Tampilkan postingan dengan label Pesantren. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pesantren. Tampilkan semua postingan

Senin, 26 Februari 2018

Khofifah: Orang Tua Bagian Utama dan Pertama dalam Perlindungan Anak

Jakarta, KOKAM Tegal. Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa mengungkapkan orang tua menjadi bagian utama dan pertama yang harus memberikan perlindungan kepada anak-anak.

Khofifah: Orang Tua Bagian Utama dan Pertama dalam Perlindungan Anak (Sumber Gambar : Nu Online)
Khofifah: Orang Tua Bagian Utama dan Pertama dalam Perlindungan Anak (Sumber Gambar : Nu Online)

Khofifah: Orang Tua Bagian Utama dan Pertama dalam Perlindungan Anak

“Berdasarkan Undang-undang Perlindungan Anak, jika menemukan anak-anak terlantar maka kewajiban masyarakat Indonesia untuk memberikan perlindungan,” kata Khofifah menjawab pertanyaan wartawan di sela-sela Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) di Gedung Konvensi Taman Makam Pahlawan, Kalibata, Jakarta Selatan, Ahad (16/7) siang.

?

Peringatan HAN tahun ini digelar bersamaan dengan Halal Bihalal PP Muslimat NU. Khofifah mengatakan bagi Muslimat NU peringatan HAN sudah berlangsung bertahun-tahun.

KOKAM Tegal

“Muslimat NU punya 15.600 TPQ. Hari Anak Nasional bagi Muslimat sudah tahunan. Biasanya Muslimat NU ? membuat ? Festival Anak Soleh Nasional, tapi itu agenda 3 tahun sekali. Jadi tahun ini tidak ada,” ujarnya.

Walau digelar bersamaan dengan Halal Bihalal, Khofifah mengatakan nuasansa yang ingin dibangun tetap sama.

“Bahwa kita berharap anak-anak di Indonesia bisa bahagia. Lindungi anak-anak Indonesia. Jangan biarkan anak-anak terekpoitasi dan terlantar,” pesan Khofifah.

KOKAM Tegal

Peringatan HAN dan Halal Bi Halal PP Muslimat NU berlangsung meriah, dihadiri ribuan peserta, utamanya ibu-ibu dan anak-anak. Sejumlah tokoh turut hadir seperti Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, Ketua KPAI Asroru Niam Saleh, Kepala BKKBN, dan tokoh pemerhati anak Seto Mulyadi. (Kendi Setiawan/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Meme Islam, Syariah, Pesantren KOKAM Tegal

Minggu, 11 Februari 2018

Masjid NU Dihimbau Tak Sediakan Buku Provokatif

Jakarta, KOKAM Tegal. Sebagai sarana ibadah dan dakwah Islam yang strategis, masjid ternyata tak luput dari incaran buku-buku provokatif yang sarat kebencian antarkelompok agama. Guna mencegah suhu permusuhan yang meningkat, Pengurus Pusat Lembaga Takmir Masjid Nahdlatul Ulama (LTMNU) menghimbau masjid-masjid berbasis Nahdliyin untuk menghindari buku-buku semacam ini.

“Tentu buku-buku itu meresahkan. Sehingga, masjid-masjid NU harus terhindar dari buku-buku provokatif ini,” pinta Ketua Pengurus Pusat LTMNU KH Abdul Manan A Ghani, Selasa (8/5).

Masjid NU Dihimbau Tak Sediakan Buku Provokatif (Sumber Gambar : Nu Online)
Masjid NU Dihimbau Tak Sediakan Buku Provokatif (Sumber Gambar : Nu Online)

Masjid NU Dihimbau Tak Sediakan Buku Provokatif

Manan menyayangkan maraknya sejumlah buku yang isinya mengumbar kesalahan dan kesesatan kelompok tak sepaham. Di akui, jenis buku yang umumnya disebar oleh kelompok haluan keras ini sekarang sudah mulai ikut menyesaki rak buku masjid yang tersedia. Yang ironis, selain provokatif alasan menyesatkan juga diimbuhi dalil-dalil agama.

KOKAM Tegal

Karena itu, PP LTMNU kini proaktif mencanagkan visi masjid sebagai pusat pembangunan umat. Melalui Rapat Pimpinan untuk 33 provinsi di 17 kota, PP LTMNU menyosialisasikan fungsi masjid sebagai tempat yang ramah dan bermanfaat bagi masyarakat.

Usai menyusun buku tentang dalil amaliah NU, baru-baru ini organ NU yang dulu bernama LTMI ini juga rampung menerjemahkan kitab “Risalah Ahlussunnah Wal Jama’ah” karya Hadratus Syaikh KH Muhammad Hasyim Asy’ari. Dalam lawatan ke sejumlah kota di Indonesia, buku ini rencananya akan dibagi ke seluruh pengurus cabang di Indonesia.

KOKAM Tegal

Redaktur : Syaifullah Amin

Penulis ? ? : Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Meme Islam, Pesantren KOKAM Tegal

Kamis, 08 Februari 2018

150 Kader GP Ansor Sukolilo Ikut PKD di Tengah Banjir

Pati, KOKAM Tegal. Di tengah surutnya banjir yang mengepung kecamatan Sukolilo kabupaten Pati, GP Ansor Sukolilo menyelenggarakan Pelatihan Kader Dasar (PKD) guna membekali anggotanya dalam menghadapi tantangan pascabanjir. Sedikitnya 150 kader Ansor-Banser mengikuti pelatihan ini.

150 Kader GP Ansor Sukolilo Ikut PKD di Tengah Banjir (Sumber Gambar : Nu Online)
150 Kader GP Ansor Sukolilo Ikut PKD di Tengah Banjir (Sumber Gambar : Nu Online)

150 Kader GP Ansor Sukolilo Ikut PKD di Tengah Banjir

Pelatihan ini dibuka langsung Ketua PC GP Ansor Pati Ahmad Sholhan. Ia mewajibkan seluruh anggotanya untuk terus bergerak dan bahu-membahu membantu korban pascabanjir. Selain materi-materi PKD, peserta pelatihan dibekali dengan materi pemulihan warga pascabanjir.

PKD berlangsung di pesantren Maslakul Ridwan, Sukolilo, Sabtu-Ahad (8-9/2). Pelatihan dimaksud untuk menciptakan kader berkualitas.

KOKAM Tegal

“Kualitas artinya kader yang mandiri, peduli terhadap sekitar dan lingkungan, loyal terhadap organisasi, dan meneruskan perjuangan ulama yang senantiasa menjaga keutuhan NKRI,” terang Ketua PAC GP Ansor Sukolilo Ahmad Darmaji. (M Sultan Agung/Alhafiz K)

KOKAM Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Pesantren KOKAM Tegal

Selasa, 06 Februari 2018

Tragedi Crane: Sebuah Kesaksian dari Misfalah

Banyak gambar dan postingan di media sosial seputar kejadian runtuhnya alat berat (crane) yang tengah mengerjakan perluasan Masjidil Haram. Musibah yang terjadi Jumat (11/9) jelang Maghrib tersebut akhirnya merenggut 11 nyawa jamaah dari Indonesia. Puluhan korban luka tengah dirawat di rumah sakit setempat.

Bagaimana suasana sebelum dan sesudah kejadian? Berikut catatan dari H Nur Hidayat, salah seorang Tim Pembimbing Ibadah Haji Indonesia atau TPIHI yang juga Wakil Sekretaris PWNU Jatim. Ia melaporkan ? dari penginapan atau maktab jamaah haji di kawasan Misfalah.

Tragedi Crane: Sebuah Kesaksian dari Misfalah (Sumber Gambar : Nu Online)
Tragedi Crane: Sebuah Kesaksian dari Misfalah (Sumber Gambar : Nu Online)

Tragedi Crane: Sebuah Kesaksian dari Misfalah

Senin (7/9) dinihari, calon jamaah haji Kloter SUB 14 memasuki Kota Suci Makkah. Kelompok penerbangan atau kloter yang terdiri dari 450 orang jamaah dari Kabupaten Jombang ini menempati pemondokan Nomor 902, di sektor IX. Tepatnya di Hotel Jauharot Adham, yang berjarak sekitar 1.125 meter dari Masjidil Haram. Di hotel ini, jamaah kloter SUB 14 tinggal bersama dengan kloter SUB 05 SUB, JKS 25 dan sebagian jamaah kloter BTH 17.

KOKAM Tegal

Melalui "jalur tikus", jamaah yang menghuni Hotel Jauharot Adham dapat memperpendek jarak tempuh ke Masjidil Haram menjadi sekitar 750 meter. Karena itu, hampir semua jamaah yang masih berusia di bawah 60 tahun dan kondisinya sedang fit selalu berusaha melaksanakan shalat fardlu di Masjidil Haram. Adapun jamaah yang lansia dan kurang sehat, biasa melaksanakan di mushalla berkapasitas sekitar 500 di hotel setempat.

Usai melaksanakan umrah wajib pada Senin dinihari hingga pagi, sebagian jamaah kloter SUB 14 pun mulai mencuci kain ihram dan pakaian yang sudah kotor. Selasa pagi adalah "hari mencuci berjamaah", usai menghilangkan kepenatan akibat perjalanan Madinah-Makkah yang memakan waktu hingga hampir 12 jam dan menunaikan umrah wajib.

Menerima pertanda

KOKAM Tegal

Keesokan harinya, Selasa (8/9) sore, sekitar pukul 17:10 WAS, Nanik Kusyani (37), seorang jamaah kloter SUB 14, mengirimkan pemberitahuan melalui grup WhatsApp Ketua Regu dan Rombongan, agar jamaah yang memiliki jemuran segera mengambil jemurannya. "Angin sore ini sangat kencang, hingga banyak pakaian jamaah yang beterbangan dan terjatuh dari tempat jemuran," pesannya.

Sebagian jamaah di pemondokan 902 sempat agak kalut sore itu. Sebab, beberapa orang mengatakan ada badai pasir yang sedang berlangsung dan meminta jamaah untuk turun ke lobi hotel. Tapi, angin kencang Selasa sore itu sebenarnya tidak seberapa terasa dibandingkan apa yang terjadi pada Jumat (11/9) petang, yang berujung petaka jatuhnya (atau lebih tepatnya: terjungkal) mobile crane di proyek perluasan Masjidil Haram.

Karena itu, ketika Kamis (10/9) malam ada teman karib yang bekerja di sebuah perusahaan telekomunikasi di Jakarta menanyakan kabar dan berusaha mengonfirmasi kebenaran video badai pasir Jeddah yang beredar di media sosial, saya hanya menjawab santai. Pasalnya, saya kebetulan menyanggong jamaah yang kembali dari Masjidil Haram untuk melaksanakan Shalat Maghrib dan Isya di lobi hotel. Setiap saya tanya, rata-rata jamaah menjawab santai dan tidak ada kondisi yang mengejutkan. "Mboten wonten nopo-nopo, cuma radi gerimis kolowau (Tidak ada apa-apa. Cuma memang tadi agak gerimis)," kata M Syaikhu Amirulloh (43), salah seorang jamaah yang baru pulang dari Masjidil Haram.

Kepada teman karib tersebut, saya menjawab, "Sejak akhir Agustus, memang beberapa kali ada badai gurun." Ya, maskapai Saudia Airlines juga sempat menunda beberapa jam penerbangan haji karena badai pasir, termasuk keberangkatan kloter SUB 13 yang berisi jamaah dari Kabupaten Jember. Tapi, sepertinya itu sesuatu yang biasa di sini. Buktinya, di video badai pasir Jeddah yang beredar, kendaraan penumpang yang merekam badai pasir tersebut tetap melaju dengan santai sambil menyalakan lampu hazard. "Mungkin hal itu menjadi sesuatu bagi orang Indonesia," jawab saya dalam pesan WA pada Kamis (10/9) pukul 19.46 WAS.

Tapi, semuanya berubah pada Jumat (11/9) petang itu. Saya tidak bisa lagi menyembunyikan kegelisahan ketika menyaksikan badai pasir disusul hujan yang datang secara tiba-tiba, sekitar pukul 17:15 WAS. Saat itu, calon jamaah haji di pemondokan 902 sedang bersiap melaksanakan Shalat Maghrib di Masjidil Haram.

Awalnya, saya berencana mengajak Mbah Karnadi (75), seorang jamaah lansia berangkat ke Masjidil Haram bersama-sama. Ketika akan mengambil sajadah, saya melihat gumpalan pasir yang terbawa angin dari jendela kamar di lantai 7. Menyadari potensi bahaya yang muncul, pukul 17:24 saya segera mengirimkan pesan singkat ke grup Ketua Regu dan Rombongan Kloter SUB 14, "Alert!!! Hujan Badai... Mohon tidak usah ke Masjidil Haram!".

Setelah itu, saya segera menuju lobi hotel untuk memastikan tidak ada jamaah yang memaksakan diri berangkat ke Masjidil Haram. Selebihnya, saya berusaha merekam momen langka tersebut dengan kamera video telepon seluler. Hujan deras disertai angin kencang yang berlangsung sekitar 30 menitan itu, merupakan peristiwa yang jarang terjadi di Makkah.

Abdurrahman (51), petugas kebersihan hotel asal Bangladesh yang sudah lima tahun bekerja di Makkah juga sibuk merekam momen langka itu dengan kamera video di telepon selulernya. Ketika saya tanya apakah hujan seperti ini sering terjadi, ia menjawab hal itu jarang terjadi. Dahsyatnya hujan dan angin yang menerpa, sampai harus membuat petugas hotel mematikan sensor pintu otomatis yang menjadi akses keluar masuk jamaah.

Tidak berselang lama, Faisol Adib (34) warga Sidokerto, Kecamatan Mojowarno, Kabupaten Jombang, yang baru turun ke lobi hotel bercerita, menyaksikan sebuah crane yang patah dan terjungkal karena terpaan angin. Faisol dan istrinya, Aisyah Muniroh (27), yang tinggal di lantai 11, menduga yang patah dan terjungkal itu adalah crane proyek pembangunan di sekitar Masjidil Haram.

Usai Shalat Maghrib berjamaah di mushalla hotel, saya segera menemui beberapa jamaah untuk menghimbau agar mereka tidak berangkat ke Masjidil Haram, hingga cuaca stabil. Tetapi, saya tidak menduga bahwa cerita Faisol tentang crane patah dan terjungkal itu terjadi di sekitar mathaf (area thawaf) dan memakan puluhan korban jiwa. Saat memasuki kamar, Susanto Slamet (31), salah satu anggota Tim Kesehatan Haji Indonesia (TKHI), menunjukkan tiga foto yang diterimanya dari anggota TKHI yang sedang berada di Masjidil Haram. Saat itu, saya baru menyadari bahwa suara sirine yang bergema di sekitar maktab kami sejak hujan mereda ternyata sedang mengevakuasi jamaah yang meninggal dan terluka.

Sontak, saya segera menyalakan televisi, untuk menyaksikan berita di saluran televisi Al-Arabiya. Sekitar pukul 20.00 WAS, Al-Arabiya melaporkan data 62 jamaah yang meninggal dan lebih dari 100 orang terluka akibat tertimpa crane proyek perluasan Masjidil Haram tersebut. Saya pun segera menemui salah satu pimpinan Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) yang sudah mengagendakan untuk umrah sunnah malam itu.

Fatimatuz Zahro (51), pimpinan KBIH Al-Kautsar yang mengagendakan umrah sunnah untuk sekitar 324 orang jamaah malam itu, menjawab santai ketika saya minta menunda kegiatannya. Fatimah berada di Mushalla Nisa (tempat shalat khusus perempuan, berlokasi di sekitar pintu 84 Masjidil Haram) saat kejadian berlangsung menjelang Maghrib. Dia bercerita melihat beberapa petugas mengevakuasi jamaah yang berlumuran darah melalui kawasan Mushalla Nisa.

Ketika saya tanya apakah bisa agenda umrah sunnahnya ditunda, dia bilang akan jalan terus. "Tidak ada apa-apa kok. Tadi sudah selesai evakuasinya," tutur anggota DPRD Kabupaten Jombang ini. Tapi, muka Fatimah mendadak merah padam ketika saya tunjukkan gambar situasi di area mathaf yang tertimpa crane. Dia pun buru-buru menelepon muthawif untuk membatalkan sewa bis dan menunda pada hari lain.

Fatimah juga sempat menyatakan keheranannya karena imam hanya membaca dua ayat pendek dalam Shalat Maghrib saat itu. Hanya saja, saat itu dia benar-benar tidak tahu apa yang sedang terjadi. "Kalau tahu ada musibah itu, mungkin saya akan lari ke mathaf untuk menyaksikan secara langsung. Tapi karena tidak tahu, saya hanya memastikan suami saya aman karena berada di hotel," imbuh perempuan kelahiran Pasuruan ini.

Cerita berbeda diungkap oleh Abdurrahman (37). Pengusaha muda asal Jember yang kini tinggal di Bandung itu sedang melakukan thawaf di lantai 2, saat hujan mulai turun. Bersama ibu dan istrinya, Abdurrahman yang menginap di Hotel Hilton sore itu sedang melaksanakan thawaf sunnah. "Kami sedang memasuki putaran kelima saat badai pasir menerpa. Banyak botol air mineral, plastik dan pasir yang beterbangan di udara," tuturnya.

"Pas putaran ketujuh, hujan mulai turun. Banyak orang di lantai 2 dan lantai 3 mathaf yang panik, karena hujannya masya Allah (dahsyat). Langit juga penuh pasir dan angin kencang," imbuhnya.

Karena mengkhawatirkan keselamatan, Abdurrahman segera mengajak ibu dan istrinya berteduh di Masa (tempat Sai). Sempat berjalan perlahan, karena lantai sudah banjir dan licin. Dalam ingatan Abdurrahman, crane jatuh sekitar 17.32 WAS. "Saat itu, evakuasi jenazah sudah dimulai," kisahnya.

Dari siaran langsung televisi Masjidil Haram, tampak bahwa mathaf lantai 2 dan lantai 3 sempat ditutup hingga Sabtu sore. Tapi, aktivitas jamaah lainnya sudah mulai normal saat Shalat Subuh. Hanya sebagian area jatuhnya crane yang ditutup aksesnya untuk jamaah. Sabtu jelang Subuh, saya akhirnya memenuhi janji mengantar Mbah Karnadi ke Masjidil Haram.?

(Ibnu Nawawi/Fathoni)

Keterangan gambar: Suasana mathaf lantai dua Masjidil Haram usai musibah jatuhnya crane.

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Pesantren KOKAM Tegal

Ketika Mendes Jajal Jembatan Reot di Pandeglang

Pandeglang, KOKAM Tegal. Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Mendes PDTT), Eko Sandjojo mengungkapkan kegelisahannya saat meninjau kondisi infrastruktur di Desa Kadubera Kecamatan Picung Kabupaten Pandeglang, Senin (12/9). Ia melintasi jalan tanah berlubang bahkan jembatan reot dari bambu tua di salah satu aliran sungai desa. Di sanalah, anak sekolah dan petani beraktifitas setiap harinya.

"Tadi waktu jalan ke sini memang saya merasakan banyak goyang-goyang. Tapi mudah-mudahan dengan dana desa, perlahan jalan-jalan di desa ini bisa segera diperbaiki," ujarnya bersama warga.

Ketika Mendes Jajal Jembatan Reot di Pandeglang (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketika Mendes Jajal Jembatan Reot di Pandeglang (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketika Mendes Jajal Jembatan Reot di Pandeglang

Desa Kadubera adalah salah satu dari 75 desa tertinggal di kabupaten Pandeglang. Tahun ini, Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi memberikan bantuan berupa 2 unit jembatan penghubung antar desa. Dengan jembatan tersebut, diharapkan dapat mempermudah masyarakat setempat untuk beraktivitas.

"Kementerian-kementerian lain nanti juga bisa bantu sesuai tupoksinya. Kalau dana desa awalnya dipakai untuk infrastruktur desa, selain itu diselingkan juga untuk pengembangan ekonomi misalnya lewat BUMDes," ujarnya usai menyerahkan hewan kurban.

Selain itu, Menteri Eko juga mengatakan pentingnya peran kepolisian dan TNI dalam mensukseskan pembangunan desa. "Kalau desa tidak aman, pembangunan di desa tidak akan bisa berjalan dengan baik," ujarnya.

KOKAM Tegal

Terkait hal tersebut, Bupati Pandeglang, Irna Narulita mengatakan, dari 326 desa di pandeglang 75 desa di antaranya masih kategori tertinggal. Ia berharap, Kemendes PDTT dapat membantu daerahnya agar terlepas dari kategori tertinggal.

"Saya berterimakasih sekali kepada pak Eko (Mendes PDTT) yang di sela-sela hari raya idul adha masih menyempatkan diri untuk berkunjung di desa-desa kami," ujarnya.

Irna mengakui, kabupaten yang ia pimpin saat ini telah banyak mendapatkan dorongan dari pemerintah pusat untuk menjadi daerah maju. Bantuan 2 jembatan penghubung yang diberikan Kementerian desa misalnya, diyakini berpengaruh pada aktifitas ekonomi petani.?

KOKAM Tegal

"Untuk dua jembatan ini bantuan yang diberikan Kementerian Desa hampir Rp1 Miliar. Satu untuk menghubungkan desa Sukalangu dan Kadubera, juga untuk menghubungkan antar kecamatan," ujarnya. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Pesantren KOKAM Tegal

Rabu, 24 Januari 2018

Selain Pelayanan Kesehatan, RSNU Jombang Dorong Upaya Pengabdian

Jombang, KOKAM Tegal

Rumah Sakit Nahdaltul Ulama (RSNU) Kabupaten Jombang, Jawa Timur gelar training motivasi untuk para karyawannya, Selasa (22/3) pagi hingga siang di aula KH Abdurrahman Wahid lantai 2 RSNU setempat.

Selain Pelayanan Kesehatan, RSNU Jombang Dorong Upaya Pengabdian (Sumber Gambar : Nu Online)
Selain Pelayanan Kesehatan, RSNU Jombang Dorong Upaya Pengabdian (Sumber Gambar : Nu Online)

Selain Pelayanan Kesehatan, RSNU Jombang Dorong Upaya Pengabdian

Dalam training ini, para karyawan diajak untuk berpikir ulang tentang hakikat bekerja serta menilai terhadap kinerja dari masing-masing petugas RSNU, mulai pelayanan kesahatan bagi pasien, pengawasan pihak atasan dan juga tugas keamanan bagi satpam RSNU ini.?

Perihal tersebut bertujuan untuk memberikan motivasi yang kuat dalam menjalankan tugas sebagai karyawan di lembaga kesehatan milik NU. Sebab sebagian kecil terdapat perbedaan yang menonjol terkait pola kerja karyawan dibandingkan dengan sejumlah lembaga kesehatan pada umumnya, yaitu aspek kinerja yang harus disertai dengan nilai pngabdian dan dakwah.

“Manusia punya tiga segmen. Yang pertama pikiran, kemudian perasaan dan yang terahir adalah raga. Maka yang pertama pikiran mereka, kita ajak berpikir ulang tentang hakikat bekerja itu apa? orang ketika bekerja niat betul-betul untuk ibadah, maka apapun yang dikerjakan pasti senang, dan ketika senang akan memberikan yang terbaik.,” kata Askan Setiabudi, narasumber training.

KOKAM Tegal

Kemudian yang kedua, lanjut dia setelah diajak untuk berpikir ulang, maka hatinya harus diisi dengan nilai-nilai keagamaan. “Manusia tidak hanya ingin merasakan kepuasan di dunia saja, tapi juga akan hidup di akhirat. Keseimbangan aktivitas untuk urusan dunia dan akhirat harus seimbang,” tuturnya.

Menurutnya, RSNU bukan semata-mata media untuk memperoleh keuntungan profit, namun yang lebih utama adalah memberikan pelayanan-pelayanan terbaik untuk pasien dengan niat ikhlas dan ibadah.?

“Kalau semata-mata karena uang maka kerjanya sangat beda, dibandingkan kerja yang didasarkan karena ibadah, semangatnya juga pasti beda. Apalagi rumah sait ini adalah rumah sakit NU yang lebih mementingkan nilai kemanusiaan dan sosial,” ujarnya.

Pada puncak kegiatan, Ketua lembaga “tips Indonesi” asal Kabupaten Malang, Jawa Timur ini mengevaluasi beberapa tugas setiap karyawan yang belum bisa dilaksanakan dengan menuliskan di kertas yang disediakan. Kemudian mencari solusi yang dihasilkan dari semua peserta training dengan saling tukar pendapat. (Syamsul Arifin/Fathoni)

KOKAM Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Hikmah, Pesantren KOKAM Tegal

Minggu, 21 Januari 2018

Banser Temanggung Turut Tangan di Lokasi Tanah Longsor

Temanggung, KOKAM Tegal - Di saat sebagian masyarakat beramai-ramai menyaksikan fenomena langka gerhana matahari, puluhan anggota Barisan Ansor Serba Guna (Banser) Temanggung berpartisipasi menangani bencana tanah longsor yang melanda beberapa tempat di Desa Tegalsari, Kecamatan Tretep, Kabupaten Temanggung. Mereka membantu evakuasi bencana tanah longsor yang mengakibatkan terhambatnya jalur utama yang menghubungkan Kecamatan Wonoboyo dan Kecamatan Tretep.

Nihilnya angkutan desa yang beroprasi pada Rabu itu bukan semata lantaran bertepatan dengan hari libur nasional atau adanya momentum terjadi gerhana matahari, tetapi lebih karena jalur tersebut belum bisa dilewati baik oleh kendaraan roda empat atau roda dua.

Banser Temanggung Turut Tangan di Lokasi Tanah Longsor (Sumber Gambar : Nu Online)
Banser Temanggung Turut Tangan di Lokasi Tanah Longsor (Sumber Gambar : Nu Online)

Banser Temanggung Turut Tangan di Lokasi Tanah Longsor

Hujan lebat mengguyur kawasan Kecamatan Wonoboyo dan Tretep pada Selasa (8/3) sore. Derasnya hujan disertai pula longsor tanah di tiga titik daerah Tretep yang menghalangi jalan raya.

Menurut Koordinator tim SAR Tretep Yanto, pihaknya merasa sangat terbantu dengan keterlibatan Banser Temanggung dan beberapa elemen lain yang turut menangani tanah longsor di kecamatan Tretep, khususnya yang sempat menimpa jalan raya.

KOKAM Tegal

KOKAM Tegal

"Kami mulai menangani longsor ini sejak pagi tadi, berhubung kemarin sore belum memungkinkan untuk turun ke lokasi. Berkat kerja sama dan gotong royong dengan masyarakat daerah dan Banser serta elemen relawan lain, setelah bahu-membahu mengangkat tanah, Alhamdulilah diperkirakan nanti sore jalur ini bisa kembali normal dan sudah bisa dilewati kendaraan," kata Yanto kepada KOKAM Tegal, Rabu (9/3).

Salah satu anggota Banser Temanggung yang sempat kami temui pada siang itu menyatakan bahwa aksi sosial turun lapangan semacam ini bukan kali ini saja. Setiap terjadi bencana seperti tanah longsor, Banser Temanggung sudah kerap ikut terjun menanganinya.

Berdasarkan pantauan KOKAM Tegal, akibat tanah lonsor yang menghambat jalan utama kecamatan Tretep ini banyak pedagang yang memilih pulang kembali ketimbang harus melalui jalur alternatif yang jaraknya beberapa kali lipat lebih jauh dari jalan raya yang biasa mereka lewati menuju tempat berdagangnya. Angkutan desa yang biasanya ramai, juga tak tampak pada Rabu itu. (M Haromain/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Pesantren, Kajian Sunnah KOKAM Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs KOKAM Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik KOKAM Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan KOKAM Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock