Ekspresi memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW yang jatuh pada 12 Rabiul Awal dilakukan umat Islam Gorontalo dengan membuat walima. Biasanya mereka menggelar parade kue walima atau sesajian kue tradisional yang ditata berbentuk aneka hiasan.
Kepala Bidang Pariwisata Provinsi Gorontalo Resma Kabakoran, walima adalah ada kue yang disusun-susun dari kue tradisional khas gorontalo semisal kolombengi, wapili, tutulu, telor ayam rebus, ayam panggang sendiri. Kemudian diarak ke masjid, kemudian melakukan doa bersama.
| Walima, Kue untuk Baginda Nabi Muhammad (Sumber Gambar : Nu Online) |
Walima, Kue untuk Baginda Nabi Muhammad
Pada perkembangannya sekarang, walima yang dibentuk menyerupai rumah, atau masjid ini sering diarak keliling kota sehingga menjadi pusat perhatian warga. Setelah diarak kemudian dibagikan kepada warga.mereka kemudian berusaha dan saling berlomba memperebutkannya. Warga, terdiri dari orang tua, muda, wanita, dan anak-anak, rela berdesakan hingga ada yang terjatuh.KOKAM Tegal
Bagi warga Gorontalo, walima merupakan berkah dan ungkapan rasa syukur atas hadirnya Nabi Muhammad SAW ke dunia. Menurut Resama, setiap perayaan Maulid Nabi, warga dengan sukarela membuat kue walima.Sebagai apresiasi kepada kegiatan tersebut, kemudian Pemerintah Kota Gorontalo setiap tahun mengagendakan parade walima. Parade Walima diikuti oleh seluruh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD), instansi swasta, dan sekolah di Gorontalo, serta warga.
KOKAM Tegal
Walima tersebut diekspresikan dalam sebuah masjid yang bernama Walima Emas di Desa Bongo, Kecamatan Batuda’a Pantai, Kabupaten Gorontalo. Di beberapa sudut dan di tengah bagian atap masjid tersebut terdapa walima berwarna emas.Ekspedisi Islam Nusantara pada Rabu (25/5) mengunjungi masjid yang didirikan di ujung sebuah bukit dengan ketinggian sekitar 250 kaki di atas permukaan laut. Dari masjid tersebut tim ekspedisi bisa menyaksikan pemandangan laut dengan perahu-perahu kecil, rumah-rumah penduduk dan bebukitan yang masih hijau.
Menurut warga sekitar masjid tersebut digagas Yosep Tahir Ma’ruf, pria asli dari Desa Bongo. Masjid yang berukuran kira-kira 10 kali 10 meter tersebut dibangun mulai tahun 2008.(Abdullah Alawi)
Dari Nu Online: nu.or.id
KOKAM Tegal Kiai KOKAM Tegal

EmoticonEmoticon