Tampilkan postingan dengan label Amalan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Amalan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 17 Februari 2018

Yahya Staquf: Pagelaran Wayang Mirip dengan Al-Qur’an

Bantul, KOKAM Tegal. Katib Syuriah PBNU KH Yahya Cholil Staquf mengatakan bahwa pagelaran wayang mirip dengan Al-Qur’an. Selama ini bahasa yang digunakan dalam pagelaran wayang adalah bahasa Jawa Kawi, yang meskipun banyak orang dapat menikmati alur ceritanya, tapi tidak semua orang (Jawa) dapat mengerti dan memahami maknanya.

“Ini mirip dengan Al-Qur’an. Al-Qur’an itu kan berbahasa Arab, tapi tidak semua orang Arab dapat memahaminya. Tapi meskipun tidak paham, itu dapat menimbulkan sensasi spiritual yang luar biasa ketika merapalkannya,” ujarnya saat mengisi Seminar Nasional bertajuk Wayang dan Krisis Manusia Nusantara, Senin (17/11) siang, di Aula Pesantren Kaliopak Bantul, Yogyakarta.

Yahya Staquf: Pagelaran Wayang Mirip dengan Al-Qur’an (Sumber Gambar : Nu Online)
Yahya Staquf: Pagelaran Wayang Mirip dengan Al-Qur’an (Sumber Gambar : Nu Online)

Yahya Staquf: Pagelaran Wayang Mirip dengan Al-Qur’an

Pengasuh Pesantren Raudhatut Thalibin itu menambahkan, sebenarnya pagelaran wayang bukanlah sekadar tontonan, hiburan, atau rekreasi semata, melainkan juga merupakan ritus keagamaan, selain sebagai media pendidikan. “Sehingga ada suasana yang mirip dengan ketika berdzikir,” tegas Kiai Yahya.

KOKAM Tegal

Ia menduga, pagelaran wayang sudah ada sejak sebelum zaman Wali Songo. Kemudian ketika ada Wali Songo, pagelaran wayang menjadi bagian dari Islam yang dikembangkan dalam peradaban Jawa.

“Ini tidak ada kaitannya dengan otentik atau bid’ah, karena islam hadir untuk seluruh umat manusia, dan Nabi Muhammad diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia, innama bu’itstu li utammima makarimal akhlaq (sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq),” tandasnya.

KOKAM Tegal

Dalam hal ini, Kiai Yahya menitikberatkan pada kata-kata utammima yang berarti menyempurnakan. Menurutnya, ada alasan di balik penggunaan kata-kata utammima dan bukan ubaddila yang berarti menggantikan. “Rasulullah saat itu diutus hanya untuk menyempurnakan, tidak menggantikan. Secara implisit ini merupakan pengesahan bahwa makarimal akhlaq sebelum Islam itu sudah ada, dan Nabi tidak menggantikannya, tapi menyempurnakannya agar menjadi lebih berkualitas,” jelasnya panjang lebar.

Maka sama halnya dengan pagelaran wayang, yang tidak serta merta langsung diganti begitu saja oleh Wali Songo, melainkan disempurnakan dengan membingkainya sebagai salah satu ritus keagamaan dalam Islam. (Dwi Khoirotun Nisa’/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Amalan, Nusantara, Budaya KOKAM Tegal

Selasa, 30 Januari 2018

Utusan Grand Syekh Al-Azhar Mesir Kunjungi PBNU

Jakarta, KOKAM Tegal. Rombongan guru besar universitas Al-Azhar Kairo mengadakan lawatan ke Pengurus Besar Nahdlatul Ulama. Mereka dengan pimpinan rombongan Prof DR Abdul Mun’im Fuad, menyampaikan salam hormat dan dukungan Grand Syekh Al-Azhar yang tidak bisa hadir silaturahmi dengan pengurus NU.

Grand Syekh Al-Azhar melalui utusannya Mun’im Fuad menyatakan bahwa cara pandang keagamaan yang dikembangkan NU sama sekali mirip dengan cara pandang guru-guru Al-Azhar.

Utusan Grand Syekh Al-Azhar Mesir Kunjungi PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Utusan Grand Syekh Al-Azhar Mesir Kunjungi PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Utusan Grand Syekh Al-Azhar Mesir Kunjungi PBNU

“Terima kasih sudah menerima kami. Kami merasa terhormat di tempat mulia ini. Kami sampaikan amanah Grand Syekh untuk NU yang dalam waktu dekat mengadakan Muktamar,” kata Mun’im Fuad mengawali sambutannya dengan bahasa Arab di Gedung PBNU, Jakarta, Rabu (27/5) siang.

KOKAM Tegal

Di hadapan pengurus harian Syuriyah dan Tanfidziyah PBNU, Mun’im Fuad menyatakan kekagumannya pada NU. Menurutnya, NU dengan massanya yang besar bahkan mayoritas di Indonesia berani pasang badan melindungi hak-hak dasar warga Indonesia yang memiliki keragaman suku, keyakinan, agama, bahkan paham politik.

KOKAM Tegal

Dengan mendukung penuh persatuan NKRI, NU menjadikan perbedaan-perbedaan itu sebagai rahmat.

“Kuncinya satu, karena kami mendukung asas Pancasila. Dengan demikian, segala bentuk perbedaan dan keragaman yang ada di Indonesia, tidak menjadi alasan perpecahan bagi kami. Beda dengan di Timur Tengah. Kami tetap mayoritas di sini, tetapi kami menjadi teladan di tengah keragaman minoritas,” kata Ketum PBNU KH Said Aqil menyambut Mun’im Fuad.

Walhasil, selamat datang di Indonesia. Silakan saksikan sendiri nikmatnya persatuan di Indonesia, tandas Kang Said berbahasa Arab. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal RMI NU, Amalan KOKAM Tegal

Kamis, 25 Januari 2018

Harlah ke-61 Muslimat NU Berlangsung Meriah

Jakarta, KOKAM Tegal. Perayaan hari lahir (harlah) ke-61 Muslimat Nahdlatul Ulama hari ini, Kamis (29/3), berlangsung sangat meriah. Lebih dari 15.000 anggota Muslimat memenuhi Istora Senayan sampai-sampai banyak yang tak kebagian tempat duduk dan harus berdiri atau duduk di lantai.

Ketua Umum PP Muslimat Khofifah Indar Parawansa menjelaskan selama 61 tahun, Muslimat NU berusaha turut membangun bangsa dengan memberdayakan kaum perempuan.

Program kesetaraan gender, menurut mantan menteri pemberdayaan perempuan ini tak hanya bisa dilakukan lewat wacana saja. “Muslimat terjun langsung pada masyarakat dengan turut memberantas buta huruf, baik huruf latin maupun huruf Arab,” tuturnya.

Harlah ke-61 Muslimat NU Berlangsung Meriah (Sumber Gambar : Nu Online)
Harlah ke-61 Muslimat NU Berlangsung Meriah (Sumber Gambar : Nu Online)

Harlah ke-61 Muslimat NU Berlangsung Meriah

Khofifah menuturkan bahwa ia baru saja datang dari NTT. Banyak ibu-ibu yang dimintai cap jempol oleh suaminya yang tak tahunya adalah untuk menikah lagi. Kondisi yang sama juga dialaminya di Sulsel. Ada diantara ibu-ibu yang tak bisa membantu anaknya belajar karena tak bisa membaca. Namun setelah mengikuti program muslimat kini mereka bisa membaca running teks di TV.

Alumni Universitas Airlangga Surabaya ini menjelaskan saat ini problematika yang dihadapi oleh bangsa Indonesia masih berat. Krisis multidimensional masih belum selesai dan membutuhkan dukungan bersama untuk mengentaskannya. Ia juga meminta pemerintah untuk tidak tebang pilih dalam meberantas korupsi.

Acara ini dihadiri oleh sejumlah tokoh seperti Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi, Gubernur DKI Sutiyoso, Menkokesra Abu Rizal Bakri, Menteri Percepatan Daerah Tertinggal Saifullah Yusuf, Menteri Koperasi dan UKM Surya Darma Ali, Wakil Ketua MPR Aksa Mahmud dan Wagub DKI Fauzi Bowo.

KOKAM Tegal

Kegiatan yang sekaligus memperingati maulud nabi ini mengambil tema “Membangun Bangsa Berdasarkan Persatuan, Persaudaraan, Profesionalitas dan Akhlakul Karimah”. Beberapa wilayah secara simbolis menerima peralatan jahit yang diberikan oleh Menkokesra Abu Rizal Bakri  sebagai bagian dari program peningkatan life skill hasil kerjasama dengan Depdiknas.

Para ibu-ibu juga dihibur dengan alunan nada dari Opick serta ceramah agama oleh ustadz Jefry Al Buchori dan ustadz Ahmad al Habsy. Sutiyoso dalam sambutannya juga menawarkan para ibu-ibu Muslimat untuk melihat “Air Mancur Berjoget” di Monas yang biasanya hanya dibuka pada Sabtu dan Minggu malam.

Saat ini Muslimat sudah mengelola lebih dari 9900 TK, 11.000 Raudhatul Atfal, 4223 pendidikan anak usia dini, 131 koperasi primer, 490 program keaksaraan dan 35.000 majelis taklim di seluruh Indonesia. (mkf)

KOKAM Tegal



Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Amalan KOKAM Tegal

Sabtu, 20 Januari 2018

Kang Said: Bangsa Asing Inginkan Indonesia Ekstrem

Jepara, KOKAM Tegal. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Said Aqil Siroj mengimbau warga NU untuk memasyarakatkan cara beragama yang moderat. Kiai Said mengingatkan mereka untuk berjuang untuk itu. Karena, banyak pihak asing yang memprovokasi agar bangsa Indonesia terlibat dalam gerakan ekstrem.

“Bangsa Barat sangat mendambakan Indonesia menjadi radikal. Jika sudah radikal, mereka memiliki alasan untuk menggempur Nusantara,” kata Kang Said saat menyampaikan sambutan di Harlah ke-71 Yayasan Mathaliul Huda di desa Bugel kecamatan Kedung kabupaten Jepara, Rabu (17/9) malam.

Kang Said: Bangsa Asing Inginkan Indonesia Ekstrem (Sumber Gambar : Nu Online)
Kang Said: Bangsa Asing Inginkan Indonesia Ekstrem (Sumber Gambar : Nu Online)

Kang Said: Bangsa Asing Inginkan Indonesia Ekstrem

Sebab itu, sikap ke-NUan tegasnya harus tetap dijaga. “Orang NU jangan mudah terpancing pada kelompok yang suka mengebom. Sebab NU cinta damai. Jangan sampai ikut-ikutan ISIS. Gerombolan garis keras itu sudah bukan Islam, karena suka membunuh saudaranya sendiri,” pesan Kang Said di hadapan ratusan jamaah yang hadir.

KOKAM Tegal

Kepada hadirin, pengasuh pesantren Ats-Tsaqafah Ciganjur ini mengingatkan orang tua untuk benar-benar mengawasi anaknya dari pengaruh paham ekstrem. “Ciri lahiriahnya kelompk wahabi antara lain berjenggot panjang, bergamis, bercelana cingkrang, atau tanda hitam di jidat.”

Pengurus masjid juga lebih cermat. Jangan sampai wahabi menguasai kepengurusan masjid. Bogor, Tangerang, dan Bekasi merupakan kota yang dikuasai kelompok wahabi. “Untungnya LTM PBNU lekas bertindak sehingga masjid-masjid yang direbut kelompok tersebut bisa kembali,” imbuh Kang Said. (Syaiful Mustaqim/Alhafiz K)

KOKAM Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Amalan, AlaNu KOKAM Tegal

Selasa, 16 Januari 2018

Santri Annuqayah Kaji Militansi Sahabat Nabi untuk Teladan Berorganisasi

Sumenep, KOKAM Tegal. Ikatan Santri Muda Lintas Kecamatan (Iksandalika) Kabupaten Sumenep Madura Jawa Timur melangsungkan dialog terbuka di Pesantren Annuqayah Lubangsa Selatan, Guluk-Guluk, Sumenep, Jumat (25/3). Tokoh pemuda Madura, Syamsuni, didapuk sebagai pemateri.



Santri Annuqayah Kaji Militansi Sahabat Nabi untuk Teladan Berorganisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Annuqayah Kaji Militansi Sahabat Nabi untuk Teladan Berorganisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Annuqayah Kaji Militansi Sahabat Nabi untuk Teladan Berorganisasi



Acara tersebut mengangkat tema Menumbuhkan Militansi Santri dalam Berorganisasi. Pembahasan militansi sahabat Nabi dalam berorganisasi cukup mengemuka di forum tersebut.

KOKAM Tegal





Menurut Syamsuni, syarat membangun kinerja bersama adalah militansi yang dimiliki semua anggota organisasi. Militansi inilah gambaran ketika sebuah organisasi memiliki keyakinan yang sama akan terwujudnya visi dan misi organisasi.

KOKAM Tegal





"Militansi adalah rasa kebersamaan yang penuh ketulusan, kesabaran, dan keikhlasan secara kolektif. Militansi tergolong sholeh sosial dalam berkinerja di mana semuanya memiliki semangat yang sama, energi yang sama dalam mencapai sebuah tujuan," urainya.





Ditegaskan, militansi adalah kekuatan para sahabat Nabi Muhammad ketika mereka menjadi agen perubahan dalam mewujudkan visi dan misi perjuangan.





Kita bisa cermati, tambah pria yang juga jurnalis tersebut, betapa militannya para sahabat Nabi di Madinah ketika dikepung kafir quraisy. Negara Madinah menjadi aman karena kaum di dalamnya sevisi dengan Nabi untuk membentuk masyarakat yang baldatun thayyibatun warobbun ghafur.





"Muaranya, umat Islam yang punya militansi tinggi di Madinah, mampu menaklukkan Makkah tanpa adanya pertumpahan darah. Kunci militansi ialah merasa memiliki dan bertanggung jawab untuk kemajuan organisasi," tegas Syamsuni. (Hairul Anam/Fathoni). Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Amalan, Kajian, Olahraga KOKAM Tegal

Sabtu, 13 Januari 2018

Pembukaan Pra-Muktamar NU di Lombok Sukses

Lombok Tengah, KOKAM Tegal. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj membuka acara pra muktamar NU yang dihelat di Pesantren NU Al-Manshuriyah Talimusshibyan Jl TGH Moh Shaleh Hambali Sangkong, Desa Bonder, Kecamatan Praya Barat, Kabupaten Lombok Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Barat, Kamis (9/4).

Pembukaan Pra-Muktamar NU di Lombok Sukses (Sumber Gambar : Nu Online)
Pembukaan Pra-Muktamar NU di Lombok Sukses (Sumber Gambar : Nu Online)

Pembukaan Pra-Muktamar NU di Lombok Sukses

Upacara pembukaan tersebut dihadiri ribuan warga Nahdliyin yang memenuhi halaman pesantren. Selain para pengurus PCNU se-Provinsi NTB, sebagian besar pengurus PBNU tampak hadir.

Di tribun utama, antara lain Pengasuh Pesantren Tebuireng KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah), KH Chalid Mawardi, KH Saifuddin Amsir, Tuan Guru Turmudzi Badaruddin, KH Ishomuddin, KH Artani Hasbi, KH Ubaidillah, dan KH Musthofa Aqil Siroj.

KOKAM Tegal

Bupati Lombok Tengah, Sekda Provinsi NTB mewakili gubernur, dan para pejabat dinas serta kepolisian setempat tampak antusias mengikuti jalannya upacara pembukaan pra-muktamar.

KOKAM Tegal

Dalam sambutannya selaku tuan rumah sekaligus Ketua PWNU NTB, AGH A Taqiuddin Mansur menyatakan kegembirannya menyambut kedatangan para ulama di pesantrennya. “Kami bangga, Pondok Pesantren NU Al-Manshuriyah Ta’limusshibyan diberi amanah untuk menyelenggarakan agenda muktamar

Meski demikian, Tuan Guru Taqiuddin menyebut pemberitahuan dari PBNU sangat mendadak. Padahal, jika diberitahu sebulan sebelumnya, dipastikan pesantrennya tidak bisa menampung ribuan warga NU.

“Sebab, rakyat NU yang begitu besar di NTB ini. NU di sini sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari watak dan akhlak masyarakat. Menyebut NU sudah tak asing lagi, karena sama saja menyebut dirinya sendiri. Inilah yang membahagiakan kami warga Nahdliyin di sini,” ujarnya bangga.

Ia menambahkan, antara NU dengan ormas lain telah seirama memandang bahwa Ahlussunnah wal Jamaah sebagai pandangan hidup mereka. “Oleh karena itulah, kegiatan seperti ini kendati hanya dua minggu pemberitahuannya, alhamdulillah kami tetap bisa melaksanakannya,” katanya disambut gemuruh tepuk tangan ribuan hadirin.

Sementara itu, dalam pidato pembukaan pra-muktamar Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj kembali mengulas tentang Islam yang tidak hanya membawa akidah dan syariah semata. Namun, Islam sebagai agama ilmu pengetahuan, budaya, peradaban, kemajuan, dan kemanusiaan. “Sungguh Allah dan Rasulullah tidak ridho kalau umat Islam bodoh. Juga tidak ridho kalau umat Islam biadab seperti ISIS,” ujarnya yang langsung disambut aplaus panjang.

Kiai Said juga menyinggung tema muktamar ke-33 NU Agustus mendatang. Ia menegaskan bahwa Islam Nusantara yang kini diusung sebagai tema muktamar merupakan Islam penebar kasih sayang.

“Islam Nusantara itu identik dengan Ahlussunnah Wal Jamaah, Islam yang beradab, Islam sebagai din al-rahmah wa al-hidayah. Bukan Islam yang membawa doktrin kekerasan, ekstrim radikal, apalagi terorisme,” tegasnya.

Sebelum mengakhiri pidatonya dan membuka acara, Kiai Said berharap Muktamar ke-33 NU di Jombang sukses seperti pra-muktamar di Lombok. “Dengan ini, saya selaku Ketua Umum PBNU membuka seminar pra-muktamar dengan tema ‘Penguatan Ulama melalui Ahlul Halli Wal Aqdi dengan ucapan bismillahi Allahu Akbar saya buka secara resmi,” pungkasnya. (Musthofa Asrori/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Amalan KOKAM Tegal

Jumat, 05 Januari 2018

Dirjen Haji Kemenag RI Mestinya Tunda Mereka Yang Sudah Haji

Jakarta, KOKAM Tegal. Keterbatasan kuota haji yang membuat panjangnya antrean, berdampak pada kecilnya kesempatan masyarakat untuk menunaikan ibadah haji. Karenanya, banyak orang harus menunggu antrean hingga belasan bahkan 27 tahun. Di tengah kepadatan antrean ini, perlu ada peraturan Dirjen Kemenag RI yang memprioritaskan calon jamaah yang belum berhaji.

Dirjen Haji Kemenag RI Mestinya Tunda Mereka Yang Sudah Haji (Sumber Gambar : Nu Online)
Dirjen Haji Kemenag RI Mestinya Tunda Mereka Yang Sudah Haji (Sumber Gambar : Nu Online)

Dirjen Haji Kemenag RI Mestinya Tunda Mereka Yang Sudah Haji

Pernyataan ini merupakan hasil kajian para kiai NU pada sidang bahtsul masail pra muktamar NU di pesantren Krapyak, Yogyakarta, Sabtu malam hingga Ahad dini hari (28-29/3).

Menurut KH Aniq Muhammadun dari Pati, pemerintah dalam hal ini Dirjen Haji Kemenag RI berkewajiban mendahulukan kewajiban haji yang bersifat fardhu ain (haji pertama setiap orang) dibanding kewajiban fardhu kifayah (haji tidak wajib seperti haji kedua dan seterusnya).

KOKAM Tegal

“Bila terjadi kepadatan antara fardhu kifayah dan fardhu ain, maka fardhu ain yang dimenangkan. Kalau pemerintah tidak mengikuti kaidah ini, kesalahan ada di pemerintah, bukan di pendaftar,” kata Rais Syuriyah PCNU Pati ini.

KOKAM Tegal

Sebenarnya, kesalahan terletak pada Dirjen Kemanag RI ketika terjadi keberangkatan kedua atau ketiga orang sudah menunaikan haji wajib. Pasalnya pemerintah memiliki hak untuk mengatur keberangkatan. “Pemerintah kan bisa mendata mana warga yang belum dan warga yang sudah haji,” kata pengasuh pesantren Manbaul Ulum, Pati.

Mestinya Dirjen Haji Kemenag RI memiliki database agar mereka yang sudah pernah melangsungkan ibadah haji dapat ditunda keberangkatannya untuk kedua kali dan seterusnya. “Kasihan juga mereka yang mendaftar saat usia sudah agak lanjut lalu mengantre di belakang mereka yang sudah berangkat?”

“Pemerintah perlu membuat undang-undang ini karena terdapat mashlahah ammah berupa pemberian kesempatan haji bagi orang lain yang belum menunaikan haji wajib,” tandas Kiai Aniq yang usulannya diterima forum bahtsul masail pra muktamar PBNU di Krapyak. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal AlaSantri, Amalan KOKAM Tegal

Kamis, 04 Januari 2018

Pendidikan Islam Perlu Penyederhanaan

Jakarta, KOKAM Tegal
Plh Masdar F. Mas’udi nyatakan bahwa dimasa yang akan datang pendidikan Islam perlu disederhanakan karena sebenarnya banyak hal-hal yang sederhana seperti sholat dan wudlu yang bisa dipelajari dalam waktu waktu satu atau dua jam oleh para ahli dilakukan proses satistifikasi dan pencanggihan.

“Seharusnya pendidikan dalam hal ini cukup 10 persen saja sedangkan energi yang 90 persen dikembangkan untuk memajukan peradaban Islam. Saat ini Islam mengalami keruntuhan peradaban yang menyedihkan,” ungkapnya

Hal tersebut dikemukakan ketika berbicara dalam acara bedah buku: Transformasi Pendidikan Islam di Indonesia, Anatomi Keberadaan Madrasah dan PTAI karya H. Arief Furchon MA, Ph.D Kamis 22 Juli 2004 yang diadakan oleh STAINU di Gedung PBNU.

Pada zaman dahulu, para sahabat belajar tentang sholat cukup dari melihat saja. Ini sebenarnya hal yang sangat teknis dan kalau memang perlu di bahas secara mendetail, mungkin hanya kalangan pasca doktoral saja yang perlu memikirkannya sedangkan masyarakat cukup mengetahui hal-hal yang umum saja.

Direktur P3M tersebut juga mengemukakan bahwa saat ini kita belum memiliki tradisi akademis untuk mengkritisi, membahas, dan sekaligus menemukan ilmu pengetahuan.  “Yang ada adalah konservasi atau mempertahankan nilai-nilai lama dari pengetahuan yang ada,” tambahnya.

Bukan hanya di pesantren, tradisi akademik tersebut juga belum bisa berkembang baik di perguruan tinggi karena belum ada budaya yang mendukungnya.

Berkaitan dengan Madrasah sebagai model pendidikan Islam, Masdar menjelaskan bahwa lembaga ini merupakan formalisasi pendidikan Islam yang berakar dari pesantren. Namun demikian madrasah juga mengalami perkembangan sesuai dengan konteks kekinian.(mkf)

 


 

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Warta, Amalan KOKAM Tegal

Pendidikan Islam Perlu Penyederhanaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Pendidikan Islam Perlu Penyederhanaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Pendidikan Islam Perlu Penyederhanaan

Kamis, 21 Desember 2017

Gereja Tulang Bawang: Upaya Ansor Bagus untuk Tekan Konflik

Tulang Bawang, KOKAM Tegal ?

Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI) Tulang Bawang, Lampung menyambut baik harakah Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor yang menginisiasi komunikasi lintas agama di Pesantren Daarul Islah, Kampung Purwajaya, Kecamatan Banjarmargo, Selasa (22/8).

Gereja Tulang Bawang: Upaya Ansor Bagus untuk Tekan Konflik (Sumber Gambar : Nu Online)
Gereja Tulang Bawang: Upaya Ansor Bagus untuk Tekan Konflik (Sumber Gambar : Nu Online)

Gereja Tulang Bawang: Upaya Ansor Bagus untuk Tekan Konflik

KWI menyampaikan itu melalui pengurus harian, Purwo Warsito. Menurut dia, forum dialog digelar Ansor Tulang Bawang bagus untuk mencegah konflik.

"Semua agama punya tujuan agar penganutnya mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Supaya rukun harus ada dialog, komunikasi semacam ini," ujarnya.

KOKAM Tegal

Ketua MUI setempat, Yantori, turut mengapresiasi positif kegiatan tersebut. Menurut dia, dialog tersebut akan memperkuat toleransi kerukunan, saling menghargai, serta tidak ikut campur dengan urusan agama orang lain.

KOKAM Tegal

"Indonesia ini multikultur, kadang komunikasi antarummat beragama sulit dilakukan, karena ada oknum atau kelompok yang memutlakkan sesuatu, padahal yang mutlak itu hanya milik Tuhan," ujar Purnomo Sidi dari Badan Kerjasama Antar Gereja (BKAG) menambahkan.

Perwakilan dari Parisada Hindu Ketut Swarte melanjutkan, manusia setara dan sama. Sehingga tidak perlu bermusuhan.

"Saling menghargai bukan hanya dengan manusia, tapi juga dengan lingkungan," kata dia lagi.

Ketua GP Ansor Tulang Bawang, Hariyanto mengatakan, kegiatan organisasinya dilakukan untuk mencegah konflik dan mempererat persatuan warga di daerah tersebut pada khususnya dan Indonesia umumnya.

Acara bertema “Peningkatan Rasa Saling Merasa Memiliki Negara Ini, Tidak Merasa Paling Benar dan Menjaga Persatuan Antarumat Beragama” itu dihadiri Kepala Kesbangpol Agus waluyo, dan sejumlah ormas keagamaan kemasyarakatan dan kepemudaan? setempat serta dari unsur Polri-TNI.

Kegiatan dimoderatori Sekretaris Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Azis, pembicara utama Sekretaris Kementerian Agama, Kabupaten Tulang Bawang, Sanusi.

"Terima kasih untuk semua pihak yang membantu terlaksananya kegiatan ini," pungkas Hariyanto. (Gatot Arifianto/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Amalan, Meme Islam, Hadits KOKAM Tegal

Minggu, 17 Desember 2017

Beda Nuzulul Qur’an dan Lailatul Qadar

Jakarta, KOKAM Tegal. Nuzulul Qur’an adalah waktu turunya Al-Qur’an yang bertepatan dengan malam yang disebut Lailatul Qadar. Allah SWT menurunkan Al-Qur’an pada Lailatul Qadar sebagaimana firman-Nya dalam Surat Al-Qadr ayat 1-5.

Namun begitu, Nuzulul Qur’an sering diperingati pada malam 17 Ramadhan, sementara umum diketahui bahwa malam Lailatul Qadar itu diperkirakan jatuh pada sepertiga malam yang terakhir bulan Ramadhan. Mengapa bisa berbeda? Berikut penjelasan Ketua Pengurus Pusat Lembaga Dawah Nahdlatul Ulama (LDNU) KH A Nuril Huda dan Wakil Ketua Pengurus Pusat Lembaga Bahtsul Masail (LBM) NU KH Arwani Faisal kepada KOKAM Tegal.

Beda Nuzulul Qur’an dan Lailatul Qadar (Sumber Gambar : Nu Online)
Beda Nuzulul Qur’an dan Lailatul Qadar (Sumber Gambar : Nu Online)

Beda Nuzulul Qur’an dan Lailatul Qadar

? ? ? ? ?. ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ?

Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan. Tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. (QS. Al-Qadr 1-5).

Para ulama berbeda pendapat tentang dlamir “hu” atau kata ganti yang merujuk kepada Al-Qur’an dalam ayat pertama. Apakah Al-Qur’an yang dimaksud dalam ayat itu adalah keseluruhannya, artinya Allah SWT menurunkan Al-Qur’an sekaligus dari Lauhil Mahfudz ke Baitul Izzah (langit dunia) pada malam Lailatul Qadar, ataukah sebagiannya, yaitu bahwa Allah SWT menurunkan pertama kali Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW, yaitu surat Al-‘Alaq Ayat 1-5 pada malam Lailatul Qadar?

Dalam sebuah riwayat disebutkan, Ibnu Abbas RA menjelaskan bahwa Al-Qur’an yang diturunkan pada Lailatul Qadar keseluruhnya; baru kemudian secara berangsur diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. (HR Ath-Thabrani).

KOKAM Tegal

Sementara itu Nuzulul Qur’an sering diperingati pada tanggal 17 Ramadhan, dengan mengadakan pengajian atau tabligh akbar, dan bukan pada malam Lailatul Qadar. Hal ini didasarkan pada pendapat yang menyatakan bahwa pada tanggal tersebut Rasulullah SAW pada umur 41 tahun mendapatkan wahyu pertama kali. Yaitu  surat Al-‘alaq ayat 1-5 ketika beliau berkonteplasi (berkhalwat) di gua Hira, Jabal Nur, kurang lebih 6 km dari Mekkah.

Menurut KH Arwani Faisal, Nuzulul Qur’an yang diperingati oleh umat Islam dimaksudkan sebagai peringatan turunnya ayat Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW yakni ayat 1-5 Surat Al-Alaq:

? ? ? ? ?. ? ? ? ?. ? ? ?. ? ? ?. ? ? ? ? ?

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.

KOKAM Tegal

Adapun Lailatul Qadar merujuk kepada malam diturunkannya Al-Qur’an dari Lauhil Mahfudz ke Baitul Izzah atau langit dunia. Dikisahkan bahwa pada malam itu langit menjadi bersih, tidak nampak awan sedikitpun, suasana tenang dan sunyi, tidak dingin dan tidak panas.(nam)



Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Amalan, Ubudiyah KOKAM Tegal

Jumat, 15 Desember 2017

Kiai Hasyim Desak Perpres 105 dan 106 Dicabut

Jakarta, KOKAM Tegal. Rais Syuriyah PBNU KH Hasyim Muzadi mendesak pemerintah mencabut Peraturan Presiden (Perpres) 105/2013 dan 106/2013 yang mengatur memberikan fasilitas berobat gratis kepada pejabat negara hingga ke luar negeri.

“Memberikan fasilitas keuangan negara kepada pejabat negara secara berlebihan di tengah kemiskinan ekonomi rakyat serta derita karena bencana alam, adalah sebuah kezaliman,” kata Hasyim Muzadi di Jakarta, Ahad (29/12).

Kiai Hasyim Desak Perpres 105 dan 106 Dicabut (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Hasyim Desak Perpres 105 dan 106 Dicabut (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Hasyim Desak Perpres 105 dan 106 Dicabut

Mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) ini mengatakan, Perpres tersebut menyakiti nurani rakyat yang pada umumnya masih miskin dan dikhawatirkan menjadi pemicu perlawanan rakyat.

KOKAM Tegal

“Oleh karenanya, Perpres 105 dan 106 tahun 2013 tertanggal 13 Desember 2013 yang memberikan fasilitas berobat gratis sampai ke luar negeri segera dicabut,” terang Kiai Hasyim.

KOKAM Tegal

Pengasuh pondok pesantren Al-Hikam Malang dan Depok ini juga menyarankan para penyelenggara negara dan pejabat publik yang masih punya rasa tanggungjawab kepada rakyat, hendaknya menolak fasilitas berlebihan tersebut.

“Sekalipun yang mau menolak pasti jumlahnya sangat minoritas. Seandanya pejabat negara meninggal karena sakit, biarlah meninggal di tanah air bersama rakyat yang mengantarkan mereka menjadi pejabat,” katanya.

Keluarnya Perpres menjalang Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden akan semakin menambah kebencian masyarakat kepada pejabat Negara.

“Hendaknya diingat saat ini menjelang pileg dan pilpres, maka perpres 105/106 akan menambah rasa kejengkelan kepada mereka yang akan menjadi penyelenggara Negara,” pungkasnya.

Sebelumnya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah menandatangani Peraturan Presiden 105/2013 tentang Pelayanan Kesehatan Paripurna kepada Menteri dan Pejabat Tertentu. Juga, Perpres 106/2013 tentang Jaminan Pemeliharaan Kesehatan bagi Pimpinan Lembaga Negara.

Dalam laman Sekretaris Kabinet, kedua produk aturan itu dikeluarkan Presiden terkait mulai dilaksanakannya Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) mulai 1 Januari 2014.

Dengan Perpres itu, para menteri, pejabat eselon I, dan pimpinan lembaga negara dimudahkan untuk berobat ke luar negeri. Seluruh biaya itu nantinya akan ditanggung oleh negara, baik APBN maupun APBD.

Presiden mempertimbangkan risiko dan beban tugas menteri dan pejabat tertentu, serta ketua, wakil ketua dan anggota lembaga negara sehingga pemerintah memutuskan membuat perlindungan kesehatan khusus bagi pejabat negara. (Ahmad Millah/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Tokoh, Amalan KOKAM Tegal

Rabu, 13 Desember 2017

Santri Aceh Ingin Jadi Tentara?

Apa yang terbayang oleh Anda tentang Aceh dan Tentara? Saya tidak hendak bercerita tentang masa lalu. Saya ingin berbagi dari lapangan bola Yonif 114/Satria Musara, Bener Meriah, Nanggroe Aceh Darussalam (NAD).

Sebanyak 21 klub pesantren dari 11 kabupaten/kota dari seluruh NAD, didukung PSSI, KONI, dan tentu saja HUDA (Himpunan Ulama Dayah Aceh), berkompetisi untuk menjadi kesebelasan terbaik Liga Santri Nusantara (LSN) 2017.

Santri Aceh Ingin Jadi Tentara? (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Aceh Ingin Jadi Tentara? (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Aceh Ingin Jadi Tentara?

Di depan ratusan santri yang ikut memeriahkan Kick Off LSN 2017 Region 2 Sumatera, Selasa (12/9), ini Bupati Bener Meriah Ahmadi bertanya, "Siapa di antara kalian yang mau jadi tentara?"

KOKAM Tegal

Puluhan santri tanpa ragu mengangkat tangan. Seperti dijelaskan oleh Koordinator Region, Tgk Sarkowi, para ulama dan santri memang ingin menata dan menatap masa depan. LSN adalah ajang yang menyatukan semuanya.

"Dari santri ... Untuk NKRI! "demikian teriakan itu bergema.

Dari ajang LSN 2017 ini, dukungan moril untuk Rohingya dan korban penindasan di berbagai tempat turut disuarakan. Sejumlah dana berhasil dikumpulkan.

KOKAM Tegal

Kepada para santri yang akan bertanding, atas nama Panitia Nasional, saya sampaikan bahwa LSN adalah kesempatan bagi para santri dari seluruh dayah di NAD untuk menunjukkan kemampuan terbaik.

"Bagi santri, bermain bola juga adalah berdakwah."

Demikian sekadar laporan singkat dari Negeri di Atas Awan yang punya slogan “Tiada Hari Tanpa Kopi”. (Iip Dzulkipli Yahya)



Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Amalan KOKAM Tegal

Sabtu, 09 Desember 2017

GP Ansor Lampung Utara Kemah Santri Nusantara 2017

Lampung Utara,KOKAM Tegal. Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Lampung Utara menggelar Kemah Santri Nusantara 2017 di Bumi Perkemahan Negara Batin Kecamatan Sungkai Utara , Lampung Utara. Kegiatan dalam rangka memperingati hari lahir (harlah) Gerakan Pemuda Ansor? tersebut berlangsung Ahad-Selasa (26-28/3)

GP Ansor Lampung Utara Kemah Santri Nusantara 2017 (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Lampung Utara Kemah Santri Nusantara 2017 (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Lampung Utara Kemah Santri Nusantara 2017

Ketua GP Ansor Lampung Utara Masir Ibrahim mengatakan, tujuan kegiatan tersebut selain untuk memperingati hari lahir Gerakan Pemuda Ansor Ke-83, juga sekaligus menjalin silaturahim dan kebersamaan antarsantri se-Lampung Utara.

"Kemah Santri Nusantara? ini dihadiri seluruh peserta yang terdiri dari berbagai pondok pesantren dan pemuda yang ada di Lampung Utara, dan seluruh perkumpulan kepemudaan se-Lampung Utara. Mereka akan mengikuti berbagai kegiatan yang telah disiapkan oleh panitia," ujarnya.

KOKAM Tegal

Ia menambahkan, selain kemah bersama, akan dilaksanakan beberapa kegiatan seperti Bhakti Sosial, Lomba Olahraga, Lomba Baca Kitab Kuning, Hadrah, Kaligrafi dan lainya

KOKAM Tegal

"Nanti akan ada banyak item kegiatan yang diselenggarakan. Target kami, seluruh pondok pesantren se-Lampung Utara akan mengikutinya. Jadi akan terdiri kurang lebih 600 peserta," tutur Masir.

Dirinya berharap, acara tersebut dijadikan momentum untuk selalu membangkitkan semangat santri dan pemuda Lampung Utara dalam pembangunan, serta dapat mempererat persatuan dan kesatuan antar santri dan pemuda .

"Jangan cuma kita lihat seremonialnya, namun akan banyak manfaat yang bisa didapatkan dari Kemah Santri Nusantara ini," tutup Masir. (Cikael/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal AlaSantri, Sejarah, Amalan KOKAM Tegal

Senin, 04 Desember 2017

Sang Guru Pesantren dari Situbondo

Judul         : Keteladanan KHR. Ahmad Fawaid As’ad

Penulis      : KH. Muhyiddin Abdusshomad 

Editor        : Suparman

Penerbit    : Khalista, Surabaya

Sang Guru Pesantren dari Situbondo (Sumber Gambar : Nu Online)
Sang Guru Pesantren dari Situbondo (Sumber Gambar : Nu Online)

Sang Guru Pesantren dari Situbondo

Cetakan    : I, April 2012

Tebal         : xi+ 46 hlm.

KOKAM Tegal

Peresensi : Ach. Tirmidzi Munahwan*

Akan datang kehancuran yang melanda bumi ini, yaitu ketika Allah mencabut ilmunya dari muka bumi ini. Allah mencabut ilmu bukan menghilangkan pengetatahuan, bukan pula melenyapkan ilmu pengetahuan. Tapi, dengan cara mengambil (meninggalnya) orang-orang yang berilmu. Maka, bumi ini tidak akan dipimpin oleh orang-orang yang berilmu dan dikuasai oleh orang-orang bodoh.

KOKAM Tegal

Ulama ialah orang yang menguasai ilmu agama. Orang yang menyerukan kepada umatnya untuk berbuat amar makruf nahi mungkar. Jika bumi ini telah kehilangan ulama, maka segera keburukan akan merajalela dan hanya tinggal menunggu waktu untuk sebuah kehancuran.

Di awal tahun 2012 di pulau Jawa telah kehilangan empat ulama yaitu KH Munif Djazuli wafat (Ploso), KH Imam Yahya Mahrus (Lirboyo, KH. Abdullah Faqih (Langitan) dan KHR. Ahmad Fawaid As’ad salah satu putra dari Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Almagfurlah KHR. As’ad Syamsul Arifin dan pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Asembagus Situbondo. Innalillahi wainna ilahi raji’un (seungguhnya kita adalah milik Allah dan kepada-Nya kita kembali). Semoga Allah mengampuni, mengasihi, melindungi, dan memaafkan beliau. Dan semoga Allah memberi kita kekuatan untuk meneladani, melanjutkan apa yang selama ini diperjuangkan oleh kedua ulama besar tersebut.

KHR. Fawaid As’ad adalah pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Situbondo generasi ketiga. Sebagai penerus beliau telah mampu membuktikan bahwa beliau tidak hanya mampu melanjutkan, tetapi juga bisa mampu mengembangkan serta melakukan inovasi dengan terobosan baru sehingga pesantren Salafiyah Syafi’iyah bisa berkembang pesat dengan memadukan pesantren salaf dan modern. Pesantren ini didirikan pada tahun 1914 oleh KH. Syamsul Arifin (kakek Kiai Fawaid). Dan saat ini santrinya diperkirakan 13.000 santri dari berbagai daerah bahkan diantaranya bersal dari Malaysia dan Brunei Darussalam.  

Kepergian KHR. Ahmad Fawaid As’ad pada hari Jumat 9 Maret 2012, jam 12.15 di Rumah Sakit Dr. Soetomo Surabaya telah mengisahkan duka yang mendalam, tidak hanya bagi keluarga dilingkungan pesantren tetapi juga masyarakat luar yang menghormati  dan mencintai sepenuh hati. KHR. Ahmad Fawaid A’ad sebagai seorang pengasuh pondok pesantren yang besar di daerah ujung timur pulau jawa, mempunyai banyak aktivitas padat yaitu salalu meluangkan waktunya melakukan rapat langsung dengan para pengurus pondok, sehingga menimalisir jarak sosial antara kiai dan santrinya. 

Kiai Fawaid juga berupaya meningkatkan taraf hidup penduduk dilingkungan pesantren dengan melibatkan mereka untuk memenuhi kebutuhan para santri. Sehingga penduduk merasakan dampak positif tidak hanya segi spiritual tapi juga taraf hidup mereka yang lebih baik. Kepedulian sosial beliau terhadap masyarakat luar biasa dan tak diragukan lagi, bahkan beberapa hari sebelum meninggal beliau masih sempat memberikan santunan kepada 500 anak yatim dan fakir mikin masing-masing berjumlah Rp. 500.0000 (hal.13).

Tentu menyadari sebagai ulama, Kiai Fawaid hidupnya didunia tidak akan lama lagi, meski tidak tahu pasti kapan ia akan dipanggil oleh Allah. Namun, beliau telah mempersiapkan penerusnya sebagai pengasuh pondok pesantren Salafiyah Syafi’iyah, yaitu menunjuk Gus Ahmad Azaim Ibrahimi putra pasangan KH. Dhafir Munawar dan Nyai Hj. Zainiyah As’ad. Sehingga kepergiannya yang secara tiba-tiba kembali ke Rahmatullah, tidak menjadikan pesantren kalang kabut, tapi tetap tegak berdiri meski telah kehilangan pengasuhnya. Kiai Fawaid telah mempersipakan sistem dan pengelolaan yang matang untuk masa depan pesantren.

Buku ini menyajikan tentang beberapa prilaku KHR. Ahmad Fawaid As’ad yang patut diteladani oleh para generasi muda, santri, khususnya para pengasuh pesantren. Istiqamah membaca al-Qur’an, shalat berjama’ah setiap hari dalam kondisi apapun adalah amaliah yang tidak pernah ditinggalkannya. Bahkan dalam melakukan perjalanan, Kiai Fawaid selalu membaca al-Qur’an. Jadi tidak heran jika dalam satu minggu Kiai Fawaid selalu menghatamkan al-Qur’an minimal satu kali.

Walaupun buku ini amat sangat tipis dan sederhana, namun bisa sebagai pegangan untuk mengetahui sifat-sifat yang patut diteladani, dan bisa dijadikan refrensi bagi orang yang tertarik menulis biografi Kiai Fawaid secara umum. Buku kecil ini, ditulis oleh Kiai Muhyiddin Abdusshomad yang produktif menulis, juga dilengkapi dali-dalil penyelengaraan tahlil sekaligus teks tahlilnya yang biasa dibaca di pondok pesantren Salafiyah Syaf’iyah. Agar pengamal tahlil tidak ada keraguan dalam melaksanakan tradisi agung warisan ulama salaf ini. Wallahu a’lam

*Peresensi Adalah, Dosen Sekolah Tinggi Islam Blambangan (STIB) Banyuwangi

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Amalan, Nusantara, Budaya KOKAM Tegal

Sabtu, 02 Desember 2017

Hafidh-Hafidhah NU Pringsewu Gelar Khataman di Rumah Bupati

Pringsewu, KOKAM Tegal. Sekitar 30 hafidh dan hafidhah serta 150 jamaah Muslimat NU dari tingkatan ranting, anak cabang, cabang berkumpul di aula kediaman Bupati Pringsewu KH Sujadi Saddad, Pringsewu, Selasa (22/12). Mereka menggelar Semaan Al-Qur’an bil Ghaib.

Hafidh-Hafidhah NU Pringsewu Gelar Khataman di Rumah Bupati (Sumber Gambar : Nu Online)
Hafidh-Hafidhah NU Pringsewu Gelar Khataman di Rumah Bupati (Sumber Gambar : Nu Online)

Hafidh-Hafidhah NU Pringsewu Gelar Khataman di Rumah Bupati

Kegiatan ini menghadirkan para hafidz dan hafidzah dari Jami’yyatul Qura wal Huffadh NU (JQHNU) Kabupaten Pringsewu, badan otonom NU yang membidangi pembinaan para penghafal Al-Qur’an. Keempat putra-putri Bupati yang semuanya juga penghafal Al-Qur’an ikut serta dalam seamaan kali ini.

Dalam kesempatan tersebut, tampak warga masyarakat umum mendengarkan dan menyimak lantunan bacaan Al-Qur’an para penghafal Al-Qur’an. Acara ini dilaksanakan dalam rangka menyongsong hari pernikahan putri pertama dari Bupati Pringsewu yang akan digelar bertepatan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad yang Jatuh pada Kamis (24/12/15).

KOKAM Tegal

Setelah semaan Al-Qur’an dilaksanakan, pada malam harinya diadakan kenduri dan doa bersama dengan mendatangkan para kiai dan tokoh masyarakat di Lingkungan kediaman Bupati Pringsewu H Sujadi. (Muhammad Faizin/Mahbib)

KOKAM Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Amalan, Budaya, Pahlawan KOKAM Tegal

Rabu, 29 November 2017

Yunus Ad-Dabbi dan Al-Akhfash Al-Kabir

Oleh Syafiq Hasyim

Titik penting dalam perkembangan ilmu Nahwu berikutnya adalah masa kodifikasi (tadwin) dan pengarangan (tasnif). Tonggak masa ini adalah Imam Sibawayhi. Sebagian tokoh dalam masa ini sudah dijelaskan di bagian-bagian pertama dari tulisan ini, termasuk mengenai Imam Sibawayhi dan Isa b. Umar.

Dalam kesempatan ini, tokoh yang mau saya ulas adalah Yunus b. Habib Ad-Dabbi. Kalangan sejarahwan sepakat bahwa Yunus b. Habib Ad-Dabbi (183 H?) adalah salah seorang ahli Nahwu terbesar. Dia yang berbahasa Arab dan juga Persia belajar ilmu ini dari Hammad. Salmah, kemudian belajar ke Ibn Abi Is?aq Al-?adrami, Isa b. Amar dan Al-Akhfash yang Agung (Al-Kabir).

Yunus Ad-Dabbi dan Al-Akhfash Al-Kabir (Sumber Gambar : Nu Online)
Yunus Ad-Dabbi dan Al-Akhfash Al-Kabir (Sumber Gambar : Nu Online)

Yunus Ad-Dabbi dan Al-Akhfash Al-Kabir

Yunus juga belajar bahasa Arab dari Abi Amr Al-?Ala dan belajar tentang ilmu periwayatan dari Ru’bah b. Al-?Ajaj. Sebagaimana dinyatakan oleh Az-Zabidi dalam ?abaqa An-Na?wiyyin, proses belajar yang demikian bervariasi ini menyebabkan tradisi keilmun yang dibangun oleh Yunus b. Habib sangat kuat dan berakar. Riwayat-riwayat Yunus dikenal sangat bisa dipercaya dan hafalannya juga kuat. Perlu diketahui bahwa tradisi keilmuan Islam awal memang sangat bergantung pada tradisi hafalan dan sejarah periwayatan yang bisa dipercaya karenanya kredibilitas intelektual seseorang terletak pada tingkat kekuatan hafalan dan social reliance.

KOKAM Tegal

Pada Yunus tidak hanya sebatas itu, ia percaya juga pada empirisisme indera sebagaimana Az-Zabidi memberikan kesaksian atasnya: ma ‘indahu minal-‘ilmi illa ma ra’ahu bi ‘aynihi, tidak ada yang dipandang sebagai ilmu menurutnya kecuali apa yang dilihat oleh kedua matanya. Satu teori Nahwu yang dibangun Yunus dari Abi Is?aq misalnya adalah “sesungguhnya pokok kalimat itu strukturnya terdiri dari kata kerja (fi?il), kemudian kalimat-kalimat yang lain (anak kalimat) itu terdiri dari pekerjaan yang diakibatkan oleh fi?il yang terdiri dari bentuk feminin (mu’annath), maskulin (mudhakkar), tunggal (mufrad), double (ithnayn), dan plural (jama’) seperti f?’altu (saya telah mengerjakan, tunggal), f?’luna (pekerjaan kita), fa?al? (mereka telah mengerjakan, jama’ mudzakkar), f?’lana (mereka telah mengerjakan, jama’ mu’annath).

Inilah sebenarnya teori awal tentang asal usul kalimat, cara-cara zai’dahnya (penambahan, seperti fa?ala menjadi af?ala, istaf?ala dlsb). Dari sinilah kemudian asal usul apa yang kita kenal dalam peristilahan pesantren di Jawa dengan istilah tasrifan (Ab? ‘Ubayda, Majaz Al-Qur’an, vol. I, h., 376). Sebagaimana sedikit disinggung tentang pengaruh Ru?ba b Al-?Ajaj pada Yunus misalnya bisa dilihat pada cara Yunus mengi?rab ayat Al-Baqarah 25: “innallaha la yasta?yi ay-ya?riba ma ba?atin fama fawqaha.” Apa yang beda dengan mushaf kita yaitu bacaan rafa? bid-damma pada kata ba?’datun. Juga dinisbahkn padanya bacaan nasab pada “wal?amdu lillahi rabbil ‘alamin."

KOKAM Tegal

Aktivitas Yunus dalam menyebarkan ilmu Nahwu sangat istimewa dan beda sekali. Forum-forum dia menjadi terkenal bagi mereka yang ingin belajar ilmu ini. Ab? Zayd al-An?ari menyatakan, “tidak ada seorangpun yang leluasa dalam memberikan ilmunya kecuali dia (Yunus).” Forum Yunus ini dihadiri oleh banyak kalangan dari ulama-ulama terkemuka dalam bidang Nahwu, antara lain adalah Abi Isa –belajar selama 40 tahun—Al-Akhmar—2 tahun—Ab? Zayd al-An?ari (10 tahun), dan Sibawayhi mengadopsi 200 persoalan dari forum ini untuk dijadikan bahan di dalam Al-Kitab.

Tentang masalah ini, Yunus berkata bahwa semua yang diucapkan benar berasal dari saya (Lihat misalnya penjelasan Ash-Shirafi dalam Akhbar An-Na?wiyyin, h. 64). Pengakuan akan kelebihan Yunus ini tidak hanya datang dari lingkungan aliran Basrah, tapi juga dari aliran Kufah sebagaimana Al-Kisa’i dan juga Al-Farra’. Tokoh berikutnya adalah Al-Akhfash Al-Kabir atau Ab? Al-Khattab, seorang tokoh yang pemikirannya mengubungkan tiga figur penting dalam Nahwu, Ab? Amru, Abi Is?aq dan Sibawayhi. Di dalam Al-Kitab, nampak bahwa Sibawayhi banyak merujuk pada tokoh ini.

Memang banyak sejarahwan Nahwu yang mengakui bahwa ulasan tokoh yang satu ini kurang banyak, namun demikian, peranan yang dimainkan oleh Al-Akhfash Al-Kabir tidak bisa lihat kecil dalam masa kodifikasi ilmu ini terbukti banyak ulama besar yang merujuknya. Salah satu contoh bacaan Al-Qur’an yang dinisbahkan padanya adalah Al-An’am 109: “wa ma yush’irukum annaha idha jaa’at laa yu’minuun.” Al-Akhfash memberi tanda waqaf setelah “wa ma yush’irukum”, dan kemudian membaca kasrah (jer) pada “annaha” karena sebagai permulaan (ibtida’) setelah tanda waqaf di atas.

 

Bahasan serial ilmu nahwu ini merupakan bagian keenam. Silakan diikuti pembahasan selanjutnya yang dikupas Rais Syuriyah Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Jerman, Syafiq Hasyim. Belum lama ini ia meraih gelar Dr. Phil dari BGSMCS, FU, Berlin, Jerman.

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Daerah, Amalan KOKAM Tegal

Kamis, 23 November 2017

Menag: Jama’ah Thariqah Punya Kesadaran Moral Tinggi

Pekalongan, KOKAM Tegal. Kesadaran moral para pengamal ajaran tarekat atau jama’ah thariqah diharapkan mampu memberi sumbangan berharga bagi penegakan nilai-nilai moral keagamaan dan penghayatan spiritual.

”Berbagai hasil penelitian mengungkapkan bahwa pengikut toriqoh memiliki tingkat kesadaran menjalankan ibadah yang tinggi dan menampakan kesadaran moral yang tinggi pula,” kata Menteri Agama Muhammad Maftuh Basyuni pada acara silaturahmi ulama pesantren dan kyai Thoriqah se-Indonesia, di ponpes Al Mubarok, Medono, Pekalongan, Jawa Tengah, Selasa (22/5).

Menurut Menag, tugas ulama ke depan  semakin berat, sebab masyarakat kita semakin terbuka terhadap pengaruh dari luar akibat kemajuan teknologi informasi dan komunikasi.

Menag: Jama’ah Thariqah Punya Kesadaran Moral Tinggi (Sumber Gambar : Nu Online)
Menag: Jama’ah Thariqah Punya Kesadaran Moral Tinggi (Sumber Gambar : Nu Online)

Menag: Jama’ah Thariqah Punya Kesadaran Moral Tinggi

Peran ulama di lingkungan ponpes, kata Menag, perlu dipertahankan. Ulama adalah pendidik bagi santrinya, penyuluh bagi masyarakat dan pembimbing bagi umat yang memerlukan nasehat, pertimbangan atau menghadapi masalah. “Peran yang sudah berakar ini tak boleh ditinggalkan atau dibaikan,” katanya.

Menag meminta para ulama dan pengasuh pondok pesantren untuk terus membina kedekatan dengan umat dan meningkatkan peran dalam mengatasi berbagai penyakit masyarakat.

Pada kesempatan itu Menag juga menegaskan, umat yang lemah dari segi pemahaman biasanya mudah terseret ke dalam pemahaman yang radikal. Mereka akan menjadi sasaran yang empuk bagi orang-orang yang memang bertujuan untuk menyelewengkan ajaran agama atau mengajarkan paham-paham  keagamaan yang sesat.

KOKAM Tegal

“Umat yang lemah dari segi pemahaman biasanya mudah tergiur dengan bujukan material untuk melakukan hal-hal yang menyimpang dari ajaran agama,” ujar Menag.

Menag mengatakan,  mereka yang sudah memiliki pengetahuan agama tetapi lemah dari segi pengamalan perlu sentuhan-sentuhan yang berdimensi tasawuf  atau penjelasan tentang himatut tasyri’. Dengan demikian mereka akan memahami esensi dari perintah dan larangan agama.

Sebaliknya, kata Menag, mereka yang taat dalam pengamalan, tetapi lebih dari segi pemahaman perlu diberi dorongan untuk terus meningkatkan pemahamannya. Sehubungan dengan hal itu, majelis taklim maupun pengajian toriqoh perlu digalakkan terus menerus.(nam)



KOKAM Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Amalan, Sholawat KOKAM Tegal

Selasa, 21 November 2017

Alumni Pesantren Nurul Yaqin Diminta Sebarkan Islam Rahmatan Lilalamin

Padangpariaman, KOKAM Tegal. Alumni Pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan Pakandangan Kecamatan IV Lingkungan Kabupaten Padangpariaman, Sumatera Barat diminta untuk menyebarkan Islam yang penuh dengan kasih sayang dan rahmatan lilalamin. Jangan sampai alumni pesantren ini berganti paham keagamaan.  

Alumni Pesantren Nurul Yaqin Diminta Sebarkan Islam Rahmatan Lilalamin (Sumber Gambar : Nu Online)
Alumni Pesantren Nurul Yaqin Diminta Sebarkan Islam Rahmatan Lilalamin (Sumber Gambar : Nu Online)

Alumni Pesantren Nurul Yaqin Diminta Sebarkan Islam Rahmatan Lilalamin

Pengasuh Pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan Abuya Syekh H. Ali Imran Hasan menegaskan hal itu pada Silaturrahim Akbar dan Halaqah Nasional Ulama dan Keluarga Besar Nurul Yaqin, Selasa (21/7/2015) di halaman Rusunawa pesantren setempat. Abuya mengingatkan alumni ini terkait munculnya kekuatiran adanya alumni pesantren mulai dimasuki paham-paham radikal yang belakangan ini menjadi perhatian di Indonesia.

Menurut Abuya Imran, alumni Pesantren diminta terus membaca kitab. Jangan lupa mengajar. Mereka yang tidak mau mengajar, maka akan lupa akan kaji (ilmu). Alumni  yang mengajarkan ilmu haruslah dengan kasih sayang. 

KOKAM Tegal

"Berkasih sayanglah seperti Adam dan Hawa. Adam kasih sayang kepada Hawa, Hawa pun kasih sayang pada Adam. Begitu hendaknya umat ini berkasih sayang. Ini harus dipegang dalam mensyiarkan Islam yang rahmatan lilalamin," kata Abuya.  

Bupati Padangpariaman diwakili Sekretaris Daerah Jonfpriadi mengatakan, kehadiran Nurul Yaqin sudah berperan penting dalam kemajuan pembangunan Padangpariaman, terutama terkait dengan bidang keagamaan. Banyak prestasi yang diraih Padangpariaman. Pemda Padangpariaman tidak bisa berbuat banyak, tanpa dukungan masyarakat, terutama ulama yang sudah dihasilkan pesantren Nurul Yaqin.

KOKAM Tegal

Silaturrahmi diselenggarakan alumni Pesantren Nurul Yaqin bekerjasama Forum Masyarakat Peduli Sumbar  tampak dihadiri Ketua Yayasan Pembangunan Islam El Imraniyah (PYII) Ringan-Ringan Drs. Idarussalam Tuanku Sutan,  Ketua BAZNA Kabupaten Padangpariaman Suatribur,  Ketua Alumni  Pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan, Drs. Akmaluddin Tuanku Labai Mudo, M.A,  Ketua Pelaksana Silaturrahim Akbar dan Halaqah Nasional Ulama   Keluarga Besar  Nurul Yaqin Rahmat Tuanku Sulaiman, MM dan ratusan alumni Pesantren Nurul Yaqin dari berbagai daerah di Sumatera dan Jawa. 

Pesantren Nurul Yaqin juga memberikan ihtiram Nurul Yaqin (piagam penghargaan Nurul Yaqin) kepada enam orang. Masing-masing  tiga orang generasi pertama Nurul Yaqin, Syamsir Alam Tuanku Bagindo imam Nagari Kasang, Kecamatan Batang Anai, Zubir Tuanku Sutan dari Nagari Anduring, dan Drs.H.Syahril Tanjung Tuanku Mudo, MA dari nagari Malalo sebagai akademisi (mantan Puket I STAIN Batusangkar).

Penghargaan lain diberikan kepada pengembangan pesantren Nurul Yaqin yakni Syekh Muda Ahmad Damanhuri Tuanku Sutan Bandaro yang mengembangkan Pesantren Nurul Yaqin di Ambua Kapur Kecamatan VII Koto Padangpariaman. Penterjemahan kebijakan Abuya Syekh H.Ali Imran Hasan diberikan kepada Ahmad Dalwi Tuanku Labai Sinaro (almarhum). Sedangkan donatur tetap Nurul Yaqin diberikan kepada Uswatun Hasanah dari Nagari Anduring. (Armaidi Tanjung/Mukafi Niam)

Keterangan foto: Duduk di depan,  Ketua Yayasan Pembangunan Islam El Imraniyah (PYII) Ringan-Ringan Drs. Idarussalam Tuanku Sutan, Sekda Padangpariaman Jonpriadi dan Ketua PBNU Prof. Dr. Maidir Harun, MA. 

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Amalan, News KOKAM Tegal

Senin, 20 November 2017

CBDRM Lakukan Strategic Planning Atasi Bencana

Jakarta, KOKAM Tegal. Bencana yang datang bertubi-tubi di Indonesia telah menimbulkan korban yang jumlahnya sangat besar. Sampai saat ini belum terdapat upaya penanganan yang komprehensif yang melibatkan masyarakat dalam mengatasi dan menangani bencana.

NU sebagai ormas keagamaan terbesar di Indonesia merasa prihatin dengan kondisi tersebut dan merasa berkewajiban untuk turut terlibat dalam upaya-upaya pencegahan dan penanggulangan bencana tersebut.

CBDRM Lakukan Strategic Planning Atasi Bencana (Sumber Gambar : Nu Online)
CBDRM Lakukan Strategic Planning Atasi Bencana (Sumber Gambar : Nu Online)

CBDRM Lakukan Strategic Planning Atasi Bencana

“Dari keprihatinan itu, PBNU berusaha melibatkan pesantren dalam membantu upaya pencegahan dan penanggulangan bencana,” tandas Program Manager Community Based Disaster Risk Management (CBDRM) Avianto Muhtadi di Jakarta, Selasa.

Karena sebelumnya belum ada lembaga di bawah NU yang menangani bencana secara komprehensif, maka langkah pertama yang akan dilakukan adalah memberikan kesadaran akan bencana dan keberadaan CBDRM secara komprehensif ke lingkungan NU dan pesantren. Upaya ini akan dilakukan dengan menggelar workshop yang melibatkan pesantren, PBNU, PWNU, PCNU, badan otonom dan para ahli yang akan merumuskan strategi penanganan bencana.

“Sampai saat ini, potensi kerjasama swasta dan partisipasi masyarakat dengan pemerintah masih kurang. Penanganan bencana tak hanya bisa dibebankan pada pemerintah, dibutuhkan sinergi dan kerjasama yang intens antar kedua belah fihak,” tambahnya.

KOKAM Tegal

Workshop yang akan diselenggarakan pada 13-14 September di Bandung  ini akan membahas seluruh aspek penanganan bencana mulai dari konsep manajemen bencana, masalah kesehatan, kerentanan sosial dan partisipasi masyarakat, perpektif NU dalam penanganan bencana sampai dengan konsep fikih bencana.

Program ini terselenggara atas kerjasama antara PBNU, Ausaid dan para tenaga ahli dari pust mitigasi bencana ITB yang nantinya akan berperan sebagai technical assistant. (mkf)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal

KOKAM Tegal Amalan, Ahlussunnah, Olahraga KOKAM Tegal

Kamis, 16 November 2017

LAZISNU Klaten Luncurkan Majalah Pena

Klaten, KOKAM Tegal. Selain program pengelolaan dana umat, LAZISNU kabupaten Klaten juga membuat terobosan baru dengan membuat majalah “Pena”. Majalah yang rencananya terbit sekali sebulan ini juga memuat artikel menarik dan juga laporan keuangan rutin LAZISNU Klaten.

LAZISNU Klaten Luncurkan Majalah Pena (Sumber Gambar : Nu Online)
LAZISNU Klaten Luncurkan Majalah Pena (Sumber Gambar : Nu Online)

LAZISNU Klaten Luncurkan Majalah Pena

Menurut Ketua LAZISNU Klaten H Muh Cahyanto, majalah yang dikelola lembaganya juga menjadi media dakwah ala Aswaja.

“NU sangat lekat dengan tradisi membaca dan menulis. LAZISNU Klaten mencoba menghidupkan tradisi itu kembali. Sekaligus majalah ini sebagai sarana dakwah. Karena dakwah bisa melalui berbagai macam media, tidak hanya di mimbar. Dengan majalah ini pula kami berharap menjadi sarana dakwah,” terang Cahyanto kepada KOKAM Tegal, Senin (31/8).

KOKAM Tegal

Dijelaskan lebih lanjut oleh Cahyanto, melalui artikel dan tulisan yang ada diharapkan akan menjadi sarana edukasi kepada pembaca untuk mewujudkan Islam Nusantara.

Sementara Manajer Media LAZISNU Klaten Minardi mengatakan, majalah ini akan diisi dengan beberapa rubrik menarik.

KOKAM Tegal

“Akan kita isi berbagai artikel seperti kajian utama, kolom zakat, motivasi, healthy corner, ilmu pengetahuan Islam, kisah hebatnya sedekah, bingkai keluarga, dunia anak, kawula muda, taman sari, dan sebagainya.”

Hal lain yang terdapat dalam majalah iniialah informasi kegiatan LAZISNU Klaten. (Ajie Najmuddin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Amalan KOKAM Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs KOKAM Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik KOKAM Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan KOKAM Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock