Tampilkan postingan dengan label Pertandingan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pertandingan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 08 Februari 2018

Ribuan Nahdliyin Hadiri Pelantikan Dalang Banser Jadi Bupati

Tegal, KOKAM Tegal . Ribuan warga NU rela berdesakan menghadiri? Pelantikan pasangan Bupati-Wakil Bupati Tegal, Jawa Tengah, Enthus Susmono dan Umi Azizah, Rabu (8/1) di Pendopo Kabupaten Tegal, Jawa Tengah. Meskipun, kebanyakan dari mereka tidak masuk dalam arena pelantikan, melainkan di halaman dan di alun-alun Slawi.

Ribuan Nahdliyin Hadiri Pelantikan Dalang Banser Jadi Bupati (Sumber Gambar : Nu Online)
Ribuan Nahdliyin Hadiri Pelantikan Dalang Banser Jadi Bupati (Sumber Gambar : Nu Online)

Ribuan Nahdliyin Hadiri Pelantikan Dalang Banser Jadi Bupati

Jajaran Satkorcab Banser juga ikut mengamankan jalannya prosesi pengukuhan ketua mereka itu resmi sebagai bupati. Selain sebagai Ketua Banser Tegal, Enthus juga merupakan seorang dalang.

Para kiai dan habaib juga tampak menyaksikan pengambil sumpah jabatan yang dipimpin Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.

KOKAM Tegal

Salah satu warga Kecamatan Dukuhwaru, Tegal, Tarmudi, yang datang bersama rombongan mengaku merasa bangga dan bersyukur syukur atas terpilihnya warga NU sebagai bupati dan wakil bupati Tegal.

“Saya datang bersama rombongan untuk bersama-sama menyaksiakan bupati yang telah kita pilih bersama-sama. Jadi momen ini tidak akan kami sia-siakan karena merasa kami yang menjadikan bupati,” katanya

KOKAM Tegal

Sementara terlihat dibarisan kursi tamu undangan, Jajaran Pengurus Cabang NU (PCNU) Kabupaten Tegal. Wakil Rais Syuriah KH Mahfudz menegaskan, pasangan Enthus-Umi yang merupakan pasangan representasi warga NU harus dijaga dan dikawal lima hingga tahun mendatang.

“Jadi saya meminta kepada warga NU sukseskan bupati terpilih ini, jangan terpancing dan terkoyak oleh isu (negatif) dan sebagainya,“ jelasnya. (Abdul Muiz/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Pertandingan, Tokoh KOKAM Tegal

Minggu, 04 Februari 2018

Dari Sulawesi Barat untuk Gus Dur

Jujur saya ingin mengatakan bahwa menulis tentang Gus Dur sebenarnya belum layak karena ketakutan jika nantinya jauh dari kesempurnaan pemikirannya. Penulis tak bisa menggambarkan seperti para penulis biografi Gus Dur lainnya.

Tetapi penulis, sebagai kader kultur NU yang berada di barat Sulawesi pada haul Gus Dur yang ke-4 ini ingin memberikan gambaran singkat dan sederhana tentang sumbangsih ide dan pemikiran Gus Dur bagi Sulawesi Barat.

? ? ?

Dari Sulawesi Barat untuk Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
Dari Sulawesi Barat untuk Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

Dari Sulawesi Barat untuk Gus Dur

Sosok Gus Dur merupakan idola yang sebenarnya ingin penulis temui ketika Muktamar ke-32 di Makassar tahun 2010 silam. Tetapi karena kehendak Tuhan yang lain, Gus Dur terlebih dahulu dipanggil Allah sebelum penulis sempat mencium tangan, bahkan melihat langsung dan menemui beliau.

Walaupun Gus Dur telah tiada, tetapi ide dan gagasan-gagasan Gus Dur tetap melekat dalam sanubari penulis. Salah satu ide dan gagasan briliannya adalah konsep pluralisme dan gagasan tentang kemanusiaan yang senantiasa diterjemahkan dalam beberapa tulisan dan tingkah laku politik di masa lalu.

KOKAM Tegal

Provinsi Sulawesi Barat yang lahir pada tahun 2004 merupakan wilayah yang terdiri dari 6 kabupaten yang bisa dikatakan memiliki penduduk yang multi-suku (Mandar, Bugis, Pattae, Jawa, Mamuju, Sasak/Bali) dan agama (Islam, Kristen Khatolik/Protestan, Hindu).

KOKAM Tegal

Penduduk yang multietnis dan agama di provinsi ini menunjukkan kemajemukan masyarakat yang ada, sehingga paham pluralisme dan multikulturalisme yang telah diperjuangkan Gus Dur juga menjadi kewajiban (fardhu ain) bagi masyarakat Sulbar sendiri, terutama Nahdlatul Ulama Provinsi Sulbar yang menjadi katalistor ide dan perjuangan ideologi Ahlussunnah Wal Jamaah An-Nahdliyah dan Islam inklusif (terbuka).

Sebagaimana yang kita kenal begitu banyak ide dan gagasan Gus Dur baik terkait demokrasi, pembelaan hak minoritas dan Hak Asasi Manusia, pribumisasi Islam dan Islam inkulsif, perdamaian dan pluralisme serta beberapa lagi yang tidak sempat penulis sebutkan.

Terkait gagasan pluralisme, secara nasional sesungguhnya ide Gus Dur ini bukan hanya sekadar ide yang diteriakkan semata dalam rangka menghargai perbedaan sebagai sebuah sunnatullah dalam kehidupan bangsa, tetapi juga diterjemahkan dalam bentuk sikap dan kebijakan.

Sebagai contoh diakuinya agama Konghucu ketika ia presiden, dimana kebijakan Gus Dur memberi kesadaran tersendiri bagi kita tentang penghargaan terhadap umat beragama minoritas di Indonesia. Bahwa kekuasaan mayoritas haruslah melindungi yang minoritas. Karena agama tidak dilihat hanya dalam dalam dimensi akidah dan syariat semata semata, tetapi dimensi kemanusiaan yang harus mampu diterjemah sebagai nilai yang menghargai sisi lain dari kemanusiaan penganut agama itu sendiri.

Sehingga penganut agama seharusnya tidak menjebak diri dalam ranah ekskusif yang mementingkan kelompoknya sendiri. Agama seharusnya bersifat inklusif yang mampu membuka dirinya dan menghargai agama lain yang biasa dikenal juga universalitas agama dalam rangka memperjuangkan nilai kemanusiaan dan kebangsaan di tengah masyarakat yang majemuk di Indonesia secara umum, dan di Sulawesi Barat secara khusus. Sehingga tidak ada lagi kekerasan terhadap agama lain, atau mengatasnamakan agama demi kepentingan kelompok. Faham eksklusif terhadap agama inilah yang kadang digunakan sebagai alat politik (kekuasaan) mengatasnamakan agama dan membuat kita tidak berlaku adil terhadap agama lain.

Pluralisme Gus Dur sesungguhnya pesan bagi kita semua agar senantiasa melakukan dialog antar-umat beragama dan melakukan kerjasama dalam menyelesaikan persoalan kehidupan masyarakat dan berbangsa. Kita semua dituntut agar senantiasa mencari persamaan-persamaan dan kebaikan-kebaikan yang tertanam dalam nilai-masing-masing agama, bukan justru mencari perbedaan dan justifikasi kebenaran pada tingkat akidah belaka, tetapi melupakan kerjasama dalam hal muamalat, yaitu memperbaiki nasib bersama dalam mencapai kesejahteraan lahir dan batin.

Merefleksikan kesadaran di atas, Sulawesi Barat yang memiliki mayoritas penganut agama Islam dan juga bisa dikatakan memiliki beberapa ulama besar yang pernah dilahirkan seperti KH. Muhammad Tohir (Imam Lapeo) dan KH. Muhammad Sholeh, Prof. KH. Sahabuddin, KH. Ilham Shaleh, KH. Muhammad Syibli Sahabuddin dan beberapa ulama lainnya yang tidak sempat disebutkan namanya. Mereka senantiasa konsisten menyebarkan faham Islam rahmatan lil alamin.

Mereka, menurur penulis dapat menjadi inspirasi bagi kader NU dan penulis sendiri serta organisasi-organisasi semisal Nahdlatul Ulama Sulawesi Barat dan PMII Sulawesi Barat untuk terus memperjuangkan dan mendakwahkan ajaran islam inkusif (moderat) dan perhargaan terhadap agama lain dalam dimensi dan nilai-nilai kemanusiaan (pluralisme) sebagaimana yang diajarkan Gus Dur dan ulama Sulawesi Barat saat ini.

Di sisi lain perbedaan adalah bukan wacana baru yang mengemuka dalam frame pemikiran masyarakat di Sulawesi Barat (terkhusus lagi di Polewali) saat ini, apalagi perbedaan agama. Dulu hingga saat sekarang ini, dikenal istilah dalam bahasa Mandar “Malilu sipakainga, manus sioronni.“

Istilah ini merupakan ajaran filosofi yang ditelorkan para leluhur di tanah Mandar dalam bentuk “pappasang” (peringatan) memberikan sinyal bahwa dalam kehidupan bermasyarakat diupayakan senantiasa saling mengingatkan antara satu dengan yang lain tanpa memandang asal usul, suku, agama, dan ras sepanjang hal tersebut mengarah ke arah yang sifatnya positif.

Selain itu, “manus sioronni” adalah menjelaskan hakikat kehidupan agar senantiasa saling tolong menolong antar sesama manusia.

Potensi kerjasama juga bisa dikaitkan dengan modal sosial masyarakat lokal di Sulawesi Barat secara yang umumnya masih banyak dihuni oleh orang Mandar. Di dalam ajaran para leluhur di Mandar dikenal konsep “siwaliparri”. Siwaliparri (bahasa Mandar) berarti, sikalulu atau sirondorondoi yang kurang lebih berarti saling membantu atau bergotong royong.

Merefleksikan pemikiran Gus Dur dan terkait filosofi dan ajaran masyarakat Sulbar saat ini pentinglah untuk selalu diingat dan diimplementasikan. Hal itu karena kegelisahan penulis dari beberapa fakta dimasa lalu di provinsi ini telah terjadi konflik inter dan antaragama mulai dari konflik interumat Jemaat Gereja Toraja Mamasa dan Jemaat gereja Masehi Injil Indo (MII) di Wonomulyo Polewali Mandar tahun 2010 hingga Konflik Aralle Tabulahan Mambi (ATM) di Kabupaten Mamasa Sulawesi Barat tahun 2003 silam.

Artinya, jika perbedaan tidak dikelola secara baik benih konflik bernuansa agama kemungkinan akan bisa mencuat kembali.

Bukan hanya itu, saat ini juga telah mulai terlihat dan menyebarnya beberapa lembaga pendidikan yang beraliran Islam “radikal” di beberapa kabupaten di jazirah Mandar ini. Masuknya ideologi dan aliran Islam eksklusif tersebut nantinya menyebabkan tumbuhnya doktrin radikalisme agama dan merubah pola pikir masyarakat Sulawesi Barat yang jika ditelisik dari sejarah masa lalu telah memahami agama secara inkulsif dan menghargai agama lain agar dapat hidup harmonis dalam perbedaan.

Hal tersebut terjadi dikarenakan penyebaran islam sejak dulu dilakukan oleh ulama di Sulawesi Barat berdimensi sufi dan moderat juga menghargai nilai dan kebudayaan lokal.

Sehingga ketika doktrin agama radikal yang tidak mentolerir agama lain dan menghargai perbedaan serta kebudayaan lokal, dibiarkan tumbuh dan berkembang di daerah yang majemuk ini, dengan sendirinya akan menciptakan benih konflik dan disharmonisasi antar umat beragama dan merusak tatanan kearifan lokal (local wisdom) dalam aspek budaya dan agama yang saling menghargai tadi.

Sehingga sekali lagi bahwa Haul ke-4 Wafatnya KH. Abudrrahman Wahid (Gus Dur) menjadi momentum bagi kita semua terkhusus bagi warga Nahdliyin di Sulawesi Barat untuk mencegah menyebarnya ajaran Islam eksklusif dan radikal di Sulawesi Barat. Juga berusaha terus menggerakkan dan memperjuangkan pemikiran serta gagasan pluralisme dalam rangka menyebarkan nilai kemanusiaan dan Islam yang rahmatan lil alamin di tengah perbedaan yang nantinya dapat mengantarkan kehidupan yang harmonis dan berkeadilaan di atas perbedaan yang telah diberikan oleh Tuhan di Tanah Mandar Sulawesi Barat.

Selamat jalan Gus Dur, selamat guru bangsa Indonesia. Walaupun engkau telah tiada tetapi engkau selalu hidup dalam benak dan sanubari terdalam kami. Do’a kami dari Sulawesi Barat senantiasa menyertaimu Gus. Amin... (Munawir Arifin)

MUNAWIR ARIFIN adalah Ketua Pergerakan Mahasiswa Islam Indonseia (PMII) Provinsi Sulawesi Barat. Penulis bisa ditemui di munawirarif86@gmail.com.

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Nahdlatul Ulama, Pertandingan KOKAM Tegal

Selasa, 30 Januari 2018

Padukan Nilai Budaya dan Agama, Ketum MUI Puji Jokowi Mantu

Solo, KOKAM Tegal

Ketua Umum MUI yang juga Rais Aam PBNU, KH Maruf Amin memuji acara mantu Presiden Jokowi yang memadukan nilai-nilai budaya adat jawa dan nilai-nilai agama Islam. Pada kesempatan tersebut Kiai Maruf bersama Wapres Jusuf Kalla dipercaya menjadi saksi ijab qabul pernikahan Kahiyang Ayu dengan Bobby Nasution di Gedung Graha Saba Buana Solo, Rabu (8/11). 

"Acaranya luar biasa ada nuansa keagamaan Quran, nasehat pernikahan, doa dan ada juga budayanya.  Acaranya luar biasa perpaduan antara nilai-nilai agama dan nilai-nilai budaya," katanya saat diwawancarai salah satu stasiun televisi di sela-sela resepsi.

Padukan Nilai Budaya dan Agama, Ketum MUI Puji Jokowi Mantu (Sumber Gambar : Nu Online)
Padukan Nilai Budaya dan Agama, Ketum MUI Puji Jokowi Mantu (Sumber Gambar : Nu Online)

Padukan Nilai Budaya dan Agama, Ketum MUI Puji Jokowi Mantu

Selaku saksi, Kiai Maruf menilai proses ijab qabul dapat berjalan dengan baik dan lancar. Presiden Jokowi dan mempelai putera Bobby Nasution mengucapkan kalimat-kalimat ijab qabul dengan baik. 

"Beliau (Presiden) lancar sekali menyampaikan kalimat ijab qabul. Tegas, gamblang, walaupun baru kali ini. Tidak ada keragu-raguan," kata Kiai Maruf.

Kiai Maruf juga mengapresiasi acara mantu tersebut karena Presiden mengundang para ulama dari seluruh provinsi di Indonesia.

KOKAM Tegal

"Yang hadir meliputi semua lapisan masyarakat. Ulama, menteri, pejabat, gubernur, masyarakat biasa, bahkan kiai-kiai dari daerah datang semua. Dari Sumatera Utara, Aceh, Lampung, Sulawesi dari mana-mana," terang Kiai Maruf didampingi Ketum MUI Lampung KH. Khairuddin Tahmid.

Sementara itu Ketua Umum PBNU KH. Said Aqil Siradj saat menyampaikan Khutbah Nikah pada ijab qabul tersebut juga sempat menyampaikan penjelasan terkait pernikahan dan kebudayaan. 

"Pernikahan adalah ibadah. Setiap ibadah harus sesuai dengan syariat Allah dan Sunnah Rasulullah SAW. Akad nikahnya merupakan syariat dan selebihnya adalah budaya yang kita lestarikan yang merupakan bagian dari Islam Nusantara," katanya.

Perjodohan yang terjadi diantara dua insan manusia menurutnya juga bukan hanya pertemuan fisik semata. Namun yang lebih penting dari itu, pernikahan adalah pertemuan akhlaq, budaya, peradaban, martabat dan kepribadian.

"Mudah-mudahan mendapatkan keturunan yang bermartabat, berguna bagu agama, bangsa dan negara," ujar Kiai Said menjelaskan tafsir surat Ar Rum ayat 21 yang menjelaskan tentang hal tersebut. (Muhammad Faizin/Kendi Setiawan).

KOKAM Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Pertandingan, Cerita KOKAM Tegal

Selasa, 23 Januari 2018

Nabi Muhamad Bangun Negara Berdasar Platform Kemajuan dan Kebersamaan

Manado, KOKAM Tegal. Nabi Muhammad ketika berhijrah dari Makkah ke Madinah hidup dalam komunitas masyarakat yang plural, ada penganut Yahudi, ada pula suku-suku lokal, kelompok Ansor dan juga Muhajirin. Dengan situasi seperti itu, maka yang dibangun adalah negara yang berdasarkan kesepakatan bersama untuk mencapai kemajuan dan kebersamaan, tidak didasarkan pada agama atau etnis. Karena itulah, negeri tersebut dikatakan sebagai Negara Madinah, dari kata tamaddun yang artinya masyarakat yang berperadaban. 

Nabi Muhamad Bangun Negara Berdasar Platform Kemajuan dan Kebersamaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Nabi Muhamad Bangun Negara Berdasar Platform Kemajuan dan Kebersamaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Nabi Muhamad Bangun Negara Berdasar Platform Kemajuan dan Kebersamaan

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Kiai Said ketika memberikan sambutan dalam acara pra-Munas dan Konbes dengan tema NU dan Kebinekaan di Manado, Sulawesi Utara (11/11). 

 

“Asalkan satu cita-cita dan satu garis perjuangan, sesungguhnya mereka adalah satu umat. Jadi Nabi Muhammad, modern banget,” katanya di hadapan perwakilan NU se-Wilayah Indonesia Timur. 

KOKAM Tegal

Negara Madinah itu penduduknya ada yang Muslim dan non-Muslim, Arab dan non-Arab, semua diperlakukan sama. Semua penduduk Madinah telah menandatangani kesepakatan bersama untuk hidup damai. Terdapat tanggung jawab bersama kalau ada serangan dari luar. Mereka yang berkhianat juga harus diusir.

Kiai Said yang tinggal di Arab Saudi selama tiga belas tahun untuk belajar dari sarjana sampai dengan doktor ini memberikan sejumlah contoh tindakan Rasululah yang berlaku adil pada semua kelompok. Pertama, Suatu ketika ada sahabat yang bertengkar dengan Yahudi, kemidian mereka berkelahi sampai si Yahudi meninggal. Nabi marah besar dengan mengatakan, Barangsiapa membunuh non-Muslim, berhadapan dengan saya. Dan barang siapa berhadapan dengan saya, tidak akan selamat.

Keadilan juga diperlakukan kepada sesama umat Islam, yaitu ketika ada perempuan yang tertangkap mencuri. Ada usulan agar pencuri tersebut tidak dihukum karena berasal dari keluarga terpandang. Dalam kesempatan tersebut, Rasulullah menyampaikan, seandainya Fatimah, anak satu-satunya, yang mencuri, beliau akan menghukumnya sendiri. 

“Kalau kita bandingkan umat Islam dulu dan sekarang, kita sekarang akan malu,” katanya mengomentari tindakan tegas Nabi dalam menghukum pencuri tersebut. 

“Tidak boleh ada permusuhan, kecuali kepada yang melanggar hukum. Tidak boleh ada permusuhan karena alasan beda agama, beda suku, beda budaya, apalagi beda pilihan gubernur,” tegasnya. 

KOKAM Tegal

Dikatakan Kiai Said, yang dijalankan oleh Rasulullah tersebut merupakan prinsip muwathonah, citizenship atau kewarganegaraan, bukan kewargaagamaan, atau kesukuan. “Islam seperti inilah yang dibawa Walisongo, yang mengislamkan seluruh Nusantara,” imbuhnya. 

Sebagai pemimpin dari seluruh komunitas yang sangat beragam, Rasulullah juga sangat memperhatikan kepentingan dari pemeluk agama Nasrani. Suatu ketika ada gosip dari Yahudi bahwa Maryam berzina sehingga melahirkan seorang anak. Ia sangat bersedih dan bagaimana menjelaskan peristiwa tersebut, sampai akhirnya Allah menurunkan surat Maryam yang menegaskan bahwa Maryam atau disebut Maria dalam agama Kristiani merupakan perempuan suci yang bersih dari perilaku tidak terpuji.

Demikian pula, ketika terjadi perang antara Kristiani dan pengikut Zoroaster, Rasulullah mendoakan agar umat Kristiani dimenangkan. Romawi pertama kalah dalam perang tersebut, tapi kemudian kurang dari sepuluh tahun, menang dalam peperangan. Dalam kesempatan tersebut, umat Islam diminta untuk menyambut dengan gembira. Peristiwa tersebut diabadikan dalam surat Ar-Rum.

Kiai Said yang merupakan alumnus Pesantren Lirboyo Kediri ini juga mengisahkan teladan yang diberikan oleh Sayyidina Umar saat mengunjungi Palestina. Pada kesempatan tersebut, Umar memasuki gereja untuk melihat-lihat karena di Makkah dan Madinah tidak ada gereja. Lalu terdengar adzan saat ia masih dalam gereja. Ia tidak mau shalat dalam gereja, melainkan di luar karena takut, jika shalat di gereja, suatu saat geraja tersebut direbut dengan alasan di situ bekas shalatnya Umar. 

Kiai Said mempersilahkan generasi muda untuk belajar agama Islam di Arab karena memang kawasan tersebut merupakan pusat pendidikan Islam yang belum bisa ditandingi di tempat lain seperti di Al Azhar atau di Arab Saudi, tetapi ia mengingatkan agar yang dibawa adalah ilmunya, bukan budayanya 

Cara pandang orang Arab dalam hubungan antara agama dan negara sangat berbeda dengan bangsa Indonesia. Di sana, para ulama bukanlah tokoh nasionalis, sedangkan tokoh nasionalis bukanlah ulama. Situasi ini menyebabkan terjadinya benturan dan pertumpahan darah.

Berbeda dengan di Arab, Kiai Hasyim Asy’ari mampu menyatukan agama dan nasionalisme dengan ungkapannya, mencintai tanah air adalah bagian dari iman. Apa yang disampaikan oleh Kiai Hasyim tersebut merupakan bentuk refleksi atas kondisi di Nusantara yang sangat beragam. 

“Kebinekaan yang muncul merupakan anugerah dari Allah yang harus dirawat. Seandainya Allah menghendaki, di muka bumi ini semuanya bisa Islam. Karena itu, tidak boleh menggunakan kekerasan dalam berdakwah,” ujar Kiai Said. (Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Cerita, Pertandingan, Kyai KOKAM Tegal

Rabu, 10 Januari 2018

Isteri Gus Dur Semangati Santri Gapai Cita-cita

Jepara, KOKAM Tegal. Ibu Negara RI keempat, Isteri Almarhum KH Abdurrahman Wahid, Sinta Nuriyah yang berkesempatan hadir di pesantren Az-Zahra desa Sekuro kecamatan Mlonggo kabupaten Jepara, Kamis (20/6) kemarin menyemangati para santri agar tidak patah semangat dalam menggapai cita-cita. Kehadiran istri almarhum Gus Dur dalam silaturrahim tersebut disambut hangat keluarga besar Az-Zahra, santri, siswa, guru dan tokoh masyarakat setempat. 

Isteri Gus Dur Semangati Santri Gapai Cita-cita (Sumber Gambar : Nu Online)
Isteri Gus Dur Semangati Santri Gapai Cita-cita (Sumber Gambar : Nu Online)

Isteri Gus Dur Semangati Santri Gapai Cita-cita

Menurut perempuan kelahiran Jombang, Jawa Timur itu dengan tetap semangat menggapai cita-cita niscaya apa yang diharapkan akan terkabul. Usai menggapai cita-cita setinggi langit, tegasnya santri harus memberikan kontribusi positif ditengah-tengah masyarakat. 

“Kelak jika kalian sudah berjuang ditengah-tengah masyarakat jadilah agen perubahan yang baik,” ajaknya.

KOKAM Tegal

Ibu dengan 4 anak itu terus memantik semangat santri. Ia pun menyontohkan dirinya yang kini mengalami kelumpuhan usai tertimpa kecelakaan 20 tahunan silam. Meski dalam beraktivitas Sinta selalu ditemani kursi roda namun ia tetap mengajak agar tetap mempunyai semangat tinggi, tetap menjalankan aktivitas dan tujuannya tidak lain tetap bermanfaat bagi orang lain. 

KOKAM Tegal

Sebagai perempuan yang harus melanjutkan perjuangan suaminya, Gus Dur, dirinya menyinggung peran dan kodrat seorang wanita yang memiliki tugas dan tanggung jawab yang sama dalam mengisi dan mengembangkan bangsa. Apalagi di Jepara lanjut ibu dari Alissa Qatrunnada mempunyai pahlawan emansipasi wanita, RA Kartini. Karenanya, semangat RA Kartini tegasnya harus dilanjutkan. 

Disamping itu, perempuan 65 tahun itu juga memberi apresiasi kepada Pesantren Az-Zahra. Ia menyatakan Azzahra yang mengelola Pesantren, SMP dan SMK merupakan lembaga yang mewah, santri-santrinya antusias dalam belajar dan sangat ada harapan menjadi besar karena memiliki potensi untuk maju dan berkembang.

Sementera itu, H Mukhlisin selaku Dewan Pembina dan Pendiri Lembaga Pendidikan Az-Zahra mengungkapkan santri Pesantren Az-Zahra terdiri dari 400an yang berasal dari Jepara maupun luar daerah. Dalam mengelola pendidikan pihaknya dibantu tenaga pendidik yang kompeten di bidangnya juga didukung dengan guru dari lulusan pesantren.  

Redaktur     : Syaifullah Amin

Kontributor : Syaiful Mustaqim

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Pertandingan, News KOKAM Tegal

Jumat, 05 Januari 2018

Bahtsul Masail Narkoba, NU Demak Hadirkan Direktur RSI NU

Demak, KOKAM Tegal

Bahaya narkoba menjadi masalah serius bangsa Indonesia serta membuat keprihatinan banyak kalangan, tak terkecuali Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Demak sehingga persoalan tersebut dibawa ke forum bahtsul masail tingkat cabang.

Sebelum memulai bahtsul masail para pengurus mendengarkan penjelasan ahli dari Rumah Sakit Islam Nahdlatul Ulama (RSI NU) Demak, H Abdul Azis. Direktur RSI NU Demak ini memaparkan masalah narkoba mulai dari asal muasal, jenis, dan efek dari segi kesehatan serta sosial akibat penyalahgunaannya.

Bahtsul Masail Narkoba, NU Demak Hadirkan Direktur RSI NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Bahtsul Masail Narkoba, NU Demak Hadirkan Direktur RSI NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Bahtsul Masail Narkoba, NU Demak Hadirkan Direktur RSI NU

Azis menyampaikan, dalam dunia kedokteran atau kesehatan pemakaian obat psikotropika diperbolehkan guna menyelamatkan pasien dengan batas tertentu semisal pada anestesi yang dipersiapkan untuk operasi pada pasien agar tidak merasakan sakit.

KOKAM Tegal

“Dalam kondisi tertentu, termasuk operasi, kami akan menggunakan obat tertentu yang sudah diatur oleh undang undang, itu pun masih menyesuaikan daya tahan tubuh pasien,” ujarnya, Ahad (31/7).

KOKAM Tegal

Bahtsul masail NU tingkat cabang Demak putaran ke-11 tersebut berlangsung di Masjid Jami Purwosari Kecamatan Sayung Kabupaten Demak. Turut hadir Rais Syuriyah PCNU Demak KH Alawy Masudi.

Forum diskusi keagamaan NU ini juga melibatkan selain pengurus PCNU juga pengurus Majelis Wakil Cabang NU (MWCNU) se-Kabupaten Demak serta pengurus ranting setempat. (A Shiddiq Sugiarto/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Pertandingan, Pendidikan, Kajian Sunnah KOKAM Tegal

Rabu, 03 Januari 2018

Warga NU Kumpulkan Bantuan Banjir Lewat Jejaring Maya

Sampang, KOKAM Tegal. Beberapa anak muda NU di Kabupaten Sampang Madura bahu-membahu membantu meringankan beban warga yang terendam banjir. Dalam waktu singkat, melalui jejaring sosial di dunia maya mereka berhasil mengumpulkan sejumlah dana dan langsung disalurkan kepada warga.

Warga NU Kumpulkan Bantuan Banjir Lewat Jejaring Maya (Sumber Gambar : Nu Online)
Warga NU Kumpulkan Bantuan Banjir Lewat Jejaring Maya (Sumber Gambar : Nu Online)

Warga NU Kumpulkan Bantuan Banjir Lewat Jejaring Maya

"Kami mengoptimalkan jaringan yang selama ini kita miliki," kata Muhammad Syamsuddin Abdul Muin. Jaringan yang dimaksud adalah komunikasi lewat jejaring facebook, blackberry messenger, tweeter dan sejenisnya. "Kebetulan yang saya miliki adalah komunitas NU di luar negeri," katanya.?

"Alhamdulillah, beberapa kawan dari luar negeri ikut memberikan donasi kepada kami," tandasnya. Ia berharap akan kian banyak warga NU dan masyarakat umum untuk memberikan perhatian terhadap bencana ini. "Ini demi meringankan beban mereka," tambahnya.?

KOKAM Tegal

Dalam waktu yang tidak terlampau lama, sudah terkumpul dana yang lumayan besar. Belum termasuk simpatisan dari kalangan NU setempat yang ikut peduli dengan penderitaan sesama. "Dari dana yang terhimpun, telah kami belikan makanan dan minuman serta telah didistribusikan ke sejumlah titik," kata mantan Wakil Katib PCINU Libya ini.

KOKAM Tegal

Sejumlah badan otonom NU seperti IPNU, IPPNU, Fatayat, Muslimat termasuk PCNU Sampang bahu membahu untuk menggalang bantuan dan mendistribusikannya ke lokasi bencana. "Bahkan banyak relawan dari para santri," bangganya.

Untuk menampung bantuan berupa makan dan minuman serta barang, dikonsentrasikan di Kantor PCNU setempat, Jalan Diponegoro no 41 Sampang.?

Seperti diwartakan Kabupaten Sampang Jawa Timur tergenang. Curah hujan tinggi dan luapan dari sungai membuat sebagian wilayah terendam air. Sebanyak 10 desa dan 6 kelurahan di Kecamatan Kota terendam banjir dengan ketinggian air hingga leher orang dewasa. Kondisi ini tentu saja melumpuhkan seluruh aktifitas warga. Yang mendesak dilakukan adalah terdistribusinya logistik bagi para warga yang tidak bisa beraktifitas secara normal.

Redaktur ? ? : A. Khoirul Anam

Kontributor: Syaifullah

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Pertandingan KOKAM Tegal

Muslimat NU Ikut Andil Pertahankan NKRI

Jombang, KOKAM Tegal - Sejarah mencatat terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merupakan hasil kontribusi beragam pihak. Dan upaya untuk mempertahankan NKRI itu juga atas dasar kebersamaan dari berbagi pihak atau kalangan, tak hanya dari kalangan laki-laki, perempuan, yaitu Muslimat NU di masanya juga ikut andil.



Pernyataan ini disampaikan Ketua Pimpinan Cabang (PC) Muslimat NU Jombang, Hj Mundjidah Wahab saat kegiatan resepsi Harlah ke-71 Muslimat NU di alun-alun Jombang, Sabtu (13/5/2017) pagi menjelang siang.

Muslimat NU Ikut Andil Pertahankan NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslimat NU Ikut Andil Pertahankan NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)

Muslimat NU Ikut Andil Pertahankan NKRI

Menurut Wakil Bupati Jombang ini, pada tahun 1960-an sejumlah Pengurus Muslimat NU di tanah air juga ikut pelatihan bela negara. Seperti pada umumnya pelatihan bela negara, mereka juga dituntut berlatih dengan profesional, cara mengoperasikan berbagai macam senjata juga harus dikuasai.

KOKAM Tegal

"Ketika tahun 1960-an, Muslimat NU juga ikut pelatihan bela negara, mereka bawa tembak dan seterusnya, semuanya telah dilakukan Muslimat NU untuk menjaga NKRI," ungkapnya.

KOKAM Tegal

Karenanya, kontribusi Muslimat NU untuk bangsa dan negara hingga di usia yang ke-71 ini sudah tidak diragukan lagi. "Kontribusi Muslimat NU dengan umur yang bisa disebut sudah tua, sudah banyak pula untuk negara," jelas putri dari salah satu pendiri Nahdlatul Ulama (NU) KH Abdul Wahab Chasbullah ini.

Namun demikian, bagaimanapun kondisi bangsa dan negara yang terjadi belakangan ini patut untuk terus diperhatikan oleh kader-kader Muslimat NU. Terlebih adanya individu atau kelompok yang mengancam terhadap keutuhan NKRI.

Hadir pada resepsi Harlah ke-71 Muslimat NU, ratusan pengurus Muslimat Jombang dari sejumlah daerah. Hadir pula perwakilan Pengurus Pusat (PP) Muslimat, Ketua PW Muslimat NU DKI Jakarta. Tampak juga Bupati Jombang Nyono Suharli Wihandoko dengan beberapa pejabat pemerintah serta perwakilan partai politik. (Syamsul Arifin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Pertandingan, AlaSantri KOKAM Tegal

Selasa, 26 Desember 2017

Cara Pemuda NU Mataram Rayakan Malam Pergantian Tahun

Mataram,? KOKAM Tegal. Memperingati Haul ke-7 Gus Dur, Keluarga Besar Nahdlatul Ulama Kota Mataram, NTB menggelar kegiatan 24 jam suntuk. Kegiatan bertema 24 Jam Bersama NU dan Gus Dur ini akan dipusatkan di Taman Budaya Provinsi NTB pada 31 Desember 2016-1 Januari 2017.

“Kegiatan ini merupakan agenda tahunan yang rutin diperingati oleh Keluarga Besar NU Mataram," kata Hasan Basri, Ketua Panitia kegiatan.

Cara Pemuda NU Mataram Rayakan Malam Pergantian Tahun (Sumber Gambar : Nu Online)
Cara Pemuda NU Mataram Rayakan Malam Pergantian Tahun (Sumber Gambar : Nu Online)

Cara Pemuda NU Mataram Rayakan Malam Pergantian Tahun

Menurutnya, momentum ini sangat tepat, yaitu pergantian tahun baru, maka dari pada berhura-hura dan mengahbiskan waktu dengan hal-hal buruk, lebih baik diisi dengan serangkaian kegiatan positif bersama NU dan Gus Dur.

Masih kata Hasan, dalam haul Gus Dur tahun ini, pihaknya selaku anak muda NU ? telah menyiapkan serangkaian kegiatan positif untuk mengisi detik-detik pergantian tahun.

KOKAM Tegal

“Seperti sholat subuh berjamaah, pelatihan santri digital, Momeriam of Gus Dur bersama tokoh lintas iman, istighotsah, refleksi akhir tahun, dan puncaknya akan dilaksanakan pagelaran musik, pembacaan puisi, teatrikal dan lain-lain bertajuk Lailatul Art,” jelas Ketua GP Ansor Kota Mataram ini.

Di tempat terpisah, Ketua Lakpesdam NU Mataram Muhammad Jayadi yang juga Sekertaris Panitia menjelaskan bahwa kegiatan ini adalah upaya anak-anak muda NU Mataram untuk mengingatkan publik akan jasa dan pengorbanan Gus Dur bagi bangsa ini.

"Beliau adalah sosok yang semangat dan pikirannya harus terus ditransformasi kepada masyarakat luas, dengan harapan masyarakat bisa meneladani dan mengaplikasikan gagasan Gus Dur tentang kemanusiaan, solidaritas, pembelaan terhadap minoritas serta pentingnya menjaga keutuhan NKRI," katanya.

Dalam kegiatan tahun ini, pihak panitia mengundang kelompok warga dari semua latar belakang, aktivis, budayawan, praktisi, profesional, pelajar, mahasiswa, pesantren, tuan guru, petani, pedagang, agamawan, dan lain-lain.

KOKAM Tegal

"Mereka semua kita undang, bersama-sama mengenang almarhum Gus Dur dan tentunya sama-sama merayakan malam pergantian tahun dengan hal-hal yang positif," kata Mantan Ketua PC PMII Kota Mataram ini.

Selain ? itu, juga akan ada kegiatan istighotsahan dan doa bersama untuk keselamatan bangsa dari semua tokoh agama dan semua umat. Dengan harapan bangsa ini tetap damai dan maju.? (Hadi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Warta, Pertandingan, Aswaja KOKAM Tegal

Minggu, 24 Desember 2017

Libatkan 100 Dokter, NU DIY Gelar Pengobatan Gratis

Yogyakarta, KOKAM Tegal. Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) DI Yogyakarta melalui Lembaga Kesehatan NU (LKNU) menggelar penyuluhan dan pengobatan gratis di Pondok Pesantren Nurul Haromain, Taruban Kulon, Sentolo, Kabupaten Kulon Progo, DIY, Ahad (25/1).

Libatkan 100 Dokter, NU DIY Gelar Pengobatan Gratis (Sumber Gambar : Nu Online)
Libatkan 100 Dokter, NU DIY Gelar Pengobatan Gratis (Sumber Gambar : Nu Online)

Libatkan 100 Dokter, NU DIY Gelar Pengobatan Gratis

Pelayanan kesehatan gratis ini menjadi acara puncak dari program pengabdian pesantren dan masyarakat. Dalam hal ini, LKNU DIY menggandeng Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) Yogyakarta.

Tak kurang dari 100 dokter gigi dan dokter umum terjun mengabdi kepada masyarakat pesantren. Santri dan masyarakat sekitar pondok tampak antusias memeriksakan kesehatan gigi mereka. Selain diperiksa, mereka juga diberikan obat-obatan, pasta dan sikat gigi gratis.

KOKAM Tegal

Pimpinan Pesantren Nurul Haromain, KH. M. Sirodjan Muniro, sangat bersyukur atas kedatangan para dokter ke pesantrennya. “Saya merasa senang sekali dengan kedatangan para dokter-dokter ini. Saya berharap agar kedatangan mereka ini bukan untuk yang terakhir kali, tetapi untuk yang pertama dan seterusnya. Untuk sehat (rohani dan jasmani, red), santri harus taat pada kiai dan dokter,” tuturnya.

KOKAM Tegal

Kegiatan ini juga diharapkan bisa menjadi inspirasi bagi santri. “Saya memimpikan agar kelak ada santri yang dokter gigi. Jika ada doktor honoris causa (Dr. HC), seharusnya juga ada dokter honoris causa (dr. HC),” kelakarnya.

LKNU juga terus menerus mengampanyekan pola hidup bersih dan sehat. Tujuannya agar para santri dan masyarakat yang tinggal di sekitar pondok dapat hidup lebih sehat dan teratur.

“Jika santri-santri kita terbiasa berperilaku hidup bersih dan sehat, maka itu akan meminimalisir timbulnya penyakit di pesantren, sehingga kegiatan belajar-mengajar juga akan nyaman,” kata Ketua LKNU DIY drg. Abdul Kadir.

Santri adalah aset berharga yang harus kita perhatikan kesehatannya. Dari pesantren yang bersih, akan lahir generasi santri yang sehat, tidak hanya rohani tapi juga jasmani, sebagai modal untuk membangun masyarakat, bangsa dan negara, imbuh dokter gigi tersebut.? (Joko/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Pendidikan, Lomba, Pertandingan KOKAM Tegal

Sabtu, 23 Desember 2017

Jurnal Pesantren

Nama sebuah berkala yang diterbitkan oleh P3M, sebuah LSM di Jakarta yang memiliki perhatian pada pengembangan pesantren. Dalam daftar pengelolanya, tertulis nama KH Sahal Mahfudz ? sebagai Pemimpin Umum dan sebagai wakilnya Abdurrahman Wahid. Bertindak sebagai pemimpin redaksi M. Nashihin Hasan.

Sementara itu duduk di dewan redaksi ada Abdurrahman Wahid, Abdulllah Syarwani, Adi Sasono, M. Dawam Rahardjo, Djohan Effendi, Said Budairy, Soetjipto Wirosardjono, Zamakhsyari Dhofier, Musfihin Dahlan. Staf redaksinya Muntaha Azhari dan Abdul Mun’im Shaleh H. Dan Masdar F. Mas’udi sebagai pPemimpin usaha. Berkala ini beralamat di Jalan Anggrek Nelimurni V/B.83, Slipi, Jakarta.

Pada kulit sampulnya di bagian dalam dikemukakan bahwa, “Berkala ini diterbitkan sebagai media informasi dan komunikasi serta wadah pengajian untuk membangkitkan kepedulian dan wawasan pengembangan melalui jalur pemikiran yang bertolak pada titik pandang keagamaan....”?

Jurnal Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Jurnal Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Jurnal Pesantren

Dalam nomor perdana berkala ini, M. Nashihin Hasan sebagai Pemimpin Redaksi dalam rubrik “Assamualaikum” mengemukakan peran berkala ini sebagai media kajian dan dialog yang secara khusus ditujukan pada tiga bidang prioritas.

KOKAM Tegal

Pertama, kajian bidang sistem pendidikan Islam di Indonesia dengan proyeksi pada integrasi ke dalam sebuah sistem pendidikan nasional yang terpadu. Kedua, dialog di bidang pengabdian masyarakat dan pembentukan jaringan komunikasi. Dan ketiga, pembahasan bidang pemikiran keagamaan dan kemasyarakatan dengan proyeksi khusus pada penumbuhan etos kemasyarakatan sesuai tuntutan keadaan.

Dengan keinginan di atas, berkala ini menyajikan tulisan-tulisan ilmiah populer hasil penelitian, survei, hipotesis atau gagasan kratif yang menyangkut aspek pendidikan, pengembangan masyarakat, kepesantrenan, ilmu-ilmu keagamaan dan yang sejenisnya. Redaksi berkala ini secara terbuka mengundang para ahli, sarjana, kiai, praktisi, santri, maupun mahasiswa untuk menulis secara bebas di media ini, tetapi kebanyakan tulisan tampaknya hadir atas dasar permintaan redaksi secara khusus berkaitan dengan topik yang hendak dikemukakan.

KOKAM Tegal

Nomor perdana Pesantren terbit pada Oktober-Desember 1984 dengan sampul depan lukisan seorang kiai. Berkala berukuran 17,5 x 24,5 dengan bahan isi kertas buram dan sampul kertas karton, dan tebal 80-an halaman ini dijual dengan harga Rp 1.000.?

Dalam edisi perdana yang bertopik tradisi keilmuan di pesantren, setelah rubrik “Mukaddimah” yang berisi semacam editorial redaksi, hadir rubrik “Artikel” yang diisi empat tulisan masing-masing dari Abdurrahman Wahid, Nurcholish Madjid, Zamakhsyari Dhofier, dan Masdar F. Mas’udi. Semuanya membahas tradisi dan pengembangan keilmuan di pesantren.?

Kemudian rubrik “Wawasan” diisi wawancara dengan KH Aziz Mashuri, Tholhah Mansur, Habib Chirzin, dan A. Syafii Ma’arif. Lalu rubrik “Profil Tokoh” diisi tulisan mengenai sosok KH Bisri Sansuri, rubrik “Sosok Pesantren” diisi ulasan mengenai pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, dan terakhir, rubrik “Tinjauan Buku” yang diisi dengan tulisan mengenai sebuah kitab hadits Itman al-Dirayah.

Edisi-edisi Pesantren selanjutnya diisi dengan susunan rubrik seperti di atas. Hanya sesekali ditambah dengan rubrik “Komentar” yang berisi tanggapan pembaca terhadap suatu tulisan pada edisi sebelumnya. Yang menarik, halaman-halaman sisa yang kosong pada awal-awal edisi diisi lukisan vignet oleh Mustofa Bisri, seorang pelukis, penyair, dan kiai, serta belakangan disi oleh Mufid Aziz.?

Berkala Pesantren memiliki kedudukan penting pada pertengahan hingga akhir 1980-an, terutama dalam mewadahi pemikiran-pemikiran dan gagasan-gagasan baru mengenai pengembangan pendidikan pesantren dan pendidikan Islam khususnya, serta pemikiran keagamaan secara umum.

Melalui berkala ini di antaranya sejumlah gagasan seperti kontekstualisasi kitab kuning, kesalehan sosial, pembaruan fiqih, kedudukan perempuan, dan lain-lain dikemukakan dengan berani serta penuh semangat.

Para penulisnya yang berusia 20-an akhir hingga 40-an awal pada saat itu kelak menjadi pemimpin dan intelektual terkemuka di kemudian hari, baik di lingkungan NU dan pesantren maupun di tataran nasional secara umum, seperti Abdurrahman Wahid, Mustofa Bisri, Tholhah Mansur, Masdar F. Mas’udi, A. Malik Madany, dan lain-lain. Dari keanggotaan redaksinya, para penyumbang tulisan, dan topik-topik yang diangkat, jelas sekali kalau berkala ini menjadi media dialog kalangan pesantren dengan kalangan di luarnya.

Pada 1989 terjadi pergeseran dalam susunan pengelola keredaksian. Nama Abdurrahman Wahid tidak lagi menjadi Wakil Pemimpin Umum, posisinya digantikan M. Nashihin Hasan yang sebelumnya menjabat Pemimpin Redaksi. Sedangkan posisi Pemimpin Redaksi diduduki oleh Masdar Farid Mas’udi yang sebelumnya menjabat Pemimpin Usaha sekaligus Redaktur Pelaksana. Abdurrahman Wahid sendiri kemudian duduk di jajaran Staf Ahli bersama KH Ali Yafie, Soetjipto Wirasardjono, Abdullah Syarwani, Dawam Rahardjo, dan Adi Sasono.?

Berkala Pesantren terbit rutin tiga bulan sekali atau empat edisi dalam setahun hingga tahun 1988. Tapi, sejak 1989, karena faktor pendanaan dan keterbatasan tulisan, jumlah edisi ? menjadi menurun. Pada 1989 hanya terbit tiga edisi, tahun 1990 dua edisi, tahun 1991 tiga edisi, dan tahun 1992 hanya satu edisi, bahkan sejak itu berkala Pesantren tidak pernah muncul lagi.?

Edisi terakhir No. 1/Vol IX/1992 berisi laporan mengenai “Tarekat dan Gerakan Rakyat”. (Hairus Salim HS)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Pertandingan, Pondok Pesantren, Ubudiyah KOKAM Tegal

Selasa, 12 Desember 2017

Tugas dan Perjuangan Santri Makin Berat

Solo, KOKAM Tegal



Ratusan santri Pondok Pesantren Al-Muayyad Mangkuyudan Surakarta mengikuti upacara peringatan Hari Santri Nasional (HSN), yang digelar di halaman pondok, Sabtu (22/10). Turut hadir dalam acara tersebut, sejumlah pengurus Muslimat NU Kota Solo, mahasiswa UNU Solo dan tamu undangan lainnya, antara lain Sekretaris Pengurus Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama (LKKNU), Alissa Wahid.

Dalam amanatnya, pembina upacara, Mukhlis Suranto, mengungkapkan tugas yang semakin berat, diemban para santri di zaman sekarang.?

Tugas dan Perjuangan Santri Makin Berat (Sumber Gambar : Nu Online)
Tugas dan Perjuangan Santri Makin Berat (Sumber Gambar : Nu Online)

Tugas dan Perjuangan Santri Makin Berat

“Yang menjadi penekanan pada Hari Santri ini, tugas santri dalam memperjuangkan dan mempertahankan Islam Aswaja, menangkis paham yang dapat merongrong bangsa, ini merupakan perjuangan yang sangat berat,” tegas Kepala SMA Al-Muayyad itu.

Pada kesempatan itu, Suranto juga memaparkan scara singkat kronologi terjadinya Resolusi Jihad. Dijelaskan bahwa menjelang meletusnya Perang 10 November 1945 di Kota Surabaya, serta peperangan melawan penjajah di daerah-daerah lainnya, Presiden Soekarno mengirim utusan ke Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari untuk menanyakan fatwa tentang berjihad demi membela bangsa.

KOKAM Tegal

Pertanyaan ini, kemudian dimusyawarahkan Hadratussyaikh bersama ulama lainnya, hingga akhirnya tercetuslah Resolusi Jihad, yang menjadi kobaran semangat para pejuang dalam melawan penjajah. “Resolusi Jihad ini dimotori oleh para ulama dan kiai,” kata Suranto.

Upacara Hari Santri di Al-Muayyad juga dimeriahkan dengan pekikan mars lagu “Ayo Mondok” dan “Ya Ahlal Wathon". (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal

KOKAM Tegal Pertandingan, Tokoh, Habib KOKAM Tegal

Minggu, 10 Desember 2017

Peringati Nuzulul Quran, PCNU Surabaya Akan Resmikan Masjid Sunan Bungkul

Surabaya, KOKAM Tegal. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Surabaya akan menggelar malam Nuzulul Quran? dengan menampilkan sembilan Qori-Qoriah tingkat Nasional dari? Jawa Timur di Taman Bungkul Surabaya, Senin (27/6) mendatang. Acara tersebut juga bersamaan dengan peresmian mushola di wilayah Taman Bungkul menjadi Masjid Sunan Bungkul.

Ketua panitia Ulya Abdillah menjelaskan, kegiatan tersebut akan diikuti kurang lebih 1000 warga dan jamaah Nahdliyin di Surabaya.

Peringati Nuzulul Quran, PCNU Surabaya Akan Resmikan Masjid Sunan Bungkul (Sumber Gambar : Nu Online)
Peringati Nuzulul Quran, PCNU Surabaya Akan Resmikan Masjid Sunan Bungkul (Sumber Gambar : Nu Online)

Peringati Nuzulul Quran, PCNU Surabaya Akan Resmikan Masjid Sunan Bungkul

"Kami tidak mengundang jamaah NU yang begitu besar, karena kapasitas tempat yang tidak memungkinkan dan mengingat acara yang bersamaan dengan kegiatan ibadah sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan," ujarnya, Jumat (24/6) saat dihubungi KOKAM Tegal.

Malam Nuzulul Quran juga akan menampilkan gema Sholawat Nabi oleh Ikatan Seni Hadrah Indonesia (ISHARI) Nahdlatul Ulama Kota Surabaya dan Group Al Banjari. Kemudian dilanjutkan ceramah Nuzulul Quran oleh KH Sholeh Sahal LC.

Lebih Lanjut, Wakil Ketua PCNU Surabaya ini mengungkapkan momen peringatan Nuzulul Quran di Taman Bungkul nanti juga sekaligus menandai status Mushola Sunan Bungkul menjadi Masjid Sunan Bungkul.

KOKAM Tegal

Dengan perubahan status tersebut pihak PCNU Surabaya berencana akan memulai renovasi masjid di tahun ini. Selain itu keberadaan masjid ini diberharapkan area makam Sunan Bungkul sebagai tujuan wisata religi di Surabaya lebih tertata dan terpelihara secara rapi sehingga para jamaah yang berziarah lebih nyaman dan tidak terganggu keramaian.

"Oleh karena itu agar tujuan dan hajat terkabul sebelum malam peringatan Nuzulul Quran, PCNU Surabaya menggelar Khotmil Quran di Mushola, dan sekaligus pembagian tajil dan buka puasa bersama dengan para jamaah peziarah makam Sunan Bungkul yang dilaksanakan oleh LAZISNU Surabaya," pungkasnya. (Rof Maulana/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal

KOKAM Tegal Pertandingan, Warta, Lomba KOKAM Tegal

Jumat, 01 Desember 2017

Kasus Narkoba Didominasi Kalangan Remaja dan Pemerintah

Jombang, KOKAM Tegal - Kasus penyalahgunaan narkoba sering kali menimpa kaum remaja juga kalangan pemerintahan. Hingga kini berbagai media menyajikan berita terkait kasus narkoba yang lebih dominan dengan menyorot dua objek tersebut.

Sesuai data Badan Narkotika Nasional (BNN) tahun 2014 yang diungkap dosen Fakultas Hukum Universitas Darul Ulum (Undar) Jombang Dr H Kuswanto saat mengisi orasi kebangsaan Upaya Pemberdayaan Perempuan Dalam Mencegah Peredaran Narkoba di pembukaan seminar melawan teror narkoba, Kamis (10/11).

Kasus Narkoba Didominasi Kalangan Remaja dan Pemerintah (Sumber Gambar : Nu Online)
Kasus Narkoba Didominasi Kalangan Remaja dan Pemerintah (Sumber Gambar : Nu Online)

Kasus Narkoba Didominasi Kalangan Remaja dan Pemerintah

"Jumlah pengedar narkoba selama ini kita temui mayoritas dari kalangan remaja, tapi penikmat narkoba di luar kebutuhan paling banyak dari kalangan pekerja swasta, wirausaha, dan instansi pemerintahan, sesuai data BNN tahun 2014 pemakai dari kalangan ini hingga mencapai 50.34%," ujarnya.

KOKAM Tegal

Namun demikian itu, menurutnya bukan tanpa alasan logis. Pengedar yang mayoritas dari kalangan remaja selama ini memang dijadikan objek utama oleh mafia-mafia narkoba, selain itu para mafia juga memanfaatkan pola pikir dan rasa keingintahuan remaja terhadap segala sesuatu masih kuat, termasuk narkoba.

KOKAM Tegal

"Pola pikir remaja itu sangat kuat, begitu juga dengan rasa keingintahuannya, hal ini yang menyebabkan para remaja tersandung kasus narkoba. Kebanyakan juga pola pikir remaja yang penting happy," ungkapnya.

Soal pemakai dari kalangan pekerja swasta, wirausaha, dan instansi pemerintahan, akademisi itu menilai diakibatkan kepemilikan uang yang lebih dari cukup. "Kenapa mereka yang paling banyak? Karena mereka punya banyak uang," kata Kuswanto.

Di waktu yang sama, Kepala BNN Kota Mojokerto Suharsi, salah satu narasumber seminar mengatakan, pemakai narkoba menyesuaikan karakter masing-masing individu.

"Kalau orang itu sukanya memakai jenis sabu-sabu, maka orang itu cenderung kuat, contohnya para supir, akhirnya supir kuat nyetir," kata Suharsi.

Seminar ini diselenggarakan Korps Putri Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Putri Jombang. (Syamsul Arifin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Ubudiyah, Pertandingan KOKAM Tegal

Rabu, 22 November 2017

Nasib Para Pengais Rezeki di Pantura Brebes Pasca Pembangunan Tol

Brebes, KOKAM Tegal. Sejak diresmikannya Tol Cikopo-Palimanan (Cipali) tahun 2015 lalu kemudian dilanjutkan pembangunan tol Kanci-Pejagan, praktis para pengais rezeki di sepanjang jalan pantura (pantai utara) merasakan imbas sepi dari usahanya. Baik, dari para pedagang lapak di pinggir jalan, pedagang asongan, jasa toilet umum, bahkan POM bensin.

Nasib Para Pengais Rezeki di Pantura Brebes Pasca Pembangunan Tol (Sumber Gambar : Nu Online)
Nasib Para Pengais Rezeki di Pantura Brebes Pasca Pembangunan Tol (Sumber Gambar : Nu Online)

Nasib Para Pengais Rezeki di Pantura Brebes Pasca Pembangunan Tol

Nasib tragis ini semakin panjang seiring dengan pembangunan tol Pejagan-Brebes dan Brebes-Pemalang hingga Semarang yang berimbas kepada sepinya para pedagang oleh-oleh khas Brebes, telor asin dan bawang merah.

KOKAM Tegal mencoba menelusuri jalan pantura Brebes untuk menangkap imbas fenomena jalan tol yang semakin panjang sejak dari Jakarta ini. Kondisi sepi tersebut terlihat di beberapa titik, baik di kedua sisi sepanjang jalan pantura, POM Bensin, rest area, dan toilet umum di beberapa tempat.

Para pengais rezeki di tempat-tempat tersebut mengakui beberapa hari menjelang Idul Fitri suasana ramai masih ada, tetapi tidak seramai ketika belum ada pembangunan tol. Itu juga ramai karena para pemudik yang menggunakan sepeda motor.

“Sekarang itungannya jalan tol dari Jakarta sudah sampai Semarang, gimana nggak sepi,” ujar Wirso dengan logat khas Brebes, pria penjaga toilet umum kepada KOKAM Tegal, Senin (26/6).

KOKAM Tegal

Wirso mengungkapkan, pendapatannya turun drastis jika dibandingkan ketika para pemudik, baik yang menggunakan mobil dan sepeda motor masih melewati Pantura. Toliet umum yang ia buka tidak pernah sepi dari pagi hingga sore.

KOKAM Tegal

?

Kini ia mengakui bisa dihitung jari orang yang memakai jasa toilet umum, terutama setelah Lebaran. Meskipun pemudik pasca lebaran yang menggunakan mobil terlihat ramai dari keluar pintu tol Pejagan menuju Purwokerto dan Semarang.

Hal serupa dirasakan pria yang tidak mau disebut namanya, petugas POM Bensin di kawasan pantura Kecamatan Tanjung, Brebes. Pria tersebut mengatakan, pasca lebaran sehari atau H+1, jarang mobil yang mengisi BBM, kebanyakan sepeda motor.?

Bahkan ia mengakui kondisi Brebes cukup sepi sejak beberapa tahun yang lalu, tepatnya sejak ada tol Pejagan dan tol Gringsing menuju Pemalang serta Semarang.

“Dampaknya juga ke para pedagang telor asin dan bawang merah. Mereka banyak yang tutup lapak dan pindah ke Tegal karena para pemudik kebanyakan keluar tol dari sana,” ungkapnya.

Kondisi ini juga terjadi di Jawa Barat sejak jalan tol Cipali difungsikan. Para pedagang musiman yang ramai-ramai membuka warung teduh di sepanjang jalan pantura merasakan trurun drastisnya pendapatan mereka.

Bahkan di awal-awal pengoperasian tol Cipali, mereka nekad membuka lapak dagangannya tepat di depan setiap pintu keluar tol. Petugas saat itu menoleransi karena tol masih pada tahap uji coba alias gratis.?

Namun sekarang, para pengais rezeki itu harus kembali membuka lapak di pantura, di mana para pemudik yang menggunakan mobil pribadi lebih banyak yang memanfaatkan jalan tol ketimbang melewati jalan legenda para pemudik tersebut. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Habib, AlaSantri, Pertandingan KOKAM Tegal

Sabtu, 11 November 2017

Mensos Targetkan Indonesia Bebas Anak Jalanan di Tahun 2017

Sidoarjo, KOKAM Tegal. Menteri Sosial RI, Hj Khofifah Indar Parawansa menargetkan Indonesia bebas anak jalanan di tahun 2017 ini. Menurutnya, Indonesia bebas anak jalanan merupakan bagian dari proses eksplorasi per kabupaten kota di bulan Mei 2015 lalu.

Khofifah menghitung dari 2015 seluruh kabupaten kota, berapa data anak jalanannya itu supaya masing-masing daerah terdorong, termotivasi dan kinerjanya bisa terukur.

Mensos Targetkan Indonesia Bebas Anak Jalanan di Tahun 2017 (Sumber Gambar : Nu Online)
Mensos Targetkan Indonesia Bebas Anak Jalanan di Tahun 2017 (Sumber Gambar : Nu Online)

Mensos Targetkan Indonesia Bebas Anak Jalanan di Tahun 2017

"Kota-kota ini biasanya menjadi sentra siapa saja untuk mencari gula-gula, mencari keuntungan . Banyak juga ditemukan anak-anak ini kemudian dieksploitasi, apakah oleh pihak lain ataukah orang tuanya, itulah yang kemudian secara simultan kita menyiapkan program antara lain desaku menanti seperti di Desa Kedungkandang Kota Malang, itu satu paket gelandangan, pengemis dan anak jalanan bisa direlokasi," kata Khofifah disela-sela acara dzikir akbar di depan Masjid Agung Sidoarjo, Ahad (12/2).

Ketum PP Muslimat NU itu menjelaskan bahwa, di Desa Kedungkandang Kota Malang, tahun Maret lalu dilakukan peletakan batu pertama, Oktober kemudian diresmikan dan Januari 2017 sudah bisa menjadi destinasi wisata baru.

"Jadi Kementerian Sosial mencoba mencari format yang betul-betul solutif. Ketika puasa kita selalu cerita gelandangan, pengemis, ketika kita ke jalan masih menemukan anak-anak jalanan, ini harus dilakukan reintegrasi sosial satu paket tidak hanya anaknya, tetapi juga orang tuanya," jelasnya.

KOKAM Tegal

Khofifah menyebutkan bahwa di Jawa Timur salah satu contoh yang bisa dijadikan runmodel yaitu Kedungkandang. Kalau ini bisa diikuti kota-kota lain, yang memang ditemukan gelandangan, pengemis atau anak jalanan relokasinya ini satu paket. Tidak bisa anakya saja, kalau orang tuanya tidak ada pendekatan secara ekonomi, kemungkinan nanti masih akan mengajak anaknya ke jalan.

"Nah format satu paket solutif seperti yang dilakukan di Kota Malang itu semoga bisa dijadikan runmodel di kota lain," harapnya. (Moh Kholidun/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal

KOKAM Tegal Sholawat, Warta, Pertandingan KOKAM Tegal

Selasa, 07 November 2017

Ansor Rembang: Tak Ada Pengamanan Bersama antara Banser dan FPI

Rembang, KOKAM Tegal. Front Pembela Islam (FPI) mengklaim diri melakukan pengamanan dalam acara Haul KH Zubair Dahlan ayah dari KH Maimoen Zubari yang digelar Jumat (9/6). Sempat terjadi insiden kesalahpahaman antara Polres Rembang dengan FPI.

Ansor Rembang: Tak Ada Pengamanan Bersama antara Banser dan FPI (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Rembang: Tak Ada Pengamanan Bersama antara Banser dan FPI (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Rembang: Tak Ada Pengamanan Bersama antara Banser dan FPI

 

Terkait pengamanan tersebut, GP Ansor Rembang juga turut memberikan keterangannya. Ketua PC GP Ansor Rembang H Hanies Cholil Baroq menerangkan bahwa tidak ada pengamanan bersama antara Banser dan FPI.

“Bahwa pengamanan acara Haul Mbah Zubair, ayahanda KH Maimoen Zubair Sarang adalah tugas rutin Banser, sebagai khidmah atau pengabdian kepada ulama,” jelas Hanies.

Ia menjelaskan, pengamanan acara haul Mbah Zubair tersebut dari waktu ke waktu oleh Banser juga merupakan permintaan dari pihak keluarga KH Maimoen Zubair.

KOKAM Tegal

“Tidak ada pengamanan bersama antara Banser dengan FPI pada acara haul yang dilakukan pada hari Jumat 9 Juni 2017, tetapi pengamanan bersama haul Mbah Zubair yang melibatkan Banser, Polri, dan TNI di Kabupaten Rembang,” tegas Hanies.

“Jika FPI memanfaatkan situasi dengan mengaku melakukan pengamanan bersamaan pada acara haul tersebut, maka itu tidak benar alias hoax,” imbuhnya.

KOKAM Tegal

Ia menandaskan, PC GP Ansor Rembang mendukung upaya-upaya pihak kepolisian dan TNI setempat dalam menciptakan keamanan, ketertiban, serta kondusivitas wilayah di Kabupaten Rembang dari tumbuh kembang ormas radikal. (Ahmad Asmui/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Pertandingan, Tokoh, AlaSantri KOKAM Tegal

Jumat, 03 November 2017

PMII Unas dan UIC Galang Dana Peduli Bencana Asap

Jakarta, KOKAM Tegal. Pengurus harian Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Universitas Nasional (Unas) dan Universitas Ibnu Chaldun (UIC) selama dua hari mengedarkan kotak peduli asap di kampus masing-masing. Mereka menggalang dana berkisar 1-2 jam.

Aktivis pergerakan ini terpanggil untuk menggelar aksi solidaritas untuk korban asap di Sumatera dan Kalimantan. Di lingkungan kampus Unas dan UIC, mereka bergerak pada Jumat dan Sabtu, (23-24/10).

PMII Unas dan UIC Galang Dana Peduli Bencana Asap (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Unas dan UIC Galang Dana Peduli Bencana Asap (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Unas dan UIC Galang Dana Peduli Bencana Asap

"Aksi solidaritas ini adalah bukti bahwa kami mahasiswa tidak hanya bisa mengkritik pemerintah terkait bencana ini, tapi juga solutif. Ini juga bagian dari Tri Dharma Perguruan Tinggi," kata Koordinator aksi solidaritas PMII Unas Niswatul Hamdani Effendi, Selasa, (27/10).

KOKAM Tegal

Momen ini menjadi ajang silaturahmi dan gotong royong para aktivis PMII lintas kampus di Ibu Kota.

"Ini momen untuk kebangkitan rasa gotong royong. Ini juga menjadi sindiran untuk para pejabat agar saling memperkuat tindakan melalui kerja sama, bukan saling melempar dan menyalahkan," kata Pina, peserta aksi dari UIC.

KOKAM Tegal

Dana hasil aksi solidaritas ini diserahkan kepada lembaga terkait yang berkonsentrasi pada penanggulangan bencana.

"Kami menggalang dana 2 hari di kampus masing-masing, dana terkumpul Rp. 3.316.000 dari hanya 1-2 jam kita turun. Kita langsung berikan ke lembaga Aksi Cepat Tanggap (ACT) di menara 165 TB Simatupang Selasa ini," kata anggota Majelis Pembina Komisariat PMII Unas Harsenda Sari.

Yang menarik, sambung Sari, aksi ini sempat ditegur oleh Satgas Pemprov DKI. "Sahabat-sahabati Unas sempat ngecrek di lampu merah Pejaten Village, tapi ditegur oleh Satgas Pemprov DKI lantaran tak berizin. Untuk itu kami putuskan aksi di lingkungan kampus saja," tutup Sari tersenyum. (Doni Rao/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Meme Islam, Pertandingan, Sejarah KOKAM Tegal

Rabu, 01 November 2017

Tulang Rusuk Nabi Adam Itu

Oleh M. Abul Fadlol AF

--Cerita tentang penciptaan Adam dan Hawa yang diproduksi oleh Tuhan dalam al-Qur’an berfungsi sebagai pemutus lingkaran tasalsul. Berangkat dari pertanyaan, siapakah yang lebih dahulu tercipta, apakah Adam atau Hawa?

Secara ilmiah, pertanyaan ini sulit dijawab. Sama halnya ketika ditanya, mana yang lebih dahulu, antara telur dan ayam. Tuhan kemudian memutus rantai ini dengan menjelaskan bahwa proses penciptaan awal dilakukan secara vegetatif dengan Adam sebagai titik awalnya.

Tulang Rusuk Nabi Adam Itu (Sumber Gambar : Nu Online)
Tulang Rusuk Nabi Adam Itu (Sumber Gambar : Nu Online)

Tulang Rusuk Nabi Adam Itu

Hawa tercipta dari tulang rusuk Adam, seperti halnya perkembangbiakan pohon singkong dengan bagian tubuh singkong itu sendiri. Baru kemudian, setelah hawa tercipta dari proses vegetatif, hukum ilmiah perkembangbiakan generatif berlaku (QS. Al-Nisa’ : 1).

Jika cerita dalam al-Qur’an mengandung sebuah pesan. Apa pesan Tuhan kepada manusia tentang metode penciptaan ganda ini?

Seringkali, cerita penciptaan vegetatif Adam dan Hawa ini dijadikan landasan untuk membangun sistem peradaban patriarkhi. Yaitu peradaban yang memposisikan laki-laki jauh lebih unggul dari perempuan. Alasannya, karena Adam tercipta lebih dahulu. Namun, ini adalah alasan yang cukup lucu.

Pada dasarnya, hukum patriarkhi hanya berlaku atas penciptaan secara vegetatif. Dalam hal ini, patriarkhi hanya berlaku atas Adam dan Hawa. Karena dalam sejarah teologi, hanya kedua manusia itulah yang mengalami perkembangbiakan secara vegetatif. Namun, jika kita lahir dari proses generatif, maka hukum patriarkhi itu tidak berlaku. Karena secera generatif, terdapat sinergitas proses penciptaan yang tidak terpisahkan antara sel sperma laki-laki dan ovum perempuan. Jika peradaban patriarkhi dilandaskan atas cerita penciptaan Adam dan Hawa, maka sungguh, peradaban itu mendeklarasikan dirinya seperti pohon singkong. Mereka yang lebih mengunggulkan laki-laki atas perempuan, sama halnya mengklaim dirinya lahir dari batang singkong, bukan rahim perempuan.

KOKAM Tegal

Terdapat hikmah yang bijaksana terkait penciptaan vegatatif Adam dan Hawa. Kenapa Tuhan menciptakan Hawa dari tulang rusuk Adam? Jawabannya : Jika Hawa tercipta dari tulang kaki, maka ia akan menjadi budak yang diinjak-injak. Jika tercipta dari tulang tangan, maka ia adalah buruh yang selalu disuruh. Jika tercipta dari tulang pundak, ia adalah kuli yang memikul beban kaum adami. Namun ia tercipta dari tulang rusuk, yang melindungi jantung dan paru-paru. Ia menjaga nafas dan perasaan sang laki-laki.

Oleh sebab itu, kecenderungan laki-laki adalah mencintai perempuan. Karena perempuan membawa keteduhan atas laki-laki oleh sebab tulang rusuk yang telah dititipkan. Maka wajar, jika pengendali lelaki adalah perempuan.

Bahkan, dalam hadits Nabi, salah satu cobaan terberat laki-laki adalah perempuan dan bukan sebaliknya. Jika dikaitkan dengan jodoh, maka sejatinya jodoh adalah kesesuaian “rusuk”. Mungkin Tuhan telah mematahkan tulang rusuk laki-laki saat ia lahir. Dan menanamkan rusuknya kepada seorang perempuan yang baru lahir pula. Suatu saat, mereka akan dipertemukan. Ya, jodoh adalah proses pencarian tulang rusuk. Laki-laki yang mencari rusuknya dan perempuan yang mencari pemilik asalnya. Dan benarlah kata sebuah lirik lagu, “Jika memang dirimulah tulang rusukku, kau akan kembali pada diri ini” – Gieshel.

KOKAM Tegal

Datangnya Islam ke jazirah Arab, salah satunya untuk mengemban misi penyelamatan harkat dan martabat perenpuan. Metode yang digunakan adalah bertahab. Dari yang dianggap barang dagangan dan hewan, menjadi “barang” perhiasan. Dari yang tidak mendapatkan apa-apa, sehingga mendapatkan warisan.

Sampai puncaknya, deklarasi nabi dengan menyebut redaksi ummi sebanyak tiga kali. Jika nabi pernah berkata : Innal-ulama’a waratsatul-anbiya’ (Sesungguhnya ulama’ adalah pewaris para nabi), maka setiap dari kita berpotensi menjadi seorang ulama’, dengan meneruskan misi-misi nabi itu. Salah satu misi tersebut adalah menjaga dan meningkatkan harkat dan martabat perempuan dalam sendi peradaban. Bukan malah membenamkannya. Dengan kata lain, indikator ketaatan kita terhadap al-Qur’an dan nabi, dipandang dari sejauh mana kita mampu menghargai perempuan sama seperti kita menghargai diri sendiri.

Tuhan tidak menciptakan laki-laki dan perempuan untuk saling menguasai, melainkan saling melengkapi. Cukuplah sejarah patriarkhi Arab menjadi simbol peradaban yang buruk. Al-Qur’an telah mengajarkan kesetaraan hak, kewajiban dan derajat diantara keduanya. Menindas perempuan berarti menindas khittah al-Qur’an. Apalagi jika penindasan itu dilandasi dengan ayat-ayat al-Qur’an itu sendiri. Haafidzuu, saling menjagalah kalian. Dalam kaidah sharaf bermakna li al-Musyarakah baina al-Syakhshain (saling menjaga diantara dua orang). Saling menjaga hak, kewajiban serta derajat yang sama. Tugas memahami dan mengerti adalah tugas bersama. Hapuskan patriarkhi, peradaban singkongistik. Maha suci Tuhan yang menciptakan dua adalah satu dan satu adalah dua.

 “Sesungguhnya laki-laki dan perempuan adalah saudara” – H.R Aisyah R.A.

 

M. Abul Fadlol AF, Ketua Umum di Himpunan Alumni Pondok Pesatren al-Sa’adah (Himasa) Jatirogo, Tuban, Mahasiswa Tafsir-Hadits UIN Walisongo Semarang

 

 

 

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Ubudiyah, Pertandingan KOKAM Tegal

Sabtu, 28 Oktober 2017

Studi Hubungan Mayoritas dan Minoritas Agama di Lima Negara (Bagian II-Habis)

Pada tahun 2016 lalu Kementerian Agama melakukan penelitian tentang penanganan minoritas di lima negara yaitu India, Iran, Malaysia, Filipina, dan Thailand. Dipilihnya lima negara tersebut sebagai area kajian adalah karena kelima negara tersebut memiliki keunikan dan kekhasan masing-masing baik dalam hal sistem ataupun kondisi sosial antara mayoritas dan minoritas agama. 

Konsep Kehidupan Kegamaan

1. Definisi Agama

Studi Hubungan Mayoritas dan Minoritas Agama di Lima Negara (Bagian II-Habis) (Sumber Gambar : Nu Online)
Studi Hubungan Mayoritas dan Minoritas Agama di Lima Negara (Bagian II-Habis) (Sumber Gambar : Nu Online)

Studi Hubungan Mayoritas dan Minoritas Agama di Lima Negara (Bagian II-Habis)

Setiap negara memiliki definisi yang berbeda soal agama sesuai dengan pemeluknya masing-masing. Muslim India mendefinisikan agama sebagai struktur Tuhan dan wahyu, penyampai pesan/rasul, kitab suci. Sedangkan dalam perspektif Hinduisme, Hindu sebagai agama dan sebagai kultur dominan di India. Adapun di Thailand. Di sana, pemerintah memberikan keleluasaan kepada para pemeluk agama untuk mendefinisikan agamanya masing-masing asal tidak menentang dan membuat ontran-ontran di Thailand.

2. Pendirian Rumah Ibadah

Di India, pendirian rumah ibadah tidak diatur secara kaku dalam skala nasional mengingat India adalah negara federal yang memiliki kebijakan yang beragam antar satu negara bagian dengan yang lainnya. 

KOKAM Tegal

Di Thailand adalah salah satu negara yang cukup ‘unik’ dalam pendirian rumah ibadah. Penduduk Thailand beragama Buddha, namun ia tidak mengenal pembatasan pendirian rumah ibadah berdasarkan proporsi tertentu. Yakni mendirkan rumah ibadah di atas tanah yang bersertifikat warga Thailand. Meski demikian, ada beberapa wihara dan masjid yang dibangun di atas tanah kerajaan.

Sedangkan di Malaysia, pendirian rumah ibadah bisa dibilang cukup ketat dan cukup diskriminatif terhadap umat non-muslim. Ini diatur oleh pemerintah lokal. Misalnya rumah ibadah agama tertentu harus berjarak minimal 500 meter dari rumah ibadah agama lainnya, rumah ibadah non-muslim tidak boleh tinggi dari masjid dan dilarang menampakkan simbol-simbol agama. Hal ini tentu menimbulkan kecemburuan sosial bagi non-muslim. Meski demikian, Pemerintah Malaysia memberikan dana bantuan kepada umat muslim dan juga non-muslim.

Di Iran, Masjid Sunni dan Syi’ah diperlakukan ‘berbeda.’ Operasional Masjid Sunni mulai dari air, listrik, dan bisyaroh imam ditanggung oleh pemerintah. Sedangkan, Masjid Syi’ah imamnya tidak digaji oleh pemerintah karena mereka sudah mendapatkan gaji dari khumus. Meski mayoritas penduduknya Syi’ah, namun kelompok Sunni tidak mengalami kesulitan ketika hendak membangun masjid baru. Saat ini ada empat belas ribu masjid Sunni di seluruh wilayah Iran.

3. Penyiaran Agama dan Perayaan Hari Besar

KOKAM Tegal

India dikenal sebagai negera sekuler. Oleh karena itu, kehidupan keagamaan termasuk penyiaraan agama tidak diatur oleh Pemerintah India. Namun, setiap negara memiliki kebijakan masing-masing soal penyiaran agama ini.

Thailand membebaskan penduduknya soal agama. Pemerintah tidak membatasi penyiaran agama dan hubungan antar satu agama dengan yang lainnya. Sedangkan Malaysia melarang umat agama non-Islam melakukan dakwah kepada kaum muslim. Akan tetapi, negara menjamin kebebasan merayakan hari besar keagamaan semua agama, bahkan negara menetapkan hari libur nasional terhadap perayaan hari besar agama agama.

Sama seperti Thailand, Iran juga membebaskan penduduknya untuk menyiarkan agamanya masing-masing. Tidak ada ketakutan adanya Kristenisasi, Yahudinisasi, atau Zoroasterisasi. Pun perayaan hari besar keagamaan tidak dibatasi negara karena berdasarkan agama. Semuanya dibebaskan untuk merayakan hari besar agamanya masing-masing dan bersatu dalam perayaan Nauruz, tahun baru kalender Persia.

4. Registrasi Agama dan Identitas

Tidak ada kolom agama dalam kartu identitas penduduk di India karena pemerintah tidak mengatur akan hal itu. Namun, masing-masing pemeluk agama mengekspresikan identitas agamanya di ruang publik tanpa ada gangguan dari yang lain. Di salah satu negara bagian, ada UU Anti Konversi yang melarang penduduknya untuk pindah agama.

Buddha, Islam, Protestan, Katholik, Hindu, dan Sikh adalah enam agama yang diakui Pemerintah Thailand. Setiap pemeluk agama wajib daftar pada rumah ibadat masing-masing agama.

Sedangkan di Filipina, registrasi agama diperlukan di beberapa sektor kehidupan seperti saat masuk sekolah. Filipina tidak mengenal pencantuman identitas agama pada KTP, SIM, dan Paspor. Begitu pun dengan Iran, ia tidak mengenal identitas pada kartu pengenal.

5. Perkawinan Beda Agama

Meski ada sebagian umat muslim yang ‘mengharamkan’ nikah agama, namun tidak reaksi yang signifikan terhadap praktik nikah agama di lima negara tersebut. Hanya di Iran pernikahan beda agama bisa dibatalkan oleh pengadilan.

6. Majelis Agama

Kelima negara ini memiliki lembaga agama di tingkat nasional. Di Thailand, setiap agama memiliki majelis agama yang otonom tanpa campur tangan pemerintah. Di Malaysia, majelis agama Islam ada Jawatan Kemajuan Islam Malaysia (JAKIM) dan di setiap negara negara bagian ada majelis agamanya masing-masing. Jawatan ini dan majelis agama Islam dalam institusi negara dan mendapat rekognisi dari negara untuk menjalankan syariat Islam dan mewadahi kegiatan-kegiatan keislaman di malaysia.  Lagi-lagi hal itu tidak terjadi kepada umat non-Islam. Mereka tidak mendapatkan rekognisi dari pemerintah.

Tidak ada majelis agama di Iran karena satu-satunya majelis Al Wilayatul Fakih telah menyatu dengan negara.

7. Pendidikan Agama

Bagi Pemerintah India, pendidikan agama adalah wilayah privat atau tanggungjawab kelompok agama itu sendiri. Namun, di sana ada lembaga pendidikan berbasis agama yang dibiayai oleh pemerintah seperti Aligarh Muslim University yang merupakan kelembagaan negara. Lainnya, lembaga pendidikan berbasiskan agama juga berdiri yang dibiayai oleh swasta atau yayasan berbasiskan agama masing masing.

8. Bantan Luar Negeri

Negara-negara tersebut tidak secara tegas membatasi bantuan yang datang dari luar negeri. Akan tetapi, karena maraknya isu terorisme, perdagangan senjata, dan narkotika maka kontrol ketat terhadap pergerakan keuangan dan lintas manusia antarnegara cukup diperketat.

Dari sedikit uraian di atas, bisa disimpulkan bahwa penanganan minoritas di lima negara tersebut bisa dibilang cukup baik meski dengan beberapa catatan. India melakukan politik afirmasi terhadap minoritas agama dan suku untuk memperkuat konsolidasi nasional. Maka dari itu, misalnya, dibangun lah institusi minoritas terutama dalam sektor pendidikan.

Thailand cukup dipusingkan dengan wilayah selatannya yang ingin memisahkan diri meski mereka sudah diberi kelonggaran-kelonggaran, hak-hak minoritas dijamin dan tidak dibatasi. Berbeda dengan India yang melakukan afirmasi terhadap minoritas, Malaysia melakukan politik afirmasi kepada mayoritas penduduk yaitu mayoritas muslim. Meski demikian, kebebasan agama selain Islam terjamin dan terlindungi.

Sama seperti Thailand, Filipina juga mengalami kendala politik yakni Moro dan Mindanau yang ingin memisahkan diri. Iran juga baik dalam menangani minoritas. Opini negatif terhadap Iran lebih banyak dibangun oleh mereka yang bermusuhan dengan Iran, mulai dari isu diskriminasi terhadap Sunni dan penindasan terhadap penganut Zoroaster dan Baha’i.

Masalah keagamaan masing-masing negara memiliki karakteristik yang berbeda. Masing-masing memiliki kendala dan solusinya sendiri. Tetapi ada satu hal yang sama, urusan agama ternyata tetap berhubungan dengan urusan negara. (A Muchlishon Rochmat)



Baca Kajian Keagamaan lainnya DI SINI

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Kajian Sunnah, Pertandingan, Ubudiyah KOKAM Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs KOKAM Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik KOKAM Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan KOKAM Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock