksi khusus pada penumbuhan etos kemasyarakatan sesuai tuntutan keadaan.

Dengan keinginan di atas, berkala ini menyajikan tulisan-tulisan ilmiah populer hasil penelitian, survei, hipotesis atau gagasan kratif yang menyangkut aspek pendidikan, pengembangan masyarakat, kepesantrenan, ilmu-ilmu keagamaan dan yang sejenisnya. Redaksi berkala ini secara terbuka mengundang para ahli, sarjana, kiai, praktisi, santri, maupun mahasiswa untuk menulis secara bebas di media ini, tetapi kebanyakan tulisan tampaknya hadir atas dasar permintaan redaksi secara khusus berkaitan dengan topik yang hendak dikemukakan.

KOKAM Tegal

Nomor perdana Pesantren terbit pada Oktober-Desember 1984 dengan sampul depan lukisan seorang kiai. Berkala berukuran 17,5 x 24,5 dengan bahan isi kertas buram dan sampul kertas karton, dan tebal 80-an halaman ini dijual dengan harga Rp 1.000.?

Dalam edisi perdana yang bertopik tradisi keilmuan di pesantren, setelah rubrik “Mukaddimah” yang berisi semacam editorial redaksi, hadir rubrik “Artikel” yang diisi empat tulisan masing-masing dari Abdurrahman Wahid, Nurcholish Madjid, Zamakhsyari Dhofier, dan Masdar F. Mas’udi. Semuanya membahas tradisi dan pengembangan keilmuan di pesantren.?

Kemudian rubrik “Wawasan” diisi wawancara dengan KH Aziz Mashuri, Tholhah Mansur, Habib Chirzin, dan A. Syafii Ma’arif. Lalu rubrik “Profil Tokoh” diisi tulisan mengenai sosok KH Bisri Sansuri, rubrik “Sosok Pesantren” diisi ulasan mengenai pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, dan terakhir, rubrik “Tinjauan Buku” yang diisi dengan tulisan mengenai sebuah kitab hadits Itman al-Dirayah.

Edisi-edisi Pesantren selanjutnya diisi dengan susunan rubrik seperti di atas. Hanya sesekali ditambah dengan rubrik “Komentar” yang berisi tanggapan pembaca terhadap suatu tulisan pada edisi sebelumnya. Yang menarik, halaman-halaman sisa yang kosong pada awal-awal edisi diisi lukisan vignet oleh Mustofa Bisri, seorang pelukis, penyair, dan kiai, serta belakangan disi oleh Mufid Aziz.?

Berkala Pesantren memiliki kedudukan penting pada pertengahan hingga akhir 1980-an, terutama dalam mewadahi pemikiran-pemikiran dan gagasan-gagasan baru mengenai pengembangan pendidikan pesantren dan pendidikan Islam khususnya, serta pemikiran keagamaan secara umum.

Melalui berkala ini di antaranya sejumlah gagasan seperti kontekstualisasi kitab kuning, kesalehan sosial, pembaruan fiqih, kedudukan perempuan, dan lain-lain dikemukakan dengan berani serta penuh semangat.

Para penulisnya yang berusia 20-an akhir hingga 40-an awal pada saat itu kelak menjadi pemimpin dan intelektual terkemuka di kemudian hari, baik di lingkungan NU dan pesantren maupun di tataran nasional secara umum, seperti Abdurrahman Wahid, Mustofa Bisri, Tholhah Mansur, Masdar F. Mas’udi, A. Malik Madany, dan lain-lain. Dari keanggotaan redaksinya, para penyumbang tulisan, dan topik-topik yang diangkat, jelas sekali kalau berkala ini menjadi media dialog kalangan pesantren dengan kalangan di luarnya.

Pada 1989 terjadi pergeseran dalam susunan pengelola keredaksian. Nama Abdurrahman Wahid tidak lagi menjadi Wakil Pemimpin Umum, posisinya digantikan M. Nashihin Hasan yang sebelumnya menjabat Pemimpin Redaksi. Sedangkan posisi Pemimpin Redaksi diduduki oleh Masdar Farid Mas’udi yang sebelumnya menjabat Pemimpin Usaha sekaligus Redaktur Pelaksana. Abdurrahman Wahid sendiri kemudian duduk di jajaran Staf Ahli bersama KH Ali Yafie, Soetjipto Wirasardjono, Abdullah Syarwani, Dawam Rahardjo, dan Adi Sasono.?

Berkala Pesantren terbit rutin tiga bulan sekali atau empat edisi dalam setahun hingga tahun 1988. Tapi, sejak 1989, karena faktor pendanaan dan keterbatasan tulisan, jumlah edisi ? menjadi menurun. Pada 1989 hanya terbit tiga edisi, tahun 1990 dua edisi, tahun 1991 tiga edisi, dan tahun 1992 hanya satu edisi, bahkan sejak itu berkala Pesantren tidak pernah muncul lagi.?

Edisi terakhir No. 1/Vol IX/1992 berisi laporan mengenai “Tarekat dan Gerakan Rakyat”. (Hairus Salim HS)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Pertandingan, Pondok Pesantren, Ubudiyah KOKAM Tegal

Kamis, 21 Desember 2017

Ini Penjelasan Agus Sunyoto tentang Hubungan Pesantren dan Keraton

Jakarta, KOKAM Tegal - Sejarawan Nahdlatul Ulama KH Ng Agus Sunyoto menyebut bahwa Islam di Indonesia pertama-tama diperkuat oleh pesantren. Dulu, kata Agus, ada lima jenis pendidikan, yaitu padepokan, asrama, dukuh, paguron, dan terakhir pesantren.

Menurutnya, para sarjana Belanda banyak yang keliru dalam menafsirkan kiai dan pesantren. Belanda menganggap bahwa kiai itu golongan agamawan seperti cara berpikir orang Eropa yang menganggap bahwa pastur atau pendeta itu pasti agamawan.

Ini Penjelasan Agus Sunyoto tentang Hubungan Pesantren dan Keraton (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Penjelasan Agus Sunyoto tentang Hubungan Pesantren dan Keraton (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Penjelasan Agus Sunyoto tentang Hubungan Pesantren dan Keraton

“Di sini bukan, kiai (itu) keluarga keraton, keluarga raja, sejak awal itu, bukan golongan agamawan,” kata Kiai Agus saat menjadi pembicara pada acara silaturahmi kebudayaan yang diselenggarakan Lesbumi di Lantai 8, Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Jumat (28/7).

Ia mencontohkan, Sunan Ampel dan Sunan Giri merupakan keturunan raja. Bahkan, katanya, Pesantren Mlangi Yogyakarta didirikan oleh Kiai Nur Iman yang merupakan kakak tertua dari Sultan Hamengkubuwono 1.

KOKAM Tegal

KOKAM Tegal

“Beliau (Kiai Nur Iman) mendirikan pesantren di situ. Jadi memang silsilahnya keraton,” katanya.

Pada acara yang bertema “Meneguhkan Kebudayaan Bangsa, Memperkuat Keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia” ini, ia menuturkan bahwa keraton tidak pernah meninggalkan pesantren, bahkan ketika keraton tidak mampu melawan, dan saat keraton tidak mampu mengangkat senjata, pesantren mengambil alih peran.

Lebih lanjut, ia menyebut pemberontakan yang dilakukan pesantren terjadi 112 kali yang dipimpin guru tarekat dan kiai haji dari pesantren. Menurutnya, karena pesantren yang merupakan keluarga keraton dan sebagai pribumi direndahkan oleh Belanda. Waktu itu, sambungnya, Belanda membuat aturan di mana warga negara kelas 1 adalah orang Belanda kulit putih, warga negara kelas 2 itu orang timur asing; Arab, Cina, maupun orang India. Sementara inlander pribumi paling rendah. (Husni Sahal/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Warta, Pondok Pesantren, IMNU KOKAM Tegal

Senin, 18 Desember 2017

Pendidikan Penyetaraan di Pesantren

Jakarta, KOKAM Tegal



Pemerintah melalui Surat Keputusan Dirjen Bimbingan Kelembagaan Agama Islam (Bagais) Departemen Agama RI tahun 1999, mengeluarkan keputusan tentang Pendidikan Muadalah (Pengakuan Penyetaraan). Pendidikan muadalah sebagai bentuk recognition negara terhadap lembaga tersebut, yang lulusannya setara dan sederajat dengan lulusan SMA/MA.?

Namun, seiring perjalanan, regulasi ini belum dianggap cukup dan belum kuat, sehingga masih banyak lulusannya tidak bisa diterima di PTN—karena tidak setara dan sederajat dengan lulusan SMA/MA.?

Pendidikan Penyetaraan di Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Pendidikan Penyetaraan di Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Pendidikan Penyetaraan di Pesantren

Keluarnya PMA baru nomor 18 tahun 2014 yang secara khusus mengatur penyelenggaraan satuan pendidikan muadalah membuatnya disetarakan dengan pendidikan formal. Dasar hukumnya meningkat, yang dulunya berupa SK Dirjen, menjadi PMA. Implikasi dari regulai ini, satuan pendidikan muadalah semestinya mendapatkan pengakuan yang jelas, dan memperoleh fasilitas yang sama seperti institusi-institusi pendidikan lainnya.

Dilihat dari penyelenggaraan satuan pendidikan muadalah memiliki karakteristik dan problem yang berbeda. Keberagaman dan problem itu terkait pada aspek kurikulum, pembelajaran, keluaran lulusan, tenaga pendidik dan kependidikan, pembiayaan, dan pengelolaan. Keberagaman ini diduga karena belum adanya standar baku dalam penyelenggaraan pendidikan muadalah.



KOKAM Tegal



(Baca juga: Penelusuran Kebutuhan Pendidikan di Pesantren Penyetaraan)

Pada 2016, Puslitbang Penda dan Balitbang Kemenag RI pun mendapatkan temuan dalam penyelanggaraan pendidikan muadalah di pondok pesantren meliputi:

KOKAM Tegal

Pertama, penyelenggaraan satuan pendidikan muadalah sangat tergantung pada pengelolaan pesantren dalam hal ini kepemimpinan kiai. Kepemimpinan kiai yang banyak bersentuhan dengan dunia luar (modern) mempengaruhi sistem pendidikan yang dikembangkannya, baik menyangkut aspek manajerial kelembagaan, kurikulum, pendidik, pembiayaan.?

Kedua, realitas penyelenggaraan Satuan Pendidikan Muadalah dari sebelas lokasi dapat dikategorikan sebagai berikut: pada aspek kelembagaan, kurikulum, pendidik dan tenaga kependidikan, santri, kelulusan, pembiayaan, dan akreditasi.?

Ketiga, aspek kelembagaan penyelenggaraan satuan pendidikan muadalah mencakup: persyaratan yayasan berbadan hukum dan terdaftar di Kemenag sudah terpenuhi, namun dari aspek jumlah santri minimal 300 santri dan mengikuti layanan pendidikan formal masih ada lembaga yang belum memenuhi persyaratan, sehingga perlu dijelaskan dalam pedoman. Sementara pada jenis tingkatan penyelenggaraan masih beragam, dari hanya satu tingkatan, dua, hingga tiga tingkatan sekaligus.

Keempat, aspek kurikulum pendidikan keagamaan Islam sesuai dengan kekhasan masing-masing, yaitu tujuh penyelenggara berjenis pendidikan muadalah salafiyah yang berbasis kitab kuning, dan empat penyelenggara berjenis muadalah muallimin yang berbasis pada dirasah islamiyah.?

Kurikulum pendidikaan umum yang diajarkan pada jenis muallimin terpenuhi dan bahkan melampaui dari apa yang dipersyaratkan, sementara jenis salafiyah sebagian terpenuhi dan lainnya belum terpenuhi dengan mengembangkan istilah tersendiri. Kurikulum pendidikan umum belum ada standar yang sama.

Kelima, pendidik pada pendidikan keagamaan Islam terpenuhi sesuai dengan kompetensi, sementara dari kualifikasi masih beragam lulusannya, dari hanya tamatan pesantren, SMA/MA hingga perguruan tinggi.?

Pendidik mata pelajaran umum masih belum terpenuhi, baik dari aspek kompetensi maupun kualifikasi, seperti guru mismatch. Aspek tenaga kependidikan, pada jenis muallimin umumnya sudah terpenuhi, sementara pada salafiyah tenaga kependidikan masih terbatas seperti kepala satuan dan TU.

Keenam, aspek santri secara keseluruhan mukim dan tidak sekolah pada pendidikan formal lainnya. Adanya seleksi atau tes masuk sebagai santri muadalah. Pada aspek sarana prasarana sudah terpenuhi walaupun masih terbatas pada jenis salafiyah, sementara jenis muallimin sudah cukup terpenuhi.?

Ketujuh, aspek sumber pembiayaan masih bertumpu pada kontribusi wali santri, donatur dan usaha pondok pesantren. Sementara pemanfaatan pembiayaan digunakan untuk proses pembelajaran, gaji guru/ustad dan pengembangan lainnya. Belum ada sertifikasi guru-guru muadalah dan dana BOS.

Kedelapan, penyelenggara muadalah telah melakukan proses-proses penilaian baik harian, mid semester, semester dan ujian muadalah. Saat lulus santri memperoleh ijazah atau syahadah dari pondok pesantren. Masih ada kendala lulusan muadalah untuk masuk ke perguruan tinggi.

Kesembilan, kebutuhan prioritas dalam penyelenggaraan satuan pendidikan muadalah yang belum terpenuhi adalah kurikulum pendidikan umum, kompetensi pendidik pendidikan umum, tenaga kependidikan pustakawan, pembiayaan, dan akreditasi.?

Dari temuan di atas, Puslitbang Penda dan Balitbang Kemenag RI merekomendasikan;

Pertama, pemerintah tidak memaksakan standarisasi pendidikan keagamaan tetapi mendorong pesantren untuk mengembangkan dan mempertahankan secara mandiri sesuai ciri kekhasan masing-masing satuan muadalah. Kedua, aspek kurikulum; Pemerintah perlu segera membuat pedoman penyusunan standar? isi mata pelajaran pendidikan umum khas bagi satuan pendidikan muadalah yang berbeda dengan standar isi satuan lainnya.

Ketiga, aspek tenaga pendidik. Tenaga pendidik perlu mendapatkan hak yang sama dalam sertifikasi guru, peningkatan pendidikan dan pelatihan, program penyetaran guru melalui program beasiswa bagi guru-guru yang tamat SMA/MA, dan perlu dibuatkan pembuatan nomor induk guru/DAPODIK pada umumnya.

Keempat, aspek ketenagaan. Pemerintah menyediakan tenaga kependidikan, dan memberikan pelatihan khusus serta beasiswa pendidikan. Kelima, aspek santri. Perlu dibuat? aturan khusus bagi santri yang hanya mengikuti muadalah/tafaqquh fiddin tetapi tidak untuk mencari ijazah, yaitu mengikutsertakan santri/siswa dalam pendataan Nomor Induk Siswa Nasional (NISN). (Husni Sahal/Kendi Setiawan)





Baca Kajian Keagamaan lainnya? DI SINI

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Pondok Pesantren, Warta, Ubudiyah KOKAM Tegal

Jumat, 15 Desember 2017

Kader Ansor Tak Boleh Meniru Karakter Itik

Pamekasan, KOKAM Tegal - Syahdan, itik tidak mampu menyerap dengan baik “hasil rapat” dengan bebek dan angsa terkait kesinambungan anak-cucunya. Akibatnya, itik hingga kini sembarangan dalam bertelur.

"Para kader Gerakan Pemuda Ansor tidak boleh meniru karakter itik yang ketinggalan informasi cara bertelur yang baik dan benar," ujar Kiai Jaman saat memberi pengarahan di sela-sela kolom bulanan Majelis Dzikir dan Shalawat (MDS) Rijalul Ansor PAC GP Ansor Kadur Kabupaten Pamekasan, Jumat (14/1) malam.

Kader Ansor Tak Boleh Meniru Karakter Itik (Sumber Gambar : Nu Online)
Kader Ansor Tak Boleh Meniru Karakter Itik (Sumber Gambar : Nu Online)

Kader Ansor Tak Boleh Meniru Karakter Itik

Salah satu Dewan Penasehat GP Ansor Kadur tersebut menambahkan, agar tidak seperti karakter itik, kader GP Ansor mesti banyak belajar pada sejarah. Utamanya bagaimana sepak terjang para ulama pendiri NU.

KOKAM Tegal

"Kalau sampai ada kader GP Ansor yang karakter dan sikapnya keluar dari rel organisasi, berarti dia tidak jauh beda dengan itik," tegas Dosen STAI Al-Khairat itu.

Karenanya, Kiai Jaman mengetengahkan pemahaman betapa kader GP Ansor harus selalu belajar dalam banyak hal. Kepada yang lebih tua dan pengalaman, jangan sungkan untuk minta nasihat yang bermanfaat.

"Manusia tidak bisa tahu tanpa peran orang lain," tegasnya.

KOKAM Tegal

Kiai Jaman juga mengimbau agar kader GP Ansor tidak seperti siput linu atau lemar; matanya melotot dan penuh semangat, tetapi tersenggol sedikit langsung kerdil.

"Karenanya, jangan jadikan jabatan sebagai andalan. Jangan berlebih-lebihan. Kita punya kelebihan dan kelemahan. Hidup bagai roda berputar," tegas Kepala SMA Islam Yaspimu Pamekasan tersebut.

Saat ini marak fitnah di dunia nyata maupun maya. Kader GP Ansor, tegas Kiai Jaman, jangan sampai termakan isu-isu negatif. Teman dengan teman di internal pengurus, mudah terjadi fitnah.

"Jika ada potensi fitnah di internal kepengurusan maupun keanggotaan, cepat tangani. Jangan seperti membiarkan tambak yang bocor. Kalau dibiarkan, akan makin besar dan membahayakan. Segeralah koordinasi," paparnya.

Alumnus Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep ini menambahkan, sukses itu hanya sekali seumur hidup. Siapa pun orangnya. Selebihnya karena dipertahankan.

"Dari nol sampai puncak kesuksesan berpotensi menurun. GP Ansor jangan sampai menurun. Sukses banyak hambatan. Ketika hampir sukses, akan muncul masalah yang lain. Bagaikan bulunya badan; dicukur bulunya kumis, bulu hidung lebat. Bulu hidung dicukur, bulu kumis tumbuh," katanya penuh analogi.

Penempatan pengurus dalam organisasi harus disesuaikan dengan porsi jabatan yang diemban. "Selaku ketua, tentu harus belajar ada rambut kepala; melebihi rambut yang lain tanpa ada arogansi. Lihai dan lentur sangat perlu dalam memimpin organisasi," tegas Kiai Jaman.

Persatuan pengurus juga penting. Jika ada persoalan, segera koordinasi. Selain itu, Kiai Jaman juga mengarahkan tiap kali GP Ansor menyelenggarakan acara, mesti undang tokoh masyarakat. Karena itu bisa memperkuat sistem organisasi.

Target kegiatan apa untuk masyarakat banyak, imbuhnya, juga perlu diperjelas oleh GP Ansor. Apa sebatas hanya berkumpul, bekerja di balik meja, tapi tidak merembet ke masyarakat, atau bagaimana? Jangan jadi raksasa tidur yang hanya besar tapi nihil peran.

"Kita juga mesti apental syahadat, asapok iman, apajung Allah. Sisa hidup kita gunakan untuk berjuang. Karena suatu saat, kita akan meninggalkan kesan setelah meninggalkan alam fana ini," tandasnya. (Hairul Anam/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Sunnah, Pondok Pesantren, Kajian KOKAM Tegal

Kamis, 12 Oktober 2017

Ini Klarifikasi Pengunggah atas Validitas Foto Mbah Hasyim Asyari

Jember, KOKAM Tegal - Beberapa hari terakhir ini, ramai pertanyaan sekaligus perbincangan soal foto Hadratussyekh KHM Hasyim Asyari menyusul pengunggahan foto hitam putih sang kiai di media sosial oleh seseorang. Selain foto, tulisan tangan di balik foto yang menerangkan bahwa sosok itu adalah foto Mbah Hasyim juga diunggah.

Foto hitam putih saat Mbah Hasyim masih berusia paruh baya itu adalah betul asli. Validitas keaslian foto itu diklarifikasi oleh Muhammad Al-Faiz, kakak kandung Muhammad Al-Mubassyir, orang yang pertama kali mengunggah foto tersebut di instgaram dan akun facebooknya.

Ini Klarifikasi Pengunggah atas Validitas Foto Mbah Hasyim Asyari (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Klarifikasi Pengunggah atas Validitas Foto Mbah Hasyim Asyari (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Klarifikasi Pengunggah atas Validitas Foto Mbah Hasyim Asyari

Klarifikasi ini disampaikan oleh Muhammad Al-Faiz melalui akun facebooknya secara lengkap. Foto itu didapat di hari kedua lebaran ketika sang adik (Muhammad Al-Mubassyir) membongkar-bongkar arsip peninggalan kakeknya, KH Amir Ilyas di rumahnya, kompleks Pondok Pesantren Annuqayah, Guluk-Guluk, Kabupaten Sumenep. Foto-foto itu lalu discan, dan diunggah.

"Demikian asal-usulnya, semoga manfaat dan menambah kecintaan kita (kepada Mbah Hasyim)," tulisnya.

KOKAM Tegal

Seperti diketahui, KH Amir Ilyas dan adiknya (KH Ashiem Ilyas) semasa remaja merupakan? santri langsung dari Mbah Hasyim. Bahkan KH Ashiem Ilyas dipercaya mencipta lambang Pondok Pesanren Tebuireng Kabupaten Jombang. Keduanya menjadi sesepuh sekaligus? pengasuh Pondok Pesantren Annuqayah generasi kedua. Saat ini pondok pesantren yang terletak di kaki perbukitan Desa Guluk-Guluk, Kabupaten Sumenep, diasuh oleh generasi ketiga.

KOKAM Tegal

Terkait validitas foto Mbah Hasyim ini, Ketua Ikatan Alumni Annuqayah (IAA) se-eks Karesidenan Besuki Muhammad Muslim menyatakan, dirinya tidak menyangsikan bahwa foto itu adalah foto Mbah Hasyim.

"Sebagai alumni Annuqayah, saya yakin foto-foto itu asli. Annuqayah dan Tebuireng mempunyai kedekatan emosional sejak lama," kata Muslim kepada KOKAM Tegal. (Aryudi A Razaq/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Fragmen, Pondok Pesantren KOKAM Tegal

Senin, 02 Oktober 2017

Siswa Madrasah Sukses Ciptakan Alat Pembasmi Bakteri Sapi Perah

Semarang, KOKAM Tegal



Para peternak sapi perah tidak perlu khawatir lagi dengan bakteri dan penyakit mastisis yang diderita binatang ternaknya. Pasalnya, siswa Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 1 Malang binaan Kementerian Agama berhasil menciptakan alat yang dapat membasmi bakteri sapi perah yang terkena penyakit mastisis (Mastitis Therapeutic Technology: Innovation of Dairy Cows Matitis Therapeutic Tool Through Electroporation Technology).

Siswa Madrasah Sukses Ciptakan Alat Pembasmi Bakteri Sapi Perah (Sumber Gambar : Nu Online)
Siswa Madrasah Sukses Ciptakan Alat Pembasmi Bakteri Sapi Perah (Sumber Gambar : Nu Online)

Siswa Madrasah Sukses Ciptakan Alat Pembasmi Bakteri Sapi Perah

Menurut guru pembimbing siswa MTsN 1 Malang, Lailatul Chusniah, Selasa (23/02), dengan menggunakan alat ini, susu yang dihasilkan oleh sapi akan bebas bakteri. ? Inovasi siswa MTsN 1 Malang ini diganjar Medali Emas Bidang Teknologi pada Indonesian Science Project Olympiad (ISPO) 2016 yang digelar di Semarang pada 20 – 21 Februari lalu sebagaimana dikutip dari laman kemenag.go.id. ?

Alat pembasmi bakteri sapi perah ini dikreasi oleh Amelia Putri Wulandari ? dan Nalita Livia Chandradevi. ? Menurut Lailatul Chusniah, Prof. Riri Fitri yang menjadi salah satu juri pada ISPO 2016 itu menyatakan bahwa alat yang diciptakan Amelia dan Nalita merupakan solusi terbaik yang bisa dilakukan karena selama ini peternak memakai antibiotik yang bisa mengkontaminasi susu yang dihasilkan sapi.

Alat hasil kreasi siswa madrasah ini memang sudah diuji Laboratorium di Universitas Brawijaya. Selain itu, alat tersebut juga ? telah dilakukan Uji Lapangan di Peternakan Dau Malang selama dua minggu.?

“Alat ini menjadi solusi terbaik bagi peternakan sapi dan produksi susu. Sampai-sampai pihak panitia ISPO merekomendasikan kami untuk mengikuti lomba selanjutnya di Thailand. Prof Riri Fitri Sari dari Universitas Indonesia yang menjadi juri di bidang Teknologi bersedia mendampingi kami untuk persiapan ke Thailand,” tutur Laili, panggilan akrab Lailatul Chusniah.

KOKAM Tegal

Indonesian Science Project Olympiad (ISPO) merupakan salah satu kegiatan yang diadakan oleh Pacific Countries Social And Economic Solidarity Association (PASIAD), sebuah lembaga sosial dan pendidikan dari Turki. Kegiatan ISPO didukung oleh Kementerian Pendidikan Nasional Republik Indonesia, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), dan sejumlah perguruan tinggi ternama, yaitu: Universitas Indonesia (UI), Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Universitas Negeri Semarang (UNES), dan Universitas Syiah Kuala. Tujuan dari ISPO adalah merangsang bakat-bakat muda untuk berpikir, melakukan pengamatan, mengembangkan dan menyelami rasa keingintahuannya yang mengarah pada suatu solusti praktis.

Menurut Laili, ada 500 laporan penelitian yang dipamerkan dan dilombakan di ISPO 2016. Dari jumlah itu, diambil 82 laporan untuk masing-masing 6 bidang. Laporan penelitian siswa MTsN 1 Malang masuk dalam bidang Teknologi. Dari 82 Laporan tersebut disaringlah menjadi 15 Finalis. Dan satu-satunya finalis dari tingkat Sekolah Menengah Pertama adalah MTsN 1 Malang. Peserta lainnya adalah tingkat SMA.

Atas inovasi tersebut, kedua siswi MTsN 1 Malang mendapatkan medali emas, piagam dan uang penghargaan sebesar 2 juta rupiah. Red: Mukafi Niam

KOKAM Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Pondok Pesantren, Fragmen, Syariah KOKAM Tegal

Kamis, 07 September 2017

Kader PMII Sabet Juara MHQ Internasional di Arab Saudi

Makkah, KOKAM Tegal. Kader Pengurus Cabang Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Jakarta Selatan, Rahmat Batubara, meraih juara II pada ajang Musabaqah Hifdhil Quran (MHQ) Internasional King Abdul Aziz? ke-36 yang diselenggarakan di Masjidil Haram Kota Makkah, Arab Saudi.

Lomba menghafalkan al-Qur’an yang digelar Kerajaan Arab Saudi itu berlangsung? selama delapan hari, 12 November hingga 19 November 2014, dan diikuti 138 peserta dari 59 negara,seperti Tunisia, Indonesia, Senegal, Maroko, Tajikistan, Nigeria, Filipina, dan Kamerun.

Kader PMII Sabet Juara MHQ Internasional di Arab Saudi (Sumber Gambar : Nu Online)
Kader PMII Sabet Juara MHQ Internasional di Arab Saudi (Sumber Gambar : Nu Online)

Kader PMII Sabet Juara MHQ Internasional di Arab Saudi

Rahmat berhasil menyabet juara kedua di cabang lomba Tahfidz 15 Juz. Cabang lomba lain yang tersedia adalah cabang bidang tafsir, cabang tahfidh 30 Juz, cabang tahfidh 15 Juz dan cabang tahfidh 5 Juz khusus untuk negara-negara minoritas muslim.

KOKAM Tegal

Rahmat tidak sendirian. Delegasi lain dari Indonesia, Muhammad Luthfi, memperoleh juara ketiga pada cabang tahfidh 30 Juz. Atas prestasi tersebut Luthfi mendapatkan hadiah 75 ribu riyal atau sekitar 243 juta rupiah, sementara Rahmat menerima 45 ribu riyal atau sekitar 146 juta rupiah.

KOKAM Tegal

“Alhamdulillah, seneng banget, enggak nyangka bisa juara, soalnya peserta dari negara lain hebat-hebat. Tapi alhamdulillah, kemenangan ini tentunya untuk Indonesia’’ tutur Rahmat yang juga mahasiswa Institut PTIQ (PerguruanTinggiIlmu Al-Quran) Jakarta.

Sebelumnya, Rahmat berhasil menjuarai berbagai even nasional maupun internasional di antaranya: Juara I MTQ tingkat Nasional di Bangka Belitung, Juara I MHQ tingkat Internasional di Brunei Darussalam, Juara II MHQ tingkat Internasional di Mesir, dan Juara III MHQ tingkat Internasional di Libya.

Pengalaman yang mirip juga ada pada diri Luthfi. Pemuda 19 tahun asal Karawang, Jawa Barat, ini sebelumnya meraih Juara I MTQ Nasional cabang MHQ 30 Juz di Kepulauan Riau tahun 2014 dan mendapatkan juara harapan I MTQ Internasional di Iran tahun 2014. Luthfi menamatkan hafalan Al-Qurannya dalam waktu kurang lebih tiga tahun pada usia 15 tahun, tepatnya di Pondok Pesantren Darul Quran Mulia, Gunung Sindur, Bogor. (Ridho El-Qudsy/Irhamni Rofiun/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Makam, Pondok Pesantren KOKAM Tegal

Selasa, 04 Juli 2017

Pemkot Tasikmalaya Siap Sambut Tim Ekspedisi Islam Nusantara

Tasikmalaya, KOKAM Tegal - Pemerintah Kota Tasikmalaya menyatakan kesiapan dalam menyambut tim ekspedisi Islam Nusantara yang akan datang ke Kota Tasikmalaya pada 26-27 April 2016. Kesiapan ini disampaikan langsung Wali Kota Tasikmalaya H Budi Budiman saat menerima Pengurus Nahdlatul Ulama Kota Tasikmalaya di ruang Wali Kota, Jumat (15/4) siang.

Menurut Budi, kehormatan besar karena Kota Tasikmalaya menjadi salah satu kota yang akan digali sejarah perkembangan Islam oleh tim dari pengurus NU. Pasalnya, Tasikmalaya dijuluki Kota Pesantren, Kota Santri karena memang memiliki ribuan pesantren di dalamnya.

Pemkot Tasikmalaya Siap Sambut Tim Ekspedisi Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemkot Tasikmalaya Siap Sambut Tim Ekspedisi Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemkot Tasikmalaya Siap Sambut Tim Ekspedisi Islam Nusantara

"Ini yang menarik karena hanya di Tasik menjamur pesantren-pesantren. Ini pasti ada asalnya," kata Budi.

Pemerintah Kota pun siap menyediakan fasilitas yang diperlukan mulai dari penyambutan, penginapan, sarana, dan prasaran demi menunjang tim ekspedisi. Karena sudah suatu kewajiban sebagai pemerintah, juga secara pribadi sebagai salah satu Mustasyar NU Kota Tasikmalaya.

KOKAM Tegal

Ketua PCNU Kota Tasikmalaya KH Didi Hudaya menyampaikan bahwa rombongan tim ekspedisi akan datang ke Tasik pada 26-27 April 2016. Mereka berjumlah 30 orang yang terdiri atas unsur pers, peneliti, dan production house untuk mengetahui sejarah masuknya Islam di Tasikmalaya.

KOKAM Tegal

Tugas NU dan Pemerintah Kota setempat adalah sebagai fasilitator lokal atas apa yang akan dibutuhkan tim ekspedisi nanti.

Kiai Didi pun sudah membentuk tim pendamping yang terdiri atas sejumlah lembaga NU seperti dari unsur Lesbumi, Lakpesdam, LTN, dan GP Ansor. Tim pendamping ini akan membantu segala kebutuhan di lapangan menyangkut kerja ekspedisi. (Nurjani/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Pondok Pesantren, Pesantren KOKAM Tegal

Senin, 26 Juni 2017

40 Tim Futsal Berebut Piala PCNU Kota Semarang

Semarang, KOKAM Tegal

Sebanyak 40 tim dari lembaga, banom dan pesantren turut memeriahkan rangkaian Hari Santri pada kegiatan yang dikemas liga persahabatan futsal santri Nahdlatul Ulama Kota Semarang? di Merdeka Futsal Gunungpati. Kegiatan tersebut berlangsung (15-16/10). ?

Pada pembukaan, Ketua PCNU Kota Semarang KH Anasom bercerita kronologis hari santri. Semangat Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 mengalir pada santri hingga sekarang. Perjuangan kiai-ulama yang memerdekakan Indonesia harus selalu menjadi ingatan yang tak lekang zaman.

40 Tim Futsal Berebut Piala PCNU Kota Semarang (Sumber Gambar : Nu Online)
40 Tim Futsal Berebut Piala PCNU Kota Semarang (Sumber Gambar : Nu Online)

40 Tim Futsal Berebut Piala PCNU Kota Semarang

"Keikutsertaan kalian merupakan kemenangan tersendiri bagi kita semua," ungkap KH Anasom menyemangati peserta.

KOKAM Tegal

Liga persahabatan ini menjadi ajang menjalin persahabatan antarberbagai elemen. Sarwo Edy selaku koordinator futsal santri menyebutkan bahwa liga ini memperebutkan piala PCNU Kota Semarang dengan hadiah bagi juara 1-3 dan uang pembinaan.

Liga ini dipimpin wasit dari mahasiswa Universitas Negeri Semarang (UNNES) yang telah mendapatkan lisensi PKLO PSSI. (Zulfa/Abdullah Alawi)

KOKAM Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Pondok Pesantren, Khutbah KOKAM Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs KOKAM Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik KOKAM Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan KOKAM Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock