Tampilkan postingan dengan label Pertandingan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pertandingan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 08 Februari 2018

Ribuan Nahdliyin Hadiri Pelantikan Dalang Banser Jadi Bupati

Tegal, KOKAM Tegal . Ribuan warga NU rela berdesakan menghadiri? Pelantikan pasangan Bupati-Wakil Bupati Tegal, Jawa Tengah, Enthus Susmono dan Umi Azizah, Rabu (8/1) di Pendopo Kabupaten Tegal, Jawa Tengah. Meskipun, kebanyakan dari mereka tidak masuk dalam arena pelantikan, melainkan di halaman dan di alun-alun Slawi.

Ribuan Nahdliyin Hadiri Pelantikan Dalang Banser Jadi Bupati (Sumber Gambar : Nu Online)
Ribuan Nahdliyin Hadiri Pelantikan Dalang Banser Jadi Bupati (Sumber Gambar : Nu Online)

Ribuan Nahdliyin Hadiri Pelantikan Dalang Banser Jadi Bupati

Jajaran Satkorcab Banser juga ikut mengamankan jalannya prosesi pengukuhan ketua mereka itu resmi sebagai bupati. Selain sebagai Ketua Banser Tegal, Enthus juga merupakan seorang dalang.

Para kiai dan habaib juga tampak menyaksikan pengambil sumpah jabatan yang dipimpin Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.

KOKAM Tegal

Salah satu warga Kecamatan Dukuhwaru, Tegal, Tarmudi, yang datang bersama rombongan mengaku merasa bangga dan bersyukur syukur atas terpilihnya warga NU sebagai bupati dan wakil bupati Tegal.

“Saya datang bersama rombongan untuk bersama-sama menyaksiakan bupati yang telah kita pilih bersama-sama. Jadi momen ini tidak akan kami sia-siakan karena merasa kami yang menjadikan bupati,” katanya

KOKAM Tegal

Sementara terlihat dibarisan kursi tamu undangan, Jajaran Pengurus Cabang NU (PCNU) Kabupaten Tegal. Wakil Rais Syuriah KH Mahfudz menegaskan, pasangan Enthus-Umi yang merupakan pasangan representasi warga NU harus dijaga dan dikawal lima hingga tahun mendatang.

“Jadi saya meminta kepada warga NU sukseskan bupati terpilih ini, jangan terpancing dan terkoyak oleh isu (negatif) dan sebagainya,“ jelasnya. (Abdul Muiz/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Pertandingan, Tokoh KOKAM Tegal

Minggu, 04 Februari 2018

Dari Sulawesi Barat untuk Gus Dur

Jujur saya ingin mengatakan bahwa menulis tentang Gus Dur sebenarnya belum layak karena ketakutan jika nantinya jauh dari kesempurnaan pemikirannya. Penulis tak bisa menggambarkan seperti para penulis biografi Gus Dur lainnya.

Tetapi penulis, sebagai kader kultur NU yang berada di barat Sulawesi pada haul Gus Dur yang ke-4 ini ingin memberikan gambaran singkat dan sederhana tentang sumbangsih ide dan pemikiran Gus Dur bagi Sulawesi Barat.

? ? ?

Dari Sulawesi Barat untuk Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
Dari Sulawesi Barat untuk Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

Dari Sulawesi Barat untuk Gus Dur

Sosok Gus Dur merupakan idola yang sebenarnya ingin penulis temui ketika Muktamar ke-32 di Makassar tahun 2010 silam. Tetapi karena kehendak Tuhan yang lain, Gus Dur terlebih dahulu dipanggil Allah sebelum penulis sempat mencium tangan, bahkan melihat langsung dan menemui beliau.

Walaupun Gus Dur telah tiada, tetapi ide dan gagasan-gagasan Gus Dur tetap melekat dalam sanubari penulis. Salah satu ide dan gagasan briliannya adalah konsep pluralisme dan gagasan tentang kemanusiaan yang senantiasa diterjemahkan dalam beberapa tulisan dan tingkah laku politik di masa lalu.

KOKAM Tegal

Provinsi Sulawesi Barat yang lahir pada tahun 2004 merupakan wilayah yang terdiri dari 6 kabupaten yang bisa dikatakan memiliki penduduk yang multi-suku (Mandar, Bugis, Pattae, Jawa, Mamuju, Sasak/Bali) dan agama (Islam, Kristen Khatolik/Protestan, Hindu).

KOKAM Tegal

Penduduk yang multietnis dan agama di provinsi ini menunjukkan kemajemukan masyarakat yang ada, sehingga paham pluralisme dan multikulturalisme yang telah diperjuangkan Gus Dur juga menjadi kewajiban (fardhu ain) bagi masyarakat Sulbar sendiri, terutama Nahdlatul Ulama Provinsi Sulbar yang menjadi katalistor ide dan perjuangan ideologi Ahlussunnah Wal Jamaah An-Nahdliyah dan Islam inklusif (terbuka).

Sebagaimana yang kita kenal begitu banyak ide dan gagasan Gus Dur baik terkait demokrasi, pembelaan hak minoritas dan Hak Asasi Manusia, pribumisasi Islam dan Islam inkulsif, perdamaian dan pluralisme serta beberapa lagi yang tidak sempat penulis sebutkan.

Terkait gagasan pluralisme, secara nasional sesungguhnya ide Gus Dur ini bukan hanya sekadar ide yang diteriakkan semata dalam rangka menghargai perbedaan sebagai sebuah sunnatullah dalam kehidupan bangsa, tetapi juga diterjemahkan dalam bentuk sikap dan kebijakan.

Sebagai contoh diakuinya agama Konghucu ketika ia presiden, dimana kebijakan Gus Dur memberi kesadaran tersendiri bagi kita tentang penghargaan terhadap umat beragama minoritas di Indonesia. Bahwa kekuasaan mayoritas haruslah melindungi yang minoritas. Karena agama tidak dilihat hanya dalam dalam dimensi akidah dan syariat semata semata, tetapi dimensi kemanusiaan yang harus mampu diterjemah sebagai nilai yang menghargai sisi lain dari kemanusiaan penganut agama itu sendiri.

Sehingga penganut agama seharusnya tidak menjebak diri dalam ranah ekskusif yang mementingkan kelompoknya sendiri. Agama seharusnya bersifat inklusif yang mampu membuka dirinya dan menghargai agama lain yang biasa dikenal juga universalitas agama dalam rangka memperjuangkan nilai kemanusiaan dan kebangsaan di tengah masyarakat yang majemuk di Indonesia secara umum, dan di Sulawesi Barat secara khusus. Sehingga tidak ada lagi kekerasan terhadap agama lain, atau mengatasnamakan agama demi kepentingan kelompok. Faham eksklusif terhadap agama inilah yang kadang digunakan sebagai alat politik (kekuasaan) mengatasnamakan agama dan membuat kita tidak berlaku adil terhadap agama lain.

Pluralisme Gus Dur sesungguhnya pesan bagi kita semua agar senantiasa melakukan dialog antar-umat beragama dan melakukan kerjasama dalam menyelesaikan persoalan kehidupan masyarakat dan berbangsa. Kita semua dituntut agar senantiasa mencari persamaan-persamaan dan kebaikan-kebaikan yang tertanam dalam nilai-masing-masing agama, bukan justru mencari perbedaan dan justifikasi kebenaran pada tingkat akidah belaka, tetapi melupakan kerjasama dalam hal muamalat, yaitu memperbaiki nasib bersama dalam mencapai kesejahteraan lahir dan batin.

Merefleksikan kesadaran di atas, Sulawesi Barat yang memiliki mayoritas penganut agama Islam dan juga bisa dikatakan memiliki beberapa ulama besar yang pernah dilahirkan seperti KH. Muhammad Tohir (Imam Lapeo) dan KH. Muhammad Sholeh, Prof. KH. Sahabuddin, KH. Ilham Shaleh, KH. Muhammad Syibli Sahabuddin dan beberapa ulama lainnya yang tidak sempat disebutkan namanya. Mereka senantiasa konsisten menyebarkan faham Islam rahmatan lil alamin.

Mereka, menurur penulis dapat menjadi inspirasi bagi kader NU dan penulis sendiri serta organisasi-organisasi semisal Nahdlatul Ulama Sulawesi Barat dan PMII Sulawesi Barat untuk terus memperjuangkan dan mendakwahkan ajaran islam inkusif (moderat) dan perhargaan terhadap agama lain dalam dimensi dan nilai-nilai kemanusiaan (pluralisme) sebagaimana yang diajarkan Gus Dur dan ulama Sulawesi Barat saat ini.

Di sisi lain perbedaan adalah bukan wacana baru yang mengemuka dalam frame pemikiran masyarakat di Sulawesi Barat (terkhusus lagi di Polewali) saat ini, apalagi perbedaan agama. Dulu hingga saat sekarang ini, dikenal istilah dalam bahasa Mandar “Malilu sipakainga, manus sioronni.“

Istilah ini merupakan ajaran filosofi yang ditelorkan para leluhur di tanah Mandar dalam bentuk “pappasang” (peringatan) memberikan sinyal bahwa dalam kehidupan bermasyarakat diupayakan senantiasa saling mengingatkan antara satu dengan yang lain tanpa memandang asal usul, suku, agama, dan ras sepanjang hal tersebut mengarah ke arah yang sifatnya positif.

Selain itu, “manus sioronni” adalah menjelaskan hakikat kehidupan agar senantiasa saling tolong menolong antar sesama manusia.

Potensi kerjasama juga bisa dikaitkan dengan modal sosial masyarakat lokal di Sulawesi Barat secara yang umumnya masih banyak dihuni oleh orang Mandar. Di dalam ajaran para leluhur di Mandar dikenal konsep “siwaliparri”. Siwaliparri (bahasa Mandar) berarti, sikalulu atau sirondorondoi yang kurang lebih berarti saling membantu atau bergotong royong.

Merefleksikan pemikiran Gus Dur dan terkait filosofi dan ajaran masyarakat Sulbar saat ini pentinglah untuk selalu diingat dan diimplementasikan. Hal itu karena kegelisahan penulis dari beberapa fakta dimasa lalu di provinsi ini telah terjadi konflik inter dan antaragama mulai dari konflik interumat Jemaat Gereja Toraja Mamasa dan Jemaat gereja Masehi Injil Indo (MII) di Wonomulyo Polewali Mandar tahun 2010 hingga Konflik Aralle Tabulahan Mambi (ATM) di Kabupaten Mamasa Sulawesi Barat tahun 2003 silam.

Artinya, jika perbedaan tidak dikelola secara baik benih konflik bernuansa agama kemungkinan akan bisa mencuat kembali.

Bukan hanya itu, saat ini juga telah mulai terlihat dan menyebarnya beberapa lembaga pendidikan yang beraliran Islam “radikal” di beberapa kabupaten di jazirah Mandar ini. Masuknya ideologi dan aliran Islam eksklusif tersebut nantinya menyebabkan tumbuhnya doktrin radikalisme agama dan merubah pola pikir masyarakat Sulawesi Barat yang jika ditelisik dari sejarah masa lalu telah memahami agama secara inkulsif dan menghargai agama lain agar dapat hidup harmonis dalam perbedaan.

Hal tersebut terjadi dikarenakan penyebaran islam sejak dulu dilakukan oleh ulama di Sulawesi Barat berdimensi sufi dan moderat juga menghargai nilai dan kebudayaan lokal.

Sehingga ketika doktrin agama radikal yang tidak mentolerir agama lain dan menghargai perbedaan serta kebudayaan lokal, dibiarkan tumbuh dan berkembang di daerah yang majemuk ini, dengan sendirinya akan menciptakan benih konflik dan disharmonisasi antar umat beragama dan merusak tatanan kearifan lokal (local wisdom) dalam aspek budaya dan agama yang saling menghargai tadi.

Sehingga sekali lagi bahwa Haul ke-4 Wafatnya KH. Abudrrahman Wahid (Gus Dur) menjadi momentum bagi kita semua terkhusus bagi warga Nahdliyin di Sulawesi Barat untuk mencegah menyebarnya ajaran Islam eksklusif dan radikal di Sulawesi Barat. Juga berusaha terus menggerakkan dan memperjuangkan pemikiran serta gagasan pluralisme dalam rangka menyebarkan nilai kemanusiaan dan Islam yang rahmatan lil alamin di tengah perbedaan yang nantinya dapat mengantarkan kehidupan yang harmonis dan berkeadilaan di atas perbedaan yang telah diberikan oleh Tuhan di Tanah Mandar Sulawesi Barat.

Selamat jalan Gus Dur, selamat guru bangsa Indonesia. Walaupun engkau telah tiada tetapi engkau selalu hidup dalam benak dan sanubari terdalam kami. Do’a kami dari Sulawesi Barat senantiasa menyertaimu Gus. Amin... (Munawir Arifin)

MUNAWIR ARIFIN adalah Ketua Pergerakan Mahasiswa Islam Indonseia (PMII) Provinsi Sulawesi Barat. Penulis bisa ditemui di munawirarif86@gmail.com.

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Nahdlatul Ulama, Pertandingan KOKAM Tegal

Selasa, 30 Januari 2018

Padukan Nilai Budaya dan Agama, Ketum MUI Puji Jokowi Mantu

Solo, KOKAM Tegal

Ketua Umum MUI yang juga Rais Aam PBNU, KH Maruf Amin memuji acara mantu Presiden Jokowi yang memadukan nilai-nilai budaya adat jawa dan nilai-nilai agama Islam. Pada kesempatan tersebut Kiai Maruf bersama Wapres Jusuf Kalla dipercaya menjadi saksi ijab qabul pernikahan Kahiyang Ayu dengan Bobby Nasution di Gedung Graha Saba Buana Solo, Rabu (8/11). 

"Acaranya luar biasa ada nuansa keagamaan Quran, nasehat pernikahan, doa dan ada juga budayanya.  Acaranya luar biasa perpaduan antara nilai-nilai agama dan nilai-nilai budaya," katanya saat diwawancarai salah satu stasiun televisi di sela-sela resepsi.

Padukan Nilai Budaya dan Agama, Ketum MUI Puji Jokowi Mantu (Sumber Gambar : Nu Online)
Padukan Nilai Budaya dan Agama, Ketum MUI Puji Jokowi Mantu (Sumber Gambar : Nu Online)

Padukan Nilai Budaya dan Agama, Ketum MUI Puji Jokowi Mantu

Selaku saksi, Kiai Maruf menilai proses ijab qabul dapat berjalan dengan baik dan lancar. Presiden Jokowi dan mempelai putera Bobby Nasution mengucapkan kalimat-kalimat ijab qabul dengan baik. 

"Beliau (Presiden) lancar sekali menyampaikan kalimat ijab qabul. Tegas, gamblang, walaupun baru kali ini. Tidak ada keragu-raguan," kata Kiai Maruf.

Kiai Maruf juga mengapresiasi acara mantu tersebut karena Presiden mengundang para ulama dari seluruh provinsi di Indonesia.

KOKAM Tegal

"Yang hadir meliputi semua lapisan masyarakat. Ulama, menteri, pejabat, gubernur, masyarakat biasa, bahkan kiai-kiai dari daerah datang semua. Dari Sumatera Utara, Aceh, Lampung, Sulawesi dari mana-mana," terang Kiai Maruf didampingi Ketum MUI Lampung KH. Khairuddin Tahmid.

Sementara itu Ketua Umum PBNU KH. Said Aqil Siradj saat menyampaikan Khutbah Nikah pada ijab qabul tersebut juga sempat menyampaikan penjelasan terkait pernikahan dan kebudayaan. 

"Pernikahan adalah ibadah. Setiap ibadah harus sesuai dengan syariat Allah dan Sunnah Rasulullah SAW. Akad nikahnya merupakan syariat dan selebihnya adalah budaya yang kita lestarikan yang merupakan bagian dari Islam Nusantara," katanya.

Perjodohan yang terjadi diantara dua insan manusia menurutnya juga bukan hanya pertemuan fisik semata. Namun yang lebih penting dari itu, pernikahan adalah pertemuan akhlaq, budaya, peradaban, martabat dan kepribadian.

"Mudah-mudahan mendapatkan keturunan yang bermartabat, berguna bagu agama, bangsa dan negara," ujar Kiai Said menjelaskan tafsir surat Ar Rum ayat 21 yang menjelaskan tentang hal tersebut. (Muhammad Faizin/Kendi Setiawan).

KOKAM Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Pertandingan, Cerita KOKAM Tegal

Selasa, 23 Januari 2018

Nabi Muhamad Bangun Negara Berdasar Platform Kemajuan dan Kebersamaan

Manado, KOKAM Tegal. Nabi Muhammad ketika berhijrah dari Makkah ke Madinah hidup dalam komunitas masyarakat yang plural, ada penganut Yahudi, ada pula suku-suku lokal, kelompok Ansor dan juga Muhajirin. Dengan situasi seperti itu, maka yang dibangun adalah negara yang berdasarkan kesepakatan bersama untuk mencapai kemajuan dan kebersamaan, tidak didasarkan pada agama atau etnis. Karena itulah, negeri tersebut dikatakan sebagai Negara Madinah, dari kata tamaddun yang artinya masyarakat yang berperadaban. 

Nabi Muhamad Bangun Negara Berdasar Platform Kemajuan dan Kebersamaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Nabi Muhamad Bangun Negara Berdasar Platform Kemajuan dan Kebersamaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Nabi Muhamad Bangun Negara Berdasar Platform Kemajuan dan Kebersamaan

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Kiai Said ketika memberikan sambutan dalam acara pra-Munas dan Konbes dengan tema NU dan Kebinekaan di Manado, Sulawesi Utara (11/11). 

 

“Asalkan satu cita-cita dan satu garis perjuangan, sesungguhnya mereka adalah satu umat. Jadi Nabi Muhammad, modern banget,” katanya di hadapan perwakilan NU se-Wilayah Indonesia Timur. 

KOKAM Tegal

Negara Madinah itu penduduknya ada yang Muslim dan non-Muslim, Arab dan non-Arab, semua diperlakukan sama. Semua penduduk Madinah telah menandatangani kesepakatan bersama untuk hidup damai. Terdapat tanggung jawab bersama kalau ada serangan dari luar. Mereka yang berkhianat juga harus diusir.

Kiai Said yang tinggal di Arab Saudi selama tiga belas tahun untuk belajar dari sarjana sampai dengan doktor ini memberikan sejumlah contoh tindakan Rasululah yang berlaku adil pada semua kelompok. Pertama, Suatu ketika ada sahabat yang bertengkar dengan Yahudi, kemidian mereka berkelahi sampai si Yahudi meninggal. Nabi marah besar dengan mengatakan, Barangsiapa membunuh non-Muslim, berhadapan dengan saya. Dan barang siapa berhadapan dengan saya, tidak akan selamat.

Keadilan juga diperlakukan kepada sesama umat Islam, yaitu ketika ada perempuan yang tertangkap mencuri. Ada usulan agar pencuri tersebut tidak dihukum karena berasal dari keluarga terpandang. Dalam kesempatan tersebut, Rasulullah menyampaikan, seandainya Fatimah, anak satu-satunya, yang mencuri, beliau akan menghukumnya sendiri. 

“Kalau kita bandingkan umat Islam dulu dan sekarang, kita sekarang akan malu,” katanya mengomentari tindakan tegas Nabi dalam menghukum pencuri tersebut. 

“Tidak boleh ada permusuhan, kecuali kepada yang melanggar hukum. Tidak boleh ada permusuhan karena alasan beda agama, beda suku, beda budaya, apalagi beda pilihan gubernur,” tegasnya. 

KOKAM Tegal

Dikatakan Kiai Said, yang dijalankan oleh Rasulullah tersebut merupakan prinsip muwathonah, citizenship atau kewarganegaraan, bukan kewargaagamaan, atau kesukuan. “Islam seperti inilah yang dibawa Walisongo, yang mengislamkan seluruh Nusantara,” imbuhnya. 

Sebagai pemimpin dari seluruh komunitas yang sangat beragam, Rasulullah juga sangat memperhatikan kepentingan dari pemeluk agama Nasrani. Suatu ketika ada gosip dari Yahudi bahwa Maryam berzina sehingga melahirkan seorang anak. Ia sangat bersedih dan bagaimana menjelaskan peristiwa tersebut, sampai akhirnya Allah menurunkan surat Maryam yang menegaskan bahwa Maryam atau disebut Maria dalam agama Kristiani merupakan perempuan suci yang bersih dari perilaku tidak terpuji.

Demikian pula, ketika terjadi perang antara Kristiani dan pengikut Zoroaster, Rasulullah mendoakan agar umat Kristiani dimenangkan. Romawi pertama kalah dalam perang tersebut, tapi kemudian kurang dari sepuluh tahun, menang dalam peperangan. Dalam kesempatan tersebut, umat Islam diminta untuk menyambut dengan gembira. Peristiwa tersebut diabadikan dalam surat Ar-Rum.

Kiai Said yang merupakan alumnus Pesantren Lirboyo Kediri ini juga mengisahkan teladan yang diberikan oleh Sayyidina Umar saat mengunjungi Palestina. Pada kesempatan tersebut, Umar memasuki gereja untuk melihat-lihat karena di Makkah dan Madinah tidak ada gereja. Lalu terdengar adzan saat ia masih dalam gereja. Ia tidak mau shalat dalam gereja, melainkan di luar karena takut, jika shalat di gereja, suatu saat geraja tersebut direbut dengan alasan di situ bekas shalatnya Umar. 

Kiai Said mempersilahkan generasi muda untuk belajar agama Islam di Arab karena memang kawasan tersebut merupakan pusat pendidikan Islam yang belum bisa ditandingi di tempat lain seperti di Al Azhar atau di Arab Saudi, tetapi ia mengingatkan agar yang dibawa adalah ilmunya, bukan budayanya 

Cara pandang orang Arab dalam hubungan antara agama dan negara sangat berbeda dengan bangsa Indonesia. Di sana, para ulama bukanlah tokoh nasionalis, sedangkan tokoh nasionalis bukanlah ulama. Situasi ini menyebabkan terjadinya benturan dan pertumpahan darah.

Berbeda dengan di Arab, Kiai Hasyim Asy’ari mampu menyatukan agama dan nasionalisme dengan ungkapannya, mencintai tanah air adalah bagian dari iman. Apa yang disampaikan oleh Kiai Hasyim tersebut merupakan bentuk refleksi atas kondisi di Nusantara yang sangat beragam. 

“Kebinekaan yang muncul merupakan anugerah dari Allah yang harus dirawat. Seandainya Allah menghendaki, di muka bumi ini semuanya bisa Islam. Karena itu, tidak boleh menggunakan kekerasan dalam berdakwah,” ujar Kiai Said. (Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Cerita, Pertandingan, Kyai KOKAM Tegal

Rabu, 10 Januari 2018

Isteri Gus Dur Semangati Santri Gapai Cita-cita

Jepara, KOKAM Tegal. Ibu Negara RI keempat, Isteri Almarhum KH Abdurrahman Wahid, Sinta Nuriyah yang berkesempatan hadir di pesantren Az-Zahra desa Sekuro kecamatan Mlonggo kabupaten Jepara, Kamis (20/6) kemarin menyemangati para santri agar tidak patah semangat dalam menggapai cita-cita. Kehadiran istri almarhum Gus Dur dalam silaturrahim tersebut disambut hangat keluarga besar Az-Zahra, santri, siswa, guru dan tokoh masyarakat setempat. 

Isteri Gus Dur Semangati Santri Gapai Cita-cita (Sumber Gambar : Nu Online)
Isteri Gus Dur Semangati Santri Gapai Cita-cita (Sumber Gambar : Nu Online)

Isteri Gus Dur Semangati Santri Gapai Cita-cita

Menurut perempuan kelahiran Jombang, Jawa Timur itu dengan tetap semangat menggapai cita-cita niscaya apa yang diharapkan akan terkabul. Usai menggapai cita-cita setinggi langit, tegasnya santri harus memberikan kontribusi positif ditengah-tengah masyarakat. 

“Kelak jika kalian sudah berjuang ditengah-tengah masyarakat jadilah agen perubahan yang baik,” ajaknya.

KOKAM Tegal

Ibu dengan 4 anak itu terus memantik semangat santri. Ia pun menyontohkan dirinya yang kini mengalami kelumpuhan usai tertimpa kecelakaan 20 tahunan silam. Meski dalam beraktivitas Sinta selalu ditemani kursi roda namun ia tetap mengajak agar tetap mempunyai semangat tinggi, tetap menjalankan aktivitas dan tujuannya tidak lain tetap bermanfaat bagi orang lain. 

KOKAM Tegal

Sebagai perempuan yang harus melanjutkan perjuangan suaminya, Gus Dur, dirinya menyinggung peran dan kodrat seorang wanita yang memiliki tugas dan tanggung jawab yang sama dalam mengisi dan mengembangkan bangsa. Apalagi di Jepara lanjut ibu dari Alissa Qatrunnada mempunyai pahlawan emansipasi wanita, RA Kartini. Karenanya, semangat RA Kartini tegasnya harus dilanjutkan. 

Disamping itu, perempuan 65 tahun itu juga memberi apresiasi kepada Pesantren Az-Zahra. Ia menyatakan Azzahra yang mengelola Pesantren, SMP dan SMK merupakan lembaga yang mewah, santri-santrinya antusias dalam belajar dan sangat ada harapan menjadi besar karena memiliki potensi untuk maju dan berkembang.

Sementera itu, H Mukhlisin selaku Dewan Pembina dan Pendiri Lembaga Pendidikan Az-Zahra mengungkapkan santri Pesantren Az-Zahra terdiri dari 400an yang berasal dari Jepara maupun luar daerah. Dalam mengelola pendidikan pihaknya dibantu tenaga pendidik yang kompeten di bidangnya juga didukung dengan guru dari lulusan pesantren.  

Redaktur     : Syaifullah Amin

Kontributor : Syaiful Mustaqim

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Pertandingan, News KOKAM Tegal

Jumat, 05 Januari 2018

Bahtsul Masail Narkoba, NU Demak Hadirkan Direktur RSI NU

Demak, KOKAM Tegal

Bahaya narkoba menjadi masalah serius bangsa Indonesia serta membuat keprihatinan banyak kalangan, tak terkecuali Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Demak sehingga persoalan tersebut dibawa ke forum bahtsul masail tingkat cabang.

Sebelum memulai bahtsul masail para pengurus mendengarkan penjelasan ahli dari Rumah Sakit Islam Nahdlatul Ulama (RSI NU) Demak, H Abdul Azis. Direktur RSI NU Demak ini memaparkan masalah narkoba mulai dari asal muasal, jenis, dan efek dari segi kesehatan serta sosial akibat penyalahgunaannya.

Bahtsul Masail Narkoba, NU Demak Hadirkan Direktur RSI NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Bahtsul Masail Narkoba, NU Demak Hadirkan Direktur RSI NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Bahtsul Masail Narkoba, NU Demak Hadirkan Direktur RSI NU

Azis menyampaikan, dalam dunia kedokteran atau kesehatan pemakaian obat psikotropika diperbolehkan guna menyelamatkan pasien dengan batas tertentu semisal pada anestesi yang dipersiapkan untuk operasi pada pasien agar tidak merasakan sakit.

KOKAM Tegal

“Dalam kondisi tertentu, termasuk operasi, kami akan menggunakan obat tertentu yang sudah diatur oleh undang undang, itu pun masih menyesuaikan daya tahan tubuh pasien,” ujarnya, Ahad (31/7).

KOKAM Tegal

Bahtsul masail NU tingkat cabang Demak putaran ke-11 tersebut berlangsung di Masjid Jami Purwosari Kecamatan Sayung Kabupaten Demak. Turut hadir Rais Syuriyah PCNU Demak KH Alawy Masudi.

Forum diskusi keagamaan NU ini juga melibatkan selain pengurus PCNU juga pengurus Majelis Wakil Cabang NU (MWCNU) se-Kabupaten Demak serta pengurus ranting setempat. (A Shiddiq Sugiarto/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Pertandingan, Pendidikan, Kajian Sunnah KOKAM Tegal

Rabu, 03 Januari 2018

Warga NU Kumpulkan Bantuan Banjir Lewat Jejaring Maya

Sampang, KOKAM Tegal. Beberapa anak muda NU di Kabupaten Sampang Madura bahu-membahu membantu meringankan beban warga yang terendam banjir. Dalam waktu singkat, melalui jejaring sosial di dunia maya mereka berhasil mengumpulkan sejumlah dana dan langsung disalurkan kepada warga.

Warga NU Kumpulkan Bantuan Banjir Lewat Jejaring Maya (Sumber Gambar : Nu Online)
Warga NU Kumpulkan Bantuan Banjir Lewat Jejaring Maya (Sumber Gambar : Nu Online)

Warga NU Kumpulkan Bantuan Banjir Lewat Jejaring Maya

"Kami mengoptimalkan jaringan yang selama ini kita miliki," kata Muhammad Syamsuddin Abdul Muin. Jaringan yang dimaksud adalah komunikasi lewat jejaring facebook, blackberry messenger, tweeter dan sejenisnya. "Kebetulan yang saya miliki adalah komunitas NU di luar negeri," katanya.?

"Alhamdulillah, beberapa kawan dari luar negeri ikut memberikan donasi kepada kami," tandasnya. Ia berharap akan kian banyak warga NU dan masyarakat umum untuk memberikan perhatian terhadap bencana ini. "Ini demi meringankan beban mereka," tambahnya.?

KOKAM Tegal

Dalam waktu yang tidak terlampau lama, sudah terkumpul dana yang lumayan besar. Belum termasuk simpatisan dari kalangan NU setempat yang ikut peduli dengan penderitaan sesama. "Dari dana yang terhimpun, telah kami belikan makanan dan minuman serta telah didistribusikan ke sejumlah titik," kata mantan Wakil Katib PCINU Libya ini.

KOKAM Tegal

Sejumlah badan otonom NU seperti IPNU, IPPNU, Fatayat, Muslimat termasuk PCNU Sampang bahu membahu untuk menggalang bantuan dan mendistribusikannya ke lokasi bencana. "Bahkan banyak relawan dari para santri," bangganya.

Untuk menampung bantuan berupa makan dan minuman serta barang, dikonsentrasikan di Kantor PCNU setempat, Jalan Diponegoro no 41 Sampang.?

Seperti diwartakan Kabupaten Sampang Jawa Timur tergenang. Curah hujan tinggi dan luapan dari sungai membuat sebagian wilayah terendam air. Sebanyak 10 desa dan 6 kelurahan di Kecamatan Kota terendam banjir dengan ketinggian air hingga leher orang dewasa. Kondisi ini tentu saja melumpuhkan seluruh aktifitas warga. Yang mendesak dilakukan adalah terdistribusinya logistik bagi para warga yang tidak bisa beraktifitas secara normal.

Redaktur ? ? : A. Khoirul Anam

Kontributor: Syaifullah

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Pertandingan KOKAM Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs KOKAM Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik KOKAM Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan KOKAM Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock