Tampilkan postingan dengan label Santri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Santri. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 Februari 2018

Lahan Menyempit, HPN Karawang Akan Gunakan Bibit Padi Unggulan

Karawang, KOKAM Tegal

Pengurus Cabang Himpunan Pengusaha Nahdliyin (HPN) Kabupaten Karawang menilai potensi ekonomi masyarakat Karawang dalam sektor pertanian dan perikanan saat ini mulai terkikis oleh modernisasi dan industrialisasi.

"Salah satu program utama HPN Karawang adalah sektor pertanian dan perikanan. Sektor ini mendapatkan perhatian serius karena minat masyarakat Karawang dalam pertanian dan perikanan mulai menurun bahkan cenderung untuk meninggalkannya," ujar Ketua HPN Kabupaten Karawang, Muhammad Hasyim saat Pelantikan HPN Karawang dan Bekasi di Brits Hotel Karawang, Ahad (10/4).

Menurut Hasyim, perkembangan dunia industri di Karawang semakin pesat sehingga memberikan dampak pada terkikisnya lahan pertanian sekaligus memicu membludaknya jumlah penduduk terutama dari kalangan pendatang yang berimbas pada penambahan tempat tinggal dan persediaan makanan.

Lahan Menyempit, HPN Karawang Akan Gunakan Bibit Padi Unggulan (Sumber Gambar : Nu Online)
Lahan Menyempit, HPN Karawang Akan Gunakan Bibit Padi Unggulan (Sumber Gambar : Nu Online)

Lahan Menyempit, HPN Karawang Akan Gunakan Bibit Padi Unggulan

Dalam menyelesaikan masalah ini, Hasyim menjelaskan bahwa HPN Karawang telah menjalin kerjasama dengan seorang profesor ahli bidang tanaman dan sudah menemukan bibit padi unggul yang dapat panen dalam jangka waktu 55 hari.

"Sehingga jika dihitung dalam satu tahun, petani dapat memanen padi sampai empat kali,"tandasnya.

KOKAM Tegal

Dalam pelantikan ini dihadiri oleh? jajaran? PBNU, KH Said Aqil Siroj, H Asad Said Ali, H Eman Suryaman, DPP HPN, dan para pejabat Kabupaten Karawang, Kabupaten dan Kota Bekasi serta warga Nahdliyin sekitarnya. (Aiz Luthfi/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal

KOKAM Tegal Kiai, Santri KOKAM Tegal

Ikrar kesetiaan

Ikrar Kesetian, lengkapnya Ikrar Kesetiaan Warga Nahdlatul Ulama.

Istilah tersebut pertama kali digunakan pada perayaan hari lahir NU ke-68 menurut penanggalan Hijriah atau ke-66 dalam versi Masehi, di Parkir Timur Senayan Jakarta Pusat, 1 Maret 1992.

Seperti yang dituturkan KH Abdurahman Wahid, ikrar kesetiaan berisi tiga hal utama. Pertama, penyampaian rasa syukur pada Allah Swt. 

Ikrar kesetiaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ikrar kesetiaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ikrar kesetiaan

Kedua, penegasan NU bahwa NKRI adalah bentuk final yang diperjuangkan umat Islam Indonesia. 

KOKAM Tegal

Ketiga, penegasan bahwa NU mendukung UUD 1945 dan Pancasila.  Pada saat dibacakan di rapat akbar, teks asli Ikrar Kesetiaan sendiri terdiri dari lima poin.

KOKAM Tegal

Sebelum dibacakan, ada prosesi penyerahan naskah, disebut ijab-kobul, dari ketua umum PBNU ke pembaca teks. Ikrar kesetiaan bukanlah nomenklatur resmi organisasi, tapi dapat digunakan pada kondisi tertentu. (Hamzah Sahal)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Santri KOKAM Tegal

Kamis, 01 Februari 2018

Fikih Keseharian Gusmus

Penulis : KH. Ahmad Musthofa Bisri (Gusmus)

Peresensi : Peresensi Ach. Tirmidzi Munahwan

Selama ini berita yang masih aktual, dan masih menjadi sorotan media massa adalah peristiwa tentang perselisihan dan perdebatan dalam pemikiran masalah-masalah keagamaan atau fiqh, yang dalam istilah NU disebut forum “Bahtsul Masail”. Bahtsul masail ini merupakan salah satu forum diskusi keagamaan untuk merespon dan memberikan solusi atas problematika aktual yang muncul dalam kehidupan masyarakat. KH Sahal Mahfudz, Pengurus Syuriyah PBNU menyebutnya bahwa forum “Bahtsul Masail” merupakan forum yang dinamis dan demokratis, selalu mengikuti perkembangan, dan trend hukum yang terjadi  di masyarakat.

Siapa yang tidak kenal dengan sosok yang satu ini? K.H.A. Musthofa Bisri yang panggilan akrabnya Gus Mus sudah tidak asing lagi bagi semua kalangan, ia adalah seorang kiai, pelukis, penyair, dan budayawan yang karya-karyanya selalu melambung di media massa baik lokal maupun nasional. Setelah pasca Buya Hamkah, Ali Hasjmi, dan Bahrum Rangkuti, umat Islam Indonesia sangat miskin melahirkan ulama yang dikatakan seniman dan sastrawan. Mungkin tidak banyak yang tahu, jika Gus Mus disamping sebagai sastrawan juga seorang pelukis.

Fikih Keseharian Gusmus (Sumber Gambar : Nu Online)
Fikih Keseharian Gusmus (Sumber Gambar : Nu Online)

Fikih Keseharian Gusmus

Meskipun sebagai budayawan, penyair, dan pengasuh pondok pesantren, namun pemikiran dan gagasan-gagasan yang diusungnya mampu menandingi, bahkan melebihi wacana-wacana yang diusung oleh para ilmuwan, dan cendikiawan. Jadi tidak semua masyarakat pesantren hanya dianggap sebagai kaum sarungan yang pemikiran dan gagasannya hanya terpaku pada teks klasik saja, melainkan mampu menyesuaikan dengan realitas sosial yang terjadi saat ini.

Dan pada ahir-ahir ini masyarakat pesantren selalu eksis dimana-mana, dan  mulai banyak mengaktualisasikan pemikiran, dan gagasannya  yang dapat   memasung daya kritis seorang santri, sehingga masyarakat pesantren bisa dikatakan seorang yang produktif, dan kritis.

KOKAM Tegal

 Rois Syuria Nahdhatul Ulama (PB.NU) ini, tidaklah membuat beliau menjadi orang yang rakus terhadap kekuasaan dan memanfaatkan jabatannya. Namun beliau adalah orang yang bisa menjaga jarak dari hal-hal yang sifatnya politis, dan pragmatis.  Seperti yang disampaikan dalam tausiyahnya dalam munas alim ulama di Sokolilo kemarin, bahwa persoalan politik  di Indonesia sangatlah pelik, dan berengsek sekali, tidak didasari dengan etika-etika  politik yang ada.

Kiprah Gus Mus di panggung politik bermula mendapat tawaran dalam bursa pencalonan sebagai anggota legislatif PPP preode 1977-1982 mewakili wilayah Rembang-Blora. Namun meskipun ia mendapat sebuah tawaran yang menggiurkan dan menjanjikan Gus Mus menolaknya. Karena ia merasa belum berpenglaman dan juga belum mempunyai andil di partai.

Buku setebal 525 halaman ini, memang benar-benar hasil garapan kreatif seorang kiai dan budayawan, yang didalamnya mengulas tentang berbagai problematika  kekinian, dengan tanpa meninggalkan keotentikan dan nilai historisitas teks klasik (kitab kuning).

Adapun pemikiran-pemikiran yang ia usung selama ini, memang benar-benar dimanfaatkan untuk meningkatkan, dan memperluas ilmunya untuk mengabdi pada masyarakat. Bagaimana masyarakat bisa mengerti, dan paham terhadap hukum fiqh pada umumnya.

Dengan ketajaman analisis inilah, Gus Mus tidak hanya mampu menawarkan jawaban-jawaban dari bermacam problem yang datang padanya secara normatif. Melainkan ia berhasil memberikan kerangka nuansa pemikiran untuk mengatasi masalah-masalah keagamaan keseharian kita secara rinci dan terurai  secara rapi.

KOKAM Tegal

 Dan perlu dicatat, bahwa  penjelasan atau jawaban-jawaban yang ia berikan semata-mata penjelasan apa adanya yang dirangkai dengan dalil-dalilnya. Sehingga jawaban-jawaban beliau tidak begitu saja mengatakan  ini haram dan itu halal, ini wajib dan itu sunnah.

Selain itu juga, dalam bab akhir Gus Mus dengan sangat gamblang memaparkan berbagai persoalan-persoalan budaya kontemporer yang sedang dihadapi oleh umat Islam. Seperti dalam bab VIII halaman 520, ada seorang penanya mengutarakan kegundahan dalam kehidupan sehari-harinya yaitu, berkenaan dengan maraknya gambar-gambar panas (porno),  dan melakukan onani.

Di saat memberikan jawaban atas pertanyaan ini, Gus Mus menentukan haram tidaknya melihat gambar porno dan melakukan onani, yaitu mengikuti pendapat para ulama. Karena pendapat para ulama sudah sepakat, melihat gambar-gambar panas (porno), dan melakukakan onani hukumnya haram. Karena manfaat dan mudharatnya yang jelas  lebih banyak madaratnya. Dan perbuatan  tersebut, telah dilarang oleh agama, dan dapat merusak moral para generasi muda pada umumnya. Perbuatan yang dilarang oleh agama mDari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Pondok Pesantren, Santri, Jadwal Kajian KOKAM Tegal

Rabu, 17 Januari 2018

PBNU Minta Sarbumusi Perjuangkan Martabat Buruh

Jakarta, KOKAM Tegal. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj meminta Konfederasi Sarikat Buruh Muslimin Indonesia (Sarbumusi) Nahdlatul Ulama yang dilantik di gedung PBNU, Jakarta (23/9) untuk mengangkat harkat dan martabat kaum buruh NU khususnya, Indonesia umumnya.

“Bismillah Sarbumusi memperjuangkan martabat buruh NU,” pintanya pada pengukuhan Konfederasi Sarbumusi tersebut.

PBNU Minta Sarbumusi Perjuangkan Martabat Buruh (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Minta Sarbumusi Perjuangkan Martabat Buruh (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Minta Sarbumusi Perjuangkan Martabat Buruh

Namun, kata dia, perjuangan tersebut tidak semudah dibayangkan. Dulu, ketika Sarbumusi didirikan tahun 1955 dengan Ketua Umum Kiai Masykur, problemnya tidak serumit sekarang.

KOKAM Tegal

“Sekarag problemnya tidak terbaca. Kezaliman merajalela,” katanya.

Lebih lanjut ia menyebutkan kezaliman itu tidak hanya di bidang perburuhan, tetapi, ekonomi, keuangan, politik global dan lain-lain, bahkan pendidikan. Kezaliman di bidang ekonomi, misalnya, penguasaan bidang-bidang yang menyangkut hajat hidup orang banyak.

KOKAM Tegal

“Rasulullah telah mewarning. Tiga kekayaan alam tidak bisa dimonopoli, air, energi, minyak, batubara untuk rakyat semua, dan hutan, hadisnya tiga itu. Sesuai dengan Pasal 33 UUD 45.”

Dalam pengukuhan tersebut, Sayaiful Bahri Anshori kembali memipin DPP Konfederasi Sarbumusi sebagai Presiden dan Sekretaris Jenderalnya Eko Darwanto. (Abdullah Alawi) ?

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Nusantara, Santri KOKAM Tegal

Minggu, 14 Januari 2018

Gus Dur Ingatkan Polemik PKB dan NU

Malang, KOKAM Tegal. Ketua Umum Dewan Syura Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) KH Abdurrahman Wahid mengingatkan kader PKB untuk tidak terpengaruh dengan selisih pendapat di tubuh partai PKB dan Nahdlatul Ulama (NU). Menurutnya, bila ditanggapi serius justru menyengsarakan masyarakat.

Pesan tersebut disampaikan Gus Dur saat melantik ketua dan pengurus DPC PKB Kabupaten Malang di Ponpes An Nur II, Bululawang, Minggu (25/2) lalu.

“Kami yakin segala polemik yang terjadi di tubuh PKB dan NU akan selesai dengan sendirinya. Kami minta kader PKB menegakkan kebenaran dan mencegah segala bentuk kemungkaran,” ujar Gus Dur di hadapan tokoh PKB dan NU.

Gus Dur Ingatkan Polemik PKB dan NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Dur Ingatkan Polemik PKB dan NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Dur Ingatkan Polemik PKB dan NU

Gus Dur juga menyampaikan beberapa hal penting. Pertama, sikap warga PKB terhadap Islam garis keras. Cucu pendiri Nahdlatul Ulama (NU) ini mengungkapkan, PKB dan NU jangan memusuhi muslim garis keras. Sebab, Islam mengajarkan sesama muslim merupakan saudara.

“Kita boleh saja berbeda pendapat, akan tetapi jangan mengorbankan persaudaraan. Artinya, warga PKB tidak boleh terpecah-belah,” terang mantan Presiden RI itu.

Gus Dur berharap, warga PKB untuk membangun masyarakat. Politisi PKB harus kembali memerhatikan kepentingan masyarakat. Politisi PKB harus berjuang bersama untuk menyejahterakan masyarakat. Sebab selama ini politisi PKB dinilai tidak ada niatan ke arah sana.

KOKAM Tegal

“Buktinya banyak politisi PKB yang tidak tegas menyikapi sebuah korupsi. Ke depan, politisi PKB harus berteriak lantang untuk menentang segala bentuk korupsi,” ucapnya.

Dalam acara pelantikan tersebut, juga dihadiri putri pertama Gus Dur, Yenny Zannuba Wahid, Ketua DPW PPKB Anisa Mahfud, dan Ketua Dewan Syura DPW PKB KH Azis Mansyur. (gpa/rif)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal

KOKAM Tegal Lomba, Santri, Tegal KOKAM Tegal

Sabtu, 06 Januari 2018

PCINU Korsel Perkuat Aswaja Lewat Pelatihan Kepemimpinan Dasar

Yeongcheon, KOKAM Tegal

Menyambut Harlah ke-93 NU, PCINU Korea Selatan mengadakan kegiatan pembekalan latihan dasar kepemimpinan (LDK) kepada para pengurus dan amir mushalla/mesjid di seluruh Korea Selatan. Acara diadakan di kantor sekretariat PCINU Korsel di Kota Yeongcheon, Kyeongsangbuk Do, Ahad (24/4).

Dalam kegiatan tersebut dihadiri oleh perwakilan KBRI Seoul, para pengurus PCINU dan amir mushola dan masjid diseluruh Korea Selatan.

PCINU Korsel Perkuat Aswaja Lewat Pelatihan Kepemimpinan Dasar (Sumber Gambar : Nu Online)
PCINU Korsel Perkuat Aswaja Lewat Pelatihan Kepemimpinan Dasar (Sumber Gambar : Nu Online)

PCINU Korsel Perkuat Aswaja Lewat Pelatihan Kepemimpinan Dasar

Selain sebagai wadah silaturrahim, program tahunan PCINU Korsel ini juga bertujuan memberikan pemahaman kepada warga Nahdliyin di Korsel akan tugas, hak dan kewajiban sebagai WNI yang sedang bekerja atau belajar di Korea dan juga pembekalan tentang ke-Aswaja-an ala NU.

Kegiatan diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya yang dipandu oleh Ustadz Hasan Tohari (Ketua LAZISNU Korsel) yang dilanjut dengan tahlil berjamaah yang dipimpin ustadz Ahmad Syaifulloh. Dalam sambutannya Ketua PCINU Korsel Ustadz Zainal Abidin menekankan akan pentingnya kegiatan ini.

KOKAM Tegal

"Agenda LDK dengan materi keaswajaan, kepemimpinan dan pertahanan nasional sangat penting dengan tujuan membentengi umat Islam khususnya warga nahdliyin Korea dari pengaruh dan serangan paham radikal yang menjadi sumber perpecahan umat Islam," tegasnya.

Narasumber pertahanan nasional Tudiono yang merupakan perwakilan KBRI Seoul, mengingatkan akan arti penting bela negara.

Dia menceritakan panjang lebar sejarah berdirinya bangsa Indonesia dengan asas pancasilanya yg menaungi semua ras, suku, agama, adat, budaya bersatu dlm memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan RI. "Ormas NU lahir sebagai garda terdepan dalam memperjuangkan kemerdekaan RI dan mempertahankan Kemerdekan RI harus kita teladani. NU ormas moderat yang bisa menghargai dan menghormati keberagaman masyarakat indonesia,” lanjut Tudiono.

Dia juga mengajak bahwa bela negara harus digalakan mengingat ancaman terorisme semakin nyata dengan munculnya ISIS dan kejadian-kejadian bom di berbagai negara di Eropa seperti Prancis, Turki, Belgia dan konflik Timur Tengah yang berkepanjangan membawa dampak negatif terhadap negara dan umat Islam khususnya yang selalu mndapat stigma negatif.

KOKAM Tegal

Bahkan kini ancaman terorisme telah masuk di Korea Selatan, dengan ditangkapnya WNI ? yang terindikasi sebagai simpatisan jabhat al-nusro. Untuk itu diharapkan warga nahdliyin yang berada di Korea Selatan agar lebih aktif menebar Islam ramah, damai, dan Islam yang penuh toleransi yang membawa misi rahmatan lilalamin.

Acara juga diisi dg pemahaman kepemimpinan oleh ustadz Untung Susilo, materi ke-aswajaan oleh ustadz Haromain dan pemberdayaan infak, zakat dan shadaqah LAZISNU Korsel melalui programnya “Sedekah Seribu” yang selama ini banyak membantu masyarakat Indonesia kurang mampu begitu juga TKI yang kena musibah di Korea Selatan. Kerja nyata dari LAZISNU Korsel ini pernah sempat mendapat apresiasi oleh PBNU. (Imam Sibaweh/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Santri KOKAM Tegal

Jumat, 05 Januari 2018

Apa Motif Seseorang Menjadi Pelaku Teror?

Depok, KOKAM Tegal. Psikolog sekaligus peneliti dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Bagus Takwin mengemukakan motif seseorang melakukan teror adalah kekuasaan, prestasi, atau afiliasi. 

Apa Motif Seseorang Menjadi Pelaku Teror? (Sumber Gambar : Nu Online)
Apa Motif Seseorang Menjadi Pelaku Teror? (Sumber Gambar : Nu Online)

Apa Motif Seseorang Menjadi Pelaku Teror?

"Yang paling menonjol dan banyak ditemui pada pelaku teror ataupun pemimpin teror adalah motif kekuasaan," kata Bagus di Depok, Jawa Barat, Rabu.

Bagus mengemukakan hal tersebut berdasarkan studi-studi psikologi terhadap para pelaku teror.

KOKAM Tegal

Berdasarkan studi-studi tersebut, lanjutnya, tidak banyak motif prestasi dan motif afiliasi yang merupakan keinginan mencapai sesuatu dan ikut bergabung karena kedekatan pertemanan atau keluarga.

Bagus pernah mewawancarai sejumlah mantan pelaku teror di Lamongan sebagai salah satu responden penelitiannya.

KOKAM Tegal

Menurut Bagus, dia tidak menemukan pelaku teror yang memiliki gangguan psikologis atau kejadian pada masa lalu. 

"Gangguan psikologis atau kejiwaan tidak banyak berpengaruh. Ternyata psikologis mereka baik baik saja, masa kecil mereka juga bahagia," kata Bagus.

Idamkan Mati Sahid

Dalam penelitiannya, Bagus pun menemukan bahwa para pelaku teror tersebut mengidam-idamkan mati sahid yang menjadi tujuannya. 

Kelompok teror tersebut, menurut Bagus, lebih mementingkan kehidupan akherat ketimbang hidup di dunia. 

"Mereka lebih menginginkan kehidupan setelah mati," ujar Bagus.

Namun, Bagus mengatakan, dirinya belum mengetahui alasan seseorang mengidamkan hal tersebut. "Perlu ada studi lebih lanjut," katanya.

Karakteristik

Pelaku teror juga bisa dikenali dari ciri-ciri cara berpikirnya. 

Bagus menguraikan, pelaku teror merasakan kekalutan dalam dirinya, seperti marah terhadap situasi saat ini, merasa dunia berjalan secara tidak baik, dan menganggap orang lain tak bisa melakukan apapun, merasa diabaikan, merasa tidak adil dan tak berdaya terhadap situasi.

"Pelaku teror tidak mau membicarakan masalah lagi, tapi ingin langsung melakukan tindakan nyata," ujar dia.

Dengan melakukan tindakan teror, lanjut Bagus, ada perasaan-perasaan yang didapat oleh pelaku setelah menjalaninya. 

"Mereka akan mendapatkan identitas sosial, dan penghargaan dari kelompoknya, juga sebagai petualangan bagi yang berusia  muda " kata psikolog tersebut.

Peneliti lain dari Fakultas Psikologi UI Solahudin mengatakan para teroris rata-rata berusia 20 tahunan. 

"Biasanya di bawah 30 (tahun), paling muda 16 paling tua 30," kata Solahudin.

Dalam menekan jumlah terorisme, Bagus berpendapat caranya bukan membalas dengan kekerasan.

Hal yang seharusnya dilakukan adalah mengubah persepsi pelaku teror terhadap dunia yang dianggapnya tidak baik.

"Membuat persepsi mereka bahwa dunia ini nyaman, tentram, bukan sebaliknya dilawan dengan kegeraman," kata Bagus. 

Ia beranggapan, pelaku teror bisa dijauhi dari kekerasan dengan pendekatan dialog dan uluran tangan.

Metode tersebut pun terbukti ampuh dalam membuat pelaku teror jaringan Jamaah Islamiyah dan Moro Islamic Liberation Front, Ali Fauzi, tersentuh dan meninggalkan dunia terorisme. 

Ali pergi ke Moro, Filipina, dan ditangkap kepolisian setempat hingga dipulangkan ke Indonesia.

"Saya tersentuh dengan polisi yang menjemput saya di bandara, bahkan mengantarkan saya ke rumah ibu saya," ujar Ali. 

Selain itu, Ali meninggalkan dunia terorisme juga karena bujukan dari kedua kakaknya, Ali Ghufron dan Ali Imron, yang mengajaknya berhenti menjadi pelaku teror. (antara/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Santri, Nahdlatul, Meme Islam KOKAM Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs KOKAM Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik KOKAM Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan KOKAM Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock