Tampilkan postingan dengan label Kajian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kajian. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 Februari 2018

Sambut Bulan Haji, Calon Jamaah Harus Jaga Niat

Surabaya, KOKAM Tegal. Di samping menjaga kesehatan dan menyiapkan kebutuhan selama satu bulan lebih di tanah suci, para calon jamaah haji juga harus mempersiapkan mental agar bisa merampungkan ibadah dengan baik. Yang juga sangat menentukan adalah kemurnian hati agar titel sebagai haji mabrur bisa diraih.

"Ibadah haji mensyaratkan kekuatan fisik jamaah karena akan melakukan sejumlah ibadah yang membutuhkan tenaga ekstra," kata H Farmadi Hasyim, Kepala Seksi Haji Kantor Kementerian Agama Kota Surabaya, Senin (10/8).

Sambut Bulan Haji, Calon Jamaah Harus Jaga Niat (Sumber Gambar : Nu Online)
Sambut Bulan Haji, Calon Jamaah Harus Jaga Niat (Sumber Gambar : Nu Online)

Sambut Bulan Haji, Calon Jamaah Harus Jaga Niat

Mempersiapkan bekal sejak dini dan menempuh perjalanan panjang sejak dari rumah hingga ke pemondokan dan ke tanah suci tentu membutuhkan kondisi tubuh yang prima, lanjutnya. "Karena itu selama menunggu jadwal keberangkatan, disarankan jamaah untuk meperbanyak olahraga sebagai latihan agar saat melaksanakan ibadah tidak mengalami masalah," ungkapnya.

Dan Ustadz Farmadi, sapaan akrabnya yakin bahwa materi seputar hal ini telah disampaikan saat manasik yang diikuti calon jamaah. "Tinggal mengingat dan menjalankan seluruh anjuran itu dengan baik," kata Wakil Ketua Lembaga Dakwah PWNU Jawa Timur ini.

KOKAM Tegal

KOKAM Tegal

Yang juga sangat penting untuk diperhatikan adalah terus lurus dalam menata niat. "Karena factor inilah yang akan sangat diuji selama pelaksanaan ibadah haji," terangnya. Bertemu dengan kaum muslimin dari berbagai daerah dan negara, tentu juga diiringi dengan tabiat dan beragam pula, lanjutnya.

"Dibutuhkan kebesaran hati, kelapangan jiwa dan lurusnya niat agar selama pelaksanaan haji, para jamaah mampu mengendalikan diri dan emosi," tandasnya. Apalagi pada perlaksanaan haji kali ini cuaca lumayan terik, maka kesabaran dan kemurnian niat sangat menentukan, lanjutnya.

?

"Diperkirakan kloter pertama jamaah haji Indonesia akan berada di Asrama Haji tanggal 20 Agustus," pungkasnya. (Syaifullah/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Kajian, Kiai KOKAM Tegal

NU Tak Pernah Main-main dengan Perusak Lingkungan

Jakarta, KOKAM Tegal

Nahdlatul Ulama (NU) tak pernah bersikap main-main dengan para pelaku perusak lingkungan. Organisasi kemasyarakatan Islam terbesar di Indonesia itu telah sejak lama menegaskan bahwa tak ada kata maaf bagi pelaku kejahatan hutan dan lingkungan.



NU Tak Pernah Main-main dengan Perusak Lingkungan (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Tak Pernah Main-main dengan Perusak Lingkungan (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Tak Pernah Main-main dengan Perusak Lingkungan

Demikian ditegaskan Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj saat menjadi narasumber pada Halaqah bertajuk “Perubahan Iklim dan Pengurangan Risiko Bencana Berbasis Masyarakat dalam Perspektif Islam” di Hotel Gren Alia Cikini, Jakarta, Selasa (24/7)

Dalam acara yang juga dihadiri Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Mar’ie Muhammad itu, Kang Said—begitu panggilan akrabnya—menjelaskan, pada Muktamar NU ke-29 tahun 1994, di Cipasung, Tasikmalaya, Jawa Barat, NU mengeluarkan fatwa yang melarang keras setiap bentuk dan upaya merusak lingkungan hidup.

KOKAM Tegal

Sebagaimana juga telah ditegaskan di dalam Al-Quran, jelas Kang Said, NU memfatwakan, pelaku perusakan lingkungan atau hutan harus dihukum sekeras-kerasnya. “Kalau perlu dihukum mati, atau dibuang, diasingkan ke tempat lain yang terpencil,” ujarnya pada halaqah yang digelar Community Based Disaster Risk Management (CBDRM) NU itu.

KOKAM Tegal

Hal tersebut, katanya, bukanlah fatwa main-main dan tanpa dasar. Selain telah ditegaskan di dalam Islam, perusakan lingkungan tak hanya berakibat pada rusaknya tatanan ekosistem, melainkan pula mengancam keberlanjutan kehidupan manusia. Dengan demikian, para pelakunya harus diganjar dengan hukuman sekeras-kerasnya.

Menurutnya, berbagai musibah bencana alam yang terjadi belakangan ini yang merupakan akibat dari perusakan lingkungan, sebagian besar para korbannya adalah warga Nahdliyin (sebutan untuk warga NU).

Karena itu, ia juga meminta agar para santri juga dibekali dengan pengetahuan dan keterampilan tentang penanganan bencana alam. Pun pengetahuan akan pentingnya menjaga serta melestarikan alam.

Sependapat dengan Kang Said, Mar’ie mengatakan, pada dasarnya NU memiliki posisi penting dalam hal penanganan bencana alam, tidak hanya pada penanganan tanggap darurat jika terjadi bencana, melainkan peran dalam menjaga dan melestarikan lingkungan.

Basis massa Nahdliyin yang tak bisa dihitung kecil jumlahnya, papar Mar’ie, sangat potensial jika dimanfaatkan dengan baik, terutama dalam hal penanganan bencana alam berbasis masyarakat. Apalagi, tambahnya, NU memiliki ratusan ribu lembaga pendidikan pondok pesantren. (rif)Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Kajian, Humor Islam KOKAM Tegal

Jumat, 02 Februari 2018

Sistem Budaya Daerah Kita dan Modernisasi

Oleh KH Abdurrahman Wahid. Beberapa belas tahun lalu, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengadakan penelitian tentang 14 sistem budaya daerah di negeri kita. Sistem budaya daerah Aceh hingga Nusa Tenggata Timur (NTT) diteliti, termasuk sistem budaya Jawa I dan Jawa II. Yang dimaksudkan dengan sistem budaya Jawa I adalah sistem budaya Jawa yang ada di daerah-daerah pusat keraton, seperti Yogyakarta dan Solo. Sebaliknya, sistem budaya Jawa II adalah Jawa pinggiran, terutama di Jawa Timur.

Budaya pesantren, dalam hal ini, termasuk sistem budaya Jawa II. Hasil yang sangat menarik dari penelitian tersebut, yang dipimpin Dr. Mochtar Buchori, adalah pentingnya menerapkan sistem-sistem tersebut di saat sistem modern belum dapat diterapkan. Sistem budaya Ngada di Flores Timur, umpamanya, adalah substitusi bagi sistem hukum nasional kita di daerah itu, ketika belum berdiri lembaga pengadilan di sana. Kode etik Siri dalam masyarakat Bugis, yang berintikan pembelaan terhadap kehormatan diri, tidaklah lekang pada masa ini. Beberapa kejadian penggunaan badik untuk mempertahankan diri, di berbagai daerah di kalangan orang Bugis, jelas menunjukkan adanya penerapan nilai-nilai yang berlaku dalam sistem budaya daerah Bugis itu.

Sistem Budaya Daerah Kita dan Modernisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Sistem Budaya Daerah Kita dan Modernisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Sistem Budaya Daerah Kita dan Modernisasi

Penelitian menunjukkan, terdapat kemampuan hidup sistem budaya daerah kita di tengah-tengah arus modernisasi yang datang tanpa dapat dicegah. Karenanya, sikap yang tepat adalah bagaimana memanfaatkan sistem budaya daerah di suatu tempat dalam satu periode, dengan dua tujuan: menunggu mapannya masyarakat dalam menghadapi modernisasi, dan mengelola arus perubahan untuk tidak datang secara tiba-tiba. Dengan cara demikian, kita dapat mengurangi akibat-akibat modernisasi menjadi sekecil mungkin.

KOKAM Tegal

***

Clifford Geertz dari Universitas Princeton, menganggap kyai/ulama’ pesantren sebagai “makelar budaya” (cultural broker). Dia menyimpulkan demikian, karena melihat para kyai melakukan fungsi screening bagi budaya di luar masyarakatnya.

KOKAM Tegal

Nilainilai baru yang dianggap merugikan, disaring oleh mereka agar tidak menanggalkan budaya lama —kyai bagaikan dam/ waduk yang menyimpan air untuk menghidupi daerah sekitar. Namun pengaruh budaya luar yang datang ke suatu daerah, bagaikan permukaan air yang naik oleh adanya bendungan itu. Masyarakat dilindungi dari pengaruh-pengaruh negatif, dan dibiarkan mengambil pengaruh-pengaruh luar yang positif.

Hiroko Horikoshi dalam disertasinya2 berhasil membuktikan bahwa Kyai mengambil peranan sendiri untuk merumuskan gerak pembangunan di tempat mereka berada. Ini berarti, menurut Horikoshi reaksi pesantren terhadap modernisasi tidaklah sama dari satu ke lain tempat. Dengan demikian, tidak akan ada sebuah jawaban umum yang berlaku bagi semua pesantren terhadap tantangan proses modernisasi. Dengan kata lain, Horikoshi menolak pendapat Geertz di atas.

Menurut Horikoshi, masing-masing pesantren dan Kyai akan mencari jawaban-jawaban sendiri —dan, dengan demikian tidak ada jawaban umum yang berlaku bagi semua dalam hal ini. Pendapat Geertz di atas, dengan sendirinya, terbantahkan oleh temuan-temuan yang dilakukan Horikoshi terhadap reaksi Kyai Yusuf Thojiri dari Pesantren Cipari, Garut, atas tantangan modernisasi. Pesantren yang dipimpin oleh besan mendiang KH. Anwar Musaddad itu, tentu memberikan reaksi lain terhadap proses modernisasi. Pesantren yang sekarang dipimpin oleh Ustadzah Aminah Anwar Musaddad itu, sekarang justru tertarik pada upaya mendukung Usaha Kecil dan Menengah (UKM) yang bergerak di bidang garment dan pelestarian lingkungan alam melalui penghutanan kembali.

***

Jelaslah dengan demikian, bahwa bermacam cara dapat digunakan untuk mengenal berbagai reaksi terhadap proses modernisasi. Ada reaksi yang menggunakan warisan sistem budaya daerah, tapi ada pula yang merumuskan reaksi mereka dalam bentuk tradisi yang tidak tersistemkan. Ada pula reaksi yang bersifat temporer, tapi ada pula yang bersifat permanen. Ada yang berpola umum, tapi ada pula yang menggunakan caracara khusus dalam memberikan reaksi.

Kesemuannya itu dapat disimpulkan, keengganan menerima bulat-bulat apa yang dirumuskan “orang lain” untuk diri kita sendiri. Proses pribumisasi (nativisasi) berlangsung dalam bentuk bermacammacam, pada saat tingkat penalaran dan keterampilan berjalan, melalui berbagai sistem pendidikan. Dengan demikian, proses pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) di Indonesia berjalan dalam dua arah yang berbeda. Di satu pihak, kita menerima pengalihan teknologi dan keterampilan dari bangsa-bangsa lain, melalui sistem pendidikan formal—maka, lahirlah tenagatenaga profesional untuk mengelolanya. Di pihak lain, pendidikan informal kita justru menolak pendekatan menelan bulat-bulat apa yang datang dari luar.

Dengan demikian, tidaklah heran jika ada dua macam jalur komunikasi dalam kehidupan bangsa kita. Di satu sisi, kita menggunakan jalur komunikasi modern, yang bersandar pada sistem pendapat formal dan media massa. Media massa pun, yang dahulu sangat takut pada kekuasaan pemerintah, kini justru tunduk terhadap kekuasaan uang; dengan kemampuan yang belum berkembang menjadi proses yang efektif. Di sisi lain, digunakan jalur lain, yaitu komunikasi langsung dengan massa kongregasi jama’ah masjid/surau, gereja, pengajian-pengajian khalayak/majelis ta’lim, kelenteng/vihara, merupakan saluran wahana langsung tersebut. Apalagi, jika seseorang atau kelompok mampu menggunakan kedua jalur komunikasi itu, tentu akan menjadikan sistem politik kita sekarang dan di masa depan menjadi sangat transparan, akan menjadi lahan menarik untuk dapat dipelajari dan diamati dengan seksama.

*) Diambil dari Abdurrahman Wahid, Islamku Islam Anda Islam Kita: Agama Masyarakat Negara Demokrasi, 2006 (Jakarta: The Wahid Institute).

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Kajian, Anti Hoax KOKAM Tegal

Kamis, 25 Januari 2018

Pesantren Gudangnya Ilmu Pengetahuan

Jepara, KOKAM Tegal. Pesantren sebagai lembaga pendidikan tertua di Nusantara merupakan gudangnya ilmu pengetahuan. Demikian dikemukakan Kepala Kantor Kementerian Agama kabupaten Jepara H Muhdi Zamru dalam kegiatan Gerakan Santri Menulis; Sarasehan Jurnalistik Ramadhan 2013.

Pesantren Gudangnya Ilmu Pengetahuan (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Gudangnya Ilmu Pengetahuan (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Gudangnya Ilmu Pengetahuan

Kegiatan diselenggarakan di Pondok Pesantren Balekambang desa Gemiring Lor kecamatan Nalumsari kabupaten Jepara, Selasa (16/7).  

Muhdi menyatakan, sebagai gudang ilmu pengetahuan pesantren kini sudah sesuai dengan tuntutan zaman. Pesantren mempertahankan kajian kitab kuning dan menambah kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan santri. Sehingga jebolan-nya bisa menyamai lulusan pendidikan umum yang lain. 

KOKAM Tegal

Disisi lain lanjut Muhdi santri mempunyai banyak kemahiran. Semisal kepandaian dalam berbicara. Namun keluwesan dalam berbicara himbaunya agar diimbangi dengan kepandaian dalam menulis. Sebab menulis, tambahnya, sudah diwariskan sejak penghafal Al-Qur’an era sahabat berkeinginan mengumpulkan hafalan itu dalam bentuk teks. Tujuannya agar saat para penghafal itu wafat teks itu masih kekal abadi. 

Karenanya, kegiatan yang difasilitasi harian Suara Merdeka dan sudah berlangsung 19 tahun itu disambutnya dengan positif. “Dengan berkarya (menulis, red) maka generasi yang akan datang akan tetap bisa menikmati karya-karya yang kita torehkan,” tambahnya. 

KOKAM Tegal

Ia juga menyebut Kurikulum 2013 salah satu tujuannya untuk menggerakkan otak kiri dan kanan. Otak kiri untuk menghafal paling banter hanya mampu menampung 10%. Sedangkan otak kanan dengan prosentase selebihnya 90% merupakan pusat untuk kreativitas berpikir. 

“Salah satu kreativitas untuk berpikir ya dengan membaca dan menulis. Dengan menulis kita akan memberikan informasi kepada khalayak. Dan itu merupakan ikhtiar kita untuk menguasai dunia,” tegasnya kepada 300an santri yang mengikuti kegiatan.

Dalam kegiatan yang berlangsung sehari itu hadir HM Solikhin (Kabid Madin dan Pondok Pesantren Kanwil Kemenag Provinsi Jawa Tengah), H Ahmad Marzuqi (Bupati Jepara), Harun-Rofiul Hadi (Unwahas Semarang), H Miftakhudin dan KH Mustamir Wildan (perwakilan Pengasuh Pesantren).

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Syaiful Mustaqim

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Kajian KOKAM Tegal

Selasa, 16 Januari 2018

Santri Annuqayah Kaji Militansi Sahabat Nabi untuk Teladan Berorganisasi

Sumenep, KOKAM Tegal. Ikatan Santri Muda Lintas Kecamatan (Iksandalika) Kabupaten Sumenep Madura Jawa Timur melangsungkan dialog terbuka di Pesantren Annuqayah Lubangsa Selatan, Guluk-Guluk, Sumenep, Jumat (25/3). Tokoh pemuda Madura, Syamsuni, didapuk sebagai pemateri.



Santri Annuqayah Kaji Militansi Sahabat Nabi untuk Teladan Berorganisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Annuqayah Kaji Militansi Sahabat Nabi untuk Teladan Berorganisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Annuqayah Kaji Militansi Sahabat Nabi untuk Teladan Berorganisasi



Acara tersebut mengangkat tema Menumbuhkan Militansi Santri dalam Berorganisasi. Pembahasan militansi sahabat Nabi dalam berorganisasi cukup mengemuka di forum tersebut.

KOKAM Tegal





Menurut Syamsuni, syarat membangun kinerja bersama adalah militansi yang dimiliki semua anggota organisasi. Militansi inilah gambaran ketika sebuah organisasi memiliki keyakinan yang sama akan terwujudnya visi dan misi organisasi.

KOKAM Tegal





"Militansi adalah rasa kebersamaan yang penuh ketulusan, kesabaran, dan keikhlasan secara kolektif. Militansi tergolong sholeh sosial dalam berkinerja di mana semuanya memiliki semangat yang sama, energi yang sama dalam mencapai sebuah tujuan," urainya.





Ditegaskan, militansi adalah kekuatan para sahabat Nabi Muhammad ketika mereka menjadi agen perubahan dalam mewujudkan visi dan misi perjuangan.





Kita bisa cermati, tambah pria yang juga jurnalis tersebut, betapa militannya para sahabat Nabi di Madinah ketika dikepung kafir quraisy. Negara Madinah menjadi aman karena kaum di dalamnya sevisi dengan Nabi untuk membentuk masyarakat yang baldatun thayyibatun warobbun ghafur.





"Muaranya, umat Islam yang punya militansi tinggi di Madinah, mampu menaklukkan Makkah tanpa adanya pertumpahan darah. Kunci militansi ialah merasa memiliki dan bertanggung jawab untuk kemajuan organisasi," tegas Syamsuni. (Hairul Anam/Fathoni). Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Amalan, Kajian, Olahraga KOKAM Tegal

Senin, 15 Januari 2018

Menjawab Tuduhan Kiai Said Mendukung Hary Tanoe

Jakarta, KOKAM Tegal. Beberapa hari terakhir publik sempat dikejutkan dengan pemberitaan terkait Ketua Umum Nahdlatul Ulama KH Said Aqil Siroj mempromosikan Hary Tanoe untuk menjadi presiden. Namun demikian, Wakil Sekretaris Jenderal Nahdlatul Ulama Masduki Baidlowi menyangkal bahwa pemberitaan tersebut tidaklah benar.

Masduki menjelaskan bahwa sebuah berita harus berimbang dan sesuai dengan kaidah kode etik jurnalistik. Ia mengatakan bahwa pemberitaan yang melibatkan Kiai Said tersebut adalah tidak utuh dan hanya sepotong-sepotong.

“Pembicaraan Ketua Umum (Kiai Said) mesti dimuat secara utuh, harus sesuai dengan prinsip 5W plus 1H,” kata Masduki di kantor KOKAM Tegal, Selasa, (26/4).

Menjawab Tuduhan Kiai Said Mendukung Hary Tanoe (Sumber Gambar : Nu Online)
Menjawab Tuduhan Kiai Said Mendukung Hary Tanoe (Sumber Gambar : Nu Online)

Menjawab Tuduhan Kiai Said Mendukung Hary Tanoe

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa foto-foto Hary Tanoe yang tersebar di berbagai media sosial tersebut adalah kumpulan dari rangkaian kunjungan Hary Tanoe ke berbagai pesantren, termasuk pesantren Nahdlatul Wathon di NTB dan Pesantren Al Falah di Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan.?

“Itu (foto-foto itu) adalah kompilasi dari beberapa peristiwa yang dihadiri oleh Hary Tanoe di beberapa pesantren,” terangnya.

KOKAM Tegal

Namun, imbuh Masduki, media memberitakan dan menggiring pendapat masyarakat seolah-olah itu adalah satu peristiwa ketika Hary Tanoe bertamu ke pesantren Al Tsaqofah bulan lalu.?

“Itu tidak benar dan bersifat fitnah,” tegasnnya.?

Hary Tanoe bertandang ke Pesantren Al Tsaqafah asuhan Kiai Said di Ciganjur, Jakarta Selatan, pada Minggu, (13/3). Dalam lawatannya tersebut, Hary Tanoe hanya berbagi ilmu dan pengalaman kepada para santri Al Tsaqafah. (Muchlishon Rochmat/Zunus)?

KOKAM Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal RMI NU, Kajian, Quote KOKAM Tegal

Jumat, 12 Januari 2018

Liga Santri Nusantara, Konsep Sepak Bola Akhlakul Karimah

Jakarta, KOKAM Tegal. Kalau kita menonton pertandingan sepak bola, baik pada Liga Super Indonesia (LSI) atau liga di negara-negara lain, sepertinya menjadi lazim melihat pemain yang suka marah, memukul, menenendang, bahkan sampai menembak wasit lantaran si pemain dihadiahi kartu merah. Pun dengan suporternya, saling ejek dalam bentuk yel-yel, baku hantam dan deretan kekerasan lainnya.

Namun, kedua hal tersebut tidak berlaku bagi para pemain dan supporter bersama klub yang ikut serta pada kompetisi Liga Santri Nusantara (LSN) yang diadakan atas kerja sama Rabithath Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMI NU) dengan Kementerian Pemuda dan Olah raga (Kemenpora). 

Liga Santri Nusantara, Konsep Sepak Bola Akhlakul Karimah (Sumber Gambar : Nu Online)
Liga Santri Nusantara, Konsep Sepak Bola Akhlakul Karimah (Sumber Gambar : Nu Online)

Liga Santri Nusantara, Konsep Sepak Bola Akhlakul Karimah

Sebagai contoh, insiden yang menimpa seorang pemain bernama Aldo dari klub Al-Asy’ariyah (LSN 2016). Saat itu, Aldo melakukan pelanggaran dengan menekel pemain lawan, wasit pun menghadiahi kartu merah padanya. Namun, wasit cukup terkejut dengan tingkah Aldo yang seketika itu langsung mencium tangan wasit justru ketika ia harus menerima kenyataan diusir sang wasit.

(Baca: Diusir Wasit, Bukannya Marah Malah Cium Tangan)

KOKAM Tegal

Begitu juga yel-yel dari suporter yang menggema di stadion, bukan ejekan atau hinaan, melainkan asmaul husna dan sholawat yang mengudara.

(Baca: Perang Antar-Suporter ala Liga Santri Nusantara)

KOKAM Tegal

Penasihat LSN Mohamad Kusnaeni saat ditemui KOKAM Tegal di ANOE Hotel, Jakarta, Rabu (18/10) mengatakan, pemandangan di lapangan hijau seperti mencium tangan, dan pembacaan sholawat merupakan bagian dari ciri dikedepankan dalam kompetisi LSN, yakni sepak bola yang berakhlakul karimah.

Menurutnya, sifat-sifat baik yang pemain dapatkan dari pondok pesantren sudah seharusnya diimplementasikan saat berlaga di lapangan hijau. 

“Menghormati (keputusan) wasit, menghormati lawan itu kan bagian dari pendidikan moral yang ditanamkan ketika mereka mondok,” kata pria yang bakrab dipanggil Bung Kus ini. 

Lebih dari itu, kata pria kelahiran Cirebon, Jawa Barat ini, pada tahun ini para pemain juga diharapkan berusaha untuk menghindari pelanggaran yang dapat  menciderai lawan.  

“Karena salah satu yang kita tekankan adalah sepak bola ini untuk membangun persahabatan, sepak bola ini untuk memberi kesehatan bagi para pemian. jadi kalau samapai menciptakan masalah dengan adanya cidera itu kan merugikan bagi mereka,” terangnya.

Begitu pula dalam hal yel-yel. Menurut Bung Kus, hal tersebut menjadi bagian yang ditekankan dari konsep sepak bola akhlakul karimah. 

“Akhlakul karimah kan tidak hanya dalam bentuk perbuatan, tapi juga melalui perkataan yang baik (yel-yel),” ujar pria yang dikenal dengan komentator sepak bola ini. 

Ia memaparkan, penyelenggara menekankan kepada para supporter agar yel-yel yang menggema di stadion bersifat memberi dukungan bagi klub kesayangannya, dan menjauhi yel-yel yang sifatnya memprovokasi atau merendahkan klub lawan. 

“Bahkan lebih jauh lagi kami mendorong para santri yang hadir mendukung tim kesayangannya tersebut lebih baik memanjatkan doa dalam bentuk sholawat atau puji-pujian kepada nabi. Dan itu saya pikir hal yang kemudian menjadi trade mark dari penyelenggaraan LSN di berbagai daerah,” pungkasnya. (Husni Sahal/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Hadits, Kajian KOKAM Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs KOKAM Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik KOKAM Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan KOKAM Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock