Oleh Syafiq HasyimTitik penting dalam perkembangan ilmu Nahwu berikutnya adalah masa kodifikasi (tadwin) dan pengarangan (tasnif). Tonggak masa ini adalah Imam Sibawayhi. Sebagian tokoh dalam masa ini sudah dijelaskan di bagian-bagian pertama dari tulisan ini, termasuk mengenai Imam Sibawayhi dan Isa b. Umar.
Dalam kesempatan ini, tokoh yang mau saya ulas adalah Yunus b. Habib Ad-Dabbi. Kalangan sejarahwan sepakat bahwa Yunus b. Habib Ad-Dabbi (183 H?) adalah salah seorang ahli Nahwu terbesar. Dia yang berbahasa Arab dan juga Persia belajar ilmu ini dari Hammad. Salmah, kemudian belajar ke Ibn Abi Is?aq Al-?adrami, Isa b. Amar dan Al-Akhfash yang Agung (Al-Kabir).
 |
| Yunus Ad-Dabbi dan Al-Akhfash Al-Kabir (Sumber Gambar : Nu Online) |
Yunus Ad-Dabbi dan Al-Akhfash Al-Kabir
Yunus juga belajar bahasa Arab dari Abi Amr Al-?Ala dan belajar tentang ilmu periwayatan dari Ru’bah b. Al-?Ajaj. Sebagaimana dinyatakan oleh Az-Zabidi dalam
?abaqa An-Na?wiyyin, proses belajar yang demikian bervariasi ini menyebabkan tradisi keilmun yang dibangun oleh Yunus b. Habib sangat kuat dan berakar. Riwayat-riwayat Yunus dikenal sangat bisa dipercaya dan hafalannya juga kuat. Perlu diketahui bahwa tradisi keilmuan Islam awal memang sangat bergantung pada tradisi hafalan dan sejarah periwayatan yang bisa dipercaya karenanya kredibilitas intelektual seseorang terletak pada tingkat kekuatan hafalan dan
social reliance.
KOKAM Tegal
Pada Yunus tidak hanya sebatas itu, ia percaya juga pada empirisisme indera sebagaimana Az-Zabidi memberikan kesaksian atasnya:
ma ‘indahu minal-‘ilmi illa ma ra’ahu bi ‘aynihi, tidak ada yang dipandang sebagai ilmu menurutnya kecuali apa yang dilihat oleh kedua matanya. Satu teori Nahwu yang dibangun Yunus dari Abi Is?aq misalnya adalah “sesungguhnya pokok kalimat itu strukturnya terdiri dari kata kerja (
fi?il), kemudian kalimat-kalimat yang lain (anak kalimat) itu terdiri dari pekerjaan yang diakibatkan oleh
fi?il yang terdiri dari bentuk feminin (
mu’annath), maskulin (
mudhakkar), tunggal (
mufrad), double (
ithnayn), dan plural (
jama’) seperti
f?’altu (saya telah mengerjakan, tunggal),
f?’luna (pekerjaan kita),
fa?al? (mereka telah mengerjakan,
jama’ mudzakkar),
f?’lana (mereka telah mengerjakan,
jama’ mu’annath).
Inilah sebenarnya teori awal tentang asal usul kalimat, cara-cara
zai’dahnya (penambahan, seperti
fa?ala menjadi
af?ala,
istaf?ala dlsb). Dari sinilah kemudian asal usul apa yang kita kenal dalam peristilahan pesantren di Jawa dengan istilah
tasrifan (Ab? ‘Ubayda,
Majaz Al-Qur’an, vol. I, h., 376). Sebagaimana sedikit disinggung tentang pengaruh Ru?ba b Al-?Ajaj pada Yunus misalnya bisa dilihat pada cara Yunus meng
i?rab ayat
Al-Baqarah 25: “
innallaha la yasta?yi ay-ya?riba ma ba?atin fama fawqaha.” Apa yang beda dengan mushaf kita yaitu bacaan
rafa? bid-damma pada kata
ba?’datun. Juga dinisbahkn padanya bacaan nasab pada
“wal?amdu lillahi rabbil ‘alamin." KOKAM Tegal
Aktivitas Yunus dalam menyebarkan ilmu Nahwu sangat istimewa dan beda sekali. Forum-forum dia menjadi terkenal bagi mereka yang ingin belajar ilmu ini. Ab? Zayd al-An?ari menyatakan, “tidak ada seorangpun yang leluasa dalam memberikan ilmunya kecuali dia (Yunus).” Forum Yunus ini dihadiri oleh banyak kalangan dari ulama-ulama terkemuka dalam bidang Nahwu, antara lain adalah Abi Isa –belajar selama 40 tahun—Al-Akhmar—2 tahun—Ab? Zayd al-An?ari (10 tahun), dan Sibawayhi mengadopsi 200 persoalan dari forum ini untuk dijadikan bahan di dalam
Al-Kitab.
Tentang masalah ini, Yunus berkata bahwa semua yang diucapkan benar berasal dari saya (Lihat misalnya penjelasan Ash-Shirafi dalam
Akhbar An-Na?wiyyin, h. 64). Pengakuan akan kelebihan Yunus ini tidak hanya datang dari lingkungan aliran Basrah, tapi juga dari aliran Kufah sebagaimana Al-Kisa’i dan juga Al-Farra’. Tokoh berikutnya adalah Al-Akhfash Al-Kabir atau Ab? Al-Khattab, seorang tokoh yang pemikirannya mengubungkan tiga figur penting dalam Nahwu, Ab? Amru, Abi Is?aq dan Sibawayhi. Di dalam
Al-Kitab, nampak bahwa Sibawayhi banyak merujuk pada tokoh ini.
Memang banyak sejarahwan Nahwu yang mengakui bahwa ulasan tokoh yang satu ini kurang banyak, namun demikian, peranan yang dimainkan oleh Al-Akhfash Al-Kabir tidak bisa lihat kecil dalam masa kodifikasi ilmu ini terbukti banyak ulama besar yang merujuknya. Salah satu contoh bacaan Al-Qur’an yang dinisbahkan padanya adalah
Al-An’am 109:
“wa ma yush’irukum annaha idha jaa’at laa yu’minuun.” Al-Akhfash memberi tanda
waqaf setelah “
wa ma yush’irukum”, dan kemudian membaca
kasrah (
jer) pada “
annaha” karena sebagai permulaan (
ibtida’) setelah tanda
waqaf di atas.
Bahasan serial ilmu nahwu ini merupakan bagian keenam. Silakan diikuti pembahasan selanjutnya yang dikupas Rais Syuriyah Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Jerman, Syafiq Hasyim. Belum lama ini ia meraih gelar Dr. Phil dari BGSMCS, FU, Berlin, Jerman. Dari Nu Online:
nu.or.idKOKAM Tegal Daerah, Amalan KOKAM Tegal