Tampilkan postingan dengan label Internasional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Internasional. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 Februari 2018

IPNU Surabaya Tolak Keras Legalisasi Penjualan Miras di Minimarket

Jakarta, KOKAM Tegal - Pengurus PC IPNU Kota Surabaya menyatakan keberatan atas hasil Raperda Pansus Pengendalian dan Pengawasan Penjualan Minuman Beralokohol DPRD Kota Surabaya yang mengizinkan penjualan minuman beralkohol di pasar swalayan yang ada di Surabaya. Mereka meminta DPRD agar meninjau kembali Perda yang memperbolehkan penjualan minuman keras itu di Kota Surabaya.

“Semestinya Pemkot Surabaya dan DPRD melarang peredaran minuman keras itu di minimarket, supermarket dan hypermarket. Karena tempat-tempat itu juga dikunjungi oleh anak-anak. Jangan sampai mereka juga berasumsi bahwa minuman itu boleh untuk dikonsumsi karena dijual secara bebas dan umum,” kata Ketua IPNU Kota Surabaya Agus Setiawan.

IPNU Surabaya Tolak Keras Legalisasi Penjualan Miras di Minimarket (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU Surabaya Tolak Keras Legalisasi Penjualan Miras di Minimarket (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU Surabaya Tolak Keras Legalisasi Penjualan Miras di Minimarket

Pasalnya anggota dewan tidak mungkin memberikan jaminan atas kemungkinan akses minuman keras itu oleh anak-anak di bawah umur. Berapa pun kadar kandungan alkhoholnya, ujar Agus.

KOKAM Tegal

Sementara Wakil Ketua IPNU Kota Surabaya M Najih mengatakan bahwa semestinya keadaan Surabaya sekarang yang melarang penjualan minuman keras di minimarket dan sejenisnya dipertahankan.

DPRD dan Pemkot Surabaya lebih baik fokus terhadap hal lain yang lebih penting dan memiliki manfaat bagi masyarakat seperti masalah Pengambilalihan kewenangan SMA dan SMK dari tingkat kabupaten/kota ke tingkat provinsi yang mengakibatkan biaya pendidikan di SMA/SMK di Surabaya mulai tahun depan tak lagi gratis.

KOKAM Tegal

Ia juga menjelaskan, semestinya DPRD dan Pemkot melindungi masyarakatnya dari hal-hal yang akan membahayakan kesehatan dan jiwa mereka. Jadi dengan regulasi perizinan penjualan miras ini berarti mereka membiarkan dan tidak melindungi masyarakatnya dari hal-hal yang akan membahayakan mereka khususnya para pelajar.

Sebelumnya, Kementerian Perdagangan (Kemendag) telah merelaksasi Peraturan Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri No. 04/PDN/PER/4/2015 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Pengendalian Peredaran dan Penjualan Minuman Beralkohol Golongan A yang memberi keleluasaan bagi kepala daerah untuk menentukan lokasi penjualanan miras termasuk di minimarket. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Internasional KOKAM Tegal

Jumat, 09 Februari 2018

Gara-gara Qunut Nazilah untuk Palestina, Belanda Panggil Ketua PBNU

Menghadapi penjajahan Belanda di tanah air tentu hal yang sangat merepotkan bagi Nahdlatul Ulama (NU). Taruhannya bukan semata penderitaan diri mereka sendiri kala itu, tapi juga nasib? generasi mereka di masa yang akan mendatang. Hak ekonomi dirampas, pendidikan dikekang, dan aspirasi politik dikebiri.

Namun demikian, apakah NU terjebak pada nasionalisme sempit? Ternyata tidak. Empatinya yang besar juga menjalar ke belahan dunia lain yang mengalami nasib yang serupa, salah satunya bangsa Palestina. NU geram dengan usaha Israel yang dengan semena-mena mencaplok tanah Palestina. Ini juga penjajahan.

Gara-gara Qunut Nazilah untuk Palestina, Belanda Panggil Ketua PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Gara-gara Qunut Nazilah untuk Palestina, Belanda Panggil Ketua PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Gara-gara Qunut Nazilah untuk Palestina, Belanda Panggil Ketua PBNU

Dalam Guruku Orang-orang dari Pesantren, KH Saifuddin Zuhri mengungkapkan bahwa sejak bangsa Arab berjuang untuk kemerdekaan Palestina, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama pada tangal 12 November 1938 telah menyerukan kepada seluruh partai dan organisasi umat Islam di Indonesia serta Pucuk Pimpinan Warmusi (Wartawan Muslimin Indonesia) di Medan, agar umat Islam memberikan sokongan moral dan material kepada para pejuang Palestina dalam memerdekakan tanah air mereka.

Di antara bentuk solidaritas tersebut PBNU mengimbau umat Islam untuk membaca qunut nazilah dalam tiap-tiap sembahyang fardhu. Qunut nazilah lebih dari sekadar bacaan doa selepas ruku yang lazim diamalkan ketika kondisi bencana atau situasi genting lainnya. Seruan qunut nazilah mengandung dimensi politik yang luas. Ia sebentuk protes keras berskala internasional atas kezaliman kaum pendatang yang menamakan diri bangsa Israel terhadap bangsa Palestina.

KOKAM Tegal

Sikap NU ini tentu berpotensi mengundang empati balasan dari bangsa-bangsa Arab atas bangsa Indonesia yang tengah dijajah Belanda. Tak heran, sehubungan dengan qunut nazilah ini pada tanggal 27 Januari 1939, Ketua PBNU KH Machfuzh Shiddiq dipanggil oleh Hoofparket Belanda di Jakarta. Pemerintah kolonial Belanda melarang NU melakukan gerakan qunut nazilah untuk pejuang Palestina.

KOKAM Tegal

Qunut nazilah juga sempat berlangsung setahun berturut-turut ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) secara sepihak meresmikan negara Israel pada 1948. Deklarasi negara baru ini dimotori oleh Amerika dan Soviet. Rakyat Indonesia saat itu mendesak pemerintah Indonesia bersikap tegas atas kebijakan tersebut. Dewan Keamanan PBB mesti meninjau ulang keputusannya terhadap berdirinya Israel.

NU tentu tahu, Palestina tak hanya dihuni penduduk Muslim. Tapi keberadaan tempat suci Masjid al-Aqsa dan ikatan kemanusiaan (ukhuwah basyariyah) cukup menjadi alasan untuk melakukan kecaman dan pembelaan tersebut. Berkat penjajahan Israel, rakyat Palestina terlunta-lunta, menderita secara fisik dan psikis, dan sebagian terusir dari tanahnya sendiri.

Di tengah solidaritas untuk Palestina yang tak kunjung henti, pada Desember 1948 Indonesia didera situasi yang sangat mencekam. Belanda melakukan agresi militer II yang dimulai dari Yogyakarta sebagai ibu kota negara waktu itu. Situasi kian gawat ketika para tokoh dan pemimpin republik ini ditangkapi sehingga mendorong dibentuknya Pemerintah Darurat Republik Indonesia di Sumatra.

Demikianlah luasnya spektrum perjuangan NU. Lahir batin ia berkorban menumpas penjajahan di tanah air sendiri, tapi juga tak menutup mata atas fenomena yang sama di penjuru bumi lainnya. Kenapa? Karena kemerdekaan adalah hak segala bangsa. (Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Sejarah, Internasional, Cerita KOKAM Tegal

Katib Aam: Gunakan Budaya Nusantara Dalam Penyelesaian Konflik

Yogyakarta, KOKAM Tegal. Selain penuh dengan keanekaragaman, Indonesia juga dipenuhi dengan konflik-konflik. Di antara sekian banyak konflik tersebut, seringkali dilakukan atas nama agama. Konflik penganut paham Syi’ah dan penganut paham Sunni di kabupaten Sampang misalnya. 

Katib Aam: Gunakan Budaya Nusantara Dalam Penyelesaian Konflik (Sumber Gambar : Nu Online)
Katib Aam: Gunakan Budaya Nusantara Dalam Penyelesaian Konflik (Sumber Gambar : Nu Online)

Katib Aam: Gunakan Budaya Nusantara Dalam Penyelesaian Konflik

Merespon konflik yang terjadi di salah satu kabupaten di Pulau Madura itu, KH Malik Madani, Katib Aam PBNU pada Rabu (26/6) menyamaikan pentingnya menggunakan budaya Nusantara dalam menyelesaikan konflik-konflik di Nusantara. Akan tetapi menurutnya, sangat disayangkan budaya tersebut kian tergerus.

“Kita memang memiliki budaya yang kita warisi dari nenek moyang kita. Dan budaya ini digerus tidak saja oleh kelompok kecil seperti Syi’ah dan Ahmadiyah,” tuturnya pada acara Pra Munas Ikatan Alumni (IKA) PMII yang bertempat di Gedung Kunthi Wanitatama, Yogyakarta. 

KOKAM Tegal

Pihaknya juga menyampaikan bahwa konflik yang mengatasnamakan agama itu disebabkan oleh pemahaman ulama terhadap pluralisme yang telah terdistorsi.  

“Jangan-jangan memang sudah terjadi erosi, distorsi pemahaman ulama kita di Sampang tentang pluralisme,” ungkapnya.

KOKAM Tegal

Tak hanya itu, pihaknya juga mengajak para hadirin untuk lebih kritis mengkaji sumber-sumber normatif yang ada. “Jangan-jangan hadits yang mengatakan bahwa ummatku akan terpecah ke dalam 73 golongan dan hanya 1 golongan yang masuk surga, itu juga memicu terjadinya konflik ini,” ujarnya. 

Pihaknya menambahkan pula bahwa sebagaimana yang tertera dalam kitab karangan Imam Al-Ghazali, terdapat hadits yang merupakan kebalikan dari hadits tersebut. Dan dia rasa bahwa hadits itu lebih dapat memberi dorongan untuk menerima perbedaan. 

“Yang diperlukan sekarang adalah pencerahan. Bahwa kita harus terbiasa hidup dengan perbedaan. Kesediaan untuk hidup damai dalam perbedaan ini yang perlu disosialisasikan dalam masyarakat,” katanya, sambil menutup paparannya. 

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontriburor: Nur Hasanatul Hafshaniyah 

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Internasional, Fragmen KOKAM Tegal

Rabu, 24 Januari 2018

Semarak Hari Santri di Pati, dari Shalawat Nariyah hingga Pasar Murah

Pati, KOKAM Tegal

Samarak peringatan Hari Santri Nasional yang jatuh pada 22 Oktober hadir di berbagai daerah, tak terkecuali di Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Untuk hal ini, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) setempat menyelenggarakan serangkaian acara, di antaranya bincang publik di radio Pas FM Pati.

Semarak Hari Santri di Pati, dari Shalawat Nariyah hingga Pasar Murah (Sumber Gambar : Nu Online)
Semarak Hari Santri di Pati, dari Shalawat Nariyah hingga Pasar Murah (Sumber Gambar : Nu Online)

Semarak Hari Santri di Pati, dari Shalawat Nariyah hingga Pasar Murah

Acara-acara lainnya adalah jalan santai, donor darah, dan pasar murah yang digelar Jumat (21/10) pagi di lapangan Kecamatan Margoyoso, Pati dan di Gedung Madrasah Salafiyah Kajen. Dilanjutkan dengan acara pembacaan shalawat nariyah di seluruh masjid, mushalla, pondok pesantren, dan lembaga pendidikan pada hari yang sama, pukul 19.00 WIB.

Jumat malam itu juga digelar "Kajen Bershalawat" di Desa Kajen, Margoyoso, Pati. Lalu, kirab dan apel Hari Santri Nasional mulai dari kantor PCNU Pati sampai alun-alun Pati pada 22 Oktober 2016, pukul 13.00 WIB. Pengajian akbar pada Ahad (23/10), pukul 13.00 WIB di Pendopo Kabupaten Pati juga melengkapi acara tahunan ini dengan menghadirkan Ketua PWNU Jateng, KH Abu Hafsin.

KOKAM Tegal

Rais Syuriyah PCNU Pati KH M Aniq Muhammadun mengatakan, seluruh kegiatan hari santri ini bertujuan positif untuk mewujudkan akhlakul karimah. Sedangkan Ketua Tanfidziyah PCNU Pati KH Ali Munfaat menekankan supaya pelaksanaan kegiatan hari santri ini mampu mendorong elemen bangsa lain untuk bersatu padu melakukan segala hal demi kemajuan bangsa dan negara tercinta Indonesia.

KOKAM Tegal

Menurut Ketua Panitia Hari Santri Nasional PCNU Pati, Jamal Mamur, berbagai kegiatan ini menunjukkan kecintaan kaum santri kepada bangsa dan negara. Mereka, katanya, ingin meneruskan perjuangan para pendahulu, khususnya Hadlratussyekh KH Muhammad Hasyim Asyari yang mengeluarkan Resolusi Jihad pada tanggal 22 Oktober 1945 untuk mempertahankan kemerdekaan yang ingin direbut kembali oleh Belanda.

“Dengan Resolusi Jihad Kiai Hasyim, umat Islam, khususnya kaum santri, terbakar semangatnya untuk mengangkat senjata melawan kolonial Belanda yang ingin menjajah kembali Indonesia,” ujarnya.

Dalam hati kaum santri, lanjut pria yang akrab disapa Kang Jamal ini, terpatri hubbul wathan minal iman atau cinta tanah air termasuk tanda iman. Maka, segala daya dan upaya akan dikerahkan untuk menunjukkan jiwa patriotisme dan nasionalisme. Tidak mungkin santri merusak Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan pemikiran dan langkah yang destruktif, seperti yang dilakukan oleh kelompok radikal yang melakukan aksi-aksi teror atas nama agama. “Santri, seperti Hadlratussyekh KH. M. Hasyim Asyari mampu memaknai doktrin agama secara kontekstual sehingga Islam hadir sebagai agama yang membawa rahmat bagi seluruh alam,” paparnya.

Khusus di Pati ini, figur santri yang pernah menjadi Rais Aam PBNU, KH MA Sahal Mahfudh, patut menjadi contoh. Dengan fiqih sosialnya, kata Kang Jamal, Kiai Sahal memberdayakan masyarakat yang tidak mampu agar mandiri dan mampu mengarungi kehidupan dengan bahagia.

“Mereka diberikan pelatihan kewirausahaan, pendampingan, modal, dan monitoring secara intensif sehingga program yang direncanakan dapat berjalan dengan sukses,” katanya.

Oleh sebab itu, lanjut Kang Jamal, santri-santri di Kabupaten Pati harus meneladani perjuangan Kiai Sahal dan para pendahulu yang lain dengan aktif berkarya baik dalam bentuk pemikiran atau dalam bentuk pemberdayaan masyarakat sebagai bukti kecintaan yang tinggi kepada bangsa dan negara. (Red: Mahbib)

?


Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Internasional, Halaqoh, Aswaja KOKAM Tegal

Minggu, 14 Januari 2018

Pengungsi Merapi Kehabisan Uang Tunai

Boyolali, KOKAM Tegal. Pengungsi letusan Gunung Merapi yang tersebar di sejumlah daerah mengaku sudah kehabisan uang, sementara kebutuhan makanan relatif tercukup dari bantuan yang datang dari berbagai pihak.



Pengungsi Merapi Kehabisan Uang Tunai (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengungsi Merapi Kehabisan Uang Tunai (Sumber Gambar : Nu Online)

Pengungsi Merapi Kehabisan Uang Tunai

Sejumlah pengungsi asal Desa Sruni, Kecamatan Musuk, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, ketika ditemui pada Jumat mengatakan sudah kehabisan uang padahal mereka setiap hari membutuhkan uang transportasi untuk mengurusi ternak-ternaknya yang ditinggal mengungsi.

Sugiyo (47) dan bersama istrinya, ketika ditemui sedang memberi makanan empat sapinya yang berada dalam rumahnya. Ia baru saja datang dari lokasi pengungsian di Jatinom, Kabupaten Klaten, bersama satu anaknya yang siang itu ditinggalkan sendirian di pengungsian.

KOKAM Tegal

"Kalau setiap hari saya tidak beri makan dan minum, sapi ini bakal mati. Saat ini saja bobot sapi saya sudah turun beberapa kilogram," katanya. Desa Sruni berjarak sekitar delapan kilometer dari puncak Merapi.

Ia mengatakan, setiap hari untuk biaya transpot dan beli pakan ternak tidak kurang dari Rp25.000, padahal saat ini sudah lebih dari delapan hari berada di pengungsian.

KOKAM Tegal

Empat sapi itu merupakan harta paling berharga yang dimiliki Sugiyo, yang sebagian di antaranya dibelinya melalui pinjaman Bank BRI. "Sebagian uang utangan itu saat ini malah berkurang untuk menutup kebutuhan sehari-hari," katanya.

Istrinya mengkhawatirkan uang pinjaman itu malah habis untuk menutup kebutuhan sehari-hari selama keluarganya mengungsi. Padahal enam bulan kemudian ia harus mengembalikan pinjaman ke bank.

Warga Sruni, Ny Sarbiyah (50) juga mengatakan setiap hari pasti pulang ke rumah untuk merawat dan memberi pakan ternaknya. Ia mengaku juga mengeluarkan banyak uang selama mengungsi, sementara penghasilan suaminya sebagai petani tidak ada.

Selama masa mengungsi, ia mengeluarkan uang sisa dari penjualan cengkih dan bunga mawar sebelum Merapi meletus. Namun ia khawatir uang itu akan segera habis sehingga kelak tidak punya modal untuk memulai usaha kembali.

Sabar, warga Desa Samiran Kecamatan Selo malah sudah menjual dua ekor sapi miliknya untuk mencukupi kebutuhan hidupnya selama berada di tempat pengungsian.

Ia menyebutkan, dua ekor sapinya dijual dengan harga Rp5 juta padahal saat membeli harganya Rp8 juta lebih. "Saya rugi Rp3 juta lebih, tetapi mau bagaimana karena saya sudah tidak memiliki uang untuk menyambung biaya hidup di tempat pengungsian," kata Sabar yang sehari-harinya bekerja sebagai buruh tani.

Menurut dia, ada beberapa pengungsi yang sudah melakukan apa yang dirinya lakukan yaitu menjual hewan ternak. "Kalau mereka memiliki perhiasan maka barang itu yang dijual karena selama di tempat pengungsian, mereka tidak memiliki uang," katanya.

Win (27), warga Desa Sruni Kecamatan Musuk Kabupaten Boyolali, mengakui, dirinya dan keluarga baru mengungsi baru mengungsi dua hari yang lalu, tetapi dirinya selalu waspada jika Gunung Merapi beraktivitas kembali.

"Mobil saya diparkir di depan rumah dengan kondisi mobil diarahkan ke jalan umum. Jika sewaktu-waktu Gunung Merapi meletus, kami langsung naik ke mobil lari mencari tempat yang aman," katanya.

Ia mengatakan, tempat duduk yang ada di dalam mobil sudah dilepas dan digantikan dengan tikar dan kasur. "Dalam kondisi seperti ini, kami harus siap-siap dan waspada jika Merapi meletus," katanya.Pengungsi Merapi Kehabisan Uang Tunai. (ant)Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Pondok Pesantren, Internasional, Aswaja KOKAM Tegal

Selasa, 02 Januari 2018

Seruan Moral PBNU Menyikapi Aksi 4 November

Pesan Moral

Berpecah adalah Musuh Utama Ukhuwah: Jaga Ukhuwah untuk Indonesia yang Aman dan Damai

Seruan Moral PBNU Menyikapi Aksi 4 November (Sumber Gambar : Nu Online)
Seruan Moral PBNU Menyikapi Aksi 4 November (Sumber Gambar : Nu Online)

Seruan Moral PBNU Menyikapi Aksi 4 November

Bismillahirrohmanirrohim?

Alhamdulillahirobbilalamin, puji syukur kepada Allah SWT, Indonesia terus berkembang menjadi sebuah negara yang hidup berdasarkan kepada nilai-nilai luhur bangsa dimana masyarakatnya dapat hidup aman-tenteram saling menghormati, dan rukun berdampingan secara harmonis antara satu dengan yang lainnya.

Hari ini, Indonesia dikenal publik Internasional sebagai negara yang patut dijadikan percontohan dan teladan, terutama dalam menjadikan faktor kebhinnekaan (keanekaragaman) justru sebagai kekuatan. Bhinneka Tunggal Ika. Indonesia telah berhasil meletakkan hubungan agama dengan negara secara ideal.

KOKAM Tegal

Agama tidak lagi dipertentangkan dengan negara. Nilai agama melebur dengan budaya lokal yang baik, melahirkan spirit wathoniyah (nasionalisme yang tumbuh subur dengan berkembangnya nilai keagamaan). Sebagaimana yang disampaikan Hadlratussyaikh KH M. Hasyim Asyari, pendiri Jamiyyah Nahdlatul Ulama yakni:

? ? ? ?

KOKAM Tegal

"Cinta tanah air adalah bagian dari Iman"

Tidak begitu halnya yang terjadi di beberapa negara, terutama di negara-negara Teluk ataupun di negara-negara sekuler.

Hari ini negara-negara teluk seperti Irak, Pakistan, Afghanistan, Suriah, Yaman dan lainnya, memasuki suatu babakan baru yang disebut sebagai "failed-state", negara gagal, diakibatkan keliru menerapkan hubungan agama dan negara, sehingga keduanya dipertentangkan satu sama lain yang akibatnya menimbulkan kekacaubalauan.

Ratusan ribu bahkan jutaan manusia menjadi korban atas peperangan yang timbul akibat kesalahpahaman. Sementara di negara-negara sekuler yang hanya mengedepankan rasionalitas tanpa agama justru melahirkan titik balik suatu peradaban yang tidak lagi "memanusiakan manusia".

Dewasa ini, kita tengah menghadapi suatu diskursus publik yang luas, terutama dalam penyikapan masyarakat atas pernyataan Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama di Kepulauan Seribu, yang menimbulkan kontroversi di hampir seluruh kalangan. Bahkan sebagian kalangan mengatasnamakan "Aksi Bela Islam II" akan menggelar aksi besar tanggal 4 November mendatang.

Mencermati eskalasi dan perkembangan keadaan terkini, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), bersama ini menegaskan:

1. ? Mari jaga persatuan dan kesatuan bangsa. Pererat tali silaturahim antar komponen masyarakat. Berpecah adalah musuh utama dari ukhuwah. Ukhuwah adalah modal utama kita di dalam membangun suatu tatanan masyarakat yang aman, damai, adil, dan makmur. Jaga Ukhuwah Wathoniyah? (persaudaraan setanah air) dan Ukhuwah Basyariyah (persaudaraan sesama manusia), agar Indonesia terbebas dari ancaman perpecahan.

? ? ? ? ?

? “Berpegang teguhlah kalian semua pada tali Allah, dan jangan berpecah-belah (QS: Ali-Imran, 103)”

2. ? Kepada seluruh pengurus NU dan warga NU untuk secara pro-aktif turut menenangkan situasi, menjaga agar suasana yang aman dan damai tetap terpelihara dan tidak ikut-ikutan memperkeruh suasana dengan provokasi dan hasutan. PBNU melarang penggunaan simbol-simbol NU untuk tujuan-tujuan di luar kepentingan sebagaimana menjadi keputusan jamiyyah NU.

3. ? Mengimbau kepada aparat kepolisian untuk segera melakukan tindakan dan langkah sesuai dengan prosedur hukum dan perundangan yang berlaku, agar dapat memenuhi rasa keadilan masyarakat dengan tanpa mengabaikan asas praduga tak bersalah. Upaya ini harus dilakukan guna menghindarkan terjadinya yang cenderung menimbulkan kegaduhan dan anarki.

4. ? Kepada para pihak yang hendak menyalurkan aspirasi dengan berunjuk rasa, PBNU mengimbau agar tetap menjaga akhlakul karimah dengan tetap menjaga ketertiban, menjaga kenyamanan lalu lintas dan dapat menjaga keamanan masyarakat demi keutuhan NKRI.

5. ? Mari tengadahkan tangan mohon petunjuk dan berdoa semoga Indonesia selalu diberi kesejukan dan kedamaian dalam perlindungan, penjagaan dan pertolongan dari Allah SWT.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ?

Jakarta, 28 Oktober 2016/27 Muharram 1438

? ? ? ? ?

? ? ? ? ?

DR KH Ma’ruf Amin

Rais Aam PBNU

?

KH Yahya C. Staquf

Katib Aam PBNU


Prof Dr KH Said Aqil Siroj, MA

Ketua Umum PBNU


DR HA. Helmy Faishal Zaini

Sekretaris Jenderal PBNU









(Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Internasional, Nusantara, Pesantren KOKAM Tegal

Pembual Garis Keras

Oleh Ahmad Ishomuddin

Carut marut kehidupan umat manusia beragama saat ini banyak disumbang oleh para penceramah yang pengetahuan agamanya dangkal,? karena diperoleh secara instan dan tanpa sanad keilmuan (transmisi periwayatan)? yang jelas.

Pembual Garis Keras (Sumber Gambar : Nu Online)
Pembual Garis Keras (Sumber Gambar : Nu Online)

Pembual Garis Keras

Para alumni "pesantren kilat" tersebut punya hobi menyampaikan ceramah agama bernada kekerasan,? hantam sana hantam sini,? kritik sana kritik sini, sambil meneriakkan pentingnya memusuhi siapa saja yang tidak satu alur fikrah (pemikiran,? ide) atau memusuhi benda-benda apa saja dari produk orang-orang? kafir. Tujuan pokok dari "bualan"-nya itu tiada lain kecuali mencari pengaruh,? memperbanyak pengikut,? dan memperkaya diri.

Dalam berpenampilan sehari-hari mereka menonjolkan keakuan,? bukan kekitaan,? menonjolkan ciri-ciri klaim kebenaran apa saja? yang bisa membedakan kelompoknya dari komunitas lainnya. Warna kopiah hitam pun yang sudah mentradisi tidak selamat dari gunjingan mereka karena juga dipakai "orang kafir" sehingga wajib diganti dengan kopiah haji berwarna putih karena hanya itulah yang islami.

KOKAM Tegal

Cara berpakaiannya pun harus seperti orang Arab asli karena berpakaian sesuai kebiasaan umumnya orang Indonesia itu tidaklah berpakaian syari. Mungkin mereka menyangka bahwa untuk menjadi Muslim dalam segala hal wajib sama dengan orang-orang Arab.

KOKAM Tegal

Padahal kini banyak masyarakat Arab yang agamanya juga beragam itu berwatak pasir seperti alamnya yang gersang tandus berpadang pasir, yakni sulit untuk dipersatukan satu sama lain karena tidak memiliki "semen pemersatu" Bhinneka Tunggal Ika seperti di Indonesia.

Kegemaran pembual garis keras adalah dengan mudah? mengkafirkan sesama kaum Muslim hanya karena beda penafsiran. Selain itu,? mereka juga bertindak sebagai hakim pemberi vonis apabila suatu amalan tidak sesuai dengan apa yang mereka lakukan pasti dibidahkan,? bahkan hingga persoalan fiqh yang dipenuhi khilafiyah (perbedaan pendapat ulama mujtahid)? pun terburu-buru disesatkan.

Mungkin mereka menyangka bahwa untuk menjadi Muslim sejati harus punya ciri-ciri keislaman yang seragam seperti dalam tampilan fisik wajib berjidat hitam sebagai atsarussujud (tanda bekas sujud) dan wajib tampil dengan ciri pembeda dari Muslim lain yang bukan kelompoknya.

Untuk menyampaikan dakwah Islam mereka lebih nyaman menempuh jalan kekerasan karena lebih berdaya paksa dan lebih menunjukkan superioritas atas Muslim lain,? lebih-lebih terhadap non Muslim yang dianggapnya "musuh abadi", bukan saudara sesama manusia sebangsa yang wajib dihormati dan juga harus dijamin keamanannya.

Dalam mengkritik kebijakan pemerintah yang sedang berkuasa pun para pembual garis keras itu sering mengabaikan sopan santun,? melecehkan, dan tanpa memahami duduk perkara yang sesungguhnya. Mereka menempatkan penguasa sebagai "thaghut" syetan-iblis yang terkutuk,? seperti sedang menghadapi Firaun yang dengan angkuhnya mengaku sebagai tuhan yang maha tinggi, sedangkan seolah-olah para juru dakwah "pembual" garis keras itu merasa lebih hebat dari Nabi Musa dan Nabi Harun alaihimassalam yang telah menyampaikan kebenaran dengan penuh kelemah-lembutan.

Padahal menurut al-Imam Abu al-Laits al-Tsamarqandi (wafat: 393 H.) dalam Bustan al-Arifin halaman 103, seorang pemberi nasehat haruslah bersikap rendah hati,? lemah lembut,? tidak sombong,? keras atau kasar,? karena rendah hati dan lemah lembut adalah akhlak Nabi shalla Allahu alaihi wa sallama.

Sedangkan al-Imam al-Ghazali (lahir: 450 H.,? wafat: 505 H.) dalam al-Adab fi al-Din halaman 92-93, mengimbau agar setiap juru dakwah meninggalkan sikap sombong dan senantiasa menjaga rasa malu kepada-Nya. Selalu menampakkan rasa membutuhkan kepada Sang Pencipta.? Senantiasa terdorong untuk memberikan manfaat kepada para pendengar,? instropeksi diri untuk mengetahui kekurangan.?

Memandang para pendengar dengan pandangan bersahabat,? berprasangka baik terhadap mereka,? membimbing mereka agar mau menjaga diri,? lemah lembut dalam mendidik,? bersikap halus terhadap para pemula,? dan nasihat yang disampaikan harus benar-benar meyakinkan agar manusia bisa mengambil manfaat dari apa yang disampaikan.

Semoga kita tidak menjadi pembual dalam urusan agama,? lebih-lebih pembual garis keras,? untuk tujuan memperoleh keuntungan duniawi.



Penulis adalah Rais Syuriyah PBNU



Dari Nu Online: nu.or.id

KOKAM Tegal Sholawat, Internasional, Kajian Islam KOKAM Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs KOKAM Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik KOKAM Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan KOKAM Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock