Tampilkan postingan dengan label Nahdlatul Ulama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nahdlatul Ulama. Tampilkan semua postingan

Jumat, 02 Maret 2018

Inilah Empat Ciri Buku Nikah Asli

Jakarta, KOKAM Tegal. Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin kembali menegaskan bahwa siapapun yang terlibat melakukan pemalsuan buku nikah akan dikenakan sanksi pidana. Hal tersebut disampaikan di Kantor Kemenag Kamis (4/6) sore.

“Buku nikah merupakan dokumen negara. Jadi siapapun yang terbukti terlibat dalam pemalsuan buku nikah akan dikenakan sanksi pidana,” tegas Menag seperti dikutip dari situs kemenag.go.id.

Inilah Empat Ciri Buku Nikah Asli (Sumber Gambar : Nu Online)
Inilah Empat Ciri Buku Nikah Asli (Sumber Gambar : Nu Online)

Inilah Empat Ciri Buku Nikah Asli

Namun demikian, Menag tetap mengimbau masyarakat agar mengetahui ciri buku nikah asli. Karena pada dasarnya saat ini buku nikah tidak mudah untuk dipalsukan. 

KOKAM Tegal

“Saat ini, buku nikah sebenarnya relatif sulit untuk dipalsukan karena paling tidak terdapat empat ciri,” jelas Menag.

Lebih lanjut Menag menjelaskan paling tidak terdapat empat ciri khas dari buku nikah. Pertama, pada halaman dalam sampul terdapat halogram berbentuk lingkaran bergambar garuda. Kedua, terdapat lembar transparan mengkilat berhologram untuk menutup lembar identitas pasangan pengantin. 

KOKAM Tegal

Ketiga, terdapat nomor seri dengan sistem lubang pada bagian bawah buku. “Nomor ini punya kode khusus,” tambah Menag sambil menunjukkan contoh buku nikah. Dan keempat, setiap halaman buku apabila diterawang akan terlihat gambar garuda. 

Menag juga mengimbau kepada masyarakat yang menggunakan buku palsu agar melakukan pernikahan ulang agar tercatat secara sah dalam hukum negara. 

“Bagi yang palsu, saya mengimbau agar dilakukan pernikahan ulang supaya pernikahan tersebut tercatat oleh negara,” imbau menag. (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Olahraga, Nahdlatul Ulama, Hikmah KOKAM Tegal

Sabtu, 24 Februari 2018

Keuntungan Bergaul dengan Orang Saleh Menurut Ibnu Athaillah

Persahabatan kita dengan orang saleh dapat membawa keuntungan kepada kita. Persahabatan ini menjadi tanda bahwa kita juga setidaknya mendekati kesalehan yang diridhai oleh Allah SWT sebagaimana disinggung oleh Syekh Ibnu Athaillah dalam hikmah berikut ini.

? ? ? ? ? ? ? ? ?

Keuntungan Bergaul dengan Orang Saleh Menurut Ibnu Athaillah (Sumber Gambar : Nu Online)
Keuntungan Bergaul dengan Orang Saleh Menurut Ibnu Athaillah (Sumber Gambar : Nu Online)

Keuntungan Bergaul dengan Orang Saleh Menurut Ibnu Athaillah

Artinya, “(Mahasuci Allah) yang tidak ‘mempertemukan’ kepada para wali selain orang yang dikehendaki sampai kepada-Nya.”

KOKAM Tegal

Syekh Syarqawi coba menjelaskan bahwa Allah juga memiliki kecemburuan di mana ia tidak memperkenankan orang lain bergaul dengan orang-orang saleh yang menjadi kekasih-Nya. Bahkan, sebagian kekasih-Nya (para wali) tidak dikenal oleh makhluk-Nya termasuk para malaikat sehingga Allah sendiri yang mencabut nyawa mereka.

? ? ?) ? ? ? ? ? (? ? ? ? ? ?) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

KOKAM Tegal

Artinya, “(Mahasuci Allah yang tidak ‘mempertemukan’) memperkenalkan dan menyatukan (kepada para wali selain orang yang dikehendaki sampai kepada-Nya) karena para wali itu adalah kekasih-Nya sehingga dapat menimbulkan ‘cemburu’ jika Allah mempertemukan selain kekasih-Nya dengan para wali itu. Ini berlaku untuk sebagian wali. Mereka adalah orang yang digerakkan untuk suluk. Sedangkan orang yang dikehendaki sampai pada-Nya akan dipertemukan dengan para wali dalam bentuk persahabatan khusus. Para wali itu terbagi dua kategori. Satu kelompok wali diperkenalkan oleh Allah kepada kalangan awam dan kalangan tertentu. Satu kelompok wali lainnya diperkenalkan oleh-Nya hanya kepada kalangan tertentu. Tetapi ada juga sekelompok wali yang tidak diperkenalkan kepada satupun makhluk-Nya termasuk malaikat hafazhah. Allah sendiri yang mencabut nyawa mereka dan tidak memperkenankan tanah mengurai jasad mereka,” (Lihat Syekh Syarqawi, Syarhul Hikam, Semarang, Maktabah Al-Munawwir, juz II, halaman 2-3).

Pergaulan dengan orang saleh membawa berkah tersendiri bagi kesehatan batin manusia. Pergaulan itu membawa pengaruh tersendiri kepada batin manusia dengan catatan tetap menjaga adab terhadap orang-orang saleh itu. Kalau hujan saja bermakna berkah, apalagi para kekasih Allah sebagaimana disebutkan oleh Syekh Zarruq dalam kutipan berikut ini.

?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?... ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?... ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Menurut saya, yang dimaksud ‘wushul’ atau ‘sampai’ di sini adalah mengenal wali Allah dalam bentuk pergaulan yang menuntut pelaksanaan kewajiban berupa penghormatan terhadap perintah dan larangannya… Sejumlah ulama mengatakan, ‘Hujan adalah saat-saat dekat dengan Allah karenanya kita dianjurkan untuk keluar dan tabarukan saat hujan turun. Ini disebutkan oleh Rasulullah SAW. Itu baru keberkahan hujan, apalagi orang beriman ahli makrifat (arifin)?’... Salah satu dalil bahwa memandang wajah arifin dapat menambah makrifat dan lain sebagainya adalah ucapan Anas RA, ‘Tidaklah kami menghalau debu makam Rasulullah SAW yang melekat di tangan kami melainkan kami merasakan ada sesuatu yang kurang di hati ini,’ (lanjutkan terusannya). Secara umum, para wali Allah adalah pintu-Nya. Perkenalan dengan mereka adalah kunci pintu tersebut. Sementara gigi kunci itu adalah upaya menjaga diri agar tetap hormat, khidmat, sopan, dan keluasan rahmat kepada mereka. Siapa yang berinteraksi dengan mereka melalui cara demikian, maka ia akan dibukakan pintu. Tetapi kalau tidak dengan cara itu, maka ia berada dalam bahaya,” (Lihat Syekh Zarruq, Syarhul Hikam, As-Syirkatul Qaumiyah, 2010 M/1431 H, halaman 133-134).

Orang-orang saleh adalah pintu kita masuk kepada Allah. Mereka adalah orang-orang pilihan-Nya. Mereka adalah orang-orang yang selayaknya kita kenal lebih dekat dengan penuh adab dan kesantunan. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Nahdlatul Ulama, Nasional, IMNU KOKAM Tegal

Sabtu, 10 Februari 2018

Soal FDS, Presiden Jokowi Tak Cukup Hanya Bilang Terserah

Jember, KOKAM Tegal - Program Full Day School (FDS) yang digagas Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendi, terus menggelinding bak bola liar. Di mana-mana sejumlah elemen masyarakat dan kalangan pesantren menolak pemberlakuan FDS.

Kendati Presiden Jokowi di berbagai statemennya belakangan ini agak "melunak" dengan memberikan kebebasan pada lembaga pendidikan untuk tidak mengikuti program FDS, tapi tampaknya itu belum cukup membuat penolak FDS tenang.

Soal FDS, Presiden Jokowi Tak Cukup Hanya Bilang Terserah (Sumber Gambar : Nu Online)
Soal FDS, Presiden Jokowi Tak Cukup Hanya Bilang Terserah (Sumber Gambar : Nu Online)

Soal FDS, Presiden Jokowi Tak Cukup Hanya Bilang Terserah

(Baca: Tak Ada Ketentuan Penerapan Opsional dalam Permendikbud Lima Hari Sekolah)?

Penolakan terbaru terhadap pelaksanaan FDS datang dari ulama dan pengurus NU se-eks Karesidenan Besuki. Dalam rapat koordinasi PCNU se-eks Karesidenan? Besuki yang terdiri atas PCNU Jember, Banyuwangi, Kencong, Situbondo, dan Bondowoso di ruang pertemuan RSNU Banyuwangi, Ahad (13/8), mereka sepakat? menolak penerapan FDS.

KOKAM Tegal

Menurut perwakilan PCNU Jember Moch Kholili, selain menolak dengan sejumlah alasan, mereka juga memandang Presiden Jokowi tidak cukup hanya menyatakan bahwa lembaga pendidikan tidak wajib mengikuti program FDS, pemerintah tidak memaksakan lembaga pendidikan untuk mengikuti FDS dan sebagainya. Tetapi yang terpenting adalah harus ada keputusan tentang pencabutan peraturan FDS.

KOKAM Tegal

"Sebab, kalau lembaga di Indonesia sebagian ada yang mengikuti FDS, sebagian lagi tidak, nanti akan kacau, dan cenderung terjadi polarisasi. Presiden jangan setengah-setengah. Tak cukup hanya bilang teserah. Kalau memang ikut menolak, ya tolak. Jika memang setuju FDS, ya terapkan. Tapi kami bulat menolak FDS," kata Kholili kepada KOKAM Tegal.

Sementara itu, Koorinator PCNU se-eks Karesidenan Besuki, KH Syadid Jauhari menilai bahwa pemberlakuan FDS pada akhirnya mengancam keberlangsungan madrasah diniyah yang selama ini terbukti unggul dalam mendidik karakter anak bangsa.

"Selain itu, kami juga tidak melihat upaya penguatan karakter pada penerapan FDS tersebut," ungkapnya. (Aryudi A Razaq/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal PonPes, Ubudiyah, Nahdlatul Ulama KOKAM Tegal

Minggu, 04 Februari 2018

Dari Sulawesi Barat untuk Gus Dur

Jujur saya ingin mengatakan bahwa menulis tentang Gus Dur sebenarnya belum layak karena ketakutan jika nantinya jauh dari kesempurnaan pemikirannya. Penulis tak bisa menggambarkan seperti para penulis biografi Gus Dur lainnya.

Tetapi penulis, sebagai kader kultur NU yang berada di barat Sulawesi pada haul Gus Dur yang ke-4 ini ingin memberikan gambaran singkat dan sederhana tentang sumbangsih ide dan pemikiran Gus Dur bagi Sulawesi Barat.

? ? ?

Dari Sulawesi Barat untuk Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
Dari Sulawesi Barat untuk Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

Dari Sulawesi Barat untuk Gus Dur

Sosok Gus Dur merupakan idola yang sebenarnya ingin penulis temui ketika Muktamar ke-32 di Makassar tahun 2010 silam. Tetapi karena kehendak Tuhan yang lain, Gus Dur terlebih dahulu dipanggil Allah sebelum penulis sempat mencium tangan, bahkan melihat langsung dan menemui beliau.

Walaupun Gus Dur telah tiada, tetapi ide dan gagasan-gagasan Gus Dur tetap melekat dalam sanubari penulis. Salah satu ide dan gagasan briliannya adalah konsep pluralisme dan gagasan tentang kemanusiaan yang senantiasa diterjemahkan dalam beberapa tulisan dan tingkah laku politik di masa lalu.

KOKAM Tegal

Provinsi Sulawesi Barat yang lahir pada tahun 2004 merupakan wilayah yang terdiri dari 6 kabupaten yang bisa dikatakan memiliki penduduk yang multi-suku (Mandar, Bugis, Pattae, Jawa, Mamuju, Sasak/Bali) dan agama (Islam, Kristen Khatolik/Protestan, Hindu).

KOKAM Tegal

Penduduk yang multietnis dan agama di provinsi ini menunjukkan kemajemukan masyarakat yang ada, sehingga paham pluralisme dan multikulturalisme yang telah diperjuangkan Gus Dur juga menjadi kewajiban (fardhu ain) bagi masyarakat Sulbar sendiri, terutama Nahdlatul Ulama Provinsi Sulbar yang menjadi katalistor ide dan perjuangan ideologi Ahlussunnah Wal Jamaah An-Nahdliyah dan Islam inklusif (terbuka).

Sebagaimana yang kita kenal begitu banyak ide dan gagasan Gus Dur baik terkait demokrasi, pembelaan hak minoritas dan Hak Asasi Manusia, pribumisasi Islam dan Islam inkulsif, perdamaian dan pluralisme serta beberapa lagi yang tidak sempat penulis sebutkan.

Terkait gagasan pluralisme, secara nasional sesungguhnya ide Gus Dur ini bukan hanya sekadar ide yang diteriakkan semata dalam rangka menghargai perbedaan sebagai sebuah sunnatullah dalam kehidupan bangsa, tetapi juga diterjemahkan dalam bentuk sikap dan kebijakan.

Sebagai contoh diakuinya agama Konghucu ketika ia presiden, dimana kebijakan Gus Dur memberi kesadaran tersendiri bagi kita tentang penghargaan terhadap umat beragama minoritas di Indonesia. Bahwa kekuasaan mayoritas haruslah melindungi yang minoritas. Karena agama tidak dilihat hanya dalam dalam dimensi akidah dan syariat semata semata, tetapi dimensi kemanusiaan yang harus mampu diterjemah sebagai nilai yang menghargai sisi lain dari kemanusiaan penganut agama itu sendiri.

Sehingga penganut agama seharusnya tidak menjebak diri dalam ranah ekskusif yang mementingkan kelompoknya sendiri. Agama seharusnya bersifat inklusif yang mampu membuka dirinya dan menghargai agama lain yang biasa dikenal juga universalitas agama dalam rangka memperjuangkan nilai kemanusiaan dan kebangsaan di tengah masyarakat yang majemuk di Indonesia secara umum, dan di Sulawesi Barat secara khusus. Sehingga tidak ada lagi kekerasan terhadap agama lain, atau mengatasnamakan agama demi kepentingan kelompok. Faham eksklusif terhadap agama inilah yang kadang digunakan sebagai alat politik (kekuasaan) mengatasnamakan agama dan membuat kita tidak berlaku adil terhadap agama lain.

Pluralisme Gus Dur sesungguhnya pesan bagi kita semua agar senantiasa melakukan dialog antar-umat beragama dan melakukan kerjasama dalam menyelesaikan persoalan kehidupan masyarakat dan berbangsa. Kita semua dituntut agar senantiasa mencari persamaan-persamaan dan kebaikan-kebaikan yang tertanam dalam nilai-masing-masing agama, bukan justru mencari perbedaan dan justifikasi kebenaran pada tingkat akidah belaka, tetapi melupakan kerjasama dalam hal muamalat, yaitu memperbaiki nasib bersama dalam mencapai kesejahteraan lahir dan batin.

Merefleksikan kesadaran di atas, Sulawesi Barat yang memiliki mayoritas penganut agama Islam dan juga bisa dikatakan memiliki beberapa ulama besar yang pernah dilahirkan seperti KH. Muhammad Tohir (Imam Lapeo) dan KH. Muhammad Sholeh, Prof. KH. Sahabuddin, KH. Ilham Shaleh, KH. Muhammad Syibli Sahabuddin dan beberapa ulama lainnya yang tidak sempat disebutkan namanya. Mereka senantiasa konsisten menyebarkan faham Islam rahmatan lil alamin.

Mereka, menurur penulis dapat menjadi inspirasi bagi kader NU dan penulis sendiri serta organisasi-organisasi semisal Nahdlatul Ulama Sulawesi Barat dan PMII Sulawesi Barat untuk terus memperjuangkan dan mendakwahkan ajaran islam inkusif (moderat) dan perhargaan terhadap agama lain dalam dimensi dan nilai-nilai kemanusiaan (pluralisme) sebagaimana yang diajarkan Gus Dur dan ulama Sulawesi Barat saat ini.

Di sisi lain perbedaan adalah bukan wacana baru yang mengemuka dalam frame pemikiran masyarakat di Sulawesi Barat (terkhusus lagi di Polewali) saat ini, apalagi perbedaan agama. Dulu hingga saat sekarang ini, dikenal istilah dalam bahasa Mandar “Malilu sipakainga, manus sioronni.“

Istilah ini merupakan ajaran filosofi yang ditelorkan para leluhur di tanah Mandar dalam bentuk “pappasang” (peringatan) memberikan sinyal bahwa dalam kehidupan bermasyarakat diupayakan senantiasa saling mengingatkan antara satu dengan yang lain tanpa memandang asal usul, suku, agama, dan ras sepanjang hal tersebut mengarah ke arah yang sifatnya positif.

Selain itu, “manus sioronni” adalah menjelaskan hakikat kehidupan agar senantiasa saling tolong menolong antar sesama manusia.

Potensi kerjasama juga bisa dikaitkan dengan modal sosial masyarakat lokal di Sulawesi Barat secara yang umumnya masih banyak dihuni oleh orang Mandar. Di dalam ajaran para leluhur di Mandar dikenal konsep “siwaliparri”. Siwaliparri (bahasa Mandar) berarti, sikalulu atau sirondorondoi yang kurang lebih berarti saling membantu atau bergotong royong.

Merefleksikan pemikiran Gus Dur dan terkait filosofi dan ajaran masyarakat Sulbar saat ini pentinglah untuk selalu diingat dan diimplementasikan. Hal itu karena kegelisahan penulis dari beberapa fakta dimasa lalu di provinsi ini telah terjadi konflik inter dan antaragama mulai dari konflik interumat Jemaat Gereja Toraja Mamasa dan Jemaat gereja Masehi Injil Indo (MII) di Wonomulyo Polewali Mandar tahun 2010 hingga Konflik Aralle Tabulahan Mambi (ATM) di Kabupaten Mamasa Sulawesi Barat tahun 2003 silam.

Artinya, jika perbedaan tidak dikelola secara baik benih konflik bernuansa agama kemungkinan akan bisa mencuat kembali.

Bukan hanya itu, saat ini juga telah mulai terlihat dan menyebarnya beberapa lembaga pendidikan yang beraliran Islam “radikal” di beberapa kabupaten di jazirah Mandar ini. Masuknya ideologi dan aliran Islam eksklusif tersebut nantinya menyebabkan tumbuhnya doktrin radikalisme agama dan merubah pola pikir masyarakat Sulawesi Barat yang jika ditelisik dari sejarah masa lalu telah memahami agama secara inkulsif dan menghargai agama lain agar dapat hidup harmonis dalam perbedaan.

Hal tersebut terjadi dikarenakan penyebaran islam sejak dulu dilakukan oleh ulama di Sulawesi Barat berdimensi sufi dan moderat juga menghargai nilai dan kebudayaan lokal.

Sehingga ketika doktrin agama radikal yang tidak mentolerir agama lain dan menghargai perbedaan serta kebudayaan lokal, dibiarkan tumbuh dan berkembang di daerah yang majemuk ini, dengan sendirinya akan menciptakan benih konflik dan disharmonisasi antar umat beragama dan merusak tatanan kearifan lokal (local wisdom) dalam aspek budaya dan agama yang saling menghargai tadi.

Sehingga sekali lagi bahwa Haul ke-4 Wafatnya KH. Abudrrahman Wahid (Gus Dur) menjadi momentum bagi kita semua terkhusus bagi warga Nahdliyin di Sulawesi Barat untuk mencegah menyebarnya ajaran Islam eksklusif dan radikal di Sulawesi Barat. Juga berusaha terus menggerakkan dan memperjuangkan pemikiran serta gagasan pluralisme dalam rangka menyebarkan nilai kemanusiaan dan Islam yang rahmatan lil alamin di tengah perbedaan yang nantinya dapat mengantarkan kehidupan yang harmonis dan berkeadilaan di atas perbedaan yang telah diberikan oleh Tuhan di Tanah Mandar Sulawesi Barat.

Selamat jalan Gus Dur, selamat guru bangsa Indonesia. Walaupun engkau telah tiada tetapi engkau selalu hidup dalam benak dan sanubari terdalam kami. Do’a kami dari Sulawesi Barat senantiasa menyertaimu Gus. Amin... (Munawir Arifin)

MUNAWIR ARIFIN adalah Ketua Pergerakan Mahasiswa Islam Indonseia (PMII) Provinsi Sulawesi Barat. Penulis bisa ditemui di munawirarif86@gmail.com.

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Nahdlatul Ulama, Pertandingan KOKAM Tegal

Sabtu, 20 Januari 2018

Hobi Elektronik Sejak Belia, Santri Ini Luncurkan Jarepo

Bekasi, KOKAM Tegal



Bagi sebagian orang, jasa reparasi telepon seluler (ponsel) didominasi lulusan sekolah umum atau alumni teknologi informasi (TI). Namun tidak demikian menurut Muhammad Alauddin. Santri juga layak mengetahui sekaligus menguasainya.

Hobi Elektronik Sejak Belia, Santri Ini Luncurkan Jarepo (Sumber Gambar : Nu Online)
Hobi Elektronik Sejak Belia, Santri Ini Luncurkan Jarepo (Sumber Gambar : Nu Online)

Hobi Elektronik Sejak Belia, Santri Ini Luncurkan Jarepo

Berbekal keterampilan di bidang elektronik, pria yang pernah mondok di Pesantren “Amtsilati” Darul Falah Jepara, Jawa Tengah, ini meluncurkan JaRePo (Jasa Repair Ponsel). Ia mengaku menggandrungi dunia elektronika sejak belia. Dengan hobi yang terbilang unik ini, Alauddin menjemput rejeki untuk anak dan istri.

“Saya masih ingat, sekitar kelas 4 SD sudah pegang solder. Waktu itu saya baca-baca buku pelajaran IPA kakak saya. Di situ saya temui pelajaran tentang lampu flip flop,” ujar Alauddin kepada KOKAM Tegal, di konter Jarepo miliknya di bilangan Jatisari, Bekasi, Ahad (20/8).

Untuk meningkatkan kemampuan di bidang elektronik, sejak SMP Alauddin merambah radio pemancar untuk mendengarkan musik kegemarannya. Ia membeli sejumlah komponen radio lalu dirakitnya sendiri.

“Waktu itu kalau pengen ndengerin musik, musti beli radio atau tape. Tentu sekalian kasetnya. Itu mahal sekali. Sekitar 200-an ribu waktu itu. Nah, dengan modal 30 ribu saya bisa merakit sendiri radio pemancar. Akhirnya sejak itu di rumah saya full musik,” kenangnya.

KOKAM Tegal

Dalam menyalurkan hobinya di dunia elektronik, Alauddin mengaku sempat terkendala soal dana ketika ingin kursus. Meski demikian, kondisi tersebut tak membuatnya patah arang. Ia terus belajar otodidak. Melalui buku dan praktik, kemampuannya kian bertambah.

“Saat saya masih duduk di bangku aliyah, mulai banyak HP bertebaran di masyarakat. Lalu saya berpikir, kenapa saya nggak belajar reparasi HP aja. Kan lumayan,” pikir bapak satu anak ini.

Sejak ia merantau di Jakarta beberapa tahun silam, ia mulai menekuni dunia perponselan. Sebelum merintis Jarepo, ia telah bergulat dengan ratusan ponsel rusak. “Saya dapet nama itu (Jarepo-red) setelah googling beberapa hari. Saya memang cari nama unik yang belum ada di Indonesia,” ungkap Alauddin.

KOKAM Tegal

Hingga hari kedua diluncurkan, Jarepo sudah menerima sepuluh pelanggan. Selain reparasi ponsel, Alauddin juga mencipta beberapa produk andalan, yakni socket kekinian. “Pemesannya nggak hanya dari Jawa, tapi ada juga yang Luar Jawa. Pekan ini sudah terjual lebih 72 pieces,” pungkasnya. (Musthofa Asrori/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Nahdlatul Ulama KOKAM Tegal

Minggu, 31 Desember 2017

Dirjen PPMD: Program Kemendes Sangat Perlu Dukungan NU

Jakarta, KOKAM Tegal

NU mempunyai pengalaman dan pengetahuan yang amat besar terkait dengan isu intoleransi dan inklusi sosial. Kemendes memiliki komitmen yang sama dalam merawat kebersamaan kepercayaan tolerasnsi dan pelibatan seluruh warga dalam proses pembangunan dan pemberdayaan. Lembaga keagamaan seperti NU diharapkan bisa menjadi tulang punggung dalam proses memulihkan kembali inklusi sosial itu.

Dirjen PPMD: Program Kemendes Sangat Perlu Dukungan NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Dirjen PPMD: Program Kemendes Sangat Perlu Dukungan NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Dirjen PPMD: Program Kemendes Sangat Perlu Dukungan NU

Demikian dikatakan Direktur Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa (Dirjen PPMD) pada Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi RI Ahmad Erani Yustika, dalam perbincangan dengan KOKAM Tegal seusai menjadi pembicara dalam forum Konsinyering Penyelesaian Problem Diskriminasi, Intoleransi dan Kekerasan Berbasis Agama dan Kepercayaan, Kamis (28/4).

(Baca:? Lakpesdam PBNU Bahas Konsinyering untuk Penyelesaian Problem Diskriminasi)?

Erani menuturkan, Kemendes ingin merangkul semua lapisan masyarakat sipil termasuk NU untuk memastikan agar akidah-akidah yang diusung bukan hanya relevan dengan akidah (Islam), tapi berkesesuaian dengan program pemerintah sehingga bisa terselenggara dengan baik.

Menurutnya, keterlibatan NU dan masyarakat sipil sangat penting karena mereka yang punya pengalaman dan pengetahuan serta praktik dalam kehidupan sehari-hari. Lebih jauh mereka juga melihat secara langsung di lapangan. Ahamd Erani optimis apabila pemerintah punya komitmen yang sama agar kolaborasi dengan masyaraka sipil dan istitusi agama akan lebih mudah menyelesaikan persoalan-persoalan yang ada.

KOKAM Tegal

Nilai-nilai yang diusung semua agama meyakini tentang kebajikan bersama seperti keadilan, kebersamaan, dan toleransi menjadi bagian yang pokok untuk menyangga kehidupan bersama. Dalam hal ini tentu otoritas yang paling otoritatif untuk bisa menjelaskan dan mengamalkan hal itu adalah institusi keagamaan.?

“Kalau hanya sumber daya misalnya anggaran maupun program itu tidak akan pernah efektif selama institusi yang lebih otoritatif tidak terlibat, ditambah lagi jaringan yang demikian luasnya sampai ke pelosok-pelosok yang dimiliki NU menjadi jaminan bahwa komitmen bersama ini akan terkawal,” pungkas Erani. (Kendi Setiawan/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal

KOKAM Tegal Sunnah, Nahdlatul Ulama KOKAM Tegal

Jumat, 29 Desember 2017

Pimpin GP Ansor Madiun, Gus Anam Siap Rangkul Seluruh Kader

Madiun, KOKAM Tegal - Pengurus Cabang GP Ansor NU Kabupaten Madiun sukses menggelar Konferensi Cabang (konfercab) ke-VII, di gedung NU Center Kabupaten Madiun, Ahad (5/11). Forum musyawarah tertinggi ini memilih Khotamil Anam (Gus Anam) sebagai ketua masa khidmat 2017-2021.

Gus Anam menyatakan tekadnya untuk membawa gerbong organisasi GP Ansor Kabupaten Madiun menjadi lebih baik lagi. Dia menegaskan bahwa kepengurusannya nanti akan mengakomodasi seluruh kader yang ada. Para kader, lanjutnya, adalah roh organisasi.

Pimpin GP Ansor Madiun, Gus Anam Siap Rangkul Seluruh Kader (Sumber Gambar : Nu Online)
Pimpin GP Ansor Madiun, Gus Anam Siap Rangkul Seluruh Kader (Sumber Gambar : Nu Online)

Pimpin GP Ansor Madiun, Gus Anam Siap Rangkul Seluruh Kader

"Tidak ada cabang tanpa pimpinan anak cabang. Tiada pula pimpinan anak cabang tanpa pengurus ranting. Sumber dan kader GP Ansor berada di tingkat ranting. Insyaallah kami akan membangkitkan semangat ranting. Kita akan rangkul semua untuk kemajuan Ansor Kabupaten Madiun lebih baik lagi," katanya.

KOKAM Tegal

Gus Anam menekankan pentingnya menjaga komunikasi dengan para Kiai. Sebab para Kiai, jelasnya, merupakan motivator dan penunjuk arah dalam berorganisasi.

Konfercab VII diikuti oleh seluruh pimpinan anak cabang dan pengurus ranting se-Kabupaten Madiun. Konfercab dibuka oleh Bupati Madiun H Muhtarom.

Ketua GP Ansor Madiun Domisioner Gus Rosidin dalam laporanya mengaku puas dengan kinerja pengurus GP Ansor. Berbagai kegiatan dan pengkaderan sudah dilakukan oleh pengurus cabang periode 2013-2017 ini. "Hari ini kita dapat menyelesaikan kepengurusan dengan khusnul khotimah," ucapnya pada acara pembukaan.

KOKAM Tegal

Bupati Madiun H Muhtarom meminta agar ke depan GP Ansor memiliki sebuah unit usaha mandiri. Sebab organisasi ini, menurutnya, memiliki basis hingga akar rumput sehingga potensi para kader harus benar-benar dioptimalkan dalam rangka menuju kemandirian organisasi.

"Agar GP Ansor ini dapat menjadi contoh bagi organisasi kepemudaan lain di wilayah Kabupaten Madiun," tuturnya.

Pesan khusus juga disampaikan oleh Sekertaris GP Ansor Jawa Timur Gus Hamim kepada pengurus GP Ansor Madiun. Menurut Gus Hamim, para pengurus harus selalu update dengan perkembangan zaman. Diantaranya harus memiliki kiat khusus untuk dapat merekrut kader-kader zaman now. (Zaenal Faizin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Nahdlatul Ulama, Doa KOKAM Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs KOKAM Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik KOKAM Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan KOKAM Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock