Rabu, 29 November 2017

Yunus Ad-Dabbi dan Al-Akhfash Al-Kabir

Oleh Syafiq Hasyim

Titik penting dalam perkembangan ilmu Nahwu berikutnya adalah masa kodifikasi (tadwin) dan pengarangan (tasnif). Tonggak masa ini adalah Imam Sibawayhi. Sebagian tokoh dalam masa ini sudah dijelaskan di bagian-bagian pertama dari tulisan ini, termasuk mengenai Imam Sibawayhi dan Isa b. Umar.

Dalam kesempatan ini, tokoh yang mau saya ulas adalah Yunus b. Habib Ad-Dabbi. Kalangan sejarahwan sepakat bahwa Yunus b. Habib Ad-Dabbi (183 H?) adalah salah seorang ahli Nahwu terbesar. Dia yang berbahasa Arab dan juga Persia belajar ilmu ini dari Hammad. Salmah, kemudian belajar ke Ibn Abi Is?aq Al-?adrami, Isa b. Amar dan Al-Akhfash yang Agung (Al-Kabir).

Yunus Ad-Dabbi dan Al-Akhfash Al-Kabir (Sumber Gambar : Nu Online)
Yunus Ad-Dabbi dan Al-Akhfash Al-Kabir (Sumber Gambar : Nu Online)

Yunus Ad-Dabbi dan Al-Akhfash Al-Kabir

Yunus juga belajar bahasa Arab dari Abi Amr Al-?Ala dan belajar tentang ilmu periwayatan dari Ru’bah b. Al-?Ajaj. Sebagaimana dinyatakan oleh Az-Zabidi dalam ?abaqa An-Na?wiyyin, proses belajar yang demikian bervariasi ini menyebabkan tradisi keilmun yang dibangun oleh Yunus b. Habib sangat kuat dan berakar. Riwayat-riwayat Yunus dikenal sangat bisa dipercaya dan hafalannya juga kuat. Perlu diketahui bahwa tradisi keilmuan Islam awal memang sangat bergantung pada tradisi hafalan dan sejarah periwayatan yang bisa dipercaya karenanya kredibilitas intelektual seseorang terletak pada tingkat kekuatan hafalan dan social reliance.

KOKAM Tegal

Pada Yunus tidak hanya sebatas itu, ia percaya juga pada empirisisme indera sebagaimana Az-Zabidi memberikan kesaksian atasnya: ma ‘indahu minal-‘ilmi illa ma ra’ahu bi ‘aynihi, tidak ada yang dipandang sebagai ilmu menurutnya kecuali apa yang dilihat oleh kedua matanya. Satu teori Nahwu yang dibangun Yunus dari Abi Is?aq misalnya adalah “sesungguhnya pokok kalimat itu strukturnya terdiri dari kata kerja (fi?il), kemudian kalimat-kalimat yang lain (anak kalimat) itu terdiri dari pekerjaan yang diakibatkan oleh fi?il yang terdiri dari bentuk feminin (mu’annath), maskulin (mudhakkar), tunggal (mufrad), double (ithnayn), dan plural (jama’) seperti f?’altu (saya telah mengerjakan, tunggal), f?’luna (pekerjaan kita), fa?al? (mereka telah mengerjakan, jama’ mudzakkar), f?’lana (mereka telah mengerjakan, jama’ mu’annath).

Inilah sebenarnya teori awal tentang asal usul kalimat, cara-cara zai’dahnya (penambahan, seperti fa?ala menjadi af?ala, istaf?ala dlsb). Dari sinilah kemudian asal usul apa yang kita kenal dalam peristilahan pesantren di Jawa dengan istilah tasrifan (Ab? ‘Ubayda, Majaz Al-Qur’an, vol. I, h., 376). Sebagaimana sedikit disinggung tentang pengaruh Ru?ba b Al-?Ajaj pada Yunus misalnya bisa dilihat pada cara Yunus mengi?rab ayat Al-Baqarah 25: “innallaha la yasta?yi ay-ya?riba ma ba?atin fama fawqaha.” Apa yang beda dengan mushaf kita yaitu bacaan rafa? bid-damma pada kata ba?’datun. Juga dinisbahkn padanya bacaan nasab pada “wal?amdu lillahi rabbil ‘alamin."

KOKAM Tegal

Aktivitas Yunus dalam menyebarkan ilmu Nahwu sangat istimewa dan beda sekali. Forum-forum dia menjadi terkenal bagi mereka yang ingin belajar ilmu ini. Ab? Zayd al-An?ari menyatakan, “tidak ada seorangpun yang leluasa dalam memberikan ilmunya kecuali dia (Yunus).” Forum Yunus ini dihadiri oleh banyak kalangan dari ulama-ulama terkemuka dalam bidang Nahwu, antara lain adalah Abi Isa –belajar selama 40 tahun—Al-Akhmar—2 tahun—Ab? Zayd al-An?ari (10 tahun), dan Sibawayhi mengadopsi 200 persoalan dari forum ini untuk dijadikan bahan di dalam Al-Kitab.

Tentang masalah ini, Yunus berkata bahwa semua yang diucapkan benar berasal dari saya (Lihat misalnya penjelasan Ash-Shirafi dalam Akhbar An-Na?wiyyin, h. 64). Pengakuan akan kelebihan Yunus ini tidak hanya datang dari lingkungan aliran Basrah, tapi juga dari aliran Kufah sebagaimana Al-Kisa’i dan juga Al-Farra’. Tokoh berikutnya adalah Al-Akhfash Al-Kabir atau Ab? Al-Khattab, seorang tokoh yang pemikirannya mengubungkan tiga figur penting dalam Nahwu, Ab? Amru, Abi Is?aq dan Sibawayhi. Di dalam Al-Kitab, nampak bahwa Sibawayhi banyak merujuk pada tokoh ini.

Memang banyak sejarahwan Nahwu yang mengakui bahwa ulasan tokoh yang satu ini kurang banyak, namun demikian, peranan yang dimainkan oleh Al-Akhfash Al-Kabir tidak bisa lihat kecil dalam masa kodifikasi ilmu ini terbukti banyak ulama besar yang merujuknya. Salah satu contoh bacaan Al-Qur’an yang dinisbahkan padanya adalah Al-An’am 109: “wa ma yush’irukum annaha idha jaa’at laa yu’minuun.” Al-Akhfash memberi tanda waqaf setelah “wa ma yush’irukum”, dan kemudian membaca kasrah (jer) pada “annaha” karena sebagai permulaan (ibtida’) setelah tanda waqaf di atas.

 

Bahasan serial ilmu nahwu ini merupakan bagian keenam. Silakan diikuti pembahasan selanjutnya yang dikupas Rais Syuriyah Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Jerman, Syafiq Hasyim. Belum lama ini ia meraih gelar Dr. Phil dari BGSMCS, FU, Berlin, Jerman.

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Daerah, Amalan KOKAM Tegal

Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah atau disingkat KOKAM adalah salah satu bidang program kerja organisasi otonom dari Muhammadiyah yaitu Pemuda Muhammadiyah, yaitu program kerja bidang KOKAM dan SAR KOKAM Tegal. Yunus Ad-Dabbi dan Al-Akhfash Al-Kabir di KOKAM Tegal ini merupakan bukan asli tulisan admin, oleh karena itu cek link sumber.


EmoticonEmoticon

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs KOKAM Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik KOKAM Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan KOKAM Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock