Tampilkan postingan dengan label News. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label News. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 10 Februari 2018

Jenazah Ketua Muslimat Ditemukan Tewas Pegang Tasbih

Jombang, KOKAM Tegal. Bencana Longsor di Dusun Kopen Desa Ngrimbi Kecamatan Bareng yang menewaskan 14 korban jiwa menyisakan duka mendalam bagi keluarga dan juga warga Muslimat NU Setempat. Pasalnya, salah satu korban, yakni Mukhayaroh (55) merupakan Ketua Muslimat NU Ranting Ngrimbi.

Mukhayarah ditemukan telah tidak bernyawa bersama suaminya, Sunarimo (61) setelah pencarian yang dilakukan Tim gabungan dari TNI, Polri dan BASARNAS dibantu ratusan relawan, Kamis (30/1). Jasad suami istri ini ditemukan bersamaan dengan anaknya, Nurul (27) dan menantunya, Panji (32)  juga Nindi cucunya yang masih berusia 3 tahun. Ketua Muslimat NU Ranting Desa Ngrimbi ini ditemukan masih memegang seuntai tasbih.

Jenazah Ketua Muslimat Ditemukan Tewas Pegang Tasbih (Sumber Gambar : Nu Online)
Jenazah Ketua Muslimat Ditemukan Tewas Pegang Tasbih (Sumber Gambar : Nu Online)

Jenazah Ketua Muslimat Ditemukan Tewas Pegang Tasbih

Proses evakuasi korban longsor lereng Anjasmoro ini terbilang sulit. Pasalnya, jalan setapak yang digunakan untuk jalur evakuasi licin akibat siraman hujan semalam."Jasad Mukhayaroh ditemukan pada kedalaman penggalian delapan meter. Saat ditemukan, ditangannya masih memegang tasbih. Namun pakaiannya sudah hancur, jadi tidak bisa diketahui dia memakai mukena atau tidak," kata Wakapolres Jombang Kompol Sumardji ditemui dilokasi kejadian saat evakuasi.

KOKAM Tegal

Keluarga Mukhayaroh dikenal masyarakat sebagai tokoh NU di kampungnya, Sunarimo sendiri merupakan takmir dan Imam Masjid Al Huda Dusun Kopen Desa Ngrimbi Kecamatan Bareng. Sedangkan Nurul yang alumni IPPNU ini juga dikenal aktif di Fatayat NU setempat.

Ketua Muslimat NU Kabupaten Jombang, Hj Aisyiah Baidlowi membenarkan bahwa Mukhayaroh adalah kader muslimat yang masih aktif. Bahkan saat ini istri dari Sunarimo itu menjabat sebagai Ketua Muslimat NU Ranting Desa Ngrimbi.

KOKAM Tegal

Oleh sebab itu pula, setiap pagi jamaah muslimat setempat selalu menggelar doa bersama di masjid setempat. "Ibu Mukhayaroh merupakan Ketua Muslimat Desa Ngrimbi. Dia sangat aktif di jamaah pengajian. Semoga amal ibadah beliau diterima Allah, dan semua dosanya diampuni." tutur Aisyiah Baidlowi Ketua PC Muslamat NU Jombang mengatakan.

Bencana tanah longsor di Dusun Kopen berawal dari hujan disertai angin yang terus mengguyur mulai Senin (27/1) pukul 18.00 WIB kemarin. Guyuran air hujan itu baru reda sekitar pukul 01.30 WIB. Belum reda hujan yang mengguyur, tiba-tiba terdengar suara bergemuruh. Akibatnya, 5 rumah tertimbun longsor  dan 14 orang dinyatakan hilang dalam peristiwa itu. Dari jumlah tersebut 9 orang berhasil ditemukan dalam kondisi meninggal, sedangkan 5 lainnya hingga kini masih proses pencarian. (MuslimAbdurrahman/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal News, Budaya, PonPes KOKAM Tegal

Selasa, 16 Januari 2018

Mata Air Jepara Jaring Donatur Beasiswa Kartini Scholarship

Jepara, KOKAM Tegal

Genap satu tahun komunitas Mata Air Kabupaten Jepara memberikan beasiswa kepada para pelajar di Kabupaten Jepara yang memiliki prestasi unggul namun memiliki kendala ekonomi. 

Hingga saat ini sudah ada sembilan belas siswa yang memperoleh beasiswa tersebut. Dwi Wahyu, ketua penyalur beasiswa Kartini Scholarship mengatakan bahwa pihaknya membuka peluang para dermawan untuk menjadi donatur. 

Mata Air Jepara Jaring Donatur Beasiswa Kartini Scholarship (Sumber Gambar : Nu Online)
Mata Air Jepara Jaring Donatur Beasiswa Kartini Scholarship (Sumber Gambar : Nu Online)

Mata Air Jepara Jaring Donatur Beasiswa Kartini Scholarship

“Mata Air Jepara melalui program Kartini Scholarship-nya selalu membuka diri kepada seluruh dermawan yang ingin menyumbangkan bantuan,” kata alumnus Universitas Negeri Semarang ini saat ditemui, Ahad (21/2/2016).

Dia berharap dengan semakin banyaknya dermawan yang mempunyai kepedulian dibidang pendidikan, akan semakin banyak pelajar berprestasi yang diberikan beasiswa. 

KOKAM Tegal

“Sembilan belas adalah jumlah yang sedikit dari keseluruhan pelajar di Jepara, semoga dengan banyaknya donatur akan menambah jumlah peserta yang kami berikan beasiswa,” jelasnya.

Lebih lanjut, Wahyu menerangkan bahwa untuk penyaluran donasi dapat menghubungi nomor 0821-3439-5941, atau mentransfer ke nomor rekening BNI 0226763546 a.n Endri Listiani. 

“Bagi para dermawan yang ingin menjadi donatur bisa menghubungi kami untuk bertanya lebih lanjut mengenai program beasiswa ini,” pungkasnya. (Rif’ul Mazid Maulana/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal

KOKAM Tegal News, Kyai, Hadits KOKAM Tegal

Ikan Milik Allah

Sudah menjadi aktivitas sehari-hari Kiai Nuri untuk mendidik dan mengajar para santri di pondok pesantrennya. Pagi itu ia menyampaikan tentang kekuasaan Allah yang tidak terbatas.

Seorang santri bernama Muhidin memahami penjelasan kiainya bahwa apa yang ada di langit dan di bumi ini semua milik Allah SWT.

Ikan Milik Allah (Sumber Gambar : Nu Online)
Ikan Milik Allah (Sumber Gambar : Nu Online)

Ikan Milik Allah

Tibalah saat Muhidin dan beberapa santri membutuhkan lauk pauk untuk makan tetapi sudah tidak ada persediaan uang untuk membelinya.

Sampai pada akhirnya si santri mengambil ikan di kolam milik kiai. Saat memperoleh ikan yang besar, tiba-tiba Kiai Nuri datang.

“Hai, kenapa kamu mengambil ikan milik kiaimu?” tegur Kiai Nuri kepada Muhidin dan beberapa kawan santrinya.

KOKAM Tegal

Alih-alih lari tunggang langgang, Muhidin justru mendekati Kiai Nuri dan berkata, “Bukankah kiai sendiri yang mengajarkan ayat, lillahi ma fis samawati wa ma fil ardh, semua ini milik Allah. Jadi bukan milik kiai,” seloroh Muhidin. 

Kiai Nuri terdiam. Dalam hati ia berucap, “Senjata makan kiai nih.” 

“Iya Nak, itu milik Allah, tapi jangan ikan yang besar!” ujar Kiai Nuri.

Saking gemesnya, Kiai Nuri sekaligus melempar sandal bakiaknya ke arah Muhidin. “Aduh, kenapa kiai melempar bakiak ke saya?” tanggap Muhidin.

KOKAM Tegal

Dengan membaca ayat, wa ma romaita wa lakinallaha roma, Kiai Nuri menjawab tenang, “Bukan saya yang melempar, tapi Allah Nak.” (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Pondok Pesantren, News KOKAM Tegal

Minggu, 14 Januari 2018

Dialog Senyap Lintas Iman

Oleh ? Muhammad Milkhan



Zamir Hassan adalah seorang aktivis sosial sekaligus pendiri Muslims Against Hunger, sebuah jaringan komunitas relawan yang telah berkembang diseluruh dunia, guna membantu orang-orang yang membutuhkan bantuan makanan tanpa memadang latar belakang ras, suku dan agama. Di tahun 2011 Zamir Hassan juga memprakarsai lahirnya ‘Hungervan’, sebuah proyek penanggulangan kemiskinan dengan mendirikan dapur umum setiap hari dari satu tempat ke tempat lainnya. Dengan mobil Van, Zamir Hassan bersama relawan-relawan yang lain mendatangi para tunawisma dan siapapun yang tidak mampu membeli makanan sehat dan layak konsumsi di kota New York dan kota-kota sekitarnya. Para relawan yang tergabung dalam komunitas ini berasal dari berbagai latar belakang agama dan lapisan masayarakat yang berbeda. Mereka bersama-sama berkumpul dan bekerja secara suka rela guna memecahkan ikatan kemiskinan yang masih membelenggu sebagian warga Amerika.?

Dialog Senyap Lintas Iman (Sumber Gambar : Nu Online)
Dialog Senyap Lintas Iman (Sumber Gambar : Nu Online)

Dialog Senyap Lintas Iman

Dalam sebuah pertemuan kecil bersama Zamir Hassan di komplek Islamic Cultural Center di kota New York awal bulan mei 2016, saya mendapatkan pelajaran yang sangat berharga dari pengalamannya selama ini melayani masyarakat miskin di kota metropolis dunia, sekelas New York. Bahwa dialog yang paling efektif adalah dialog tanpa kata-kata. Hal ini benar-benar membuat saya takjub, ia melakukan dialog lintas iman sekaligus dialog multikutur melalui makanan. Tanpa memandang suku, ras dan agama, siapapun boleh bergabung untuk menjadi relawan, demikian juga siapapun berhak menerima donasi makanan. Dialog yang cukup manjur dan efektif untuk memupuk toleransi antarumat manusia tanpa memandang asal-usul agar hidup rukun dan saling mengasihi.

Dialog senyap lewat makanan ala Zamir Hassan bersama teman-teman relawannya tentu penting untuk mendapat perhatian yang lebih, di tengah gejolak sentimen antaragama dan beberapa kejadian intoleran yang semakin marak di sekeliling kita. Pentingnya dialog lintas iman sebagai jalur komunikasi antarsesama makhluk tuhan untuk merengkuh kedamaian duniawi dan ukhrawi dapat dilakukan dengan berbagai macam cara, termasuk dengan model ala zamir Hasan. Sebab praktik dialog agama yang sebenarnya bukanlah dengan memberikan penjelasan (teologis) bagi masalah semacam kerusuhan sosial (yang bernuansa agama), melainkan meleburkan dirinya didalam relaitas dan tatanan sosial yang tidak adil dengan sikap kritis. (Ahmad Gaus A.F, Kompas; 1998)

Agama yang kerap dijadikan dalih kepentingan segelintir golongan seringkali mendapatkan tuduhan sebagai penghambat kemajuan manusia dan mempertinggi fanatisme semata tanpa memiliki efek yang positif bagi manusia. Sifat fanatisme terhadap agama hanya melahirkan tindakan yang tidak toleran, pengacuhan, pengabaian, takhayul dan kesia-sian. Bahwa agama sebenarnya memiliki ciri khas sosiologis sebagai pemersatu aspirasi manusia yang paling sublime; sebagai sejumlah besar moralitas, sumber tatanan masyarakat dan perdamaian batin individu; sebagai sesuatu yang memuliakan dan yang membuat manusia lebih beradab. (Thomas E O’dea, 1987; 2)

KOKAM Tegal

Penting juga bagi kita untuk mengingat pesan toleransi Nabi Muhammad di awal lahirnya Islam. Pesan itu tersirat dari peristiwa hijrahnya pemeluk Islam awal dari kota Makkah menuju Abisinia guna menghindari ancaman intimidasi dari kafir Quraisy. Waktu itu Nabi Muhammad menyarankan supaya para sahabat untuk pergi berpencar agar terhindar dari serangan kafir Quraisy. Ketika para sahabat bertanya kepada Muhammad kemana mereka sebaiknya pergi, Muhammad menyarankan supaya mereka pergi ke Abisinia yang rakyatnya menganut agama Kristen. “Tempat itu diperintah oleh raja dan tak ada orang yang dianiaya di situ. Itu bumi jujur; sampai nanti Allah membukakan jalan buat kita semua.” (Hussein Haikal, 1989, cet.10)

Hijrahnya sebagian sahabat ke Abisinia atas saran dari Nabi Muhammad, adalah pesan toleransi yang harus selalu kita ingat, bahwa agama tidak pernah menjadi penghalang bagi siapapun untuk saling tolong-menolong dalam kesusahan. kafir Quraisy yang khawatir akan kehilangan pengaruh sebab hadirnya Islam, kemudian melakukan tindakan di luar peri kemanusian dengan menganiaya sebagian sahabat Nabi. Batin dan akal sehat para pemuka kafir Quraisy telah buta, demi mempertahankan kedudukan mereka dari ancaman Muhammad. Muhammad sadar betul, iman yang kuat terhadap sebuah agama tidak akan pernah menyarankan pemeluknya untuk berbuat aniaya. Raja Najasyi adalah penganut agama Kristen yang taat, oleh sebab itu Muhammad yakin para sahabat akan benar-benar mendapatkan perlindungan yang baik dalam pelukan seorang penganut agama yang taat. Toleransi awal yang ditunjukkan oleh raja Najasyi merupakan kontribusi besar bagi umat Islam di awal kehadirannya. Muhammad dan raja Najasyi benar-benar telah memberi teladan bagi umat manusia, pentingnya dialog lintas iman demi menciptakan kedamaian dunia.

KOKAM Tegal

Kini, di tahun 2017, ribuan tahun setelah pesan toleransi yang dicontohkan oleh Nabi itu terjadi. Kembali kita melihat betapa pentingnya untuk mengingat kembali, bahwa perbedaan agama tidak bisa dijadikan dalih bagi siapapun untuk saling membenci. Zamir Hassan beserta para relawan adalah orang yang taat dalam beragama, bukti tindakan nyata dari perilaku seorang pemeluk agama yang saleh telah mereka tunjukkan kehadapan masyarakat luas. Banyak orang bergabung bersama Zamir Hassan untuk menjadi relawan Muslims Against Hunger untuk membantu siapapun yang kelaparan tanpa memandang latar belakang suku, ras bahkan agama. Mereka bertemu, saling bertegur sapa dalam dialog lintas iman yang senyap namun mujarab. Mungkin.

Penulis adalah pegiat di Bilik Literasi Colomadu dan Penggiat Gusdurian Klaten, aktif sebagai Pengurus Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Klaten

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal News, Ulama KOKAM Tegal

Jumat, 12 Januari 2018

Tahun Politik, NU Jangan Mudah Di-"itik-itik"

Tegal, KOKAM Tegal. Posisi NU sebagai lembaga selalu menarik dijadikan ‘kuda troya’ kesuksesan seseorang dalam meraih jabatan politik. NU selalu dijadikan tunggangan oleh pribadi-pribadi yang berasal dari partai politik apapun.

Untuk itu, NU jangan mudah di‘itik-itik’ (kelitik) agar kelihatan senang yang pada akhirnya hanyalah untuk kebesaran partai politik dengan menjual-jual NU.

Tahun Politik, NU Jangan Mudah Di-itik-itik (Sumber Gambar : Nu Online)
Tahun Politik, NU Jangan Mudah Di-itik-itik (Sumber Gambar : Nu Online)

Tahun Politik, NU Jangan Mudah Di-"itik-itik"

Hal tersebut disampaikan Wakil Walikota Habib Ali Zaenal Abidin yang juga Mutasyar PCNU Kota Tegal saat memberikan sambutan acara pengajian halal bihalal dan jelang seabad NU, di halaman SMA NU Kota Tegal, Kamis malam (5/9).

KOKAM Tegal

Habib Ali menyayangkan tokoh-tokoh muda NU yang menggelar pengajian NU tetapi tidak murni pengajian karena diboncengi kekuatan politik tertentu. “Jangan sampai pengajian NU keluar dari koridornya dengan diboncengi politik, ” kata Habib Ali dengan nada keras.

Ketua PCNU Kota Tegal Dr Abdal Hakim Tohari menandaskan, bahwa NU itu menganut paham politik kebangsaan. NU ada di mana-mana dan tidak ke mana-mana.

Tapi yang jelas, siapapun ng Nahdliyin (warga NU) yang berkiprah di politik harus kita dukung bila memenuhi dua persyaratan khusus, yakni pertama harus berakhlakul karimah dan kedua yang mampu memberi manfaat bagi kelestarian dan pengembangan ahlussunah wal jamaah.

KOKAM Tegal

Menyosong se abad NU, lanjutnya, tradisi dan amaliyah NU harus terus disosialisasikan kepada generasi muda. Sebab banyak yang kurang paham seperti halal bihalal, manakib, barzanji, mitoni dan lain-lain. “Kita harus pertahankan dengan mensosialisasikan dan pengamalan yang terus menerus kepada generasi muda,” tuturnya.

PCNU Kota Tegal, kata Abdal, merasa sangat gelisah terhadap generasi muda sekarang yang banyak meninggalkan amaliyah NU. Seperti halal bihalal, meski jaman sudah modern tetapi tidak bisa digantikan dengan fasilitah handphone. HP tidak cukup mewakili karena yang meminta dan yang dimintai maaf tidak sesuai dengan keadaan hati yang sesungguhnya. “Sangat kering, untuk melihat keikhlasannya,” kata Abdal yang juga direktur RSUD Kardinah Brebes. (Wasdiun/Amin)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal News, Tokoh KOKAM Tegal

Kamis, 11 Januari 2018

Mayoran: Ajaran Rasulullah Satu Nampan Banyak Tangan

Mayoran adalah istilah yang digunakan oleh para santri untuk menunjukkan satu kegiatan makan bersama-sama dalam satu wadah besar. Wadah itu bisa berupa pelepah daun pisang (seperti gambar di atas) bisa juga dengan nampan atau baki. Nampan atau baki merupakan salah satu wadah yang biasa digunakan untuk menyajikan makanan atau minuman, biasanya terbuat dari kayu, plastik, logam, atau bahan lainnya. Adapun bentuknya bisa bulat, atau persegi. Jika persegi kadang ada yang bertelinga di sisi kanan dan kiri sebagai pegangan tangan. Sebagian masyarakat menyebut nampan sebagai talam, dulang atau tapsi. Karena itulah mayoran di sebagian pesantren disebut dengan istilah nampanan atau tapsinan. Yakni makan bersama-sama dengan satu nampan atau tapsi sebagai piring besarnya.

Pada dasarnya mayoran merupakan ekspresi rasa syukur kepada Allah atas nikmatnya yang tidak pernah putus. Mayoran oleh para santri adalah momen spesial yang sengaja diadakan untuk merayakan sebuah keberhasilan. Seperti ketika khatam dari satu pengajian kitab tertentu, atau hatam Al-Quran, atau lulus ujian kitab, atau sekedar bersyukur atas nikmat sehat dan berkumpul bersama sahabat dan teman-teman. Tentang menu masakan sangatlah fariatif, tergantung kesepakatan bersama. Tidak harus mewah, tetapi tidak boleh meninggalkan sambel yang pedas dan harus disajikan dalam keadaan panas.

Mayoran: Ajaran Rasulullah Satu Nampan Banyak Tangan (Sumber Gambar : Nu Online)
Mayoran: Ajaran Rasulullah Satu Nampan Banyak Tangan (Sumber Gambar : Nu Online)

Mayoran: Ajaran Rasulullah Satu Nampan Banyak Tangan

Konsep makan bersama dalam satu piring besar ini tidak hanya ada di pesantren saja, tetapi juga hidup dilingkungan masyarakat Arab. Bahkan di beberapa restoran Arab menyediakan model hidangan nampanan seperti ini. Tentunya dengan menu yang juga khas arab dengan nasi kebuli kambing atau nasi mandhi, nasi kabsah dan lain sebagainya.

KOKAM Tegal

Tradisi makan bersama dengan banyak tangan dalam satu piring besar ini sesungguhnya merupakan ajaran Rasulullah. Dalam sebuah hadits yang datang dari sahabat Wahsyi bin Harb dan diriwayatkan oleh Abu Dawud disebutkan:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

KOKAM Tegal

Bahwasannya para sahabat bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, "(Mengapa) kita makan tetapi tidak kenyang?" Rasulullah balik bertanya, "Apakah kalian makan sendiri-sendiri?" Mereka menjawab, "Ya (kami makan sendiri-sendiri)". Rasulullah pun menjawab, "Makanlah kalian bersama-sama dan bacalah basmalah, maka Allah akan memberikan berkah kepada kalian semua." (HR. Abu Dawud)

Demikianlah anjuran Rasulullah dipegang teguh oleh para sahabat dan keluarganya. Hingga kini para habaib dan kiai di pesantren yang tidak mau makan sehingga datang satu teman untuk makan bersama. Karena makan sendirian? bagi mereka adalah sebuah aib yang harus dihindarkan sebagaimana Rasulullah tidak pernah melakukannya.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Sahabat Anas radliyallahu anh berkata bahwasannya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak pernah makan sendirian. Rasulullah juga pernah bersabda bahwa sebaik-baik makanan adalah yang dimakan banyak tangan.

Artinya keberkahan sebuah makanan juga berhubungan dengan seberapa banyak orang yang ikut menikmatinya, semakin banyak tangan semakin berkah. Inilah kemudian yang oleh para santri dijadikan sebagai pedoman selalu makan dengan konsep mayoran.

Satu nampan banyak tangan merupakan pelajaran yang berharga. Pelajaran membangun karakter kebersamaan dan egaliterian dalam pesantren. Satu nasib satu sepenanggungan satu rasa satu masakan. Tidak ada beda pembagian antara mereka yang memberi banyak atau sedikit, antara pemiliki beras atau pemilik nampan, antara yang masak nasi dan yang menunggu tungku. Semua makan bersama-sama dalam waktu dan ruang yang sama. Hal ini juga menjadi latihan praktis untuk menghindarkan para santri dari sifat kikir dan bakhil.

Inilah yang di kemudian hari menjadi salah satu bahan pengawet kerukunan antar mereka. Perbedaan prinsip, pendapat dan pendapatan tidak akan mempu menggoyahkan rasa kekeluargaan antara mereka. Karena makan satu nampan dengan banyak tangan terlalu kokoh untuk sekedar menghadapi perbedaan prinsip dan pilihan.

Untuk mengenang kembali masa-masa di pesantren, dan untuk memperoleh banyak berkah tradisi makan bersama dalam satu nampan masih dipertahankan. Di beberapa daerah mayoran selalu dilaksanakan ketika memperingati hari-hari besar Islam, terutama setelah acara membaca maulid atau setelah shalat id. (Ulil Hadrawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Kiai, News KOKAM Tegal

Rabu, 10 Januari 2018

Isteri Gus Dur Semangati Santri Gapai Cita-cita

Jepara, KOKAM Tegal. Ibu Negara RI keempat, Isteri Almarhum KH Abdurrahman Wahid, Sinta Nuriyah yang berkesempatan hadir di pesantren Az-Zahra desa Sekuro kecamatan Mlonggo kabupaten Jepara, Kamis (20/6) kemarin menyemangati para santri agar tidak patah semangat dalam menggapai cita-cita. Kehadiran istri almarhum Gus Dur dalam silaturrahim tersebut disambut hangat keluarga besar Az-Zahra, santri, siswa, guru dan tokoh masyarakat setempat. 

Isteri Gus Dur Semangati Santri Gapai Cita-cita (Sumber Gambar : Nu Online)
Isteri Gus Dur Semangati Santri Gapai Cita-cita (Sumber Gambar : Nu Online)

Isteri Gus Dur Semangati Santri Gapai Cita-cita

Menurut perempuan kelahiran Jombang, Jawa Timur itu dengan tetap semangat menggapai cita-cita niscaya apa yang diharapkan akan terkabul. Usai menggapai cita-cita setinggi langit, tegasnya santri harus memberikan kontribusi positif ditengah-tengah masyarakat. 

“Kelak jika kalian sudah berjuang ditengah-tengah masyarakat jadilah agen perubahan yang baik,” ajaknya.

KOKAM Tegal

Ibu dengan 4 anak itu terus memantik semangat santri. Ia pun menyontohkan dirinya yang kini mengalami kelumpuhan usai tertimpa kecelakaan 20 tahunan silam. Meski dalam beraktivitas Sinta selalu ditemani kursi roda namun ia tetap mengajak agar tetap mempunyai semangat tinggi, tetap menjalankan aktivitas dan tujuannya tidak lain tetap bermanfaat bagi orang lain. 

KOKAM Tegal

Sebagai perempuan yang harus melanjutkan perjuangan suaminya, Gus Dur, dirinya menyinggung peran dan kodrat seorang wanita yang memiliki tugas dan tanggung jawab yang sama dalam mengisi dan mengembangkan bangsa. Apalagi di Jepara lanjut ibu dari Alissa Qatrunnada mempunyai pahlawan emansipasi wanita, RA Kartini. Karenanya, semangat RA Kartini tegasnya harus dilanjutkan. 

Disamping itu, perempuan 65 tahun itu juga memberi apresiasi kepada Pesantren Az-Zahra. Ia menyatakan Azzahra yang mengelola Pesantren, SMP dan SMK merupakan lembaga yang mewah, santri-santrinya antusias dalam belajar dan sangat ada harapan menjadi besar karena memiliki potensi untuk maju dan berkembang.

Sementera itu, H Mukhlisin selaku Dewan Pembina dan Pendiri Lembaga Pendidikan Az-Zahra mengungkapkan santri Pesantren Az-Zahra terdiri dari 400an yang berasal dari Jepara maupun luar daerah. Dalam mengelola pendidikan pihaknya dibantu tenaga pendidik yang kompeten di bidangnya juga didukung dengan guru dari lulusan pesantren.  

Redaktur     : Syaifullah Amin

Kontributor : Syaiful Mustaqim

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Pertandingan, News KOKAM Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs KOKAM Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik KOKAM Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan KOKAM Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock