Tampilkan postingan dengan label Ahlussunnah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ahlussunnah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 06 Februari 2018

Sentralisasikan Kembali Urusan Kependudukan

Jakarta, KOKAM Tegal. Ancaman ledakan jumlah penduduk di Indonesia akan menimbulkan banyak dampak negatif yang bahkan sulit untuk diramalkan. Ketua PP Muslimat NU Khofifah Indar Parawansa mengusulkan untuk melakukan kembali sentralisasi urusan kependudukan.

“Diberbagai daerah, urusan kependudukan dan KB biasanya digabung dengan dinas lainnya dan pemda biasanya hanya mengucurkan dana yang kecil karena dianggap membebani APBD. Ini terjadi karena mereka kurang memahami aspek kependudukan yang dianggapnya hanya masalah administrasi,” tandasnya kepada KOKAM Tegal.

Mantan Menteri Pemberdayaan Perempuan era Gus Dur tersebut mengatakan bahwa sebenarnya ia sudah menyadari potensi ledakan penduduk saat ia masih menjadi menteri. Namun upaya konsolidasi dan koordinasi dengan fihak terkait lainnya belum selesai ketika ia turun dari jabatannya.

Sentralisasikan Kembali Urusan Kependudukan (Sumber Gambar : Nu Online)
Sentralisasikan Kembali Urusan Kependudukan (Sumber Gambar : Nu Online)

Sentralisasikan Kembali Urusan Kependudukan

“Nantinya beban pemerintah semakin berat karena harus menyediakan fasilitas kesehatan, pendidikan sampai dengan lapangan kerja,” imbuhnya.

Jika hal tersebut diatas tidak dapat diatasi, akan menimbulkan dampak sosial yang luar biasa seperti kriminalitas dan bahkan bisa menimbulkan bencana politik.

KOKAM Tegal

Hal-hal yang harus diantisipasi oleh pemerintah berkaitan dengan kependudukan menurutnya adalah masalah mobilitas, kualitas dan kuantitas. “Saat ini konsentrasi penduduk di pulau Jawa dan tingginya tingkat urbanisasi, khususnya di Jakarta,” paparnya.

Sementara itu berkaitan dengan kualitas penduduk, Indonesia saat berada dalam peringkat 108 dalam Human Development Index, jauh dibawah negara tetangga seperti Singapura, Malaysia maupun Thailand.

Berdasarkan data BPS, secara kuantitas, saat ini jumlah penduduk Indonesia sudah lebih dari 220 juta dengan jumlah kelahiran bayi sekitar 4 juta per tahun. “Meskipun ada otonomi daerah, tapi untuk urusan kependudukan, perlu ada pengecualian khusus karena beban pemerintah sudah berat,” tegasnya. (mkf)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal

KOKAM Tegal Ahlussunnah, Tokoh, Doa KOKAM Tegal

Jumat, 02 Februari 2018

MWCNU Krucil Safari Ramadhan dari Ranting ke Ranting

Probolinggo, KOKAM Tegal - Dalam rangka mempererat ukhuwah nahdliyah, Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Krucil Kabupaten Probolinggo mengadakan kegiatan Safari Ramadhan. Mereka mengunjungi ranting-ranting NU secara bergantian selama bulan Ramadhan 1438 H.

Turut serta dalam Safari Ramadhan ini jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimka) Kecamatan Krucil (Camat, Kapolsek dan Danramil) sekaligus jajaran pengurus MWCNU Kecamatan Krucil baik lembaga maupun badan otonom (banom) NU.

MWCNU Krucil Safari Ramadhan dari Ranting ke Ranting (Sumber Gambar : Nu Online)
MWCNU Krucil Safari Ramadhan dari Ranting ke Ranting (Sumber Gambar : Nu Online)

MWCNU Krucil Safari Ramadhan dari Ranting ke Ranting

Rais Syuriyah MWCNU Kecamatan Krucil Moh Bahrawi mengatakan, Safari Ramadhan ini merupakan suatu wadah silaturahmi yang sangat bermanfaat dalam upaya perbaikan masyarakat di masa depan.

KOKAM Tegal

“Kegiatan ini dapat dijadikan sebagai media untuk menyampaikan informasi program NU di semua jenjang tingkatan kepada warga NU,” ujarnya, Ahad (4/6) sore.

KOKAM Tegal

Dalam Safari Ramadhan ini, Bahrawi juga mengimbau seluruh Muslim agar dapat menjalankan ibadah puasa dengan sebaik-baiknya serta dan bagi non-Muslim agar menghormati dan menghargai umat Muslim yang sedang menjalankan ibadah puasa.

“Dengan saling menghargai dan menghormati, maka kerukunan antarumat beragama di Kecamatan Krucil akan terus terjaga dengan baik. Hal ini tentunya menjadi modal penting dalam rangka menjalankan program-program NU ke depan,” jelasnya.

Melalui Safari Ramadhan ini ia mengharapkan agar nantinya mampu menumbuhkan sebuah komunikasi dan koordinasi dalam mendukung semua program NU ke depan.

“Mudah-mudahan dengan kegiatan ini warga NU, khususnya yang ada di Kecamatan Krucil mampu menyerap ilmu yang disampaikan oleh para kiai dan tokoh agama sebagai modal dalam mencapai keridhaan dari Allah SWT,” harapnya. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Ahlussunnah KOKAM Tegal

Senin, 01 Januari 2018

HUT Kemerdekaan, Kaukus Muda NU Cirebon Luncurkan Buku

Cirebon, KOKAM Tegal. Dalam rangka menyambut Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, Kaukus Muda Nahdlatul Ulama Cirebon meluncurkan sebuah buku bertajuk “Jare Ente Priben: Gagasan dan Inspirasi Refleksi Kemerdekaan RI” di Kantor Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kotamadya Cirebon, Cirebon, Jawa Barat, Sabtu (16/8) malam.

HUT Kemerdekaan, Kaukus Muda NU Cirebon Luncurkan Buku (Sumber Gambar : Nu Online)
HUT Kemerdekaan, Kaukus Muda NU Cirebon Luncurkan Buku (Sumber Gambar : Nu Online)

HUT Kemerdekaan, Kaukus Muda NU Cirebon Luncurkan Buku

Dalam buku berjilid warna kuning dengan gambar peta Indonesia tersebut,? dimuat sebanyak 34 artikel yang merupakan hasil tulisan dari kalangan muda? NU yang tersebar di Kabupaten dan Kota Cirebon.

Seperti yang diungkapkan Johandi, koordinator Kaukus Muda Nahdlatul Ulama Cirebon, buku tersebut diharapkan dapat menjadi sebuah bahan bacaan sekaligus refleksi bagi masyarakat Cirebon terkait dengan pemaknaan hari kemerdekaan Indonesia.

KOKAM Tegal

“Buku ini menyajikan gag? san, inspirasi dan inovasi beberapa tokoh muda NU yang dimotori Kaukus Muda NU Cirebon dalam berkiprah dan berdedikasi untuk bangsa Indonesia yang kita cintai,” ungkap Johandi.

KOKAM Tegal

Secara terperinci Johandi menjelaskan, isi dari buku ini sebagian besar memuat tentang? pemaknaan kemerdekaan secara bebas dari para penulisnya, akan tetapi, menurutnya, semua terbingkai pada semangat kritik? untuk perubahan sosial masyarakat Cirebon.

“Isinya bukan semata joke, kecaman, atau kepedihan, melainkan refleksi untuk mendudukkan manusia Indonesia dalam porsi penilai bebas, bebas menilai negeri yang dicintai ini dengan perspektif nan variatif, bebas mengatakan mau apa, mau dibawa ke mana negeri ini, bebas pula menilai pemimpinnya,” katanya.

Buku yang dicetak untuk kalangan terbatas ini dibagikan secara gratis kepada para peserta yang berkesempatan hadir. Dalam diskusi dan peluncuran tersebut, hadir pula beberapa perwakilan dari pengurus badan otonom, lembaga, lajnah serta organisasi ke-NUan lainnya. (Sobih Adnan/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Ahlussunnah, AlaSantri KOKAM Tegal

Senin, 18 Desember 2017

Cari Berkah denganTarawih Keliling

Pekalongan, KOKAM Tegal. Kota Pekalongan yang kental dengan para ulama dan habib bisa digolongkan sebagai kota yang memiliki tradisi ke-NU-an yang begitu kuat. Setiap bulan Ramadhan tiba, banyak masyarakat Pekalongan yang ngalap (mencari) berkah lewat kegiatan tarawih keliling masjid-masjid yang ada di Pekalongan.

Cari Berkah denganTarawih Keliling (Sumber Gambar : Nu Online)
Cari Berkah denganTarawih Keliling (Sumber Gambar : Nu Online)

Cari Berkah denganTarawih Keliling

Seperti halnya yang dilakukan oleh Irzam Hasani (21), mahasiswa Undip Semarang. Ia rela menyempatkan diri untuk pulang ke kampung halaman guna menikmati nuansa Ramadhan di Pekalongan. Bersama dengan dua rekannya, Shofiyullah dan Khadziq, mereka ingin meramaikan bulan Ramadhan kali ini dengan melakukan tarawih keliling ke masjid maupun majelis habaib yang ada di Kota Batik ini.

Pada malam ke-4 di bulan Ramadhan ini, Jumat (12/7), mereka memulai kegiatan tarawih kelilingnya di gedung Kanzus Shalawat, Pekalongan. Di gedung Kanzus Shalawat yang biasa digunakan untuk majelis maulid Nabi ini, digelar salat tarawih berjamaah selama bulan Ramadhan.

KOKAM Tegal

Bersama sekitar 30 jamaah yang rata-rata berasal dari Pekalongan dan sekitar mereka terlihat khusyuk melaksanakan salat tarawih. Sebagai imam, Habib Ali Zainal Abidin Assegaf, menantu dari Habib Muhammad Luthfi bin Yahya, juga mengajak jamaah untuk berdzikir selepas salat tarawih.

Ketika ditanya tentang alasannya melakukan tarawih keliling ini, Irzam mengatakan dirinya bersama dua rekannya ingin ngalap berkah kepada habaib yang ada di Pekalongan. “Mumpung pulang kampung, saya sempatkan untuk tarawih keliling ke tempatnya habaib,” ujarnya.

KOKAM Tegal

Senada dengan Irzam, Khadziq yang sedang menempuh pendidikan di STAIN Pekalongan ini juga menyampaikan niatnya melakukan kegiatan ini. “Kita pengen ngalap berkah dengan salat bersama habib, alhamdulillah bisa kesampaian,” tutur mahasiswa yang juga aktif di PMII STAIN ini.

Untuk malam berikutnya mereka berencana melanjutkan tarawih kelilingnya ini ke masjid Raudhah, Pekalongan, masjid milik Habib Baqir Alatas yang juga sering dijadikan sebagai tempat untuk tarawih keliling oleh masyarakat Pekalongan.

Redaktur: A. Khoirul Anam

Kontributor: Ahmad Rodif Hafidz

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Ahlussunnah, Humor Islam KOKAM Tegal

Kamis, 07 Desember 2017

PBNU Yakin Kiai Bisa Atur Santri Kapan Harus Ngaji dan Sepak Bola

Bandung, KOKAM Tegal



Tiga tahun berturut-turut, sejak 2015 ribuan santri mengikuti turnamen sepak bola pada ajang Liga Santri Nusantara yang digelar Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlaltul Ulama (RMINU) bekerja sama dengan Kementerian Pemuda dan Olahraga. Bahkan tahun ini, santri yang mengikuti turnamen itu diperkirakan 22 ribu santri dari 1048 pesantren di seluruh Indonesia. 

PBNU Yakin Kiai Bisa Atur Santri Kapan Harus Ngaji dan Sepak Bola (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Yakin Kiai Bisa Atur Santri Kapan Harus Ngaji dan Sepak Bola (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Yakin Kiai Bisa Atur Santri Kapan Harus Ngaji dan Sepak Bola

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj mengaku percaya sepenuhnya kepada para kiai akan bisa mengatur para santri kapan mereka harus mengaji dan sepak bola. Para kiai telah berpengalaman mengatur ribuan santri. Dan titah kiai akan selalu dipatuhi para santri.   

“Saya yakin, saya yakin, kiai akan mengatur itu, kiai bisa mengatur itu, kapan waktunya ngaji, shalat, kapan waktunya tahajud, istighotsah, kapan waktunya sepak bola,” katanya selepas menonton Grand Final Liga Santri Nusantara tahun lalu dari awal hingga usai di stdion Maguwoharjo, Sleman, Yogyakarta antara kesebelasan Walisongon dan Nur Iman. 

Liga Santri Nusantara, lanjut kiai yang pernah nyantri di Kempek, Lirboyo, dan Krapyak ini, tidak lain untuk menggali bakat para santri. Ia meyakini jutaan santri di Indonesia adalah sumber bakat terpendam dalam berbagai hal, termasuk olahraga. Namun sampai saat ini masih sebatas potensi, belum menjadi prestasi.  

KOKAM Tegal

“Santri-santri kita ini punya potensi, tapi belum dimenej dan dikembangkan. Sehingga potensi belum menjadi prestasi,” ungkap pengasuh pondok pesantren Al-Tsaqofah Ciganjur, Jakarta Selatan itu. 

Dengan adanya Liga Santri Nusantara, ia berharap akan bermunculan sepak bola di Timnas Indonesia yang berprestasi dari kalangan pesantren. Hal itu akan mengangkat nama pemainnya, pesantrennya sendiri dan NU. 

Ia menyebutkan, dalam sepak bola memiliki sisi positif yang bisa dikembangkan, yang selama ini menjadi sikap para santri. 

“Di dalam sepak bola ada sifat yang positif, yaitu tidak boleh memiliki sikap egois. Ada kerja sama, dengan memberikan bola kepada temannya, terbangun jaringan yang sangat solid, membangun teamworking yang sehat untuk kemenangan bersama,” jelasnya. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal

KOKAM Tegal Ahlussunnah, Jadwal Kajian, Berita KOKAM Tegal

Jumat, 01 Desember 2017

Muhammadiyah, Sistem Formatur tapi Prioritaskan Suara Terbanyak

Jakarta, KOKAM Tegal. Muhammadiyah, termasuk salah satu ormas Islam yang berdiri sebelum kemerdekaan Indonesia yang kini usianya telah lebih dari 100 tahun. Organisasi yang didirikan oleh KH Ahmad Dahlan pada November 1912 ini telah membuktikan kemampuannya bertahan menghadapi berbagai perubahan zaman.?

Muhammadiyah, Sistem Formatur tapi Prioritaskan Suara Terbanyak (Sumber Gambar : Nu Online)
Muhammadiyah, Sistem Formatur tapi Prioritaskan Suara Terbanyak (Sumber Gambar : Nu Online)

Muhammadiyah, Sistem Formatur tapi Prioritaskan Suara Terbanyak

Jaringan organisasinya telah tersebar di seluruh pelosok negeri dan amal usahanya yang terdiri dari sekolah, rumah sakit, universitas dan sektor usaha lain diperkirakan nilainya antara 10-15 trilyun. Kekokohan dan stabilitas organisasi ini salah satunya ditunjang oleh kelembagaan yang kokok dan pola rekrutmen kepemimpinan yang telah tersistem dengan baik.?

Abdul Mu’ti, sekretaris PP Muhammadiyah kepada KOKAM Tegal di kantor PP Muhammadiyah, Cikini Jakarta Pusat menjelaskan ketua umum Muhammadiyah dipilih dalam forum muktamar yang diselenggarakan setiap lima tahun sekali dengan sistem formatur. Muktamirin memilih 13 orang formatur yang akan memilih ketua umum.

KOKAM Tegal

“Kekuasaan tertinggi di pimpinan yang 13 orang itu. Mereka bisa memilih ketua umum dari 13 orang itu atau dari luar, tetapi biasanya yang selama ini berjalan, yang mendapat suara terbanyak ditanya di forum rapat. Kalau bersedia menjadi ketua umum, ya silahkan, kalau tidak, ya nanti dipilih siapa diantara mereka atau bisa memilih di luar orang,” katanya.

KOKAM Tegal

Ia menjelaskan, penawaran prioritas pertama kepada anggota formatur yang memperoleh suara terbanyak merupakan bagian dari menjaga etika. Setelah itu, baru ditunjuk kelengkapan pimpinan seperti sekretaris umum, bendahara umum dan lainnya.?

“Biasanya enak-enakan saja, siapa jadi apa. Ngak pernah voting,” ujarnya. ?

Mantan Ketua Umum Pemuda Muhammadiyah ini menjelaskan, di Muhammadiyah secara struktural pimpinan persyarikatan terdiri dari empat unsur, yang satu disebut sebagai pimpinan, kedua, majelis, yang ketiga lembaga dan keempat, biro. Yang dipilih dalam permusyawaratan adalah pimpinan yang jumlahnya antara 9-13. Untuk tingkat pusat selalu 13, wilayah 13, sedangkan daerah (setara dengan PCNU) antara 9-13.

Proses pemilihan di tingkat pusat meliputi empat tahap. Yang pertama adalah tahap pengusulan calon pimpinan oleh anggota PP, anggota tanwir, dan pimpinan ortom (organisasi otonom). Anggota PP adalah 13 orang ditambah pimpinan yang ditunjuk. Anggota tanwir berjumlah empat dari masing-masing wilayah ditambah dua orang perwakilan organisasi otonom di di tingkat pusat seperti Pemuda Muhammadiyah, Nasiyatul Aisiyah, dll.

Lalu, calon-calon tersebut masuk ke panitia pemilihan (panlih) untuk diseleksi apakah memenuhi persyaratan seperti minimal keanggotaan selama enam tahun dibuktikan dengan kartu anggota. Kemudian pernah menjadi pimpinan di organisasi otonom di tingkat pusat atau majelis lembaga di tingkat pusat, atau pimpinan persyarikatan di tingkat wilayah atau daerah.?

Pada tahap ketiga, nama-nama tersebut selanjutnya dipilih dalam sidang tanwir, yang melekat dengan muktamar. Biasanya satu hari menjelang muktamar ada sidang tanwir untuk memilih 39, kelipatan tiga dari nama yang akan dipilih di muktamar.?

Dalam hal ini, masing-masing anggota tanwir yang jumlahnya sekitar 150 orang mengusulkan 39 calon yang telah memenuhi syarat yang selanjutnya diranking dan diambil 39 terbanyak. Tidak boleh ada nama yang sama.?

“Jadi ngak boleh saya menulis nama saya berkali-kali. Jadi kalau ada yang menulis nama ? yang sama, tidak sah. Harus 39 nama yang berbeda.”?

Nama-nama inilah yang kemudian dibawa ditahap ke empat yaitu di muktamar. Peserta muktamar memilih 13 dari 39 nama tersebut.

Pimpinan yang 13 orang tersebut, selain berkewajiban memilih ketua umum juga punya kewenangan untuk mengambil keputusan apakah akan anggota pimpinan atau tidak. Penambahan itu tidak mempertimbangkan perolehan suara, tetapi diserahkan pada pimpinan yang ketiga belas itu. Misalnya waktu muktamar Yogyakarta jumlahnya menjadi 19 orang, yang satu merupakan ketua umum Aisyiyah yang secara ex officio masuk pimpinan. Masuknya ketua umum Aisyiyah ini merupakan kebijakan yang baru pertama kali diterapkan di muktamar Yogyakarta pada 2010.?

Ia menambahkan, muktamar Muhammadiyah akan dilakukan pada Agustus 2015 mendatang di Makassar, mundur satu bulan dari jadual seharusnya pada Juli karena berbarengan dengan puasa Ramadhan. Saat ini, panlih sudah mengirimkan surat kepada anggota tanwir dan pimpinan untuk mengusulkan nama.

“Muktamar lalu sekitar satu tahun nama-nama sudah diusulkan, yang ini kurang lebih sama juga. Sekitar 10 bulan,” tambahnya.

Ia mengaku tidak tahu mulai kapan sistem tersebut mulai diterapkan, tetapi yang jelas, pada zaman KH Ahmad Dahlan belum memakai mekanisme ini. Sepengetahuannya, sejak kepemimpinan AR Fachruddin sudah berjalan seperti ini.?

“Saya tidak tahu persis kapan mulainya, setahu saya dari dulu sudah begini.”?

Di tingkat pengurus wilayah dan daerah Muhammadiyah juga menggunakan mekanisme yang mirip yang diusulkan dari tingkat Cabang atau setingkat kecamatan.?

Kelemahan sistem formatur seperti ini adalah hanya orang-orang populer yang bisa masuk struktur pimpinan. Karena itu, 13 orang tersebut memiliki kewenangan untuk menambah anggota yang dianggap memiliki potensi. Tak harus dalam struktur pimpinan, tetapi bisa juga masuk dalam majelis.? ?

Alhamdulillah sistem kita sudah sangat mapan. Karena dengan seleksi yang ketat, di Muhammadiyah kecil kemungkinan ada kutu loncat. Orang yang tidak pernah tampil di pimpinan mustahil masuk karena seleksinya dari awal. Minimal sudah pernah menjadi anggota selama enam tahun, pernah di pimpinan,” paparnya.

Ketentuan seleksi ini dipatuhi dengan ketat. Ia mencontohkan, dalam Muktamar Muhammadiyah di Malang pada 2005 ada tokoh Muhammadiyah, seorang mantan menteri agama, tetapi karena keanggotaannya belum memenuhi persyaratan, oleh panitia didiskualifikasi.?

Ia menambahkan, hak suara masing-masing daerah atau setingkat kabupaten berbeda sesuai dengan kuota yang diatur oleh PP. Secara otomatis, masing-masing daerah mengirimkan dua peserta tetapi ada tambahan tergantung jumlah cabangnya.?

“Kalau peserta daerah dua orang, ini otomatis, besar atau kecil, tetapi ada tambahan lain tergantung jumlah cabangnya. Kalau ngak salah satu sampai enam cabang itu satu. Kalau satu daerah punya enam cabang, berarti dua plus satu, berarti punya tiga hak suara,” tuturnya.?

Untuk organisasi otonomnya, terdapat berbagai pola penentuan ketua umum. Untuk Pemuda Muhammadiyah, menggunakan mekanisme pemilihan langsung sedangkan untuk Ikatan Pelajar Muhammadiyah, (IPM), Nasiyatul Aisiyah (NA) menggunakan sistem formatur. Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) tahun ini memilihnya juga formatur,“ tandasnya. (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Kiai, Ahlussunnah KOKAM Tegal

Senin, 20 November 2017

CBDRM Lakukan Strategic Planning Atasi Bencana

Jakarta, KOKAM Tegal. Bencana yang datang bertubi-tubi di Indonesia telah menimbulkan korban yang jumlahnya sangat besar. Sampai saat ini belum terdapat upaya penanganan yang komprehensif yang melibatkan masyarakat dalam mengatasi dan menangani bencana.

NU sebagai ormas keagamaan terbesar di Indonesia merasa prihatin dengan kondisi tersebut dan merasa berkewajiban untuk turut terlibat dalam upaya-upaya pencegahan dan penanggulangan bencana tersebut.

CBDRM Lakukan Strategic Planning Atasi Bencana (Sumber Gambar : Nu Online)
CBDRM Lakukan Strategic Planning Atasi Bencana (Sumber Gambar : Nu Online)

CBDRM Lakukan Strategic Planning Atasi Bencana

“Dari keprihatinan itu, PBNU berusaha melibatkan pesantren dalam membantu upaya pencegahan dan penanggulangan bencana,” tandas Program Manager Community Based Disaster Risk Management (CBDRM) Avianto Muhtadi di Jakarta, Selasa.

Karena sebelumnya belum ada lembaga di bawah NU yang menangani bencana secara komprehensif, maka langkah pertama yang akan dilakukan adalah memberikan kesadaran akan bencana dan keberadaan CBDRM secara komprehensif ke lingkungan NU dan pesantren. Upaya ini akan dilakukan dengan menggelar workshop yang melibatkan pesantren, PBNU, PWNU, PCNU, badan otonom dan para ahli yang akan merumuskan strategi penanganan bencana.

“Sampai saat ini, potensi kerjasama swasta dan partisipasi masyarakat dengan pemerintah masih kurang. Penanganan bencana tak hanya bisa dibebankan pada pemerintah, dibutuhkan sinergi dan kerjasama yang intens antar kedua belah fihak,” tambahnya.

KOKAM Tegal

Workshop yang akan diselenggarakan pada 13-14 September di Bandung  ini akan membahas seluruh aspek penanganan bencana mulai dari konsep manajemen bencana, masalah kesehatan, kerentanan sosial dan partisipasi masyarakat, perpektif NU dalam penanganan bencana sampai dengan konsep fikih bencana.

Program ini terselenggara atas kerjasama antara PBNU, Ausaid dan para tenaga ahli dari pust mitigasi bencana ITB yang nantinya akan berperan sebagai technical assistant. (mkf)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal

KOKAM Tegal Amalan, Ahlussunnah, Olahraga KOKAM Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs KOKAM Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik KOKAM Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan KOKAM Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock