Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan

Kamis, 22 Februari 2018

Jelang Konfercab, PMII Jombang Diimbau Evaluasi Diri

Jombang, KOKAM Tegal

Nuansa politik pada Konferensi Cabang (Konfercab) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) sering lebih mendominasi, terutama dalam memilih pimpinan atau ketua baru. Hal ini mengakibatkan pola kepemimpinan pada periode-periode tertentu cendrung tak maksimal dalam menjalankan mandat pergerakannya.

Kondisi tersebut menjadi kajian serius di kalangan para alumni PMII Jombang menjelang Konfercab XXV yang bakal digelar Pengurus Cabang PMII setempat. Panitia pelaksana Konfercab juga sudah terbentuk pada beberapa pekan lalu.

Jelang Konfercab, PMII Jombang Diimbau Evaluasi Diri (Sumber Gambar : Nu Online)
Jelang Konfercab, PMII Jombang Diimbau Evaluasi Diri (Sumber Gambar : Nu Online)

Jelang Konfercab, PMII Jombang Diimbau Evaluasi Diri

Ahmad Samsul Rijal, Sekretaris Ikatan Alumni PMII (IKA PMII) Jombang mendorong PMII Jombang melakukan evaluasi-evaluasi terlebih dahulu dalam bentuk kegiatan pra-Konfercab. Hal ini akan lebih membantu memantapkan Nilai Dasar Pergerakan (NDP) PMII, program kerja ke depan dan juga dalam pergantian kepemimpinan.

KOKAM Tegal

“Harus ada pra-Konfercab, karena konfercab itu kan merupakan forum tertinggi untuk merumuskan dan mengganti pimpinan dan untuk memantapkan nilai-nilai dasar pergerakan termasuk juga program kerja,” katanya kepada KOKAM Tegal saat ditemui di kantor PCNU Jombang, Selasa (19/1) siang.

KOKAM Tegal

Rijal tidak menampik adanya kelemahan dan kekurangan dalam kurun waktu satu tahun ini. Kelemahan dan kekurangan tersebut tidak bisa hanya dirumuskan dan dijawab dalam forum Konfercab karena berpotensi tidak kondusif dan mengulur waktu.

Ia mengimbau adanya pra-Konfercab tersebut juga difasilitasi Majelis Pembina Cabang (Mabincab) dan alumni PMII yang lain secara teknis pelaksanaan dan rumusannya. “Pematangan ini bisa dibantu oleh para Mabincab dan alumni dengan catatan tidak lagi mensamarkan jenis kelamin PMII. Keterlibatan alumni itu untuk memperjelas dan mempertegas kondisi tersebut,” imbaunya.

Rijal yang juga sebagai wakil sekretaris PCNU Jombang optimis jika pra-Konfercab bisa dilakukan dengan maksimal, pelaksanaan Konfercab akan jauh lebih kondusif dan lebih matang pola kepemimpinan PMII Jombang ke depan.

“Kalau itu memang bisa dilakukan, pra-Konfercab itu ada untuk mematangkan semuanya, saya pikir Konfercab nanti bisa lebih bagus untuk pergantian kepemimpinan, dimana mandat-mandatnya itu lebih matang dari awal dan tidak mengundang berbagai pertanuyaan,” pungkasnya. (Syamsul Arifin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Cerita, Bahtsul Masail KOKAM Tegal

Sabtu, 17 Februari 2018

Diusulkan Bentuk Komisi Negara

Jakarta, KOKAM Tegal. Amandemen Undang Undang Dasar (UUD) 1945 yang telah dilakukan selama empat kali diakui telah memperbaiki sistem ketatanegaraan, namun di sana sini masih ditemukan kejanggalan dan kesimpangsiuran. Para peserta diskusi amandemen UUD 1945 di PBNU, Senin (13/8), mengusulkan dibentuknya komisi negara yang bertugas merumuskan amandemen kelima secara komprehensif.

Pengacara kawakan Adnan Buyung Nasution mengusulkan, komisi negara itu terdiri dari para ahli di bidang hukum tata negara, politik, sosial, ekonomi dan bidang-bidang lain agar perubahan benar-benar dapat dilakukan secara komprehensif.

Diusulkan Bentuk Komisi Negara (Sumber Gambar : Nu Online)
Diusulkan Bentuk Komisi Negara (Sumber Gambar : Nu Online)

Diusulkan Bentuk Komisi Negara

"Saya melihat ada kebutuhan nyata. Rasanya kita wajib merespon itu. Konstitusi kan harus hidup, tentu harus dinamis, kreatif merespon kebutuhan tata negara. Saya setuju perubahan, tapi saya tidak setuju perubahan parsial saja, misal hanya untuk DPD," katanya.

Menurut Buyung, perubahan konstitusi yang selama empat kali itu telah menunjukkan banyak kemajuan, namun masih jauh dari cita-cita konstitusi negara modern.

Tokoh Militer Agus Wijojo mengatakan, amandemen UUD 45 mempunyai kelemahan terutama di dalam aspek proses karena tidak mempunyai naskah akademik seputar latar belakang dilakukannya amandemen dan tujuannya. Namun, menurutnya, bangsa Indonesia tidak bisa kembali kepada konstitusi UUD 1945 yang asli.

KOKAM Tegal

"Kalau kita berbicara amendemen, saya setuju diebntuk komisi. Kita tidak bisa untuk mundur kembali masa lalu dengan kembali undang-undang yang asli. Karena sebuah kenyataan bahwa kita sudah melakukan amandemen, dan itu teruskan saja untuk disempurnakan," katanya.

Peneliti senor Daniel Dhakidae mengingatkan, perubahan kontitusi harus dilakukan ekstra hati-hati karena menyangkut kepentingan 200 juta lebih rakyat Indonesia. "Kalau tidak malah memiskinkan hingga 90 persen rakyat Indonesia," katanya.

Pakar hukum tata negara Mahfudz MD juga sepakat adanya komisi negara yang merumuskan kembali perubahan amandemen. Namun secara prosedural, menurutnya, perubahan malah tidak bisa dilakukan secara menyeluruh atau perpaket sekalipun.

KOKAM Tegal

"Kalau NU mau bersikap ya tidak bisa seperti diusulkan tadi semudah tangan kita bentuk komisi negara, karena perubahan itu pasal-perpasal seperti pasal DPD. perubahan tidak bisa perpaket karena ketentuannya begitu. Berfikir tentang amandemen harus didahului perubahan pasal 37, dengan begitu menjadi prosedural," katanya.

Direktur Institute for Policy Studies Fadli Zon secara tegas mengatakan, hasil amandemen UUD itu sama sekali tidak mencerminkan kepentingan nasional. Berkaitan dengan aspek politik, amandemen UUD mengarah kepada sistem demokrasi liberal. "Padahal perlu dicatat, tidak ada demokrasi yang menyebabkan negara makmur," katanya.

Berkaitan dengan aspek ekonomi, lanjutnya, UUD hasil amandemen yang disebutnya sebagai "UUD 2002" telah melahirkan sistem pasar bebas.

"Bagaimana mereka mengubah pasal 33 UUD 1945 yang akhirnya berkompromi dengan cara diberikan interpretasi yang remang-remang bahwa ini akan dilanjutkan di UU," katanya. Terbukti undang-undang turunannya sangat pro pasar bebas misal dalam urusan migas, listrik, dan penanaman modal.

Pada kesempatan itu Fadli Zon bahkan membikin geram para narasumber lain seperti Adnan Buyung yang menurutnya sempat memperoleh 26 juta USD dari donor asing sebagaimana dia kutip dari New York Times edisi 20 Mei 1998. "Ada penghianatan yang dilakukan oleh elit Indonesia," katanya seru.(nam)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Cerita KOKAM Tegal

Jumat, 09 Februari 2018

Gara-gara Qunut Nazilah untuk Palestina, Belanda Panggil Ketua PBNU

Menghadapi penjajahan Belanda di tanah air tentu hal yang sangat merepotkan bagi Nahdlatul Ulama (NU). Taruhannya bukan semata penderitaan diri mereka sendiri kala itu, tapi juga nasib? generasi mereka di masa yang akan mendatang. Hak ekonomi dirampas, pendidikan dikekang, dan aspirasi politik dikebiri.

Namun demikian, apakah NU terjebak pada nasionalisme sempit? Ternyata tidak. Empatinya yang besar juga menjalar ke belahan dunia lain yang mengalami nasib yang serupa, salah satunya bangsa Palestina. NU geram dengan usaha Israel yang dengan semena-mena mencaplok tanah Palestina. Ini juga penjajahan.

Gara-gara Qunut Nazilah untuk Palestina, Belanda Panggil Ketua PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Gara-gara Qunut Nazilah untuk Palestina, Belanda Panggil Ketua PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Gara-gara Qunut Nazilah untuk Palestina, Belanda Panggil Ketua PBNU

Dalam Guruku Orang-orang dari Pesantren, KH Saifuddin Zuhri mengungkapkan bahwa sejak bangsa Arab berjuang untuk kemerdekaan Palestina, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama pada tangal 12 November 1938 telah menyerukan kepada seluruh partai dan organisasi umat Islam di Indonesia serta Pucuk Pimpinan Warmusi (Wartawan Muslimin Indonesia) di Medan, agar umat Islam memberikan sokongan moral dan material kepada para pejuang Palestina dalam memerdekakan tanah air mereka.

Di antara bentuk solidaritas tersebut PBNU mengimbau umat Islam untuk membaca qunut nazilah dalam tiap-tiap sembahyang fardhu. Qunut nazilah lebih dari sekadar bacaan doa selepas ruku yang lazim diamalkan ketika kondisi bencana atau situasi genting lainnya. Seruan qunut nazilah mengandung dimensi politik yang luas. Ia sebentuk protes keras berskala internasional atas kezaliman kaum pendatang yang menamakan diri bangsa Israel terhadap bangsa Palestina.

KOKAM Tegal

Sikap NU ini tentu berpotensi mengundang empati balasan dari bangsa-bangsa Arab atas bangsa Indonesia yang tengah dijajah Belanda. Tak heran, sehubungan dengan qunut nazilah ini pada tanggal 27 Januari 1939, Ketua PBNU KH Machfuzh Shiddiq dipanggil oleh Hoofparket Belanda di Jakarta. Pemerintah kolonial Belanda melarang NU melakukan gerakan qunut nazilah untuk pejuang Palestina.

KOKAM Tegal

Qunut nazilah juga sempat berlangsung setahun berturut-turut ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) secara sepihak meresmikan negara Israel pada 1948. Deklarasi negara baru ini dimotori oleh Amerika dan Soviet. Rakyat Indonesia saat itu mendesak pemerintah Indonesia bersikap tegas atas kebijakan tersebut. Dewan Keamanan PBB mesti meninjau ulang keputusannya terhadap berdirinya Israel.

NU tentu tahu, Palestina tak hanya dihuni penduduk Muslim. Tapi keberadaan tempat suci Masjid al-Aqsa dan ikatan kemanusiaan (ukhuwah basyariyah) cukup menjadi alasan untuk melakukan kecaman dan pembelaan tersebut. Berkat penjajahan Israel, rakyat Palestina terlunta-lunta, menderita secara fisik dan psikis, dan sebagian terusir dari tanahnya sendiri.

Di tengah solidaritas untuk Palestina yang tak kunjung henti, pada Desember 1948 Indonesia didera situasi yang sangat mencekam. Belanda melakukan agresi militer II yang dimulai dari Yogyakarta sebagai ibu kota negara waktu itu. Situasi kian gawat ketika para tokoh dan pemimpin republik ini ditangkapi sehingga mendorong dibentuknya Pemerintah Darurat Republik Indonesia di Sumatra.

Demikianlah luasnya spektrum perjuangan NU. Lahir batin ia berkorban menumpas penjajahan di tanah air sendiri, tapi juga tak menutup mata atas fenomena yang sama di penjuru bumi lainnya. Kenapa? Karena kemerdekaan adalah hak segala bangsa. (Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Sejarah, Internasional, Cerita KOKAM Tegal

Sabtu, 03 Februari 2018

Pagar Nusa dan Polres Simalungun Kerja Sama Kembangkan Pencak Silat

Simalungun, KOKAM Tegal. Pimpinan Pusat Pagar Nusa Nahdlatul Ulama dan Kepolisian Resor (Polres) Simalungun, Sumatra Utara, menjalin kerja sama peningkatan bela diri. Kesepakatan ini terjalin dalam diskusi internal antara Pimpinan Pusat Pagar Nusa dan jajaran Polres Simalungun di Emerald Garden Hotel, Medan, Senin (19/06).

Pagar Nusa dan Polres Simalungun Kerja Sama Kembangkan Pencak Silat (Sumber Gambar : Nu Online)
Pagar Nusa dan Polres Simalungun Kerja Sama Kembangkan Pencak Silat (Sumber Gambar : Nu Online)

Pagar Nusa dan Polres Simalungun Kerja Sama Kembangkan Pencak Silat

Hadir dalam diskusi ini, Ketua Umum Pimpinan Pusat Pagar Nusa, M. Nabil Haroen dan Kapolres Simalungun, AKBP M. Liberty Pandjaitan, beserta jajaran. Diskusi ini, diselenggarakan dalam rangkaian Dialog Kebangsaan yang digagas Polres Simalungun, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan Pimpinan Pusat Pagar Nusa.?

Nabil Haroen, mengungkapkan tujuan kerja sama ini untuk peningkatan kemampuan pertahanan diri di kalangan anggota kepolisian, serta menjaga khazanah seni Nusantara.?

"Kerjasama ini, untuk saling menguatkan antar institusi. Kami siap melatih anggota kepolisian untuk bela diri pencak silat. Ini penting agar kualitas pengamanan meningkat," jelas Nabil.?

KOKAM Tegal

Selain itu, dalam pandangan Nabil, Pagar Nusa juga akan melatih keseimbangan mental dan spiritual. "Latihan pencak silat Pagar Nusa tidak sekedar latihan bela diri. Ada unsur peningkatan kualitas spiritual dan kekuatan mental. Ini penting," ungkap Nabil Haroen.?

Sementara itu, AKBP Liberty Pandjaitan, menyatakan berbangga dengan kerjasama Polres dan Pagar Nusa. "Dalam waktu dekat, kami akan menyiapkan lima ratus anggota untuk dilatih pencak silat Pagar Nusa. Dari jumlah itu, akan diseleksi sebanyak seratus personel sebagai pasukan inti," tegas Liberty.?

Ke depan, Liberty menginginkan agar anggota Polres Simalungun, dapat menjadi polisi yang smart. "Kami ingin anggota kepolisian berpikir smart, adaptif dengan teknologi, melayani masyarakat sekaligus memiliki kemampuan pencak silat untuk bela diri. Pikirannya smart, orangnya sehat, jiwanya tenang, mentalnya kuat. Saya bekerja keras mewujudkan itu, " jelas Liberty.?

Dalam waktu dekat, pada Juli 2017, akan diselenggarakan peresmian antara Pimpinan Pusat Pagar Nusa dan Polres Simalungun. Kerja sama ini, menyangkut ranah peningkatan skill bela diri, intensifikasi kualitas sumber daya dan pemberdayaan masyarakat. (Red: Fathoni)

KOKAM Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Cerita, Meme Islam KOKAM Tegal

Selasa, 30 Januari 2018

Padukan Nilai Budaya dan Agama, Ketum MUI Puji Jokowi Mantu

Solo, KOKAM Tegal

Ketua Umum MUI yang juga Rais Aam PBNU, KH Maruf Amin memuji acara mantu Presiden Jokowi yang memadukan nilai-nilai budaya adat jawa dan nilai-nilai agama Islam. Pada kesempatan tersebut Kiai Maruf bersama Wapres Jusuf Kalla dipercaya menjadi saksi ijab qabul pernikahan Kahiyang Ayu dengan Bobby Nasution di Gedung Graha Saba Buana Solo, Rabu (8/11). 

"Acaranya luar biasa ada nuansa keagamaan Quran, nasehat pernikahan, doa dan ada juga budayanya.  Acaranya luar biasa perpaduan antara nilai-nilai agama dan nilai-nilai budaya," katanya saat diwawancarai salah satu stasiun televisi di sela-sela resepsi.

Padukan Nilai Budaya dan Agama, Ketum MUI Puji Jokowi Mantu (Sumber Gambar : Nu Online)
Padukan Nilai Budaya dan Agama, Ketum MUI Puji Jokowi Mantu (Sumber Gambar : Nu Online)

Padukan Nilai Budaya dan Agama, Ketum MUI Puji Jokowi Mantu

Selaku saksi, Kiai Maruf menilai proses ijab qabul dapat berjalan dengan baik dan lancar. Presiden Jokowi dan mempelai putera Bobby Nasution mengucapkan kalimat-kalimat ijab qabul dengan baik. 

"Beliau (Presiden) lancar sekali menyampaikan kalimat ijab qabul. Tegas, gamblang, walaupun baru kali ini. Tidak ada keragu-raguan," kata Kiai Maruf.

Kiai Maruf juga mengapresiasi acara mantu tersebut karena Presiden mengundang para ulama dari seluruh provinsi di Indonesia.

KOKAM Tegal

"Yang hadir meliputi semua lapisan masyarakat. Ulama, menteri, pejabat, gubernur, masyarakat biasa, bahkan kiai-kiai dari daerah datang semua. Dari Sumatera Utara, Aceh, Lampung, Sulawesi dari mana-mana," terang Kiai Maruf didampingi Ketum MUI Lampung KH. Khairuddin Tahmid.

Sementara itu Ketua Umum PBNU KH. Said Aqil Siradj saat menyampaikan Khutbah Nikah pada ijab qabul tersebut juga sempat menyampaikan penjelasan terkait pernikahan dan kebudayaan. 

"Pernikahan adalah ibadah. Setiap ibadah harus sesuai dengan syariat Allah dan Sunnah Rasulullah SAW. Akad nikahnya merupakan syariat dan selebihnya adalah budaya yang kita lestarikan yang merupakan bagian dari Islam Nusantara," katanya.

Perjodohan yang terjadi diantara dua insan manusia menurutnya juga bukan hanya pertemuan fisik semata. Namun yang lebih penting dari itu, pernikahan adalah pertemuan akhlaq, budaya, peradaban, martabat dan kepribadian.

"Mudah-mudahan mendapatkan keturunan yang bermartabat, berguna bagu agama, bangsa dan negara," ujar Kiai Said menjelaskan tafsir surat Ar Rum ayat 21 yang menjelaskan tentang hal tersebut. (Muhammad Faizin/Kendi Setiawan).

KOKAM Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Pertandingan, Cerita KOKAM Tegal

Selasa, 23 Januari 2018

Nabi Muhamad Bangun Negara Berdasar Platform Kemajuan dan Kebersamaan

Manado, KOKAM Tegal. Nabi Muhammad ketika berhijrah dari Makkah ke Madinah hidup dalam komunitas masyarakat yang plural, ada penganut Yahudi, ada pula suku-suku lokal, kelompok Ansor dan juga Muhajirin. Dengan situasi seperti itu, maka yang dibangun adalah negara yang berdasarkan kesepakatan bersama untuk mencapai kemajuan dan kebersamaan, tidak didasarkan pada agama atau etnis. Karena itulah, negeri tersebut dikatakan sebagai Negara Madinah, dari kata tamaddun yang artinya masyarakat yang berperadaban. 

Nabi Muhamad Bangun Negara Berdasar Platform Kemajuan dan Kebersamaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Nabi Muhamad Bangun Negara Berdasar Platform Kemajuan dan Kebersamaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Nabi Muhamad Bangun Negara Berdasar Platform Kemajuan dan Kebersamaan

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Kiai Said ketika memberikan sambutan dalam acara pra-Munas dan Konbes dengan tema NU dan Kebinekaan di Manado, Sulawesi Utara (11/11). 

 

“Asalkan satu cita-cita dan satu garis perjuangan, sesungguhnya mereka adalah satu umat. Jadi Nabi Muhammad, modern banget,” katanya di hadapan perwakilan NU se-Wilayah Indonesia Timur. 

KOKAM Tegal

Negara Madinah itu penduduknya ada yang Muslim dan non-Muslim, Arab dan non-Arab, semua diperlakukan sama. Semua penduduk Madinah telah menandatangani kesepakatan bersama untuk hidup damai. Terdapat tanggung jawab bersama kalau ada serangan dari luar. Mereka yang berkhianat juga harus diusir.

Kiai Said yang tinggal di Arab Saudi selama tiga belas tahun untuk belajar dari sarjana sampai dengan doktor ini memberikan sejumlah contoh tindakan Rasululah yang berlaku adil pada semua kelompok. Pertama, Suatu ketika ada sahabat yang bertengkar dengan Yahudi, kemidian mereka berkelahi sampai si Yahudi meninggal. Nabi marah besar dengan mengatakan, Barangsiapa membunuh non-Muslim, berhadapan dengan saya. Dan barang siapa berhadapan dengan saya, tidak akan selamat.

Keadilan juga diperlakukan kepada sesama umat Islam, yaitu ketika ada perempuan yang tertangkap mencuri. Ada usulan agar pencuri tersebut tidak dihukum karena berasal dari keluarga terpandang. Dalam kesempatan tersebut, Rasulullah menyampaikan, seandainya Fatimah, anak satu-satunya, yang mencuri, beliau akan menghukumnya sendiri. 

“Kalau kita bandingkan umat Islam dulu dan sekarang, kita sekarang akan malu,” katanya mengomentari tindakan tegas Nabi dalam menghukum pencuri tersebut. 

“Tidak boleh ada permusuhan, kecuali kepada yang melanggar hukum. Tidak boleh ada permusuhan karena alasan beda agama, beda suku, beda budaya, apalagi beda pilihan gubernur,” tegasnya. 

KOKAM Tegal

Dikatakan Kiai Said, yang dijalankan oleh Rasulullah tersebut merupakan prinsip muwathonah, citizenship atau kewarganegaraan, bukan kewargaagamaan, atau kesukuan. “Islam seperti inilah yang dibawa Walisongo, yang mengislamkan seluruh Nusantara,” imbuhnya. 

Sebagai pemimpin dari seluruh komunitas yang sangat beragam, Rasulullah juga sangat memperhatikan kepentingan dari pemeluk agama Nasrani. Suatu ketika ada gosip dari Yahudi bahwa Maryam berzina sehingga melahirkan seorang anak. Ia sangat bersedih dan bagaimana menjelaskan peristiwa tersebut, sampai akhirnya Allah menurunkan surat Maryam yang menegaskan bahwa Maryam atau disebut Maria dalam agama Kristiani merupakan perempuan suci yang bersih dari perilaku tidak terpuji.

Demikian pula, ketika terjadi perang antara Kristiani dan pengikut Zoroaster, Rasulullah mendoakan agar umat Kristiani dimenangkan. Romawi pertama kalah dalam perang tersebut, tapi kemudian kurang dari sepuluh tahun, menang dalam peperangan. Dalam kesempatan tersebut, umat Islam diminta untuk menyambut dengan gembira. Peristiwa tersebut diabadikan dalam surat Ar-Rum.

Kiai Said yang merupakan alumnus Pesantren Lirboyo Kediri ini juga mengisahkan teladan yang diberikan oleh Sayyidina Umar saat mengunjungi Palestina. Pada kesempatan tersebut, Umar memasuki gereja untuk melihat-lihat karena di Makkah dan Madinah tidak ada gereja. Lalu terdengar adzan saat ia masih dalam gereja. Ia tidak mau shalat dalam gereja, melainkan di luar karena takut, jika shalat di gereja, suatu saat geraja tersebut direbut dengan alasan di situ bekas shalatnya Umar. 

Kiai Said mempersilahkan generasi muda untuk belajar agama Islam di Arab karena memang kawasan tersebut merupakan pusat pendidikan Islam yang belum bisa ditandingi di tempat lain seperti di Al Azhar atau di Arab Saudi, tetapi ia mengingatkan agar yang dibawa adalah ilmunya, bukan budayanya 

Cara pandang orang Arab dalam hubungan antara agama dan negara sangat berbeda dengan bangsa Indonesia. Di sana, para ulama bukanlah tokoh nasionalis, sedangkan tokoh nasionalis bukanlah ulama. Situasi ini menyebabkan terjadinya benturan dan pertumpahan darah.

Berbeda dengan di Arab, Kiai Hasyim Asy’ari mampu menyatukan agama dan nasionalisme dengan ungkapannya, mencintai tanah air adalah bagian dari iman. Apa yang disampaikan oleh Kiai Hasyim tersebut merupakan bentuk refleksi atas kondisi di Nusantara yang sangat beragam. 

“Kebinekaan yang muncul merupakan anugerah dari Allah yang harus dirawat. Seandainya Allah menghendaki, di muka bumi ini semuanya bisa Islam. Karena itu, tidak boleh menggunakan kekerasan dalam berdakwah,” ujar Kiai Said. (Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Cerita, Pertandingan, Kyai KOKAM Tegal

Senin, 08 Januari 2018

KH Ahmad Djablawi Wafat

Klaten, KOKAM Tegal. Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un. Warga Nahdliyin kembali berduka. Menyusul kepergian ulama sepuh guru Al-Qur’an KH Nawawi Abdul Aziz Desember lalu, Ahad (1/2) kemarin pukul 13.50 WIB salah seorang ahli Al-Quran dari Pesantren Al-Manshur Popongan Klaten, KH Ahmad Djablawi bin Abdul Hadi juga dipanggil oleh Allah SWT.

KH Ahmad Djablawi Wafat (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Ahmad Djablawi Wafat (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Ahmad Djablawi Wafat

Mbah Djablawi, begitu sapaan akrab para santri kepadanya, wafat setelah sempat dirawat di RSI Yarsis Surakarta.

Mbah Djablawi merupakan menantu pertama KH M. Muqri Kafrawi dan kakak ipar KH M. Salman Dahlawi. Sanad Al-Quran diperolehnya dari KH R. Qodir Munawwir Krapyak.

KOKAM Tegal

Menurut Wakil Rais Syuriyah PWNU Jawa Tengah, KH M Dian Nafi’, almarhum meninggal di usia 86 tahun, sepulang dari menjalankan ibadah umrah. “Semoga keluarga yang ditinggalkan tabah. Amin,” ujarnya.

Kiai Dian yang juga menantu Alm. KH M Salman Dahlawi, yang pernah menjadi pengasuh Pesantren Al-Manshur, menjelaskan acara pemakaman akan dilaksanakan pada hari Senin (2/2) pukul 13.00 WIB di kompleks pemakaman keluarga di Pesantren Popongan Tegalgondo Klaten. (Ajie Najmuddin/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal

KOKAM Tegal Hikmah, Cerita, PonPes KOKAM Tegal

Kamis, 14 Desember 2017

Said Aqil: Masjid bukan hanya untuk Shalat

Wonosobo, KOKAM Tegal. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj mengingatkan kepada kaum muslim bahwa masjid tidak hanya untuk ibadah shalat saja, tetapi juga bisa didayagunakan untuk membina dan mendidik anak-anak dalam pendalaman agama.

Said Aqil: Masjid bukan hanya untuk Shalat (Sumber Gambar : Nu Online)
Said Aqil: Masjid bukan hanya untuk Shalat (Sumber Gambar : Nu Online)

Said Aqil: Masjid bukan hanya untuk Shalat

"Hal ini menunjukkan adanya keseimbangan antara pembangunan fisik dan pembangunan mental," katanya saat meresmikan Masjid Agung Al Jihad Dukuh Binangun Desa Wringinanom, Kabupaten Wonosobo, Ahad (18/1).

Ia berharap masjid tersebut bisa meningkatkan keimanan dan ketakwaan masyarakat kepada Sang Pencipta.

KOKAM Tegal

Ia menuturkan partisipasi masyarakat yang tinggi untuk membangun masjid menunjukkan peningkatan keimanan dan ketakwaan pada Allah SWT.

KOKAM Tegal

Pada peresmian masjid dan peringatan Maulud Nabi Muhammad SAW tersebut Said Aqil mengkisahkan kembali masa jahiliyah barat dan timur, sampai lahirnya Nabi Muhammad SAW.

Ia mengatakan, Nabi Muhammad SAW pantas menjadi orang besar, karena buyut-buyutnya memang orang terpandang di antara suku Quraisy di kota Makkah.

"Meskipun beliau dibesarkan sebagai yatim piatu dan biasa menggembala kambing orang lain, akan tetapi banyak sekali hikmah yang bisa diambil dari kisah Rasulullulah," katanya.

Ia mengatakan, betapa sabarnya Nabi Muhammad SAW dalam berdakwah. Meskipun beliau dilempari batu oleh orang-orang Thaif, beliau tidak merasa dendam pada saat malaikat menawarkan untuk membalas mereka.

"Bahkan pada akhirnya beliau berhasil mendirikan masyarakat mutamaddin di Madinah, di mana sistem negara bisa berjalan dengan baik dan benar," katanya. (antara/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Cerita, Hadits, Habib KOKAM Tegal

Jumat, 08 Desember 2017

Tiap Tahun IPNU-IPPNU Tegal Bimbing Siswa Masuk Perguruan Tinggi

Slawi, KOKAM Tegal. Pimpinan Cabang IPNU-IPPNU Kabupaten Tegal, bertekad akan terus memberi bimbingan belajar pasca Ujian Nasional (BPUN) setiap menjelang Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN). Hal ini penting dilakukan sebagai rasa peduli kepada adik-adik kelas yang hendak mengenyam pendidikan lebih tinggi.

“Kami akan membimbing terus adik-adik yang hendak mengikuti (SBMPTN) tiap tahunnya,” ujar Ketua PC IPNU Kabupaten Tegal Aditio Prasetio saat buka puasa dan sahur bersama Forum Alumni Bimbingan Belajar Pasca Ujian Nasional.

Tiap Tahun IPNU-IPPNU Tegal Bimbing Siswa Masuk Perguruan Tinggi (Sumber Gambar : Nu Online)
Tiap Tahun IPNU-IPPNU Tegal Bimbing Siswa Masuk Perguruan Tinggi (Sumber Gambar : Nu Online)

Tiap Tahun IPNU-IPPNU Tegal Bimbing Siswa Masuk Perguruan Tinggi

Meskipun pandai, kata Adit, dalam SBMPTN perlu strategi yang jitu agar mendapatkan perguruan tinggi yang berkualitas. Meski demikian, dalam SBMPTN perlu dilandasi sikap dan sifat jujur saat mengerjakan soal ujian. Dengan kesiapan belajar, maka saat mengerjakan akan mantap berbuat curang.

KOKAM Tegal

Untuk itu, perlu dilakukan ikhtiar bersama dengan cara belajar bersama yang dilandasi dengan kejujuran. “Buat apa masuk perguruan tinggi negeri dengan jalan tidak jujur, tentu nanti ilmu yang didapatkannya kurang bermanfaat,” tandasnya.

KOKAM Tegal

Sebanyak 60 alumni BPUN 2015 hingga hari ini masih eksis, meski di pantau dari media sosial. Termasuk penyelenggaraan buka puasa dan sahur bersama ini undangan hanya dishare melalui media sosial. “Kami harap, para alumni ketika sudah berada di perguruan tinggi harus bisa mengembangkan amaliyah-amaliyah NU serta pengetahuan tentang Aswaja di kampus masing masing,” harap Adit.

Koordinator kegiatan Pido, menambahkan ajang silaturahmi ini sekaligus melepas kerinduan saat belajar bersama di gedung PCNU Kab Tegal. “Mudah-mudahan pada 9 Juli 2015, semua peserta lulus SBMPTN 2015,” ujarnya penuh harap. (wasdiun/abdullah alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal News, Cerita, Humor Islam KOKAM Tegal

Rabu, 06 Desember 2017

Novelisasi Sejarah, antara Sastra dan Pelecehan Sejarah

Setelah genre fiksi islami hampir ‘habis’, dunia sastra kita belakangan sedang kebanjiran sastra sejarah, juga sastra biografi. Sampai-sampai helatan sastra genre ini secara khusus digelar secara akbar; Borobudor Writers % Cultural Festival di Magelang, belum lama.

Sebenarnya, menulis cerita rekaan atau fiksi yang gagasan dasarnya diambil dari catatan sejarah, bukanlah barang baru di negeri ini, setidaknya itu bisa ditelisik dalam hampir semua karya-karya sastrawan Pramoedya Ananta Toer, sebutlah salah satu karya besarnya; Arus balik. Tetapi genre penulisan sastra sejarah tidaklah berjubal dan semencolok akhir-akhir ini.

Novelisasi Sejarah, antara Sastra dan Pelecehan Sejarah (Sumber Gambar : Nu Online)
Novelisasi Sejarah, antara Sastra dan Pelecehan Sejarah (Sumber Gambar : Nu Online)

Novelisasi Sejarah, antara Sastra dan Pelecehan Sejarah

Dan, problem yang masih ditinggalkan dalam perhelatan akbar itu adalah; sejauh mana seorang penulis bisa  mengeksplorasi sejarah itu ke dalam dunia fiksi? Atau sejauh mana batas-etik antara penuturan ulang fakta sejarah itu, sehingga tidak berdampak pada kemungkinan pelecehan pada fakta sejarah? 

KOKAM Tegal

Pertanyaan tersebut penting diajukan. Sebab, kebanyakan penulis masih meyakini bahwa dunia novel-sejarah adalah dunia bebas berimajinasi dan suka-suka dalam menuangkan idenya. Tetapi dampak dari sikap gegebah ini sungguh tidak sepele, yaitu hak anak bangsa mendapatkan fakta sejarah tercidrai, dan sebaliknya mereka akan mendapatkan sejarah palsu dan menyesatkan.

KOKAM Tegal

Kegelisahan ini patut disebut disini, jika misalnya kita menelisik novel sejarah Wali Songo, karya Damar Shasangka, sang penulis mendedahkan sejarah versi baru dengan berkesimpulan. Misalnya, Sunan Giri menitahkan pembakaran lontar-lontar agama leluhur, Siwa Budha, yang masih banyak disimpan penduduk Jawa. Kemudian oleh penerbit dibuatlah atas sinopsis yang mencengangkan kesadaran ilmiah ini dikatakan secara besar-besaran sebagai Novel Sejarah Terbaik tahun Ini! Tetapi, benarkah demikian?

Sejarawan Thomas Stamford Raflles, dalam bukunya The History of Java, menuturkan bahwa drama penyebaran Islam di tanah Jawa oleh Wali Songo misalnya, sama sekali tidak seperti yang dituturkan penulis novel tersebut. Tetapi prosesnya dilakukan dengan cara damai dan inkulturasi, dan itu sama sekali tidak menghakimi sesat atau bid’ah tradisi masyarakat Jawa, apalagi sampai membakar khazanah intelektual, sekalipun tradisi tersebut berbau animistik-Hinduistik. 

Misalnya, mereka tidak menghancurkan candi-candi, tidak pula menganjurkan pribumi untuk memakai gamis, memelihara jenggot dan lain sebagainya. Tapi, Wali Songo malah mengarifi budaya lokal setempat dengan menjadikannya sebagai instrumen penyebaran Islam, disinilah peran pesantren sangat siginifikan. Misalnya pesantren yang didirikan oleh Raden Rahmat di Ampel Denta Surabaya dan Sunan Giri di Giri yang terus mengajarkan ajaran guru bhakti sebagai etika islam-Jawa, padahal guru bhakti berasal dari kearifan lokal (hindu).

Selanjutnya, keluaran pesantren Giri ini banyak yang diundang ke Maluku Untuk mengajarkan agama Islam. Pada saat itu Pesantren (bisa disebut Padepokan) tidak saja digunakan untuk mengaji dalam pengertian an-sich, akan tetapi juga  dipergunakan sebagai alat kebudayaan, sebagaimana telah dipraktikkan oleh Sunan Kalijaga yang memanfaatkan wayang dan tembang untuk menarik masa agar masuk Islam. 

Sunan Kalijaga adalah pencipta wayang kulit dan tokoh yang paling mahir dalam mementaskan wayang, dan kini kesenian itu menjadi kesenian tradisional Jawa yang paling popular hingga saat ini. 

Sunan Kalijaga tidak pernah meminta upah pertunjukan, tetapi ia meminta para penonton untuk mengikutinya mengucapkan kalimat syahadat. Sebagian besar cerita wayang masih dipetik dari cerita Mahabharata dan Ramayana, namun telah dipangkasi akar-akar hinduisme di dalamnya. Di dalam cerita itu disisipkan ajaran dan nama-nama pahlawan Islam. 

Kesenian-kesinian lain juga dijadikan alat Islamisasi, seperti sastra (hikayat, babad, dan sebagainya), seni bangunan dan seni ukir. Masih terawatnya candi-candi bangunan hindu-budha hinga kini (bahkan masjid yang berarsitektur candi seperti di Masjid Kudus, Masjid Giri dan lain sebagainya), juga populernya cerita Ramayana di kalangan Islam-Jawa, sebagai bukti, bahwa para Wali Songo, sungguh begitu merawat khazanah lokal.

Selain Raflles, masih banyak sejarawan ahli yang berpendapat serupa, beberapa bisa disinggung disini: PA van der Lith, dalam ‘Ajaib al-Hind, (Leiden, Brill, 1883), WP. Groeneveld, dalam “Notes on The Malay Archipelogo and  Malacca Compiled from Chines Sources”, (VBG, 39, 1880), Syed M. Naquib Al-Attas dalam Historical Fact and Fiction,  UTM-CASIS, (Kuala Lumpur, 2011), Marshal Hodgson dalam The Venture of Islam, (The University of Chicago Press, 1974), Nikii Keddie dalam Islam and Society in Minangkabau and in the Middle East: Coparative Reflections, dalam Sojourn,  Volume 2, No. 1 Tahun 1987). Sartono Kartodirdjo, Protest Movement in Rural Java, (Kuala Lumpur: Oxford University  Press, 1978) dan lain sebagainya. 

Tidak hanya itu, novel Wali Songo juga menyebutkan data kontroversial yang belum bisa dipertanggung-jawabkan secara ilmiah dan banyak cela yang bisa kita perdebatkan; katanya Nyo Lay Wa, adalah seorang muslim China yang ditahbiskan menjadi raja Majapahit. 

Kembali ke genre sastra sejarah. Perbincangan sastra jenis ini semakin kuat sejak munculnya buku The Mirror and The Lamp karya M.H. Abrams. Buku Abrams ini kemudian menjadi induk teori pendekatan terhadap kajian karya sastra yang menjadi pegangan utama para kritikus dan pencipta. 

Abrams menyebutkan ada empat pendekatan terhadap karya sastra, satu di antaranya adalah cermin sejarah, atau yang biasa disebutnya sebagai teori mimesis. Artinya dalam teori ini fakta sejarah ditulis ulang dengan pendekatan sastra. Tetapi bagi Abrahams, jika penulis memilih jalan ini, secara etika haruslah ia berpedoman pada data-data ilmiah yang bisa dipertanggungjawabkan. Karena dalam genre ini mengikutkan refrensi sebagai sumber cerita atau mendahuluinya dengan penelitian adalah keharusan secara etik. 

Oleh karena itu layak bagi kita kemudian mengajukan sebuah pertanyaan, ada misi apa dengan penulisan novel sejarah Wali Songo versi Damar itu? Benarkah penulisnya hanya sekadar cari sensasi, dan memosisikan dirinya hanya sebagai pabrik cerita yang asal saja tulis, karena kehidupan ekonominya benar-benar sulit, sebagaimana yang disinyalir oleh Yudhi Aw (salah seorang peserta festival itu), penulis novel Diponegoro, bahwa seorang penulis baru seperti Damar mungkin hanya mendapatkan honor 3 sampai 4 juta perjudul buku, dan untuk hidup selanjutnya ia harus menulis lagi, karenanya tak mungkin melakukan riset secara serius. 

Kalau demikian adanya, celaka benar nasib generasi muda yang mewarisi karya asal jadi seperti ini? Wallahu Alam Bishawab. (Penulis adalah aktivis Lesbumi D.I.Y dan Dosen Filsafat di STAIS Al-Muhsin Yogyakarta)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Cerita, Ubudiyah, Halaqoh KOKAM Tegal

Selasa, 21 November 2017

Bantu Arus Mudik, Pramuka Brebes Terjunkan 1015 Anggota

Brebes, KOKAM Tegal. Sebanyak 1015 Anggota Pramuka Kwartir Cabang (Kwarcab) 11.29 Brebes yang tergabung dalam Saka Bhayangkara membantu arus mudik dan balik lebaran 1436 H. Penerjunan anggota pramuka diharapkan dapat membantu kelancaran dan meminimalisir angka kecelakaan. Mereka ditempatkan di titik-titik rawan kecelakaan.

Bantu Arus Mudik, Pramuka Brebes Terjunkan 1015 Anggota (Sumber Gambar : Nu Online)
Bantu Arus Mudik, Pramuka Brebes Terjunkan 1015 Anggota (Sumber Gambar : Nu Online)

Bantu Arus Mudik, Pramuka Brebes Terjunkan 1015 Anggota

“Kami menerjunkan 1015 anggota pramuka dalam pengamanan arus mudik dan balik lebaran,” ujar Ketua Kwarcab Brebes H Emastoni Ezam SH MH di Sanggar Kwarcab setempat, Rabu (1/7).

Menurutnya, sumbangsih Pramuka ini sebagai perwujudan pengamalan  Tri Satya dan Dasa Darma Pramuka. Utamanya pada darma keempat yakni rela menolong dan tabah. Mereka yang diterjunkan adalah anggota Saka Bhayangkara dan Saka Pandu Wisata.

KOKAM Tegal

Pramuka Penegak dan Pandega yang usianya sekitar 16 sampai 24 tahun, sudah melakukan pelatihan pengamanan yang dibina oleh Kepolisian Resort dan Sektor di 17 Polsek se-Kabupaten Brebes. “Anggota pramuka itu sudah mendapatkan bekal keahlian untuk mengatur lalu lintas dan pertolongan lainnya,” kata Kak Toni, demikian panggilan akrabnya.

KOKAM Tegal

Penerjunan anggota Pramuka sejak H-3 hingga H+2. Dalam tugasnya mereka berdampingan dengan pihak kepolisian, di pos-pos milik Polri. Mereka akan ditempatkan di wilayah Pantura dan jalur tengah serta jalur selatan.

Di wilayah Pantura, mereka ditempatkan dari ujung kulon Losari hingga perbatasan Tegal-Brebes. Terutama di exit tol Pejagan dan exit tol Banjaranyar dan pasar Induk Brebes. Wilayah Tengah, meliputi daerah Banjarharjo, Kersana, Ketanggungan, Songgom dan Jatibarang. Di wilayah tengah, bakal terjadi kepadatan juga karena ada limpahan dari exit tol pejagan. 

Sedang Wilayah selatan meliputi Bumiayu, Tonjong dan Paguyangan. “Tanjakan Ciregol menjadi titik pantau yang tidak kalah pentingnya untuk ditempatkan para personil pramuka,” kata Kak Toni lagi. 

Ketua Dewan Kerja Cabang (DKC) Kwarcab Brebes Budi Rohmawan menambahkan, berdasarkan pengalaman tahun yang lalu, dari 800 anggota yang dibutuhkan saat itu, ternyata pada laporan akhir mencapai 980 anggota yang terlibat. “Kemungkinan tahun ini juga anggota yang bergabung akan bertambah pada saat pelaksanaan,” ungkapnya.

Selain di jalan raya, lanjut Budi, anggota pramuka juga akan ditempatkan di tempat-tempat wisata. Seperti di obyek wisata Pantai Randusanga Indah (Par In) sebanyak 40 personil dan waduk Penjalin Paguyangan 25 orang.

Sebagai ucapan terima kasih, para peserta Karya Bakti Pramuka (Kartika) Lebaran 1436 H akan mendapatkan Tanda Ikut Gotong Royong (Tigor). Mereka bertugas secara sukarela, hanya mendapatkan kolak dan makanan saat berbuka puasa. “Alhamdulillah, mereka senang melakukan kegiatan Kartika Lebaran,” tandas Budi. (Wasdiun/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Cerita, Tegal KOKAM Tegal

Senin, 20 November 2017

Fatayat NU Bandar Lampung Gelar Penyuluhan Wakaf

Bandar Lampung, KOKAM Tegal? . Pimpinan Cabang Fatayat NU Kota Bandar Lampung menggelar Penyuluhan Perwakafan di Pondok Pesantren Al-Hikmah Way Halim Bandar Lampung, Jum’at, (25/12). Kegiatan tersebut bertema “Optimalisasi Peran Fatayat Nahdlatul Ulama Dalam Meningkatkan Pengetahuan dan Pemahaman Tentang Pemberdayaan Wakaf Produktif.”

Penyuluhan yang dibuka Ketua Pimpinan Wilayah Fatayat NU Lampung Khalida tersebut diikuti 50 peserta. Mereka adalah kader PC Fatayat NU Kota Bandar Lampung, PC Muslimat Bandar Lampung, dan IPPNU Kota Bandar Lampung. Acara ini juga dihadiri oleh Kementerian Agama Provinsi Lampung, Kementerian Agama Kota Bandar Lampung, PC GP Ansor Kota Bandar Lampung.

Fatayat NU Bandar Lampung Gelar Penyuluhan Wakaf (Sumber Gambar : Nu Online)
Fatayat NU Bandar Lampung Gelar Penyuluhan Wakaf (Sumber Gambar : Nu Online)

Fatayat NU Bandar Lampung Gelar Penyuluhan Wakaf

Dalam penyuluhan itu menghadirkan 2 pemateri yaitu akademisi Fakultas Hukum dan Syari’ah IAIN Raden Intan Lampung KH Kahairuddin Tahmid. Ia fokus menyampaikan materi “Profesionalisme Nadzir Dalam Mengelola dan Mengembangkan Harta Benda Wakaf”. Narasmuber lainnya yaitu Kepala Kementerian Agama Kota Bandar Lampung H. Seraden. Ia menyampaikan materi “Kebijakan Pemerintah Tentang Wakaf”.

KOKAM Tegal

Ketua PC Fatayat NU Kota Bandar Lampung Ika Kartika mengatakan, PC Fatayat NU Kota Bandar Lampung senantiasa berperan aktif didalam segala bidang pembangunan termasuk merespon program-program pemberdayaan ekonomi umat.?

KOKAM Tegal

“Pemberdayaan wakaf yang selama ini seolah-olah wakaf itu menjadi persoalan lelaki dan hanya dapat diselesaikan oleh kaum lelaki. Oleh karena itu Fatayat NU memberikan penyuluhan wakaf dalam rangka meningkatkan pengetahuan dan pemberdayaan,” ungkapnya.

Sementara Ketua PW Fatayat NU Lampung Khalida, SH dalam sambutannya mengatakan sebagai organisasi gerakan perempuan kita harus tahu dan mengerti persoalan perwakafan. Wakaf bukan saja persoalan ? lelaki, tapi juga perempuan.?

KH Khairuddin Tahmid dalam pemaparannya materinya mengatakan pengelolaan wakaf hendaknya memperhatikan asas kebermanfaatan yang baik dan benar untuk kesejahteraan dan kepentingan sosial. Oleh karena itu nadzir hendaknya memiliki ilmu pengetahuan dalam mengelola dan mengembangkan harta benda wakaf sesuai dengan ketentuan UU No 41 Tahun 2004 Tentang Wakaf, sehingga dapat memelihara, memperdayakan dan menginvestasikan wakaf.

Sementara H. Seraden, MH dalam pemaparan materinya wakaf merupakan potensi dan asset umat Islam yang cukup besar dan dapat didayagunakan bagi upaya penyelamatan nasib puluhan juta rakyat Indonesia yang masih hidup dibawah garis kemiskinan.?

Ia menambahkan, ada poin terpenting dalam mengimplementasikan kebijakan pemerintah tentang wakaf yaitu regulasi, motivator, fasilitator. “Oleh karena itu dengan adanya payung hukum/regulasi yang jelas maka dapat memotivasi atau memberi pemahaman terhadap masyarakat dalam pengelolahan wakaf secara produktif akan memiliki arti strategis dalam rangka memperdayakan ekonomi umat dan meningkatkan kesejahteraan umat,” katanya. (Rudi Santoso/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Cerita KOKAM Tegal

PBNU Harapkan Persoalan Ahok Cepat Selesai

Jakarta, KOKAM Tegal. Ketua PBNU H Marsudi Syuhud berharap agar persoalan dugaan penistaan agama oleh Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok segera selesai mengingat banyak sekali energi bangsa Indonesia belakangan ini terserap untuk membahas masalah tersebut.?

“Sesuai dengan harapan presiden, agar jangan sampai merembet ke persoalan lain yang lebih besar,” katanya di gedung PBNU, Selasa (8/11).

PBNU Harapkan Persoalan Ahok Cepat Selesai (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Harapkan Persoalan Ahok Cepat Selesai (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Harapkan Persoalan Ahok Cepat Selesai

Dikatakannya, dalam pertemuan dengan jajaran pengurus PBNU Senin (7/11), presiden menyatakan bahwa dirinya tidak melindungi Ahok. Pernyataan tersebut merupakan pengulangan dari ucapan sebelumnya di istana.?

“Artinya, presiden ingin menjunjung tinggi hukum. Bahwa siapapun memiliki kedudukan yang sama di depan hukum,” imbuhnya.?

KOKAM Tegal

Penegakan hukum, merupakan upaya kanalisasi persoalan agar tidak merembet ke persoalan-persoalan lainnya. Kemaslahatan umum harus didahulukan daripada kepentingan individu dan kelompok.?

“Nah, kalau dibawa ke persoalan lainnya, berarti ada agenda lain di luar agenda hukum,” ujarnya.?

Mengenai adanya sejumlah pernyataan sikap atau meme yang beredar di sosial media yang mengatasnamakan elemen NU, ia berharap agar masyarakat melakukan tabayyun ke NU. (Mukafi Niam)

KOKAM Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Cerita, AlaNu KOKAM Tegal

Selasa, 14 November 2017

Isi Kuliah Umum di Singapura, Kiai Said Sampaikan Islam Nusantara

Jakarta, KOKAM Tegal. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj menjadi pembicara dalam acara kuliah umum di Nanyang Technological University (NTU) Singapura hari ini, Senin (13/3).

Dia akan menyampaikan materi bertema Promoting Moderation And Tolerance In Indonesia: The Nahdlatul Ulama’s Story yang diselenggarakan oleh S. Rajaratnam School of International Studies (RSiS) NTU di Sheraton Towers Singapore, Singapura, pukul 15.30 waktu setempat.

Isi Kuliah Umum di Singapura, Kiai Said Sampaikan Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)
Isi Kuliah Umum di Singapura, Kiai Said Sampaikan Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)

Isi Kuliah Umum di Singapura, Kiai Said Sampaikan Islam Nusantara

Dalam acara tersebut, Kiai yang akrab dipanggil Kang Said tersebut akan berbicara tentang Islam Nusantara yang mempromosikan moderasi, toleran terhadap keyakinan lain, dan menghargai budaya lokal.

Selain itu, Kang Said juga akan memaparkan langkah-langkah NU dalam mempromosikan Islam Nusantara di negara-negara Islam.?

Kemudian, Pengasuh Pesantren Al-Tsaqafah Ciganjur, Jakarta Selatan ini akan menjelaskan bagaimana Islam Nusantara diterima oleh komunitas masyarakat Islam Indonesia.?

KOKAM Tegal

Islam Nusantara merupakan terma yang diusung oleh Nahdlatul Ulama untuk meng-counter attack paham ekstremis-radikal yang sedang menjamur di negara-negara Islam, termasuk Indonesia.

RSiS merupakan sekolah otonom di Universitas Teknologi Nanyang. Ia didirikan tahun 2007. Misi mereka adalah menjadi sebuah institusi riset dan pengajaran tingkat sarjana dalam bidang strategi dan internasional di Asia Pasifik. (Muchlishon Rohmat/Fathoni)

KOKAM Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Cerita, Bahtsul Masail, Pendidikan KOKAM Tegal

Minggu, 05 November 2017

Hanya Pemuda Seperti Ini Layak Pimpin GP Ansor

Makassar, KOKAM Tegal. Gerakan Pemuda Ansor hanya layak dipimpin oleh individu-individu yang memiliki jiwa kepemimpinan yang mau berbuat, memberi manfaat bagi agama, masyarakat dan bangsa melalui badan otonom Nahdlatul Ulama (NU) tersebut.

Pernyataan itu disampaikan Instruktur Kursus Banser Pimpinan (Susbanpim) IV Entjeng Shobirin Nadj, di Makassar, Ahad (26/3), di aula Balai Latihan Kerja Indonesia (BLKI) setempat.

Hanya Pemuda Seperti Ini Layak Pimpin GP Ansor (Sumber Gambar : Nu Online)
Hanya Pemuda Seperti Ini Layak Pimpin GP Ansor (Sumber Gambar : Nu Online)

Hanya Pemuda Seperti Ini Layak Pimpin GP Ansor

Hal lain yang diperlukan Banser sebagai kader inti pemuda Ansor ialah profesionalisme. Untuk mencapainya, keahlian spesifik dan kompeten di bidangnya harus dimiliki. Masyarakat Tionghoa, misalnya, kompeten atau jago di bidang bisnis.

?

KOKAM Tegal

Pria kelahiran Garut, Jawa Barat, 16 Juni 1957 itu juga menyatakan, Banser harus memiliki daya saing seiring perkembangan zaman. Selain itu harus berkomitmen terhadap Pancasila dan NKRI.

Kepedulian berikut rasa tanggung jawab juga harus dibangun. Termasuk siap diperintah untuk ambil bagian dalam menjaga ideologi Aswaja dan bangsa.? Berani menyediakan waktu, pikiran dan jiwa raga, serta sebagian hartanya bagi organisasi.

KOKAM Tegal

Tanpa jiwa kepemimpinan, tidak akan ada gerakan untuk memenangkan organisasi dari perubahan jaman penuh tantangan.

Entjeng berharap, para peserta Susbanpim IV dari sejumlah provinsi seperti Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Yogyakarta, Jawa Tengah, Kalimantan dan Papua memiliki jiwa kepemimpinan. (Gatot Arifianto/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Budaya, Cerita, Internasional KOKAM Tegal

Sabtu, 04 November 2017

NU Mengutamakan Ibadah daripada Akal

Jakarta, KOKAM Tegal. Dalam menentukan awal awal bulan Qamariyah atau Hijriyah, khususnya awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah, NU mendasarkan pada ruyatul hilal bil fi’li atau biasa dikenal dengan rukyah yakni melihat bulan dengan mata kepala, sesuai dengan perintah Nabi Muhammad SAW. Adapun hisab atau perhitungan menurut cara ilmu pengetahuan (astronomi) hanya berfungsi sebagai pembantu belaka.

Prinsip NU ini dikenal dengan ta’abbudiy (ibadah atau mengabdi) atau taqdiimut ta’abbud ‘alat-ta’aqqul (mendahulukan ibadah dari akal) atau ikmaalut-ta’abbud bit-ta’aqqul (menyempurnakan ibadah dengan akal).

NU Mengutamakan Ibadah daripada Akal (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Mengutamakan Ibadah daripada Akal (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Mengutamakan Ibadah daripada Akal

“Ketika Rasulullah memerintahkan untuk mengadakan observasi atau melihat bulan untuk menentukan awal bulan ya kita lakukan dengan maksud ta’abbudy itu. NU tidak berdasarkan hisab, karena tak ada perintahnya secara eksplisit,” kata Ketua Umum Pengurus Pusat Lajnah Falakiyah Nahdlatul Ulama KH Ghozali Masroeri, di Jakarta, Selasa (17/10). Bukan berarti tidak menghargai ilmu pengetahuan, prinsip di atas menempatkan ilmu pengetahuan hanya sebagai alat bantu dalam melaksanakan ibadah atau pengabdian kepada Allah SWT. Dalam penentuan awal bulan Hijriyah, hisab dapat menjadi pemandu umat Islam dalam melakukan rukyah.

“Itu namanya menyempurnakan nilai ibadah dengan menggunakan akal,” kata Kiai Ghozali Masroeri. “Sama saja ketika dalam shalat kita diperintahkan untuk menghadap kiblat, maka umat Islam tidak bisa tidak harus menghadap kiblat. Akan tetapi dalam menyempurnakan arah kiblat sehingga tidak menyimpang satu serajat sekalipun perlu digunakan ilmu hisab.”

Kiai Ghozali Masroeri menambahkan, sikap mengutamakan ibadah itu perlu ditekankan, karena saat ini, katanya, di kalangan anak muda shalat semata-mata didefinisikan sebagai sebuah alat untuk mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Ada yang berpendirian bahwa shalat tidak harus memakai cara-cara yang diajarkan Nabi. “Ini namanya mendahulukan akal dari pada ibadah,” katanya.

KOKAM Tegal

Akhirnya, Al-Qur’an dan Hadits justru malah dilupakan. Dalam konteks penentuan awal bulan Hijriyah, kata Kiai Ghozali Masroeri, sikap memaksakan hisab sebagai satu-satunya alat untuk menentukan awal bulan dengan tanpa melakukan rukyah sebenarnya telah mengingkari perintah Nabi. (nam)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal

KOKAM Tegal Cerita KOKAM Tegal

Selasa, 17 Oktober 2017

Guru Penggerak Kemerdekaan Indonesia

Sumenep, KOKAM Tegal - Salah seorang Dewan Pengasuh Pesantren Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep, K M Mushthafa menyampaikan taushiyah kebangsaan pada upacara kemerdekaan, Rabu (17/8). Di depan para santri, alumnus Universitas Gajah Mada (UGM) tersebut menegaskan, guru adalah penggerak kemerdekaan Indonesia.

"Ingat, Budi Utomo sejak berdiri 1906 sampai 1926 masih tetap berbau Jawanisme (kesukuan). Dan alasan ini telah menggugurkan anggapan bahwa Budi Utomo merupakan penggerak nasionalisme Indonesia," ujar Kiai Mushthafa.

Guru Penggerak Kemerdekaan Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Guru Penggerak Kemerdekaan Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Guru Penggerak Kemerdekaan Indonesia

Ditambahkan, kebangkitan kebangsaan melibatkan semua unsur di negeri ini. Kemerdekaan kita diilhami oleh kaum pelajar yang berprofesi sebagai pendidik. Pada tahun 1922, Taman Siswa oleh Ki Hajar Dewantara adalah murni gerakan pendidikan kebangsaan.

"Semua aktivis pergerakan kemerdekaan, Soekarno, Hatta, Syahrir, Maramis, Subardjo, dan lain-lain adalah seorang guru," bebernya.

KOKAM Tegal

Proses kelahiran Indonesia, ujarnya, juga diilhami oleh kalangan pendidik dunia pesantren. Sebut saja Pesantren Annuqayah? yang adalah lembaga pondok penyuplai pejuang dalam Hizbullah sekaligus melahirkan guru pejuang.

KOKAM Tegal

"Kita tidak ragu peran K. Sajjad dan K. Khazin dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Kita pun tak pernah ragu peran KH. Wahab Hasbullah dan KH. Mas Mansur sebagai pejuang dan sekaligus pendidik," ungkapnya.

Keterlibatan guru, tukas Kiai Mushthafa, tidak terlepas dari pemahaman bahwa membangun bangsa adalah sebagian dari iman. (Hairul Anam/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Cerita, Amalan KOKAM Tegal

Kamis, 28 September 2017

IPNU-IPPNU Probolinggo Galang Dana Bantuan Korban Kelud

Probolinggo, KOKAM Tegal. Sebagai bentuk kepedulian sesama, Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Puteri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Probolinggo melakukan penggalangan dana untuk korban letusan gunung Kelud di perempatan desa Laweyan kecamatan Sumberasih, Probolinggo, Selasa (25/2).

Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 09.00 hingga 13.00 WIB ini melibatkan sedikitnya 12 pengurus IPNU dan 13 pengurus IPPNU. Selain pengurus cabang, relawan juga berasal dari pengurus Pimpinan Anak Cabang (PAC) se-Probolinggo.

IPNU-IPPNU Probolinggo Galang Dana Bantuan Korban Kelud (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Probolinggo Galang Dana Bantuan Korban Kelud (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Probolinggo Galang Dana Bantuan Korban Kelud

Dari penggalangan dana ini, para relawan mencatat dana terkumpul sebesar Rp. 675.000. “Nantinya, dana ini langsung ditransfer ke rekening Sekretariat PWNU Jatim untuk selanjutnya disalurkan kepada para korban,” kata Ketua PC IPNU Probolinggo Eko Cahyono.

KOKAM Tegal

Menurut Eko, IPNU dan IPPNU memang harus mempunyai kepekaan sosial tinggi terhadap situasi dan kondisi lingkungan.

“Melalui kegiatan ini diharapkan rasa kepedulian kader IPNU-IPPNU lebih semakin tajam terhadap lingkungan. Masyarakat terutama pemerintah bisa lebih konsisten dalam mengatasi korban bencana alam,” ujar Eko.

KOKAM Tegal

Sementara Ketua PC IPPNU Probolinggo Shofia menambahkan, “Walaupun jumlahnya tidak seberapa, semoga bantuan ini bisa bermanfaat bagi saudara-saudara kita di sana. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Aswaja, Cerita KOKAM Tegal

Rabu, 16 Agustus 2017

PPI Yaman Gelar Seminar Kemandirian Pesantren

Tarim, KOKAM Tegal . Lawatan KH Mahfudz Syaubari ke Yaman dimanfaatkan para pelajar Indonesia di Yaman untuk mengisi seminar ilmiah. Pengasuh Pondok Pesantren Riyadhul Jannah Pacet Mojokerto ini, selain mempresentasikan konsep ekonomi Islam menuju kemandirian pesantren, juga memberikan contoh konkrit yang sekarang bisa disaksikan.

“Puluhan restoran, perkebunan, hasil perternakan, pertanian yang kini digeluti di pesantren kami merupakan pengembangan pola ekonomi yang pernah diajarkan rasul”, terang kiai ini dalam lawatannya ke Yaman beberapa hari lalu, seperti disampaikan dalam rilis PPI Yaman, Kamis (24/4).

PPI Yaman Gelar Seminar Kemandirian Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
PPI Yaman Gelar Seminar Kemandirian Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

PPI Yaman Gelar Seminar Kemandirian Pesantren

Makna zuhud, wara’ bukan berarti tak punya harta, dengan gubuk yang reot, baju nan kusut, konotasi ini terbantahkan oleh apa yang dipraktikkan Nabi, tambahnya. Berapa emas kawin yang diberikan Rasulullah kepada Siti Khadijah, 200 onta, apakah nabi miskin?  Bukan tentunya.

KOKAM Tegal

Hutang negara Indonesia yang dilansir pada tahun 2013 mencapai 2300 T, hutang ini akan sulit terlunasi melihat PR dan penyakit bangsa yang kini kiat akut. Apalagi kalau pesantren akan menggantungkan biaya operasional dengan proposal ke pemerintah, menurutnya sulit.

KOKAM Tegal

Negara Indonesia yang terkenal dengan gemah ripah loh jinawi (baca ; jawa. red) kini sudah terjajah oleh investor asing, data menunjukan bahwa kekayaan Indonesia sudah sekitar 60% dikelola warga asing, bagaimana kita akan melunasi hutang negara yang sudah menumpuk? Sulit.

Maka, dengan seminar kemandrian pesantren, yang kini kapasitas pesantren sebagai lembaga pendidakan harus mulai sadar untuk membangun kedaulatan bagi bangsanya.

Acara yang berlangsung di Sutuh Asrama Universitas Al-Ahgaff ini, cukup menyedot banyak diskusan. Akhirnya seminar ditutup sampai jam 23.30 KSA dengan doa bersama, dan penyerahan cinderamata dari PPI Hadhramaut. (M. Abdul Muhith/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Ahlussunnah, Cerita, Warta KOKAM Tegal

Selasa, 11 Juli 2017

Ratusan Banser Brebes Digembleng pada PKD dan Diklatsar

Brebes, KOKAM Tegal. Sebanyak 180 anggota Barisan Ansor Brebes, Jawa Tengah, digembleng secara fisik dan mental dalam Pelatihan Kepemimpinan Dasar (PKD) dan Pendidikan Pelatihan Dasar (Diklatsar) Banser. Mereka mendapatkan berbagai materi dan praktek tentang berbagai hal guna menguatkan diri sebagai anggota Banser yang berkualitas.

?

Ratusan Banser Brebes Digembleng pada PKD dan Diklatsar (Sumber Gambar : Nu Online)
Ratusan Banser Brebes Digembleng pada PKD dan Diklatsar (Sumber Gambar : Nu Online)

Ratusan Banser Brebes Digembleng pada PKD dan Diklatsar

Ketua Gerakan Pemuda Ansor Brebes Ahmad Munsip Maksudi menjelaskan, PKD dan diklatsar digelar dengan tujuan untuk mencetak kader-kader penerus Ansor yang militan didalam memperjuangkan Aqidah Ahlusunah wal-Jamaah Annahdliyah.

"Kami perlu memberikan doktrin Aswaja di dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia guna membentengi pengaruh paham radikalisme," terang Munsip saat menyampaikan sambutan pembukaan PKD dan diklatsar di SMA Nurul Huda NU Paguyangan, Brebes, Sabtu (6/2) lalu.

KOKAM Tegal

Acara yang digelar selama tiga hari, Sabtu hingga Senin (6-8/2) itu diikuti utusan Pimpinan Anak Cabang (PAC) Tonjong, Bumiayu, Sirampog, Salem, Bantarkawung, dan Paguyangan. “Masing-masing PAC mengirimkan 30 orang kader militan,” katanya.

Wakil Bupati Brebes Narjo SH saat membuka acara membacakan pidato Sambutan Bupati Hj Idza Priyanti SE. Bupati mengajak Ansor untuk selalu mawas diri dan tetap menjadi penolong umat. Dibuktikan dengan menciptakan suasana guyub rukun dalam membangun Brebes tanpa pamrih.

KOKAM Tegal

Narjo menambahkan, bahwa Ansor sebagai garda terdepan pemuda NU harus membela NKRI dan menekan gerakan radikalisme seperti ISIS dan yang baru-baru ini Gafatar dan paham-paham radikal lainnya. “Waspada dan informasikan segala sesuatu yang menyimpang dari tradisi masyarakat agar tetap aman dan kondusif,” ajaknya.

Peserta diklatsar antara lain mendapatkan materi tentang Undang-Undang Lalu Lintas, ketahanan negara, bahaya narkoba, strategi pembangunan daerah, ke-aswaja-an, dan lain-lain.

Peserta juga di gembleng dengan latihan fisik dan mental seperti baris berbaris, haling rintang, pengisian kekebalan tubuh, hingga keprotokolan.? (wasdiun/abdullah alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Makam, Cerita KOKAM Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs KOKAM Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik KOKAM Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan KOKAM Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock