Tampilkan postingan dengan label Nahdlatul Ulama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nahdlatul Ulama. Tampilkan semua postingan

Jumat, 02 Maret 2018

Inilah Empat Ciri Buku Nikah Asli

Jakarta, KOKAM Tegal. Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin kembali menegaskan bahwa siapapun yang terlibat melakukan pemalsuan buku nikah akan dikenakan sanksi pidana. Hal tersebut disampaikan di Kantor Kemenag Kamis (4/6) sore.

“Buku nikah merupakan dokumen negara. Jadi siapapun yang terbukti terlibat dalam pemalsuan buku nikah akan dikenakan sanksi pidana,” tegas Menag seperti dikutip dari situs kemenag.go.id.

Inilah Empat Ciri Buku Nikah Asli (Sumber Gambar : Nu Online)
Inilah Empat Ciri Buku Nikah Asli (Sumber Gambar : Nu Online)

Inilah Empat Ciri Buku Nikah Asli

Namun demikian, Menag tetap mengimbau masyarakat agar mengetahui ciri buku nikah asli. Karena pada dasarnya saat ini buku nikah tidak mudah untuk dipalsukan. 

KOKAM Tegal

“Saat ini, buku nikah sebenarnya relatif sulit untuk dipalsukan karena paling tidak terdapat empat ciri,” jelas Menag.

Lebih lanjut Menag menjelaskan paling tidak terdapat empat ciri khas dari buku nikah. Pertama, pada halaman dalam sampul terdapat halogram berbentuk lingkaran bergambar garuda. Kedua, terdapat lembar transparan mengkilat berhologram untuk menutup lembar identitas pasangan pengantin. 

KOKAM Tegal

Ketiga, terdapat nomor seri dengan sistem lubang pada bagian bawah buku. “Nomor ini punya kode khusus,” tambah Menag sambil menunjukkan contoh buku nikah. Dan keempat, setiap halaman buku apabila diterawang akan terlihat gambar garuda. 

Menag juga mengimbau kepada masyarakat yang menggunakan buku palsu agar melakukan pernikahan ulang agar tercatat secara sah dalam hukum negara. 

“Bagi yang palsu, saya mengimbau agar dilakukan pernikahan ulang supaya pernikahan tersebut tercatat oleh negara,” imbau menag. (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Olahraga, Nahdlatul Ulama, Hikmah KOKAM Tegal

Sabtu, 24 Februari 2018

Keuntungan Bergaul dengan Orang Saleh Menurut Ibnu Athaillah

Persahabatan kita dengan orang saleh dapat membawa keuntungan kepada kita. Persahabatan ini menjadi tanda bahwa kita juga setidaknya mendekati kesalehan yang diridhai oleh Allah SWT sebagaimana disinggung oleh Syekh Ibnu Athaillah dalam hikmah berikut ini.

? ? ? ? ? ? ? ? ?

Keuntungan Bergaul dengan Orang Saleh Menurut Ibnu Athaillah (Sumber Gambar : Nu Online)
Keuntungan Bergaul dengan Orang Saleh Menurut Ibnu Athaillah (Sumber Gambar : Nu Online)

Keuntungan Bergaul dengan Orang Saleh Menurut Ibnu Athaillah

Artinya, “(Mahasuci Allah) yang tidak ‘mempertemukan’ kepada para wali selain orang yang dikehendaki sampai kepada-Nya.”

KOKAM Tegal

Syekh Syarqawi coba menjelaskan bahwa Allah juga memiliki kecemburuan di mana ia tidak memperkenankan orang lain bergaul dengan orang-orang saleh yang menjadi kekasih-Nya. Bahkan, sebagian kekasih-Nya (para wali) tidak dikenal oleh makhluk-Nya termasuk para malaikat sehingga Allah sendiri yang mencabut nyawa mereka.

? ? ?) ? ? ? ? ? (? ? ? ? ? ?) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

KOKAM Tegal

Artinya, “(Mahasuci Allah yang tidak ‘mempertemukan’) memperkenalkan dan menyatukan (kepada para wali selain orang yang dikehendaki sampai kepada-Nya) karena para wali itu adalah kekasih-Nya sehingga dapat menimbulkan ‘cemburu’ jika Allah mempertemukan selain kekasih-Nya dengan para wali itu. Ini berlaku untuk sebagian wali. Mereka adalah orang yang digerakkan untuk suluk. Sedangkan orang yang dikehendaki sampai pada-Nya akan dipertemukan dengan para wali dalam bentuk persahabatan khusus. Para wali itu terbagi dua kategori. Satu kelompok wali diperkenalkan oleh Allah kepada kalangan awam dan kalangan tertentu. Satu kelompok wali lainnya diperkenalkan oleh-Nya hanya kepada kalangan tertentu. Tetapi ada juga sekelompok wali yang tidak diperkenalkan kepada satupun makhluk-Nya termasuk malaikat hafazhah. Allah sendiri yang mencabut nyawa mereka dan tidak memperkenankan tanah mengurai jasad mereka,” (Lihat Syekh Syarqawi, Syarhul Hikam, Semarang, Maktabah Al-Munawwir, juz II, halaman 2-3).

Pergaulan dengan orang saleh membawa berkah tersendiri bagi kesehatan batin manusia. Pergaulan itu membawa pengaruh tersendiri kepada batin manusia dengan catatan tetap menjaga adab terhadap orang-orang saleh itu. Kalau hujan saja bermakna berkah, apalagi para kekasih Allah sebagaimana disebutkan oleh Syekh Zarruq dalam kutipan berikut ini.

?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?... ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?... ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Menurut saya, yang dimaksud ‘wushul’ atau ‘sampai’ di sini adalah mengenal wali Allah dalam bentuk pergaulan yang menuntut pelaksanaan kewajiban berupa penghormatan terhadap perintah dan larangannya… Sejumlah ulama mengatakan, ‘Hujan adalah saat-saat dekat dengan Allah karenanya kita dianjurkan untuk keluar dan tabarukan saat hujan turun. Ini disebutkan oleh Rasulullah SAW. Itu baru keberkahan hujan, apalagi orang beriman ahli makrifat (arifin)?’... Salah satu dalil bahwa memandang wajah arifin dapat menambah makrifat dan lain sebagainya adalah ucapan Anas RA, ‘Tidaklah kami menghalau debu makam Rasulullah SAW yang melekat di tangan kami melainkan kami merasakan ada sesuatu yang kurang di hati ini,’ (lanjutkan terusannya). Secara umum, para wali Allah adalah pintu-Nya. Perkenalan dengan mereka adalah kunci pintu tersebut. Sementara gigi kunci itu adalah upaya menjaga diri agar tetap hormat, khidmat, sopan, dan keluasan rahmat kepada mereka. Siapa yang berinteraksi dengan mereka melalui cara demikian, maka ia akan dibukakan pintu. Tetapi kalau tidak dengan cara itu, maka ia berada dalam bahaya,” (Lihat Syekh Zarruq, Syarhul Hikam, As-Syirkatul Qaumiyah, 2010 M/1431 H, halaman 133-134).

Orang-orang saleh adalah pintu kita masuk kepada Allah. Mereka adalah orang-orang pilihan-Nya. Mereka adalah orang-orang yang selayaknya kita kenal lebih dekat dengan penuh adab dan kesantunan. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Nahdlatul Ulama, Nasional, IMNU KOKAM Tegal

Sabtu, 10 Februari 2018

Soal FDS, Presiden Jokowi Tak Cukup Hanya Bilang Terserah

Jember, KOKAM Tegal - Program Full Day School (FDS) yang digagas Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendi, terus menggelinding bak bola liar. Di mana-mana sejumlah elemen masyarakat dan kalangan pesantren menolak pemberlakuan FDS.

Kendati Presiden Jokowi di berbagai statemennya belakangan ini agak "melunak" dengan memberikan kebebasan pada lembaga pendidikan untuk tidak mengikuti program FDS, tapi tampaknya itu belum cukup membuat penolak FDS tenang.

Soal FDS, Presiden Jokowi Tak Cukup Hanya Bilang Terserah (Sumber Gambar : Nu Online)
Soal FDS, Presiden Jokowi Tak Cukup Hanya Bilang Terserah (Sumber Gambar : Nu Online)

Soal FDS, Presiden Jokowi Tak Cukup Hanya Bilang Terserah

(Baca: Tak Ada Ketentuan Penerapan Opsional dalam Permendikbud Lima Hari Sekolah)?

Penolakan terbaru terhadap pelaksanaan FDS datang dari ulama dan pengurus NU se-eks Karesidenan Besuki. Dalam rapat koordinasi PCNU se-eks Karesidenan? Besuki yang terdiri atas PCNU Jember, Banyuwangi, Kencong, Situbondo, dan Bondowoso di ruang pertemuan RSNU Banyuwangi, Ahad (13/8), mereka sepakat? menolak penerapan FDS.

KOKAM Tegal

Menurut perwakilan PCNU Jember Moch Kholili, selain menolak dengan sejumlah alasan, mereka juga memandang Presiden Jokowi tidak cukup hanya menyatakan bahwa lembaga pendidikan tidak wajib mengikuti program FDS, pemerintah tidak memaksakan lembaga pendidikan untuk mengikuti FDS dan sebagainya. Tetapi yang terpenting adalah harus ada keputusan tentang pencabutan peraturan FDS.

KOKAM Tegal

"Sebab, kalau lembaga di Indonesia sebagian ada yang mengikuti FDS, sebagian lagi tidak, nanti akan kacau, dan cenderung terjadi polarisasi. Presiden jangan setengah-setengah. Tak cukup hanya bilang teserah. Kalau memang ikut menolak, ya tolak. Jika memang setuju FDS, ya terapkan. Tapi kami bulat menolak FDS," kata Kholili kepada KOKAM Tegal.

Sementara itu, Koorinator PCNU se-eks Karesidenan Besuki, KH Syadid Jauhari menilai bahwa pemberlakuan FDS pada akhirnya mengancam keberlangsungan madrasah diniyah yang selama ini terbukti unggul dalam mendidik karakter anak bangsa.

"Selain itu, kami juga tidak melihat upaya penguatan karakter pada penerapan FDS tersebut," ungkapnya. (Aryudi A Razaq/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal PonPes, Ubudiyah, Nahdlatul Ulama KOKAM Tegal

Minggu, 04 Februari 2018

Dari Sulawesi Barat untuk Gus Dur

Jujur saya ingin mengatakan bahwa menulis tentang Gus Dur sebenarnya belum layak karena ketakutan jika nantinya jauh dari kesempurnaan pemikirannya. Penulis tak bisa menggambarkan seperti para penulis biografi Gus Dur lainnya.

Tetapi penulis, sebagai kader kultur NU yang berada di barat Sulawesi pada haul Gus Dur yang ke-4 ini ingin memberikan gambaran singkat dan sederhana tentang sumbangsih ide dan pemikiran Gus Dur bagi Sulawesi Barat.

? ? ?

Dari Sulawesi Barat untuk Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
Dari Sulawesi Barat untuk Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

Dari Sulawesi Barat untuk Gus Dur

Sosok Gus Dur merupakan idola yang sebenarnya ingin penulis temui ketika Muktamar ke-32 di Makassar tahun 2010 silam. Tetapi karena kehendak Tuhan yang lain, Gus Dur terlebih dahulu dipanggil Allah sebelum penulis sempat mencium tangan, bahkan melihat langsung dan menemui beliau.

Walaupun Gus Dur telah tiada, tetapi ide dan gagasan-gagasan Gus Dur tetap melekat dalam sanubari penulis. Salah satu ide dan gagasan briliannya adalah konsep pluralisme dan gagasan tentang kemanusiaan yang senantiasa diterjemahkan dalam beberapa tulisan dan tingkah laku politik di masa lalu.

KOKAM Tegal

Provinsi Sulawesi Barat yang lahir pada tahun 2004 merupakan wilayah yang terdiri dari 6 kabupaten yang bisa dikatakan memiliki penduduk yang multi-suku (Mandar, Bugis, Pattae, Jawa, Mamuju, Sasak/Bali) dan agama (Islam, Kristen Khatolik/Protestan, Hindu).

KOKAM Tegal

Penduduk yang multietnis dan agama di provinsi ini menunjukkan kemajemukan masyarakat yang ada, sehingga paham pluralisme dan multikulturalisme yang telah diperjuangkan Gus Dur juga menjadi kewajiban (fardhu ain) bagi masyarakat Sulbar sendiri, terutama Nahdlatul Ulama Provinsi Sulbar yang menjadi katalistor ide dan perjuangan ideologi Ahlussunnah Wal Jamaah An-Nahdliyah dan Islam inklusif (terbuka).

Sebagaimana yang kita kenal begitu banyak ide dan gagasan Gus Dur baik terkait demokrasi, pembelaan hak minoritas dan Hak Asasi Manusia, pribumisasi Islam dan Islam inkulsif, perdamaian dan pluralisme serta beberapa lagi yang tidak sempat penulis sebutkan.

Terkait gagasan pluralisme, secara nasional sesungguhnya ide Gus Dur ini bukan hanya sekadar ide yang diteriakkan semata dalam rangka menghargai perbedaan sebagai sebuah sunnatullah dalam kehidupan bangsa, tetapi juga diterjemahkan dalam bentuk sikap dan kebijakan.

Sebagai contoh diakuinya agama Konghucu ketika ia presiden, dimana kebijakan Gus Dur memberi kesadaran tersendiri bagi kita tentang penghargaan terhadap umat beragama minoritas di Indonesia. Bahwa kekuasaan mayoritas haruslah melindungi yang minoritas. Karena agama tidak dilihat hanya dalam dalam dimensi akidah dan syariat semata semata, tetapi dimensi kemanusiaan yang harus mampu diterjemah sebagai nilai yang menghargai sisi lain dari kemanusiaan penganut agama itu sendiri.

Sehingga penganut agama seharusnya tidak menjebak diri dalam ranah ekskusif yang mementingkan kelompoknya sendiri. Agama seharusnya bersifat inklusif yang mampu membuka dirinya dan menghargai agama lain yang biasa dikenal juga universalitas agama dalam rangka memperjuangkan nilai kemanusiaan dan kebangsaan di tengah masyarakat yang majemuk di Indonesia secara umum, dan di Sulawesi Barat secara khusus. Sehingga tidak ada lagi kekerasan terhadap agama lain, atau mengatasnamakan agama demi kepentingan kelompok. Faham eksklusif terhadap agama inilah yang kadang digunakan sebagai alat politik (kekuasaan) mengatasnamakan agama dan membuat kita tidak berlaku adil terhadap agama lain.

Pluralisme Gus Dur sesungguhnya pesan bagi kita semua agar senantiasa melakukan dialog antar-umat beragama dan melakukan kerjasama dalam menyelesaikan persoalan kehidupan masyarakat dan berbangsa. Kita semua dituntut agar senantiasa mencari persamaan-persamaan dan kebaikan-kebaikan yang tertanam dalam nilai-masing-masing agama, bukan justru mencari perbedaan dan justifikasi kebenaran pada tingkat akidah belaka, tetapi melupakan kerjasama dalam hal muamalat, yaitu memperbaiki nasib bersama dalam mencapai kesejahteraan lahir dan batin.

Merefleksikan kesadaran di atas, Sulawesi Barat yang memiliki mayoritas penganut agama Islam dan juga bisa dikatakan memiliki beberapa ulama besar yang pernah dilahirkan seperti KH. Muhammad Tohir (Imam Lapeo) dan KH. Muhammad Sholeh, Prof. KH. Sahabuddin, KH. Ilham Shaleh, KH. Muhammad Syibli Sahabuddin dan beberapa ulama lainnya yang tidak sempat disebutkan namanya. Mereka senantiasa konsisten menyebarkan faham Islam rahmatan lil alamin.

Mereka, menurur penulis dapat menjadi inspirasi bagi kader NU dan penulis sendiri serta organisasi-organisasi semisal Nahdlatul Ulama Sulawesi Barat dan PMII Sulawesi Barat untuk terus memperjuangkan dan mendakwahkan ajaran islam inkusif (moderat) dan perhargaan terhadap agama lain dalam dimensi dan nilai-nilai kemanusiaan (pluralisme) sebagaimana yang diajarkan Gus Dur dan ulama Sulawesi Barat saat ini.

Di sisi lain perbedaan adalah bukan wacana baru yang mengemuka dalam frame pemikiran masyarakat di Sulawesi Barat (terkhusus lagi di Polewali) saat ini, apalagi perbedaan agama. Dulu hingga saat sekarang ini, dikenal istilah dalam bahasa Mandar “Malilu sipakainga, manus sioronni.“

Istilah ini merupakan ajaran filosofi yang ditelorkan para leluhur di tanah Mandar dalam bentuk “pappasang” (peringatan) memberikan sinyal bahwa dalam kehidupan bermasyarakat diupayakan senantiasa saling mengingatkan antara satu dengan yang lain tanpa memandang asal usul, suku, agama, dan ras sepanjang hal tersebut mengarah ke arah yang sifatnya positif.

Selain itu, “manus sioronni” adalah menjelaskan hakikat kehidupan agar senantiasa saling tolong menolong antar sesama manusia.

Potensi kerjasama juga bisa dikaitkan dengan modal sosial masyarakat lokal di Sulawesi Barat secara yang umumnya masih banyak dihuni oleh orang Mandar. Di dalam ajaran para leluhur di Mandar dikenal konsep “siwaliparri”. Siwaliparri (bahasa Mandar) berarti, sikalulu atau sirondorondoi yang kurang lebih berarti saling membantu atau bergotong royong.

Merefleksikan pemikiran Gus Dur dan terkait filosofi dan ajaran masyarakat Sulbar saat ini pentinglah untuk selalu diingat dan diimplementasikan. Hal itu karena kegelisahan penulis dari beberapa fakta dimasa lalu di provinsi ini telah terjadi konflik inter dan antaragama mulai dari konflik interumat Jemaat Gereja Toraja Mamasa dan Jemaat gereja Masehi Injil Indo (MII) di Wonomulyo Polewali Mandar tahun 2010 hingga Konflik Aralle Tabulahan Mambi (ATM) di Kabupaten Mamasa Sulawesi Barat tahun 2003 silam.

Artinya, jika perbedaan tidak dikelola secara baik benih konflik bernuansa agama kemungkinan akan bisa mencuat kembali.

Bukan hanya itu, saat ini juga telah mulai terlihat dan menyebarnya beberapa lembaga pendidikan yang beraliran Islam “radikal” di beberapa kabupaten di jazirah Mandar ini. Masuknya ideologi dan aliran Islam eksklusif tersebut nantinya menyebabkan tumbuhnya doktrin radikalisme agama dan merubah pola pikir masyarakat Sulawesi Barat yang jika ditelisik dari sejarah masa lalu telah memahami agama secara inkulsif dan menghargai agama lain agar dapat hidup harmonis dalam perbedaan.

Hal tersebut terjadi dikarenakan penyebaran islam sejak dulu dilakukan oleh ulama di Sulawesi Barat berdimensi sufi dan moderat juga menghargai nilai dan kebudayaan lokal.

Sehingga ketika doktrin agama radikal yang tidak mentolerir agama lain dan menghargai perbedaan serta kebudayaan lokal, dibiarkan tumbuh dan berkembang di daerah yang majemuk ini, dengan sendirinya akan menciptakan benih konflik dan disharmonisasi antar umat beragama dan merusak tatanan kearifan lokal (local wisdom) dalam aspek budaya dan agama yang saling menghargai tadi.

Sehingga sekali lagi bahwa Haul ke-4 Wafatnya KH. Abudrrahman Wahid (Gus Dur) menjadi momentum bagi kita semua terkhusus bagi warga Nahdliyin di Sulawesi Barat untuk mencegah menyebarnya ajaran Islam eksklusif dan radikal di Sulawesi Barat. Juga berusaha terus menggerakkan dan memperjuangkan pemikiran serta gagasan pluralisme dalam rangka menyebarkan nilai kemanusiaan dan Islam yang rahmatan lil alamin di tengah perbedaan yang nantinya dapat mengantarkan kehidupan yang harmonis dan berkeadilaan di atas perbedaan yang telah diberikan oleh Tuhan di Tanah Mandar Sulawesi Barat.

Selamat jalan Gus Dur, selamat guru bangsa Indonesia. Walaupun engkau telah tiada tetapi engkau selalu hidup dalam benak dan sanubari terdalam kami. Do’a kami dari Sulawesi Barat senantiasa menyertaimu Gus. Amin... (Munawir Arifin)

MUNAWIR ARIFIN adalah Ketua Pergerakan Mahasiswa Islam Indonseia (PMII) Provinsi Sulawesi Barat. Penulis bisa ditemui di munawirarif86@gmail.com.

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Nahdlatul Ulama, Pertandingan KOKAM Tegal

Sabtu, 20 Januari 2018

Hobi Elektronik Sejak Belia, Santri Ini Luncurkan Jarepo

Bekasi, KOKAM Tegal



Bagi sebagian orang, jasa reparasi telepon seluler (ponsel) didominasi lulusan sekolah umum atau alumni teknologi informasi (TI). Namun tidak demikian menurut Muhammad Alauddin. Santri juga layak mengetahui sekaligus menguasainya.

Hobi Elektronik Sejak Belia, Santri Ini Luncurkan Jarepo (Sumber Gambar : Nu Online)
Hobi Elektronik Sejak Belia, Santri Ini Luncurkan Jarepo (Sumber Gambar : Nu Online)

Hobi Elektronik Sejak Belia, Santri Ini Luncurkan Jarepo

Berbekal keterampilan di bidang elektronik, pria yang pernah mondok di Pesantren “Amtsilati” Darul Falah Jepara, Jawa Tengah, ini meluncurkan JaRePo (Jasa Repair Ponsel). Ia mengaku menggandrungi dunia elektronika sejak belia. Dengan hobi yang terbilang unik ini, Alauddin menjemput rejeki untuk anak dan istri.

“Saya masih ingat, sekitar kelas 4 SD sudah pegang solder. Waktu itu saya baca-baca buku pelajaran IPA kakak saya. Di situ saya temui pelajaran tentang lampu flip flop,” ujar Alauddin kepada KOKAM Tegal, di konter Jarepo miliknya di bilangan Jatisari, Bekasi, Ahad (20/8).

Untuk meningkatkan kemampuan di bidang elektronik, sejak SMP Alauddin merambah radio pemancar untuk mendengarkan musik kegemarannya. Ia membeli sejumlah komponen radio lalu dirakitnya sendiri.

“Waktu itu kalau pengen ndengerin musik, musti beli radio atau tape. Tentu sekalian kasetnya. Itu mahal sekali. Sekitar 200-an ribu waktu itu. Nah, dengan modal 30 ribu saya bisa merakit sendiri radio pemancar. Akhirnya sejak itu di rumah saya full musik,” kenangnya.

KOKAM Tegal

Dalam menyalurkan hobinya di dunia elektronik, Alauddin mengaku sempat terkendala soal dana ketika ingin kursus. Meski demikian, kondisi tersebut tak membuatnya patah arang. Ia terus belajar otodidak. Melalui buku dan praktik, kemampuannya kian bertambah.

“Saat saya masih duduk di bangku aliyah, mulai banyak HP bertebaran di masyarakat. Lalu saya berpikir, kenapa saya nggak belajar reparasi HP aja. Kan lumayan,” pikir bapak satu anak ini.

Sejak ia merantau di Jakarta beberapa tahun silam, ia mulai menekuni dunia perponselan. Sebelum merintis Jarepo, ia telah bergulat dengan ratusan ponsel rusak. “Saya dapet nama itu (Jarepo-red) setelah googling beberapa hari. Saya memang cari nama unik yang belum ada di Indonesia,” ungkap Alauddin.

KOKAM Tegal

Hingga hari kedua diluncurkan, Jarepo sudah menerima sepuluh pelanggan. Selain reparasi ponsel, Alauddin juga mencipta beberapa produk andalan, yakni socket kekinian. “Pemesannya nggak hanya dari Jawa, tapi ada juga yang Luar Jawa. Pekan ini sudah terjual lebih 72 pieces,” pungkasnya. (Musthofa Asrori/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Nahdlatul Ulama KOKAM Tegal

Minggu, 31 Desember 2017

Dirjen PPMD: Program Kemendes Sangat Perlu Dukungan NU

Jakarta, KOKAM Tegal

NU mempunyai pengalaman dan pengetahuan yang amat besar terkait dengan isu intoleransi dan inklusi sosial. Kemendes memiliki komitmen yang sama dalam merawat kebersamaan kepercayaan tolerasnsi dan pelibatan seluruh warga dalam proses pembangunan dan pemberdayaan. Lembaga keagamaan seperti NU diharapkan bisa menjadi tulang punggung dalam proses memulihkan kembali inklusi sosial itu.

Dirjen PPMD: Program Kemendes Sangat Perlu Dukungan NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Dirjen PPMD: Program Kemendes Sangat Perlu Dukungan NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Dirjen PPMD: Program Kemendes Sangat Perlu Dukungan NU

Demikian dikatakan Direktur Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa (Dirjen PPMD) pada Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi RI Ahmad Erani Yustika, dalam perbincangan dengan KOKAM Tegal seusai menjadi pembicara dalam forum Konsinyering Penyelesaian Problem Diskriminasi, Intoleransi dan Kekerasan Berbasis Agama dan Kepercayaan, Kamis (28/4).

(Baca:? Lakpesdam PBNU Bahas Konsinyering untuk Penyelesaian Problem Diskriminasi)?

Erani menuturkan, Kemendes ingin merangkul semua lapisan masyarakat sipil termasuk NU untuk memastikan agar akidah-akidah yang diusung bukan hanya relevan dengan akidah (Islam), tapi berkesesuaian dengan program pemerintah sehingga bisa terselenggara dengan baik.

Menurutnya, keterlibatan NU dan masyarakat sipil sangat penting karena mereka yang punya pengalaman dan pengetahuan serta praktik dalam kehidupan sehari-hari. Lebih jauh mereka juga melihat secara langsung di lapangan. Ahamd Erani optimis apabila pemerintah punya komitmen yang sama agar kolaborasi dengan masyaraka sipil dan istitusi agama akan lebih mudah menyelesaikan persoalan-persoalan yang ada.

KOKAM Tegal

Nilai-nilai yang diusung semua agama meyakini tentang kebajikan bersama seperti keadilan, kebersamaan, dan toleransi menjadi bagian yang pokok untuk menyangga kehidupan bersama. Dalam hal ini tentu otoritas yang paling otoritatif untuk bisa menjelaskan dan mengamalkan hal itu adalah institusi keagamaan.?

“Kalau hanya sumber daya misalnya anggaran maupun program itu tidak akan pernah efektif selama institusi yang lebih otoritatif tidak terlibat, ditambah lagi jaringan yang demikian luasnya sampai ke pelosok-pelosok yang dimiliki NU menjadi jaminan bahwa komitmen bersama ini akan terkawal,” pungkas Erani. (Kendi Setiawan/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal

KOKAM Tegal Sunnah, Nahdlatul Ulama KOKAM Tegal

Jumat, 29 Desember 2017

Pimpin GP Ansor Madiun, Gus Anam Siap Rangkul Seluruh Kader

Madiun, KOKAM Tegal - Pengurus Cabang GP Ansor NU Kabupaten Madiun sukses menggelar Konferensi Cabang (konfercab) ke-VII, di gedung NU Center Kabupaten Madiun, Ahad (5/11). Forum musyawarah tertinggi ini memilih Khotamil Anam (Gus Anam) sebagai ketua masa khidmat 2017-2021.

Gus Anam menyatakan tekadnya untuk membawa gerbong organisasi GP Ansor Kabupaten Madiun menjadi lebih baik lagi. Dia menegaskan bahwa kepengurusannya nanti akan mengakomodasi seluruh kader yang ada. Para kader, lanjutnya, adalah roh organisasi.

Pimpin GP Ansor Madiun, Gus Anam Siap Rangkul Seluruh Kader (Sumber Gambar : Nu Online)
Pimpin GP Ansor Madiun, Gus Anam Siap Rangkul Seluruh Kader (Sumber Gambar : Nu Online)

Pimpin GP Ansor Madiun, Gus Anam Siap Rangkul Seluruh Kader

"Tidak ada cabang tanpa pimpinan anak cabang. Tiada pula pimpinan anak cabang tanpa pengurus ranting. Sumber dan kader GP Ansor berada di tingkat ranting. Insyaallah kami akan membangkitkan semangat ranting. Kita akan rangkul semua untuk kemajuan Ansor Kabupaten Madiun lebih baik lagi," katanya.

KOKAM Tegal

Gus Anam menekankan pentingnya menjaga komunikasi dengan para Kiai. Sebab para Kiai, jelasnya, merupakan motivator dan penunjuk arah dalam berorganisasi.

Konfercab VII diikuti oleh seluruh pimpinan anak cabang dan pengurus ranting se-Kabupaten Madiun. Konfercab dibuka oleh Bupati Madiun H Muhtarom.

Ketua GP Ansor Madiun Domisioner Gus Rosidin dalam laporanya mengaku puas dengan kinerja pengurus GP Ansor. Berbagai kegiatan dan pengkaderan sudah dilakukan oleh pengurus cabang periode 2013-2017 ini. "Hari ini kita dapat menyelesaikan kepengurusan dengan khusnul khotimah," ucapnya pada acara pembukaan.

KOKAM Tegal

Bupati Madiun H Muhtarom meminta agar ke depan GP Ansor memiliki sebuah unit usaha mandiri. Sebab organisasi ini, menurutnya, memiliki basis hingga akar rumput sehingga potensi para kader harus benar-benar dioptimalkan dalam rangka menuju kemandirian organisasi.

"Agar GP Ansor ini dapat menjadi contoh bagi organisasi kepemudaan lain di wilayah Kabupaten Madiun," tuturnya.

Pesan khusus juga disampaikan oleh Sekertaris GP Ansor Jawa Timur Gus Hamim kepada pengurus GP Ansor Madiun. Menurut Gus Hamim, para pengurus harus selalu update dengan perkembangan zaman. Diantaranya harus memiliki kiat khusus untuk dapat merekrut kader-kader zaman now. (Zaenal Faizin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Nahdlatul Ulama, Doa KOKAM Tegal

Jumat, 22 Desember 2017

Penelitian Naskah Kuno Masjid Agung Solo

Solo, KOKAM Tegal. Litbang Kementerian Agama (Kemenag), beberapa waktu lalu melakukan penelitian terhadap puluhan naskah kuno koleksi Masjid Agung Solo. Penelitian itu melibatkan ahli sejarah dan penghafal Quran. 

“Kami memilih objek penelitian di perpustakaan masjid ini sesuai dengan tema penelitian, yakni Penelitian Naskah Sebagai Sumber Sejarah,” kata Koordinator Peneliti Litbang Kemenag, Muhammad Wardah di sela-sela kegiatannya, beberapa waktu lalu.

Penelitian Naskah Kuno Masjid Agung Solo (Sumber Gambar : Nu Online)
Penelitian Naskah Kuno Masjid Agung Solo (Sumber Gambar : Nu Online)

Penelitian Naskah Kuno Masjid Agung Solo

Dijelaskan, naskah-naskah kuno yang diteliti itu sudah berumur lebih dari 50 tahun. Pada umumnya, tulisan dalam naskah itu berupa tulisan Arab tanpa harokat atau biasa disebut Arab gundul.

KOKAM Tegal

Komponen Masjid Agung juga dijadikan bahan penelitian. Penelitian Masjid Agung Solo antara lain berupa bentuk fisik bangunan berikut makna simbol-simbol yang ada di dalamnya.

“Selain naskah, kami lengkapi data pada masjidnya, seperti simbol sirap tiga tingkat, yang pastinya menggambarkan sesuatu,” terangnya.

KOKAM Tegal

Selain itu, karakteristik jemaah masjid, juga menjadi bahan penelitian tersendiri. Menurutnya, setiap masjid di beberapa wilayah di Indonesia memiliki karakteristik tersendiri. Seperti di salah satu masjid di Ternate yang melarang jemaah yang memakai sarung untuk masuk masjid. Jemaah disarankan memakai celana panjang sebelum masuk masjid.

“Mungkin di masjid ini memiliki karakteristik tersendiri, seperti pada masjid di Ternate itu,” paparnya. 

Ditambahkan, selain kompleks Masjid Agung Solo, ada juga tim lain yang melakukan penelitian serupa dengan mengambil objek berbeda. Objek yang diambil antara lain, Masjid Al Wustho Pura Mangkunegaran dan perpustakaan Keraton Solo.

 

Redaktur   : Mukafi Niam

Kontributor: Ajie Najmuddin

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Nahdlatul Ulama, PonPes KOKAM Tegal

Selasa, 19 Desember 2017

Peci Hitam dan Baju Batik di PKD PMII

Depok, KOKAM Tegal. Pelatihan Kader Dasar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (Komfaka) Cabang Ciputat? berlangsung hangat di tengah udara dingin Sawangan, Depok Kamis-Ahad (15-18/1).

Peci Hitam dan Baju Batik di PKD PMII (Sumber Gambar : Nu Online)
Peci Hitam dan Baju Batik di PKD PMII (Sumber Gambar : Nu Online)

Peci Hitam dan Baju Batik di PKD PMII

PKD yang diadakan oleh Komfaka ini, diadiikuti 35 mahasiswa dari berbagai cabang ini menekankan pentingnya membangun kesadaran kader dalam berbudaya dan berbangsa.

Ketua pelaksana Hifni mengatakan kegitatan PKD sejak Jumat (15/1) hingga Ahad (18/1) merupakan angkatan III. Kegiatan bertema “Membangun Kembali Jati Diri Kader: Refleksi Kritis Kesadaran Kader dalam Berbudaya dan Berbangsa” diikuti peserta dari komisariat-komisariat Ciputat berjumlah 21 orang, Bogor 4 orang, Bandung 8 orang, dan Surabaya 2 orang.

KOKAM Tegal

Peci hitam dan batik menjadi simbol PKD kali ini, sesuai dengan tema berbudaya dan berbangsa, “Selama PKD berlangsung, peserta diwajibkan memakai songkok hitam (putra) dan batik, sebagai wujud membangun kesadaran berbangsa dan berbudaya” kata Kaula Fahmi selaku ketua instuktrul PKD ini.

KOKAM Tegal

Kaula Fahmi berharap kepada para peserta PKD menjadi kader yang ulul albab, “Semoga setelah pelatihan ini para peserta menjadi kader yang ulul albab.”

Ungkapan serupa disampaikan, Ketua Umum PMII Cabang Ciputat, Ahmad Cusanuddin seraya berharap kepada para kader menjadi kader mujahid, yang bisa menyebarkan virus-virus kebaikan Aswaja dan PMII.

“Harapan saya, kalaian bisa menjadi kader mujahid, yang bisa menyebarkan virus-virus kebaikan Aswaja dan ideologi PMII ke seluruh elemen yang berada di kanan-kiri, depan-belakang, dan atas-bawah,” ujarnya ketika penutupan acara PKD, Ahad. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Hikmah, Nahdlatul Ulama, Humor Islam KOKAM Tegal

Jumat, 15 Desember 2017

Odang dan Odong-odong

Entah apakah masih ada yang tahu kalau Odang adalah namanya yang sebenarnya. Dia lebih sering dipanggil dengan nama Paklik Odong-Odong. Itu karena kini dia lebih dikenal sebagai tukang odong-odong yang selalu dinanti oleh anak-anak di kompleks sini.

Sudah sekitar dua tahun Odang menjadi tukang odong-odong. Kini, Odang sudah bisa lebih menikmatinya, bisa tertawa dan bercanda dengan anak-anak atau ibu-ibu yang mengantarkan anaknya. Awalnya Odang hanya terpaksa—siapa juga yang mau menjadi tukang odong-odong kalau tidak terpaksa? Menjadi tukang odong-odong bukan cita-citanya—tentu saja. Dulu, ketika masih SMA, Odang ingin menjadi guru.

Odang dan Odong-odong (Sumber Gambar : Nu Online)
Odang dan Odong-odong (Sumber Gambar : Nu Online)

Odang dan Odong-odong

Odang terlahir bukan dari keluarga yang berada, meski juga tidak miskin sekali. Setidaknya, dia bisa bersekolah sampai tuntas SMA dan punya keinginan untuk kuliah. Untuk itu dia datang ke Surabaya, demi menempuh pendidikan tinggi di sebuah perguruan tinggi swasta, jurusan guru Bahasa Indonesia. Odang ingin menjadi guru. Dalam benaknya ketika itu, menjadi guru adalah cita-cita tinggi yang tampaknya masih bisa digapainya.

 

Menjadi dokter atau insinyur rasanya tidak mungkin, karena kelihatannya membutuhkan biaya besar. Kalau menjadi guru, guru tidak butuh peralatan aneh-aneh yang harus dibeli untuk mengajar. Paling-paling hanya spidol, pulpen, pensil, dan buku. Walaupun dia tahu seorang guru tidak digaji besar, yang artinya tidak akan membuatnya kaya raya, Odang tidak mempermasalahkannya. Toh dari awal dia juga bukan orang kaya. Setidaknya, profesi guru bisa membuat hidupnya berkecukupan dan memberi posisi sosial yang lebih tinggi daripada profesi bapaknya yang seorang petani.

Sesederhana itu dia berpikir

KOKAM Tegal

Namun, apalah daya? Sekarang, cita-cita itu harus dia relakan juga. SPP kuliah jurusan guru memang tidak sebesar jurusan kedokteran, namun masih tetap lebih besar daripada SMA. Orang tuanya di kampung tidak bisa membantunya karena adik-adiknya juga butuh biaya. Dulu, dia pikir dengan bekerja sambilan bisa menutup biaya kuliahnya. Saat kuliah semester pertama, dia kuliah sambil berjualan bakso, yang dia ambil dari seorang juragan. Tapi, rupanya penghasilannya jualan bakso tidak cukup untuk membayar SPP ditambah dengan biaya kehidupan sehari-harinya di Surabaya.

KOKAM Tegal

Semester kedua dia mulai menunggak uang kuliah. Awalnya dia masih mendapat toleransi. Tapi ketika akhirnya semester keduanya berakhir dan dia tetap tidak mampu menutup tunggakannya—apalagi untuk mencicil biaya semester depan—dia terpaksa berhenti. Odang sempat berpikir dengan bekerja lebih keras, nantinya dia akan bisa mengumpulkan lebih banyak uang untuk kembali ke bangku kuliah. Tapi rupanya tidak semudah itu. Hingga kini, lima tahun berselang, Odang bahkan belum menutup tunggakan SPPnya yang dulu.

Dua tahun yang lalu Odang berhenti berjualan bakso. Juragan bakso yang baksonya dia jajakan mendadak menghentikan usahanya karena terlilit hutang yang tidak ada hubungannya dengan dagang bakso—usaha baksonya sebenarnya cukup lancar, tapi juragan itu punya kebiasaan buruk di luar. Masih beruntung Odang bisa dengan cepat mendapatkan pekerjaan pengganti. Tidak lebih baik memang, tapi juga tidak terlalu buruk. Sejak saat itu dia menjadi tukang odong-odong.

Odang mengayuh odong-odongnya berkeliling kompleks dengan iringan lagu anak-anak yang bukan kegemarannya. Pemuda dari desa itu harus menahan malu. Hatinya menggerutu. Ternyata menjadi tukang odong-odong lebih berat daripada berjualan bakso. Ketika berjualan bakso, dia memiliki pelanggan yang lebih beragam. Laki-laki perempuan, tua muda, dan masih sering bertemu dengan pemuda-pemuda sebayanya. Sesekali dia juga didatangi gadis-gadis, yang sedikit-sedikit biasa dia godai.

Namun ketika menjadi tukang odong-odong, dia hanya bertemu dengan anak-anak dan ibu-ibu. Jarang sekali ada bapak-bapak yang menemani anaknya bermain odong-odong. Memang kadang-kadang ada juga kakak perempuan yang cukup manis, yang mengantarkan adiknya naik odong-odong. Tapi, jangankan menggoda. Melirik sedikit saja pasti sudah dicibir oleh ibu-ibu. Sementara, dicibir oleh ibu-ibu adalah masalah yang jauh lebih besar daripada dimaki oleh bapak-bapak.

Lambat laun, Odang mulai meninggalkan rasa malunya. Pelan-pelan dia menerima kenyataan bahwa suka tidak suka dia kini adalah seorang tukang odong-odong. Sedikit-sedikit dia belajar mensyukuri dan menikmati pekerjaannya. Dia juga sudah melupakan keinginan untuk kembali ke bangku kuliah dan menjadi guru.

Bersama dengan terlupakannya cita-citanya itu, terlupakan pula nama Odang. Kini, Odang lebih tenar dipanggil Paklik Odong-Odong. Dialah tukang odong-odong kesayangan anak-anak di kompleks ini, yang selalu menjanjikan kesenangan dengan harga lima ribu saja. Anak-anak senang dengan bentuk kuda-kudaan lucu yang bisa bergoyang-goyang mengikuti irama lagu.

Ibu-ibu senang bisa menenangkan rengekan anak bawelnya. Meski kadang-kadang ada juga ibu-ibu yang kesal karena tahu-tahu anaknya ketagihan naik odong-odong, tapi ketika melihat anak-anak girang di atas punggung kuda-kudaan, tak ayal mereka tersenyum juga.

Kini, Odang mungkin tidak akan menjadi guru. Tapi, siapa tahu? Nanti, ketika anak-anak itu mulai besar dan masuk sekolah, kemudian bertemu dengan guru Bahasa Indonesia, mungkin mereka akan menuliskan tentang Odang dan odong-odongnya di tugas mengarang pertama mereka.

Hasan Irsyad, penulis tinggal di Sidoarjo, Jawa Timur.

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Quote, Nahdlatul Ulama KOKAM Tegal

Minggu, 19 November 2017

STISNU Kritik Mendagri soal Mandegnya Perda Pemberdayaan Pesantren

Tangerang, KOKAM Tegal. Tim Pengabdian Masyarakat 2016 Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Nahdlatul Ulama (STISNU) Nusantara Tangerang prihatin atas ketidakpekaan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) membaca peraturan atas rencana pembuatan Peraturan Daerah tentang Pesantren di Banten.

Nurullah, ketua tim pengabdian masyarakat STISNU menjelaskan, pihkanya kecewa atas jawaban surat dari Kemendari No. 188.34/8829/OTDA yang ditujukan Sdr. Plt. Gubernur Banten yang menyatakan bahwa kewenangan pengaturan pesantren adalah hak pemerintah pusat, bukan pemerintah daerah.

STISNU Kritik Mendagri soal Mandegnya Perda Pemberdayaan Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
STISNU Kritik Mendagri soal Mandegnya Perda Pemberdayaan Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

STISNU Kritik Mendagri soal Mandegnya Perda Pemberdayaan Pesantren

"Saya kecewa, pihak kemendari tidak menilai semangatnya untuk memberdayakan pesantren. Saya rasa mereka terjebak dengan istilah pengaturan, padahal dalam rencana peraturan daerah ditulis pemberdayaan,” ujarnya.

Muhamad Qustulani anggota tim pengabdian lainnya menambahkan, pemerintah keliru memahami pesantren sebagai institusi agama, padahal pesantren adalah bagian dari lembaga pendidikan. Mereka selalu beralasan dengan UU 23 Tahun 2014 yang menyatakan agama domain pemerintahan pusat.?

KOKAM Tegal

Padahal jelas itu bertentangan UU No. 22 Tahun 1989 yang disempurnakan dengan Undang-Undang No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional memuat pada pasal 30 ayat 1 sampai 4 memuat bahwa pondok pesantren termasuk pendidikan keagamaan dan merupakan bagian dari sistem pendidikan nasional.

"Jelas pesantren bukanlah institusi agama, bukan agama, tidak mengatur agama, akan tetapi pesantren adalah lembaga pendidikan yang mengajarkan ilmu agama,” tegas Qustulani.

KOKAM Tegal

PMA No. 13 Tahun 2014 yang mengatur Pesantren dengan sistem muadalah, alumninya sejajar dengan lembaga pendidikan lain, itu hanya mengatur pesantren-pesantren yang jumlah santrinya mencapai 300 orang. Pertanyaannya? Bagaimana dengan pesantren di Kabupaten Tangerang atau Banten yang jumlahnya hanya puluhan? Bangunanya kumuh (balerombeng)? MCK-nya sungguh amat memprihatinkan, bahkan santri banyak MCK di kali?

"Jelas, PMA (Peraturan Menteri Agama, red) tidak menjangkau pesantren yang seperti itu,” tambahnya.

"Saya berharap Kemendagri baca Perdanya dengan utuh, Perda tersebut tidak mengatur keberadaan pesantren, tapi menjadi payung hukum pemerintah daerah untuk memberdayakan pesantren, seperti dinas-dinas selain Kementerian Agama di Daerah juga bisa masuk ke pesantren, bisa melaksanakan kegiatan pembinaan bisnis, beternak, berwirausaha, BLK, dan CSR perusahaan pun bisa untuk pemberdayaan pesantren".?

Fahmi Irfani, tim pengabdian lainnya pun berharap kemendagri menindaklanjuti dan merekomendasikan peraturan daerah tentang pemberdayaan pesantren.?

"Kami akan kawal sampai lahirnya peraturan daerah pemberdayaan pesantren, termasuk penerapannya di pemerintah daerah," tambahnya.

"Andai harus diperbaiki, maka akan kami dorong Perda tersebut untuk diperbaiki. Ini demi masa depan generasi pesantren selanjutnya,” tegasnya.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam kegiatan upgrading perjalanan Kegiatan Pemberdayaan Masyarakat di STISNU Nusantara Tengerang pada Ahad, 11 November 2016 dalam Forum Group Discussions (FGD) bersama para dosen di STISNU Nusantara. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Nahdlatul Ulama, Pesantren, Ahlussunnah KOKAM Tegal

Kamis, 16 November 2017

BPUN Nganjuk Upayakan Beasiswa untuk Siswa Miskin

Nganjuk, KOKAM Tegal. Panitia Program Pesantren Kilat Bimbingan Belajar Pasca Ujian Nasional (Sanlat BPUN) 2016 Kabupaten Nganjuk Jawa Timur, mengadakan pertemuan dengan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dikpora), di kantor Dikpora Jalan Dermojoyo Nganjuk, Jumat (11/3).?

Maneger Sanlat BPUN Kabupaten Nganjuk, Atourrohman Syahroni mengatakan, pertemuan ini dilakukan guna membangun silaturahim serta meminta dukungan untuk siswa kurang mampu mengikuti Sanlat BPUN 2016.

BPUN Nganjuk Upayakan Beasiswa untuk Siswa Miskin (Sumber Gambar : Nu Online)
BPUN Nganjuk Upayakan Beasiswa untuk Siswa Miskin (Sumber Gambar : Nu Online)

BPUN Nganjuk Upayakan Beasiswa untuk Siswa Miskin

“Kami meminta untuk mendelegasikan peserta didik berprestasi namun tingkat ekonomi lemah atau miskin di sekolah-sekolah di bawah naungan Dikpora,” kata Syahroni.

Selain itu, lanjut Syahroni, BPUN Nganjuk akan mendampingi peserta dari proses pendaftaran sampai ? masuk ke PTN, dan mengupayakan beasiswa kuliah baik jalur Bidikmisi atau melalui jalur lain.

Sekertaris Dikpora, Ibnu Hajar, menyambut baik kerjasama ini. Menurutnya ini adalah kerja sosial yang patut diapresiasi.

“Saya dukung dan apresiasi karena jarang orang ? yang masih memikirkan orang lain. Ini merupakan ibadah sosial bagi kita,” tuturnya.

KOKAM Tegal

Pihaknya pun berjanji akan segera menindaklanjuti dengan koordinasi dengan kepala sekolah dalam naungan Dikpora untuk mengirim peserta didik yang kurang mampu namun berprestasi.

KOKAM Tegal

Sanlat BPUN Nganjuk 2016 mengabil tema “Sukses Masuk PTN SBMPTN dan Bidikmisi” akan melakukan seleksi peserta pada 10 April mendatang. (Muhammad Anwar /Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Nahdlatul Ulama KOKAM Tegal

Selasa, 14 November 2017

Miniatur Bus Karya Santri Karanganyar

Karanganyar, KOKAM Tegal. Bagi pembaca yang ingin mengoleksi  berbagai jenis bus, tetapi tak mampu membeli bus sungguhan, mungkin Anda bisa mengoleksinya dalam bentuk miniatur. 

Berbagai jenis dan model bus tersedia dalam ukuran mini dengan model, warna dan bentuknya nyaris sama dengan bus sungguhan.

Miniatur Bus Karya Santri Karanganyar (Sumber Gambar : Nu Online)
Miniatur Bus Karya Santri Karanganyar (Sumber Gambar : Nu Online)

Miniatur Bus Karya Santri Karanganyar

Adalah Jati Pramono, alumni MA Al-Muayyad tahun 91 yang telah menyulap bahan baku seperti tripleks, fiberglass, mica dan stereoform menjadi miniatur berbagai model bus yang beroperasi di seluruh Indonesia. 

KOKAM Tegal

Bus-bus kreasinya dia rancang dan dibuat sendiri sambil menunggu tokonya di daerah Karanganyar Jawa Tengah. Satu model bus dapat diselesaikan dalam waktu satu sampai tiga hari.

“Sebenarnya satu hari bisa saja selesai, tapi proses pengecatan yang agak lama tergantung cuaca, ya tapi paling lama tiga hari. Kadang kalau lagi banyak pesanan saya dibantu istri lembur malam, dia yang bagian nggarap interiornya” ujar laki-laki yang juga aktif menjadi pengurus PCNU Karanganyar ini menjelaskan pada NU Online, Sabtu (5/1) via jejaring sosial Facebook.

KOKAM Tegal

Meski hanya berupa miniatur, tetapi bus-bus hasil ciptaannya ini telah sukses dipasarkan di seluruh Indonesia secara online melalui jejaring sosial dengan harga sekitar 500 ribu per unit.  

“Kita biasanya bikin satu sampel, trus gambar saya upload melalui facebook, yang rata-rata pembelinya adalah anggota BMC (Bus Mania Community) di seluruh Indonesia. Tapi kadang ada juga pesanan dari sebuah PO bus tertentu, biasanya bus pariwisata.” kata Pramono, yang juga pernah nyantri di Pondok Pesantren Al-Muayyad Solo.

Gagasan produksi miniatur bis ini berawal dari kegemarannya terhadap jenis angkutan umum yang satu ini. Pun dengan Kebiasaannya menggambar desain mobil ini memang sudah nampak sejak di bangku MA Al-Muayyad 21 tahun silam.

Buku-buku tulisnya penuh dengan gambar mobil dari berbagai jenis dan model hasil coretannya. Bahkan kadang saat guru menerangkan pelajaran malah dia asyik menggambar desain mobilnya di buku tulisnya. Tapi siapa sangka hobi dan kebiasaan saat nyantri itu kini telah menjadi salah satu sumber penghasilannya.

Redaktur     : Hamzah Sahal

Kontributor : Latif, Ajie, Al-Muayyad 

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Fragmen, Makam, Nahdlatul Ulama KOKAM Tegal

Minggu, 12 November 2017

Kalbar Ekspo Meriahkan MTQ JQH NU

Pontianak, KOKAM Tegal. Kalbar Ekspo 2012 turut menyemarakkan suasana Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional VII dan MTQ Internasioanl I, serta Musyawarah Nasional IV Jam’iyyatul Qurra wal Huffazh Nahdlatul Ulama (JQHNU) di kota Pontianak, Kalimantan Barat.

Kalbar Ekspo Meriahkan MTQ  JQH NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Kalbar Ekspo Meriahkan MTQ JQH NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Kalbar Ekspo Meriahkan MTQ JQH NU

Kalbar Ekspo 2012 ini diselenggarakan pemerintah Provinsi Kalimantan Barat, berlangsung dari tanggal 3 Juli dan akan berakhir 8 Juli, sesuai jadwal MTQ dan Munas JQH NU. 

“Sudah diselenggarkan tujuh kali sejak tahun 2005. Ini merupakan yang kedelapan kalinya,” jelas Nadia Irsyad dari Kesekretariatan Kalbar Ekspo 2012.

KOKAM Tegal

Biasanya, sambung Nadia, helat tahunan ini digelar di Pontianak Convention Center (PCC). Tapi tahun ini, atas saran Gubernur Kalbar, dilaksanakan di sekitar lapangan Sultan Syarif Abdurrahman, tempat pembukaan, penutupan dan salah satu lokasi MTQ JQHNU.

Kategori produk yang dipamerkan adalah handicraft, souvenir dan asesoris, komputer dan peralatan elektronik, perbankan dan asuransi, properti, otomotif, hotel dan resort, tekstil, peralatan rumah tangga, agrobisnis, mainan, kuliner dan, produk-produk  lainnya. 

KOKAM Tegal

Kalbar Ekspo 2012 ini diikuti setiap dinas Provinsi Kalimantan Barat, BUUMN, asosiasi bisnis, perusahaan swasta, koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM). Ada juga dari provinsi lain misalnya Kepulauan Riau dan Sumatera Selatan. PWNU Kalimantan Barat serta banom-banomnya, memiliki satu stand yang memamerkan karya warganya.  

Menurut Yuni, yang juga dari Kesekretariatan, Kalbar Ekspo 2012 dibuka mulai pukul 10.00 dan tutup pukul 21.00. 

“Kali ini diikuti ratusan peserta dengan memenuhi 150 stand,” tambahnya. 

Menurut amatan petugas parkir Kalbar Ekspo 2012 pengunjung kali ini lebih ramai dari tahun-tahun sebelumnya.

“Dari pagi hingga malam, tak henti-hentinya orang datang. Mungkin setiap hari tak kurang dikunjungi seribu hingga dua ribu orang,” pungkasnya. 

Redaktur : Mukafi Niam

Penulis    : Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Fragmen, Habib, Nahdlatul Ulama KOKAM Tegal

Sabtu, 11 November 2017

Veteran Usia 100 Tahun Ini Cuma Ingat Nama "Mbah Hasyim"

Surabaya, KOKAM Tegal - Tidak banyak yang diingat Tondo, ketika diminta menceritakan perjalanannya menjadi seorang pejuang puluhan tahun lalu. Yang diingat hanya Mbah Hasyim Tebuireng (Kiai Hasyim Asyari), sebagai salah satu tokoh pemimpin perang.

Veteran yang konon berusia lebih dari 100 tahun asal Kecamatan Tikung, Kabupaten Lamongan ini, menyebut, tokoh pendiri ormas Nahdatul Ulama itu adalah tokoh agama asal Pesantren Tebuireng, Jombang yang memimpin kelompok santri dan warga sipil.

Veteran Usia 100 Tahun Ini Cuma Ingat Nama Mbah Hasyim (Sumber Gambar : Nu Online)
Veteran Usia 100 Tahun Ini Cuma Ingat Nama Mbah Hasyim (Sumber Gambar : Nu Online)

Veteran Usia 100 Tahun Ini Cuma Ingat Nama "Mbah Hasyim"

"Menang atau kalahnya perang apa kata Kiai Hasyim," kata dia yang didampingi Sutrisno, salah satu putranya, Selasa (16/8/2016) malam.

KOKAM Tegal

Tondo tidak ingat lagi siapa pimpinan perangnya saat itu. Dia hanya ingat bahwa dia ikut bergerilya dari Madiun ke Surabaya.

KOKAM Tegal

"Senjatanya pakai pasir batu, dan bambu runcing," kata Tondo.

Meski sudah sepuh, Tondo masih terlihat sehat. Hanya saja saat berkata-kata terdengar kurang jelas, karena semua giginya sudah tanggal.

Tondo tercatat pernah menerima penghargaan Bintang Gerilya dari Kodam V Brawijaya pada 1983.

Sutrisno, satu dari 11 putra Tondo dari lima isterinya, mengatakan, ayahnya selalu bersemangat saat melihat banyak bendera merah putih yang selalu dipasang saat perayaan HUT kemerdekaan.

"Bapak saya selalu tidak bisa tidur dan banyak bercerita soal perang," jelasnya.

Kemarin, Tondo dan 60 veteran lainnya di Jawa Timur mendapat layanan bedah rumah dari Kodam V Brawijaya bekerjasama dengan sejumlah BUMN.

Menurut Pangdam V Brawijaya, Mayjen I Made Sukadana, yang diberikan untuk para veteran sebenarnya belum sepadan dengan apa yang mereka telah lakukan untuk bangsa.

"Tapi bedah rumah veteran adalah salah satu aksi nyata kami sebagai bentuk perhatian kepada para veteran," ungkap dia. (Kompas.com/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Nahdlatul Ulama, Amalan KOKAM Tegal

Selasa, 07 November 2017

Ketika Lemari MA Maarif Keputran Tak Cukup Lagi Tampung Trofi Juara

Pringsewu, KOKAM Tegal. Madrasah Aliyah Maarif NU Keputran, Sukoharjo, Pringsewu, Lampung tak henti menorehkan prestasi khususnya dibidang olahraga atletik. Setelah meraih prestasi diberbagai lomba baik tingkat Kabupaten maupun Provinsi, Madrasah Favorit di Kabupaten Pringsewu ini berhasil memborong piala pada ajang Lomba lari 5 K yang diselenggarakan oleh Kantor Kecamatan Sukoharjo.

Ketika Lemari MA Maarif Keputran Tak Cukup Lagi Tampung Trofi Juara (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketika Lemari MA Maarif Keputran Tak Cukup Lagi Tampung Trofi Juara (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketika Lemari MA Maarif Keputran Tak Cukup Lagi Tampung Trofi Juara

Piala-piala yang dikoleksi pada ajang yang digelar dalam Rangka HUT ke-72 RI tersebut disumbangkan oleh atlet putra meliputi Juara 1 Lari 5 KM atas nama M. Syahrul Fahmi, Juara 2 Lari 5 KM atas nama Jaini Munir, Juara 3 Lari 5 KM atas nama Ridotus Sofyan dan Juara 5 Lari 5 KM atas nama M. Lutfi Yusuf.

Sementara untuk atlit puteri berhasil menyumbangkan piala yaitu Juara 2 Lari 5 KM atas nama Elmi Viki Husnul dan Juara 5 Lari 5 KM atas nama Siti Mustika.

Tidak hanya dari lomba lari, duta atlit MA Maarif Keputran juga berhasil menambah 3 koleksi piala dengan berhasil memborong juara 1 Gerak Jalan Putera dan Juara 1 dan 2 Gerak Jalan Puteri.

"Diregu putera berhasil meraih Juara satu setelah unggul dari SMKN 1 Sukoharjo sebagai Juara 2 dan MA Darul Ulum sebagai Juara 3. Sedangkan diregu puteri berhasil menjadi Juara 1 dan 2 diikuti SMAN 1 Sukoharjo sebagai juara 3," kata Kepala Madrasah tersebut Irsadul Ibad sesaat setelah kegiatan.

KOKAM Tegal

Atas raihan ini, Irsad yang juga Sekretaris LP Maarif NU Kabupaten Pringsewu ini mengaku bahagia sekaligus bingung karena tempat khusus piala yang ada di Madrasahnya sudah tidak cukup lagi menampung piala tersebut.

KOKAM Tegal

"Pastinya piala tersebut disimpan sementara ditempat lain sambil menunggu lemari baru khusus piala rampung dipesan," katanya, Rabu (16/8).

Rasa bahagia dan dukungan juga diungkapkan salah satu Guru Madrasah tersebut Wawan Krisdiyanto melalui Media Sosial Facebook miliknya.

"Alhamdulillah tetap istiqomah dan rendah hati ya santri-santriku dari MA Maarif Keputran. Selamat atas orestasi yang telah dicapai. Jangan puas sampai dengan ditingkat ini saja, masih ada jenjang yang lebih tinggi lagi, terus berlatih dan berkarya untuk MA Maarif tercinta kita, Allohu Akbar," pungkasnya. (Muhammad Faizin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Nahdlatul Ulama KOKAM Tegal

Rabu, 01 November 2017

Fatayat NU Imbau Masyarakat Tak Terpengaruh Paham ISIS

Jakarta, KOKAM Tegal. Ketua Umum PP Fatayat NU Ida Fauziyah mengimbau masyarakat untuk tidak terpengaruh dengan paham gerakan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).?

"Saya berharap agar masyarakat tidak terpengaruh dengan gerakan dan ideologi yang aneh-aneh, organisasi yang aneh-aneh. Jaga kebersamaan dan keutuhan NKRI," kata Ida di Jakarta, Selasa.?

Fatayat NU Imbau Masyarakat Tak Terpengaruh Paham ISIS (Sumber Gambar : Nu Online)
Fatayat NU Imbau Masyarakat Tak Terpengaruh Paham ISIS (Sumber Gambar : Nu Online)

Fatayat NU Imbau Masyarakat Tak Terpengaruh Paham ISIS

Ia juga meminta kepada pemerintah untuk memberikan penjelasan secara luas kepada masyarakat melalui berbagai media mengenai ISIS dan ancamannya bagi keutuhan NKRI.

KOKAM Tegal

"Melakukan dialog sekaligus penggalangan kerja sama dengan tokoh-tokoh agama, tokoh-tokoh masyarakat, tokoh adat untuk mengantisipasi gerakan ISIS agar tidak berpengaruh atau tidak diikuti oleh masyarakat," sebut politisi PKB itu.?

Ida juga berharap agar lembaga kemasyarakatan termasuk RT/RW untuk membangun kewaspadaan terhadap gerakan-gerakan ISIS.?

KOKAM Tegal

"Langkah-langkah tersebut tentu saja jangan sampai menimbulkan suasana yang mencekam dan justru menjadi alat untuk menakuti-nakuti masyarakat," kata Ida. (antara/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Nahdlatul Ulama KOKAM Tegal

Jumat, 06 Oktober 2017

Kemendes Kembangkan Konsep Transmigrasi Nelayan dan Penyangga

Jakarta, KOKAM Tegal. Sejak zaman orde baru, konsep transmigrasi identik dengan pola agraris, konsep pertanian dan perkebunan pun lebih banyak dikembangkan di beberapa kawasan transmigrasi. Namun, di era pemerintahan saat ini dengan visi ke maritimannya, juga mulai menggarap pola transmigrasi dengan konsep nelayan.

Kemendes Kembangkan Konsep Transmigrasi Nelayan dan Penyangga (Sumber Gambar : Nu Online)
Kemendes Kembangkan Konsep Transmigrasi Nelayan dan Penyangga (Sumber Gambar : Nu Online)

Kemendes Kembangkan Konsep Transmigrasi Nelayan dan Penyangga

Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Marwan Jafar menjelaskan bahwa kawasan pantai potensial untuk pengembangan pola nelayan tangkap ikan dan budidaya. Oleh karena itu, kawasan tersebut akan dikembangkan menjadi kawasan pemukiman dengan konsep nelayan.

"Berbeda dengan kawasan transmigrasi lain yang mayoritas mengembangkan konsep pertanian dan perkebunan," ujar ? Marwan, di Jakarta, Selasa (21/6).

Salah satu kawasan yang coba ingin dikembangkan menjadi kawasan transmigrasi dengan konsep nelayan, salah satunya adalah kawasan Paguyaman Pantai Kabupaten Boalemo Provinsi Gorontalo menjadi salah satu prioritas pembangunan transmigrasi tahun ini.?

KOKAM Tegal

Berdasarkan studi Rencana Teknis Satuan Pemukiman Transmigrasi (RTSP), imbuh Marwan, kawasan tersebut potensial untuk 1000 KK (Kepala Keluarga). Oleh karen itu, ? Kemendesa PDTT di Tahun 2015 telah membangun 100 unit rumah transmigran dan telah ditempatkan transmigrasn sebanyak 65 KK (225) jiwa.

"Sisa rumah yang belum ditempati akan segera dipenuhi pada tahun 2016. Transmigran yang akan ditempatkan adalah transmigran dari Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat," ujarnya.

Untuk tahun ini, Marwan menjelaskan akan membangun 75 unit rumah dan akan menempatkan transmigran sebanyak 75 KK. Transmigran tersebut meliputi Transmigran Penduduk Asal (TPA) dan Transmigran Penduduk Setempat (TPS). Selain transmigrasi dengan konsep nelayan, Marwan juga akan menerapkan pola transmigrasi lokal yang menempatkan para transmigran tidak jauh dari perkotaan.

"Konsep yang berbeda juga akan diterapkan di Pulubala Kabupaten Gorontalo, yang mengembangkan konsepsi keterkaitan desa-kota. Pulubala adalah lokasi transmigrasi yang dibangun berdekatan dengan ibukota kabupaten Gorontalo, yang memiliki akses cukup baik dengan jarak kurang lebih 20 Kilometer dari Ibukota," tandasnya.

Dengan konsep ini, diharapkan kawasan transmigran bisa menjadi hinterland kota, yang berfungsi sebagai buffer (penyangga) untuk mensuplai kebutuhan konsumsi pangan perkotaan. "Pulubala di Tahun 2015, telah dibangun hunian transmigrasi sebanyak 150 unit rumah, dan diimplementasikan transmigran sebanyak 90 KK (360 jiwa). Rumah kosong sebanyak 60 unit, akan diberikan kepada transmigran dari daerah asal yakni Provinsi Lampung, Banten, DIY dan Jawa Timur. Sedangkan Tahun 2016, akan dibangun 25 unit rumah transmigran yang merupakan pemenuh sisa daya tamping, dan saat ini dalam tahap konstruksi," ujarnya. (Red: Fathoni)

KOKAM Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Nahdlatul Ulama KOKAM Tegal

Sabtu, 02 September 2017

Faktor Gus Dur Bertindak dengan Pendekatan Kebudayaan

Jakarta, KOKAM Tegal - Nia Sjarifudin dari Aliansi Nasional Bhineka Tunggal Ika (ANBTI) menilai KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sangat kuat dalam integritas kebudayaan. Dia menyampaikan hal itu pada diskusi bulanan Forum Jumat Pertama (FJP) Jaringan Gusdurian, Jl. Taman Amir Hamzah, Jakarta Pusat Jumat (04/03) di Griya Gus Dur, dengan “Gus Dur dan Kearifan Lokal”.

Nia berpendapat, kuatnya integritas Gus Dur dipengaruhi pendidikan keluarga yang berada dalam lingkup Nahdlatul Ulama (NU). Keluarga Gus Dur menghargai kearifan lokal dan tradisi Nusantara yang dalam kajian-kajian dewasa ini dikenal dengan Islam Nusantara.

Faktor Gus Dur Bertindak dengan Pendekatan Kebudayaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Faktor Gus Dur Bertindak dengan Pendekatan Kebudayaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Faktor Gus Dur Bertindak dengan Pendekatan Kebudayaan

Gus Dur, masih menurut Nia, tidak hanya mendewa-dewakan ilmu pengetahuan agama Islam yang dimilikinya. Sebagai orang Jawa yang merupakan bagian dari Nusantara, menyebabkan karakter Gus Dur semakin lengkap.

KOKAM Tegal

Karakter kebudayaan Gus Dur semacam itulah yang memengaruhi sikap, pandangan, dan tindakan politik Gus Dur sebelum, ketika, dan saat menjadi Presiden. “Saya menyaksikan proses dialog antara Gus Dur dengan teman-teman dari Papua di Istana Negara,” kenang Nia.

KOKAM Tegal

Gus Dur dengan pendekatan persuasif menggunakan identiatas kebudayaan. Gus Dur memperbolehkan nama Papua (sebagai nama untuk wilayah yang sebelumnya Irian Jaya).

Saat warga Papua meminta diakui lagu daerahnya, Gus Dur menyilakan mereka. Gus Dur menganggap semua suku mempunyai lagu kedaerahan, demikian juga warga Papua.

Itu sebabnya sampai sekarang pun bagi warga Papua, Presiden Indonesia adalah Gus Dur. Di rumah-rumah di Jayapura, foto Gus Dur masih dipasang.

Pada bagian lain, Nia menceritakan pendapat Gus Dur terhadap Undang-undang Anti-Pornografi dan Pornoaksi. Gus Dur melihat UU tersebut berbahaya. Soal pornoaksi dan pornografi, sudah jelas Gus Dur dan siapa pun tidak setuju dan menolak kalau ditunjukkan di depan umum.

Namun, yang Gus Dur tidak sukai adalah apabila UU tersebut akan menyebabkan terjadinya diskriminasi dan pemberangusan budaya dengan penyeragaman. (Kendi Setiawan/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Nahdlatul Ulama, Pertandingan KOKAM Tegal

Jumat, 30 Juni 2017

MI Maarif Klesman, Perjalanan Panjang Raih Kualitas

Wonosobo, KOKAM Tegal

Menghadapi zaman yang terus berkembang dan berubah, manusia tak cukup hanya berbekal ilmu agama. Perlu kelengkapan ilmu-ilmu pengetahuan umum atau sains agar tidak tersisih dari arus zaman.

MI Maarif Klesman, Perjalanan Panjang Raih Kualitas (Sumber Gambar : Nu Online)
MI Maarif Klesman, Perjalanan Panjang Raih Kualitas (Sumber Gambar : Nu Online)

MI Maarif Klesman, Perjalanan Panjang Raih Kualitas

Kesadaran akan pentingnya semua ilmu bagi bekal kehidupan manusia inilah, yang  nampaknya disadari sejak awal oleh Madrasah Ibtidaiyah (MI) Maarif Klesman Kabupaten Wonosobo yang dalam mendirikan dan menggagasnya melalui proses perjalanan yang sangat panjang. 

Pihak sekolah selalu mengedepankan kepada siswa didiknya agar dapat memahami ilmu agama dan ilmu umum.

KOKAM Tegal

“Semua ilmu itu penting, baik ilmu agama maupun ilmu umum. Pendidikan ilmu agama kita terapkan 100 persen dan ilmu umum juga 100 persen,” kata mantan Kepala MI Maarif  Klesman, H Ahmad Muhtasor.

KOKAM Tegal

Ilmu, kata Muhtasor, harus dipelajarai semuanya tanpa menganaktirikan ilmu yang lain. “Baik ilmu agama maupun ilmu umum, wajib dipelajarai.  Diranah implementasi, tentu mebutuhkan kajian sesuai budaya yang ada.”

MI Maarif yang kini mendapatkan Akreditasi “A” dari Badan Akreditasi Madrasah dan Sekolah ini, tidak berdiri dengan serta merta. Proses panjang melingkupi pendirian sekolah yang gagasan awalnya dilontarkan oleh beberapa tokoh masyarakat desa Klesman.

Sebagai langkah awal, digelarlah rapat dengan sembilan tokoh yang melambangkan sembilan bintang di logo MI Maarif Klesman. Sembilan tokoh tersebut, yakni, Sa’roni, Kholiq, Mustamar, H Safrudin, Kiai Khoeron, H Habban, Affandi, H Thoyib, Toha Abdurahman (Dosen UIN Sunan Kalijaga).

Kala itu tahun 1963, sembilan  pendiri MI Maarif Klesman, prihatin. Kultur masyarakat setempat yang hanya mementingkan ilmu agama. Sementara ilmu pengetahuan umum yang juga berfaedah untuk meraih kebahagiaan hidup seolah terabaikan.Keprihatinan itu tak menjangkit hanya sebagai kegelisahan. Tetapi diiringi pemikiran jernih, tindakan, dan tekad untuk mewujudkan suatu wadah pengajaran yang komplit sekaligus memadai. Kemudian dibangunlah Madrasah Wajib Belajar (MWB), bangunan sederhana dilahan kosong sebelah Masjid Al Ghofur.

Dalam perjalanannya, pada tahun 1972 berubahlah menjadi MI Maarif Klesman. “Nama sekolah awalnya MWB. Akan tetapi dalam perkembangannya berganti menjadi MI Maarif,” jelas Muhtasor.Itulah kilasan riwayat Madrasah Ibtidaiyah (MI) Maarif Klesman. Madrasah yang berlokasi didesa Klesman, Kecamatan Mojotengah Kabupaten Wonosobo.

Raih Prestasi

Kerja keras para guru dan karyawan MI Maarif Klesman tidak sia-sia. Kualitas sarana dan prasarana serta kualitas pengajaran selalu ditingkatkan.  Sehingga prestasi pun sering diraih oleh MI Maarif Klesman dalam berbagai perlombaan.

Sementara berbagai prestasi yng diukir siswa-siswi MI Maarif Klesman. Wakil Kepala MI Maarif Klesman zainul Muntaha saat ditemui wartawan Wonosobo Ekspres mengatakan, siswa-siswi MI Maarif sering mendapatkan juara, baik tingkat Kecamatan maupun tingkat kabupaten. Bahkan untuk Porseni Tahun kemarin kita mendapatkan juara umum.

“Dalam porseni tingkat kabupaten, para siswa mendapatkan juara 1 lomba pidato Bahasa Arab (Putri), Pidato Bahasa Ingris (Putra-Putri) dan juara III Pada lomba catur (Putra-Putri),” tambahnya.

Jumlah anak didik terakhir kali adalah 221 siswa. Visi yang diemban oleh madrasah yang pernah juara umum Posrseni Kabupaten Wonosobo ini, pun menampakkan suatu keinginan untuk unggul dalam prestasi dan menciptakan siswa yang luhur budi pekertinya. Yakni, “Unggul dalam prestasi, Luhur Budi Pekerti, Mantap Bereligi.”  

Terpaut hal ini, Muntaha mengatakan, tujuan pendidikan tidak lain agar manusia lebih maju dan hidup terdidik.

Dalam rangka pengimbangan intelektualitas, religiusitas siswa juga dipupuk dan dilatih. Misal mengajak siswa shalat duha pada bulan Ramadhan dan shalat jamaah. Apalagi lingkungan madrasah ini berada dekat dengan pesantren. Aktivitas bernapas keagamaan yang menyatu dengan aktivitas belajar siswa diharapkan mampu membentuk watak mulia siswa-siswi. Karenanya, seperti  dikatakan Muntaha, pendidikan untuk membentuk karakter siswa perlu ditanamkan sejak dini.

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Fathul Jamil

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Nahdlatul Ulama KOKAM Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs KOKAM Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik KOKAM Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan KOKAM Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock