Tampilkan postingan dengan label Pondok Pesantren. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pondok Pesantren. Tampilkan semua postingan

Minggu, 25 Februari 2018

Membayar Utang kepada Syekh Rabbani (2)

Oleh KH Yahya C. Staquf



Syahidnya Syekh Rabbani adalah tanggungan (dzimmah) atas Nahdlatul Ulama. Beliau terbunuh karena keterlibatan beliau dalam inisiatif yang dibuat oleh Nahdlatul Ulama. Dan beliau terlibat karena diminta oleh Nahdlatul Ulama.

Membayar Utang kepada Syekh Rabbani (2) (Sumber Gambar : Nu Online)
Membayar Utang kepada Syekh Rabbani (2) (Sumber Gambar : Nu Online)

Membayar Utang kepada Syekh Rabbani (2)

Nahdlatul Ulama berhutang nyawa kepada Syekh Rabbani!

KOKAM Tegal

Tapi NU tahu, tidak ada yang lebih diimpikan oleh Syekh Rabbani selain perdamaian dan keselamatan rakyat Afghanistan yang teramat beliau cintai, demi siapa beliau rela mempertaruhkan nyawa. Maka Kiai Asad Said Ali pun tidak berhenti menempuh ikhtiar menuju terwujudnya impian Syekh Rabbani itu. Kiai Asad melanjutkan hubungan intensif dengan para pemimpin Afghanistan, terutama ulama-ulama mereka.

KOKAM Tegal

Kiai Asad juga mengatur suatu kegiatan berkala yang rutin berupa pertukaran kunjungan antara ulama Afghanistan dan ulama NU, sekurang-kurangnya setahun sekali. Hingga kini, walaupun beliau tidak lagi menduduki jabatan apa pun di PBNU, beliau tidak berhenti mengatur dan memfasilitasi kunjungan wakil PBNU ke Afghanistan. Yang terakhir, beberapa bulan yang lalu, Kiai Abdul Ghofur Maimoen yang dikirim kesana. Semua atas biaya dari Kiai Asad. Dirogoh dari kantong pribadi beliau sendiri!

Keperdulian Kiai Asad kepada Afghanistan tidak bertepuk sebelah tangan. Para ulama Afghanistan melihat secercah cahaya diujung lorong gelap yang panjang. Dan mereka menyambutnya dengan gairah harapan yang menyala-nyala dan dengan keyakinan yang mengkristal akan rahmat yang dibawa oleh Nahdlatul Ulama! Pada 25 Juni 2014, mereka menyatukan tekad diantara mereka dan mendeklarasikan organisasi baru wadah persatuan mereka, yang diberi nama: Nahdlatul Ulama Afghanistan!

Dengan organisasi itu, mereka melanjutkan perjuangan untuk perdamaian. Demi masa depan umat mereka, rakyat Afghanistan yang mereka cintai hingga ke sumsum tulang. Amanat keulamaan mereka. Dan mereka terus berbesar hati bahwa Nahdlatul Ulama yang ada di Indonesia tidak akan pernah berhenti mendukung mereka dan menyediakan apa pun yang mampu disediakan untuk membantu mereka. Tidak akan berhenti selamanya. Tidak, selama masih ada Kiai Asad Said Ali, dan orang-orang yang berbagi kasih-sayang dengannya. Orang-orang yang memahami hutang Nahdlatul Ulama kepada Syekh Rabbani!

Lebih dari itu, Syekh Burhanuddin Rabbani dibunuh dengan tanpa haqq. Membunuh satu nyawa dengan tanpa haqq sama halnya membunuh manusia seluruhnya. Maka nyawa Syekh Rabbani senilai nyawa seluruh umat manusia. Nahdlatul Ulama berhutang kepada Syekh Rabbani bukan hanya nyawa beliau sendiri saja, tapi keselamatan seluruh ummat manusia!

Maka, dengan bertawakkal kepada Allah Subhanahu Wa Taala, Nahdlatul Ulama bertekad untuk melunasi hutang itu sebaik-baiknya. Nahdlatul Ulama mengerti bahwa Afghanistan hanyalah cuwilan kecil dari bencana raksasa yang menimpa seluruh peradaban umat manusia hari ini. Yaitu konflik dan antagonisme yang mengatasnamakan segala yang agung bagi manusia, termasuk agama, justru untuk membunuh belas-kasih dan tepa-selira kepada sesama.

Nahdlatul Ulama tidak berhenti hanya dengan Afghanistan saja.

Penulis adalah Katib ‘Aam PBNU



Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Pondok Pesantren, Aswaja KOKAM Tegal

Jumat, 02 Februari 2018

Mahasiswi Nurul Jadid Paiton Gelar Diskusi Publik

Probolinggo, KOKAM Tegal - Kelompok mahasiswa (Pomas) putri Nurul Jadid Paiton Kabupaten Probolinggo menggelar diskusi tentang feminisme dan Islam dalam konteks keindonesiaan kini di Aula IAI Nurul Jadid, Sabtu (10/6).

Diskusi ini diikuti oleh para pimpinan pada 3 (tiga) perguruan tinggi di Nurul Jadid Paiton (STT, IAI dan STIKes), jajaran pengasuh putri, pengurus pesantren dan mahasantri dari 3 perguruan tinggi Nurul Jadid Paiton.

Mahasiswi Nurul Jadid Paiton Gelar Diskusi Publik (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahasiswi Nurul Jadid Paiton Gelar Diskusi Publik (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahasiswi Nurul Jadid Paiton Gelar Diskusi Publik

Hadir sebagai penyaji adalah Lailatul Fitriyah, alumnus hubungan international dan kandidat doktor di Universitas Notre Dome Amerika Serikat. Laila adalah alumnus Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton.

Rektor IAI Nurul Jadid KH Abdul Hamid Wahid mengatakan, kegiatan ini bertujuan untuk memberi wawasan dan membahas salah satu isu yang sering dihadapi oleh Muslimah berupa feminisme.

KOKAM Tegal

“Bagaimana kita dapat memposisikan dengan benar dan tepat dalam memaknai dan mengaplikasikan dalam kehidupan. Demikian pula bagaimana kita belajar pada bangsa lain di belahan dunia ini dalam isu tersebut. Mengingat pembicara sebagai alumni juga belajar di negeri Paman Sam,” katanya.

KOKAM Tegal

Menurut Kiai Abdul Hamid Wahid, sebetulnya isu ini sudah lama ada di tengah-tengah masyarakat. “Tapi mungkin berkembang dalam implementasinya sesuai perkembangan keadaan,” jelasnya.

Sementara penyaji Lailatul Fitriyah mengatakan bahwa sudah saatnya konsep feminisme dibumikan di Indonesia. Akan tetapi masyarakat Indonesia masih alergi dengan konteks itu, karena semuanya dianggap dari Barat.

“Oleh karena itu, persepsi negatif itu harus dihilangkan, agar roh feminisme bisa diterapkan secara universitas,” ungkapnya. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Pondok Pesantren, Lomba, Meme Islam KOKAM Tegal

Betapa Gamangnya Menghadapi Globalisasi

Jakarta, KOKAM Tegal. Globalisasi yang ditandai dengan lintas-batasnya negara-negara, liberalisasi, internasionalisasi dan? universalisasi adalah perubahan besar tata dunia. Persoalannya bukan lagi apakah globalisasi sebuah keniscayaan, akan tetapi bagaimana menghadapi itu.

Sesi kedua Halaqoh II Pra-Munas dan Konbes di Jakarta, Sabtu (8/7), membuka kembali perbincangan tentang globalisasi, universalisme dan HAM dalam perpektif NU. Bertindak sebagai pembicara, Guru Besar UIN Qodri Azizi, Ketua PBNU Fajrul Falakh dan? KH. Hasyim Muzadi.

Mengawali pembicaraan, Qodri Azizi mengungkapkan, globalisasi adalah proses yang dialami oleh sebuah peradaban besar bernama dunia. Kekhawatiran bahwa globalisasi adalah proyek besar negara-negara Barat sama sekali tidak beralasan.

Betapa Gamangnya Menghadapi Globalisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Betapa Gamangnya Menghadapi Globalisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Betapa Gamangnya Menghadapi Globalisasi

“Kita tak mungkin bisa setuju atau tidak? menghadapi globalisasi. Dan globalisasi itu sebenarnya netral, hanya saja Barat saat ini memang mendominasi. Dalam sejarah sebenarnya globalisasi dimulai oleh Islam pada abad pertengahan,” kata Qodri Azizi.

Fajrul Falah menyoroti beberapa persoalan penting dalam globalisasi seperti terorisme, perdagangan orang dan obat-obat terlarang, penyebaran virus dan penyakit secara mendunia, perdagangan uang dan hak milik intelektual, serta ekspor-impor limbah beracun. Menurutnya, saat ini setiap bangsa panik dengan berbagai isu yang kemudian disebut sebagai isu dunia.

KOKAM Tegal

Dikatakan Dosen Fakultas Hukum UGM itu, ada tiga pilihan yang mau tidak mau harus dijalani oleh setiap bangsa yang “kalah” dalam persaingan global.

“Apakah bertahan atau uzlah seperti China dulu menerapkan "tirai bambo", apakah kita beradaptasi dengan kesiapan peralatan jejaring masyarakat sipil global, atau berintegrasi dengan kemungkinan menyerah dan larut, mewarnai, atau memimpin,” kata Fajrul.

Ketua Umum PBNU KH. Hasyim Muzadi berpandangan, globalisasi perlu dihadap dengan filter ketat. Menurutnya, tatanan nilai yang ada menjadi ukuran apakah suatu proses globalisasi dilanjutkan atau tidak.

KOKAM Tegal

“Kalau tidak? bertentangan ya nggak masalah sebagai bagian dari sebuah perkembangan, bahwa kata Nabi antum a’lamu bi’umuri dunyakum (kalian lebih mengerti urusan kalian sendiri: Red),” kata Hasyim.

Qodri Azizi menyangkal. “Kita jangan berfikir filter dulu,” katanya. Keinginan untuk membuat filter dapat menghambat kemajuan. Menut Qodri, berbicara filter adalah tanda-tanda kalah dalam berkompetisi. (nam)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Pondok Pesantren, Aswaja, Doa KOKAM Tegal

Kamis, 01 Februari 2018

Fikih Keseharian Gusmus

Penulis : KH. Ahmad Musthofa Bisri (Gusmus)

Peresensi : Peresensi Ach. Tirmidzi Munahwan

Selama ini berita yang masih aktual, dan masih menjadi sorotan media massa adalah peristiwa tentang perselisihan dan perdebatan dalam pemikiran masalah-masalah keagamaan atau fiqh, yang dalam istilah NU disebut forum “Bahtsul Masail”. Bahtsul masail ini merupakan salah satu forum diskusi keagamaan untuk merespon dan memberikan solusi atas problematika aktual yang muncul dalam kehidupan masyarakat. KH Sahal Mahfudz, Pengurus Syuriyah PBNU menyebutnya bahwa forum “Bahtsul Masail” merupakan forum yang dinamis dan demokratis, selalu mengikuti perkembangan, dan trend hukum yang terjadi  di masyarakat.

Siapa yang tidak kenal dengan sosok yang satu ini? K.H.A. Musthofa Bisri yang panggilan akrabnya Gus Mus sudah tidak asing lagi bagi semua kalangan, ia adalah seorang kiai, pelukis, penyair, dan budayawan yang karya-karyanya selalu melambung di media massa baik lokal maupun nasional. Setelah pasca Buya Hamkah, Ali Hasjmi, dan Bahrum Rangkuti, umat Islam Indonesia sangat miskin melahirkan ulama yang dikatakan seniman dan sastrawan. Mungkin tidak banyak yang tahu, jika Gus Mus disamping sebagai sastrawan juga seorang pelukis.

Fikih Keseharian Gusmus (Sumber Gambar : Nu Online)
Fikih Keseharian Gusmus (Sumber Gambar : Nu Online)

Fikih Keseharian Gusmus

Meskipun sebagai budayawan, penyair, dan pengasuh pondok pesantren, namun pemikiran dan gagasan-gagasan yang diusungnya mampu menandingi, bahkan melebihi wacana-wacana yang diusung oleh para ilmuwan, dan cendikiawan. Jadi tidak semua masyarakat pesantren hanya dianggap sebagai kaum sarungan yang pemikiran dan gagasannya hanya terpaku pada teks klasik saja, melainkan mampu menyesuaikan dengan realitas sosial yang terjadi saat ini.

Dan pada ahir-ahir ini masyarakat pesantren selalu eksis dimana-mana, dan  mulai banyak mengaktualisasikan pemikiran, dan gagasannya  yang dapat   memasung daya kritis seorang santri, sehingga masyarakat pesantren bisa dikatakan seorang yang produktif, dan kritis.

KOKAM Tegal

 Rois Syuria Nahdhatul Ulama (PB.NU) ini, tidaklah membuat beliau menjadi orang yang rakus terhadap kekuasaan dan memanfaatkan jabatannya. Namun beliau adalah orang yang bisa menjaga jarak dari hal-hal yang sifatnya politis, dan pragmatis.  Seperti yang disampaikan dalam tausiyahnya dalam munas alim ulama di Sokolilo kemarin, bahwa persoalan politik  di Indonesia sangatlah pelik, dan berengsek sekali, tidak didasari dengan etika-etika  politik yang ada.

Kiprah Gus Mus di panggung politik bermula mendapat tawaran dalam bursa pencalonan sebagai anggota legislatif PPP preode 1977-1982 mewakili wilayah Rembang-Blora. Namun meskipun ia mendapat sebuah tawaran yang menggiurkan dan menjanjikan Gus Mus menolaknya. Karena ia merasa belum berpenglaman dan juga belum mempunyai andil di partai.

Buku setebal 525 halaman ini, memang benar-benar hasil garapan kreatif seorang kiai dan budayawan, yang didalamnya mengulas tentang berbagai problematika  kekinian, dengan tanpa meninggalkan keotentikan dan nilai historisitas teks klasik (kitab kuning).

Adapun pemikiran-pemikiran yang ia usung selama ini, memang benar-benar dimanfaatkan untuk meningkatkan, dan memperluas ilmunya untuk mengabdi pada masyarakat. Bagaimana masyarakat bisa mengerti, dan paham terhadap hukum fiqh pada umumnya.

Dengan ketajaman analisis inilah, Gus Mus tidak hanya mampu menawarkan jawaban-jawaban dari bermacam problem yang datang padanya secara normatif. Melainkan ia berhasil memberikan kerangka nuansa pemikiran untuk mengatasi masalah-masalah keagamaan keseharian kita secara rinci dan terurai  secara rapi.

KOKAM Tegal

 Dan perlu dicatat, bahwa  penjelasan atau jawaban-jawaban yang ia berikan semata-mata penjelasan apa adanya yang dirangkai dengan dalil-dalilnya. Sehingga jawaban-jawaban beliau tidak begitu saja mengatakan  ini haram dan itu halal, ini wajib dan itu sunnah.

Selain itu juga, dalam bab akhir Gus Mus dengan sangat gamblang memaparkan berbagai persoalan-persoalan budaya kontemporer yang sedang dihadapi oleh umat Islam. Seperti dalam bab VIII halaman 520, ada seorang penanya mengutarakan kegundahan dalam kehidupan sehari-harinya yaitu, berkenaan dengan maraknya gambar-gambar panas (porno),  dan melakukan onani.

Di saat memberikan jawaban atas pertanyaan ini, Gus Mus menentukan haram tidaknya melihat gambar porno dan melakukan onani, yaitu mengikuti pendapat para ulama. Karena pendapat para ulama sudah sepakat, melihat gambar-gambar panas (porno), dan melakukakan onani hukumnya haram. Karena manfaat dan mudharatnya yang jelas  lebih banyak madaratnya. Dan perbuatan  tersebut, telah dilarang oleh agama, dan dapat merusak moral para generasi muda pada umumnya. Perbuatan yang dilarang oleh agama mDari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Pondok Pesantren, Santri, Jadwal Kajian KOKAM Tegal

Senin, 29 Januari 2018

Gus Sholah: Gerakan Fundamentalisme Agama Ancam Nasionalisme

Jombang, KOKAM Tegal. Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, KH Sholahuddin Wahid (Gus Sholah) mengatakan, gerakan fundamentalisme agama dan radikalisasi massa yang marak belakangan ini, merupakan tanda-tanda bagi ancaman nasionalisme Indonesia.

Hal itu disampaikan Gus Sholah saat menjadi pembicara pada seminar “Nasionalisme Indonesia, Dulu dan Kini”, di sela-sela Pertemuan Anak Muda Nahdlatul Ulama (NU) di Aula Ponpes Tebuireng, Jombang, Jatim, Ahad (20/05) kemarin, seperti dilansir syirah.com.

Gus Sholah, dalam acara yang digelar untuk memperingati Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) itu, mencontohkan ancaman bagi nasionalisme juga tampak pada hubungan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Menurutnya, hubungan itu tidak lagi mencerminkan hubungan yang berlandaskan keadilan dan memberi nilai lebih bagi pemberdayaan masyarakat miskin.

Gus Sholah: Gerakan Fundamentalisme Agama Ancam Nasionalisme (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Sholah: Gerakan Fundamentalisme Agama Ancam Nasionalisme (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Sholah: Gerakan Fundamentalisme Agama Ancam Nasionalisme

Globalisasi, tambah mantan Ketua Pengurus Besar NU yang juga adik kandung KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) itu punya peran besar dalam menumbuh-suburkan gerakan fundamentalisme agama dan radikalisasi massa. Semakin besar efek yang ditimbulkan globalisasi, maka nasionalisme Indonesia akan terpinggirkan, terancam.

Waspadai Gerakan Fundamentalisme

Sementara itu, Pertemuan Anak Muda NU, Minggu (20/05), menghasilkan beberapa rekomendasi. Di antaranya, mengimbau kepada masyarakat agar mewaspadai gerakan-gerakan fundamentaslime yang mengancam nasionalisme Indonesia.

KOKAM Tegal

Selain itu, acara yang diikuti aktivis NU dan LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) juga mengeluarkan seruan kepada pemerintah pusat untuk lebih memperhatikan kembali rakyat miskin yang jumlahnya masih banyak di beberapa daerah.

Hal itu dianggap penting karena selama ini kebijakan-kebijakan pemerintah pusat kepada daerah dinilai tidak cocok dengan kearifan lokal dan tidak seimbang dengan sumberdaya lokal daerah.

Kepada kalangan “NU struktural”, seperti dikutip syirah.com, Pertemuan Anak Muda NU menyatakan agar lebih aktif memperjuangkan isu yang sedang menimpa warga NU, misalnya soal kemiskinan. Karena kalangan struktural NU dinilai masih mempunyai kekuatan untuk menggerakkan warganya agar terlepas dari belenggu kemiskinan.

KOKAM Tegal

Sedangkan, kalangan “NU kultural”, dalam hal ini dapat memainkan dua peran. Pertama, mendukung, mendampingi NU struktural untuk merealisasikan program yang berpihak pada permasalahan yang dihadapi umat.

Acara tersebut dihadiri sekitar 200 peserta dari kalangan LSM NU; Syarikat Indonesia, Lembaga Kajian Islam dan Sosial (LKiS) Yogyakarta, Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M) Jakarta, Pengurus Pusat Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) NU Jakarta, FLA, Averroes Malang. (rif)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Pondok Pesantren, Humor Islam, Aswaja KOKAM Tegal

Rabu, 24 Januari 2018

IPNU Jakpus Gelar Turnamen Futsal untuk Para Artis Cebol

Jakarta, KOKAM Tegal. Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Jakarta Pusat mengadakan turnamen futsal se-DKI Jakarta. Kali ini turnemen tergolong unik, karena semua pesertanya adalah orang mini (cebol) yang tak asing lagi di layar televisi Indonesia.

IPNU Jakpus Gelar Turnamen Futsal untuk Para Artis Cebol (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU Jakpus Gelar Turnamen Futsal untuk Para Artis Cebol (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU Jakpus Gelar Turnamen Futsal untuk Para Artis Cebol

Kebanyakan dari mereka adalah pemain sinetron, seperti Tarzan Betawi, Ronaldowati, dan  7 Manusia Harimau, yang sampai saat ini sinetronnya masih tayang. “Saya sendiri awalnya meragukan akan terlaksanannya turnamen ini. Mereka adalah pemain sinetron, terlebih ada yang bilang bahwa setelah futsal mau langsung menuju lokasi syuting di Cibubur,” ujar Yani Rahman, Ketua PC IPNU Jakarta Pusat.

Turnamen yang digelar Sabtu (12/9) ini dihadiri langsung oleh Faisal dari Deputi 3 Kemenpora Republik Indonesia. Ia membuka turnamen ini dengan menendangkan bola dari tengah lapangan yang kemudian disahut gemuruh tepuk tangan para peserta dan panitia.

KOKAM Tegal

Faisal tampak terkejut dan senang ketika memasuki lapangan futsal, di kawasan Kwitang, Jalan Keramat 2, Jakarta Pusat itu. “Waw, ini merupakan suatu kegiatan yang beda dengan yang lain, tetap jaya olahraga Indonesia,” ujarnya.

KOKAM Tegal

PC IPNU Jakarta Pusat mengadakan turnamen ini karena menilai bahwa olahraga bisa dinikmati oleh semua kalangan. Gelak tawa yang tanpa henti mewarnai turnamen futsal tersebut. Semua larut dalam kebersamaan dan kegembiraan, termasuk bagi tim yang kalah. “Ini merupakan kemenangan kita bersama,” ujar Farly sesaat setelah menerima piala juara 1 turnamen futsal mini. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Pondok Pesantren, AlaNu KOKAM Tegal

Minggu, 21 Januari 2018

Kepahlawanan Kaum Santri

Hanya sedikit sejarawan yang menuliskan kisah perjuangan para ulama dan kaum santri dalam merebut kemerdekaan dan mendirikan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tidak banyak bukti sejarah yang mencatat keterlibatan kaum santri. Kisah perjuangan para santri hanya tersebar secara lisan dari generasi ke generasi.

Di sisi lain, sejarah konvensional lebih sering menulis kisah-kisah heroik yang bertumpu pada kepahlawanan seorang raja, panglima perang, tentara profesional, orator ulung, atau pemimpin diplomasi. Perjuangan yang melibatkan rakyat banyak hanya ditulis di sela-sela kisah kebesaran satu dua tokoh.

Kepahlawanan Kaum Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
Kepahlawanan Kaum Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

Kepahlawanan Kaum Santri

Hal lain lagi, sejarah konvensional bertumpu pada catatan-catatan sejarah yang ditulis oleh para pelaku. Sementara para ulama dan kaum santri tidak biasa dan tidak sempat membuat memoar atau semacamnya. Mereka berjuang sebagai bagian dari panggilan tugas. Setelah berjuang, mereka yang masih hidup kembali menjalankan aktifitas sehari hari di pesantren, di masjid, di masyarakat.

KOKAM Tegal

Wajar jika generasi penerus para ulama dan kaum santri yang telah berbaur dengan berbagai kalangan pun merasa gelisah, karena para pendahulu mereka tidak dinyatakan secara formal sebagai orang-orang yang telah berjuang. Perjuangan para pendahulu mereka hanya dikisahkan secara lisan dan diyakini oleh kalangan internal.

KOKAM Tegal

Maka upaya-upaya kaum muda NU untuk menggali berbagai sumber, dokumen, dan bukti sejarah mengenai kisah perjuangan kaum pesantren dalam merebut kemerdekaan Indonesia adalah langkah strategis. Dokumen Resolusi Jihad KH Hasyim Asy’ari hanyalah bukti yang diam, yang perlu digerakkan untuk melacak sejauh mana keterlibatan kaum santri dalam perjuangan kemerdekaan.

Terkait peristiwa November 1945, belakangan baru diketahui bahwa Cak Asy’ari yang menyobek warna biru dalam bendera merah putih biru di depan hotel Yamato sebelum terjadi pertempuran besar-besaran di Surabaya adalah seorang kader Ansor NU. Ada juga kisah mengenai pergerakan massa dari pesantren di kawasan Mataraman ke Surabaya, bahkan dari pesantren nun jauh di Cirebon. Ada juga kisah-kisah mengenai aktivitas para santri menyiapkan makanan di barak-barak para pejuang.

Wakil Sekjen PBNU Abdul Munim DZ mengungkapkan, KH Hasyim Asy’ari adalah tokoh muslim paling disegani semenjak kehadiran Jepang. Ada sebutan "Kiai No 1 dari pemerintah Jepang. Setelah dipenjara Kiai Hasyim malah dipercaya memimpin dua organisasi tingkat nasional, yakni Sumubu dan Masyumi. Kiai Hasyim juga mempunyai komando langsung kepada pasukan Hizbullah, Sabilillah, dan barisan kiai yang telah mendapatkan pendidikan militer dari Jepang dan bahkan mendapatkan lucutan senjata dari Jepang. Sangat aneh ketika nama KH Hasyim Asy’ari tidak disebut dalam catatan sejarah formal.

Jika mundur ke belakang, keterlibatan kaum santri akan selalu tampak dalam setiap gerakan konfrontasi dengan penjajah. Pelatihan-pelatihan militer untuk para pejuang dilakukan di pesantren-pesantren yang berada di pelosok desa. Jaringan tarekat dan santri kelana menjadi penyampai informasi dan propaganda dari satu tempat ke tempat lain.

PBNU mengapresiasi para sejarawan, peneliti dan sastrawan muda NU mulai gemar menulis kisah-kisah dari kalangan kaum santri sendiri. Siapa lagi yang menulis kalau bukan kita sendiri? Tidak perlu berharap kepada orang lain, karena bagi orang lain kaum santri mungkin tidak menarik untuk ditulis.

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj sering mengingatkan bahwa menulis merupakan bagian dari dakwah. Istilah fikih dakwah dalam khasanah pesantren sering diterjemahkan secara lugas dengan fikih marketing. Ia mengingatkan, kaum santri dan kalangan NU masih perlu belajar banyak dan istiqomah dalam menekuni bidang ini. (A. Khoirul Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Pondok Pesantren, Ulama KOKAM Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs KOKAM Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik KOKAM Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan KOKAM Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock