Tampilkan postingan dengan label Amalan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Amalan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 17 Februari 2018

Yahya Staquf: Pagelaran Wayang Mirip dengan Al-Qur’an

Bantul, KOKAM Tegal. Katib Syuriah PBNU KH Yahya Cholil Staquf mengatakan bahwa pagelaran wayang mirip dengan Al-Qur’an. Selama ini bahasa yang digunakan dalam pagelaran wayang adalah bahasa Jawa Kawi, yang meskipun banyak orang dapat menikmati alur ceritanya, tapi tidak semua orang (Jawa) dapat mengerti dan memahami maknanya.

“Ini mirip dengan Al-Qur’an. Al-Qur’an itu kan berbahasa Arab, tapi tidak semua orang Arab dapat memahaminya. Tapi meskipun tidak paham, itu dapat menimbulkan sensasi spiritual yang luar biasa ketika merapalkannya,” ujarnya saat mengisi Seminar Nasional bertajuk Wayang dan Krisis Manusia Nusantara, Senin (17/11) siang, di Aula Pesantren Kaliopak Bantul, Yogyakarta.

Yahya Staquf: Pagelaran Wayang Mirip dengan Al-Qur’an (Sumber Gambar : Nu Online)
Yahya Staquf: Pagelaran Wayang Mirip dengan Al-Qur’an (Sumber Gambar : Nu Online)

Yahya Staquf: Pagelaran Wayang Mirip dengan Al-Qur’an

Pengasuh Pesantren Raudhatut Thalibin itu menambahkan, sebenarnya pagelaran wayang bukanlah sekadar tontonan, hiburan, atau rekreasi semata, melainkan juga merupakan ritus keagamaan, selain sebagai media pendidikan. “Sehingga ada suasana yang mirip dengan ketika berdzikir,” tegas Kiai Yahya.

KOKAM Tegal

Ia menduga, pagelaran wayang sudah ada sejak sebelum zaman Wali Songo. Kemudian ketika ada Wali Songo, pagelaran wayang menjadi bagian dari Islam yang dikembangkan dalam peradaban Jawa.

“Ini tidak ada kaitannya dengan otentik atau bid’ah, karena islam hadir untuk seluruh umat manusia, dan Nabi Muhammad diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia, innama bu’itstu li utammima makarimal akhlaq (sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq),” tandasnya.

KOKAM Tegal

Dalam hal ini, Kiai Yahya menitikberatkan pada kata-kata utammima yang berarti menyempurnakan. Menurutnya, ada alasan di balik penggunaan kata-kata utammima dan bukan ubaddila yang berarti menggantikan. “Rasulullah saat itu diutus hanya untuk menyempurnakan, tidak menggantikan. Secara implisit ini merupakan pengesahan bahwa makarimal akhlaq sebelum Islam itu sudah ada, dan Nabi tidak menggantikannya, tapi menyempurnakannya agar menjadi lebih berkualitas,” jelasnya panjang lebar.

Maka sama halnya dengan pagelaran wayang, yang tidak serta merta langsung diganti begitu saja oleh Wali Songo, melainkan disempurnakan dengan membingkainya sebagai salah satu ritus keagamaan dalam Islam. (Dwi Khoirotun Nisa’/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Amalan, Nusantara, Budaya KOKAM Tegal

Selasa, 30 Januari 2018

Utusan Grand Syekh Al-Azhar Mesir Kunjungi PBNU

Jakarta, KOKAM Tegal. Rombongan guru besar universitas Al-Azhar Kairo mengadakan lawatan ke Pengurus Besar Nahdlatul Ulama. Mereka dengan pimpinan rombongan Prof DR Abdul Mun’im Fuad, menyampaikan salam hormat dan dukungan Grand Syekh Al-Azhar yang tidak bisa hadir silaturahmi dengan pengurus NU.

Grand Syekh Al-Azhar melalui utusannya Mun’im Fuad menyatakan bahwa cara pandang keagamaan yang dikembangkan NU sama sekali mirip dengan cara pandang guru-guru Al-Azhar.

Utusan Grand Syekh Al-Azhar Mesir Kunjungi PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Utusan Grand Syekh Al-Azhar Mesir Kunjungi PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Utusan Grand Syekh Al-Azhar Mesir Kunjungi PBNU

“Terima kasih sudah menerima kami. Kami merasa terhormat di tempat mulia ini. Kami sampaikan amanah Grand Syekh untuk NU yang dalam waktu dekat mengadakan Muktamar,” kata Mun’im Fuad mengawali sambutannya dengan bahasa Arab di Gedung PBNU, Jakarta, Rabu (27/5) siang.

KOKAM Tegal

Di hadapan pengurus harian Syuriyah dan Tanfidziyah PBNU, Mun’im Fuad menyatakan kekagumannya pada NU. Menurutnya, NU dengan massanya yang besar bahkan mayoritas di Indonesia berani pasang badan melindungi hak-hak dasar warga Indonesia yang memiliki keragaman suku, keyakinan, agama, bahkan paham politik.

KOKAM Tegal

Dengan mendukung penuh persatuan NKRI, NU menjadikan perbedaan-perbedaan itu sebagai rahmat.

“Kuncinya satu, karena kami mendukung asas Pancasila. Dengan demikian, segala bentuk perbedaan dan keragaman yang ada di Indonesia, tidak menjadi alasan perpecahan bagi kami. Beda dengan di Timur Tengah. Kami tetap mayoritas di sini, tetapi kami menjadi teladan di tengah keragaman minoritas,” kata Ketum PBNU KH Said Aqil menyambut Mun’im Fuad.

Walhasil, selamat datang di Indonesia. Silakan saksikan sendiri nikmatnya persatuan di Indonesia, tandas Kang Said berbahasa Arab. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal RMI NU, Amalan KOKAM Tegal

Kamis, 25 Januari 2018

Harlah ke-61 Muslimat NU Berlangsung Meriah

Jakarta, KOKAM Tegal. Perayaan hari lahir (harlah) ke-61 Muslimat Nahdlatul Ulama hari ini, Kamis (29/3), berlangsung sangat meriah. Lebih dari 15.000 anggota Muslimat memenuhi Istora Senayan sampai-sampai banyak yang tak kebagian tempat duduk dan harus berdiri atau duduk di lantai.

Ketua Umum PP Muslimat Khofifah Indar Parawansa menjelaskan selama 61 tahun, Muslimat NU berusaha turut membangun bangsa dengan memberdayakan kaum perempuan.

Program kesetaraan gender, menurut mantan menteri pemberdayaan perempuan ini tak hanya bisa dilakukan lewat wacana saja. “Muslimat terjun langsung pada masyarakat dengan turut memberantas buta huruf, baik huruf latin maupun huruf Arab,” tuturnya.

Harlah ke-61 Muslimat NU Berlangsung Meriah (Sumber Gambar : Nu Online)
Harlah ke-61 Muslimat NU Berlangsung Meriah (Sumber Gambar : Nu Online)

Harlah ke-61 Muslimat NU Berlangsung Meriah

Khofifah menuturkan bahwa ia baru saja datang dari NTT. Banyak ibu-ibu yang dimintai cap jempol oleh suaminya yang tak tahunya adalah untuk menikah lagi. Kondisi yang sama juga dialaminya di Sulsel. Ada diantara ibu-ibu yang tak bisa membantu anaknya belajar karena tak bisa membaca. Namun setelah mengikuti program muslimat kini mereka bisa membaca running teks di TV.

Alumni Universitas Airlangga Surabaya ini menjelaskan saat ini problematika yang dihadapi oleh bangsa Indonesia masih berat. Krisis multidimensional masih belum selesai dan membutuhkan dukungan bersama untuk mengentaskannya. Ia juga meminta pemerintah untuk tidak tebang pilih dalam meberantas korupsi.

Acara ini dihadiri oleh sejumlah tokoh seperti Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi, Gubernur DKI Sutiyoso, Menkokesra Abu Rizal Bakri, Menteri Percepatan Daerah Tertinggal Saifullah Yusuf, Menteri Koperasi dan UKM Surya Darma Ali, Wakil Ketua MPR Aksa Mahmud dan Wagub DKI Fauzi Bowo.

KOKAM Tegal

Kegiatan yang sekaligus memperingati maulud nabi ini mengambil tema “Membangun Bangsa Berdasarkan Persatuan, Persaudaraan, Profesionalitas dan Akhlakul Karimah”. Beberapa wilayah secara simbolis menerima peralatan jahit yang diberikan oleh Menkokesra Abu Rizal Bakri  sebagai bagian dari program peningkatan life skill hasil kerjasama dengan Depdiknas.

Para ibu-ibu juga dihibur dengan alunan nada dari Opick serta ceramah agama oleh ustadz Jefry Al Buchori dan ustadz Ahmad al Habsy. Sutiyoso dalam sambutannya juga menawarkan para ibu-ibu Muslimat untuk melihat “Air Mancur Berjoget” di Monas yang biasanya hanya dibuka pada Sabtu dan Minggu malam.

Saat ini Muslimat sudah mengelola lebih dari 9900 TK, 11.000 Raudhatul Atfal, 4223 pendidikan anak usia dini, 131 koperasi primer, 490 program keaksaraan dan 35.000 majelis taklim di seluruh Indonesia. (mkf)

KOKAM Tegal



Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Amalan KOKAM Tegal

Sabtu, 20 Januari 2018

Kang Said: Bangsa Asing Inginkan Indonesia Ekstrem

Jepara, KOKAM Tegal. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Said Aqil Siroj mengimbau warga NU untuk memasyarakatkan cara beragama yang moderat. Kiai Said mengingatkan mereka untuk berjuang untuk itu. Karena, banyak pihak asing yang memprovokasi agar bangsa Indonesia terlibat dalam gerakan ekstrem.

“Bangsa Barat sangat mendambakan Indonesia menjadi radikal. Jika sudah radikal, mereka memiliki alasan untuk menggempur Nusantara,” kata Kang Said saat menyampaikan sambutan di Harlah ke-71 Yayasan Mathaliul Huda di desa Bugel kecamatan Kedung kabupaten Jepara, Rabu (17/9) malam.

Kang Said: Bangsa Asing Inginkan Indonesia Ekstrem (Sumber Gambar : Nu Online)
Kang Said: Bangsa Asing Inginkan Indonesia Ekstrem (Sumber Gambar : Nu Online)

Kang Said: Bangsa Asing Inginkan Indonesia Ekstrem

Sebab itu, sikap ke-NUan tegasnya harus tetap dijaga. “Orang NU jangan mudah terpancing pada kelompok yang suka mengebom. Sebab NU cinta damai. Jangan sampai ikut-ikutan ISIS. Gerombolan garis keras itu sudah bukan Islam, karena suka membunuh saudaranya sendiri,” pesan Kang Said di hadapan ratusan jamaah yang hadir.

KOKAM Tegal

Kepada hadirin, pengasuh pesantren Ats-Tsaqafah Ciganjur ini mengingatkan orang tua untuk benar-benar mengawasi anaknya dari pengaruh paham ekstrem. “Ciri lahiriahnya kelompk wahabi antara lain berjenggot panjang, bergamis, bercelana cingkrang, atau tanda hitam di jidat.”

Pengurus masjid juga lebih cermat. Jangan sampai wahabi menguasai kepengurusan masjid. Bogor, Tangerang, dan Bekasi merupakan kota yang dikuasai kelompok wahabi. “Untungnya LTM PBNU lekas bertindak sehingga masjid-masjid yang direbut kelompok tersebut bisa kembali,” imbuh Kang Said. (Syaiful Mustaqim/Alhafiz K)

KOKAM Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Amalan, AlaNu KOKAM Tegal

Selasa, 16 Januari 2018

Santri Annuqayah Kaji Militansi Sahabat Nabi untuk Teladan Berorganisasi

Sumenep, KOKAM Tegal. Ikatan Santri Muda Lintas Kecamatan (Iksandalika) Kabupaten Sumenep Madura Jawa Timur melangsungkan dialog terbuka di Pesantren Annuqayah Lubangsa Selatan, Guluk-Guluk, Sumenep, Jumat (25/3). Tokoh pemuda Madura, Syamsuni, didapuk sebagai pemateri.



Santri Annuqayah Kaji Militansi Sahabat Nabi untuk Teladan Berorganisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Annuqayah Kaji Militansi Sahabat Nabi untuk Teladan Berorganisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Annuqayah Kaji Militansi Sahabat Nabi untuk Teladan Berorganisasi



Acara tersebut mengangkat tema Menumbuhkan Militansi Santri dalam Berorganisasi. Pembahasan militansi sahabat Nabi dalam berorganisasi cukup mengemuka di forum tersebut.

KOKAM Tegal





Menurut Syamsuni, syarat membangun kinerja bersama adalah militansi yang dimiliki semua anggota organisasi. Militansi inilah gambaran ketika sebuah organisasi memiliki keyakinan yang sama akan terwujudnya visi dan misi organisasi.

KOKAM Tegal





"Militansi adalah rasa kebersamaan yang penuh ketulusan, kesabaran, dan keikhlasan secara kolektif. Militansi tergolong sholeh sosial dalam berkinerja di mana semuanya memiliki semangat yang sama, energi yang sama dalam mencapai sebuah tujuan," urainya.





Ditegaskan, militansi adalah kekuatan para sahabat Nabi Muhammad ketika mereka menjadi agen perubahan dalam mewujudkan visi dan misi perjuangan.





Kita bisa cermati, tambah pria yang juga jurnalis tersebut, betapa militannya para sahabat Nabi di Madinah ketika dikepung kafir quraisy. Negara Madinah menjadi aman karena kaum di dalamnya sevisi dengan Nabi untuk membentuk masyarakat yang baldatun thayyibatun warobbun ghafur.





"Muaranya, umat Islam yang punya militansi tinggi di Madinah, mampu menaklukkan Makkah tanpa adanya pertumpahan darah. Kunci militansi ialah merasa memiliki dan bertanggung jawab untuk kemajuan organisasi," tegas Syamsuni. (Hairul Anam/Fathoni). Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Amalan, Kajian, Olahraga KOKAM Tegal

Sabtu, 13 Januari 2018

Pembukaan Pra-Muktamar NU di Lombok Sukses

Lombok Tengah, KOKAM Tegal. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj membuka acara pra muktamar NU yang dihelat di Pesantren NU Al-Manshuriyah Talimusshibyan Jl TGH Moh Shaleh Hambali Sangkong, Desa Bonder, Kecamatan Praya Barat, Kabupaten Lombok Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Barat, Kamis (9/4).

Pembukaan Pra-Muktamar NU di Lombok Sukses (Sumber Gambar : Nu Online)
Pembukaan Pra-Muktamar NU di Lombok Sukses (Sumber Gambar : Nu Online)

Pembukaan Pra-Muktamar NU di Lombok Sukses

Upacara pembukaan tersebut dihadiri ribuan warga Nahdliyin yang memenuhi halaman pesantren. Selain para pengurus PCNU se-Provinsi NTB, sebagian besar pengurus PBNU tampak hadir.

Di tribun utama, antara lain Pengasuh Pesantren Tebuireng KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah), KH Chalid Mawardi, KH Saifuddin Amsir, Tuan Guru Turmudzi Badaruddin, KH Ishomuddin, KH Artani Hasbi, KH Ubaidillah, dan KH Musthofa Aqil Siroj.

KOKAM Tegal

Bupati Lombok Tengah, Sekda Provinsi NTB mewakili gubernur, dan para pejabat dinas serta kepolisian setempat tampak antusias mengikuti jalannya upacara pembukaan pra-muktamar.

KOKAM Tegal

Dalam sambutannya selaku tuan rumah sekaligus Ketua PWNU NTB, AGH A Taqiuddin Mansur menyatakan kegembirannya menyambut kedatangan para ulama di pesantrennya. “Kami bangga, Pondok Pesantren NU Al-Manshuriyah Ta’limusshibyan diberi amanah untuk menyelenggarakan agenda muktamar

Meski demikian, Tuan Guru Taqiuddin menyebut pemberitahuan dari PBNU sangat mendadak. Padahal, jika diberitahu sebulan sebelumnya, dipastikan pesantrennya tidak bisa menampung ribuan warga NU.

“Sebab, rakyat NU yang begitu besar di NTB ini. NU di sini sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari watak dan akhlak masyarakat. Menyebut NU sudah tak asing lagi, karena sama saja menyebut dirinya sendiri. Inilah yang membahagiakan kami warga Nahdliyin di sini,” ujarnya bangga.

Ia menambahkan, antara NU dengan ormas lain telah seirama memandang bahwa Ahlussunnah wal Jamaah sebagai pandangan hidup mereka. “Oleh karena itulah, kegiatan seperti ini kendati hanya dua minggu pemberitahuannya, alhamdulillah kami tetap bisa melaksanakannya,” katanya disambut gemuruh tepuk tangan ribuan hadirin.

Sementara itu, dalam pidato pembukaan pra-muktamar Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj kembali mengulas tentang Islam yang tidak hanya membawa akidah dan syariah semata. Namun, Islam sebagai agama ilmu pengetahuan, budaya, peradaban, kemajuan, dan kemanusiaan. “Sungguh Allah dan Rasulullah tidak ridho kalau umat Islam bodoh. Juga tidak ridho kalau umat Islam biadab seperti ISIS,” ujarnya yang langsung disambut aplaus panjang.

Kiai Said juga menyinggung tema muktamar ke-33 NU Agustus mendatang. Ia menegaskan bahwa Islam Nusantara yang kini diusung sebagai tema muktamar merupakan Islam penebar kasih sayang.

“Islam Nusantara itu identik dengan Ahlussunnah Wal Jamaah, Islam yang beradab, Islam sebagai din al-rahmah wa al-hidayah. Bukan Islam yang membawa doktrin kekerasan, ekstrim radikal, apalagi terorisme,” tegasnya.

Sebelum mengakhiri pidatonya dan membuka acara, Kiai Said berharap Muktamar ke-33 NU di Jombang sukses seperti pra-muktamar di Lombok. “Dengan ini, saya selaku Ketua Umum PBNU membuka seminar pra-muktamar dengan tema ‘Penguatan Ulama melalui Ahlul Halli Wal Aqdi dengan ucapan bismillahi Allahu Akbar saya buka secara resmi,” pungkasnya. (Musthofa Asrori/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Amalan KOKAM Tegal

Jumat, 05 Januari 2018

Dirjen Haji Kemenag RI Mestinya Tunda Mereka Yang Sudah Haji

Jakarta, KOKAM Tegal. Keterbatasan kuota haji yang membuat panjangnya antrean, berdampak pada kecilnya kesempatan masyarakat untuk menunaikan ibadah haji. Karenanya, banyak orang harus menunggu antrean hingga belasan bahkan 27 tahun. Di tengah kepadatan antrean ini, perlu ada peraturan Dirjen Kemenag RI yang memprioritaskan calon jamaah yang belum berhaji.

Dirjen Haji Kemenag RI Mestinya Tunda Mereka Yang Sudah Haji (Sumber Gambar : Nu Online)
Dirjen Haji Kemenag RI Mestinya Tunda Mereka Yang Sudah Haji (Sumber Gambar : Nu Online)

Dirjen Haji Kemenag RI Mestinya Tunda Mereka Yang Sudah Haji

Pernyataan ini merupakan hasil kajian para kiai NU pada sidang bahtsul masail pra muktamar NU di pesantren Krapyak, Yogyakarta, Sabtu malam hingga Ahad dini hari (28-29/3).

Menurut KH Aniq Muhammadun dari Pati, pemerintah dalam hal ini Dirjen Haji Kemenag RI berkewajiban mendahulukan kewajiban haji yang bersifat fardhu ain (haji pertama setiap orang) dibanding kewajiban fardhu kifayah (haji tidak wajib seperti haji kedua dan seterusnya).

KOKAM Tegal

“Bila terjadi kepadatan antara fardhu kifayah dan fardhu ain, maka fardhu ain yang dimenangkan. Kalau pemerintah tidak mengikuti kaidah ini, kesalahan ada di pemerintah, bukan di pendaftar,” kata Rais Syuriyah PCNU Pati ini.

KOKAM Tegal

Sebenarnya, kesalahan terletak pada Dirjen Kemanag RI ketika terjadi keberangkatan kedua atau ketiga orang sudah menunaikan haji wajib. Pasalnya pemerintah memiliki hak untuk mengatur keberangkatan. “Pemerintah kan bisa mendata mana warga yang belum dan warga yang sudah haji,” kata pengasuh pesantren Manbaul Ulum, Pati.

Mestinya Dirjen Haji Kemenag RI memiliki database agar mereka yang sudah pernah melangsungkan ibadah haji dapat ditunda keberangkatannya untuk kedua kali dan seterusnya. “Kasihan juga mereka yang mendaftar saat usia sudah agak lanjut lalu mengantre di belakang mereka yang sudah berangkat?”

“Pemerintah perlu membuat undang-undang ini karena terdapat mashlahah ammah berupa pemberian kesempatan haji bagi orang lain yang belum menunaikan haji wajib,” tandas Kiai Aniq yang usulannya diterima forum bahtsul masail pra muktamar PBNU di Krapyak. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal AlaSantri, Amalan KOKAM Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs KOKAM Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik KOKAM Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan KOKAM Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock